• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI DAN INTERPRETASI PENELITIAN

4.2. Profil Informan

4.3.1. Bertani Sawit Sebagai Mata Pencaharian

Petani merupakan orang yang memiliki mata pencaharian dengan cara mengolah tanah pertanian dan menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Sejarah pertanian menjelaskan pola pertanian awal pada masyarakat petani merupakan pertanian subsisten.Sistem pertanian dengan menanam tanaman pangan sebatas untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Seiring perkembangan zaman terjadi disaat kebutuhan keluarga petani semakin bertambah, yang pada awalnya hanya untuk kebutuhan akan pangan menjadi semakin berkembang pada kebutuhan sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Pengenalan terhadap sistem mata uang juga menjadikan sistem pertanian

subsistem semakin berkembang dengan mengenal sistem pasar, meskipun sebagian petani masih menjalankan sistem pengolahan lahan yang bersifat tradisional.Sistem pertanian subsistem yang menjalankan aktivitas tani sebagai pemenuh kebutuhan dasar keluarga saja semakin berkembang, kelebihan hasil pertanian mulai dijual kepada orang yang membutuhkan.

Sektor pertanian menjadi salah satu mata pencaharian utama pada sebagian masyarakat yang tinggal di pedesaan, hal ini juga dikarenakan ketersediaan lahan di Desa yang lebih memungkinkan individu untuk bercocok tanam dibandingkan dengan kondisi di kota. Kegiatan bercocok tanam yang dilakukan adalah menanam kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Kondisi demikan dapat digambarkan oleh warga Desa Bakti Mulya yang sebagian besarnya memiliki mata pencaharian sebagai petani sawit..

Mayoritas warga di Desa Bakti Mulya memiliki mata pencaharian sebagai petani sawit.Keahlian yang dimiliki oleh petani ketika melakukan aktivitas bertani telah dikuasai mereka semenjak kecil, karena orang tua mereka membiasakan mereka untuk bekerja di ladang.Bertani sawit telah menjadi pilihan utama mereka dalam mencari nafkah karena mereka telah menguasai cara-cara bertani semenjak kecil.Petani menjadi pilihan mata pencaharian bagi mereka sebab dilatar belakangi faktor pendidikan mereka.

Kelapa sawit merupakan tumbuhan tropis yang diperkirakan berasal dari Nigeria (Afrika Barat) kerena pertama kali ditemukan dihutan belantara negara tersebut. Kelapa sawit pertama kali masuk ke indonesia pada 1848, dibawa dari Mauritius dan Amsterdam oleh seorang warga Belanda. Kelapa sawit juga merupakan tanaman tropis penghasil minyak nabati yang hingga saat ini diakui paling produktif dan ekonomis dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya, misalnya kedelai, kacang tanah, kelapa, bunga matahari, dan lain-lain. Jika dibandingkan dengan minyak nabati lain, minyak kelapa sawit memiliki

keistemewaan tersendiri, yakni rendahnya kandungan kolesterol dan dapat diolah lebih lanjut menjadi suatu produk yang tidak hanya dikonsumsi untuk kebutuhan pangan (minyak goreng, margarin, vanaspati, lemak,dan lain-lain), tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan nonpangan (gliserin, sabun, deterjen, BBM, dan lain-lain) (Hadi, 2004: 1-5).

Hal tersebut menyebabkan penjajah Belanda pada saat itu menerapkan sistem perkebunan kelapa sawit di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di pulau Sumatera. Bercocok tanam mengelola lahan/tanah atau biasa disebut dengan bertani merupakan mata pencaharian utama yang dilakoni oleh penduduk desa Bakti Mulya. Kegiatan bertani dilakoni dengan peralatan-peralatan yang masih yang masih sangat tradisional dan dengan luas lahan perorangan ada yang luas dapat mencapai 5-10 Ha dan ada juga yang tidak begitu luas yang rata-rata hanya mencapai 1-2 Ha. Dengan luas antara 1-2 Ha para petani dapat menanam pohon kelapa sawit 135-270 pokok, dengan jarak tanam 4x6 m. Untuk luas 1 Ha biasanya mereka dapat memanen buah kelapa sawit berkisar 1½ ton sekali panen (untuk kebun sawit dengan perawatan yang baik), dalam durasi waktu panen 2 kali sebulan. Terkadang adapula diantara petani yang melakukan 3 kali proses pemanenan buah kelapa sawit dalam sebulan. Hal tersebut dilakukan karena keperluan konsumsi rumah tangga yang mendesak. Akan tetapi, tidak semua kebun kelapa sawit dapat menghasilkan jumlah produksi sawit per hektarnya 1½ ton, semuanya tergantung pada tingkat perawatan dan pengelolaan dari kebun kelapa sawit itu sendiri. Sementara itu hasil yang didapatkan dari perkebunan kelapa sawit akan dijual dengan harga yang berbeda yang sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan keadaan pasar. Harga buah kelapa sawit saat ini mencapai Rp.1.500 per kg. Apabila dikalkulasikan dengan luas tanah 1 Ha dengan produksi panennya sekitar 1 ton, maka para petani akan menerima pendapatan sebesar Rp.1.500.000,00 persekali panen.

Namun, ada sebagian para petani kelapa sawit di desa Bakti Mulya melakukan proses panen produksi sebanyak 3 kali dalam sebulan. Meskipun mereka memiliki luas tanah 1-2

Ha, tetapi produksi panennya tidak akan mencapai 1½ ton per hektarnya. Hal ini di akibatkan oleh sistem pemanenan yang tidak sesuai dengan masa panennya. Mereka melakukan pemanenan buah kelapa sawit tidak sesuai dengan jadwal panen seharusnya. Sistem panen yang demikian dapat menyebabkan kekerdilan pada pohon kelapa sawit, yang membuat pohon atau batang menjadi kecil dan runcing sehingga mengakibatkan terhambatnya pembuahan pada kelapa sawit (dikenal dengan istilah trek buah). Apabila telah terjadi trek

buah maka produksi panen akan menyusut. Penyusutan dapat mencapai jumlah yang sangat

besar, misalnya dalam 1 Ha yang semulanya dapat menghasilkan 1 ½ ton, kemungkinan dapat menyusut hingga 400-600 per kg.

Pekerjaan petani tidak hanya dilakukan oleh kepala keluarga ataupun yang disebut suami (ayah), tetapi anak-anak mereka juga ikut berperan dan membantu orang tuanya dalam bercocok tanam meskipun pengetahuan yang mereka miliki masih sangat terbatas. Sementara itu, istri mereka kebanyakan menghabiskan waktunya untuk mengurusin pekerjaan rumah tangga. Bertani juga merupakan salah satu mata pencaharian yang dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di wilayah daratan yang hidupnya hanya tergantung kepada alam. Hal tersebut juga terjadi kerena melihat pendidikan mereka yang rendah dan daerah di desa ini hanya cocok di tanam kelapa sawit. Kegiatan pertanian ini berlangsung sebagai kegiatan rutinitas masyarakat petani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Masyarakat desa Bakti Mulya sendiri sudah berpuluh-puluh tahun hidup dari hasil pertanian. Dimulai dari penjajahan Jepang sampai sekarang ini, sektor pertanian merupakan kontribusi utama dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Adapun jenis pertanian yang mendominasi sistem mata pencaharian mereka adalah sektor perkebunan dengan jenis tanaman kelapa sawit. Pekerjaan bertani kelapa sawit ini dilakukan oleh masyarakat desa Bakti Mulya dan hidupnya hanya tergantung kepada hasil kebunnya, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, peralatan yang mereka gunakan seperti dodos, egrek, gancu, tojok,

parang panjang, babat, ledok/angkong, pupuk serta sistem pengetahuan yang mereka miliki

tentang bagaimana cara mereka merawat kebunnya. Sistem pengelolaan yang mereka lakukan dengan peralatan tersebut di atas merupakan sistem pengelolaan yang masih bersifat sederhana/tradisional.

Menurut Ellis (1988) dalam bukunya Peasant Economics, Farm Households And

Agrarian Development mengemukakan bahwa ekonomi subsistem meliputi tiga unit :

1. Aktivitas ekonomi adalah sebagai pekebun (farmer)

2. Tanah sebagai basis ekonomi

3. Pekerja berasal dari keluarga yang tidak dibayar.

Dokumen terkait