SKRIPSI
Oleh
AYU RELITA NAINGGOLAN NIM. 151000099
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020
ABILITY DAN WILLINGNESS TO PAY IURAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL PADA NELAYAN DI DESA
BENTENG KECAMATAN TALAWI KABUPATEN BATUBARA TAHUN 2019
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh
AYU RELITA NAINGGOLAN NIM. 151000099
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020
Nama Mahasiswa Ayu Relita Nainggolan 151000099
Nomor Induk Mahasiswa
Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan
Menyetujui
Pembimbing:
(Destada Aulia SK.VMBA M.Ec. Ph.D)
AIP. 197512282005011002
DIKAN d
sutMATE
a nAN PENDo
A S S
Rof taTd Yustina, M.ST.
NIP196803201993082001
Tanggal Lulus: 17 Januari 2020
Telah diuji dan dipertahankan Pada tanggal: 17 Januari 2020
TIM PENGUJI SKRIPSI
Ketua : Destanul Aulia, S.K.M., M.B.A., M.Ec., Ph.D.
Anggota : 1. dr. Rusmalawaty, M.Kes.
2. Puteri Citra Cinta Asyura Nasution, S.K.M., M.P.H.
Pernyataan Keaslian Skripsi
Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul “Ability dan Willingness to Pay Iuran Jaminan Kesehatan Nasional pada Nelayan di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara Tahun 2019” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Medan, 17 Januari 2020
Ayu Relita Nainggolan
Abstrak
Peran serta masyarakat dalam membayar iuran jaminan kesehatan nasional sangat bergantung dengan ability to pay dan willingness to pay. Tidak ikut sertanya masyarakat terhadap program JKN dapat dilihat dari kemampuan dan kemauannya untuk membayar iuran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besar ability to pay dan willingness to pay iuran JKN pada nelayan di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara tahun 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei deskriptif.
Jumlah sampel pada penelitian ini sebesar 100 KK pada pekerja nelayan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan systematic Random Sampling. Data univariat dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membayar responden ATP 1 berada pada kategori mampu yaitu 15% untuk ATP 2 berada pada kategori mampu yaitu sebesar 57%. Sedangkan kemauan membayar responden (WTP) yaitu sebanyak 69% yang bersedia membayar iuran. Disarankan kepada masyarakat nelayan di Desa Benteng dapat mengurangi pengeluaran yang berisifat non pangan dan esensial sehingga dan digunakan untuk membayar iuran jaminan kesehatan nasional.
Kata kunci: JKN, kemampuan, kemauan membayar
Abstract
Community participation in paying national health insurance contributions depends very much on ability to pay and willingness to pay. The community's absence from the JKN program can be seen from their ability and willingness to pay contributions. The purpose of this study was to determine the ability to pay and willingness to pay JKN contributions to fishermen in Benteng Village, Talawi District, Batubara Regency in 2019. The research method used was quantitative research with a descriptive survey approach. The number of samples in this study amounted to 100 families in fishing workers. The sampling technique is done by using systematic Random Sampling. Univariate data were analyzed descriptively.
The results showed that the ability to pay respondents ATP 1 was in the capable category that is 15% for ATP 2 was in the capable category that is equal to 57%.
Meanwhile, the willingness to pay respondents (WTP) is 69% who are willing to pay dues. It is recommended that fishing communities in Benteng Village can reduce non-food and essential expenses so that they are used to pay national health insurance contributions.
Keywords: JKN, ability, willingness to pay
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan YME atas segala berkat yang telah diberikan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Ability dan Willingness to Pay Iuran Jaminan Kesehatan Nasional pada Nelayan di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara Tahun 2019”. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes. selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. Destanul Aulia, S.K.M., M.B.A., M.Ec., Ph.D. selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.
5. dr. Rusmalawaty, M.Kes. selaku Dosen Penguji I dan Puteri Citra Cinta Asyura Nasution, S.K.M., M.P.H. selaku Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktu dan pikiran dalam penyempurnaan skripsi ini.
6. Dr. Ir. Erna Mutiara, M.K.M. selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.
7. Para Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat USU atas ilmu yang telah diajarkan selama ini kepada penulis.
8. Pegawai dan Staf Fakultas Kesehatan Masyarakat USU yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Kepala Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara berserta Sekretaris dan Bendahara Desa Benteng yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian.
10. Teristimewa untuk orang tua (Rudolf Nainggolan dan Deliana Panjaitan) yang telah memberikan kasih sayang yang begitu besar dan kesabaran dalam mendidik dan memberi dukungan kepada penulis.
11. Terkhusus untuk saudara dan saudari saya (Solido, Sovian, Wulan, Alvino) yang telah memberikan semangat kepada penulis.
12. Teman terdekat saya (Grecya Martha Simamora) yang telah membantu serta menyemangati dan mendukung penulis.
13. Teman-teman seperjuangan skripsi yang selalu saling menyemangati satu sama lain dalam penyelesaian skripsi.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari
semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan bermanfaat bagi pembaca.
Medan, 17 Januari 2020
Ayu Relita Nainggolan
Daftar Isi
Halaman
Halaman Persetujuan i
Halaman Penetapan Tim Penguji ii
Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii
Abstrak iv
Abstract v
Kata Pengantar vi
Daftar Isi ix
Daftar Tabel xi
Daftar Gambar xiii
Daftar Lampiran xiv
Daftar Istilah xv
Riwayat Hidup xvi
Pendahuluan 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 8
Tujuan Penelitian 8
Tujuan umum 8
Tujuan khusus 9
Manfaat Penelitian 9
Tinjauan Pustaka 10
Jaminan Kesehatan Nasional 10
ATP (Ability To Pay) 20
WTP (Willingness To Pay) 24
Hasil Penelitian yang Relevan 27
Landasan Teori 29
Kerangka Konsep 30
Metode Penelitian 31
Jenis Penelitian 31
Lokasi dan Waktu Penelitian 31
Populasi dan Sampel 31
Variabel dan Definisi Operasional 33
Metode Pengumpulan Data 34
Metode Pengukuran 35
Metode Analisis Data 36
Hasil Penelitian 38
Gambaran Umum Lokasi Penelitian 38
Karakteristik Responden 38
Total Pendapatan, Jenis dan Total Pengeluaran 39
Menghitung Besar Nilai Ability To Pay Iuran JKN pada Pekerja
Nelayan di Desa Benteng 44
Besar Estimasi Willingnes To Pay Iuran JKN pada Pekerja Nelayan 48
Pembahasan 51
Karateristik Responden 51
Total Pendapatan Jenis dan Total Pengeluaran pada Nelayan di Desa
Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara 51
Pengeluaran Rumah Tangga 52
Besar Nilai Ability To Pay Iuran JKN pada Nelayan di Desa Benteng
Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara 54 Besar Nilai Willingness To Pay Iuran JKN pada Nelayan di Desa
Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara 56
Keterbatasan Penelitian 57
Kesimpulan dan Saran 58
Kesimpulan 58
Saran 58
Daftar Pustaka 60
Lampiran 63
Daftar Tabel
No Judul Halaman
1 Distribusi Sampel menurut Populasi 33
2 Aspek Pengukuran Variabel 35
3 Distribusi Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan di Desa
Benteng 38
4 Distribusi Berdasarkan Karakteristik Responden di Desa
Benteng 39
5 Pendapatan Per Bulan Rumah Tangga Pekerja Nelayan di Desa
Benteng 40
6 Pengeluaran Rumah Tangga Perbulan Rumah Tangga Pekerja
Nelayan di Desa Benteng 41
7 Pengeluaran Pangan Non Esensial Per Bulan Rumah Tangga
Pekerja Nelayan di Desa Benteng 42
8 Pengeluaran Non Pangan Per Bulan Rumah Tangga Pekerja
Nelayan di Desa Benteng 43
9 Total Pengeluaran Per Bulan Rumah Tangga Pekerja Nelayan
di Desa Benteng 44
10 Persentase Pengeluaran Rumah Tangga Pekerja Nelayan
Berdasarkan Penggolongan Jenisnya 44 11 Distribusi Besar Nilai ATP 1 Iuran Jaminan Kesehatan Nasional
pada Nelayan di Desa Benteng 45
12 Distribusi Nilai Maksimum dan Minimum ATP 1 Iuran Jaminan
Jaminan Kesehatan Nasional pada Nelayan di Desa Benteng 45 13 Distribusi Besar Nilai ATP 2 Iuran Jaminan Kesehatan Nasional
pada Nelayan di Desa Benteng 46 14 Distribusi ATP 2 Berdasarkan Ruang Perawatan Kelas Iuran
pada Nelayan di Desa Benteng 46
15 Distribusi Nilai Maksimum dan Minumum ATP 2 Iuran Jaminan
Kesehatan Nasional pada Nelayan di Desa Benteng 47 16 Distribusi Kemauan Membayar Iuran JKN pada Nelayan 47 17 Distribusi Kemauan Membayar Iuran Jaminan Kesehatan
Nasional Berdasarkan Kelas Rawat Inap pada Nelayan di Desa
Benteng 48
18 Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan ATP dan WTP Iuran Jaminan Keseahatan Nasional pada Nelayan di Desa
Benteng 48
Daftar Gambar
No Judul Halaman
1 Kerangka konsep 30
Daftar Lampiran
Lampiran Judul Halaman
1 Kuesioner 63
2 Surat Permohonan Izin Penelitian 66
3 Surat Izin Penelitian 67
4 Rekapitulasi Hasil Kuesioner Penelitian 68
5 Output SPSS 85
6 Dokumentasi 88
Daftar Istilah
ATP Ability To Pay (Kemampuan Memabayar) BP Bukan Pekerja
BPJS Badan Penyelenggara Jaminan Sosial CV Contingent Valuation
CVM Contingent Valuation Method JKN Jaminan Kesehatan Nasional KIS Kartu Indonesia Sehat
PBI Penerima Bantuan Iuran PBPU Pekerja Bukan Penerima Upah PPU Pekerja Penerima Upah
SJSN Sistem Jaminan Sosial Nasional
WTP Willingness To Pay (Kemauan Membayar)
Riwayat Hidup
Penulis bernama Ayu Relita Nainggolan berumur 21 tahun. Penulis lahir di Sigompulon pada tanggal 29 Mei 1997. Penulis beragama Kristen Protestan, anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Rudolf Nainggolan dan Deliana Panjaitan.
Pendidikan formal dimulai di pendidikan sekolah dasar di SD 173260 Tahun 2003 – 2009 lalu melanjutkan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 2 Pahae Julu Tahun 2009-2012, dan sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Pahae Julu Tahun 2012-2015. Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Medan, 17 Januari 2020
Ayu Relita Nainggolan
Pendahuluan
Latar Belakang
Penyelenggaraan BPJS kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia telah diselenggarakan pada tanggal 1 Januari 2014. Jaminan kesehatan sosial nasional ini di berikan pada rakyat yang mampu maupun tidak mampu. Adapun tujuan Sistem Jaminan Sosial Nasional ini yaitu untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta atau anggota keluarganya.
Prinsip penyelenggaraan BPJS adalah kegotong-royongan, kepesertaan yang bersifat wajib, iuran berdasarkan persentase upah penghasilan, pengelolaan bersifat nirlaba dan amanah. (Yandrizal, Rifa’I & Utami, 2015).
Salah satu syarat penduduk yang ikut serta dalam program jaminan kesehatan (JKN) yaitu wajib membayar iuran bulanan. Bagi peserta PBI jaminan kesehatan iuran bulanan dibayar oleh Pemerintah, bagi penduduk yang didaftarkan oleh pemerintah daerah dibayar oleh pemerintah daerah, bagi peserta PPU dibayar oleh pemberi kerja dan pekerja, bagi peserta PBPU dan Peserta BP dibayar oleh peserta atau pihak lain atas nama peserta. Besarnya iuran yang dibayar setiap bulan sebesar Rp 25.000 bagi peserta PBI (Penerima bantuan iuran) yang dibayar oleh pemerintah pusat, sedangkan bagi peserta PPU ( Pekerja Penerima Upah) iuran akan dibayar sebesar 5% dari gaji atau upah per bulan (Perpres No 82 Tahun 2018).
Kemampuan membayar dan kemauan membayar adalah dua faktor yang berperan dalam utilisasi pelayanan medis yang selanjutnya juga akan mempenga- ruhi pemerataan. Kemampuan membayar dapat diukur dengan pendekatan perhi-
2
tungan penghasilan keluarga, aset keluarga atau pengeluaran rumah tangga sedangkan kemauan membayar dapat diukur dengan menanyakan kepada responden melalui dua cara yaitu berapa pengeluaran rill individu/keluarga untuk kesehatan dan menanyakan berapa rupiah individu bersedia untuk mengeluarkan jasa pelayanan kesehatan (Razak,2016 dalam Sahriana,2017).
Kemampuan membayar iuran menurut menteri kesehatan yaitu besarnya dana yang sebenarnya dipergunakan untuk membiayai kesehatan suatu keluarga dengan menggunakan pendekatan pendapatan keluarga dan alokasinya (Noerjoedianto,2016). Sebagian masyarakat tidak mampu membayar iuran Jaminan Kesehatan Nasional karena penghasilan tidak mencukupi. Kemampuan membayar adalah penilaian subjektif didasarkan pada beberapa asumsi seperti apa orang harus membayar. Klien berpenghasilan rendah dikatakan memiliki kemampuan lebih rendah untuk membayar dari berpenghasilan menengah, terlepas dari apakah mereka membeli barang/ jasa. (Yandrizal dkk, 2015).
Kemampuan membayar iuran sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, sama halnya pada pekerja sektor informal, faktor penghasilan dan jumlah tanggungan keluarga dalam rumah tangga sangan dipengaruhi oleh kemampuan mereka membayar (Ability to Pay) iuran BPJS (Nurbaeti dan Batara,2018). Ada orang yang kemampuan besar tetapi tidak mau untuk membayar pelayanan kesehatan atau kemauan lebih kecil dari kemampuan, Sebaliknya ada orang yang kemampuan rendah tetapi mau meminjam uang untuk membiayai kesehatan atau kemauannya lebih besar daripada kemampuan (Yandrizal,dkk 2015).
Kemauan membayar masyarakat untuk menjadi peserta dan membayar asuransi kesehatan sangat berpengaruh positif terhadap pendapatan keluarga,
pendidikan, pekerjaan kepala rumah tangga dan jumlah anggota keluarga yang harus ditanggung dalam suatu rumah tangga. Penelitian yang dilakukan Adams (2015), menunjukkan bahwa penghasilan merupakan salah satu faktor yang terkait dengan kemauan membayar untuk berpartisipasi dalam program asuransi kesehatan nasional. Orang yang berpenghasilan lebih tinggi cenderung bersedia untuk berpartisipasi dari pada mereka yang berpenghasilan rendah. Namun kesadaran masyarakat yang berpenghasilan rendah dan yang tidak memliki asuransi kesehatan harus ditingkatkan agar cakupan asuransi kesehatan nasional juga meningkat (Kusumaningrum & Azinar, 2018).
Menurut Adisasmito (2007), yang perlu diperhatikan adalah penyesuaian pola tarif harus diingat prinsip kemampuan untuk membayar (ability to pay) dan kemauan untuk membayar (willingness to pay) dari masyarakat. Akan tetapi kenyataannya masyarakat itu mampu untuk membayar premi jaminan kesehatan, tetapi tidak mau membayar sejumlah uang untuk membayar premi jaminan sosial nasional, namum masyarakat menginginkan manfaat yang lebih dari yang dibayarkan, sedangkan pada prinsip sistem jaminan kesehatan nasional yang diterapkan adalah prinsip kegotongroyongan yaitu masyarakat yang mampu membantu masyarakat yang tidak mampu ( Pratiwi & Ramadlan,2016). Penelitian di Kabupaten Jember menunjukkan nilai ATP lebih besar dari nilai WTP jadi ketidakpemilikan kartu BPJS kesehatan pada pekerja kerajinan tangan (informal) di Jember menunjukkan rendahnya utilitas pada program JKN padahal penghasilan pekerja kerajinan tangan relatif tinggi (Karimah,2015).
Dalam penelitian Lidri dan Munayang (2015) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Kemampuan Membayar (Ability To Pay) Dan Kemauan
4
Membayar (Willingness To Pay) Masyarakat Untuk Menjadi Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS) di Kelurahan Palu menyebutkan bahwa, besar atau kecilnya ability to pay dan willingness to pay seseorang atau masyarakat dalam membayar iuran tentunya tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Seperti status ekonomi sosial, pekerjaan, tempat tinggal, jenis kelamin dan pendidikan tidak menjadi jaminan sebagai alat ukur yang sepenuhnya dalam mengukur kemampuan dan kemauan masyarakat dalam melakukan pembayaran untuk pelayanan kesehatan.
Menurut Yandrizal dkk (2015) dalam analisis kemampuan dan kemauan membayar iuran terhadap pencapaian JKN di kota Bengkulu. Penduduk di kota terdapat 351.300 jiwa yang menjadi peserta JKN secara keseluruhan tercatat sekitar 230.576 orang menunjukkan responden di wilayah kerja Puskesmas Basuki Rahmat Kota Bengkulu tahun 2015. Warga yang belum menjadi peserta jaminan kesehatan nasional sebanyak 87% dan yang menjadi peserta sebanyak 13%.
Terdapat warga tidak memiliki kemauan menjadi peserta JKN sebesar 37.0%
sedangkan warga yang tidak mampu belum menjadi peserta JKN sebanyak 71%.
Warga yang mampu tetapi belum menjadi peserta JKN sebanyak 88,89%.
Menurut Noormalasari, Nuryadi & Sandra (2015) dalam penelitiannya me- ngenai kemampuan membayar iuran jaminan kesehatan nasional pada nelayan di kabupaten Jember menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran terbesar ada pada pengeluaran non pangan yaitu Rp.4.129.141,-, pengeluaran pangan sebesar Rp.1.139.232,-, dan pengeluaran untuk pangan non esensial sebesar Rp.845.636,- dengan rata-rata total pengeluaran rumah tangga mencapai Rp.6.077.424,- per bulan. sebagian besar responden (54,5%) mampu membayar iuran JKN dengan
rata-rata sebesar Rp.30.736,- per orang dengan kelas rawat 3 yang nominalnya sebesar Rp.25.500.
Menurut Hardy dan Yudha (2017) dalam penelitiannya mengenai kemauan dan kemampuan membayar (ability-willingness to pay) dalam kepesertaan jaminan kesehatan nasional pada sektor informal pedagang pasar tradisional di kota Denpasar 2017 menunjukkan bahwa kemauan membayar (Willingness to Pay) sebanyak 10,8% bersedia membayar kelas 1, sebanyak 17% bersedia membayar kelas 2 dan sebanyak 72,2% yang bersedia membayar kelas 3. Kemampuan membayar (ability to pay) mampu membayar di kelas 3 dan PBI sebanyak 8% dan 64% hal tersebut menunjukkan bahwa para pedagang hanya mampu membayar JKN kelas 3 dan harus di bantu oleh pemerintah dengan PBI. Hanya 11% yang mampu membayar kelas 1 dan 17 % mampu membayar iuran JKN kelas 2 setiap bulannya.
Penelitian di Malaysia menunjukkan yang mempengaruhi kemauan membayar iuran jaminan kesehatan adalah pendapatan per bulan sehingga besar tarif iuran harus disesuaikan dengan besarnya pendapatan per bulan. Jumlah anggota keluarga juga dapat mempengaruhi ability to pay. Rumah tangga dengan jumlah keluarga lebih dari 4 orang memiliki risiko kemiskinan lebih tinggi.
Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka akan semakin banyak pula kebu- tuhan untuk memenuhi kesehatannya (Yandrizal dkk,2015)
Pada program jaminan kesehatan nasional bahwa seluruh penduduk indonesia termasuk pekerja informal atau kelompok yang berpenghasilan tidak tetap ini dapat merasakan pelayanan kesehatan yang cukup memadai. Sistem Asuransi kesehatan mengurangi risiko masyarakat menanggung biaya kesehatan
6
dari kantong sendiri out of pocket, dalam jumlah yang sulit diprediksi dan kadang- kadang memerlukan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu pembiayaan kesehatan ditanggung bersama secara gotong royong oleh keseluruhan peserta, sehingga tidak memberatkan secara orang per orang. (Buku Pengangan Sosialisasi JKN).
Dalam BPJS 2017 menunjukkan bahwa pada tanggal 31 Desember 2017, peserta yang mengikut JKN-KIS telah mencapai 187.982.949 penduduk atau sebesar 72,3% dari target 259.993.081 jiwa penduduk Indonesia. Dengan jumlah kepesertaan ini, Program JKN-KIS telah menjadi Program Jaminan Sosial Kesehatan dengan jumlah kepesertaan terbesar di dunia, yang dikelola dengan pendekatan Single Payer Institution. pertumbuhan peserta dari tahun 2014-2017 telah mencapai 41%. Seiring dengan pertumbuhan tersebut, BPJS Kesehatan selalu berupaya memberikan pelayanan prima bagi peserta melalui jaringan fasilitas kesehatan, baik tingkat pertama maupun tingkat lanjutan Cakupan Kepesertaan tercapai 187.982.949 jiwa atau bertambah 16.043.695 jiwa dari tahun 2016
Pada tahun 2018 jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 265.015.313 jiwa. Jumlah peserta yang ikut dalam program jaminan kesehatan nasional (JKN) pada tahun 2018 telah mencapai 78,5% yaitu sebesar 208.054.199 peserta. Peserta PBI menvakup 121.980.981 peserta sedangkan non-PBI sebanyak 86.073.218 peserta, yang terdiri dari Peserta PPU Sebesar 49.833.095 peserta, PBPU sebesar 31.100.248 dan peserta BP (bukan pekerja) sebanyak 5.139.875 peserta.
(Kementrian kesehatan, 2019). Jumlah peserta BPJS mandiri di Sumatera Utara sebanyak 3.582.235 peserta.
Berdasarkan data BPS kota Batu Bara pada tahun 2018, Penduduk di
Kabupaten Batu Bara tahun 2017 sebanyak 404.091 jiwa yang terdiri atas 205.818 jiwa penduduk laki-laki dan 203.273 jiwa penduduk perempuan,dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga sebesar 4 orang. Jumlah peserta yang terdaftar BPJS pada tahun 2017 sebanyak 67.502 orang peserta yang terdiri dari jumlah peserta BPJS non PBI sebanyak 20.372 peserta, PBI APBD sebanyak 6.575 peserta, dan PBI APBN Sebanyak 40.555 peserta. jumlah peserta BPJS pada penduduk desa Benteng pada tahun 2019 sebanyak 1003 penduduk dari 4069 penduduk yang terdiri dari jumlah peserta PBI APBD sebanyak 103 peserta, PBI APBN 792 peserta, pekerja swasta dan mandiri 54 peserta, PNS pensiun 4 orang peserta, PNS daerah dan pusat sebanyakm37 peserta,veteran 1 peserta, pegawai pemerintah sebanyak 8 orang. (BPJS BATUBARA)
Desa Benteng merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Talawi kabupaten Batubara dengan jumlah penduduk mencapai 4.069 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 1.015 kepala keluarga di tahun 2017. Jumlah kepala keluarga yang bermata pencaharian sebagai nelayan sebanyak 681 kepala keluarga . Desa Benteng merupakan desa ini berada di kawasan pesisir, kebun kelapa sawit, serta sawah yang sebagian besar penduduknya sebagai pekerja informal (penghasilan tidak tetap) oleh karena itu penduduk pada dusun 1 sampai dengan dusun VII yang bermata pencaharian sebagai nelayan, wiraswasta dan buruh, namun pada dusun VIII sampai dengan dusun X bermata pecaharian sebagai petani.
Berdasarkan survei pendahuluan pada tanggal 6 juli 2019, peneliti mendapat informasi bahwa penduduk di desa Benteng masih banyak warga yang belum mendaftarkan dirinya sebagai peserta BPJS. Namun ada juga sebagian yang
8
sudah memanfaatkan BPJS. Kemampuan masyarakat masih rendah untuk membayar iuran jaminan kesehatan nasional disebabkan karena masih rendahnya status ekonomi keluarga (jumlah pengeluaran lebih besar dari jumlah pendapatan keluarga). Dari 8 responden yang peneliti wawancarai, diperoleh 1 responden yang mendaftarkan dirinya sebagai peserta BPJS, 7 (tujuh) responden lainnya belum mendaftarkan dirinya sebagai peserta BPJS.
Berdasarkan data di atas peneliti ingin menganalisis kemampuan dan kemauan membayar iuran jaminan kesehatan nasional pada nelayan di desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batubara Tahun 2019.
Perumusan Masalah
Berdasarkan data BPS kota Batu Bara pada tahun 2018, Penduduk di Kabupaten Batu Bara tahun 2017 sebanyak 404.091 jiwa yang terdiri atas 205.818 jiwa penduduk laki-laki dan 203.273 jiwa penduduk perempuan. Jumlah peserta yang ikut dalam program jaminan kesehatan nasional (JKN) pada tahun 2017 masih mencapai 16,67 persen dari jumlah penduduk di Kabupaten Batu Bara yaitu sebanyak 67.502 orang peserta yang terdiri dari jumlah peserta BPJS non PBI sebanyak 20.372 peserta, PBI APBD sebanyak 6.575 peserta, dan PBI APBN Sebanyak 40.555 peserta. Pesentase rata-rata pengeluaran penduduk dalam sebulan yaitu peneluaran untuk makanan sebesar 42,23 % dan bukan makanan sebesar 57,77 %.
Tujuan Penelitian
Tujuan umum. Untuk mengetahui ability dan wilingness to pay iuran jaminan kesehatan nasional pada nelayan di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara Tahun 2019.
Tujuan khusus. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menghitung besar nilai ability to pay (ATP 1 dan ATP 2) terhadap iuran jaminan kesehatan nasional pada pekerja nelayan di desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara
2. Membuat estimasi WTP (Willingness To Pay) terhadap iuran jaminan kesehatan nasional pada pekerja nelayan di desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini diharapkan :
1. Bagi badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) kesehatan. Melalui hasil kemampuan dan kemauan membayar iuran jaminan kesehatan nasional pada nelayan menjadi bahan masukan dan tambahan dalam mengevaluasi pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
2. Bagi jurusan kesehatan masyarakat. Sebagai bahan tambahan ilmu pengetahuan dalam administrasi kebijakan kesehatan di bidang pembiayaan kesehatan khusunya mengenai kemampuan dan kemauan pada nelayan dalam membayar iuran jaminan kesehatan nasional.
3. Bagi peneliti. Sebagai bahan tambahan ilmu pengetahuan bagi peneliti serta sebagai bahan praktek dalam melaksanakan dan menerapkan ilmu kesehatan di masyarakat melalui proses penelitian mengenai kemampuan dan kemauan membayar iuran JKN pada nelayan di desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara.
Tinjauan Pustaka
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Pengertian Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sistem Jaminan sosial merupakan suatu bentuk perlindungan bagi suluruh rakyat agar terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang memadai. Sistem jaminan kesehatan nasional merupakan suatu cara dalam menyelenggarakan program jaminan sosial oleh beberapa badan penyelenggaraan jaminan sosial atau disingkat dengan BPJS.
Asuransi sosial yaitu suatu teknik bentuk pengumpulan dana yang sifatnya wajib yang bersumber dari iuran yang bertujuan untuk memberikan perlindungan atas efek sosial ekonomi yang menimpa peserta dan/atau anggota keluarganya. (UU SJSN No.40 Tahun 2004).
Jaminan Kesehatan Nasional atau disingkat dengan JKN adalah suatu bentuk jaminan pemeliharaan kesehatan supaya peserta memperoleh manfaat pemelihara-an kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran jaminan kesehatannya atau iuran jaminan kesehatannya dibayar oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. (Perpres RI No. 82 Tahun 2018).
Sistem jaminan nasional (JKN) yang telah di kembangkan di Indonesia merupakan bagian dari sistem jaminan sosial nasional (SJSN). Adapun tujuan dari sistem jaminan kesehatan nasional adalah untuk memberikan perlindungan kesehatan bagi peserta atau anggota keluarganya sehingga terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi masyarakat atau peserta.
Prinsip-prinsip Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jaminan kesehatan
nasional mengacu pada prinsip-prinsip sistem jaminan sosial nasional (SJSN) berikut (UU No.40 tahun 2004 tentang SJSN):
Prinsip kegotong-royongan. Prinsip kegotong-royongan yang dimaksud adalah prinsip kebersamaan antar peserta dalam menanggung beban biaya jaminan sosial, yang diwujudkan dengan kewajiban setiap peserta membayar iuran sesuai dengan tingkat gaji, upah, atau penghasilannya. Prinsip kegotong-royongan ini berarti peserta membuka kesempatan mendapatkan pelayanan kesehatan secara adil dan merata bagi seluruh masyarakat yang membutuhkan,baik yang mampu ataupun yang tidak mampu yang didaptkan dari peserta yang sehat untuk membatu peserta yang sakit ataupun yang beresiko tinggi sehingga tercapinya derajat kesehatan yang memadai.
Prinsip nirlaba. Prinsip Nirlaba yaitu suatu prinsip pengelolaan usaha yang
memfokuskan penggunaan hasil pengembangan dana untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh peserta. Dana yang telah dikumpulkan dari masyarakat sehingga hasil pengembangannya, akan dimanfaatkan sebesar- besarnya untuk kepentingan peserta .
Prinsip keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas. Prinsip Keterbukaan yang dimaksud adalah suatu prinsip yang transparan atau tidak ditutupi yakni prinsip yang mempermudah akses informasi yang lengkap, benar, dan jelas bagi setiap peserta. Prinsip kehati-hatian yakni prinsip pengelola-an dana secara cermat, teliti, aman, dan tertib. Prinsip akuntabilitas adalah prinsip pelaksanaan program dan pengelolaan keuangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Prinsip portabilitas. Prinsip memberikan jaminan yang berkelanjutan
12
meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Prinsip kepesertaan bersifat wajib. Prinsip yang mengharuskan seluruh penduduk menjadi peserta jaminan sosial, yang dilaksanakan secara bertahap.
Kepesertaan yang bersifat wajib yang dimaksud adalah agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak apabila masyarakat menghadapi krisis ekonomi atau hilangnya pendapataan karena menderita sakit, mengalami kecelakaan,kehilangan pekerjaan, memasuki usia lanjut, atau pensiun,sehingga jaminan kesehatan nasional memberikan perlindungan secara adil dan merata.
Prinsip amanat. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana
titipan kepada badan -badan penyelenggara untuk dikelola sebaik -baik nya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.
Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dalam Perpres RI No. 82 tahun 2018 menyatakan bahwa peserta adalah setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, yang telah membayar Iuran jaminan kesehatan. Pekerja adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima gaji, upah atau imbalan dalam bentuk lain. Pemberi Kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja, atau penyelenggara negara yang mempekerjakan pegawai negeri dengan membayar gaji, upah, atau imbalan dalam bentuk lainnya.
Peserta dalam jaminan kesehatan nasional tersebut terdiri dari : Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN dan Bukan Penerima Bantuan Iuran JKN. (1) Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN,yakni peserta yang tergolong fakir miskin atau peserta
yang kurang mampu. (2) Bukan Penerima Bantuan Iuran JKN, yakni peserta yang tidak tergolong fakir miskin atau peserta atau masyarakat yang mampu. Peserta non PBI tersebut terdiri atas:
1. Pekerja Penerima Upah (PBI) dan anggota keluarganya,yakni:
a) Pejabat Negara
b) Pimpinan dan anggota dewan perwakilan rakyat daerah c) Pegawai negeri sipil (PNS)
d) Prajuri
e) Anggota polri
f) Kepala desa dan perangkat desa g) Pegawai swasta
h) Pekerja penerima upah lainnya
2. Pekerja bukan penerima upah (PBPU) dan anggota keluarganya a) Pekerja diluar hubungan kerja atau pekerja mandiri
b) Pekerja yang tdak termasuk huruf a yang bukan penerima gaji/upah.
3. Bukan Pekerja (BP) dan anggota keluarganya a) Investor
b) Pemberi kerja c) Penerima pensiun d) Veteran
e) Perintis kemerdekaan
f) Janda,duda atau anak yatim dan / atau piatu dari veteran atau perintis kemerdekaan.
4. Penerima Pensiun terdiri dari :
14
a) Pejabat negara yang berhenti dengan hak pensiun b) Pengawai negeri sipil yang berhenti dengan hak pensiun c) Prajurit dan anggota polri yang berhenti dengan hak pensiun d) Janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pensiun
Adapun anggota keluarga pada pekerja penerima upah (PPU) yaitu istri atau suami yang sah dari peserta anak kandung dan Anak tiri dari perkawinan yang sah, dengan kriteria tidak atau belum pernah menikah atau belum punya penghasilan sendiri, belum berusia 21 tahun atau belum berusia 25 tahun bagi yang masih menempuh pendidikan formal.
Pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Iuran Jaminan kesehatan nasional adalah sejumlah uang yang dibayar oleh peserta JKN secara teratur termasuk pemberi kerja dan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang mendaftarkan peserta atau anggota nya sebagai peserta JKN.( Perpres RI No.
82 tahun 2018 ). Dalam Perpres RI No. 82 tahun 2018 Pembayaran iuran bagi peserta JKN antara lain:
1. Iuran bagi peserta PBI jaminan kesehatan nasional dibayar oleh pemerintah pusat
2. Iuran bagi peserta yang didaftarkan oleh pemerintah daerah bertanggung jawab untuk membayar iuran peserta yang didaftarkannya
3. Iuran bagi peserta PPU (pekerja penerima upah) dibayar oleh pemberi kerja atau pekerja
4. Iuran bagi peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta Bukan Pekerja iuran dibayar oleh Peserta yang bersangkutan.
5. Iuran bagi bayi yang baru lahir dibayarkan oleh peserta atau pihak lain yang
Setiap Peserta yang telah terdaftar wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan berdasarkan persentase dari upah (untuk pekerja penerima upah) atau suatu jumlah nominal tertentu (untuk bukan penerima upah dan PBI).
Berikut tata cara pembayaran iuran jaminan kesehatan (Perpres RI No. 82 Tahun 2018):
a. Pemberi kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya,bertanggung jawab untuk membayar iurannya dan menyetor iuran tersebut ke BPJS kesehatan paling lambat tanggal 10 setiap bulannya. Jika tanggal 10 jatuh di hari libur,maka iuran dibayarkan pada hri berikutnya.
b. Bagi peserta PPU (Pekerja Penerima Upah) untuk kepala desa dan perangkat desa dipungut dan dibayarkan langsung oleh pemerintah daerah sebagai pemberi kerja langsung kepada BPJS kesehatan paling lambat tanggal 10 setiap bulannya.
3. Peserta PBPU dan BP wajib membayar iuran kepada BPJS kesehatan paling lambat tanggal 10 setiap bulannya.
Setelah pembayaran iuran jaminan kesehatan dilakukan maka BPJS harus menghitung kelebihan dan kekurangan iuran sesuai dengan gaji atau upah pekerja.
Apabila terjadi kelebihan dan kekurangan pembayaran iuran yang disebabkan oleh perubahan atau kepesertaan maka pihak BPJS kesehatan wajib memberitahu kepeda pemberi kerja ataupun peserta paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya iuran.
Besaran iuran dalam jaminan kesehatan nasional sebagaimana yang tercantum dalam Perpres RI No. 82 Tahun 2018 sebagai berikut :
1. Iuran bagi peserta PBI jaminan kesehatan serta penduduk yang telah didaftarkan
16
oleh pemerintah daerah yaitu sebesar Rp. 23.000,00 (dua puluh tiga ribu) setiap bulan.
2. Iuran bagi peserta PPU yakni Pejabat Negara, dewan perwalian rakyat daerah (DPRD), PNS, POLRI , Kepala Desa maupun perangkat desa dan pekerja dibayar sebesar 5% ( 3% dibayar oleh pemberi kerja dan 2% dibayar oleh peserta ) dari gaji atau upah setiap bulannya.
3. Iuran bagi peserta PPU selain dari peserta (2) dibayar sebesar 5% (lima persen) dari gaji atau upah,yang terdiri dari 4% dibayar oleh pemberi kerja dan 1%
dibayar oleh peserta setiap bulannya.
4. Iuran bagi peserta PBPU (Pekerja bukan penerima upah) dan peserta BP (bukan pekerja) yakni:
a. Sebesar Rp. 25.500,00 (dua puluh lima ribu lima ratus rupiah) per orang setiap bulannya dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III
b. Sebesar Rp. 51.000,00 (lima Puluh Satu Ribu Rupiah ) per orang setiap bulannya dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas II
c. Sebesar Rp. 80.000,00 (delapan puluh ribu rupiah) per orang setiap bulannya dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas I.
Tata cara pembayaran iuran. Iuran bagi pemberi kerja wajib memungut dari pekerjanya,membayar iuran menjadi tanggung jawabnya dan menyetor iuran tersebut ke BPJS kesehatan paling lambat tanggal 10 setiap bulannya. Apabila pemberi kerja merupakan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat penyetoran iuran ke BPJS kesehatan melalui rekening kas negara paling lambat tanggal 10 setiap bulannya. Iuran bagi peserta PPU untuk kepala desa dan perangkat desa dipungut dan dibayarkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota
sebagai pemberi kerja langsung kepada BPJS kesehatan paling lambat tanggal 10 setiap bulannya.
Anggota keluarga yang ditanggung BPJS. Anggota keluraga yang menjadi tanggung jawab JKN adalah sebagai berikut (BPJS,2017 ) :
1. Pekerja Penerima Upah terdiri dari :
a. PPU dan anggota keluarganya meliputi Pekerja Penerima Upah, istri/suami yang sah, anak kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah dan anak angkat yang sah sebanyak-banyaknya 5 orang.
b. Anak kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah, dan anak angkat yang sah, dengan kriteria: Tidak atau belum pernah menikah atau tidak mempunyai penghasilan sendiri, Belum berusia 21 tahun atau belum berusia 25 tahun yang masih melanjutkan pendidikan formal.
2. Peserta bukan PBI Jaminan Kesehatan dapat mengikutsertakan anggota keluarga yang lain (keluarga tambahan) meliputi anak ke 4 dan seterusnya, ayah, ibu, dan mertua.
Keterlambatan pembayaran iuran. Dalam BPJS 2017, menyatakan bahwa keterlambatan pembayaran iuran tidak akan dikenakan denda. Setelah dilakukan pembayaran tunggakan iuran, kepesertaan langsung aktif kembali.
Namun apabila dalam waktu 45 hari sejak status kepesertaan diaktifkan kembali, peserta yang bersangkutan memperoleh pelayanan kesehatan rawat inap, maka dikenakan denda sebesar 2,5% dari biaya pelayanan kesehatan untuk setiap bulan tertunggak,berlaku sejak tanggal 1 juli 2016 dengan syarat :
1. Jumlah bulan tertunggak paling banyak 12 bulan.
2. Besar denda paling tinggi Rp30.000.000
18
Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional dimaksudkan mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis. Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional terdiri atas 2 (dua) jenis, yaitu manfaat medis dan non medis. Manfaat medis diberikan sesuai indikasi medis dan standar pelayanan. Manfaat non medis diberikan berdasarkan besarnya iuran peserta.
Manfaat pelayanan promotif dan preventif meliputi pemberian pelayanan : 1. Penyuluhan kesehataan perorangan yaitu paling sedikit penyuluhan mengenai
pengelolaan faktor resiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat
2. Imunisasi rutin, yakni pemberian imunisasi rutin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Keluarga berencana,meliputi konseling dan pelayanan kontrasepsi termasuk vasektomi dan tubektomi yang berkerja sama dengan badan kependudukan dan keluarga berencana nasional
4. Skrining riwayat kesehatan dan pelayanan penapisan atau skrining kesehatan tetentu yaitu untuk mendeteksi risiko penyakit tertentu untuk mencegah dampak lanjutan resiko penyakit tertentu.
5. Peningkatan kesehatan bagi peserta penderita penyakit kronis, ditujukan kepada peserta yang menderti penyakit kronis tertentu untuk mengurangi resiko akibat komplikasi penyakit yang dideritanya.
Pelayanan kesehatan yang dijamin BPJS. Berdasarkan peraturan presiden RI no. 82 tahun 2018 pelayanan yang dijamin BPJS terdiri dari :
1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama pertama meliputi pelayanan kesehatan
non spesialistik yang mencakup : a. Administrasi pelayanan
b. Pelayanan promotif dan preventif
c. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis
d. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun nonoperatif e. Pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
f. Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama g. Rawat inap tingkat pertama sesuai dengan insikasi medis
2. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan, meliputi pelayanan kesehatan yang mencakup:
1. Administrasi pelayanan
2. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi medis dasar 3. Pemeriksaan, pengobatan, dan konsultasi spesialistik
4. Tindakan medis spesialistik, baik bedah maupun non bedah sesuai dengan indikasi medis
5. Pelayanan obat, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
6. Pelayanan penunjang diagnostik lanjutan sesuai dengan indikasi medis 7. Rehabilitasi medis
8. Pelayanan darah
9. Pemulasaran jenajah peserta yang meninggal di fasilitas kesehatan 10. Pelayanan keluarga berencara
11. Perawatan inap nonintensif 12. Perawatan inap di ruang intensif
Pelayanan kesehatan yang tidak dijamin BPJS. Berdasarakan perpres
20
RI No 82 tahun 2018 ada beberapa manfaat yang tidak dijamin dalam jaminan kesehatan nasional (JKN) antara lain :
A. Pelayanan kesehatan tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.
B. Fasiltas pelayanan kesehatan tidak bekerja sama dengan BPJS.
C. Pelayanan kesehatan terhadap penyakit akibat kecelakaan kerja yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan kerja atau menjadi tanggung jawab pemberi kerja.
D. Pelayanan kesehatan yang dilakukan diluar negeri.
E. Pelayanan kesehatan yang bertujuan estetik.
F. Pelayanan untuk mengatasi infertilitas.
G. Pelayanan meratakan gigi atau ortodonsi.
H. Gangguan kesehatan/penyakit akibat ketergantungan obat /atau alkohol I. Gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri
J. Pengobatan komplementer,alternatif,dan tradisional K. Obat kontasepsi dan kosmetik
L. Pelayanan kesehatan akibat pidana dan penganiayaan,kekerasan seksual M. Pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan kementrian pertahana ATP (Ability To Pay)
Pengertian ATP (Ability To Pay). Menurut menteri kesehatan Ability To Pay atau disebut kemampuan membayar iuran yaitu besarnya dana yang
sebenarnya dipergunakan untuk membiayai kesehatan suatu keluarga dengan menggunakan pendekatan pendapatan keluarga dan alokasinya (Noerjoedianto, 2016). Dalam penelitian Noormalasari, Nuryadi dan Sandra (2015) Ability to pay
atau disebut kemampuan membayar yaitu besarnya dana yang sebenarnya dapat dialokasikan untuk membiayai kesehatan yang bersangkutan. Kemampuan untuk membayar jasa berdasarkan penghasilan yang di dapat merupakan kemampuan membayar (ability to pay) dan dipengaruhi oleh beberapa diantaranya adalah : penghasilan perbulan, pengeluaran untuk jasa transportasi dan intensitas perjalanan. (Rumiati, Fahmi & Edison, 2013).
Menurut Handayani dan Gondodiputro dalam Pratiwi dan Ramadlan (2016) ATP dipengaruhi oleh pendapatan, banyaknya asset dalam rumah tangga, kapasitas keluarga dalam mobilisasi asset, pendidikan formal dan jumlah anggota keluarga. Faktor lainnya yang mempengaruhi kemampuan membayar iuran jaminan kesehatan oleh pendapatan ekonomi atau faktor penghasilan serta tanggungan dalam rumah tangga atau jumlah anggota keluarga (Nurbaeti &
Batara, 2018) sehingga besarnya pendapatan ekonomi harus disesuikan dengan tarif besarnya iuran yang dibayar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membayar sebagi berikut : 1. Faktor ekonomi (Pendapatan).
Tingkat pendapatan masyarakat merupakan salah satu indikator utama ekonomi untuk mengukur kemampuan masyarakat . Saat ini Pendapatan petani merupakan masalah yang sangat serius, karena banyak penduduk yang tinggal di desa yang bergerak di sektor pertanian. Pendapatan petani berasal dari hasil produksi pertanian yang diolah oleh para petani. Dalam upaya peningkatan pendapatan petani padi, luas lahan sangat berpengaruh untuk dapat meningkatkan tingkat pendapatannya, selain luas lahan yang berpengaruh dalam meningkatkan pendapatan petani, yaitu tenaga kerja dan penguasaan tentang teknologi juga
22
menjadi berpengaruh terhadap tingkat pendapatan (Damanik,2015)
Faktor pendapatan adalah Rendahnya tingkat pendidikan ekonomi masyarakat khususnya kepala keluarga, secara tidak langsung akan mempengaruhi keadaan/kondisi keluarga (Hasan,2017). Pendapatan adalah penghasilan yang diperoleh seseorang dari kegiatan bekerja dan penanaman modal yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan,sehingga dalam sebuah keluarga untuk memenuhi kebutuhan erat kaitannya dengan besaran pendapatan yang dihasilkan dari pekerjaan dan dikeluarkan sebagai bentuk konsumsi untuk mencapai kesejahteraan (Amanaturrohim & Widodo, 2016)
2. Faktor pendidikan.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi (Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Seseorang memiliki pemikiran yang lebih baik dalam mengolah informasi dan memiliki pendidikan yang tinggi maka dapat mempengaruhi pengetahuannya dalam suatu hal misalnya dalam hal ini pelayanan kesehatan dari BPJS.
(Rumengan, umboh, & kandou, 2015). Masyarakat yang sudah menikah dan berpendidikan lebih tinggi memiliki kemauan yang lebih besar untuk bergabung dengan jaminan kesehatan (Yandrizal dkk,2015).
3. Jumlah anggota keluarga.
Jumlah anggota keluarga juga dapat mempengaruhi ability to pay. Rumah tangga dengan jumlah keluarga lebih dari 4 orang memiliki risiko pemiskinan lebih tinggi. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka akan semakin banyak pula kebutuhan untuk memenuhi kesehatannya (Yandrizal dkk,2015)
4. Faktor pengeluaran.
Jenis pengeluaran rumah tangga dibedakan menjadi pengeluaran rumah tangga untuk pangan (pokok) , pengeluaran untuk pangan non esensial dan pengeluaran untuk non pangan. ATP belanja bukan pokok (non essential expenditure) misalnya minuman beralkohol, belanja rokok, sirih, tembakau,
kosmetik, hiburan dan laininya. ATP belanja pokok (essential expenditure) meliputi belanja untuk makanan, sewa rumah dan pakaian, ATP untuk non pangan misalnya biaya kesehatan dll.
Pengukuran ATP (Ability To Pay). Ability to pay ini merupakan faktor penting dalam mengembangkan sistem jaminan kesehatan dan menjadi pertimbangan utama dalam menetapkan besarnya iuran atau premi. Dalam bidang kesehatan, konsep Ability to pay digunakan untuk mengetahui kemampuan individu membayar suatu program atau pelayanan kesehatan. Menilai Ability to pay masyarakat terhadap iuran jaminan kesehatan, bertujuan untuk melihat
seberapa besar kemampuan masyarakat untuk membeli produk tersebut. (Lidri &
Munayang,2015).
Menurut Depkes (2000) ada dua batasan yang digunakan dalam menghitung ATP :
a) ATP 1 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan 5% dari pengeluaran non makanan. Batasan ini didasarkan bahwa pengeluaran non makanan dapat diarahkan untuk keperluan lain, termasuk untuk kesehatan b) ATP 2 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan jumlah
pengeluaran untuk konsumsi alkohol + tembakau,sirih + pesta/upacara.
24
Batasan ini didasarkan pada pengeluaran yang sebenarnya dapat digunakan secara lebih efisien dan efektif untuk kesehatan. misalnya dengan mengurangi pengeluaran alkohol/tembakau/sirih untuk kesehatan.
Langkah-langkah dalam menghitung ATP. Dalam menghitung nilai ATP (Depkes 2000) ada dua batasan yang digunakan yaitu ATP 1 dan ATP 2. ATP 1 yaitu dimana kemampuan membayar setara dengan 5% dari pengeluaran non makanan. Berikut langkah-langkah menghitung ATP 1 :
1. Mengambarkan jenis-jenis pengeluaran rumah tangga dalam satu bulan 2. Memilih jenis pengeluaran non makanan dalam satu bulan
3. Menghitung total pengeluaran non makanan keluarga dalam 1 bulan 4. Menghitung ATP = 5% x total pengeluaran non makanan rumah tangga
Adapun batasan ATP 2 adalah besarnya kemampuan membayar (ability to pay) yang setara dengan jumlah pengeluaran non esensial untuk konsumsi alkohol + tembakau,sirih + pesta/upacara. Berikut langkah-langkah menghitung ATP 2:
a) Menggambarkan jenis-jenis pengeluaran rumah tangga dalam 1 bulan
b) Memilih jenis pengeluaran untuk konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pestas/upacara rumah tangga dalam satu bulan.
c) Menghitung total pengeluaran untuk konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pestas/upacara rumah tangga dalam satu bulan .
d) Menghitung ATP = Total pengeluaran konsumsi alkohol + tembakau, sirih + pestas/upacara rumah tangga dalam satu bulan
WTP (Wilingness To Pay)
Pengertian WTP (Willigness To Pay). Kemauan untuk membayar atau disebut wilinggness to pay (WTP) adalah Sebuah konsep ekonomi yang
mempunyai fungsi untuk menentukan jumlah uang yang akan dibayarkan konsumen untuk penyediaan suatu barang dan jasa (Randy,2013). WTP merupakan Kemauan membayar dari masyarakat terhadap suatu jasa atau barang secara langsung berdasarkan keinginan untuk mendapatkan pelayanan yang setimpal dengan uang yang dimiliki.
Faktor yang mempengaruhi Willigness To Pay diantaranya adalah : Produksi jasa angkutan yang tersedia, Penghasilan dan Kondisi sosial ekonomi masyarakat. (Rumiati dkk,2013). Kemauan membayar masyarakat tentunya tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi. Penelitian yang dilakukan di Malaysia menunjukkan bahwa status pernikahan dan tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemauan dalam membayar iuran program jaminan kesehatan masyarakat di Malaysia. Masyarakat yang sudah menikah dan berpendidikan lebih tinggi memiliki kemauan yang lebih besar untuk bergabung dengan jaminan kesehatan. Faktor lainnya yang mempengaruhi kemauan membayar (willingness to pay ) adalah pendapatan per bulan, pendidikan, dan status perkawinan (Yandrizal,dkk 2015)
Penelitian dari Aryani dan Muqorrobin Data mengenai WTP menggunakan pendekatan contingent valuation method (CVM) dengan metode permainan penawaran (bidding game method) yaitu dengan memberikan pilihan daftar harga yang sanggup dibayar oleh responden. Contingent valuation method (CVM) adalah cara perhitungan secara langsung untuk menanyakan kesediaan membayar (WTP). Dalam Randy (2013) ada beberapa faktor yang mempengaruhi WTP adalah karakteristik responden atau jumlah rumah tangga dan besar kemampuan untuk membayar (Ability To Pay) (Altaf dan Whittington, 1992), karakteristik
26
tempat tinggal, karakteristik prasarana yang ada, serta karakteristik prasarana yang ditawarkan.
Metode WTP (Willingness To Pay). Pada penelitian Karimah (2015) metode yang digunakan untuk menghitung estimasi kemampuan membayar yaitu : 1. Metode observasi, Metode ini dibagi menjadi dua yaitu experiment dan market
data. Eskperimen dilakukan dengan pencobaan lapangan dan pengamatan.
Dalam pencobaan lapangan akan dilihat apakah masyarakat sadar akan pencobaan lapangan tersebut atau tidak. Dalam metode observasi juga dapat dilihat kemauan membayar yang terungkap terhadap barang dan jasa.
2. Metode survei. Metode ini dibagi menjadi dua bagian yaitu survei langsung dan survei tidak langsung
3. Metode CV (Contingent Valuation) . Contingent valuation method (CVM) adalah cara perhitungan secara langsung untuk menanyakan kesediaan membayar (WTP).
Dalam penelitian Pungky dan Puspitasari (2014) ada beberapa cara dalam mengukur kemauan membayar pelayanan kesehatan yaitu:
1) Menghitung biaya yang bersedia dikeluarkan oleh individu untuk mengurangi dampak negatif pada lingkungan karena adanya suatu kegiatan pembangunan.
2) Menghitung pengurangan nilai atau harga dari suatu barang akibat semakin menurunnya kualitas lingkungan.
3) Melalui suatu survey untuk menentukan tingkat kesediaan masyarakat untuk membayar untuk menghindari dampak negatif pada lingkungan atau untuk mendapatkan lingkungan yang lebih baik.
Hasil Penelitian yang Relavan
Ada beberapa hasil penelitian terdahulu yang dilakukan yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti :
1. Penelitian oleh Hardy dan Yudha (2017)
Penelitian yang berjudul “Kemauan Dan Kemampuan Membayar (Ability - Willingness To Pay ) Dalam Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional Pada Sektor Informal Pedagang Pasar Tradisional di Kota Denpasar 2017”. Pada hasil penelitian tersebut peneliti ingin meneliti kemauan dan kemampuan membayar iuran jaminan kesehatan nasional pada sektor informal pedagang pasar tradisional di kota Denpasar. Hasil penelitian tersebut kemauan membayar menunjukkan bahwa peda-gang pasar tersebut hanya mampu membayar di kelas 3 dan PBI sebanyak 8% dan 64% hal tersebut menunjukkan bahwa para pedagang hanya mampu membayar JKN kelas 3 dan harus di batu oleh pemerintah dengan PBI.
Hanya 11% yang mampu membayar kelas 1 dan 17 % mampu membayar iuran JKN kelas 2 setiap bulannya.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah mengidentifikasi kemampuan dan kemuan membayar iuran jaminan kesehatan nasional dengan menggunakan analisis data yang sama yaitu Data kemampuan membayar nantinya akan dianalisis dengan menggunakan rumus teori yaitu 5% dari kebutuhan non pangan dan non esensial. Data kemauan membayar pasien akan dianalisis dengan melihat alternatif tarif yang paling banyak dipilih oleh responden sehingga diketahui gambaran tingkat kemauan membayar pasien . Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah peneliti akan meneliti pada pekerja petani sedangkan penelitian Hardy dan Yudha
28
(2017) dilakukan pada sektor informal pedagang pasar tradisional.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Muhibatul Karimah (2015)
Penelitian yang berjudul “Ability dan Willingness To Pay Pekerja Kerajinan Tangan Terhadap Iuran Jaminan Kesehatan Nasional di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember”. Pada hasil penelitian tersebut peneliti mengidentifikasi tentang total pendapatan, pengeluaran rumah tangga, membuat formula perhitungan ability to pay pekerja kerajinan tangan terhadap iuran jaminan kesehatan nasional serta menghitung besar nilai ability to pay dan membuat estimasi willingness to pay Pekerja kerajinan tangan terhadap iuran jaminan
kesehatan nasional.
Hasil penelitian tersebut, bahwa pendapatan responden berada dalam kategori sedang dengan interval ≥ Rp 1.024.166,- s.d ≤ Rp 2.560.417,- dan pengeluaran rata-rata pebulan diperoleh sebesar Rp. 1772.180,-. Besar nilai rill ATP menghasilkan rata-rata sebesar Rp. 56.295,- dan terdapat 9 pekerja kerajinan yang tidak mampu membayar iuran jaminan kesehatan nasional. Nilai estimasi WTP responden untuk membayar iuran Jkn rata-rata sebesar Rp. 52.295,- per orang perbulan.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah menghitung besar nilai ability to pay dan membuat estimasi willingness to pay. Perbedaan penelitian ini penelitian Muhibatul Karimah dilakukan pada
Pekerja Kerajinan Tangan Terhadap Iuran Jaminan Kesehatan Nasional di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember, sedangkan peneliti akan melakukan penelitian pada masyarakat petani di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupten Batu Bara.
Landasan Teori
Ability to pay. Kemampuan membayar (ability to pay) adalah besarnya dana yang digunakan untuk membayar pelayanan kesehatan berdasarkan penghasilan yang dianggap ideal (Lestari, 2016). Kemampuan membayar iuran yaitu besarnya dana yang sebenarnya dipergunakan untuk membiayai kesehatan suatu keluarga dengan menggunakan pendekatan pendapatan keluarga dan alokasinya menurut menteri kesehatan (Noerjoedianto, 2016). ATP 1 adalah besarnya kemampuan membayar yang setara dengan 5% dari pengeluaran non makanan. ATP 2 adalah besarnya kemampuan membayar responden yang setara dengan total pengeluaran untuk konsumsi alkohol, tembakau, sirih, pesta/upacara.
(Depkes, 2000).
Wilingness to pay. Kemauan membayar adalah kemauan atau keinginan membayar konsumen yang dapat dibayarkan guna untuk memperoleh suatu barang atau jasa. Willingness to pay adalah kesanggupan responden untuk membeli suatu barang (Rofiatin dan Bariska, 2018). Kemauan untuk membayar atau disebut wilinggness to pay (WTP) adalah Sebuah konsep ekonomi yang mempunyai fungsi
untuk menentukan jumlah uang yang akan dibayarkan konsumen untuk penyediaan suatu barang dan jasa (Randy, 2013).
Pengeluaran. Pengeluaran rumah tangga adalah besar nilai rupiah yang dikeluarkan konsumen untuk keperluan rumah tangga atau seluruh anggota rumah tangga dalam satu bulan yang terdiri dari pengeluaran pangan, pengeluaran non pangan, pengeluaran non esensial (Karimah, 2015).
30
Kerangka Konsep
Keterangan
: Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti
Gambar 1. Kerangka konsep Pendapatan
Pengeluaran - Pangan - Non pangan - Pangan non
esensial
Ability To Pay - ATP 1
- ATP 2
Willingness to pay (WTP)
Iuran JKN
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Rancangan dalam penelitian ini adalah cross sectional, dilihat dari segi waktunya penelitian ini hanya diobservasi satu kali pada waktu tertentu. Penelitian ini untuk menghitung ATP dan WTP pada pekerja nelayan terhadap iuran jaminan kesehatan nasional (JKN).
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara. Penelitian ini dilakukan pada 7 Dusun yakni Dusun I Rumbia, Dusun II Sirsak, Dusun III Mangga, Dusun IV Nangka, Dusun V Sontol, Dusun VI Bunga Tanjung, Dusun VII Mawar. Lokasi penelitian ini diambil pada karena sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan.
Waktu penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2019 sampai dengan selesai.
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian. Populasi penelitian ini adalah masyarakat nelayan di Desa Benteng Kecamatan Talawi Kabupaten Batu Bara.
Sampel penelitian. Pada penelitian ini terdapat 681 kepala keluarga yang bekerja sebagai nelayan yang tersebar pada tujuh dusun, sehingga besar sampel dalam penelitian ini digunakan berdasarkan rumus yang dikembangkan oleh Lameshow, sebagai berikut :
32
𝑁𝑍 1−𝛼 2 2 ⁄ 𝜌(1−𝜌) 𝑑2 (𝑁 − 1) + 𝑍21−𝛼 2⁄ 𝜌(1−𝜌) Keterangan :
n = sampel besar N = Besar Populasi
𝑍 1−𝛼 2 2 ⁄ = Nilai z pada derajat kemaknaan ( biasanya 95% = 1,96) p = maksimal estimasi = 0,5
d = alpha (0,10) atau batas toleransi kesalahan pengambilan sampel yang digunakan = 10 %.
Pengambilan sampel dari jumlah populasi sebesar 681 KK berdasarkan rumus diatas, maka besar sampel penelitian ini diperoleh sebanyak :
𝑛 = 𝑁𝑍 1−𝛼 2 2 ⁄ 𝜌(1−𝜌) 𝑑2( 𝑁 − 1) + 𝑍21−𝛼 2⁄ 𝜌(1−𝜌)
𝑛 = 681 × 1,962× 0,5(1 − 0,5) 0,12(681 − 1) + 1,962× 0,5(1 − 0,5)
𝑛 = 654,03 6,8 + 0,96
𝑛 = 84,2 ≈ 100 Pekerja nelayan
Berdasarkan perhitungan diatas maka besar sampel yang mewakili populasi adalah sebesar 100 pekerja nelayan. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan systematic Random Sampling yang berada pada tujuh dusun yaitu dusun I Rumbia, dusun II Sirsak, dusun III Mangga, dusun IV Nangka, dusun V Sontol, dusun VI Bunga Tanjung, dusun VII Mawar. Lokasi penelitian ini diambil pada karena sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan.
Jumlah sampel yang diambil tiap dusun adalah : 𝑛𝑖 =𝑁𝑖
𝑁 × 𝑛 Keterangan :
ni : besar sampel ke-i N = Populasi penelitian n = Besar sampel penelitian ni : Jumlah populasi ke-I
Berdasarkan rumus di atas maka jumlah sampel yang diambil tiap dusun dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1
Distribusi Sampel menurut Populasi
Dusun n
Dusun I Rumbia Dusun II Sirsak Dusun III Mangga Dusun IV Nangka Dusun V Sontol
Dusun VI Bunga Tanjung Dusun VII Mawar
17 19 12 13 12 15 12
Jumlah 100
Variabel dan Definisi Operasional Penelitian ini terdiri dari variabel :
1) Pengeluaran rumah tangga adalah sejumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli keperluan rumah tangga dalam 1 bulan yang terdiri dari pengeluaran pangan, pangan non esensial dan non pangan.
2) Pengeluaran pangan adalah sejumlah uang yang dikeluarkan untuk keperluaran makan keluarga dalam satu bulan yang terdiri dari padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, dan konsumsi lainnya.
34
3) Pengeluaran pangan non esensial adalah sejumlah uang yang dikeluarkan untuk membiayai konsumsi di luar kebutuhan dasar seluruh anggota keluarga yang terdiri dari makanan dan minuman,rokok, minuman beralkohol serta tembakau dan sirih.
4) Pengeluaran non pangan adalah sejumlah uang yang dikeluarkan responden untuk keperluan non pangan dalam satu bulan,yang terdiri dari perumahan dan fasilitas rumah tangga ,pakaian, keperluan pesta, pulsa, kuota/paket, dan keperluan lainnya.
5) Ability to pay (ATP) adalah besarnya dana yang mampu dikeluarkan masyarakat nelayan di desa Benteng untuk membayar iuran jaminan kesehatan nasional sesuai dengan tingkatan harga yang di tawarkan.
6) Willingness to pay (WTP) untuk melihat besarnya kemauan dan kesediaan masyarakat nelayan di desa benteng untuk membayar iuran jaminan kesehatan nasional (JKN).
Metode Pengumpulan Data
Proses pengumpulan data dilakukan dengan : 1. Wawancara.
Data primer penelitian ini adalah diperoleh dari hasil wawancara langsung dari responden melalui pengisian kuesioner. Kuesioner dibagikan pada responden yaitu masyarakat di desa Benteng yang bermata pencaharian sebagai nelayan di dusun I – dusun VII untuk mendapatkan informasi mengenai kemampuan masyarakat membayar iuran jaminan kesehatan nasional.
2. Dokumen.
Data sekunder dari penelitian ini adalah jumlah total masyarakat nelayan