18
Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional dimaksudkan mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis. Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional terdiri atas 2 (dua) jenis, yaitu manfaat medis dan non medis. Manfaat medis diberikan sesuai indikasi medis dan standar pelayanan. Manfaat non medis diberikan berdasarkan besarnya iuran peserta.
Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan : 1. Penyuluhan kesehataan perorangan yaitu paling sedikit penyuluhan mengenai
pengelolaan faktor resiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat
2. Imunisasi rutin, yakni pemberian imunisasi rutin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Keluarga berencana,meliputi konseling dan pelayanan kontrasepsi termasuk vasektomi dan tubektomi yang berkerja sama dengan badan kependudukan dan keluarga berencana nasional
4. Skrining riwayat kesehatan dan pelayanan penapisan atau skrining kesehatan tetentu yaitu untuk mendeteksi risiko penyakit tertentu untuk mencegah dampak lanjutan resiko penyakit tertentu.
5. Peningkatan kesehatan bagi peserta penderita penyakit kronis, ditujukan kepada peserta yang menderti penyakit kronis tertentu untuk mengurangi resiko akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.
Pelayanan kesehatan yang dijamin BPJS. Berdasarkan peraturan presiden RI no. 82 tahun 2018 pelayanan yang dijamin BPJS terdiri dari :
1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama pertama meliputi pelayanan kesehatan
non spesialistik yang mencakup : a. Administrasi pelayanan
b. Pelayanan promotif dan preventif
c. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis
d. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun nonoperatif e. Pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
f. Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama g. Rawat inap tingkat pertama sesuai dengan insikasi medis
2. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, meliputi pelayanan kesehatan yang mencakup:
1. Administrasi pelayanan
2. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis dasar 3. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi spesialistik
4. Tindakan medis spesialistik, baik bedah maupun non bedah sesuai dengan indikasi medis
5. Pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
6. Pelayanan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi medis 7. Rehabilitasi medis
8. Pelayanan darah
9. Pemulasaran jenajah peserta yang meninggal di fasilitas kesehatan 10. Pelayanan keluarga berencara
11. Perawatan inap nonintensif 12. Perawatan inap di ruang intensif
Pelayanan kesehatan yang tidak dijamin BPJS. Berdasarakan perpres
20
RI No 82 tahun 2018 ada beberapa manfaat yang tidak dijamin dalam jaminan kesehatan nasional (JKN) antara lain :
A. Pelayanan kesehatan tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
B. Fasiltas pelayanan kesehatan tidak bekerja sama dengan BPJS.
C. Pelayanan kesehatan terhadap penyakit akibat kecelakaan kerja yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan kerja atau menjadi tanggung jawab pemberi kerja.
D. Pelayanan kesehatan yang dilakukan diluar negeri.
E. Pelayanan kesehatan yang bertujuan estetik.
F. Pelayanan untuk mengatasi infertilitas.
G. Pelayanan meratakan gigi atau ortodonsi.
H. Gangguan kesehatan/penyakit akibat ketergantungan obat /atau alkohol I. Gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri
J. Pengobatan komplementer,alternatif,dan tradisional K. Obat kontasepsi dan kosmetik
L. Pelayanan kesehatan akibat pidana dan penganiayaan,kekerasan seksual M. Pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan kementrian pertahana ATP (Ability To Pay)
Pengertian ATP (Ability To Pay). Menurut menteri kesehatan Ability To Pay atau disebut kemampuan membayar iuran yaitu besarnya dana yang
sebenarnya dipergunakan untuk membiayai kesehatan suatu keluarga dengan menggunakan pendekatan pendapatan keluarga dan alokasinya (Noerjoedianto, 2016). Dalam penelitian Noormalasari, Nuryadi dan Sandra (2015) Ability to pay
atau disebut kemampuan membayar yaitu besarnya dana yang sebenarnya dapat dialokasikan untuk membiayai kesehatan yang bersangkutan. Kemampuan untuk membayar jasa berdasarkan penghasilan yang di dapat merupakan kemampuan membayar (ability to pay) dan dipengaruhi oleh beberapa diantaranya adalah : penghasilan perbulan, pengeluaran untuk jasa transportasi dan intensitas perjalanan. (Rumiati, Fahmi & Edison, 2013).
Menurut Handayani dan Gondodiputro dalam Pratiwi dan Ramadlan (2016) ATP dipengaruhi oleh pendapatan, banyaknya asset dalam rumah tangga, kapasitas keluarga dalam mobilisasi asset, pendidikan formal dan jumlah anggota keluarga. Faktor lainnya yang mempengaruhi kemampuan membayar iuran jaminan kesehatan oleh pendapatan ekonomi atau faktor penghasilan serta tanggungan dalam rumah tangga atau jumlah anggota keluarga (Nurbaeti &
Batara, 2018) sehingga besarnya pendapatan ekonomi harus disesuikan dengan tarif besarnya iuran yang dibayar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membayar sebagi berikut : 1. Faktor ekonomi (Pendapatan).
Tingkat pendapatan masyarakat merupakan salah satu indikator utama ekonomi untuk mengukur kemampuan masyarakat . Saat ini Pendapatan petani merupakan masalah yang sangat serius, karena banyak penduduk yang tinggal di desa yang bergerak di sektor pertanian. Pendapatan petani berasal dari hasil produksi pertanian yang diolah oleh para petani. Dalam upaya peningkatan pendapatan petani padi, luas lahan sangat berpengaruh untuk dapat meningkatkan tingkat pendapatannya, selain luas lahan yang berpengaruh dalam meningkatkan pendapatan petani, yaitu tenaga kerja dan penguasaan tentang teknologi juga
22
menjadi berpengaruh terhadap tingkat pendapatan (Damanik,2015)
Faktor pendapatan adalah Rendahnya tingkat pendidikan ekonomi masyarakat khususnya kepala keluarga, secara tidak langsung akan mempengaruhi keadaan/kondisi keluarga (Hasan,2017). Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh seseorang dari kegiatan bekerja dan penanaman modal yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan,sehingga dalam sebuah keluarga untuk memenuhi kebutuhan erat kaitannya dengan besaran pendapatan yang dihasilkan dari pekerjaan dan dikeluarkan sebagai bentuk konsumsi untuk mencapai kesejahteraan (Amanaturrohim & Widodo, 2016)
2. Faktor pendidikan.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Seseorang memiliki pemikiran yang lebih baik dalam mengolah informasi dan memiliki pendidikan yang tinggi maka dapat mempengaruhi pengetahuannya dalam suatu hal misalnya dalam hal ini pelayanan kesehatan dari BPJS.
(Rumengan, umboh, & kandou, 2015). Masyarakat yang sudah menikah dan berpendidikan lebih tinggi memiliki kemauan yang lebih besar untuk bergabung dengan jaminan kesehatan (Yandrizal dkk,2015).
3. Jumlah anggota keluarga.
Jumlah anggota keluarga juga dapat mempengaruhi ability to pay. Rumah tangga dengan jumlah keluarga lebih dari 4 orang memiliki risiko pemiskinan lebih tinggi. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka akan semakin banyak pula kebutuhan untuk memenuhi kesehatannya (Yandrizal dkk,2015)
4. Faktor pengeluaran.
Jenis pengeluaran rumah tangga dibedakan menjadi pengeluaran rumah tangga untuk pangan (pokok) , pengeluaran untuk pangan non esensial dan pengeluaran untuk non pangan. ATP belanja bukan pokok (non essential expenditure) misalnya minuman beralkohol, belanja rokok, sirih, tembakau,
kosmetik, hiburan dan laininya. ATP belanja pokok (essential expenditure) meliputi belanja untuk makanan, sewa rumah dan pakaian, ATP untuk non pangan misalnya biaya kesehatan dll.
Pengukuran ATP (Ability To Pay). Ability to pay ini merupakan faktor penting dalam mengembangkan sistem jaminan kesehatan dan menjadi pertimbangan utama dalam menetapkan besarnya iuran atau premi. Dalam bidang kesehatan, konsep Ability to pay digunakan untuk mengetahui kemampuan individu membayar suatu program atau pelayanan kesehatan. Menilai Ability to pay masyarakat terhadap iuran jaminan kesehatan, bertujuan untuk melihat
seberapa besar kemampuan masyarakat untuk membeli produk tersebut. (Lidri &
Munayang,2015).
Menurut Depkes (2000) ada dua batasan yang digunakan dalam menghitung ATP :
a) ATP 1 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan 5% dari pengeluaran non makanan. Batasan ini didasarkan bahwa pengeluaran non makanan dapat diarahkan untuk keperluan lain, termasuk untuk kesehatan b) ATP 2 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan jumlah
pengeluaran untuk konsumsi alkohol + tembakau,sirih + pesta/upacara.
24
Batasan ini didasarkan pada pengeluaran yang sebenarnya dapat digunakan secara lebih efisien dan efektif untuk kesehatan. misalnya dengan mengurangi pengeluaran alkohol/tembakau/sirih untuk kesehatan.
Langkah-langkah dalam menghitung ATP. Dalam menghitung nilai ATP (Depkes 2000) ada dua batasan yang digunakan yaitu ATP 1 dan ATP 2. ATP 1 yaitu dimana kemampuan membayar setara dengan 5% dari pengeluaran non makanan. Berikut langkah-langkah menghitung ATP 1 :
1. Mengambarkan jenis-jenis pengeluaran rumah tangga dalam satu bulan 2. Memilih jenis pengeluaran non makanan dalam satu bulan
3. Menghitung total pengeluaran non makanan keluarga dalam 1 bulan 4. Menghitung ATP = 5% x total pengeluaran non makanan rumah tangga
Adapun batasan ATP 2 adalah besarnya kemampuan membayar (ability to pay) yang setara dengan jumlah pengeluaran non esensial untuk konsumsi alkohol + tembakau,sirih + pesta/upacara. Berikut langkah-langkah menghitung ATP 2:
a) Menggambarkan jenis-jenis pengeluaran rumah tangga dalam 1 bulan
b) Memilih jenis pengeluaran untuk konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pestas/upacara rumah tangga dalam satu bulan.
c) Menghitung total pengeluaran untuk konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pestas/upacara rumah tangga dalam satu bulan .
d) Menghitung ATP = Total pengeluaran konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pestas/upacara rumah tangga dalam satu bulan
WTP (Wilingness To Pay)
Pengertian WTP (Willigness To Pay). Kemauan untuk membayar atau disebut wilinggness to pay (WTP) adalah Sebuah konsep ekonomi yang
mempunyai fungsi untuk menentukan jumlah uang yang akan dibayarkan konsumen untuk penyediaan suatu barang dan jasa (Randy,2013). WTP merupakan Kemauan membayar dari masyarakat terhadap suatu jasa atau barang secara langsung berdasarkan keinginan untuk mendapatkan pelayanan yang setimpal dengan uang yang dimiliki.
Faktor yang mempengaruhi Willigness To Pay diantaranya adalah : Produksi jasa angkutan yang tersedia, Penghasilan dan Kondisi sosial ekonomi masyarakat. (Rumiati dkk,2013). Kemauan membayar masyarakat tentunya tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi. Penelitian yang dilakukan di Malaysia menunjukkan bahwa status pernikahan dan tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemauan dalam membayar iuran program jaminan kesehatan masyarakat di Malaysia. Masyarakat yang sudah menikah dan berpendidikan lebih tinggi memiliki kemauan yang lebih besar untuk bergabung dengan jaminan kesehatan. Faktor lainnya yang mempengaruhi kemauan membayar (willingness to pay ) adalah pendapatan per bulan, pendidikan, dan status perkawinan (Yandrizal,dkk 2015)
Penelitian dari Aryani dan Muqorrobin Data mengenai WTP menggunakan pendekatan contingent valuation method (CVM) dengan metode permainan penawaran (bidding game method) yaitu dengan memberikan pilihan daftar harga yang sanggup dibayar oleh responden. Contingent valuation method (CVM) adalah cara perhitungan secara langsung untuk menanyakan kesediaan membayar (WTP). Dalam Randy (2013) ada beberapa faktor yang mempengaruhi WTP adalah karakteristik responden atau jumlah rumah tangga dan besar kemampuan untuk membayar (Ability To Pay) (Altaf dan Whittington, 1992), karakteristik
26
tempat tinggal, karakteristik prasarana yang ada, serta karakteristik prasarana yang ditawarkan.
Metode WTP (Willingness To Pay). Pada penelitian Karimah (2015) metode yang digunakan untuk menghitung estimasi kemampuan membayar yaitu : 1. Metode observasi, Metode ini dibagi menjadi dua yaitu experiment dan market
data. Eskperimen dilakukan dengan pencobaan lapangan dan pengamatan.
Dalam pencobaan lapangan akan dilihat apakah masyarakat sadar akan pencobaan lapangan tersebut atau tidak. Dalam metode observasi juga dapat dilihat kemauan membayar yang terungkap terhadap barang dan jasa.
2. Metode survei. Metode ini dibagi menjadi dua bagian yaitu survei langsung dan survei tidak langsung
3. Metode CV (Contingent Valuation) . Contingent valuation method (CVM) adalah cara perhitungan secara langsung untuk menanyakan kesediaan membayar (WTP).
Dalam penelitian Pungky dan Puspitasari (2014) ada beberapa cara dalam mengukur kemauan membayar pelayanan kesehatan yaitu:
1) Menghitung biaya yang bersedia dikeluarkan oleh individu untuk mengurangi dampak negatif pada lingkungan karena adanya suatu kegiatan pembangunan.
2) Menghitung pengurangan nilai atau harga dari suatu barang akibat semakin menurunnya kualitas lingkungan.
3) Melalui suatu survey untuk menentukan tingkat kesediaan masyarakat untuk membayar untuk menghindari dampak negatif pada lingkungan atau untuk mendapatkan lingkungan yang lebih baik.
Hasil Penelitian yang Relavan
Ada beberapa hasil penelitian terdahulu yang dilakukan yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti :
1. Penelitian oleh Hardy dan Yudha (2017)
Penelitian yang berjudul “Kemauan Dan Kemampuan Membayar (Ability - Willingness To Pay ) Dalam Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional Pada Sektor Informal Pedagang Pasar Tradisional di Kota Denpasar 2017”. Pada hasil penelitian tersebut peneliti ingin meneliti kemauan dan kemampuan membayar iuran jaminan kesehatan nasional pada sektor informal pedagang pasar tradisional di kota Denpasar. Hasil penelitian tersebut kemauan membayar menunjukkan bahwa peda-gang pasar tersebut hanya mampu membayar di kelas 3 dan PBI sebanyak 8% dan 64% hal tersebut menunjukkan bahwa para pedagang hanya mampu membayar JKN kelas 3 dan harus di batu oleh pemerintah dengan PBI.
Hanya 11% yang mampu membayar kelas 1 dan 17 % mampu membayar iuran JKN kelas 2 setiap bulannya.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah mengidentifikasi kemampuan dan kemuan membayar iuran jaminan kesehatan nasional dengan menggunakan analisis data yang sama yaitu Data kemampuan membayar nantinya akan dianalisis dengan menggunakan rumus teori yaitu 5% dari kebutuhan non pangan dan non esensial. Data kemauan membayar pasien akan dianalisis dengan melihat alternatif tarif yang paling banyak dipilih oleh responden sehingga diketahui gambaran tingkat kemauan membayar pasien . Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah peneliti akan meneliti pada pekerja petani sedangkan penelitian Hardy dan Yudha
28
(2017) dilakukan pada sektor informal pedagang pasar tradisional.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Muhibatul Karimah (2015)
Penelitian yang berjudul “Ability dan Willingness To Pay Pekerja Kerajinan Tangan Terhadap Iuran Jaminan Kesehatan Nasional di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember”. Pada hasil penelitian tersebut peneliti mengidentifikasi tentang total pendapatan, pengeluaran rumah tangga, membuat formula perhitungan ability to pay pekerja kerajinan tangan terhadap iuran jaminan kesehatan nasional serta menghitung besar nilai ability to pay dan membuat estimasi willingness to pay Pekerja kerajinan tangan terhadap iuran jaminan
kesehatan nasional.
Hasil penelitian tersebut, bahwa pendapatan responden berada dalam kategori sedang dengan interval ≥ Rp 1.024.166,- s.d ≤ Rp 2.560.417,- dan pengeluaran rata-rata pebulan diperoleh sebesar Rp. 1772.180,-. Besar nilai rill ATP menghasilkan rata-rata sebesar Rp. 56.295,- dan terdapat 9 pekerja kerajinan yang tidak mampu membayar iuran jaminan kesehatan nasional. Nilai estimasi WTP responden untuk membayar iuran Jkn rata-rata sebesar Rp. 52.295,- per orang perbulan.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah menghitung besar nilai ability to pay dan membuat estimasi willingness to pay. Perbedaan penelitian ini penelitian Muhibatul Karimah dilakukan pada
Pekerja Kerajinan Tangan Terhadap Iuran Jaminan Kesehatan Nasional di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember, sedangkan peneliti akan melakukan penelitian pada masyarakat petani di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupten Batu Bara.
Landasan Teori
Ability to pay. Kemampuan membayar (ability to pay) adalah besarnya dana yang digunakan untuk membayar pelayanan kesehatan berdasarkan penghasilan yang dianggap ideal (Lestari, 2016). Kemampuan membayar iuran yaitu besarnya dana yang sebenarnya dipergunakan untuk membiayai kesehatan suatu keluarga dengan menggunakan pendekatan pendapatan keluarga dan alokasinya menurut menteri kesehatan (Noerjoedianto, 2016). ATP 1 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan 5% dari pengeluaran non makanan. ATP 2 adalah besarnya kemampuan membayar responden yang setara dengan total pengeluaran untuk konsumsi alkohol, tembakau, sirih, pesta/upacara.
(Depkes, 2000).
Wilingness to pay. Kemauan membayar adalah kemauan atau keinginan membayar konsumen yang dapat dibayarkan guna untuk memperoleh suatu barang atau jasa. Willingness to pay adalah kesanggupan responden untuk membeli suatu barang (Rofiatin dan Bariska, 2018). Kemauan untuk membayar atau disebut wilinggness to pay (WTP) adalah Sebuah konsep ekonomi yang mempunyai fungsi
untuk menentukan jumlah uang yang akan dibayarkan konsumen untuk penyediaan suatu barang dan jasa (Randy, 2013).
Pengeluaran. Pengeluaran rumah tangga adalah besar nilai rupiah yang dikeluarkan konsumen untuk keperluan rumah tangga atau seluruh anggota rumah tangga dalam satu bulan yang terdiri dari pengeluaran pangan, pengeluaran non pangan, pengeluaran non esensial (Karimah, 2015).
30
Kerangka Konsep
Keterangan
: Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti
Gambar 1. Kerangka konsep Pendapatan
Pengeluaran - Pangan - Non pangan - Pangan non
esensial
Ability To Pay - ATP 1
- ATP 2
Willingness to pay (WTP)
Iuran JKN
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Rancangan dalam penelitian ini adalah cross sectional, dilihat dari segi waktunya penelitian ini hanya diobservasi satu kali pada waktu tertentu. Penelitian ini untuk menghitung ATP dan WTP pada pekerja nelayan terhadap iuran jaminan kesehatan nasional (JKN).
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara. Penelitian ini dilakukan pada 7 Dusun yakni Dusun I Rumbia, Dusun II Sirsak, Dusun III Mangga, Dusun IV Nangka, Dusun V Sontol, Dusun VI Bunga Tanjung, Dusun VII Mawar. Lokasi penelitian ini diambil pada karena sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan.
Waktu penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2019 sampai dengan selesai.
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian. Populasi penelitian ini adalah masyarakat nelayan di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara.
Sampel penelitian. Pada penelitian ini terdapat 681 kepala keluarga yang bekerja sebagai nelayan yang tersebar pada tujuh dusun, sehingga besar sampel dalam penelitian ini digunakan berdasarkan rumus yang dikembangkan oleh Lameshow, sebagai berikut :
32
𝑁𝑍 1−𝛼 2 2 ⁄ 𝜌(1−𝜌) 𝑑2 (𝑁 − 1) + 𝑍21−𝛼 2⁄ 𝜌(1−𝜌) Keterangan :
n = sampel besar N = Besar Populasi
𝑍 1−𝛼 2 2 ⁄ = Nilai z pada derajat kemaknaan ( biasanya 95% = 1,96) p = maksimal estimasi = 0,5
d = alpha (0,10) atau batas toleransi kesalahan pengambilan sampel yang digunakan = 10 %.
Pengambilan sampel dari jumlah populasi sebesar 681 KK berdasarkan rumus diatas, maka besar sampel penelitian ini diperoleh sebanyak :
𝑛 = 𝑁𝑍 1−𝛼 2 2 ⁄ 𝜌(1−𝜌) 𝑑2( 𝑁 − 1) + 𝑍21−𝛼 2⁄ 𝜌(1−𝜌)
𝑛 = 681 × 1,962× 0,5(1 − 0,5) 0,12(681 − 1) + 1,962× 0,5(1 − 0,5)
𝑛 = 654,03 6,8 + 0,96
𝑛 = 84,2 ≈ 100 Pekerja nelayan
Berdasarkan perhitungan diatas maka besar sampel yang mewakili populasi adalah sebesar 100 pekerja nelayan. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan systematic Random Sampling yang berada pada tujuh dusun yaitu dusun I Rumbia, dusun II Sirsak, dusun III Mangga, dusun IV Nangka, dusun V Sontol, dusun VI Bunga Tanjung, dusun VII Mawar. Lokasi penelitian ini diambil pada karena sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan.
Jumlah sampel yang diambil tiap dusun adalah : dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1
Dusun VI Bunga Tanjung Dusun VII Mawar
Variabel dan Definisi Operasional Penelitian ini terdiri dari variabel :
1) Pengeluaran rumah tangga adalah sejumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli keperluan rumah tangga dalam 1 bulan yang terdiri dari pengeluaran pangan, pangan non esensial dan non pangan.
2) Pengeluaran pangan adalah sejumlah uang yang dikeluarkan untuk keperluaran makan keluarga dalam satu bulan yang terdiri dari padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, dan konsumsi lainnya.
34
3) Pengeluaran pangan non esensial adalah sejumlah uang yang dikeluarkan untuk membiayai konsumsi di luar kebutuhan dasar seluruh anggota keluarga yang terdiri dari makanan dan minuman,rokok, minuman beralkohol serta tembakau dan sirih.
4) Pengeluaran non pangan adalah sejumlah uang yang dikeluarkan responden untuk keperluan non pangan dalam satu bulan,yang terdiri dari perumahan dan fasilitas rumah tangga ,pakaian, keperluan pesta, pulsa, kuota/paket, dan keperluan lainnya.
5) Ability to pay (ATP) adalah besarnya dana yang mampu dikeluarkan masyarakat nelayan di desa Benteng untuk membayar iuran jaminan kesehatan nasional sesuai dengan tingkatan harga yang di tawarkan.
6) Willingness to pay (WTP) untuk melihat besarnya kemauan dan kesediaan masyarakat nelayan di desa benteng untuk membayar iuran jaminan kesehatan nasional (JKN).
Metode Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data dilakukan dengan : 1. Wawancara.
Data primer penelitian ini adalah diperoleh dari hasil wawancara langsung dari responden melalui pengisian kuesioner. Kuesioner dibagikan pada responden yaitu masyarakat di desa Benteng yang bermata pencaharian sebagai nelayan di dusun I – dusun VII untuk mendapatkan informasi mengenai kemampuan masyarakat membayar iuran jaminan kesehatan nasional.
2. Dokumen.
Data sekunder dari penelitian ini adalah jumlah total masyarakat nelayan
di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara yang diperoleh dari kantor balai desa Benteng kecamatan Talawi Kabupaten Batubara.
Metode Pengukuran
Variabel pengukuran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Tabel 2
Responden yang mampu digolongkan berdasarkan
36
Responden yang mampu digolongkan berdasarkan
Analisis univariat. Analisis Univariat digunakan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian yang menghasilkan distribusi frekuensi dan presentasi dari variabel.
Analisis data ATP. Data kemampuan membayar (ATP) akan dianalisis dengan menggunakan rumus teori yaitu ATP 1 setara dengan 5% dari kebutuhan non pangan dan ATP 2 setara dengan total pengeluaran konsumsi alkohol + tembakau + sirih + pesta/upacara rumah tangga dalam satu bulan.
Analisis data WTP. Untuk mencari nilai estimasi WTP menggunakan
metode CVM (contingent valuation method) serta bantuan program Ms. Excel 2013 untuk mencari nilai makximum, minimum, dan rata-rata.
Hasil Penelitian
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Desa Benteng merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Talawi, Batubara, Sumatera Utara dengan jumlah penduduk mencapai 4.025 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 1.015 jiwa. Secara umum letak geografis Desa Benteng Kecamatan Talawi adalah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara : Desa Pahang b. Sebelah Selatan : Sumber Tani
c. Sebelah Timur : Kecamatan Tanjung Tiram d. Sebelah Barat : Gunung Rante
Tabel 3
Distribusi Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan di Desa Benteng
Pekerjaan n
Karakteristik reponden meliputi umur, jenis kelamin dan pendidikan terakhir. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 100 responden di desa Benteng diketahui bahwa terdapat 27 orang responden dengan umur antara 18-32 tahun (27%), sebanyak 44 responden dengan umur 33-51 tahun (44%) dan 29 responden berumur antara 52-70 tahun (29%).
Berdasarkan karakteristik jenis kelamin menunjukkan bahwa terdapat 45
responden laki-laki (45%) dan 55 responden perempuan (55%). Karakteristik pendidikan terakhir pada 100 responden menunjukkan responden terbanyak adalah tamat SLTP/sederajat sebanyak 52 responden (52%), responden yang tidak tamat SD sebanyak 6 orang (6%) tamat SD/sederajat sebanyak 26 responden (26%) dan tamat SMA/sederajat sebanyak 16 responden (16%).
Tabel 4
Distribusi Berdasarkan Karakteristik Responden di Desa Benteng
Karakteristik n % Total Pendapatan, Jenis dan Total Pengeluaran
Pendapatan keluarga dapat menentukan besarnya kemampuan dan kemauan pekerja nelayan terhadap iuran jaminan kesehatan nasional (JKN).
Pendapatan keluarga dapat menentukan besarnya kemampuan dan kemauan pekerja nelayan terhadap iuran jaminan kesehatan nasional (JKN).