• Tidak ada hasil yang ditemukan

HANYA KAMI BERTIGA

Dalam dokumen KUJUAL TUBUHKU BUKAN JIWAKU (Halaman 115-124)

Ibu itu sudah menunggu Nita di privat room Cafedin. Ia duduk tenang walaupun terlihat tanpa senyum. Umurnya belum terlalu tua.

Kira-kira hanya lima tahun di atas Nita. Kenapa aku yang jadi berdebar-debar sementara Nita masih terlihat tenang juga.

“Saya bersama teman saya, namanya Gita. Tapi kalau ibu keberatan Gita bisa keluar dari ruangan ini.”

“Kamu Pelacur juga?” tanya ibu itu kepadaku dengan nada datar.

Aku terhentak dengan pertanyaan ibu tersebut. Ya, walaupun aku sebagai pelacur, namun seakan ada penolakan apabila ada orang lain yang bilang bahwa aku adalah pelacur. Aku ingat bagaimana aku memutuskan untuk membuat hidupku seperti ini, dan aku sangat ingat betapa berat keputusan yang tidak bisa aku hindari saat itu. Aku memang pelacur, namun jangan panggil aku pelacur!

Beberapa saat berkecamuk dalam pikiranku tentang penolakan terhadap diriku sendiri.

Kalau tidak mau dipanggil sebagai pelacur, lalu apa? Julukan apa yang pas untukku yang memang sebagai pelacur ini?

Akhirnya aku berani bilang kepada ibu tersebut, “Ya, saya pelacur”

“Bagus, kamu juga bisa mendengarkan kami disini.”

Aku kemudian duduk diam menunggu apa yang mau mereka perbincangkan. Aku melihat Nita juga masih diam tidak berucap apapun juga.

Apakah Nita akan minta maaf? Apakah posisi Nita salah dalam hal ini?

“Nita, kamu merasakan nggak apa yang aku rasakan?” tanya ibu tersebut

“Bila ibu bersedia menjelaskan tepatnya seperti apa rasa tersebut, mungkin saya bisa menyadari apakah saya merasakan atau tidak tentang hal tersebut bu.”

“Kamu sebagai wanita sepertiku. Bayangkan bila kamu punya suami dan suamimu tidur dengan wanita lain. Apa yang terjadi denganmu?”

“Bila itu terjadi pada saya, tentu saja awalnya saya mengalami kekecewaan yang dalam atau mungkin saya marah pada suami saya. Namun bila itu terjadi, saya akan segera menyadari

bahwa suami saya ternyata tidak cinta pada saya.”

“Apakah kamu akan marah pada wanita tersebut, wanita yang merebut suamimu darimu?” tatapan ibu tersebut masih tajam ke arah Nita.

“Wanita itu tidak pernah merebut suami saya.

Saya harus sadari itu bu. Justru suami sayalah yang lari dari saya. Wanita tersebut tidak ada urusannya dengan saya. Urusan saya adalah saya dan suami saya. Apabila saya marah kepada wanita tersebut, kemungkinan hanyalah pelarian karena saya tidak bisa marah kepada suami saya.”

“Nita, kalau kamu ketemu dengan wanita tersebut, apa yang akan kamu lakukan padanya?”

“Saya akan belajar padanya. Belajar bagaimana menarik perhatian suami saya. Bagaimana

membuat suami saya bisa tergila-gila dan tak mau lepas darinya.”

“Kamu tidak akan menamparnya?”

Suasana sedikit hening. Aku merasakan ada kemarahan pada kalimat terakhir ibu itu kepada Nita. Dan Nita terlihat masih tenang menanggapi ibu tersebut.

“Tidak ada alasan saya menampar wanita itu bu, “kata Nita. “Bila saya menamparnya kali ini, mungkin itu hanya memuaskan kemarahan saya. Namun suami saya tetap tidak akan berubah. Mungkin nanti tidak dengan wanita tersebut. Ia bisa mencari wanita lain dan wanita lain sebanyak mungkin. Hal tersebut bagi saya tidak menyelesaikan masalah.

Masalah saya adalah memperbaiki apa yang salah dalam hubungan dengan suami saya sehingga suami saya bisa lari dari saya.”

“Nita, kalau laki-laki tidak digoda dia tidak akan berlaku seperti itu!”

“Ibu, bagaimana wanita mau menggoda laki yang tidak mau digoda? Jika seorang laki-laki memang tidak tergoda, maka godaan apapun tidak akan berguna baginya”

Gila! Ini Gila! Baru kali ini aku mendengar Nita bernegosiasi sehebat ini. Gila, Nita memang pelacur hebat! Aku melihat ibu itu sudah menyenderkan punggungnya di kursi. Dan, matanya berkaca-kaca!

Nita mendekat ke ibu tersebut, menempelkan badannya, dan tangan Nita memegang pundaknya.

“Ibu, aku merasakan apa yang ibu rasakan. Ini semua masih bisa diperbaiki”

“Ya, aku menyadari bahwa aku salah. Aku tidak bisa memikat suamiku. Bila aku marah padamu

itupun sia-sia dan tidak akan mengubah keadaan. Suamiku bisa saja bertindak hal yang sama pada banyak wanita lainnya. Aku yang salah. Akulah yang mengabaikannya.”

“Ibu bisa melakukannya, kalau ibu mau,” kata Nita.

“Apa yang bisa kulakukan untuknya?”

“Jadilah pelacur untuk suami ibu”

What’s?? Apa aku nggak salah dengar? Nita menyarankan ibu tersebut untuk menjadi pelacur bagi suaminya? Memang aku pernah mendengar dari orang-orang tua dan ibuku sendiri, bahwa wanita harus bisa menjadi pelacur bagi suaminya. Tapi apakah hanya seks yang dibutuhkan laki-laki?

Ibu itu bertanya lagi pada Nita, “Apakah aku terlihat kurang menarik bagi suamiku? Bagi

laki-laki? Apakah aku terlihat tidak bisa memberikan sex yang bagus?”

“Ibu, laki-laki bukan hanya butuh sex. Sex hanyalah penghantar akhir dari sekian langkah yang ingin didapatkan laki-laki.”

Ibu itu diam melihat Nita dan juga aku.

Matanya penuh harap. Berharap Nita bercerita lebih banyak tentang rahasianya menaklukkan laki-laki.

Nita melanjutkan bicaranya, “mungkin yang saya lakukan dan juga Gita lakukan dalam hal seks adalah sama. Eksplorasi yang dilakukan mungkin juga sama. Dan saya yakin dalam hal itupun ibu juga melakukan hal yang sama. Bagi laki-laki yang membuat beda adalah persepsinya tentang hal tersebut. Dan persepsi

tersebut kita bangun jauh sebelum terjadinya sex itu sendiri.”

“Lanjutkan Nita.” Pinta ibu tersebut.

Akupun dengan serius ingin mendengarkan Nita bicara tentang rahasia yang ia punyai!

Dalam dokumen KUJUAL TUBUHKU BUKAN JIWAKU (Halaman 115-124)

Dokumen terkait