• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan

Pengelolaan maupun pemanfaatan sumber daya alam diarahkan pada kemakmuran rakyat (economic), adil (equity) dan berkelanjutan (sustainable natural resources). Oleh karenanya aspek perencanaan pengelolaan yang strategis diperlukan untuk menentukan pembentukan modal dasar pembangunan. Ekosistem hutan mangrove adalah salah satu sumber daya pesisir yang memainkan peran penting dalam aspek sosial, ekonomi, dan ekologi serta secara garis besar fungsi ekonomis hutan mangrove merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir, industri maupun bagi Negara (Santoso 2011). Selain itu, fungsi utama hutan mangrove adalah sebagai penyeimbang ekosistem pesisir, penghalang gelombang air laut, intrusi air laut, dan berperan dalam mengurai sampah mangrove menjadi sumber makanan biota laut sebagai nutrisi dalam menentukan produktivitas perairan disekitarnya (Barbier 2012, Sathirathai dan Barbier 2011).

Sumberdaya hutan lindung mangrove dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Besarnya fungsi dan manfaat hutan lindung mangrove tersebut membutuhkan pengelolaan yang baik, sehingga pemanfaatannya dapat berlangsung secara berkelanjutan sesuai dengan konsep pembangunan nasional. Namun kenyataannya pelaksanaan pengelolaan hutan lindung mangrove dengan konsep berkelanjutan sering terabaikan dan berdampak terhadap degradasi serta kerusakan hutan lindung mangrove.

Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan, Kehutanan dan Pertambangan Kabupaten Kubu Raya (2012), luas hutan mangrove di Kabupaten Kubu Raya adalah 99.532.90 ha dan sekitar 61.29% atau seluas 51.548.49 ha tersebar di Kecamatan Batu Ampar. Pemanfaatan hutan mangrove di wilayah pesisir Kecamatan Batu Ampar cukup beragam, termasuk pemanfaatan sumberdaya dari kawasan hutan lindung. Hal tersebut berkontribusi pada timbulnya pemasalahan terkait status dan fungsi hutan lindung mangrove, seperti konflik pemanfaatan, kerusakan serta degradasi hutan lindung.

Perubahan dan kerusakan ekosistem hutan lindung mangrove akibat aktivitas manusia perlu dikaji untuk mendapatkan konsep pengelolaan hutan lindung mangrove secara berkelanjutan. Untuk itu, perlu dilakukan identifikasi potensi dan jenis mangrove yang terdapat di hutan lindung mangrove, apa saja potensi dan bentuk pemanfaatan hutan lindung mangrove yang telah dilakukan oleh masyarakat lokal, berapa besar nilai manfaat ekonomi hutan lindung mangrove, dan bagaimana arah pengelolaan hutan lindung mangrove berkelanjutan di Kecamatan Batu Ampar.

Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi potensi dan jenis vegetasi hutan lindung mangrove di Batu Ampar; (2) mengidentifikasi jenis dan pola pemanfaatan hutan lindung mangrove oleh masyarakat lokal; (3) menganalisis nilai manfaat ekonomi hutan lindung mangrove di Batu Ampar; dan (4)

62

merumuskan arah pengelolaan hutan lindung mangrove berkelanjutan berbasis nilai manfaat di Batu Ampar.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret – September 2015, di tiga desa yaitu: Desa Nipah Panjang, Teluk Nibung dan Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya Pronvinsi Kalimatan Barat. Lokasi penelitian ini dipilih dengan beberapa pertimbangan yaitu memiliki luas hutan lindung yang cukup luas serta kegiatan pemanfaatan yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat. Luas keseluruhan hutan lindung mangrove sebagai objek penelitian adalah seluas 5.189.52 ha.

Alat dan bahan yang di gunakan dalam penelitian ini berupa alat tulis menulis, tallysheet, patok, pita ukur/phiband, kompas, GPS, buku, peta kerja, kuisioner dan seperangkat komputer.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari observasi lapangan dan wawancara dengan masyarakat sekitar, sedangkan data sekunder berupa data tentang keadaan lokasi sekitar kawasan penelitian dan keadaan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung mangrove dimana informasi yang diperoleh, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah sekitar lokasi penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Pengumpulan data

Jenis Data Atribut/Variabel Metode Peruntukan A. Data Primer Potensi vegetasi dari tingkat

pertumbuhan semai tumbuhan bawah dan lainnya (nama jenis; jumlah individu setiap jenis; diameter - tinggi Total)

Analisis vegetasi Analisis vegetasi Analisis vegetasi

Mengetahui variasi atau ragam kondisi vegetasi hutan mangrove

Nilai Ekonomi

Nilai-nilai ekonomi yang meliputi - Nilai manfaat langsung - Nilai manfaat tidak langsung - Nilai manfaat pilihan - Nilai manfaat keberadaan

Wawancara 1.Mengetahui variasi atau ragam pemanfaatan hutan mangrove 2. Mengetahui nilai ekonomi hutan mangrove B. Data Sekunder

Letak administratif dan geografis; dan luas lokasi penelitian; peta lokasi; taraf pendidikan, keadaan sosial ekonomi masyarakat.

Dokumen/laporan Data penunjang

Desain sampling untuk identifikasi potensi dan jenis mangrove digunakan adalah systematic sampling with random start (Heriyanto 2012). Petak-petak berukuran 20 x 20 m (untuk risalah pohon) kemudian akan dibagi lagi secara

nested sampling ke dalam petak-petak berukuran: 2 x 2 m untuk permudaan tingkat semai dan, 5 x 5 m untuk permudaan tingkat pancang. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan: (a) semai, yaitu permudaan mulai dari kecambah sampai anakan setinggi kurang dari 1.5 m; (b) pancang, yaitu permudaan dengan tinggi 1.5 m sampai anakan berdiameter kurang dari 10 cm; (c) pohon, yaitu pohon

63 berdiameter 10 cm ke atas, diatur secara representatif (dimulai dari pinggir pantai sampai daratan atau batas hutan mangrove.

Teknik pengambilan contoh untuk mengetahui nilai manfaat ekonomi dilakukan secara purposive sampling, metode ini digunakan untuk menentukan data sampel yang harus diperoleh dari responden. Adapun untuk menentukan respoden yang akan dipilih digunakan snowball sampling, dimana responden dipilih berdasarkan informasi atau rekomendasi orang ke orang atau responden sebelumnya. Jumlah respoden yang dijadikan sampel disesuaikan dengan waktu pelaksanaan penelitian ini. Hasil data yang diperoleh dari responden dilakukan dengan mewawancarai secara langsung menggunakan isian kuisioner yang telah disusun. Selain responden sampel yang ada di daerah sekitar kawasan hutan mangrove, dilakukan juga wawancara dengan para pemangku kepentingan dari pihak pemerintah daerah untuk melengkapi data pada saat survei dan observasi lapangan. Adapun berbagai pendekatan untuk menentukan nilai ekonomi pemanfaatan dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16 Pendekatan untuk menentukan nilai manfaat ekonomi hutan lindung mangrove

Nilai Barang/Jasa Metode Penilaian di lapangan Peruntukan

Manfaat langsung

Hasil hutan mangrove yang di jual dan di manfaatkan, sehingga memiliki harga pasar

Nilai pasar/harga pasar menggunakan kuisioner dan survei pasar.

Menentukan kuantitas produk yang diambil, melakukan survei pasar, untuk mengetahui harga produk Mengetahui nilai ekonomi dari pemanfaatan langsung Manfaat tidak langsung

Tidak dipasarkan sehingga tidak memiliki harga, tetapi memiliki harga subsistusinya atau harga penganti barang dan jasa tersebut sehingga didekati dengan harga subsitusinya

Harga subsitusi dari barang dan jasa yang didapatkan dari hasil wawancara, survey dan kajian pustaka

Menentukan jumlah komoditas dan jasa yang diambil dan mencari substitusi yang paling mungkin untuk menentukan harga barang yang paling relevan Mengetahui nilai ekonomi dari pemanfaatan tidak langsung Manfaat pilihan

1. Manfaat yang ada namun belum di kembangkan oleh masyarakat sekitar 2. Dianggap mempunyai nilai

di masa yang akan datang

Pemanfaatan yang ada namun tidak dijadikan mata pencaharian pokok didapatkan dari hasil wawancara survey dan kajian pustaka

Menentukan potensi yang terkandung dalam ekosistem mangrove yang mempunyai nilai jual tinggi, namun belum dimanfaatkan Mengetahui nilai ekonomi dari manfaat pilihan Manfaat keberadaan

Rasa kepuasan masyarakat akan keberadaan hutan mangrove di kawasan tersebut

Wawancara dan survei langsung kepada masyarakat (CVM)

Menanyakan nilai WTP untuk hutan mangrove

Mengetahui nilai ekonomi dari manfaat keberadaan

Selain wawancara langsung, dilakukan juga survei pasar yang nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pendekatan dalam menghitung nilai manfaat langsung, sedangkan untuk manfaat tidak langsung digunakan pendekatan harga pasar bagi input/subsitusi seperti biaya penggantian, biaya produk bayangan, analisis biaya pengeluaran dan biaya pencegahan.

Data persepsi dikumpulkan secara langsung di lokasi penelitian melalui wawancara dengan responden (interview) dengan pola wawancara mendalam (depth-interview). Pemilihan responden sebagai unit penelitian dilakukan dengan

purposive sampling. Responden berjumlah 50 orang, merupakan penduduk dewasa yang berdomisili di sekitar lokasi penelitian dan terkait dengan pemanfaatan kawasan hutan lindung (Endar 2000 dalam Sawitri et al. 2013).

64

Analisa Data Analisis Data Vegetasi (INP)

Analisis vegetasi dilakukan untuk mengetahui komposisi dan dominansi suatu jenis vegetasi pada suatu komunitas. Dominansi dapat dilihat dari nilai Indeks Nilai Penting (INP) yang diperoleh dari penjumlahan nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR) untuk tingkat semai dan pancang, serta nilai dominansi relatif (DR) untuk tingkat tiang dan pohon. Persamaan yang digunakan adalah:

INP = KR + FR +DR

Valuasi Ekonomi Hutan Lindung Mangrove

Menurut Spaninks dan Van Beukering (1997) dan Ruitenbeek (1994), nilai manfaat ekonomi dari sumber daya alam, terdiri dari: (1) nilai kegunaan, yaitu nilai manfaat langsung dan nilai manfaat tidak langsung dan (2) nilai non- kegunaan, yaitu nilai manfaat pilihan dan nilai manfaat keberadaan. Penilaiannya berdasarkan identifikasi pemanfaatan sumberdaya alam yang dilakukan oleh masyarakat dan nilai kuantifikasi berdasarkan nilai uang yang didapat oleh masyarakat.

a. Nilai manfaat langsung (direct use value)

Nilai manfaat langsung adalah nilai yang dihasilkan dari pemanfaatan secara langsung dari suatu sumberdaya. Manfaat langsung bisa diartikan sebagai manfaat yang dapat dikonsumsi. Nilai total manfaat langsung hutan mangrove dihitung dengan persamaan:

DUV = Σ DUVi + DUV2 +……DUVn

Keterangan:

DUV = direct use value; DUV1 = manfaat kayu arang; DUV2= manfaat kayu bakar; DUV3 = manfaat nipah; DUV 4 = manfaat bibit mangrove; DUV5 = manfaat ikan; DUV6 = manfaat kerang; DUV7 = manfaat kepah

b. Nilai manfaat tidak langsung (indirect use value)

Nilai manfaat tidak langsung adalah nilai manfaat dari ekosistem mangrove yang dimanfaatkan secara tidak langsung oleh masyarakat. Manfaat tidak langsung hutan mangrove dapat berupa manfaat fisik yaitu sebagai penahan abrasi air laut (Turner et al. 2011). Nilai manfaat tak langsung dihitung dengan persamaan:

� = ∑��=1� �

Keterangan:

IUV: indirect use value; IUV1: manfaat penahan abrasi pantai; IUV2: manfaat pencegah intrusi air

laut; IUV2: manfaat sebagai penyedia unsur hara

c. Manfaat pilihan (option value)

Manfaat pilihan untuk hutan mangrove biasanya menggunakan metode

benefit transfer, yaitu dengan cara menghitung besarnya nilai keanekaragaman hayati yang ada pada ekosistem mangrove tersebut. Menurut Ruitenbeek (1994),

65 mangrove Indonesia mempunyai nilai biodiversity sebesar US$1 500 per km2. Nilai ini dapat dipakai di seluruh hutan mangrove yang ada di Indonesia apabila secara ekologis ekosistem hutan mangrovenya penting dan tetap dipelihara secara alami. Nilai manfaat pilihan ini diperoleh dengan persamaan:

OV = US$15 per ha x luas hutan mangrove d. Manfaat Keberadaan (existence value)

Nilai manfaat keberadaan dengan pendekatan willines to pay (WTP) diperoleh dari hasil nilai tengah sebagai nilai yang dirasakan masyarakat dari keberadaan sumberdaya hutan mangrove (FAO 2000 dalam Abrahamsz 2011). Metode yang digunakan dalam perhitungan ini adalah contingent valuation

method (CVM), didasarkan pada kesediaan seseorang untuk membayar

keberadaan sebuah sumberdaya. Menurut Turner et al. (2011) rumus untuk rataan WTP adalah sebagai berikut:

NWTP =1∑��=1Yi

e. Kuantifikasi Seluruh Manfaat Ekonomi

Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value-TEV) merupakan penjumlahan seluruh nilai ekonomi dari manfaat hutan mangrove yang telah diidentifikasi dan dikuantifikasikan. Nilai manfaat total tersebut menggunakan persamaan:

TEV = DV + IV + OV + EV

Keterangan:

TEV = total economic value; DV = nilai manfaat langsung; IV = nilai manfaat tidak langsung; OV = nilai manfaat pilihan; EV = nilai manfaat keberadaan

Persepsi Masyarakat terhadap Hutan Lindung Mangrove

Analisis tentang persepsi dilakukan secara deskriptif, meliputi: (1) pemahaman tentang fungsi hutan lindung mangrove; partisipasi dalam pelestarian hutan lindung mangrove; (2) manfaat ekonomi hutan lindung mangrove bagi masyarakat; (3) peranan hutan lindung mangrove terhadap pembangunan daerah; dan (4) pemahaman terkait peraturan formal pengelolaan hutan lindung mangrove. Nilai persepsi dibagi 3 kategori, yaitu: paham (nilai 3); cukup paham (nilai 2); dan kurang paham (nilai 1).

Arahan Pengelolaan Hutan Lindung di Kecamatan Batu Ampar

Perumusan arahan pengelolaan hutan lindung mangrove di Kecamatan Batu Ampar menggunakan analisis dekriptif berdasarkan nilai total manfaat hutan lindung mangrove dan persepsi masyarakat. Arahan pengelolaan hutan lindung mangrove yang dirumuskan disesuaikan dengan peraturan perundangan yang berlaku.

66

Hasil Potensi Ekosistem Hutan Lindung Mangrove

Berdasarkan perhitungan potensi serta keragaman jenis vegetasi mangrove terhadap kerapatan relatif jenis, frekuensi relatif jenis dan penutupan relatif jenis terhadap di lokasi penelitian diperoleh INP jenis yang paling dominan untuk tingkat pohon adalah jenis Rhizophora apiculata sebesar 216.59%, Bruguiera gymnorrhiza 60.57%, Sonneratia alba 12.46%, Avicennia alba 8.05%. Pada tingkat pancang dengan nilai tertinggi jenis dan terendah Rhizophora apiculata

(235.50%) dan terendah jenis Avicennia alba (2.16 %) selanjutnya untuk tingkat semai yang tertinggi jenis Rhizophora apiculata (155.79%) dan yang terendah jenis Xylocarpus moluccensis (1.85%).

Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Lindung Mangrove Nilai Manfaat Langsung

Jenis dan pola pemanfaatan langsung hutan lindung mangrove di Kecamatan Batu Ampar, terdiri dari: pemanfaatan mangrove untuk bahan baku arang, kayu bakar, pengambilan jenis ikan, pengambilan kepiting, kepah, kerang, pemanfaatan daun nipah dan bibit mangrove. Total nilai pemanfaatan langsung ekosistem hutan lindung mangrove sebesar Rp 2 929 650 000/tahun (Tabel 17).

Tabel 17 Nilai manfaat langsung ekosistem hutan lindung mangrove di Kecamatan Batu Ampar

No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp/thn) Biaya Operasional & Investasi (Rp/thn) Nilai Manfaat Bersih (Rp/thn) Presentase (%) 1 Kayu aranga 1 656 250 000 631 250 000 1 025 000 000 34.99 2 Kayu Bakarb 333 270 000 52 372 000 278 898 000 9.52 3 Nipah 36 000 000 21 000 000 15.000.000 0.05 4 Bibit Mangrove 270 000 000 157 500 000 112 500 000 3.84 5 Ikan 756 000 000 126 540 000 629 460 000 21.49 6 Kerang 289 377 000 8 523 000 289 377 000 9.88 7 Kepiting 420 750 000 54 000 000 366 750 000 12.52 8 Kepah 286 195 000 73 530 000 212 665 000 7.26 Total Nilai 4 047 842 000 1 124 715 000 2 929 650 000 100.00

a,b: Jenis pemanfaatan yang tidak sesuai dengan status dan fungsi kawasan hutan lindung.

Nilai Manfaat Tidak Langsung

a. Nilai manfaat sebagai penahan abrasi:

Manfaat fisik merupakan manfaat sebagai penahan abrasi yang diestimasi dari pembuatan bangunan air, yaitu pemecah gelombang (break water). Berdasarkan analisis harga satuan pekerjaan (AHSP) bidang pekerjaan umum yang dikeluarkan oleh Badan Litbang Pekerjaan Umum (2012), bahwa biaya pembangunan fasilitas pemecah gelombang (break water) ukuran 1 x 11 x 2.5 m (panjang x lebar x tinggi) sebesar Rp 4.714.200. Berdasarkan asumsi besarnya tingkat inflasi nilai uang pada saat penelitian sebesar 8%, maka biaya pembangunan fasilitas pemecah gelombang (break water) ukuran 1 x 11 x 2.5m sebesar Rp 5.091.336 dengan daya tahan bangunan tersebut 20 tahun. Panjang pantai ekosistem hutan mangrove di wilayah pesisir Kecamatan Batu Ampar adalah 13.980 m, sehingga biaya pembuatan pemecah gelombang dengan daya tahan 20 tahun seluruhnya adalah

67 Rp 71.176.877.280. Biaya manfaat sebagai penahan abrasi sebesar Rp 3.558.843 864/thn.

b. Nilai manfaat sebagai pencegah intrusi air laut

Manfaat ekosistem mangrove sebagai penahan intrusi air laut diestimasikan setara dengan nilai turunnya produksi padi dan kualitas akibat lahan sawah terintrusi air laut. Hasil inventarisasi LPP Mangrove (2004), produksi padi rata- rata di Desa Nipah Panjang Kecamatan Kabupaten Kubu Raya sebelum intrusi air laut sebesar 2.000 kg/ha/thn. Setelah terjadi intrusi laut, produksi padi rata-rata yang dihasilkan menjadi 900 kg/ha/thn. Nilai penerimaan yang hilang akibat intrusi air laut sebesar 1.100 kg/ha/thn atau sebesar Rp 5 060 000/ha/thn dengan asumsi harga padi pada saat itu Rp 4.600/kg. Luas sawah di sekitar kawasan ekosistem hutan lindung mangrove di Batu Ampar sekitar 61.29 ha. Nilai penerimaan padi yang hilang akibat terjadinya intrusi air laut 67 419 kg/thn atau sebesar Rp.310.127.400/thn. Berdasarkan perhitungan tersebut, maka manfaat tidak langsung sebagai penahan intrusi air laut sebersar Rp.310.127.400/thn. c. Nilai manfaat sebagai penyedia unsur hara

Selain manfaat fisik, manfaat tidak langsung lainnya adalah manfaat biologi. Manfaat biologi dari pemanfaatan tidak langsung sebagai penyedia pakan alami bagi ikan. Manfaat ini didekati dengan menggunakan persamaan regresi luasan hutan mangrove dan produksi udang (Naamin (1984) dalam Suryaperdana (2011)).

Luas kawasan hutan lindung mangrove di Kecamatan Batu Ampar (3 desa sampling) adalah 5 189.52 ha. Produksi udang yang dapat diperoleh dari kawasan hutan lindung mangrove tersebut adalah 18.12 kg/thn. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, harga pakan udang adalah Rp 13 000/kg dan 1 kg udang membutuhkan pakan 2 kg. Berdasarkan data tersebut, diperoleh nilai

manfaat mangrove sebagai penyedia pakan alami bagi biota perairan sebesar Rp 471 146/thn.

Nilai manfaat pilihan

Nilai manfaat pilihan hutan lindung mangrove mengacu pada nilai manfaat keanekaragaman hayati (biodiversity). Menurut Ruitenbeek (1994), nilai manfaat keanekaragaman hayati di Teluk Bintuni, Irian Jaya, Indonesia adalah US $1.500 km2 (US $15/ha)/ha/thn. Berdasarkan perhitungan nilai manfaat pilihan dengan menggunakan nilai tukar rupiah terhadap dollar pada waktu penelitian, yaitu Rp 13.332 (September 2015), diperolah nilai Rp 199.980/ha/thn. Nilai manfaat pilihan hutan lindung mangrove di Kecamatan Batu Ampar dengan luas hutan lindung mangrove 5.189.52 ha adalah Rp 1.037.800.210.

Nilai Keberadaan

Mayudin (2012) mengemukakan bahwa tingkat pendidikan responden yang lebih tinggi cenderung memberikan nilai keberadaan yang lebih tinggi pula dibandingkan dengan responden berpendidikan lebih rendah. Berdasarkan hasil wawancara, responden berpendidikan SMA ke atas memberikan rata-rata nilai keberadaan Rp 7.694.444.44/ha/thn. Responden berpendidikan SMP memberi nilai rata-rata Rp 6.676.470.59/ha/thn. Sedangkan responden berpendidikan SD

68

memberikan rata-rata nilai keberadaan sebesar Rp.4.134.615.38/ha/thn. Dengan demikian, nilai rata-rata keberadaan ekosistem hutan lindung mangrove yang diberikan oleh masyarakat sekitar kawasan adalah Rp 5 277 272.77/ha/thn. Total nilai manfaat keberadaan hutan lindung mangrove di Kecamatan Batu Ampar adalah: 5 189.52 ha x Rp 5 277 272.77 = Rp 27 386 581 500/thn.

Total Nilai Manfaat Ekosistem Mangrove (TEV)

Hasil analisis total nilai ekonomi ekosistem mangrove di Kecamatan Batu Ampar menunjukkan bahwa nilai manfaat keberadaan kawasan hutan lindung mangrove memiliki nilai manfaat paling tinggi (77.75%), diikuti nilai manfaat tidak langsung (10.98%), nilai manfaat langsung (8.32%), dan nilai manfaat pilihan (2.95%) (Tabel 18).

Tabel 18 Total nilai manfaat ekosistem mangrove Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya

No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp) Nilai Manfaat Rata-rata (Rp) Persentase (%) 1 Manfaat Langsung 2 929 650 000.00 564 531.99 8.32 2 Manfaat tidak langsung 3 869 442 410.00 745 626.26 10.98 3 Manfaat Pilihan 1 037 800 210.00 199 980.00 2.95 4 Manfaat Keberadaan 27 386 581 500.00 5 277 286.05 77.75 Jumlah 35 223 474 120.00 6 787 424.30 100.00 Data pada Tabel 18 di atas menunjukkan bahwa hutan lindung mangrove di Kecamatan Batu Ampar mempunyai peranan cukup besar terhadap masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung, terutama sebagai sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan sebagai pengendali kualitas lingkungan, yaitu sebagai penahan abrasi pantai, penahan intrusi air laut, dan sebagai sumber pakan bagi biota perairan.

Persepsi Masyarakat Terhadap Pengelolaan Hutan Lindung Mangrove Salah satu indikator kunci keberhasilan pengelolaan sumberdaya alam adalah masyarakat (Harahab 2010; Mangkay et al. 2013). Hasil analisis persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan lindung mangrove di Kecamatan Batu Ampar menunjukkan bahwa masyarakat memiliki tingkat pemahaman yang baik tentang fungsi dan manfaat hutan lindung mangrove (Tabel 19).

Tabel 19 Persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan lindung mangrove

No Kriteria Penilaian Persentase (%)

Paham Cukup Paham

Kurang Paham 1 Pemahaman tentang fungsi hutan lindung mangrove 74 18 8 2 Partisipasi dalam pelestarian hutan lindung mangrove 36 22 22 3 Manfaat ekonomi hutan lindung mangrove bagi masyarakat 74 26 - 4 Peranan hutan lindung mangrove terhadap pembangunan daerah 58 22 20 5 Pemahaman terkait peraturan formal pengelolaan hutan lindung

mangrove

69 Arahan Pengelolaan Hutan Lindung Mangrove di Kecamatan Batu Ampar

Nilai pemanfaatan hutan lindung mangrove dihitung berdasarkan nilai manfaat dan biaya sehingga dapat menghasilkan pemanfaatan yang optimal (Wahyuni 2013). Prioritas pemanfaatan jasa lingkungan dan aktifitas pemanfaatan dapat dijalankan dalam waktu yang lama dan terciptanya manfaat lingkungan sehingga memberikan nilai ekonomi yang berasal dari kelestarian ekologi (Qodrina 2012). Berdasarkan hasil nilai manfaat ekonomi serta persepsi masyarakat di pesisir Kecamatan Batu Ampar, dapat disimpulkan bahwa nilai manfaat yang paling tinggi adalah nilai manfaat keberadaan serta persepsi masyarakat terhadap fungsi dan manfaat keberadaan hutan lindung mangrove. Nilai total ekonomi pemanfaatan dari keseluruhan nilai manfaat hutan lindung mangrove yaitu sebesar Rp.35.223.474.120/thn atau sekitar Rp 6.787.242/ha/thn. Nilai total ekonomi tersebut masih dibawah nilai manfaat ekonomi hutan lindung mangrove lainnya yang belum teridentifikasi artinya pemanfaatan yang satu tidak meniadakan pemanfaatan yang lain. Pemanfaatan yang dilakukan sesuai dengan kapasitas maupun kemampuan dari sumber daya ekosistem mangrove yang ada.

Peraturan dan perundangan yang terkait dengan pengelolaan hutan mangrove secara nasional, yaitu Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove dan Peraturan Pemerintah No. 6/2007 jo PP 3/2008 khususnya pada pasal-pasal terkait dengan pemanfaatan hutan lindung, merupakan penjabaran dari UU No. 41/1999 tentang Kehutanan. Pada Peraturan Pemerintah tersebut dijelaskan bahwa berdasarkan Pasal 23 sampai dengan Pasal 30 menjelaskan bahwa 3 kegiatan pemanfaatan di hutan lindung yang dapat dilakukan yaitu pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan dan pemungutan hasil hutan bukan kayu.

Pengelolaan ekosistem hutan lindung mangrove di Kecamatan Batu Ampar memadukan manfaat ekonomi dan ekologi dalam sistem zonasi pemanfaatan yang dibagi menjadi 2 zona, yaitu: zona konservasi keanekaragaman hayati/zona perlindungan dan zona pemanfaatan terbatas. Beberapa prinsip pemanfaatannya meliputi: (1) pemanfaatan ekosistem mangrove harus diimbangi dengan kegiatan rehabilitasi dan konversi ekosistem mangrove harus dikendalikan; (2) pemanfaatan ekosistem hutan lindung mangrove tidak menyebabkan hilangnya fungsi perlindungan keanekaragaman hayati, garis pantai dan sumberdaya pesisir lainnya; (3) pengelolaan ekosistem mangrove berbasis masyarakat untuk melestarikan nilai penting ekologi, ekonomi dan sosial budaya; (4) kewenangan dan kewajiban pemerintah daerah (provinsi, kabupaten/kota) khususnya dinas kehutanan dalam mengelola ekosistem hutan lindung mangrove harus sesuai dengan kondisi dan aspirasi lokal, dan strategi nasional pengelolaan ekosistem mangrove dan (5) pengelolaan ekosistem mangrove dilaksanakan melalui pola kemitraan dengan dukungan para pihak dan masyarakat nasional maupun internasional.

Pembahasan

Komposisi Hutan Lindung Mangrove di Kecamatan Batu Ampar

Hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi yang cukup unik, dimana dalam suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan

70

berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob (Snedaker 1978). Di seluruh dunia terdapat lebih dari 20 suku tumbuhan mangrove, yang terdiri dari 30 marga dengan anggota lebih dari 80 jenis (Hutching dan Saenger 1987). Sejauh ini di Indonesia tercatat ada 202 jenis tumbuhan mangrove meliputi 89 jenis pohon, 5