• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebagian orang berkata: “Boleh bagi kita untuk memberontak kepada penguasa yang dzolim meskipun penguasa tersebut belum kafir.

Adapun hadits Ubaadah bin As-Shoomit ‘Kecuali engkau melihat kekafiran yang nyata…’ maka maksud dari kekafiran pada hadits ini adalah kemaksiatan yang nyata sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi.

Imam An-Nawawi berkata, “Yang dimaksud dengan kekafiran dalam hadits ini (hadits ‘Ubaadah bin As-Shoomit-pen) adalah يِصاَعَمْلا kemaksiatan-kemaksiatan… dan makna hadits ini adalah janganlah kalian menyelisihi para penguasa tentang kekuasaan mereka dan janganlah kalian protes terhadap mereka kecuali jika kalian melihat dari mereka kemungkaran yang jelas yang kalian ketahui dari kaidah-kaidah Islam…” [Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 12/299].

Imam An-Nawawi berpendapat demikian karena ada riwayat-riwayat yang lain dari hadits ‘Ubaadah bin As-Shoomit ini dengan lafal

“kemaksiatan kepada Allah yang nyata”.

Jawaban:

Perkataan Imam An-Nawawi di sini tidak tepat, karena alasan-alasan

berikut ini:

1. Telah jelas dalam riwayat-riwayat yang lain yang lebih shahih dengan lafal “kekafiran yang nyata”.

Hal ini sebagaimana hadits-hadits yang lain,

اْوُلاَق َلاَفَأ

؟ْمُهُلِتاَقُ ن َلاَق َلا اَم اْوَّلَص

Para sahabat bertanya, “Apakah kita tidak memerangi mereka saja?”, Rasulullah berkata, “Tidak selama mereka masih mendirikan sholat.”

(HR. Muslim 3/1480 no 1854)

Teks hadits ini tidak selaras dengan pemahaman Imam An Nawawi, sebab meninggalkan sholat adalah kekafiran yang nyata menurut sebagian ulama’.

2. Telah lalu penyebutan hadits-hadits yang menjelaskan kewajiban bersabar terhadap pemerintah yang dzolim, dan hadits-hadits semakna dengan hal ini sangatlah banyak sekali dan tentunya hadits-hadits ini bertentangan dengan penjelasan Imam An-Nawawi.

3. Riwayat-riwayat hadits ‘Ubbadah bin As-Shoomit yang datang dengan lafal “kemaksiatan yang jelas” adalah berkaitan dengan perihal mentaatinya (tidak berkaitan dengan sikap memberontak kepadanya), maka seseorang tidak boleh menta’ati penguasa jika dia memerintahkan untuk melakukan kemaksiatan yang jelas, adapun masalah pemberontakan, hanya boleh jika sang penguasa tampak

13 Syubhat ini tidak disampaikan oleh Al-Akh Abduh Zulfidar Akaha –hafidzohulloh-, namun sengaja penulis sampaikan agar lebih bermanfaat bagi para pembaca yang budiman

melakukan kekafiran yang nyata).

Berikut ini riwayat-riwayat Sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tersebut:

اَم َْلم َكْوُرُمَْيأ ْثمِِبِ

اًحاَوَ ب

“Selama ia tidak memerintahmu (untuk melakukan) suatu dosa yang jelas.” (HR. Ahmad V/321 no 22789)

Riwayat kedua:

َّلاِإ ْنَأ َكَرُمَْيأ ْثمِِبِ

اًحاَوَ ب َكَدْنِع ُهُلْ يِوَْتَ

َنِم ِباَتِكْلا

“Kecuali jika dia memerintahmu (untuk melakukan) suatu dosa yang jelas yang engkau memiliki ta’wilnya dari Al-Kitab.”

Kemudian sang perawi hadits ini yaitu Jufair atau Khufair bertanya kepada ‘Ubaadah bin As-Shoomit:

ْنِإَف َنَأ

؟ُهُتْعَطَأ

“Kalau aku tetap juga taat kepadanya?”

Ubaadah menjawab:

ُذَخْؤُ ي َكِمِئاَوَق ِب ىَقْلُ تَ ف ِف ِراَّنلا ْئِجَيْلَو َوُه َكْذِقْنُ يْلَ ف

“Kaki dan tanganmu akan dipegang kemudian engkau dilempar ke

neraka maka hendaknya ia (sang penguasa) datang untuk menolongmu!” (HR. At-Thobrooni dalam Musnad Asy-Syamiyiin I/141 no 225)

Pertanyaan sang perawi ini dan juga jawaban sahabat Ubaadah rodiallahu ‘anhu menunjukan bahwa mereka memahami bahwa pengecualian: “kecuali jika dia memerintahmu (untuk melakukan) suatu dosa yang jelas”, kaitannya dengan hal larangan untuk taat terhadap pemerintah bila ia memerintahkan perbuatan maksiat, bukan dengan larangan untuk memberontak.

Dan penafsiran ini didukung oleh riwayat lain yang sangat jelas & tidak ada keraguan sama sekali akan maknanya. Dari ‘Ubaadah bin

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Wahai

‘Ubaadah!” Aku berkata, “Aku memenuhi panggilanmu”. Nabi berkata,

“Dengar dan ta’atlah baik dalam keadaan ekonomi sulit ataupun ekonomi baik, baik dalam kondisimu malas serta pada saat hak-hakmu tidak dipenuhi. Meskipun mereka (penguasa) memakan hartamu dan memukul punggungmu. Kecuali jika (engkau diperintah dengan) kemaksiatan kepada Allah yang jelas (nyata).” (HR. Ibnu Hibbaan 10/428 no 4566)

Riwayat ini jelas menyebutkan agar seorang muslim tetap taat kepada penguasa jika diperintahkan untuk melakukan sesuatu yang bukan

maksiat meskipun sang penguasa adalah pengusa yang dzolim. Yaitu – sebagaimana yang disebutkan dalam hadits tersebut- meskipun sang penguasa melakukan atsaroh (tidak menunaikan hak-haknya), dan memakan hartanya, serta memukul punggungnya. Dan pengecualian pada hadits ini amat jelas maknanya, yaitu bila seseorang diperintahkan untuk berbuat kemaksiatan, maka ia tidak boleh untuk melakukannya.

Hadits ini semakna dengan sabada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam lainnya:

ُعْمَّسلا ُةَعاَّطلاَو ىَلَع ِءْرَمْلا ِمِلْسُمْلا اَمْيِف َّبَحَأ َهِرَكَو اَم َْلم ْرَمْؤُ ي ةَيِصْعَِبم اَذِإَف َرِمُأ ةَيِصْعَِبم َلاَف َعَْسم َلاَو

َةَعاَط

“Setia mendengar dan taat adalah wajib atas setiap orang muslim pada perkara-perkara yang ia suka dan ia benci selama ia tidak diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan. Jika ia diperintahkan untuk melakukan kemaksiatan maka tidak ada kesetiaan untuk mendengar dan taat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berkata Ibnu Malik, “Kecuali jika ia memerintahkan engkau untuk melakukan dosa maka janganlah engkau taat kepadanya, namun janganlah engkau memeranginya akan tetapi hendaknya engkau lari darinya.” (Mirqootul Mafaatiih 10/11).

4. Dari ucapan Imam An-Nawawi di atas tidak dapat dipahami bahwa beliau membolehkan pemberontakan kepada penguasa yang dzolim.

Oleh karena itu setelah menyampaikan pendapat beliau ini, beliau langsung melarang pemberontakan, sebagaimana pada ucapannya

berikut ini:

“Yang dimaksud dengan kekafiran dalam hadits ini (hadits ‘Ubaadah bin As-Shoomit-pen) adalah

يِصاَعَمْلا

kemaksiatan-kemaksiatan… dan makna hadits ini adalah janganlah kalian berusaha menentang para penguasa pada kekuasaan mereka dan janganlah kalian protes terhadap mereka kecuali jika kalian melihat dari mereka kemungkaran yang jelas yang kalian ketahui dari kaidah-kaidah Islam. Adapun memberontak dan memerangi mereka maka (hukumnya) haram dengan ijma’ (konsensus) kaum muslimin meskipun mereka (para penguasa) adalah orang-orang yang fasik dan dzolim dan sangat banyak hadits-hadits (yang menunjukan) makna yang aku sebutkan ini dan Ahlus Sunnah telah ijmak (berkonsensus) bahwasanya tidaklah seorang penguasa dilengserkan karena kefasikan (yang dilakukannya).” [Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 12/229].

5. Hal ini pula yang dipahami oleh Ibnu Hajar Al Asqalany. Beliau berkata, “Yang lebih nampak (kebenarannya) yaitu membawakan riwayat “ ُرْفُكْلا” (kekafiran yang jelas) kepada jika ُُ

ةَعَزاَنُمْلا

(penyelisihan/pertentangan) berkaitan dengan wilayah (kekuasaan) maka tidaklah boleh ia menentang penguasa dengan perkara-perkara yang menimbulkan cacat terhadap wilayah (kekuasaannya) kecuali jika ia telah melakukan kekafiran. Dan menafsirkan riwayat “ ُُ

ةَيِصْعَمْلا

(kemaksiatan yang jelas) pada jika penyelisihan (penentangan) pada perkara-perkara di bawah wilayah (kekuasaan), yaitu dengan cara mengingkarainya dengan lemah-lembut, dan berupaya menegakkan kebenaran di hadapannya tanpa menggunakan kekerasan. Dan ini semua berlaku bila ia mampu melakukannya.” [Fathul Baari 13/441].