BAB II LANDASAN TEORI
A. PIA “Bethlehem”
1. Sejarah PIA “Bethlehem” sebagai salah satu Pelayanan Suster
Penyelenggaraan Ilahi (PI)
PIA “Bethlehem” dibentuk oleh Suster Penyelenggaraan Ilahi (PI) propinsi Indonesia. Kongregasi suster PI didirikan oleh Eduard Michelis di St. Mauritz Munster Jerman pada tanggal 3 November 1842. Eduard Michelis lahir pada tanggal 6 Februari 1813 di Muenster Jerman. Eduard Michelis merasa tergugah oleh keadaan anak-anak gadis yang memprihatinkan dari kalangan tak mampu yang menjadi yatim piatu. Ia mengumpulkan derma untuk memperoleh sebidang tanah dan membangun suatu rumah di St. Mauritz yang dapat menampung 20 anak gadis yatim piatu bersama para calon suster PI (Heuken, 1987: 48-49). Eduard Michelis bercita-cita membangun sebuah kongregasi suster yang bersedia mencurahkan seluruh tenaganya untuk mengasuh anak-anak yang paling miskin, kelaparan, kedinginan, bodoh, dan juga tidak mengenal kehangatan kasih sayang seorang ibu yang dilandasi oleh semangat cinta akan Kristus. Eduard Michelis memberi nama kongregasinya Penyelenggaraan Ilahi karena sejak
kecil ia senantiasa mengalami bimbingan Penyelenggaraan Ilahi. Iman Kepercayaan kepada Penyelenggaraan Ilahi inilah yang memberikan corak yang khas bagi pelayanan para Suster PI (Petra, 2009: 17). Eduard Michelis meninggal pada tanggal 8 Juni 1855 di Luxemburg. Cita-cita dan spiritualitas dari Eduard Michelis dilanjutkan oleh para suster Penyelenggaraan Ilahi hingga saat ini dalam seluruh pelayanannya.
Visi kongregasi Suster PI “Allah karena Kasih-Nya yang besar telah memanggil kita meskipun kita orang berdosa untuk mengikuti jejak PuteraNya Yesus Kristus, agar menurut teladannya kita hidup dengan kepercayaan yang tak terbatas akan Penyelenggaraan Bapa-Nya (Konstitusi PI no.1, 1982: 1). Misi Kongregasi Suster Penyelenggaraan Ilahi yaitu mewartakan kasih Sayang Allah kepada manusia serta memberi tanda-tanda harapan akan kedatangan Allah (konstitusi PI no. 1, 1982: 1).
Pada tahun 1895 enam suster PI diutus ke Brasilia Selatan untuk memulai pendidikan Katolik putera-puteri para imigran Jerman. Pada tahun 1906 pelayanan tersebut berkembang pesat sehingga terpisah menjadi propinsi dengan rumah induk di Florianapolis Brasil. Selain di Brasilia, suster-suster PI bekerja di Aruba, kota Curacao, Amerika Tengah (1955). Pada bulan Juni 1914 lima Suster berangkat ke Kamerun, Afrika Tengah untuk memberikan pelayanan di tingkat pendidikan dasar bagi puteri-puteri pribumi, namun dalam perang dunia I dihentikan setelah tentara Inggeris menduduki Kamerun sebagai salah satu koloni Jerman (November 1915). Para suster ditahan namun kemudian melalui Inggris dikembalikan ke
7
Jerman. Pada tahun 1960 beberapa suster PI sampai di Malawi Afrika untuk melayani masyarakat di sana. Misi ini berkembang dan diangkat menjadi regio sendiri pada tahun 1964.
Suster PI mulai memasuki wilayah Indonesia pada April 1934. Tujuh Suster dari komunitas Belanda mendarat di Tanjung Priok Jakarta dan langsung meneruskan perjalanan ke Bandung. Di Bandung mereka menyelenggarakan pendidikan untuk kelompok minoritas umat Tionghoa yang miskin dan terlantar. Pendidikan maupun kesehatan mereka belum mendapat perhatian pemerintah setempat. Pelayanan suster PI berkembang dari Bandung ke Semarang, Temanggung, Kudus, Solo, Kalimantan, Timor Barat, dan Papua. Hingga saat ini suster PI di Propinsi Indonesia memiliki 25 komunitas yang tersebar di Jawa, Kalimantan, Timor Barat, dan Papua. Bidang karya Pelayanan suster PI meliputi bidang pendidikan, kemasyarakatan dan pastoral. Bidang karya pelayanan pendidikan di bawah naungan Yayasan Penyelenggaraan Ilahi Indonesia (YPII) bertujuan mendampingi generasi muda untuk menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter dan beriman akan Penyelenggaraan Ilahi, yang mampu menjadi pribadi yang mau berbagi dan membela hidup (GBHP PI, 2008: 25). Bidang karya pelayanan kemasyarakatan di bawah naungan Yayasan Sosial Eduard Michelis (YSEM), dengan opsi pembelaan terhadap hidup manusia, terutama perempuan, kaum muda, dan anak (GBHP PI, 2008: 23). Karya pelayanan pastoral tergabung dalam kelompok Elisabeth Sarkamp, yang merupakan wujud tindakan bersama Allah untuk menjawab kebutuhan Gereja dengan
memberi kesaksian akan harapan Kristiani dan kasih Allah dalam melayani kaum miskin menurut semangat injil (GBHP PI, 2008: 32).
PIA “Bethlehem” merupakan salah satu perwujudan opsi karya pelayanan bidang kemasyarakatan di bawah naungan Yayasan Eduard Michelis (YSEM). Awal mula berdirinya PIA “Bethlehem” adalah tahun 1976, berangkat dari keprihatinan suster-suster PI pada anak dan perempuan yang terlantar serta termarginalkan. Hal ini searah dengan semangat awal Eduard Michelis, yang senantiasa ingin membantu kalangan tak mampu juga yatim piatu.
PIA “Bethlehem” secara resmi berdiri 1 Januari 1991 atas inisiatif Sr. Aloysia PI pada saat kepemimpinan Kongregasi Suster Penyelenggaraan Ilahi ditangani oleh Sr. Paula PI (Kronik PIA). PIA “Bethlehem” awalnya bertempat di Balai Pengobatan/Rumah Bersalin Soegiyopranoto (BP/RB) dan pada tahun 1997 pindah di bagian belakang komunitas Theresianum. Penasehat PIA “Bethlehem” Sr. Petra Bade PI yang tinggal di komunitas Theresianum Bongsari Semarang. PIA “Bethlehem” awalnya sebagai proyek komunitas Theresianum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat yang kemudian berkembang dan akhirnya berdiri sendiri di bawah naungan Yayasan Sosial Eduard Michelis (YSEM). Pada Garis Besar Haluan Propinsi Indonesia (GBHP), Tarekat Para Suster Penyelenggaraan Ilahi masa Bakti 1997 – 2001 halaman 35, tertulis “agar PIA menjadi unit karya tersendiri dari yayasan kemasyarakatan.” Sejak tahun 1991 PIA “Bethlehem” mengalami lima kali pergantian kepemimpinan yaitu :
9
a. Januari 1991–1 November 1991 : Sr. Aloysia PI. b. 2 November 1991- Mei 1997 : Sr. Dominika PI. c. Mei 1997- Juni 2006 : Sr. Bernardin PI. d. 20 Juni 2006- Juli 2009 : Sr. Yudith PI.
e. Juli 2009 - 2010 : Sr. Stanislas PI .
Lokasi tempat pendampingan berada di kompleks susteran PI. Kompleks tersebut terdiri dari tiga bagian yaitu BP/RB Soegijopranoto, Komunitas Pondok Harapan dan Komunitas Theresianum. PIA terdiri dari beberapa ruangan yaitu empat kamar tidur dengan dua tempat tidur untuk klien, satu ruang untuk bayi, ruang TV, ruang makan, dapur, gudang, empat kamar mandi, ruang cuci, satu kamar tidur karyawan, ruang kantor/administrasi.
2. Visi dan Misi PIA “Bethlehem”
Visi PIA “Bethlehem” yaitu “satu hati membela hidup.” Visi
tersebut memiliki arti PIA “Bethlehem” secara bersama melakukan pembelaan hidup dengan menyelamatkan janin yang hendak digugurkan serta hidup perempuan yang mengalami kehamilan di luar nikah. Misi PIA “Bethlehem” adalah “memperjuangkan hak dan menghargai martabat perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan serta anak yang dilahirkannya.” Visi dan misi PIA “Bethlehem” mendorong para Suster PI untuk mendampingi para perempuan tersebut mengatasi tantangan dan situasi sulit sehingga mereka mampu menata hidupnya kembali.
3. Bentuk dan Tujuan PIA “Bethlehem”.
Bentuk organisasi PIA “Bethlehem” merupakan sebuah lembaga sosial yaitu sebuah lembaga yang didirikan Suster Penyelenggaraan Ilahi dan bertujuan untuk pelayanan sosial bagi masyarakat. Jadi PIA “Bethlehem” merupakan lembaga non profit yang tidak berorientasi pada laba.
Penetapan tujuan penting untuk membantu sebuah organisasi maupun individu memfokuskan ke arah tindakan dan pencapaian visi dan misi. Tujuan dapat membantu individu maupun organisasi untuk menentukan apa yang harus dilakukan di sini dan sekarang (Gould, 2006: 270). PIA “Bethlehem” didirikan dengan tujuan untuk menanggapi kebutuhan masyarakat khususnya perempuan dan anak yang membutuhkan perlindungan. Penetapan tujuan dilaksanakan searah dengan kharisma dan spiritualitas Suster PI yaitu memberi kesaksian akan harapan Kristiani serta kasih Tuhan kepada sesama manusia (Konstitusi Suster PI no. 1, 1982: 6).
4. PIA “Bethlehem” dalam Konteks Pelayanan Suster Penyelenggaraan
Ilahi Masa Sekarang
PIA menempati bagian belakang komunitas Theresianum. Hal ini diharapkan supaya perempuan yang tinggal di sana mendapat perlindungan khusus. Perlindungan khusus maksudnya agar para penghuni PIA dapat menenangkan diri dan tidak banyak berjumpa dengan orang lain untuk sementara waktu. Situasi tersebut diharapkan mereka dapat berproses dengan
11
dirinya sendiri dan mampu mengelola emosi yang sedang dialaminya, agar tidak hanyut dengan masalah yang dihadapi dan mencoba untuk menata kembali hidupnya. Di samping itu mereka juga sedang menarik diri dari perjumpaan dengan orang lain karena keberadaan mereka di PIA dimaksudkan untuk mengamankan diri sementara waktu, sehingga dapat melahirkan dengan selamat.
Pada umumnya mereka mulai masuk dan tinggal di PIA pada usia kehamilan enam bulan ke atas dan kembali ke keluarga setelah dua minggu hingga satu bulan setelah melahirkan. Mereka tinggal di PIA “Bethlehem”, rata-rata sekitar satu bulan hingga empat bulan. Dalam kurun waktu tersebut mereka setiap hari mengikuti jadwal kegiatan yang diselenggarakan di PIA. Namun jika terjadi kasus tertentu, pemimpin PIA memberikan kebijaksanaan tersendiri sehingga mereka dapat tinggal lebih lama dari ketentuan tersebut, misalnya karena keluarga masih belum dapat menerima kenyataan anaknya telah melahirkan bayi di luar perkawinan, sehingga masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan keluarga.
PIA menetapkan peraturan untuk jam istirahat yaitu bangun pagi jam 05.00 WIB dan tidur maksimal 21.00 WIB serta istirahat siang selama satu sampai dua jam. Pengaturan jam istirahat bertujuan agar mereka mendapat istirahat yang cukup untuk kesehatan janin dan diri mereka, sehingga proses kelahiran diharapkan dapat berjalan dengan lancar dan normal tanpa operasi.
Dalam konteks pelayanan suster-suster PI keberadaan PIA yang bertujuan memotivasi penghuninya untuk dapat menghadapi hidup dengan penuh optimisme berarti dalam program-program yang diselenggarakan mencakup ketiga karya pelayanan suster PI yaitu pelayanan pendidikan, kemasyarakatan dan pastoral. Program pembinaan di PIA menumbuhkan penghuninya untuk menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter dan beriman akan Penyelenggaraan Ilahi, yang mampu menjadi pribadi yang mau berbagi dan membela hidup (GBHP PI, 2008: 25). Program pembinaan di PIA mewujudkan opsi pembelaan terhadap hidup manusia, terutama perempuan, kaum muda, dan anak karena pelayanan di sana secara khusus memang diperuntukkan bagi mereka (GBHP PI, 2008: 23). Karya pelayanan pastoral dalam pelaksanaan di PIA juga merupakan wujud tindakan bersama Allah untuk menjawab kebutuhan Gereja dengan memberi kesaksian akan harapan Kristiani dan kasih Allah dalam melayani kaum miskin menurut semangat injil (GBHP PI, 2008: 32).
13
5. Latar Belakang Penghuni PIA “Bethlehem” Tahun 1998-2010
Berikut ini kami tampilkan data klien PIA MATRIKS 2.1
DATA KLIEN PIA BETHLEHEM 1998-2010 T A H U N J U M L A H UMUR PENDIDIKAN 13-18 Remaja 19-24 Dewasa 25-30 Dewasa > 30 Dewasa SD SMP SMA MHSW 1998 14 3 6 4 1 1999 14 6 3 5 0 2 3 4 5 2000 22 2 11 6 3 4 3 5 10 2001 14 1 9 2 2 3 3 4 4 2002 19 3 13 1 2 2 4 7 6 2003 18 3 8 4 3 3 4 6 5 2004 17 4 8 4 1 2 3 6 6 2005 17 3 11 3 0 2 4 7 4 2006 12 4 5 2 1 2 2 4 4 2007 18 6 5 4 3 5 4 5 4 2008 17 4 5 7 1 4 2 7 4 2009 26 9 13 3 1 0 2 2 22 2010 18 2 15 0 1 0 0 5 13 Total 226 50 113 45 19 29 34 62 87
Berdasarkan data tersebut di atas, dalam rentang waktu tahun 1998 – Juni 2010 ada beberapa hal yang menurut peneliti perlu dicermati yaitu :
a. Jumlah tertinggi yang tinggal di PIA usia 19-24 tahun berjumlah 113 orang, usia tersebut termasuk dalam kategori dewasa awal (Hurlock, 2004: 246).
b. Penghuni PIA yang berlatar belakang pendidikan sebagai mahasiswa berjumlah 86 orang.
c. Peringkat tertinggi jumlah penghuni PIA terjadi pada tahun 2009 dengan masuknya 26 perempuan hamil di luar .
d. Pada tahun 2010 terbuka kemungkinan mengalami peningkatan jumlah penghuninya, sebab terlihat hingga bulan Juni 2010 sudah mencapai jumlah 18 orang.
Penghuni yang termasuk remaja awal yang tinggal di PIA
menceritakan bahwa kehamilannya terjadi karena:
a. Dijebak oleh teman-temannya, hingga ia mengalami kehamilan dengan pemuda yang baru dikenalnya. Perasaan awal saat ia mengetahui hamil merasa sedih, bingung, takut, cemas, dan malu. Pikiran yang muncul dalam dirinya saat mengetahui hamil yaitu harus mencari jalan keluar yang terbaik, harus membicarakan hal ini dengan orang tua, orang tua saya pasti sangat marah dan sedih mendengar semua ini, jalan apa yang harus kutempuh semua ini salah teman-temanku. Awalnya ia berniat menggugurkan kandungannya, namun tidak berhasil.
Dalam kebingungannya ia menceritakan kepada ibunya tempat ia berbagi kesulitan yang kemudian mengantarnya untuk tinggal
15
sementara di PIA. Ibu dan anak ini tidak memberitahu situasinya kepada ayahnya dengan pertimbangan ayahnya sering bertindak nekat.
b. Diminta pasangannya untuk membuktikan cintanya, sehingga akhirnya ia terjatuh pada permintaan tersebut. Namun setelah mengetahui kehamilannya keluarga dari pihak perempuan maupun laki-laki memutuskan untuk tidak menikahkan pasangan tersebut karena mereka dianggap masih terlalu muda supaya dapat melanjutkan studi mereka. Bayi yang dikandung dirawat oleh orang tua perempuan. Perasaan marah, sedih dan malu menghantuinya saat mengetahui kehamilannya. Pikiran yang muncul apakah bayi ini dapat selamat dan sehat, teman-temanku akan menghina aku. Ia sering menangis seorang diri, melamun, dan mengkonsumsi makanan yang dapat menyebabkan keguguran (seperti nanas muda).
c. Salah satu remaja yang masih duduk di kelas dua SMU juga mengatakan merasa ditipu oleh kekasihnya yang sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di luar kota yang ternyata juga menjalin hubungan dengan teman-temannya. Semula dia menuntut tanggung jawab dari pasangan tapi setelah mengetahui perilaku pasangannya ia memilih untuk merawat anaknya sendiri.
Perasaan bersalah, sedih, bingung, dan marah muncul dalam dirinya saat mengetahui hamil. Pikiran ingin mengakhiri hidup muncul saat teman prianya tidak bersedia bertanggungjawab. Awalnya setelah mengetahui kehamilannya ia mengurung diri, menangis, melamun dan
berusaha untuk menggugurkan kandungannya dengan berbagai cara. Ia juga pernah mencoba ke dokter untuk menggugurkan kandungan namun dokter menolak. Ia mendapat informasi dari PKBI tentang PIA “Bethlehem.”
Ketiga remaja tersebut mengalami kehamilan di usia muda, sehingga kemungkinan mengalami resiko komplikasi dapat terjadi pada ibu dan anak seperti anemia, preeklamsia, eklamsia, abortus, partus prematurus, kematian perinatal, perdarahan dan tindakan operatif obstetri (Kadek, 2007: 139).
Pada perempuan dewasa awal (karyawati) masalah yang dihadapi dikarenakan pasangannya sudah berkeluarga, walaupun pihak laki-laki bersedia bertanggungjawab namun pihak keluarga perempuan tidak menerima jika putrinya itu menjadi istri kedua (Anton, 2009: 6). Kasus lain karena ada masalah perbedaan keyakinan sehingga keluarga tidak merestui, maka ia harus menanggung kehamilannya seorang diri. Permasalahan yang sering terjadi pasangan tidak bersedia bertanggung jawab dan meninggalkan begitu saja serta tidak terlacak keberadaannya. Mereka harus berjuang untuk melahirkan dan membesarkan anaknya seorang diri.
Berdasarkan kasus-kasus di atas perempuan-perempuan yang tinggal di PIA diliputi emosi negatif. Perasaan kehilangan ditinggalkan pasangannya, kehilangan harga diri, sedih, malu, marah, tidak berdaya, dan perasaan bersalah pada diri sendiri dan orang tua. Pikiran tentang masa depannya telah hancur, semua orang membenci dan menganggap hina karena
17
telah melanggar norma agama dan masyarakat menghantui hidupnya (Videbeck, 2008: 221). Tindakan yang ditempuh dengan menggugurkan kandungan karena adanya janin dianggap sebagai sumber bencana, menangis, melamun dan menyakiti diri sendiri.
6. Program Pembinaan di PIA “Bethlehem”.
Suatu organisasi tanpa adanya suatu program yang terencana akan beroperasi secara instingtif sehingga mudah kehilangan arah (Anggoro, 2005: 73). Program merupakan kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang (Arikunto, 2008: 4). Pembinaan merupakan usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2000: 117). Pembinaan merupakan rangkaian upaya pengendalian secara profesional terhadap semua unsur organisasi agar unsur-unsur tersebut berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara berdaya guna (Sudjana, 2000: 223 ).
PIA “Bethlehem” memiliki program pembinaan yang disusun oleh pemimpin PIA dan dirancang sesuai dengan kebutuhan perempuan hamil di luar nikah yang tinggal sementara di tempat tersebut. Program pembinaan di PIA “Bethlehem” merupakan serangkaian kegiatan dari kebijakan karya pelayanan suster PI yang merupakan proses berkesinambungan serta
melibatkan para penghuni dan pendamping. Program pembinaan bertujuan untuk membantu perempuan hamil di luar nikah tetap memiliki pengharapan dan pikiran yang jernih untuk menerima realita hidupnya dan merencanakan masa depannya. Tujuan tersebut sesuai dengan prinsip bimbingan yaitu supaya seseorang mampu mengatur kehidupannya dalam menghadapi situasi hidupnya secara bijaksana secara sadar dan bebas untuk membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dalam menentukan masa depannya (Winkel & Hastuti, 2004: 29-34). Kegiatan ini diharapkan agar pendamping menemani perempuan hamil di luar nikah secara berdaya guna sehingga mereka mampu mengelola emosi-emosi mereka yang mayoritas masuk ke PIA diliputi oleh emosi negatif
a. Program Pembinaan Harian
Merupakan program yang dilaksanakan setiap hari baik secara individu maupun kelompok atau bersama-sama.
1) Memasak bersama
Memasak dapat menjadi kegiatan yang tidak sekedar tugas rutin namun dapat menghubungkan seseorang dengan apa yang dimakan, dari mana bahan makanan diperoleh, bagaimana cita rasa bekerja, dan apa dampaknya terhadap kesehatan (Honore, 2006: 72). Memasak bersama mendorong mereka memiliki tanggungjawab sebagai seorang “calon ibu”. Berjumpa dengan calon ibu lainnya supaya tidak merasa “sendirian” dengan kondisi hamil di luar nikah. Memasak bersama
19
mampu mengembangkan ketrampilan bekerjasama dengan orang lain, menumbuhkan sikap saling menghargai, dan membangun hubungan dengan orang lain secara efektif, bertanggungjawab pada tugas yang diberikan, bersedia berbagi dengan orang lain, serta mampu bersikap terbuka.
2) Merawat bayi
Merawat bayi membantu mereka berproses untuk menerima, mencintai dan merawat janin maupun bayi yang akan dilahirkannya. Merawat bayi mampu menumbuhkan perasaan cinta dan empati pada janin yang sedang dikandung. Keterlibatan mereka dalam merawat bayi yang ditinggal ataupun dititipkan menyentuh hati mereka akan perasaan belas kasih pada bayi yang terlantar dan kurang kasih sayang dari orang tua. Program merawat bayi memberi ketrampilan tentang cara menyusui dan memberi ASI, cara menggendong, perawatan tubuh bayi, memandikan dan mengganti popok, imunisasi maupun cara menangani bayi yang sedang sakit. Menggendong bayi pada kedua tangan, menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara pernapasan dan gerakan sehingga kegiatan ini memampukan mereka untuk bernafas secara penuh yang memperlancar aliran darah yang membuat mereka lebih menyadari tubuhnya (Segal, 2001: 79).
3) Membaca buku
Membaca buku dapat mendorong mereka menemukan makna hidup, mengelola emosinya, sehingga dapat bersikap optimis dalam
menjalani hidup selanjutnya. Membaca buku membantu mereka untuk menemukan kedalaman makna dan tujuan hidup yang baru dengan semakin memiliki kesadaran diri dan sikap optimis menghadapi hidup selanjutnya. Kesadaran diri yang dikembangkan melalui kegiatan ini yaitu kemampuan untuk berefleksi, mampu mengenali emosi-emosi dalam diri sehingga mampu mengelolanya, dan semakin mengenal dirinya sendiri. Sikap optimis juga ditumbuhkan sehingga mampu menggerakkan mereka untuk memotivasi diri dan membangun kembali kehidupannya dengan penuh pengharapan sehingga mereka mengalami perubahan dari perasaan negatif berangsur-angsur berubah menjadi perasaan positif. Membaca buku dapat membantu mereka memperoleh pemahaman lebih baik tentang dirinya, orang lain dan persoalan sehari-hari serta membantu mereka terbebas dari tekanan emosional. Membaca buku dapat menjadi cara yang efektif untuk memfasilitasi wawasan dan perubahan perasaan, pikiran dan perilaku dalam diri (Mc. Leod, 2006: 497)
4) Berdoa pribadi
Berdoa pribadi sesuai kepercayaan masing-masing diharapkan dalam keheningan secara pribadi mereka mampu memiliki kedekatan relasi dengan Tuhan yang Maha Rahim sehingga dapat memiliki kejernihan pikiran bahwa mereka dicintai Tuhan dan emosi–emosi yang mendorong mereka menghadapi kesulitan dengan optimis dan penuh
21
harapan. Melalui perjumpaan dengan Tuhan yang penuh kasih mereka juga dapat membuka hati untuk mengampuni diri sendiri dan orang-orang yang telah mengkhianati dan menyebabkan mereka luka hati. Relasi dengan Tuhan membantu mereka dapat mengampuni diri sendiri dan orang yang telah menyakiti hati mereka. Dalam doa orang membuka hatinya akan Allah dan sesama, karenanya doa bukan untuk menyalahkan atau mengutuk orang lain, sebaliknya doa menjadikan individu semakin memiliki keterbukaan kasih (Krispurwana, 2010: 231).
5) Jalan-jalan pagi
Jalan-jalan pagi tanpa alas kaki dilakukan bersama teman sambil membawa bayi di kereta dorong di halaman kompleks. Aktifitas tersebut mampu mengembangkan hubungan dengan orang lain secara efektif, bersikap terbuka untuk saling berbagi perasaan sehingga memperkuat pengalaman hidup. Olah raga jalan kaki pada pagi hari bermanfaat meningkatkan sirkulasi darah, menyehatkan pembuluh jantung, mengurangi stress fisik maupun psikis, meningkatkan energi, meningkatkan kualitas tidur bagi ibu hamil dan meningkatkan kesadaran emosi yaitu kemampuan mengidentifikasi perasaan, pikiran maupun perilaku yang dialami (Nurheti, 2010: 17-19).
6) Rekreasi bersama
Rekreasi bersama bagi para perempuan yang tinggal di PIA bersama karyawati bertujuan membantu mereka bersosialisasi, saling
mengenal lebih dalam dan mengalami kegembiraan sehingga dapat mengalami relaksasi. Rekreasi pada dasarnya merupakan hiburan atau sesuatu yang dilakukan untuk menyenangkan hati (Dedi, 2000: 27). Rekreasi yang dilakukan tiap hari sekitar tiga puluh menit atau satu jam merupakan rekreasi ringan yaitu menonton TV atau bermain bersama (main kartu, halma, ludo, ular tangga). Rekreasi bersama sebagai sarana hiburan agar mengurangi kesedihan mereka, namun dapat bergembira bersama teman-teman. Rekreasi bersama tidak diwajibkan hal ini karena bersifat sukarela dengan menghargai situasi hati dan kondisi kesehatan masing-masing.
b. Program pembinaan Berkala
Program berkala dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu yaitu satu minggu sekali, dua minggu sekali bahkan hanya satu kali saat tinggal di PIA “Bethlehem.”
1) Senam hamil
Senam hamil merupakan sarana olah raga untuk menjaga kesehatan janin dan ibu. Senam hamil membantu calon ibu mempersiapkan diri secara fisik maupun mental untuk persalinan cepat dan spontan (Lily, 2009: 55-59). Hal-hal yang dilakukan dalam senam hamil:
a) Menguasai teknik pernapasan supaya ibu siap menghadapi persalinan dan mengurangi kecemasan.
23
b) Memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut sehingga dapat mencegah rasa nyeri
c) Melatih sikap tubuh selama hamil sehingga mengurangi keluhan yang timbul akibat perubahan bentuk tubuh.
d) Melatih relaksasi sempurna dengan latihan kontraksi dan relaksasi