BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.2 Besarnya Perbedaan Biaya Produksi Menurut
Perhitungan biaya produksi yang selama ini dilakukan oleh perusahaan adalah menggunakan perhitungan biaya produksi secara tradisional, yaitu menjumlahkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang dihitung berdasarkan volume penjualan atau jumlah unit produksi. Sementara itu dalam analisis perhitungan biaya produksi berdasarkan rumus yang sudah ditetapkan sesuai dengan metode analisis data juga dilakukan penjumlahan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
Ringkasan hasil perhitungan biaya produksi antara perhitungan menurut perusahaan dan hasil analisis yang digunakan dalam penelitian ini akan disajikan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 4.20
Perbandingan Harga Pokok Produksi Per Kg Keripik Tempe Cipto Roso Tahun Harga pokok produksi
Menurut Perusahaan
Harga pokok produksi
menurut analisis Selisih
2012 Rp.18.354,- Rp. 17.954,- Rp. 400,-
2013 Rp. 22.210,- Rp. 21.779,- Rp. 431,-
2014 Rp. 23.989,- Rp. 23.316,- Rp. 673,-
Sumber : Data yang telah diolah tahun 2016
Penentuan biaya produksi berdasarkan metode full costing menghasilkan harga pokok produksi keripik tempe tahun 2012 sebesar Rp. 17.954,-. Nilai rupiah sebesar Rp. 17.954,- dari harga pokok produksi berdasarkan metode full costing ini lebih rendah dibandingkan pada penetapan harga pokok yang biasa ditetapkan perusahaan yaitu sebesar Rp. 18.354,-. Selisih dari kedua harga (Rp. 18.354,-
29 dikurang Rp. 17.954,-) adalah sebesar Rp. 400,- selisih ini akan berdampak ke harga jual dan laba.
Penentuan biaya produksi berdasarkan metode full costing menghasilkan harga pokok produksi keripik tempe tahun 2013 sebesar Rp. 21.779,-. Nilai rupiah sebesar Rp. 21.779,- dari harga pokok produksi berdasarkan metode full costing ini lebih rendah dibandingkan pada penetapan harga pokok yang biasa ditetapkan yaitu sebesar Rp. 22.210,-. Selisih dari kedua harga (Rp. 22.210,- dikurang Rp.
21.779,-) adalah sebesar Rp. 431,-.
Penentuan biaya produksi berdasarkan metode full costing menghasilkan harga pokok produksi keripik tempe tahun 2014 sebesar Rp. 23.316,-. Nilai rupiah sebesar Rp. 23.316,- dari harga pokok produksi berdasarkan metode full costing ini lebih rendah dibandingkan pada penetapan harga pokok yang biasa ditetapkan yaitu sebesar Rp. 23.989,-. Selisih dari kedua harga (Rp. 23.989,- dikurang Rp.
23.316,-) adalah sebesar Rp. 673,-.
Perbedaan yang terjadi antara harga pokok produksi per unit menurut perusahaan dan menurut hasil analisis ini disebabkan karena pembebanan biaya produksi pada masing – masing biaya. Pada perhitungan menurut perusahaan, biaya produksi dihitung dengan menjumlahkan seluruh biaya menjadi satu.
Akibatnya, cenderung terjadi selisih pada pembebanan biaya produksi tersebut.
Begitu pula untuk perhitungan biaya produksi menurut analisis juga dijumlahkan secara keseluruhan tetapi tetap dibedakan antara biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Sehingga hasil perhitungan harga pokok produksi dapat dilihat hasilnya berbeda dengan hasil perhitungan harga pokok produksi menurut perusahaan.
Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa penetapan biaya produksi menurut perhitungan analisis pada kenyataanya lebih kecil dari perhitungan biaya produksi menurut perusahaan, perbedaan atau selisih biaya produksi menurut perusahaan dan menurut hasil analisis lumayan besar ini dapat dilihat pada tabel 4.20 dimana selisih harga pokok produksi tahun 2012 sebesar Rp. 17.954,- selisih pada tahun 2013 sebesar Rp. 21.779,- dan selisih pada tahun 2014 sebesar Rp.
23.316,-. Dalam penetuan biaya produksi Usaha Pengrajin Keripik Tempe Cipto Roso Megang Sakti menggunakan dasar pembebanan biaya produksi kepada produk atas dasar satuan produk. Dasar satuan produk merupakan metode yang langsung membebankan biaya produksi kepada produk, yaitu dengan cara membagi total biaya produksi dengan total satuan produk yang dihasilkan.
30 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan pada Usaha Pengrajin Keripik Tempe Cipto Roso Megang Sakti, maka peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Penentuan biaya produksi adalah dengan menjumlahkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Biaya produksi seharusnya pada Usaha Pengrajin Keripik Tempe Cipto Roso di tahun 2012 adalah sebesar 18.354/Kg dengan biaya bahan baku sebesar Rp.73.659.600,- biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp. 100.800.000,- biaya overhead pabrik sebesar Rp. 87.648.600,-, tahun 2013 sebesar 22.210/Kg dengan biaya bahan baku sebesar Rp.104.126.400,- biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp.
110.880.000,- biaya overhead pabrik sebesar Rp. 120.823.400,-, tahun 2014 sebesar 23.989/Kg dengan biaya bahan baku sebesar Rp.118.692.000,- biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp. 120.960.000,- biaya overhead pabrik sebesar Rp. 163.365.000,-. Perbedaan biaya produksi ini terjadi karena biaya overhead pabrik pada usaha pengrajin keripik tempe cipto roso megang sakti menghitung secara keseluruhan biaya overhead pabrik, hal ini mengakibatkan biaya produksi juga mengalami kenaikan dari yang seharusnya.
2. Perbedaan biaya produksi menurut perusahaan dengan hasil analisis tahun 2012 sebesar Rp. 400,- perkilogram, kemudian pada tahun 2013 sebesar Rp.
431,- perkilogram, dan tahun 2014 sebesar Rp. 673,- perkilogram, hal ini disebabkan oleh perusahaan tidak memperhitungkan seluruh biaya produksi terutama biaya overhead pabrik. Dalam penetuan biaya produksi Usaha Pengrajin Keripik Tempe Cipto Roso Megang Sakti menggunakan dasar pembebanan biaya produksi kepada produk atas dasar satuan produk. Dasar satuan produk merupakan metode yang langsung membebankan biaya produksi kepada produk, yaitu dengan cara membagi total biaya produksi dengan total satuan produk yang dihasilkan.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti dapat memberikan saran bagi Usaha Pengrajin Keripik Tempe Cipto Roso Megang Sakti yang dapat bermanfaat dimasa yang akan datang yaitu:
Pemilik usaha selaku penentu biaya produksi sebaiknya memilih metode yang tepat seperti metode full costing atau metode penentuan biaya produksi lainnya yang sesuai dengan teori akuntansi yang ada, sehingga penetapan biaya dapat dilakukan secara tepat agar penentuan biaya produksi dapat dihitung seminimal mungkin supaya harga yang dibebankan kepada konsumen tidak terlalu tinggi.
Dalam mengklasifikasikan biaya produksi, Usaha Pengrajin Keripik Tempe Cipto Roso Megang Sakti harus melakukan penilaian terhadap biaya – biaya perusahaan apakah biaya – biaya tersebut tepat untuk diklasifikasikan sebagai biaya produksi atau biaya perusahaan lainnya. Biaya – biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam kegiatan operasinya harus dipisahkan menurut aktivitas masing – masing bagian di perusahaan.