FREQUENTLY ASKED QUESTIONS (FAQ) DALAM PENGAJARAN
A. HARI-HARI BESAR DALAM ISLAM
3. Idul Adha
Hari raya kedua adalah hari raya Idul Adha/Qurban. Idul Adha diperingati tiap tanggal 10 Dzulhijjah. Pada tanggal tersebut umat muslim dari seluruh dunia melakukan ibadah
30 Muslim H. Nasution, Tapak Sejarah Seputar Makkah Madinah, Jakarta: Gema Insani Press,
1999, hlm. 110.
31 Florian Pohl, Islamic Belief, Practices, and Cultures, India: Marshall Cavendis Coorporation,
haji di Tanah Suci, Mekkah. Idul Adha disebut juga hari raya kurban. Kata "adha" berarti berarti "hewan kurban". Hari raya ini memperingati peristiwa penyembelihan Ismail,32 putera Nabi
Ibrahim demi melaksanakan perintah Allah, yang kemudian ketika perintah tersebut hampir dilaksanakan Ibrahim, dan Ismail siap disembelih, Allah kemudian menggantinya dengan seekor kambing besar. Hal ini mirip dengan kisah yang termaktub dalam Perjanjian Lama, hanya saja di dalam Perjanjian Lama putera Ibrahim yang disembelih adalah Ishaq, bukan Ismail.33Dalil dari
perayaan ini dalam al-Qur’an:
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya )" "Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, "
"Sesungguhnya kamu telah "membenarkan mimpi" itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang- orang yang berbuat baik"
"Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata" "Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar"
(Q.S. Ash-Shaaffaat: 102-107)
Dalam hadis riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Zaid bin Arqam, suatu hari Rasulullah ditanyai "untuk apa
32 Robert Walker, Eid Azha, Canada: Crabtree Publishing Company, 1980, hlm. 10
33 Hilmi Ali Sya’ban, Nabi Ishaq, (terj. Saifuddin Zuhri Qudsy), Yogyakarta: Mitra Pustaka,
sembelihan ini?" beliau menjawab: "Ini sunnah (tradisi) ayah kalian nabi Ibrahim AS." lalu sahabat bertanya:"Apa manfaatnya bagi kami?" belau menjawab:"Setiap rambut qurban itu membawa kebaikan" sahabat bertanya: "Apakah kulitnya?" beliau menjawab: "Setiap rambut dari kulit itu menjadi kebaikan".
Tradisi kurban telah ada semenjak masa sebelum Islam. Salah satunya adalah sebagaimana yang telah diabadikan dalam ayat-ayat al-Qur’an di atas mengenai kisah kurban Ibrahim pada anaknya Ismail. Bahkan dalam buku klasik Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam,disebutkan bahwa kakek Muhammad yang bernama Abdul Muthalib pernah bernazar bahwa jika ia telah memiliki 10 anak, dan sudah besar dan telah mampu melindunginya, salah satu diantaranya akan disembelih. Ketika ia benar-benar dianugerahi 10 anak dan sudah bisa melindunginya ia menjelaskan masalah nadzar tersebut kepada anak-anaknya. Anak-anaknya mentaatinya dan berkata: “Apa yang bisa kami lakukan?” Abdul Muthalib menjawab, “ambillah dadu, dan tuliskanlah di setiap dadu, nama-nama kalian.” Setelah itu sang ayah—yang memiliki tugas memberikan makanan dan minuman bagi para peziarah yang datang ke Ka’bah pada masa itu—membawa dadu-dadu itu untuk dikocok di hadapan patung Hubal yang pada masa itu menjadi salah satu sesembahan masyarakat jahiliyyah.34 Setelah dikocok di hadapan Hubal, ternyata
yang keluar adalah nama Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah dari Nabi Muhammad saw. Pada awalnya Abdul Muthalib telah mantap untuk menyembelih Abdullah dan menyiapkan parang untuk menyembelihnya di hadapan patung Isaf dan Nailah, namun suku Quraisy mencegahnya dan memberikan saran agar yang lain saja, bahkan untuk mencegahnya kaum Quraisy menyarankan agar menemui seorang dukun wanita di Hijaz, serta menanyakan jalan keluarnya, apa tebusan yang harus dilakukan sebagai pengganti
34 Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Jakarta: Darul Falah, 2000, hlm. 124-126. Band-
ingkan dengan Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: Litera An- terNusa, 2010 cet. 39, hlm. 39-40.
Abdullah. Setelah menemui dukun itu, ia bertanya “berapa jumlah
diyat (pengganti darah) di tempat kalian?” kemudian orang-orang bersama Abdul Muthalib menjawab: “10 ekor unta”. Lalu dukun itu memberikan solusi bahwa Abdullah harus diadu dengan unta, setiap kocokan yang keluar atas nama Abdullah harus ditebus dengan 10 ekor unta, hingga keluar nama unta di dalam dadu itu. Kemudian setelah dikocok di depan patung Hubal, nama yang keluar selalu Abdullah, bukan unta. Hal ini terjadi hingga 10 kali, baru setelah itu nama unta keluar. Sehingga, pengganti tebusan bagi Abdullah menghabiskan 100 ekor unta.35
Dua contoh mengenai Ibrahim dan Abdul Muthalib dalam masalah kurban ini menjadi salah satu bukti adanya kurban dalam tradisi-tradisi sebelum Islam. Hal ini menarik untuk dikaji lebih jauh. Namun hal yang terpenting lainnya adalah bahwa prosesi kurban ini sendiri menjadi salah satu rangkaian ritual bagi pelaksanaan haji di Mekkah. Bahkan konon tempat berhala Isaf dan Nailah sendiri ada di samping sumur air zam-zam yang ada di daerah sekitar Ka’bah, kemudian masalah melempar batu yang menjadi bagian dari prosesi ritual haji merupakan salah satu bagian dari kisah prosesi penyembelihan yang hendak dilakukan Ibrahim atas Ismail.36 Haji merupakan rukun Islam yang kelima
yang wajib dilaksanakan sekali seumur hidup oleh setiap muslim yang mampu dalam masalah jasmani dan rohani serta kemampuan fi nansial.
Idul Adha merupakan hari raya kedua yang terbesar dalam Islam37 setelah Idul Fitri. Namun, baik tradisi Idul Fitri atau pun
Idul Adha merupakan proses akhir dari peristiwa sebelumnya, yakni puasa Ramadhan sebagai peristiwa yang mengawali Idul Fitri, serta haji yang mengawali Idul Adha.38
35 Ibid.
36 Lihat Simon Coleman, John Elsner Pilgrimage: Past and Present in the World Religions, US:
Harvard University Press, 1995, hlm. 52-54.
37 Charles F. Adams, Islam,dalam Geoffrey Parrinder, Man and his Gods: Encyclopedia of the
World’s Religion, London: Hamlyn Publishing Group, 1971, hlm. 419.
Di Indonesia, tradisi berhari raya kurban diramaikan oleh penyembelihan binatang ternak seperti kambing, sapi ataupun kerbau. Pada awalnya kurban satu ternak, biasanya kambing dan sapi, dilaksanakan oleh satu orang atau satu keluarga, namun seiring dengan perkembangan zaman, kini untuk kurban sapi masyarakat melakukannya dengan cara patungan, satu sapi dengan banyak orang, biasanya antara 5-7 orang, karena mempertimbangkan mahalnya harga sapi atau kerbau.