BAB IV. PEMBAHASAN
1. Berdasarkan Hasil Observasi
Lingkungan kerja perusahaan PT. Isargas, berdasarkan hasil observasi dan penemuan di lapangan, dapat dikategorikan, antara lain:
a. Fisik
Berdasarkan hasil observasi peneliti, kondisi fisik perusahaan cukup dikatakan nyaman. Hal ini, dikarenakan, kantor didesain secara modern; peralatan kantor, seperti komputer, mesin fax, dan mesin fotokopi tersedia dan dirawat secara berkala, bahkan desain posisi tempat duduk karyawan selama bekerja pun didesain sehingga para karyawan mudah untuk bergerak atau mobile.
Ketersediaan fasilitas jaringan internet pun ada, namun khusus untuk internet masih dirasa kurang dari segi kualitas, seringkali dirasakan oleh sebagian besar karyawan adalah lamban, kemudian untuk fasilitas komputer yang ada sekarang ini pun belum pernah di up grade sejak pertama kali dibeli dan digunakan.
Fasilitas toilet bagi karyawan dirasa cukup nyaman, selain itu juga fasilitas ibadah seperti mushola juga tersedia bagi para karyawan ketika ingin menjalankan beribadah. Fasilitas lain yang dirasa cukup menarik, adalah adanya pantry atau tempat makan yang didesain cukup nyaman
commit to user
untuk bersantai, selain juga disediakan aneka macam makanan dan minuman yang selalu diisi setiap dua kali dalam sebulan.
Penerangan dan ketersediaan oksigen di dalam ruangan kantor, dirasakan cukup menunjang dalam pekerjaan, walaupun seringkali AC dalam ruangan tidak terasa dingin atau lebih sering terasa gerah, namun hal ini hanya sesekali saja.
Ketersediaan alat tulis kantor, seperti kertas, bolpoin, tinta printer, dan yang sejenisnya, selalu dikontrol dengan baik oleh pihak general affair, sehingga tidak kekurangan atau bahkan mengganggu jalannya rutinitas kerja sehari-hari.
Adapun fasilitas fisik lain yang disediakan oleh pihak manajemen secara khusus adalah adanya pengadaan seragam kantor yang memiliki kualitas bagus bahkan dapat dikatakan mahal bagi setiap karyawan. Selain itu, ada pula penyediaan makanan untuk setiap akhir pekan yang lumayan menyenangkan karyawan.
b. Sosial
Kondisi sosial yang umum terjadi di lingkungan perusahaan adalah adanya rasa kekeluargaan antar sesama karyawan. Namun, bila dikaitkan dengan urusan pekerjaan, maka yang terjadi adalah adanya perasaan tidak puas terhadap manajemen dan dengan atasan, selain juga perasaan “bekerja ala kadarnya” sebagai akibat dari perasaan tidak puas tersebut.
commit to user
Sehingga berdasarkan pengamatan peneliti, disimpulkan bahwa kondisi sosial yang terjadi didalam lingkungan perusahaan relatif dirasa cukup nyaman oleh para karyawan yakni munculnya rasa kekeluargaan, namun tidak demikian bila menyentuh urusan pekerjaan, karena bila menyentuh urusan pekerjaan muncul adanya sikap lain dalam keseharian karyawan yang lebih menjurus ke arah politik kantor.
c. Politik
Kondisi politik di dalam perusahaan yang teramati oleh peneliti, yakni terkait hubungan atasan – bawahan, serta hubungan antar sesama karyawan. Di dalam kantor, suasana politik sangat terasa sekali dan bahkan dapat diamati secara kasat mata sesekali dan peneliti pun merasakannya secara jelas, yakni adanya peng”kutub”an atau kecenderungan membentuk suatu kelompok antar karyawan, dan antar kelompok seringkali merasa lebih kuat dan bahkan merasa ingin menguasai kelompok yang lainnya.
Situasi politik dalam hal kecenderungan berkelompok tersebut, dipengaruhi oleh adanya hubungan kedekatan atasan – bawahan, yakni bahwa sekelompok karyawan yang merasa “dekat” dengan atasan atau seseorang/pimpinan yang dianggap berpengaruh seringkali merasa lebih kuat posisinya dibanding dengan karyawan lain. Hal ini acapkali memunculkan kecemburuan, namun tidak secara terang-terangan. Selain itu, adanya “kedekatan” tersebut, juga dapat mempengaruhi kebijakan
commit to user
manajemen yang berpotensi mempengaruhi hubungan antar sesama karyawan.
Hasil pengamatan peneliti di lapangan, menemukan bahwa antar sesama karyawan seringkali berpersepsi cenderung negatif kepada sesama karyawan, seperti “oh memang dia kan orangnya si anu” atau “yah, karena dia dekat dengan si anu, makanya dia berani”. Persepsi-persepsi yang muncul tersebut, sejauh pengamatan peneliti, mempengaruhi kinerja para karyawan, seperti kurang bersemangat atau malas membantu karyawan lain yang tidak dalam kelompoknya, walaupun tetap dikerjakan, kualitasnya pun dapat dikategorikan sebatas asal membantu saja.
d. Manajemen
Kondisi manajemen dalam lingkungan perusahaan, sejauh pengamtan peneliti adalah cenderung dinamis, hal ini dikarenakan sifat perusahaan yakni perusahaan keluarga sehingga kebijakan apapun di dalam manajemen adalah mengerucut pada kepentingan para pemegang saham.
Peneliti mengamati bahwa pimpinan puncak pun sering kali merubah keputusannya secara cepat sehingga hal ini berpengaruh pada karyawan di bawahnya. Sebagai contoh, ketika pimpinan puncak ingin menjalankan proyek pemipaan di Batam, mereka tidak dapat secara pasti menentukan bentuk struktur organisasi yang akan dibentuk, serta
commit to user
ketepatan waktu proyek berjalan, namun lebih berfokus pada lingkup siapa pemegang saham beserta “porsi” masing-masing. Hal ini sebenarnya berdampak sekali hingga ke level karyawan pelaksananya, dikarenakan perlu adanya penentuan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, kemudian juga bentuk kompensasi yang menyertainya, sehingga seringkali dirasakan merugikan pihak karyawan sebagai pihak pelaksana.
Kondisi dalam manajemen yang dapat peneliti amati sebagai kondisi yang kurang kondusif adalah adanya kebijakan peraturan yang telah ditetapkan manajemen yang seringkali dirasakan belum stabil dan cepat berubah. Belum stabil disini adalah dalam implementasi kebijakan yang dirasa kurang tegas atau cepat berubah, walaupun sebenarnya konsep kebijakan sudah dinilai baik oleh karyawan. Sebagai contoh, adalah adanya kebijakan peraturan kehadiran dan absensi karyawan, yakni dimana sebagian karyawan yang merasa “dekat” dengan pimpinan dapat datang terlambat atau tidak hadir begitu saja dengan alasan sudah diijinkan atau diketahui oleh atasan, sehingga hal ini cukup memunculkan perasaan cemburu pada karyawan lain.
Kebijakan manajemen lainnya yang peneliti amati dan anggap sangat penting, sehingga dapat dikatakan sebagai situasi yang kurang kondusif adalah mengenai kebijakan kepegawaian. Dalam kebijakan kepegawaian tersebut ada banyak hak yang telah peneliti temukan, antara lain adanya ketidakjelasan dalam struktur organisasi sehingga muncul
commit to user
ketidakjelasan jobdesk pada masing-masing karyawan, serta ketidakjelasan dalam hal remunerasi atau penggajian pada para karyawan. Untuk masalah kebijakan kepegawaian, peneliti akan mencoba menjelaskannya sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.
Pertama adalah ketidakjelasan dalam hal struktur organisasi. Peneliti menemukan bahwa ada sebagian karyawan yang memiliki multi fungsi dalam suatu struktur organisasi, seperti sebagai Supervisor Legal, namun juga merangkap sebagai Manager salah satu unit bisnis, dimana posisi Manager tersebut tidak dijalankan sebagaimana adanya, yakni hanyalah sebagai akta tertulis saja, namun kesejahteran tetap didapatkan adalah rangkap yakni sebagai Supervisor Legal dan Manager unit bisnis. Contoh lain ada pula karyawan yang terdaftar sebagai karyawan unit bisnis dan juga sebagai karyawan holding (PT. Isargas), namun tetap dibiarkan saja oleh pihak HRD. Ketidakjelasan struktur organisasi ini, berakibat adanya pihak atau kelompok tertentu yang diuntungkan dengan multi posisi dan kemudian mendapatkan multi kompensasi, tanpa didukung tanggung jawab nyata. Untuk situasi yang kurang kondusif terkait adanya ketidakjelasan struktur organisasi, lebih dikarenakan adanya hubungan kedekatan atasan – bawahan dan ketidaktegasan pihak HRD.
Kemudian untuk ketidakjelasan jobdesk, peneliti menemukan sebagian karyawan yang terdaftar atau tanda tangan kontrak kerja sebagai karyawan salah satu unit bisnis yang ditempatkan di holding, namun
commit to user
bobot kerja adalah keseluruhan yakni seluruh unit bisnis yang ada di bawah holding. Ada pula yang terjadi, bahwa walaupun bukan pekerjaan utama salah seorang karyawan, namun bila atasan karyawan lain menghendaki atau secara halus meminta tolong, maka mau tidak mau pekerjaan yang bukan pekerjaannya harus tetap dilaksanakan.
Sedangkan untuk ketidakjelasan dalam hal remunerasi dan benefit, peneliti mengamati bahwa hal ini terkait dengan adanya kurangnya transparansi dari pihak manajemen dan HRD sebagai pelaksananya kepada pihak karyawan. Di perusahaan, remunerasai dan benefit ditentukan berdasarkan grading pada masing-masing karyawan. Sedangkan untuk ketidakjelasannya, dapat peneliti jelaskan dalam ilustrasi sebagai berikut, karyawan A adalah grade 13 atau staff, namun mendapatkan remunerasi dan benefit yang sama dengan karyawan B yang grade nya lebih rendah yaitu 12, hal ini dikarenakan walaupun grade 13 namun mendapatkan remunerasi dan benefit yang terendah di grade 13, sedangkan untuk grade 12 mendapatkan remunerasi dan
benefit yang tertinggi di grade 12 tersebut, sedangkan untuk
penentuannya didasarkan penilaian kinerja, dan untuk penilaian kinerja standar nya juga tidak jelas (hingga peneliti menulis hasil penelitian ini). Ilustrasi lain adalah mengenai training yang seharusnya menjadi salah satu benefit bagi karyawan, namun pada pelaksanaannya hal ini dirasa kurang dan bahkan bagi sebagian karyawan belum pernah mendapatkannya. Ketidakjelasan remunerasi dan benefit ini kembali lagi
commit to user
atas dasar hubungan atasan – bawahan. Sehingga bagi yang “dekat” dengan atasan akan mendapatkan kemudahan dalam penilaian kinerja yang akhirnya berdampak pada remunerasi dan benefit.
e. Psikologis
Berdasarkan kondisi di lapangan, kondisi psikologis yang dapat peneliti amati adalah munculnya ketidakpuasan beberapa karyawan terhadap situasi kerja yang ada. Mereka merasa, pihak manajemen kurang memperhatikan kesejahteraan yang menjadi harapan karyawan, dan lebih mementingkan kepentingan sebagian kelompok semata, sehingga mereka merasa kurang dihargai oleh pihak manajemen. Sedangkan sikap dalam menghadapi ketidakpuasan tersebut tidak dengan keluar dari perusahaan (burn out), namun tetap bertahan di dalam perusahaan dengan situasi kerja yang demikian.
Sejauh pengamatan peneliti, ketidakpuasan pada diri sebagian karyawan, tidak mempengaruhi mereka menyelesaikan pekerjaan mereka. Hal tersebut, dikarenakan mereka masih memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya, dan merasa tetap ingin memiliki kontribusi pada perusahaan, dan yang terpenting ingin tetap menjaga eksistensi mereka di dalam kantor, sehingga mereka tetap terus mengaktualisasi diri mereka.
commit to user