• Tidak ada hasil yang ditemukan

PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA

Dalam dokumen Pluralisme agama dalam perspektif kesatuan. (Halaman 83-87)

MULTIKULTURALISME DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA

PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME DALAM PANDANGAN AGAMA BUDDHA

Keberagaman dalam konteks Indonesia dapat dilihat dalam berbagai segi seperti suku, agama, ras dan kultur. Keberagaman semacam itu dapat menjadi sebuah kekuatan maupun ancaman. Keberagaman akan menjadi kekuatan apabila tiap-tiap orang menerima dan melihat keberagaman sebagai sebuah kombinasi yang saling melengkapi, serta menjadi ancaman apabila dipandang sebagai sesuatu yang tidak wajar dan harus diseragamkan.

Dalam agama Buddha, kemampuan untuk menerima keberagaman membutuhkan kebijaksanaan (pannya). Ketika kebijaksanaan dimiliki tiap orang maka ia akan mampu melihat segala sesuatu apa adanya (wisdom atau yatha butha nyana dasanam). Ia mampu melihat perbedaan sebagai perbedaan, persamaan sebagai persamaan.

Sering kali perbedaan dianggap sebagai sesuatu yang tidak wajar sehingga muncul pandangan-pandangan yang menganggap yang satu lebih baik dari yang lainnya. Egoisme menutup mata kebijaksanaan hingga muncul klaim-klaim sebagai yang paling unggul, paling baik dan lainnya salah. Celakanya pandangan itu diteruskan dengan usaha-usaha untuk menyeragamkan secara paksa dan akhirnya berujung pada konflik.

Klaim-klaim sebagai yang paling benar, paling baik dan sebagainya dalam agama Buddha disebabkan oleh tiga sebab kejahatan laten yaitu ketidaktahuan/kebodohan batin (Moha),

kebencian(Dosa), dan keserakahan (Lobha). Akibat ketidaktahuan tentang indahnya keberagaman muncullah ketidaksenangan terhadap perbedaan dan ada usaha untuk membuat seperti yang diinginkan. Oleh karenanya selama tiga hal itu bersemayam dalam hati dan tidak ada usaha menguranginya maka pemahaman akan makna keberagaman tidak akan muncul.

Untuk mengurangi bahkan melenyapkan tiga hal itu Buddha Gotama mengajarkan tiga hal yaitu mengembangkan moralitas

dan melatih kebijaksanaan (pannya). Dengan mengembangkan moralitas, pengembangan bathin luhur dan kebijaksanaan pandangan bahwa suku, ras, agama, dan etnisnya yang paling benar dan paling baik tidak muncul.

Egoisme, fanatisme sempit, eksklusivisme, kebencian dan keserakahan membuat kita tidak mampu memahami makna keberagaman. Kita menjadi mudah menghakimi sesuatu sebagai yang salah, hina dan perlu dilenyapkan. Oleh karenanya (menurut ajaran Buddha) kita perlu melatih diri kita dalam empat hal:

1. Cinta kasih (Metta/maîtri)

Cinta kasih adalah kualitas bathin yang luhur. Ia tidak membeda-bedakan dari segi agama, suku, ras, kedudukan dan mengharapkan semuanya memperoleh kebahagiaan. Cinta kasih bukan didasari oleh nafsu maupun niat untuk menguasai namun murni dari dalam bathin luhur. Cinta kasih melintasi batas-batas perbedaan apapun (universal). Aplikasi dalam kehidupan saat ini adalah pengembangan toleransi terhadap sesama manusia. Tak ada satu makhlukpun yang ingin menderita. Mereka ingin terbebas dari masalah dan menggapai ketentraman sama seperti diri kita.

2. Kasih sayang (Karuna)

Kasih sayang adalah kasih yang aktif. Bukan hanya di dalam bathin, tetapi diwujudkan dalam tindakan-tindakan nyata untuk membebaskan makhluk lain dari penderitaan. Aplikasinya adalah saling tolong menolong di saat penderitaan datang. Bergotong royong menyelesaikan masalah bersama seperti menghadapi bencana, mengatasi global warming, dan masalah-masalah yang mengancam kebahagiaan bersama.

3. Empati, tepa slira (Mudita)

Empati atau tepo sliro adalah mencoba untuk merefeksikan segala perbuatan kepada diri kita. Kita senang jika dihormati dan dikasihi, pun demikian dengan orang lain. Kita tidak senang

jika dicela dan disakiti, orang lainpun sama seperti kita. Selain itu, empati juga merupakan perasaan senang apabila yang lain bahagia bukan malah sebaliknya senang jika yang lain menderita. Aplikasi empati dalam kehidupan bermasyarakat adalah kesediaan untuk saling memberi ucapan ketika yang lain merayakan kebahagiaan, saling menjaga kedamaian bersama karena semua orang menginginkannya. Seorang tokoh Buddhis dari Nalanda bernama Shantideva mengatakan: “Tempatkan dirimu dalam makhluk lain

4. Keseimbangan Bathin (Upekkha)

Keseimbangan bathin adalah sikap bathin untuk tidak mudah goyah ketika menghadapi masalah maupun pujian. Ketika mendapatkan masalah, batin tidak mudah lemah menyerah dan marah. Ketika mendapat pujian, bathin tidak mudah menjadi sombong, lupa diri dan merendahkan yang lain. Aplikasi dalam kehidupan bermasyarakat contohnya saat dihina, dijelek-jelekkan, difitnah, dikritik, dan dinista tetap dalam keadaan eling tidak mudah marah dan tetap dingin kepalanya. Ketika kita dipuji baik agama, suku dan identitas lainnya tetap dalam keadaan eling

tidak sombong atau menganggap yang lain tidak sebanding. Dalam hal penghormatan terhadap keragaman hidup beragama di Indonesia, akhir-akhir ini kerap mengalami konflik. Semua itu nampak dalam kasus-kasus Poso, penusukan jemaat gereja HKBP di Pandeglang, penistaan dan penodaan agama di Temanggung dan kerusuhan di Cikeusik yang berlatarbelakang agama. Meskipun kasus itu sesungguhnya multifaktor namun agama mempunyai andil dalam memicu konflik. Sesungguhnya bukan agamanya yang mengajarkan konflik tetapi penganutnya sebagai bagian dari suatu agamalah yang merupakan pelaku konflik karena ketidaktahuan (moha) dalam memahami ajarannya.

Agama adalah sebuah jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati yang disebut surga, nibbana, moksa atau apapun sebutannya. Setiap agama mengajarkan kebenaran dan jalan kebahagiaan. Hal

ini jika tidak dipahami secara bijak akan menimbulkan rasa fanatik yang berlebihan dan menimbulkan klaim sebagai yang paling benar. Di dalam agama Buddha jalan menuju kebahagiaan sejati

(Dukkha Nirodha Gamini Patipada) disebut sebagai satu-satunya jalan ‘the only way’( Ekayano Maggo) bukanlah dalam maksud untuk mengaku yang paling benar namun untuk menguatkan keyakinan (saddha) para pengikutnya.

Buddha Gotama dalam khotbahnya Simsapa sutta (khotbah tentang segenggam daun di hutan Simsapa) menyatakan bahwa apa yang beliau ajarkan ibarat segenggam daun diantara daun di hutan Simsapa. Khotbah ini jelas menunjukkan bahwa Buddha Gotama mengakui ada kebenaran lain selain apa yang beliau ajarkan. Ada jalan keselamatan (salvation) yang lain, bukan hanya yang beliau ajarkan yang benar dan membawa pada tujuan akhir.

Sikap saling menghormati dan menerima jalan keselamatan lain dicontohkan oleh tokoh-tokoh Buddhis seperti Raja Asoka, H.H.Dalai Lama, Master Cheng Yen, dan tokoh tokoh lain. Prasasti Batu Kalingga dalam Pilar Asoka No.XXII abad ke 3 SM menuliskan pedoman umat Buddha tentang hidup dengan agama lain:

“Orang tidak seharusnya menghormati hanya agamanya sendiri dan mengutuk lainnya, sebaliknya orang harus menghormati agama-agama lain karena berbagai alasan. Dengan berbuat demikian, orang mengembangkan agamanya dan memberikan pelayanan pada agama-agama orang lain bila berbuat sebaliknya orang itu menggali kubur bagi agamanya sendiri dan juga merugikan agama-agama lain.

Orang yang menghormati agamanya sendiri dan mengutuk agama-agama lain, mungkin dilakukannya karena bakti pada agamanya sendiri dan berpikir aku akan mengagungkan agamaku, tetapi sesungguhnya perbuatan itu malahan lebih parah melukai agamanya sendiri.

Kerukunan adalah baik. Semoga kita mau mendengarkan ajaran yang dianut orang lain”

TINDAKAN KONKRET MENUJU KERUKUNAN DAN

Dalam dokumen Pluralisme agama dalam perspektif kesatuan. (Halaman 83-87)