• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berpenghasilan Rp48 Juta

Dalam dokumen Dinas Pertanian Sumbar pht (Halaman 52-57)

Ekonomi kami berangsur-angsur membaik dengan meningkatnya produksi tanaman kami. PHT juga menjadi salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah.

Karena PHT mengajarkan kami untuk hidup kreatif dan tak saja harus menunggu hasil padi di sawah, maka kami juga bertanam jagung. Ketika padi masak, jagung kami juga berbunga. Kami juga memelihara ternak sapi. Dari limbah jagung dan tahi kerbau kami buat pupuk kompos untuk dijual. Tiap 3 bulan, kami menghasilkan 60 ton pupuk olahan atau pupuk organik. Harga pupuk satu kilogram adalah Rp 8 ribu. Sekali 3 bulan kami menghasilkan uang sebanyak Rp 48 juta atau Rp 16 juta sebulan.

Alhamdulillah, PHT telah membuka cakrawala kami para petani. Kami yakin, masa depan petani kita akan jauh lebih baik dari sekarang bila pemerintah senantiasa memberikan bimbingan dan binaan serta berbagai pelatihan teknologi pertanian kepada para petani kita. Sebenarnya juga, soal pertanian bukan soal modal semata, itu adalah soal peningkatan pengetahuan.

Yang paling hebat dan luar biasa adalah ketika PHT berhasil mengatasi persoalan pertanian dalam bidang penanggulangan hama dan penyakit serta pupuk. Ketika biaya beli pestisida lenyap, biaya beli pupuk lenyap, bibit juga terjamin, pada saat itulah petani dengan senyum manis menyambut masa berpanen di depan mata!

Sejak kelas 4 SD hing- ga SMA ia sudah turun ke sawah membantu amak. Masa-masa bocah dan remaja bahkan hingga sekarang tak lepas dari sawah ke sawah saja. Kini Nurhikmah yang tamat- an SMA Ampek Angkek Canduang ini sudah ber- usia 40 tahun. Anaknya sudah 5 orang. Suaminya Dainuar (51) menggalas di Lampung. Ia tinggal di Jorong Sungaiangek Na- gari Simarosok Keca- matan Baso, Kabupaten Agam. Nurhikmah yang kerap dipanggil It ini menuturkan kisah kehidupannya dalam bertani….

“Awak ke sawah sejak ketek. Sajak usia sepuluh tahun awak alah masuak sawah mah. Sejak kecil itu awak sudah memelihara kabau. Amak membelikan awak kerbau dua ikur. Kelas dua SMP awak sudah belajar bertanam padi.

Pertama awak bertanam, padi nan awak tanam itu kencong- kencong bentuk ular. Dek rajin batanam, lambat lama padi nan awak tanam itu lurus dan lebih bisa pula awak dari urang lain. Kata Amak, awak iyo sabana ligat kalau batanam padi tu. Begitulah….

Tiap pulang sekolah jam setengah dua, awak langsung ke sawah. Jam limo sore baru pulang dari sawah. Tiba di rumah, awak mengasuh adik pula.

Awak tamat SMA tahun 1993. Tahun 2000 awak dijodohkan amak dengan Uda Dainuar. Uda karajo di Duri wakatu tu.Pulang sakali limo baleh hari. Awak basawah di kampuang, uda karajo di rantau urang. Indak lamo sudah tu, Uda baranti karajo di Duri, baraliah ka Lampung manggaleh.

Kalau pergi ke sawah, anak ditinggalkan dengan adik saya yang rumahnya dekat dengan rumah saya ini. Satu anak saya bawa ke sawah. Saya biarkan dia bermain di pematang dengan dilindungi payuang gadang.

Karena membajak itu karajo berat, terpaksa membajak sawah

N

URHIKMAH

SEJAK KENAL PHT

GEMAR MANFAATKAN

LAHAN TIDUR

A

WAKMENGENAL

S

EKOLAH

L

APANGAN

PHT

BARUSAJAK TANGGAL

20 M

EI

2014

NANKO

. B

ERAKHIRNYO NANTIKBULAN

O

KTIBER NANKATIBO

. A

WAK TERTARIKMASUK

SL

PHT

KARENA MELIHAT BANYAKPETANI

PHT

YANGSUKSESDAN BERHASILBERTANAM

.

P

RODUKSIMEREKA MENINGKAT

. K

ARENAITU AWAKTERGERAKHATI UNTUKIKUT

SL PHT.

A

WAKINGINPULA SUKSESBERTANI

.

awak upahkan. Batanam baru awak nan langsuang turun. Sawah awak adoh sekitar saparampat hektar.

Awak mengenal Sekolah Lapangan PHT baru sajak tanggal 20 Mei 2014 nan ko. Berakhirnyo nantik bulan Oktiber nan katibo. Awak tertarik masuk SL PHT karena melihat banyak petani PHT yang sukses dan berhasil bertanam. Produksi mereka meningkat. Karena itu awak tergerak hati untuk ikut SL PHT. Awak ingin pula sukses bertani.

Dahulu, cara awak bertani adalah cara yang diajarkan oleh orangtua. Ke sawah ya ke sawah saja. Kalau ada hama dan penyakit diberi obat pestisida. Pupuk dibeli. Ya begitulah cara lama awak.

Banyak manfaat PHT yang awak rasakan. Manfaat pertama saja adalah awak tidak lagi mengenal racun pestisida, tapi sudah dikenalkan dengan bagaimana cara mengendalikan hama dan bibit penyakit secara alami. Misalnya, kalau ada tikus, dikendalikan dengan membuat sarang atau rumah tikus dengan bambu. Ada hama wereng diatasi dengan keong emas yang ditumbuk yang diberi sabut kerambil lalu dikasih tinggak dipasang di tangah sawah. PHT membuat awak kreatif. Pematang sawah awak tanami dengan berbagai sayuran dan jagung. Lalu awak tanami juga dengan bunga matahari karena bunga matahari berwarna kuning, sementara hama suka dengan tanaman berwarna kuning. Jadi, hama berpindah dari memakan padi menjadi makan bunga matahari.

Kini sejak PHT awak gemar memanfaatkan lahan tidur. Sehingga kebutuhan dapur seperti bawang, cabe dan lain-lain tak lagi awak beli, tapi awak tanam sendiri.

Dahulu, jerami awak panggang. Sekarang tidak. Jerami awak lunggukkan sampai membu- suk hingga jadi pupuk.

Awak bersyukur dapat mengenal teknologi PHT. Selain meningkatkan hasil produksi tana- man, PHT juga membuat pengetahuan kebertanian awak bertambah.

Desi Kurnia (32) ibu dua anak istri tercinta dari Sawirman ini menye- sal mengapa tidak sejak dulu mengenal PHT. Me- ngapa ia baru mengenal PHT sejak bulan Mei 2014. Kini ia masih prak- tek Sekolah Lapangan PHT yang akan berakhir bulan Oktober 2014 ini.

“Ya, saya menyesal mengapa baru kini diberi kesempatan mengenal teknologi PHT ini” kata Desi petani asal Sungai- angek Baso Agam ini. Desi bertanam padi di atas lahan seluas setengah hektar yang tersebar di 3 tumpak (lokasi). Ia berharap, pasca mengenal PHT ini hasil padinya akan meningkat.

“Alhamdulillah, berkat pengajaran PHT, padi nan awak tanam sekarang ini tumbuh subur dan hama serta penyakitnya dapat diatasi sejak dini”, kata Desi yang menuturkan hasil padinya dulu sebanyak 35 karung.Padi sekraung sekitar Rp 200 ribu. 1 karung padi menghasilkan beras sekitar 20 kg. Beras 1 kg = Rp 11 ribu. Hasil totalnya adalah 700 kg atau Rp 7.700.000,-

Nikmat nyata yang ia rasakan dari PHT adalah berkurangnya atau lenyapnya biaya racun atau pestisida dan biaya pupuk.

“Pengetahuan PHT sangat membantu petani. PHT adalah wujud nyata dari salah satu cara mengatasi kemiskinan di kalangan para petani kita. Bayangkan, dengan mengetahui dan mengikuti pembelajaran PHT kita jadi mengerti tentang hama dan penyakitnya. Yang lebih hebat lagi adalah, ternyata cara penanggulangan hama dan penya-

kit tanaman tidak lagi melalui obat atau pestisida yang kita beli me- lainkan kita olah dan kita akali secara sendiri. Saya bersyukur sekali mengenal dan diberi kesempatan menmgikuti SLPHT ini. Mudah- mudahan petani lain juga diberi kesempatan supaya kemiskinan tak lagi identik dengan petani…!” ujar Desi.

D

ESI

K

URNIA

Dalam dokumen Dinas Pertanian Sumbar pht (Halaman 52-57)

Dokumen terkait