• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG WARIS

H. Ahli Waris dan Bagiannya

2. Besarnya Bahagian

Anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separuh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak

perempuan.47

Ayah mendapat sepertiga bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, bila ada anak ayah mendapat seperenam bagian.

Ibu mendapat seperenam bagian bila ada anak atau dua saudara atau lebih. Bila tidak ada anak atau dua orang saudara atau lebih, maka ia mendapat sepertiga bagian. Ibu mendapat sepertiga bagian dari sisa sesudah diambil oleh janda atau duda bila bersama-sama dengan ayah.

46 Ibid, 55.

44

Duda mendapat separuh bagian, bila pewaris tidak meningalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka duda mendapat seperempat bagian.

Janda mendapat seperempat bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak maka janda

mendapat seperdelapan bagian.48

Bila seseorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, sedangkan ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah, maka ia mendapat separuh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki dua berbanding satu dengan saudara perempuan.

Para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam

harta warisan, setelah masing-masing menyadari bagiannya.49

Bagi ahli waris yang belum dewasa atau tidak mampu melaksanakan hak dan kewajibannya, maka bagianya diangkat wali berdasarkan keputusan hakim atas usul anggota keluarga.

Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling mewarisi dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya.

48 Ibid, 54.

45

Bila mana pewaris meningalkan warisan harta peninggalan, maka oleh pewaris semasa hidupnya atau oleh para ahli waris dapat ditunjuk beberapa orang sebagai pelaksana pembagian hartya warisan dengan tugas:

a. Mencatat dalam suatu daftar harta peninggalan, baik berupa benda

bergerak maupun tidak bergerak yang kemudian disahkan oleh para ahli waris yang bersangkuatan, bila perlu dinilai harganya dengan uang.

b. Menghitung jumlah pengeluaran untuk kepentingan pewaris sesuai

dengan pasal 175.50

Sisa dari pengeluaran dimaksud di atas adalah merupakan harta warisan yang harus dibagikan kepada ahli waris yang berhak.

Para ahli waris baik secara bersama-sama atau perseorangan dapat mengajukan permintaan kepada ahli waris yang lain untuk melakukan pembagian harta warisan. Bila ada diantara ahli waris yang tidak menyetujui permintaan itu, maka yang bersangkutan dapat mengajukan

gugatan melalui Pengadilan Agama untuk dilakukan pembagian warisan.51

Bila warisan yang akan dibagi berupa lahan pertanian yang luasnya kurang dari 2 hektar, supaya dipertahankan kesatuannya sebagaimana semula, dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama para ahli waris yang bersangkutan. Bila ketentuan tersebut pada ayat (1) pasal ini tidak dimungkinkan karena di antara para ahli waris yang bersangkutan ada yang memerlukan uang, maka lahan tersebut dapat dimiliki oleh seorang atau

50 Ibid

46

lebih ahli waris yang dengan cara membayar harganya kepada ahli waris

yang berhak sesuai dengan bagianya masing-masing.52

Bagi pewaris yang beristri lebih dari seorang, maka masing-masing istri berhak mandapatkan bagian atas gono-gini dari rumah tangga dengan suaminya, sedangkan keseluruhan bagian pewaris adalah menjadi hak para

ahli warisnya.53

Bila pewaris tidak meninggalkan ahli waris sama sekali atau ahli warisnya tidak diketahui ada atau tidaknya, maka harta tersebut atas putusan Pengadilan Agama diserahkan penguasannya kepada Baitul Mal

untuk kepentingan Agama Islam dan kesejahteraan umum.54

52Ibid

53 Ibid, 59 54 Ibid

BAB III

PELAKSANAAN PEMBAGIAN WARISAN AHLI WARIS ANAK YANG DIASUH OLEH IBU TIRI DI KELURAHAN PEGIRIAN KECAMATAN

SEMAMPIR KOTA SURABAYA

A. Gambaran Umum Masyarakat Kelurahan Pegirian Kecamatan Semampir Kota Surabaya

1. Letak dan Keadaan Daerah

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Pegirian Kecamatan Semampir Surabaya. Kelurahan Pegirian adalah nama sebuah Kelurahan yang terletak di Surabaya. Kelurahan pegirian merupakan salah satu wilayah Kecamatan Semampir disebelah Selatan, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:1

Sebelah Utara : Kelurahan wonokusumo kecamatan semampir Sebelah Selatan : Kelurahan sidotopo kecamatan semampir Sebelah Barat : Kelurahan ujung kecamatan semampir

Sebelah Timur : Kelurahan sidotopo wetan kecamatan semampir Kelurahan Pegirian merupakan salah satu dari 5 Kelurahan yang terletak di Kecamatan Semampir. Di Kelurahan Pegirian itu sendiri terdiri dari 10 (sepuluh) dusun, antara lain:2

1. Dusun wonokusumo kidul, 2. Dusun wonokusumo lor, 3. Dusun wonokusumo wetan 4. Dusun wonokusumo kulon 5. Dusun

1 Sumber Data Statistik Kelurahan Pegirian, 2016.

48

wonokusumo jaya 6. Dusun wonosari 7. Dusun Wonokusumo Bhakti 8. Dusun tenggumung 9. Dusun jatisurono 10. Dusun jatipurwo

Keadaan daerah atau wilayah Pegirian tidak jauh berbeda dari daerah lain di Kecamatan Semampir, yaitu beriklim tropis yang meliputi dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Pada musim kemarau terjadi antara bulan April sampai dengan September, jika musim kemarau tiba keadaan tanahnya begitu kering dan tandus, dan banyak pula sumur- sumur yang airnya surut, begitu pula dengan sungai-sungainya.

Sedangkan pada musim hujan terjadi antara bulan Oktober sampai bulan Maret, jika musim hujan tiba sering terjadi banjir karena letaknya berada di dataran rendah.

2. Keadaan Geografis

Pegirian mempunyai luas wilayah sekitar ± 163 Ha dengan jumlah penduduk ± 29250 jiwa3. Dalam kegunaan tanah untuk lebih jelasnya keadaan geografis Pegirian dapat dilihat di bawah ini:

a. Pemukiman dengan luas tanah ±150 ha b. Jalan dengan luas tanah ±13 ha

Kalau dilihat dari keterangan di atas, bahwa tanah pemukiman warga menempati urutan yang lebih mendominsasi dibandingkan luas jalan

49

yang ada di Kelurahan Pegirian. Oleh karena itu pemukiman yang mendominasi di Kelurahan Pegirian itu menunjukkan bahwa terlalu banyaknya penduduk yang ada di Pegirian Kecamatan Semampir.

3. Keadaan Penduduk dan Sosial Ekonomi

Jumlah penduduk Pegirian Kecamatan Semampir ini ± 29250 jiwa, ini dapat dilihat dari jenis kelamin, golongan usia, dan pemeluk agama, untuk lebih jelasnya dapat dilihat di bawah ini:

a. Laki-laki 15284 Orang

b. Perempuan 13966 Orang

c. Kepala Keluarga 925 KK

Sedangkan jumlah penduduk Kelurahan Pegirian Kecamatan Semampir dilihat dari golongan usia sebagai yaitu dari usia mulai 0 sampai 6 tahun berjumlah sebanyak 2.092 jiwa, usia 6 sampai 12 tahun berjumlah sebanyak 2.348 jiwa, usia 12 sampai 16 tahun sebanyak 2.124 jiwa, usia 16 sampai 20 tahun sebanyak 2.649 jiwa, usia 20 sampai 30 tahun sebanyak 6.828 jiwa, usia 30 sampai 60 tahun sebanyak 13.209 jiwa,

Jumlah penduduk Pegirian Kecamatan Semampir Surabaya dilihat dari pemeluk agama yaitu: pemeluk agama Islam sebanyak 29.203 jiwa, agama sebanyak Kristen 30 jiwa, agama Katolik sebanyak 17 jiwa, sedangkan agama Kristen, Protestan, Hindu dan Budha tidak ada. Demkian jumlah keseluruhannya berjumlah 29250 jiwa. Berdasarkan pernyataan

50

tersebut maka dapat dikatakan bahwa di antara agama-agama yang berkembang di Pegirian Kecamatan Semampir yang benar pemeluknya adalah Islam.

Masyarakat yang bermukim di Desa Pegirian Kecamatan Semampir Surabaya mayoritas memeluk agama Islam, karena agama Islam telah mempengaruhi pola pikir dan perilaku bagi masyarakat Surabaya, begitu juga masyarakat Desa Pegirian Kecamatan Semampir Surabaya. Karena agama yang dianut relative kuat maka mereka selalu berdasarkan norma, nilai, perilaku, sebagai suatu syari’at yaitu norma yang didasari atas keyakinan (iman dan taqwa), sehingga orang Surabaya identik dengan Islam.

Masyarakat di Pegirian dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka bekerja sesuai dengan keahliannya masing-masing, di antaranya adalah wiraswasta, pedagang, pengusaha, PN (Pegawai Negeri) ABRI, dan lain-lain.

Sedangkan dalam memenuhi kebutuhan kesehariannya masyarakat Pegirian pada umumnya tertumpu pada sektor pegawai swasta sebagai pekerjaan pokoknya, disamping pekerjaan-pekerjaan lainnya. Hal ini bisa dilihat dari jumlah penduduk Pegirian di Kecamatan Semampir Surabaya sebagai berikut: pegawai swasta terdiri dari 498 orang, wiraswasta terdiri dari 336 orang, buruh bangunan tediri dari 124 orang, pedagang terdiri dari 186 orang, pns terdiri dari 153 orang, guru terdiri dari 89 orang, abri terdiri

51

dari 27, dan sopir terdiri dari 34. Jumlah keseluruhannya mencapai 1147 orang. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Pegirian mata pencahariannya dalam sehari-hari adalah sebagai pegawai swasta.

4. Keadaan Agama dan Pendidikan

Masyarakat Pegirian sebagian besar beragama Islam dan hanya sebagaian kecil yang beragama non muslim. Keagamaan mereka cukup baik dan kuat walaupun berbeda agama tetapi tetap menjalani kerukunan dalam bermasyarakat. Dalam agama Islam terdapat kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak maupun orang dewasa pada setiap hari, setiap Minggu, dan setiap bulan yang berupa tahlilan, yasinan, pengajian,

diba’an, istighasaan dan lain-lain.

Bagi para pemeluk agama Islam, mempunyai saran dan prasarana dalam peribadatan yang berupa masjid dan musholla. Sedangkan bagi pemeluk agama non muslim mempunyai tempat peribadatan terbatas. Adapun tempat sebuah ibadah di Pegirian Kecamatan Semampir sebagai berikut: Masjid sebanyak 7 buah, Mushalla sebanyak 40 buah, Gereja sebanyak 4 buah, sedangkan Pura dan Kuil tidak ada. Jadi jumlah keseluruhannya sebanyak 51 buah.

Untuk perawatan dan kemakmuran masjid dan musholla, maka tiap-tiap masjid dan musholla dibentuk pengurus yang dikenal Ta’mir yang bertugas memelihara dan kemakmuran serta mengkoordinir seluruh

52

aktivitas keagamaan baik yang bersifat umum (untuk seluruh warga) maupun yang bersifat khusus (anak-anak dan remaja).

Di samping masjid dan musholla di Pegirian juga terdapat pondok- pondok kecil yaitu Tahfid al-Qur’an yang kegiatannya di titik beratkan pada pengajian hafalan al-Qur’an khusus untuk anak-anak dan remaja serta orang tua diberbagai daerah maupun di luar daerah. Karena ditempat inilah pada umumnya mereka dididik dan diajari membaca dan menulis serta menghafal al-Qur’an disamping di masjid-masjid dan musholla-musholla.4

Sedangkan jumlah penduduk Pegirian Kecamatan Semampir Dilihat dari Pendidikan yaitu: Taman Kanak-Kanak sejumlah 1476 orang, Sekolah Dasar sejumlah 1753 orang, SMP/SLTP sejumlah 1600 orang, SMA/SLTA sejumlah 285 orang, Akademi (D1-D3) sejumlah 213 orang, Sarjana (S1-S3) sejumlah 457 orang, dan Pondok Pesantren sejumlah 201 orang. Maka jumlah hasil keseluruhanya sebanyak 5499 orang.

Mengamati jumlah sarana pendidikan yang ada di Pegirian Kecamatan Semampir, maka dapat diketahui bahwa pendidikan masyarakat Pegirian sudah baik, hal ini dikarenakan sudah tersedianya sarana di desa itu sendiri. Sedangkan yang berpenghasilan lebih dari cukup atau lebih, mereka dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, baik yang ada di sekitar Pegirian maupun yang ada di sebelahnya

53

Pegirian, karena di daerah sekitar banyak ditemui beberapa perguruan tinggi yang dapat meningkatkan pendidikan sesuai dengan keinginan.5 B. Praktek Pembagian Waris di Kelurahan Pegirian Kecamatan Semampir

Kota Surabaya

Sebelum membahas bagaimana pelaksanaan pembagian harta waris dilaksanakan, perlu diketahui siapa saja ahli waris yang ada dalam keluarga pewaris ( Muzayyin ) di Kelurahan Pegirian Kecamatan Semampir Kota Surabaya. Dalam keluarga tersebut terdapat 6 (enam) ahli waris, yakni 3 (tiga) ahli waris laki-laki, dan 3 (tiga) ahli waris perempuan . untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table di bawah ini:

Tabel AHLI WARIS

No. Nama (AHLI WARIS) Usia

1. 2. 3. 4. 5. 6. Istri ( Binti )

Anak dari istri pertama : Hidayat

Anak- anak dari istri kedua : Muhammad Ro’is Aqila Fadhilah Alfi Nuridah Fuad hasan6 49 Tahun 28 Tahun 25 Tahun 22 Tahun 16 Tahun 9 Tahun 5Ibid.

54

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa ahli waris dalam keluarga Bapak Muzayyin (alm) berjumlah 6 ( orang, yang keseluruhan merupakan istri dan anak-anak dari almarhum yang berhak menerima harta waris.

Pelaksanaan pembagian harta warisan dalam keluarga tersebut berawal dari setelah wafatnya pewaris ( Muzayyin), yang meninggal pada tanggal 5 agustus 2008. Kematiannya dikarenakan sakit komplikasi. Harta yang ditinggalkan oleh pewaris berupa:

Satu Unit Rumah 2 lantai ( Surabaya ), 1Unit Tanah seluas -+ 2ha di madura ,1 Unit Gudang Kayu ( Surabaya ) dan Uang sebesar 30 juta ( Surabaya )

Sekitar tahun 2008 Bapak Zayyin meninggal dunia dan pada saat itu anak pertamanya yang bernama Hidayat sudah berusia sekitar 20 tahun. Selain Hidayat, Bapak Zayyin juga meninggalkan istri dan beserta ke empat anak lainya yang bernama Rois, Aqila, Alfi dan Fuad. Karena pada waktu itu anak- anak dari Bapak Zayyin terbilang masih remaja dan masih belum ada yang bekerja maka semua anak Bapak Zayyin dirawat oleh Ibu Binti.

Sepeninggal Bapak Zayyin, Ibu Binti yang menjadi kepala keluarga sekaligus orang yang menafkahi ke lima anaknya dari Bapak Zayyin termasuk di antaranya adalah anak Bapak Zayyin dari pernikahannya yang pertama bernama Hidayat, baik biaya sekolah, kuliah ataupun kehidupan sehari-hari semua ditangungg oleh Ibu Binti selaku kepala keluarga karna

55

pada waktu itu anak-anaknya belum ada yang bekerja ataupun yang berumah tangga.

Pada saat Bapak Zayyin meniggal dunia, semua harta waris miliknya dikuasai oleh Ibu Binti. Harta peninggalan Bapak Zayyin ini berupa sebidang tanah yang terletak di Madura, satu rumah, satu gudang kayu yang selama ini menjadi ladang usaha Bapak Zayyin dan istrinya. Pada waktu itu anak-anak masih belum ada yang perotes atas penguasaan semua harta warisan oleh Ibu Binti karena Pada saat itu semuanya masih sekolah dan perlu biaya dari Ibu Binti. Sampai ketika pada tahun 2012, Hidayat yang merupakan anak tiri Ibu Binti telah berumah tangga dan meminta sebagian harta waris yang menjadi haknya tetapi Ibu Binti tidak memenuhinya karena selama ini Hidayat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bisa bersekolah karena biaya dari Ibu Binti.

Hidayat yang mendengar pernyataan dari Ibu tirinya tersebut merasa kecewa dan berniat akan melakukan tindakan hukum untuk menggugat Ibunya ke pengadilan agama, namun karena ketidak inginanya untuk memperpanjang masalah dikemudian hari dan juga karena merasa tidak enak untuk mempermasalahkan ibunya sendiri maka Hidayat membatalkan niatnya kemudian memasrahkan saja semua harta waris yang

56

telah dikuasai oleh Ibu tirinya itu. sekarang Hidayat telah pisah dari rumah Ibu tirinya dan Ia sekarng tinggal dan bekerja di daerah gersik.7

C. Akibat Pembagian Harta Waris di Kelurahan Pegirian Kecamatan Semampir Kota Surabaya

Tradisi masyarakat di Kelurahan Pegirian dalam proses pembagian harta waris, sebagian keluarga di Kelurahan Pegirian menekankan pada upaya untuk melakukan keadilan dan kerukunan antara para ahli waris dalam menerima bagiannya masing-masing, Kedilan tersebut yang sesuai dengan kaidah hukum islam8.

Akan tetapi tidak semua masyarakat mematuhi hal tersebut dikarenakan banyak alasan yang melatarbelakanginya, contohnya saja apa yang dialami oleh Hidayat yang merupakan bagaian dari masyarakat di Kelurahan Pegirian, ia tidak menerima haknya sebagai ahli waris dikarenakan selama ini dia dianggap numpang tempat tinggal dan sebagainya oleh Ibu tirinya dan ini menimbulkan akibat- akibat buruk diantaranya adalah retaknya hubungan anak dan Ibu tirinya yang selama ini hidup harmonis dan masyarakat yang tahu hal ini akan memandang bahwa Ibu tiri tadi tidak bisa berbuat adil pada anak-anaknya.9

7Ibid.

8Abdul Aziz,Wawancara,,, 06 juni 2016. 9Ibid.

BAB IV

ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PENGUASAAN HARTA WARIS OLEH IBU TIRI DI KELURAHAN PEGIRIAN

KECAMATAN SEMAMPIR KOTA SURABAYA

A. Analisis Kasus Penguasaan Harta Waris oleh Ibu Tiri

Harta Waris adalah sebutan terhadap harta pribadi yang ditinggalkan oleh seseorang yang meninggal dunia sesudah dikurangi utang-utangnya. Dalam hal orang yang meninggal dunia tersebut terikat dalam suatu perkawinan, maka harta peninggalannya mencakup harta asal dan sebagian harta bersama sesudah dikurangi utang-utangnya. Harta peninggalan sesudah dikurangi biaya penguburan, utang, dan wasiat dinamakan harta waris. Harta inilah yang secara nyata merupakan harta warisan dan akan diberikan terhadap

para ahli waris dari orang yang meninggal dunia itu.1

Pengertian harta waris menurut sekelompok ulama mencakup harta peninggalan sebelum dikurangi utang dan wasiat. Dalam tulisan ini, penulis mengartikan harta waris sebagai harta peninggalan sesudah dikurangi biaya penguburan, utang , wasiat dll.

Seperti pada kasus penguasaan harta waris yang terjadi di Kelurahan Pegirian Kecamatan Semampir Kota Surabaya. adapun faktor yang menjadi Alasan terjadinya penguasaan harta waris ini bermula ketika meninggalnya Bapak Muzayyin , dan harta waris dari Bapak Muzayyin ini kemudian dikuasai oleh salah satu ahli warisnya dan belum dibagikan sampai saat ini yaitu Ibu

58

Binti (istri Bapak Muzayyin). Padahal pembagian harta waris setelah meninggalnya pewaris seharusnya harus langsung dibagikan harta tersebut kepada ahli waris. Namun dalam kasus ini ahli waris lainya yakni anak-anak dari pewaris pada saat meningganya pewaris masih belum dewasa maka secara otomatis yang menjadi wali adalah Ibunya atau bagi dayat adalah Ibu tirinya

Pada bab III sudah dijelaskan bahwasannya Ibu Binti menguasai semua harta waris dengan alasan Semua kebutuhan hidup dari anak-anaknya ditanggungnya, namun di sini yang berat hati atas keputusan Ibu Binti adalah Dayat, karena Dayat sudah dinyatakan oleh Ibu Binti tidak akan menerima harta warisan dari pewaris, ini karena dayat bukanlah anak kandung Ibu Binti melainkan anak tiri, berbeda dengan saudara-saudara dayat yang seayah, mereka adalah anak kandung dari Ibu Binti, dan suatu saat harta warisan tersebut akan dibagikan kepadanya

Hal penguasaan yang terjadi itu karena Ibu Binti merasa apa yang di perbuat selama merawat , mengasuh dan mendidik dayat hinggga dewasa telah menghabiskan banyak waktu, tenaga maupun biaya yang harus di keluarkan oleh Ibu Binti, mulai dari kebutuhan makanan, sampai kebutuhan pendidikan, Ibu Binti yang mengurusi itu semua ketika dayat masih belum dewasa, jadi wajar ketika hak waris dayat telah di minta maka hak waris tersebut tidak diberikan kepada dayat.

Harta waris yang menjadi hak dari dayat ini tidaklah sedikit, jikalau dibandingkan dengan biaya -biaya yang selama ini dipakai oleh Ibu Binti

59

untuk merawat dayat , kemungkinan besar tidaklah habis karena biaya selama dayat hidup dan tinggal bersama dengan Ibu Binti, jika dihitung saat Bapak zayyin meninggal dunia sampai Dayat sudah dewasa dan berumah tangga yang kurang lebih selama lima tahun Dayat dalam pengampuan Ibu Binti

Tetapi apa yang dilakukan oleh Ibu Binti dalam mengasuh Dayat dari kecil hingga Dayat dewasa merupakan suatu hal yang baik dan perlu di apresiasi karena sebenarnya Ibu Binti tidaklah memiliki kewajiban untuk merawat Dayat karena bukan anak kandungnya sendiri dan yang sebenarnya berkewajiban merawat Dayat adalah pihak keluarga dari ayah kandung Dayat, namun demikian tidak ada yang mau mengasuh dan mendidik Dayat kecuali Ibu Binti.

Kemudian yang menjadi penyebab Ibu Binti tidak memberikan hak waris kepada Dayat itu karena yang di minta pada saat itu adalah sebagian dari gudang kayu yang merupakan ladang usaha Ibu Binti yang kalua diberikan sebagian kepada Dayat maka Ibu Binti akan kesulitan membaginya, disamping gudang kayu yang di minta oleh Dayat, rumah juga di minta oleh Dayat sedangkan jika rumah di bagi-bagikan sama rata juga akan sulit untuk membaginya karena rumahnya akan menjadi sempit dan perlu biaya yang banyak untuk merenovasinya sehingga menjadi kecil-kecil sesuai pembagianya masing-masing

Dari situ sudah bisa dilihat alasan Ibu Binti ketika tidak membagikan harta warisannya kepada Dayat adalah karena banyak factor dan menurut hrmat penulis alasan tersebut memang bisa dipahami sehingga wajar ketika

60

Ibu Binti tidak membagikanya kepada Dayat, di samping itu Dayat ketika berumah tangga sudah memiliki pekerjaan yang baik sehingga dia bisa hidup tanpa adanya harta warisan dari ayahnya dan ketika harta waris tersebut di bagikan kepada Dayat maka akan dikawatirkan timbul madharat yang lain karena yang dibagikan ini adalah berupa harta tidak bergerak yang berupa rumah sebagai tempat tinggal dan ladang usahanya Ibu Binti dalam menghidupi anak-anaknya yakni berupa gudang kayu.

B.Analisis Hukum Islam Terhadap Kasus Penguasaan Harta Waris Anak Oleh

Ibu Tiri

Hukum kewarisan Islam yang telah merinci bagian harta warisan yang harus diterima oleh ahli waris itu merupakan ketentuan yang menjadi pedoman bagi umat manusia dalam hal kewarisan. Umat Islam tidak perlu repot lagi dalam menentukan bagian ahli waris, karena dalam Islam sudah ada aturannya tersendiri.

Sebagaimana sudah dijelaskan dalam bab III, bahwa mayoritas penduduk Kelurahan Pegirian adalah beragama Islam. Oleh karena itu penduduk Kelurahan Pegirian menggunakan sistem hukum kewarisan Islam dalam membagikan warisan, tetapi ada juga sebagian warga yang tidak menggunakan sistem hukum kewarisan Islam. Dalam kasus ini ada perbedaan yang menonjol dalam hukum kewarisan Islam, yakni Bapak Muzayyin (pewaris) yang telah meninggal dunia dengan meninggalkan harta warisan

Dokumen terkait