Zat besi adalah salah satu nutrient yang tidak dapat diperoleh dalam jumlah yang adekuat dan bermakna yang dikonsumsi selama masa kehamilan. Jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk kehamilan tunggal yang normal adalah sekitar 1000 mg, 350 mg untuk pertumbuhan janin dan plasenta, 450 mg untuk peningkatan massa sel darah merah ibu dan 200 mg untuk kehilangan basal (Bobak, 2004).
Zat besi berkaitan erat dengan anemia atau kekurangan sel darah merah sebagai adanya perubahan fisiologis selama kehamilan yang disebabkan oleh: (a) Meningkatnya kebutuhan zat besi untuk pertumbuhan janin
(b) Kurangnya asupan zat besi pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari (c) Adanya kecenderungan rendahnya cadangan zat besi pada wanita,
sehingga tidak mampu menyuplai kebutuhan zat besi dan mengembalikan persediaan darah yang hilang akibat persalinan sebelumnya.
Kelebihan zat besi jarang terjadi karena makanan, tetapi tidak dapat disebabkan oleh suplemen besi. Gejalanya adalah rasa mual, muntah, diare, denyut jantung meningkat, sakit kepala, mengigau dan pingsan (Almatsier, 2004).
2.4.2Fungsi zat besi
(a) Metabolisme energi
Didalam sel zat besi bekerja sama dengan rantai protein pengangkat electron, yang berperan dalam langkah-langkah akhir metabolisme energi. Menurunnya produktivitas kerja pada kekurangan zat besi disebabkan oleh dua hal, yaitu: berkurangnya enzim-enzim yang mengandung zat besi dan menurunnya hemoglobin darah. Akibatnya, metabolisme energi didalam otot terganggu dan terjadi penumpukan asam laktat yang menyebabkan rasa lelah.
(b) Sistem kekebalan
Zat besi memegang peranan penting dalam system kekebalan tubuh. Respon kekebalan sel oleh limfosit-T terganggu karena berkurangnya pembentukan sel-sel
(c) Pelarut obat-obatan
Obat-obatan yang tidak larut dalam air oleh enzim mengandung besi dapat dilarutkan hingga dapat dikeluarkan dari tubuh (Almatsier, 2004).
2.4.3Sumber zat besi
Sumber zat besi adalah makanan hewani, seperti daging, ayam dan ikan. Sumber lainnya telur, serelia tumbuk, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah. Pada umumnya zat besi didalam daging, ayam dan ikan mempunyai ketersediaan biologik tinggi, besi didalam serelia dan kacang-kacangan mempunyai ketersediaan biologik sedang, dan zat besi didalam
sayuran yang mengandung asam laktat tinggi seperti bayam mempunyai ketersediaan biologik rendah. Sebaiknya diperhatikan kombinasi makanan sehari-hari yang terdiri atas campuran sumber besi berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan serta sumber gizi lain yang dapat membantu absorbs (Almaitser, 2004)
2.4.4Zat besi untuk ibu hamil
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan pendarahan sebanyak 50 sampai 80 CC setiap bulan dan kehilangan zat besi 30 sampai 40 mg, disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan akan menjadi semakin anemis (Manuaba, 1998).
Pada setiap kehamilan kebutuhan zat besi yang diperlukan sebanyak 900 mg Fe yaitu meningkatnya sel darah ibu 500 mg Fe, terdapat dalam plasenta 300 mg Fe, dan untuk darah janin sebesar 100 mg Fe. Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan menguras Fe tubuh dan akhirnya akan menimbulkan anemia pada kehamilan (Manuaba, 1998). Kebutuhan zat besi setiap tri wulan pertama relative kecil, yaitu 0,8 mg perhari, namun meningkat dengan pesat selama triwulan kedua dan ketiga hingga 6,3 mg perhari. Sebagian dari peningkatan dapat dipengaruhi oleh simpanan zat besi dan peningkatan aditif presentase zat besi yang diserap, tetapi bila zat besi rendah atau tidak sama sekali, dan zat besi yang diserap
dari makanan sangat sedikit, maka suplemen zat besi sangat dibutuhkan pada masa kehamilan (Demayer, 1995).
Pada ibu hamil dan menyusui kebutuhan akan zat besi meningkat karena selain dibutuhkan oleh sang ibu, zat besi juga dibutuhkan oleh bayinya. Pada ibu hamil, zat besi juga dibutuhkan oleh plasenta dan janinnya. Apabila kebutuhan yang tinggi ini tidak dapat dipenuhi, maka kemungkinan terjadinya anemia defisiensi besi cukup besar. Kebutuhan zat besi tiap semester pada ibu hamil sebagai berikut:
Trimester I
Kebutuhan zat besi ± 5mg/hari (kehilangan basal 0,8 mg/hari) ditambah 30-40 mg untuk kebutuhan janin dan sel darah merah.
Trimester II
Kebutuhan zat besi ± 5mg/hari (kehilangan basal 0,8 mg/hari) ditambah 30mg dan coceptus 115mg.
Trimester III
Kebutuhan zat besi ± 5 mg/hari (kehilangan basal 0,8mg/hari) ditambah kebutuhan sel darah merah 150mg dan coceptus 223 mg.
Selama masa kehamilan minimal diberikan 90 tablet sampai 42 minggu setelah melahirkan, diberikan sejak pemeriksaan ibu pertama. Pemeberian zat besi untuk dosis pengobatan (bila Hb < 11g/dl) adalah 3x1 tablet per hari dan untuk dosis pencegahan 1x1 tablet per hari (wirakusumah, 2001).
2.4.5Akibat Kekurangan Zat Besi Pada Masa Kehamilan
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin dalam darah kurang dari normal yang berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin. Kadar normal hemoglobin dalam darah yaitu : anak balita 11 gr, anak usia sekolah 12 gr, wanita dewasa 12 gr, ibu hamil 11 gr, laki-laki 13 gr, ibu menyusui 12 gr (Depkes RI, 1999).
Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar.
Menurut manuaba (1998) anemia pada kehamilan dapat berakibat buruk pada ibu dan janin yang dikandung. Bahaya selama kehamilan adalah terjadi abortus, persalinan prematuritas, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi, ancaman dekompensasi kordis (Hb<6 gr%), mola hidatidosa, hiperemesis gravadarum, perdarahan antepertum, dan ketuban pecah dini (KPD). Dampak anemia pada bayi yaitu bayi lahir sebelum waktunya, berat badan lahir rendah, kematian bayi, serta meningkatnya angka kesakitan bayi (Depkes RI, 1999).
Wiknyosastro (1999) dalam Dina (2004) menyatakan bahwa kematian ibu dapat digolongkan pada kematian obstetrik langsung. Kematian obstetrik tidak langsung disebabkan oleh penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum kehamilan atau persalinan seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes millitus malaria dan anemia. Royston (1994) juga mengemukakan bahwa salah satu penyebab tidak langsung kematian ibu adalah penyakit yang mungkin telah terjadi sebelum kehamilan dan diperburuk oleh kehamilan ibu sendiri, penyakit tersebut antara lain adalah anemia.
2.4.6Upaya Pencegahan Dan Penanggulangan Kurang Besi Pada Ibu Hamil
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menganggulagi kurang zat besi pada ibu hamil menurut Depkes (1999) adalah :
1. Meningkatkan konsumsi zat besi dari sumber alami, terutama makanan sumber hewani yang mudah diserap seperti ikan, hati, daging. Selain itu perlu ditingkatkan juga makanan yang banyak mengandung vitamin C dan vitamin A (buah-buahan dan sayur-sayuran) untuk membantu zat besi dan membantu proses pembentukan Hb.
2. Fortifikasi bahan makanan, yaitu menambah zat besi asam folat, vitamin A, dan asam amino esensial pada bahan makanan yang dimakan secara luas oleh kelompok sasaran. Penambahan zat besi ini umumnya dilakukan pada bahan makanan hasil produksi industri pangan. Untuk mengetahui bahan makanan yang mengandung zat besi, dianjurkan membaca label pada kemasannya.
3. Suplementasi besi-folat secara rutin selama jangka waktu tertentu, bertujuan untuk meningkatkan kadar Hb secara cepat. Dengan demikian suplementasi zat besi hanya merupakan salah satu upaya cara pencegahan dan penanggulangan kurang besi yang perlu diikuti dengan cara lainnya. 2.5Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Mengkonsumsi Zat Besi Pada
Ibu Hamil
Kepatuhan mengkonsumsi tablet zat besi diukur dari ketepatan jumlah tablet yang dikonsumsi, ketepatan cara mengkonsumsi zat besi, frekuensi konsumsi per hari. Suplementasi besi atau pemberian tablet Fe merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah dan menanggulangi anemia, khususnya anemia kekurangan zat besi (Afnita, 2004).
Menurut Dinicola dan Dimatteo (1984), cara meningkatkan kepatuhan diantaranya melalui perilaku sehat dan pengontrolan perilaku dengan faktor kognitif, dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari anggota keluarga yang lain, teman, waktu dan uang maupun dukungan dari professional medis merupakan faktor yang penting dalam kepatuhan menjalani program-program medis. Tablet zat besi sebagai suplementasi yang diberikan pada ibu hamil menurut aturan harus dikonsumsi setiap hari. Namun karena berbagai alasan misalnya, pengetahuan, sikap, dan tindakan ibu hamil yang kurang baik, efek samping dari zat besi dan motivasi petugas kesehatan yang sering kali menjadi faktor ketidakpatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi zat besi. Hal ini dapat mengakibatkan tujuan dari pemberian zat besi tidak tercapai (Niven, 2002).