• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bergabung dengan Institut Pertanian Bogor

Setiba di tanah air saya selanjutnya melamar di UI. Pili-han melamar di Departemen Sosial Ekonomi, Fakultas Perta-nian, UI yang berada di Bogor, didasarkan atas pertimbangan agar tidak terlalu jauh dari ibu kota Jakarta, sehingga hubun-gan internasional tidak berkurang.

Sebelum itu, sewaktu saya masih di Amsterdam pernah berjumpa dengan sosiolog Drs. Soedjito dari UGM yang se-dang dalam perjalanannya menuju Universitas di Hull, Ing-gris untuk belajar di bawah bimbingan Prof. Jaspan. Ia juga menawarkan peluang agar saya menjadi dosen di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Waktu itu toh Universitas Indone-sia sudah lebih dikenal juga di luar negeri, sehingga itu juga turut menentukan pilihan saya. Pertimbangan memilih UI Bogor, tidak kurang pula karena tahun 192 saya bertemu Dr.

Ir. Kampto Utomo di Brussel bersama mantan promotornya, Prof. Wertheim.

Kebetulan juga pada tahun 193 Fakultas Pertanian dan Kedokteran Hewan di Bogor bergabung menjadi Institut Per-tanian Bogor (setingkat universitas) secara mandiri lepas dari UI. Beberapa Fakultas bahkan ditambah misalnya Perikanan, Peternakan, Teknologi Pangan dan Mekanisasi Pertanian.

Kerjasama IPB waktu itu masih dengan Universitas Kentucky dalam hubungan “Kentucky Contract Team” yang diketuai

2 Ingatan Melintasi Zaman Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 27

2 Ingatan Melintasi Zaman Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 27

oleh Prof. Dr. H.W. Beers, yang juga seorang ahli Sosiologi Pedesaan.

Walaupun secara resmi saya menjadi pegawai IPB pada Juli 193, namun awal 19 sudah diberi kesempatan untuk mengikuti pelajaran di Amerika Serikat bersama dengan 20 rekan dosen lain. Ternyata juga dari ITB dipilih kurang lebih 20 dosen untuk dikirim ke Amerika. Mungkin bukan lamanya bekerja yang menjadi persyaratan, tetapi lebih penguasaan bi-dang ilmu dan bahasa Inggris. Saya tentu bergembira, tetapi juga ikatan dinas saya masih begitu pendek, sehingga Prof. Sa-jogyo juga mengatakan agar saya dapat membandingkan studi di universitas Eropa dan Universitas Amerika Serikat. Waktu itu juga kembali beberapa rekan dosen Sosiologi dari univer-sitas Kentucky dengan gelar M.Sc seperti Sudarmadi, Rochani dan H. Suwardi. Sayangnya ketiga-tiganya sudah almarhum.

Khusus mengenai belajar saya di Amerika ini akan diuraikan dalam bab selanjutnya.

Bersama Pak Sajogyo dan Bu Pudjiwati Sajogyo dalam acara dies natalis IPB ke-30, di kampus Darmaga, 1993

2 Ingatan Melintasi Zaman Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 27

2 Ingatan Melintasi Zaman Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 27

Kurikulum di Departemen Sosial Ekonomi, Fakultas Per-tanian di Bogor menarik bagi saya, karena dua tahun pertama mahasiswa harus tinggal di daerah pedesaan selama 2 minggu untuk mengenal masyarakat pedesaan dari dekat. Pada tingka-tan yang lebih tinggi mahasiswa harus melakukan praktek 3 bulan di daerah pedesaan. Bila sudah pada tahap penyelesaian studi, mereka menulis skripsi atau karya ilmiah dalam peri-ode  bulan mengenai masalah pedesaan. Baik yang memilih jurusan ekonomi pertanian ataupun sosiologi pedesaan ha-rus mengikuti kurikulum sebagaimana dikemukakan di atas.

Artinya mereka yang lulus dari jurusan Sosial Ekonomi dapat menghayati kehidupan masyarakat pedesaan dan petani.

Setelah kurikulum diubah dan studi S-1 dipersingkat menjadi 4 tahun atau 8 semester (197/ 7), praktek lapang dan karya ilmiah berdasarkan praktek di pedesaan ditiadakan.

Artinya perubahan tersebut berdampak pada penghayatan mahasiswa dan lulusan IPB tentang permasalahan pedesaan dan petani. Mungkin akibat itu alumni IPB juga cenderung memilih pekerjaan di perkotaan, bahkan di luar pertanian.

Sehingga dewasa ini ada pemerhati yang mengatakan bahwa IPB (Institut Pertanian Bogor) sudah menjadi Institut Pertanian Bukan. Daya tarik ke perdagangan hasil pertanian, perbankan dan sebagainya sudah jauh lebih kuat. Mereka yang tertarik melanjutkan studi meneruskan sekolah di Pasca Sarjana sam-pai S-2 atau S-3/ Doktor.

Bila ingin dilihat segi positifnya, dari pendidikan yang diperoleh di IPB dapat dikatakan bahwa bekal akademis (ti-dak selalu professional) cukup dihargai di masyarakat, se-hingga alumninya dapat diterima di berbagai bidang usaha atau di jajaran birokrasi pemerintahan. Terlebih setelah IPB menjadi lembaga Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Ang-garan yang diterima dari Kementerian Pendidikan Nasional sudah berkurang. Universitas BHMN lain seperti UI, Univer-sitas Gadjah Mada, dan ITB harus mengusahakan tambahan

28 Ingatan Melintasi Zaman Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 29

28 Ingatan Melintasi Zaman Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 29

anggaran yang dibutuhkan dari program-program lain. Aki-batnya dibukalah kesempatan pendidikan yang lebih singkat dan menghasilkan tambahan anggaran yang diperlukan, di bawah istilah Extension. Masa pendidikannya lebih singkat dan orientasinya adalah menghasilkan lulusan potensial yang segera dapat dipekerjakan. Sekarang yang laris ialah Komu-nikasi, Management, Bisnis, Komputer dan lain-lain. Artinya dasar akademis tidak perlu terlalu luas dan mendalam.

Sementara itu SPP (uang kuliah) baik di tingkat pra-sarja-na maupun pasca sarjapra-sarja-na berlipat menjadi jutaan rupiah untuk biaya masuk dan bayar setiap semester. Bagi orang tua calon mahasiswa yang cukup berada, timbul pikiran yang dapat dipahami yakni memikirkan alternatif untuk mengirim puter-anya ke suatu universitas di luar negeri. Meski juga memak-an biaya tinggi tetapi kualitas pendidikmemak-annya lebih terjamin.

Pada umumnya masyarakat juga memandang lulusan univer-sitas luar negeri masih lebih berkualitas. Penguasaan bahasa asing, lebih khusus bahasa Inggris saja, sudah dianggap suatu nilai plus (nilai tambah).

Sekarang baru universitas-universitas terbesar yang di-beri status BHMN. Tetapi bila pemerintah kesulitan anggaran, tentu dapat diterapkan kepada universitas-universitas lain yang dianggap sudah lebih mandiri. Sasaran RAPBN untuk menyediakan anggaran 20% untuk pendidikan lebih ditujukan kepada pendidikan dasar dan menengah, sehingga pembe-basan SPP untuk sekolah dasar dan sekolah menengah perta-ma (total selaperta-ma 9 tahun ) secara bertahap akan dapat menjadi kenyataan.

Dewasa ini memang anggaran negara yang disediakan masih sekitar 12% per tahun (2008). Sementara sudah banyak tuntutan di daerah agar pemerintah segera melaksanakan jan-jinya agar langsung meningkatkan anggaran pendidikan sam-pai 20%. Tampaknya harapan ini belum dapat diwujudkan

28 Ingatan Melintasi Zaman Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 29

28 Ingatan Melintasi Zaman Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 29

dalam tahun 2008 yang akan datang. Bila pendidikan kurang dibiayai, akan berakibat kurangnya hasil penelitian. Terlebih hasil penelitian yang dapat memperoleh HAKI (patent) tidak akan banyak. Bila ada pun akan dicari patent di luar negeri.

30 Ingatan Melintasi Zaman Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 31

30 Ingatan Melintasi Zaman Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 31

Bagian Kedua

80 tahun

Setiap studi di universitas tentu menjadi be-kal untuk memilih jenis pekerjaan dan mem-bangun karier. Masa belajar dan bekerja saya di lingkungan universitas selama 1 tahun di luar negeri saya rasakan telah meletakkan dasar cukup mantap. Mengingat kembali misalnya kurikulum di FIPS Amsterdam yang pernah dipenuhi terdiri atas mata pelajaran bidang-bidang ilmu sebagai berikut:

Bekal Pendidikan

34 Bekal Pendidikan Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 3

34 Bekal Pendidikan Otobiografi: Prof. Dr. Sediono M. P. Tjondronegoro 3

Selain praktikum dan tugas-tugas menulis karya ilmiah (referaat), juga diwajibkan mempelajari buku-buku wajib se-tiap mata kuliah dan harus dipelajari buku-buku yang diacu dalam kuliah agar garis pemikiran menjadi lebih jelas. Dalam ujian lisan (tentamen) tidak jarang buku-buku acuan itu juga menjadi sumber pertanyaan dari Gurubesar penguji. Boleh di-katakan penguasaan bacaan/ literatur yang luas turut menentu-kan penilaian.