Bab 3 Potensi Aktivitas Biologis dari Hasil Hutan
3.1. Bahan Antijamur
Penggunaan pengawet sintetis telah menyebabkan kekhawatiran global, yang menjadi dasar bagi usaha pencarian alternatif zat pengawet khususnya aditif anti jamur. Hal ini menjadi alasan utama bagi kekhawatiran akan meluasnya rentang toksisitas zat aditif sintetis tersebut. Bahan anti jamur sintetis tidak hanya berbahaya bagi manusia, namun juga bagi makhluk hidup lain.
Lebih jauh, proses pembuangan limbah zat ini ke lingkungan, mungkin akan mengakibatkan hal-hal yang negatif di masa depan.
Beberapa bahan kimia, seperti fungisida, telah banyak digunakan untuk mencegah dan membunuh jamur dalam berbagai lingkungan.
Meskipun fungisida telah menunjukkan hasil yang baik untuk mencegah atau membunuh jamur, penggunaan fungisida juga dapat menyebabkan efek yang negatif terhadap lingkungan, seperti dapat beracun bagi manusia, hewan, tanah, air, dan peningkatan kekuatan daya tahan dari populasi hama, sehingga diperlukan batasan dalam pengaplikasian dari fungisida tersebut.
K
Page | 25 Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan fungisida
sintetis memberikan beberapa kerugian seperti keracunan pada ginjal oleh amphotericin B, peningkatan daya tahan jamur dan efek dari griseofulvin dan senyawa azole (fluconazole, itraconazole, ketoconazole) yang kurang baik bagi kesehatan manusia seperti mengganggu gastrointestinal, racun bagi hati dan gangguan pernapasan.
Banyak bahan anti jamur sintetis yang digunakan saat ini, di mana bahan-bahan tersebut berdampak kurang baik bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Salah satu upaya untuk menghindari pencemaran lingkungan yaitu dengan menggunakan bahan pengawet alami yang berasal dari ekstrak atau komponen aktif yang ada pada tumbuh-tumbuhan. Komponen aktif sebagai bahan anti jamur dapat diperoleh dari tumbuhan yang tahan terhadap serangan jamur.
Sebagai sumber anti jamur alami yang tidak berbahaya, berbagai jenis tumbuhan Indonesia telah dikaji karakteristik anti jamurnya, sebagai contoh Terminalia catappa, Swietenia mahagoni Jacq, Phyllanthus acuminatus, Ipomoea spp., Tylophora asthmatica, Hyptis brevipes, Zingiber officinale, Secang (Caesalpinia sappan L), Bawang Tiwai (Eleutherine americana L. Merr.), Rambai sungai (Sonneratia caseolaris).
Secang (Caesalpinia sappan L)
Salah satu sumber daya alam hayati yang diduga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengawet adalah zat ekstraktif dari tumbuhan Secang (C. sappan L). Kayu ini digunakan sebagai pasak dan paku untuk pembuatan kapal, karena kayu tumbuhan ini
26 |Page
memiliki sifat-sifat keras, kuat dan awet dari serangan mikroorganisme perusak di air laut.
Masyarakat Dayak Tunjung dan Benuaq yang tinggal di daerah pedalaman Kalimantan Timur telah lama memanfaatkan tumbuhan ini sebagai obat untuk menghentikan muntah darah, dan sering pula diberikan kepada wanita yang baru melahirkan.
Tumbuhan Secang (C. sappan L) ini juga dapat bermanfaat sebagai obat diare, disentri, TBC, tetanus, dan tumor.
Selain itu, uji toksisitas sub kronik pada hewan non rodent, uji toksisitas reproduksi, dan mutagenik, memperlihatkan kayu Secang (C. sappan L) mempunyai harapan untuk dikembangkan sebagai bahan kontrasepsi pria (Fitofarmaka antifertilitas). Kayu Secang (C.
sappan L) bila digodok memberi warna merah gading muda, dapat digunakan untuk pengecatan, memberi warna pada bahan anyaman, kue, minuman atau sebagai tinta. Rendaman atau seduhan air panas kayu Secang (C. sappan L) ini berwarna merah dikenal sebagai obat manjur untuk penyakit seperti demam berdarah, mimisan, muntah darah, berak darah, darah tinggi, juga untuk menyembuhkan penyakit gula darah (DM), jantung, infeksi ginjal dan lever.
Berdasarkan hasil pengujian fitokimia ekstrak batang Secang (C. sappan L) menunjukkan tumbuhan ini memiliki kandungan senyawa bioaktif yang meliputi alkaloid, triterpenoid, flavonoid dan karbohidrat. Berdasarkan uji air borne, ekstrak batang Secang (C.
sappan L) yang telah difraksinasi dapat menghambat pertumbuhan jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yaitu fraksi n-heksana dan fraksi dietil eter. Hasil uji lanjutan menunjukkan bahwa fraksi n-heksana mampu menghambat pertumbuhan jamur sebesar 39,97% pada
Page | 27 konsentrasi 10 ppm dan 84,94% pada konsentrasi 1000 ppm.
Sedangkan fraksi dietil eter mampu menghambat pertumbuhan jamur sebesar 57,10% pada konsentrasi 10 ppm dan 80,29% pada konsentrasi 1000 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak batang Secang (C. sappan L) mengandung senyawa bioaktif yang mampu menghambat pertumbuhan jamur dan sangat baik sebagai anti jamur alami. Dengan menggunakan pelarut yang berbeda, pada bagian batang, kulit dan daun Secang terbukti mengandung senyawa alkaloid, triterpeniod, steroid, flavonoid, karbohidrat dan protein.
Secara kimia, tumbuhan Secang (C. sappan L) mengandung berbagai bahan kimia aktif yang berkhasiat sebagai obat.
Komponen-komponen tersebut dapat berupa senyawa-senyawa golongan alkaloid, flavonoid, saponin, karbohidrat, steroid dan triterpenoid. Sehingga keterkaitan erat pemanfaatan tumbuhan Secang (C. sappan L) sebagai anti kanker, anti jamur, anti bakteri terbukti dengan ditemukannya senyawa kimia aktif tersebut.
Pada batang Secang (C. sappan L) terdapat kandungan kimia flavonoid, alkaloid, triterpenoid dan karbohidrat. Sedangkan pada daun Secang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid dan triterpenoid yang tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan karbohidrat dan steroid yang dikandungnya. Pengujian aktivitas anti jamur ekstrak metanol batang Secang (C. sappan L) dengan metode difusi agar menunjukkan hasil bahwa ekstrak metanol Secang (C.
sappan L) memilki kemampuan menghambat jamur Aspergillus niger, Fusarium oxysporum danPeronema canescens.
Efektivitas pencampuran fraksi terkuat dari ekstrak metanol batang Secang (C. sappan L) dengan cat dari metode difusi agar
28 |Page
menunjukkan aktivitas penghambatan relatif ekstrak etil asetat terhadap jamur A. niger sebesar 45%, aktivitas penghambatan relatif ekstrak dietileter terhadap jamur F. oxysporum sebesar 44% dan aktivitas penghambatan relatif ekstrak etil asetat terhadap jamur P.
canescens sebesar 30%.
Pada masa kini selain obat-obat anti jamur yang konvensional seperti asam salisilat, asam benzoat, sulfur dan asam undesilinat, banyak juga obat-obat anti jamur yang baru, seperti derivat imidazol (klotrimazol, mikonazol), dan tolnaftat. Bentuk obat anti jamur kulit bermacam-macam, diantaranya ada yang berbentuk bedak, sabun, gel, salep, dan krim. Jenis obat anti jamur topikal lainnya adalah naftifine, ciclopirox, ketokonazole, oxikonazol dan sulconazol.
Bawang Tiwai (Eleutherine americana L. Merr.)
Hasil analisis fitokimia pada tumbuhan bawang tiwai (Eleutherine americana L. Merr.) pada fraksi metanol terkandung senyawa karbohidrat dan alkaloid. Pada fraksi n-heksana terkandung senyawa karbohidrat dan triterpenoid. Pada fraksi dietil eter terkandung senyawa karbohidrat, triterpenoid, dan alkaloid.
Sedangkan pada fraksi etil asetat terkandung senyawa karbohidrat, triterpenoid, flavonoid, alkaloid dan saponin.
Pengujian anti jamur dengan menggunakan metode air-borne fraksi metanol, n-heksana, dan dietil eter memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan jenis jamur kontaminan air-borne sedangkan pada fraksi etil asetat memiliki aktivitas penghambatan yang rendah dalam menghambat jenis jamur kontaminan air-borne.
Page | 29 Hasil pengujian terhadap jamur Trichophyton mentagrophytes
dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT), fraksi dietil eter memiliki aktivitas penghambatan paling besar terhadap jamur ini dibanding fraksi lainnya. Sehingga ekstrak bawang tiwai sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan anti dermatofita.
Bawang tiwai biasa digunakan dalam pengobatan. Umbinya mengandung senyawa-senyawa turunan Anthrakuinon yang mempunyai daya pencahar, yaitu senyawa-senyawa eleutheurin, isoeleutherin dan senyawa-senyawa sejenisnya, senyawa lakton yang disebut eleutherinol.
Umbi-umbi dibawah tanah yang berbentuk bulat panjang dan berwarna merah digunakan sebagai diureticum (peluruh kemih), purgans (pencahar) dan peluruh muntah. Umbinya yang dipanggang atau diperas digunakan sebagai obat terhadap penyakit kuning dan penyakit kelamin. Umbinya yang mentah berdaya menyejukkan dan berguna untuk peradangan usus, sembelit, dan disentri.
Daunnya digunakan sebagai obat mencret darah, ampasnya diterapkan diluar sebagai obat tempel. Daun ini juga berguna untuk mengobati demam dan mual. Daun-daunnya yang digerus dengan dibubuhi ramuan-ramuan lain diminumkan pada wanita nifas.
Famili Passiflora yang dekat dengan Caricaceae, suku papaya diketahui mengandung alkaloid, fenol, tannin, dan flavonoid glikosida. Para ibu di Brazilia telah memanfaatkan keefektifannya untuk menenangkan anak-anak hiperaktif dan mempunyai kemampuan membantu mengatasi kekejangan dengan secangkir teh atau segelas jusnya.
30 |Page
Secara kimia, tumbuhan mengandung berbagai bahan kimia aktif yang berkhasiat sebagai obat. Komponen-komponen tersebut dapat berupa senyawa-senyawa golongan alkaloid, flavonoid, saponin, karbohidrat, steroid dan triterpenoid.