dalam kinerjanya. Pada keadaan ini kinerja atribut benih varietas unggul lebih tinggi dari harapan konsumen, sehingga produsen dapat menurunkan kinerja produk agar lebih mengefisiensikan sumberdaya.
Analisis Tingkat Loyalitas
Tingkatan loyalitas konsumen pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan piramida loyalitas dengan beberapa tingkatan kategori yaitu switcher buyer, habitual bayer, satisfied buyer, liking the brand buyer and committed buyer. Pada setiap tingkatan loyalitas konsumen dilakukan penyusunan pertanyaan dan pemberian skor merupakan modifikasi berdasarkan penjabaran mengenai tingkatan loyalitas yang dikemukakan Aaker (1997). Ketentuan dan
31 tahapan pemetaan loyalitas konsumen yang dilakukan dengan screening sebagai berikut :
1. Penyusunan masing-masing butir pertanyaan untuk setiap tingkatan loyalitas, setiap butir pertanyaan diberikan tiga alternatif jawaban memiliki skor 1, 2, 3. Dari skor yang diberikan merupakan indikator yang menggambarkan perilaku dari konsumen tersebut.
2. Menghitung nilai tengah suatu tingkatan loyalitas dengan rumus :
Skor = 2 × jumlah pertanyaan dalam suatu tingkatan. Skor 2 merupakan nilai tengah yang menjadi patokan konsumen.
Contoh : Suatu tingkatan loyalitas terdiri dari 3 pertanyaan, nilai tengah dari suatu tingkatan loyalitas tersebut adalah : Skor = 2 × 3 (jumlah pertanyaan) = 6. Artinya apabila total skor konsumen ternyata lebih kecil atau sama dengan 6 menunjukkan bahwa konsumen tersebut tergolong dalam suatu tingkatan loyalitas yang dimaksud atau responden tidak perlu melanjutkan ke tingkatan loyalitas yang lebih tinggi. Sebaliknya apabila total skor konsumen lebih besar dari 6 makan responden dapat melanjutkan tingkatan loyalitas yang lebih tinggi.
3. Konsumen akan disaring mulai dari tingkatan loyalitas yang paling dasar, yaitu switcher buyer, dimana terdapat dua pertanyaan dalam tingkatan ini . Maka nilai tengahnya adalah : Skor = 2 × 2 = 4. Artinya jika total skor konsumen kurang dari atau sama dengan nilai tengahnya (≤4), maka konsumen tergolong switcher buyer dan penyaringannya dapat dihentikan. Namun, jika skor total konsumen lebih dari nilai tengahnya (>4), maka dapat melanjutkan pertanyaan ke tingkat loyalitas habitual buyer dan satisfied buyer karena ada kemungkinan konsumen tergolong ke dalam tingkatan loyalitas paling tinggi.
4. Tingkatan selanjutnya penyaringan konsumen yang termasuk kategori habitual buyer dan satisfied buyer. Pada dasarnya kedua tingkatan loyalitas hampir sama, namun yang membedakannya adalah biaya peralihan (Switching cost) yang ditanggung konsumen. Maka pertanyaan pada tingkatan ini disatukan. Terdapat dua pertanyaan, sehingga nilai tengahnya adalah : Skor = 2 × 2 = 4. Respondenyang termasuk habitual buyer adalah responden yang lulus pada kategori switcher buyer dan memiliki skor dua sampai empat pada kategori habitual buyer sedangkan Satisfied buyer artinya responden tersebut merupakan pembeli yang rela menanggung biaya peralihan (switching cost) berupa waktu, biaya dan risiko apabila benih padi mengalami perubahan merek. Responden yang termasuk satisfied buyer merupakan responden yang lulus pada kategori switcher buyer, serta memiliki skor lebih dari empat pada kategori habitual buyerdan satisfied buyertetapi tidak lulus kategori liking the brand.
5. Responden yang termasuk Linking the brand adalah responden yang telah lulus pada kategori switcher buyer, habitual buyer dan satisfied buyer serta memiliki skor lebih dari empat pada kategori linking the brand, tetapi tidak lulus pada kategori committed buyer. Responden kategori ini telah menyukai merek tetapi belum sampai kepada tahap merekomendasikan dan mengajak konsumen lain untuk menggunakan produk tersebut.
6. Responden yang termasuk committed buyer adalah responden yang telah pada kategori swither buyer, habitual buyer, satisfied buyer dan committed buyer.
32
Pada tahap ini konsumen memiliki kesetiaan kepada suatu merek, ditunjukkan oleh tindakan merekomendasikan dan mempromosikan merek tersebut kepada orang lain. Setelah melakukan pemetaan loyalitas kedalam tingkatannya, selanjutnya adalah menginterpretasikan dan menarik kesimpulan dari apa yang dipetakan. Interpretasi di analisi dengan analisis deskriptif.
Defenisi Operasional
1. Produktivitas : Kemampuan tanaman padi untuk menghasilkan gabah per satuan luas tertentu. Contoh Padi hibrida WM 04 SHS potensi hasilnya 10,7 ton/ha GKG, Ciherang 8,5 ton/ha, dan IR64 ton/ha.
2. Tahan rebah tanaman : Kemampuan tanaman untuk tetap berdiri kokoh dan tidak rebah. Contoh tanaman padi tahan rebah saat musim hujan, angin kencang.
3. Tahan hama penyakit : Kemampuan tanaman padi untuk bertahan dari berbagai gangguan hama dan penyakit yang menyerang. Hama seperti wereng coklat biotipe 1, 2, dan 3, penyakit seperti hawar daun bakteri. 4. Umur tanaman padi : Berapa lama waktu atau berapa hari yang dibutuhkan
tanaman padi untuk dapat dipanen setelah ditanam.
5. Pemasaran hasil panen : Tempat hasil panen padi dijual atau dipasarkan ke konsumen Contohnya Pemasaran hasil panen kepasar tradisional, pabrik, tengkulak.
6. Rasa nasi : Rasa nasi biasanya tergantung selera konsumen yang sudah pernah mengkonsumsi beras hibrida WM 04 SHS, Ciherang, dan IR64. 7. Daya tumbuh : Daya tumbuh yang baik akan menghasilkan bulir padi yang
baik dan tinggi tanaman padi yang sesuai standarnya.
8. Harga beli benih : Harga atau biaya tunai yang dikeluarkan petani saat membeli benih padi yang akan ditanam. Contoh harga benih padi hibrida varietas X di toko pertanian adalah Rp 50.000/kg
9. Harga jual gabah (GKP) : Harga yang diterima petani dari penjualan hasil panen padi. Umumnya petani menjual dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP). Contoh harga yang diterima petani dari penjualan gabah ke tengkulak adalah Rp 3.800/kg
10.Ketersediaan benih/mudah diperoleh : Ketersediaan tempat berupa toko pertanian, kios sarana produksi pertanian (saprodi) atau sejenisnya yang menyediakan benih padi.
11.Promosi toko : Promosi yang dilakukan toko pertanian yang dapat menarik perhatian para petani sehingga petani tertarik untuk membeli benih padi. 12.Demplot : Petak percontohan yang ditanami jenis padi tertentu. Misalnya
demplot tanaman padi unggul varietas tertentu.
13.Pedoman umum/ Petunjuk teknis/ Brosur : Pedoman umum, petunjuk teknis, brosur pertanian yang berhubungan dengan dunia pertanian yang membantu petani melakukan budidaya padi. Misalnya penggunaan pupuk per hakter.
33