• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bertanggung jawab (responsible)

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku

4. Bertanggung jawab (responsible)

Sikap yang paling tinggi adalah bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko.Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung.Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek.Sedangkan secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden.Dan biasanya jawaban berada dalam rentang antara sangat setuju sampai sangat tidak setuju.

2.1.4 Tindakan

Setelah seseorang mengetahui stimulus, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang telah di ketahui untuk dilaksanakan atau dipraktekan. Suatu sikap belum otomatis tewujud dalam suatu tindakan. Agar terwujud sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung berupa fasilitas dan dukungan dari pihak lain.

Tindakan terdiri dari beberapa tingkat yaitu:

1. Presepsi

Mekanisme mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil.

2. Respon Terpimpin

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh.

3. Mekanisme

Dapat melakukan sesuatu secara otomatis tanpa menunggu perintah atau ajakan orang lain.

4. Adopsi

Suatu tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu telah dimodifikasikan tanpa mengurangi kebenaran dari tindakan tersebut (Notoatmodjo, 2007).

2.2 Pestisida

2.2.1 Pengertian Pestisida

Pestisida (Inggris : pesticide) berasal dari kata pest yang berarti hama dan cide yang berarti mematikan/racun. Jadi pestisida adalah racun hama. Secara

umum pestisida dapat didefenisikan sebagai bahan yang digunakan untuk mengendalikan populasi jasad yang dianggap sebagai pest (hama) yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan kepentingan manusia.

Menurut The United States Environmental Pesticide Control Act, pestisida adalah sebagai berikut :

1. Semua zat atau campuran zat yang khusus digunakan untuk mengendalikan, mencegah, atau menangkis gangguan serangga, binatang pengerat, nematoda,

gulma, virus, bakteri, jasad renik yang dianggap hama, kecuali virus, bakteri atau jasad renik lainnya yang terdapat pada manusia dan binatang.

2. Semua zat atau campuran zat yang digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman atau pengering tanaman (Djojosumarto, 2004).

2.2.2 Toksisitas Pestisida

Toksisitas merupakan istilah dalam toksikologi yang didefinisikan sebagai kemampuan bahan kimia untuk menyebabkan kerusakan/injuri. Istilah toksisitas merupakan istilah kualitatif, terjadi atau tidak terjadinya kerusakan tergantung pada jumlah unsur kimia yang terabsorpsi. Sedangkan istilah bahaya (hazard) adalah kemungkinan kejadian kerusakan pada suatu situasi atau tempat tertentu;

kondisi penggunaan dan kondisi paparan menjadi pertimbangan utama. Untuk menentukan bahaya, perlu diketahui dengan baik sifat bawaan toksisitas unsur dan besar paparan yang diterima individu. Manusia dapat dengan aman menggunakan unsur berpotensi toksik jika mentaati aturan yang dibuat guna meminimalkan absopsi unsur tersebut.

A. Kategori Toksisitas

Label pestisida memuat kata-kata simbol yang tertulis dengan huruf tebal dan besar yang berfungsi sebagi informasi

1. Kategori I

Kata–kata kuncinya ialah “Berbahaya Racun” dengan simbol tengkorak dengan gambar tulang bersilang dimuat pada label bagi semua jenis pestisida yang sangat beracun. Semua jenis pestisida yang tergolong dalam jenis ini

mempunyai LD 50 yang aktif dengan kisaran antara 0-50 mg perkilogram berat badan.

2. Kategori II

Kata-kata kuncinya adalah “Awas Beracun” digunakan untuk senyawa pestisida yang mempunyai kelas toksisitas pertengahan, dengan daya racun LD 50 oral yang akut mempunyai kisaran antara 50-500 mg per kg berat badan.

3. Kategori III

Kata-kata kuncinya adalah “Hati-Hati” yang termasuk dalam kategori ini ialah semua pestisida yang daya racunnya rendah dengan LD 50 akut melalui mulut berkisar antara 500-5000 mg per kg berat badan (Panut, 2008).

Tabel 2.1 Kriteria Klasifikasi Pestisida Berdasarkan Bentuk Fisik, Jalan Masuk ke Dalam Tubuh dan Daya Racunnya

Klasifikasi LD50 untuk tikus (mg/kg)

Oral Dermal IV. Tidak Berbahaya jika

digunakan sesuai dengan anjuran

≥2000 ≥3000 - -

Sumber : Kementan RI,2012

Salah satu racun pestisida yang telah dilarang penggunaannya yaitu DDT masuk klasifikasi II atau berbahaya. Keracunan DDT tidak saja disebabkan oleh daya toksis DDT itu sendiri tetapi larutan yang dipakai seperti minyak tanah dapat menyebabkan lebih beratnya tingkat keracunan. Tanda-tanda keracunan

organoklorin: keracunan pada dosis rendah, si penderita merasa pusing-pusing,mual, sakit kepala, tidak dapat berkonsentrasi secara sempurna. Pada keracunan dosis yang tinggi dapat kejang-kejang, muntah dan dapat terjadi hambatan pernafasan.

Tabel 2.2 Menunjukkan kelas toksisitas yang bahan aktif yang tergolong dalam kelas toksisitas tersebut.

Kelas Toksisitas Bahan

Aktif Contoh Bahan Aktif

Ia Parathion, Tebupirimfos, Terbufos

Ib Carbofuran, Cyfluthrin, Beta-cryfluthrin, Zeta-cypermethrin, Dichorvos, Methiocarb, Nicotine, Tefluthrin.

II Allethrin, Bendiocarb, Bifenthrin, Biollethrin, Carbaryl, Carbosulfan, Chlorpyrifos, Chyalothrin, DDT, Delthamethrin, Prallethrin, profenofos, propoxur, Pyrethrin, Tetraconazole

III Bacillus, Thruringiensis, Buprozin, diflubenzuran, Malathion, Resmethrin, Temephos, DEET, d-allethrin.

IV Benfluarin, Benomyl, Bioresmethrin, Transfluthrin.

Sumber : Kementan RI, 2012)

2.2.3 Penggolongan Pestisida

Pestisida mempunyai sifat-sifat fisik, kimia dan daya kerja yang berbeda-beda, karena itu dikenal banyak macam pestisida. Pestisida dapat digolongkan menurut berbagai cara tergantung pada kepentingannya, antara lain: berdasarkan sasaran yang akan dikendalikan, berdasarkan cara kerja, berdasarkan struktur kimianya dan berdasarkan bentuknya.

Sedangkan jika dilihat dari cara kerja pestisida tersebut dalam membunuh hama dapat dibedakan lagi menjadi tiga golongan, yaitu (Ekha, 1988):

1. Racun perut

Pestisida yang termasuk golongan ini pada umumnya dipakai untuk membasmi serangga serangga pengunyah, penjilat dan penggigit. Daya bunuhnya melalui perut.

2. Racun kontak

Pestisida jenis racun kontak, membunuh hewan sasaran dengan masuk ke dalam tubuh melalui kulit, menembus saluran darah, atau dengan melalui saluran nafas.

3. Racun gas

Jenis racun yang disebut juga fumigant ini digunakan terbatas pada ruanganruangan tertutup. Ditinjau dari jenis jasad yang menjadi sasaran penggunaan pestisida dapat dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain (Kementan,2011):

1. Akarisida, berasal dari kata akari, yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga disebut Mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu.

2. Algasida, berasal dari kata alga, bahasa latinnya berarti ganggang laut, berfungsi untuk membunuh alge.

3. Alvisida, berasal dari kata avis, bahasa latinnya berarti burung, fungsinya sebagai pembunuh atau penolak burung.

4. Bakterisida, Berasal dari katya latin bacterium, atau kata Yunani bakron, berfungsi untuk membunuh bakteri.

5. Fungsida, berasal dari kata latin fungus, atau kata Yunani spongos yang artinya jamur, berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan. Dapat bersifat fungitoksik (membunuh cendawan) atau fungistatik (menekan pertumbuhan cendawan).

6. Herbisida, berasal dari kata lain herba, artinya tanaman setahun, berfungsi untuk membunuh gulma.

7. Insektisida, berasal dari kata latin insectum, artinya potongan, keratan segmen tubuh, berfungsi untuk membunuh serangga.

8. Molluskisida, berasal dari kata Yunani molluscus, artinya berselubung tipis atau lembek, berfungsi untuk membunuh siput.

9. Nematisida, berasal dari kata latin nematoda, atau bahasa Yunani nema berarti benang, berfungsi untuk membunuh nematoda.

10. Ovisida, berasal dari kata latin ovum berarti telur, berfungsi untuk merusak telur.

11. Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis, berarti kutu, tuma, berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.

12. Piscisida, berasal dari kata Yunani Piscis, berarti ikan, berfungsi untuk membunuh ikan.

13. Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodere, berarti pengerat berfungsi untuk membunuh binatang pengerat.

14. Termisida, berasal dari kata Yunani termes, artinya serangga pelubang kayu berfungsi untuk membunuh rayap.

2.2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Keracunan Pestisida

Bahaya pestisida dapat diperkecil bila diketahui cara-cara bekerja dengan aman dan tidak mengganggu kesehatan. Adapun resiko dari penggunaan pestisida seperti studi sebelumnya di luar dan di Indonesia menunjukkan bahwa faktor-faktor resiko keracunan pestisida yang menimbulkan hemoglobin darah menjadi tidak normaldan mendapati penurunan dalam beberapa komponen hematologi seperti Hemoglobin. Ada dua factor yang mempengaruhi keracunan yaitu:

Dokumen terkait