• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN KEPUSTAKAAN

B. Kajian Teori 1. Anak Usia Dini

3. Bermain

a. Pengertian bermain

Menurut seafeldt dan barbour, aktifitas bermain merupakan sesuatu kegiatan yang spontan pada anak yang menghubungkannya dengan kegiatan orang dewasa dan lingkungan termasuk didalam imajinasi, penampilan anak dengan menggunakan seluruh perasaan, tangan, atau seluruh badan.

Bermain menurut Hurlock adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir.

Dengan kata lain, bermain dilakukan secara suka rela tanpa adanya paksaan dari orang lain.

Gallahue mengatakan bahwa bermain merupakan kebutuhan anak yang paling mendasar saat anak berinteraksi dunia sekitarnya. Bermain menjadi suatu aktifitas yang langsung dan spontan dilakukan seseorang anak bersama orang lain atau dengan menggunakan benda – benda sekitarnya dengan senang, sukarela dan imajinatif, serta dengan menggunakan perasaannya, tangannya, atau seluruh anggota tubuhnya.20

Selanjutnya, Dockett dan Fleer berbedapat bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. merupakan suatu aktifitas yang khas dan sangat berbeda dengan aktifitas lain seperti belajar dan bekerja yang selalu dilakukan dalam rangka mencapai suatu hasil akhir.21

Bagi anak, bermain adalah suatu kegiatan yang serius, tetapi mengasyikkan. Melalui aktifitas bermain, berbagai pekerjaannya terwujud.

Bermain adalah aktifitas sendiri yang dipilih oleh anak, karena menyenangkan bukan karena akan memperoleh hadiah atas pujian. Bermain

20 Novi Mulyani, Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia, (Jogyakarta : Diva Press, 2016), hlm. 24.

21 Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta barat : PT Indeks Permata Puri Media, 2009), hlm.144.

adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya22. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bermain memungkinkan anak bergerakan secara bebas sehingga mampu mengembangkan kemapuan motoriknya23. Dengan memahami arti bermain bagi anak, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bermain adalah suatu kebutuhan bagi anak yang harus terpenuhi.

Hartley, Frank, goldensen,menyebutkan delapan fungsi bermain bagi anak, yaitu sebagai berikut :

1) Menirukan sesuatu yang dilakukan oleh orang dewasa. Contohnya meniru ibu memasak, dokter mengobati orang sakit, ibu berbelanja kepasar, ayah memperbaiki montor yang rusak, dan sebagainnya.

2) Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata, seperti guru mengajar dikelas, sopir mengendarai bus atau truk, petani sedang mencangkul di sawah, dan lainnya.

3) Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata. Misalnya, ibu memandikan adik, ayah membaca koran, kakak mengerjakan tugas sekolah, kakak mendengarkan ra dio, dan sebagainnya.

4) Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul – mukul kelereng, menepuk – menepuk air, dan lainnya.

22 Conny Semiawan, Belajar Dan Pembelajaran Prasekolah Dan Sekolah Dasar, (Indonesia : PT macanan jaya cemerlang, 2008), hlm.20

23 Dwi Yulianti, Bermain Sambil Belajar Sains di Taman Kanak – Kanak, (Indonesia : PT Indeks, 2010), hlm.27.

5) Untuk melepaskan dorongan – dorongan yang tidak dapat dterima, seperti berperasaan sebagai pencuri, menjadi anak nakal pelanggaran lalu lintas, dan sebagainanya.

6) Untuk kilas balik peran – peran yang yang biasanya dilakukan, seperti mandi, sarapan pagi naik angkutan kota, dan lainnya.

7) Mencerminkan pertumbuhan, seperti pertumbuhan kaki yang lebih kuat, bertambah tinggi tubuhnya, dapat semakin berlari cepat.

Untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalah, seperti menghias ruangan, menyiapkan makanan, dan sebagainya.24

Sementara itu, menurut Hetherington dan Parke, bermain juga berfungsi untuk mempermuda perkembangan kognitif anak. Dengan bermain, akan memungkinkan anak untuk meneliti lingkungan sekitarnya, mempelajari segala sesuatu, dan memecahkan masalah yang dihadapinya.

Selain itu, bermain juga meningkatkan perkembangan sosial anak. Dengan menampilkan berbagai macam peran, anak berusaha untuk memahami peran orang lain dan menghayati peran yang akan diambilnya setelah ia dewasa.

Hal yang sama yang dijelaskan oleh Parten yang memandang bahwa kegiatan bermain sebagai sarana sosial anak. Melalui bermain, diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada anak dalam bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan, berkreasi, dan belajar secara menyenangkan. Selain itu, kegiatan bermain juga dapat membantu anak

24 Novi Mulyani, Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia, (Jogyakarta : Diva Press, 2016), hlm. 24.

mengenal tentang dirinya, dengan siapa ia hidup, dan lingkungan sekitarnya.25

b. Tahapan Perkembangan Bermian

Bermain merupakan aktivitas yang tak terlepaskan dari dunia anak.

Dengan bermain anak dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Moeslichatoen R.

Menurut Dworetzky bermain merupakan kegiatan yang memberikan kepuasan bagi diri sendiri. Melalui bermain anak memperoleh pembatasan dan memahami kehidupan. Bermain merupakan kegiatan yang memberikan kesenangan dan dilaksanakan untuk kegiatan itu sendiri, yang lebih ditekankan pada caranya daripada hasil yang diperoleh dari kegiatan itu. Bermain merupakan tuntutan dan kebutuhan yang esensial bagi anak, melalui bermain anak akan dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, kreativitas, bahasa, emosi, sosial, dan sikap hidup. Melalui kegiatan bermain, anak juga dapat melatih kemampuan bahasanya dengan cara: mendengarkan beraneka bunyi, mengucapkan suku kata atau kata, memperluas kosakata, berbicara sesuai dengan tata bahasa Indonesia, dan sebagainya.26

Tahapan perkembangan bermain menurut pendapat para ahli adalah sebagai berikut:27

1) Jean Piaget

Tahapan kegiatan bermain menurut Piaget adalah sebagai berikut:

a) Permainan Sensori Motorik (±¾ bulan-½ tahun)

Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor, sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan

25 Novi Mulyani, Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia, (Jogyakarta : Diva Press, 2016), hal 29.

26Moeslichatoen R, Metode Pengajaran Di Taman Kanak-Kanak (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), 32-33.

27Dadan Suryana, Pendidikan Anak Usia Dini Stimulasi dan Aspek Perkembangan Anak (Jakarta:

Kencana, 2016), 204.

sebagai kegiatan bermain. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuat. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation.

b) Permainan Simbolik (± 2-7 Tahun)

Merupakan ciri periode pra-operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura.

c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 Tahun)

Pada usia 8-11 tahun anak sering terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh aturan permainan.

d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 Tahun ke Atas)

Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan dan olahraga.

Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti.

2) Hurlock

Adapun tahapan perkembangan bermain menurut Hurlock adalah sebagai berikut:

a) Tahapan Penjelajahan (Exploratory Stage)

Berupa kegiatan mengenal objek atau orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda di sekelilingnya lalu mengamatinya. Penjelajahan semakin luas saat anak mulai merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya.

b) Tahapan Mainan (Toy Stage)

Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya.

Biasanya terjadi pada usia prasekolah, anak-anak di taman kanak-kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya.

c) Tahap Bermain (Play Stage)

Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk sekolah dasar.

Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama-kelamaan berkembang menjadi games, olahraga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa.

d) Tahap Melamun (Daydream Stage)

Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas, dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal.

c. Jenis Main Anak Usia Dini

Dalam main anak, ada tiga jenis main yang menjadi perhatian untuk mengembangkan seluruh kecerdasan dan ranah berpikir anak, yaitu: main sensorimotor, main peran, dan main pembangunan.28 1) Main Sensorimotor

Main sensorimotor atau main fungsional adalah main anak usia dini, dimana anak belajar melalui pancaindra dan hubungan fisik dengan lingkungan mereka. Tahap perembangan main sensorimotor terbagi menjadi empat tahapan.

2) Main Peran

Menurut Piaget main peran muncul saat anak kira-kira berumur satu tahun. pada saat ini anak menerapkan kegiatan yang tidak bisa diterapkan dalam kehidupan nyata.

3) Main Pembangunan

Main pembangunan adalah main untuk merepresentesikan ide anak melalui media. Ada dua jenis media yaitu: media yang bersifat cair dan media yang terstuktur. Contoh media yang bersifat cair adalah cat, krayon, spidol, play dough,pasir, air. Sedangkan media yang terstruktur adalah balok unit, lego, balok berongga, bristle block.

Dokumen terkait