• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Biaya dan Pendapatan Dalam Usaha Peternakan Ayam Potong

Biaya usaha tani diklasifikasikan menjadi dua biaya tetap (fixed cost) adalah biaya relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Jadi besarnya biaya tetap ini tidak bergantung pada besar kecilnya poduksi, contohnya pajak. Biaya variabel (variabel cost) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh, contohnya biaya untuk sarana produksi (Soekartawi, 1995).

Biaya tetap adalah biaya yang tidak bergantung pada kesibukan perusahaan atau dengan perkataan lain biaya yang tidak bergantung pada penggunaan kapasitas perusahaan, jadi tetap atau manfaat biaya ini tidak berubah oleh adanya perubahan-perubahan pada kapasitas perusahaan atau pabrik. Biaya variabel (biaya perubah) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor yang dapat berubah mengikuti besar kecilnya produksi dengan berbagai cara (Bambang dan Kartasapoetra, 1992).

16

Besarnya biaya yang dikeluarkan peternak dalam suatu usaha peternakannya tergantung pada beberapa hal, yaitu:

a) Biaya yang dikeluarkan dengan bergantung pada jenis ternak. b) Biaya yang dikeluarkan tergantung pada besar kecilnya usaha peternakan. c) Biaya yang dikeluarkan tergantung pada kemampuan manajemen dan administrasi peternakan (Rasyaf, 1996).

Swastha dan Sukotjo (1993) menyatakan bahwa biaya produksi terbagi atas tiga yaitu:

a) Biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah disebabkan oleh adanya perubahan jumlah hasil. Apabila jumlah barang yang dihasilkan bertambah maka biaya variabelnya juga akan meningkat. 2) Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah-ubah (konstan) untuk setiap tingkatan/sejumlah hasil yang diproduksi. 3) Biaya total adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan atau dengan kata lain merupakan jumlah dari biaya variabel dan biaya tetap.

Pengertian pendapatan dalam suatu usaha ada dua macam, yaitu pendapatan kotor dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor yaitu keseluruhan hasil nilai uang dari hasil usaha. Pendapatan bersih yaitu jumlah pendapatan dikurangi dengan biaya atau keseluruhan korbanan atau merupakan selisih antara biaya produksi dengan harga pokok yang dikalikan dengan jumlah produk usaha (Prawirokusumo, 1990).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa ada beberapa pembagian tentang income atau pendapatan yaitu gross dan net income. Gross income atau permintaan adalah

17

pendapatan usaha yang belum dideduksi dengan biaya. Sedangkan net income adalah pendapatan setelah dikurangi biaya. Gross income dapat dibagi kedalam bentuk cash dan non cash. Bentuk cash berasal dari penjualan hasil produk atau output, sedangkan non cash dapat berupa produk atau output yang dikonsumsi langsung atau ditukar dengan komoditi lain atau dapat berupa barang atau servis, serta hasil usaha yang ditimbun.

Peneriamaan adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Sedangkan pendapatan (keuntungan) adalah selisih antara penerimaan dengan semua biaya dengan rumus π = TR – TC dimana π adalah pendapatan, TR adalah total penerimaan dan TC adalah total biaya. Selanjutnya dikatakan bahwa penerimaan diperoleh dari produksi fisik dikalikan dengan harga produksi. Total pendapatan bersih diperoleh dari total penerimaan dikurangi dengan biaya dalam suatu produksi (Soekartawi, 1995).

Jumlah produk yang dijual dikalikan dengan harga yang ditawarkan merupakan jumlah uang yang diterima merupakan ganti produk peternakan yang dijual. Inilah yang dinamakan dengan penerimaan (Rasyaf, 1998).

Penerimaan adalah nilai produksi yang dihasilkan dari suatu usaha. Jumlah penerimaan dari suatu proses produksi dapat ditentukan dengan mengalikan jumlah produksi yang dihasilkan dengan harga produksi tersebut (Riyanto, 1991).

2.7 Peluang Usaha Peternakan Ayam Potong

Keadaan ekonomi inividu yang terus membaik dan adanya tingkat kesadaran masyarakat akan arti pentingnya memelihara kesehatan tubuh melalui asupan makanan bergizi merupakan dua faktor utama penyebab terjadinya

18

peningkatan jumlah permintaan konsumen terhadap daging ayam potong (broiler) akhir-akhir ini. Sejalan dengan hal itu mendorong peternak ayam potong meningkatkan terus kapasitas usahanya sehingga akan dapat memenuhi permintaan pasar akan daging ayam potong yang berkualitas baik. Sampai saat ini belum semua permintaan pasar akan daging ayam potong dapat dipenuhi. Terbuka peluang yang cukup besar untuk mengusahakan atau beternak ayam broiler komersial.

Usaha peternakan ayam potong atau sering disebut dengan ayam broiler komesial merupakan usaha yang sangat menguntungkan. Dalam perhitungan di atas kertas, usaha ternak ayam broiler komersial menjanjikan perputaran modal yang relatif cukup cepat (35-40 hari). Dapat dibayangkan dalam waktu kurang dari satu setengah bulan ayam broiler modern telah dapat dipanen. Artinya dalam kurun waktu kurang dari satu setengah bulan peternak ayam broiler komersial telah dapat mengantongi keuntungan dari usaha peternakannya.

Beternak ayam broiler komersial ada yang sudah memanen usahanya itu dalam waktu kurang dari setengah bulan, khususnya untuk memproduksi daging dari ayam broiler dengan kisaran berat 1,7 kilogram. Pemanenan ternak ayam broiler komersial pada umur 30 – 35 hari sering disebut produksi ‘ayam kecil’.

Ayam jenis ini biasanya dipelihara di area panas atau dekat dengan kota besar.

Langkah ini ditempuh atau dipilih peternak untuk memenuhi tuntutan kebutuhan akan daging ayam broiler dengan waktu relatif singkat.

Selain produksi ‘ayam kecil’, di pasaran beredar pula ‘ayam besar’

dengan kisaran berat antara 2 – 2,5 kilogram. Yama broiler yang demikian ini

19

dipanen pada umur pemeliharaan dalam kandang sekitar 40 hari. Produsen ayam besar dilakukan atau dipelihara dalam kandang di area sejuk atau dingin.

Tingkat kecepatan dalam produksi pada ayam broiler sangat ditentukan oleh faktor genetis yang terdapat pada diri ayam broiler tersebut. Fakor genetis tersebut dikondisikan mealui penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para pakar unggas secara terus-menurus dan berkesinambungan. Para ahli terus-menurus melakukan perbaikan genetis untuk menghasilkan bibit ayam broiler komersial yang semakin unggul. Setiap tahun, bisa dikatakan pencapaian pertumbuhan broiler secara genetis maju 1 hari. Sebagai gambarannya, dalam 50 tahun terakhir laju pertumbuhan broiler maju 50 hari untuk mencapai bobot badan yang sama.

Dilihat dengan menggunakan kaca mata ekonomi beternak ayam terutama ayam broiler skala komersial nyata-nyata memberikan banyak keuntungan secara finansial dan bisa menjadi tambatan mencari nafkah. Selain itu, beternak ayam mengandung kearifan lokal diantaranya untuk memenuhi kebutuhan khalayak luas akan protein hewani; dapat menyerap tenaga kerja lokal, mulai dari pembangunan kandang, pemeliharaan/pembesaran ternak, sampai tahap pemanenan hasil dan penanganan pasca panen, membangun kerjasama sinergis dengan petani yang menghasilkan sekam(padi) dan tanaman keras seperti kayu, bambu, dan lain-lain untuk pembuatan kandang ayam, kotoran ayam dapat digunakan sebagai pupuk kandang tanaman budidaya oleh petani, dan lain-lain.

Secara kualitatif dapat dinyatakan bahwa hingga saat ini kebutuhan akan daging ayam broiler sebagai sumber bahan makanan yang kaya zat protein terus mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan

20

kenaikan taraf ekonomi masyarakat. Dengan demikian usaha di bidang ternak ayam broiler penghasil daging memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan dan akan menghasilkan keuntungan finansial bagi peternak.

2.8 Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah analisis korelasi adalah merupakan teknik analisis yang termasuk dalam salah satu teknik pengukuran asosiasi/hubungan (measures of association). Pengukuran asosiasi merupakan istilah umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam statistik bivariat yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel. Pengukuran asosiasi mengenakan nilai numerik untuk mengetahui tingkatan asosiasi atau kekuatan hubungan antara variabel. Dua variabel dikatakan berasosiasi jika perilaku variabel yang satu mempengaruhi variabel yang lain. Jika tidak terjadi pengaruh, maka kedua variabel tersebut disebut independen.

Korelasi bermanfaat untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel (kadang lebih dari dua variabel) dengan skala-skala tertentu. Kuat lemah hubungan diukur menggunakan jarak (range) 0 sampai dengan 1. Korelasi mempunyai kemungkinan pengujian hipotesis dua arah (two tailed). Korelasi searah jika nilai koefesien korelasi diketemukan positif; sebaliknya jika nilai koefesien korelasi negatif, korelasi disebut tidak searah. Yang dimaksud dengan koefesien korelasi ialah suatu pengukuran statistik kovariasi atau asosiasi antara dua variabel. Jika koefesien korelasi diketemukan tidak sama dengan nol (0), maka terdapat hubungan antara dua variabel tersebut. Jika koefesien korelasi diketemukan +1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna

21

dengan kemiringan (slope) positif. Sebaliknya. jika koefesien korelasi diketemukan -1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) negatif.

Dalam korelasi sempurna tidak diperlukan lagi pengujian hipotesis mengenai signifikansi antar variabel yang dikorelasikan, karena kedua variabel mempunyai hubungan linear yang sempurna. Artinya variabel X mempunyai hubungan sangat kuat dengan variabel Y. Jika korelasi sama dengan nol (0), maka tidak terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut.

Korelasi mempunyai karakteristik-karakteristik diantaranya:

Kisaran Korelasi : Kisaran (range) korelasi mulai dari 0 sampai dengan 1.

Korelasi dapat positif dan dapat pula negatif.

Korelasi = ( 0 ) : Korelasi sama dengan 0 mempunyai arti tidak ada hubungan antara dua variabel.

Korelasi = ( + 1 ) : Korelasi sama dengan + 1 artinya kedua variabel

mempunyai hubungan linier sempurna (membentuk garis lurus) positif. Korelasi sempurna seperti ini mempunyai makna jika nilai X naik, maka Y juga naik.

Korelasi = ( -1 ) : Korelasi sama dengan - 1 artinya kedua variabel mempunyai hubungan linier sempurna (membentuk garis lurus) negatif.

Korelasi sempurna seperti ini mempunyai makna jika nilai X naik, maka Y turun dan berlaku sebaliknya.

Untuk memudahkan melakukan interpretasi mengenai kekuatan hubungan antara dua variabel maka diberikan kriteria sebagai berikut :

22

Tabel Interprestasi

Koefisien Korelasi Arti Korelasi 0

Tidak ada korelasi antara dua variabel Korelasi sangat lemah

Usaha peternakan ayam broiler dapat memberikan kontribusi yang cukup besar dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya peternak.

Kenyataan ini tidak terlepas dari keunggulan yang dimiliki oleh usaha peternakan ayam broiler yaitu masa produktif yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan usaha peternakan lainnya. Pengembangan usaha peternakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi, meningkatkan pendapatan petani peternak serta memperluas lapangan kerja. Peningkatan produksi ayam potong dilakukan dengan cara memanfaatkan faktor-faktor produksi untuk mencapai hasil yang maksimal.

Pengembangan peternakan ayam potong merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan mayarakat akan protein hewani. Sebagaimana kita ketahui bahwa ayam potong adalah salah satu jenis ternak unggas yang dikenal oleh masyarakat karena dagingnya yang cukup banyak. Daging ayam potong adalah bahan makanan yang padat gizi dan kadar proteinnya cukup tinggi. Dagingnya lembut, warnanya merah terang, bersih dan menarik, memiliki asam amino yang lengkap, mudah diolah (Anonim, 1988). Selain hal tersebut, pengembangan usaha

23

peternakan ayam potong merupakan upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani yang tidak terlepas dari meningkatnya permintaan akan produk peternakan sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.

Berdasarkan tujuan tersebut, maka objek penulisan ini didasarkan pada peluang usaha peternakan ayam potong di Kabupaten Maros sebagaimana yang ditemui dilapangan bahwa meningkatnya produksi peternakan ayam potong dipengaruhi oleh permintaan akan daging ayam potong yang meningkat dipasaran.

Dengan demikian bahwa minat masyarakat untuk beternak ayam potong didasarkan pada peluang usaha peternakan ayam potong yang besar dan pendapatan dari beternak yang menjanjikan.

Dalam penelitian ini penulis mengemukakan kerangka fikir sebagai berikut:

Gambar Kerangka Pikir Penelitian Masyarakat Kec. Bantimurung

Peternak Ayam

Pemasaran

Peningkatan Pendapatan

Peningkatan Produksi Ayam Potong

24

2.10 Hipotesis

Sebagai upaya pemecahan masalah yang telah dikemukan pada perumusan masalah, maka penulis mengajukan hipotesis diduga bahwa hubungan antara pendapatan peternak berpengaruh terhadap jumlah produksi ayam potong di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros.

25

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros yang merupakan salah satu sentra pengembangan usaha peternakan ayam potong (broiler) di Kabupaten Maros. Adapun waktu yang digunakan dalam penelitian ini selama satu bulan. Waktu penelitian yaitu Maret Sampai dengan April 2014.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah:

3.2.1 Data Primer yaitu data yang bersumber dari hasil wawancara langsung dengan responden daftar pertanyaan yang telah disiapkan, berupa pertanyaan tentang biaya serta pendapatan yang diperoleh dari produksi ayam potong (broiler).

3.2.2 Data Sekunder yaitu data yang bersumber dari kantor daerah, lembaga dan instansi pemerintah lain yang berhubungan dengan daerah yang akan diteliti serta hasil kepustakaan, berupa data-data tentang perkembangan produksi ayam potong (broiler).

25

26

3.3 Metode Pengumplan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa:

3.3.1 Library Research (Penelitian Pustaka) yaitu metode penelitian kepustakaan.

Hal ini dilakukan dengan membaca berbagai literatur, artikel-artikel dan tulisan ilmiah yang berkaitan dengan peternakan ayam broiler dan sistem kemitraan dalam beternak ayam broiler, baik yang ada di BPS Kabupaten Maros maupun Dinas Perikanan, Kelautan, dan Peternakan Kabupaten Maros.

3.3.2 Field Research (Penelitian Lapangan) yaitu penulis terjun langsung kelapangan mengambil dengan cara:

a. Mengedarkan angket

Yaitu suatu teknik atau alat pengumpulan data dengan jalan mengajukan daftar pertanyaan mengenai masalah yang hendak diiteliti kepada responden untuk dijawab.

b. Observasi

Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan lagsung terhadap obyek penelitian yaitu ternak ayam potong (broiler), pelaku kegiatan dan kegiatan yang dilakukan.

c. Wawancara

Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data tentang peternak, biaya dan pendapatan yang menjadi obyek penelitian. Wawancara dilakukan pada peternak ayam potong (broiler).

27

3.4 Populasi dan Sampel

Tabel 3.4

Populasi Peternak Ayam Potong Di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros Pola Tahun 2013

Nama Perusahaan Mitra Jumlah Peternak Mitra (Peternak) KCM Pokphand

Sumber: Sub Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan Kabupaten Maros, 2013.

3.4.1 Populasi

Yang dimaksud dengan populasi adalah keseluruhan dari subyek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peternak ayam potong di Kecamatan Bantimurung di Kabupaten Maros. Dan populasi dalam penelitian ini sebanyak 140 orang peternak ayam broiler (Sumber:

Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan Kabupaten Maros, 2013). Unit analisis dalam penelitian ini adalah unit usaha peternak ayam potong di Kabupaten Maros. Dari jumlah tersebut terdapat sebanyak 136 orang

28

peternak ayam broiler pola kemitraan dan selebihnya sebanyak 4 orang peternak ayam broiler pola mandiri.

3.4.2 Sampel

Yang dimaksud dengan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Jumlah sampel yang dijadikan responden pada pertenak ayam broiler di Kecamatan Bantimurung di Kabupaten Maros yaitu sebanyak 50%

dari jumlah populasi peternak di Kecamatan Bantimurung yakni x 140

= 70 orang peternak ayam broiler, pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana.

3.5 Metode Analisis

Untuk mengetahui pengembangan usaha peternakan ayam broiler di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros digunakan analisis deskriptif dan kuantitatif.

Untuk melihat hubungan antara variabel X (Pendapatan) dan variabel Y (Produksi Ternak) maka digunakan rumus Korelasi Pearson Product Moment sebagai berikut:

√( )( )

( ) ( )

√( ( ) ) ( ( ) )

50 100

29

Dimana :

=

Koefesien korelasi variabel X dengan variabel Y.

XY = Jumlah hasil perkalian antara variabel X dengan Variabel Y.

X = Jumlah nilai setiap item.

Y = Jumlah niali Konstan N = Jumlah subyek penelitian.

Meskipun telah diperoleh nilai koefisien korelasi dari hasil perhitungan, namun keberartian (signifikansi) nilai tersebut perlu di uji secara statistik.

Pengujian Koefisien ini dilakukan dengan uji-t, sehingga:

Dengan derajat bebas (db/df) = n – 2 Kriteria pengujiannya:

Ho ditolak : jika nilai t hitung ≥ dari t tabel. Artinya signifikan.

Ho diterima : jika nilai t hitung ≤ dari t tabel. Artinya tidak signifikan.

30

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Letak dan Keadaan Geografis

Kabupaten Maros merupakan bagian dari provinsi sulawesi selatan yang terlatak di bagian barat yang berposisi diantara 40o – 45o – 50o Lintang Selatan dan 109o – 120o – 129o Bujur Timur.

Kecamatan Bantimurung merupakan salah satu kecamatan dari 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Maros, yang memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Maros Utara dan Kabupaten Pangkep.

Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Cenrana.

Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kecamatan Simbang.

Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Turikale dan Kecamatan Lau.

Secara administratif Kecamatan Bantimurung terbagi atas 6 desa dan 2 kelurahan, terdapat 29 dusun dan 4 lingkungan, serta sebanyak 123 RT.

Jarak pusat pemerintahan kecamatan dengan desa terjauh yaitu 12 km, jarak ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan yaitu 9 km dan jarak ibukota provinsi dengan ibukota kecamatan adalah 39 km.

30

31

4.1.2 Luas Wilayah

Salah satu faktor yang dapat menunjang pembangunan dan kemampuan suatu daerah adalah adanya luas wilayah yang berbanding lurus dengan ketersediaan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kecamatan Bantimurung memiliki luas wilayah 141,48 km2 yang terbagi atas 6 desa dan 2 kelurahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1

Luas Desa/Kelurahan Di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros Desa/Kelurahan Luas (ha) Persentase (%) Alatengae

Sumber: Data Sekunder Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, 2013 Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui luas wilayah tempat pelaksanaan penelitian yaitu Desa Kalabbirang seluas 7,25 ha, desa Tukamasea seluas 23,68 ha dan desa Leang-leang seluas 10,75 ha. Kondisi desa yang memiliki areal yang cukup luas menyebabkan ketiga desa tersebut cukup tersedia lahan kosong yang cocok untuk mendirikan perkandangan untuk budidaya ayam ras broiler.

32

4.1.3 Keadaan Penduduk

Penduduk merupakan sumber daya yang potensial untuk mengelola pembangunan. Keberadaan penduduk di suatu daerah diharapkan dapat menjadi inisiator yang dapat memajukan pembangunan di wilayahnya.

Jumlah penduduk di Kecamatan Bantimurung sebanyak 28.683 jiwa. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2

Jumlah Penduduk di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%) Laki-laki

Perempuan

14.045 14.638

48,97 51,03

Jumlah 28.683 100,00

Sumber : Data Sekunder Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, 2013 Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding dengan jumlah penduduk laki-laki, yaitu untuk perempuan sebanyak 14.683 (51,03%) sedangkan penduduk laki-laki sebanyak 14.045 (48,79%) jiwa. Selisih antara jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan yang tidak terlalu banyak menyebabkan tidak adanya dominasi jenis kelamin tertentu di daerah tersebut.

4.1.4 Mata Pencaharian

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup penduduk butuh makan dan minum, ini semua dipenuhi dengan cara bekerja, demikian halnya dengan masyarakat yang ada di Kecamatan Bantimurung, mereka mendapatkan sesuap nasi demi mempertahankan kelangsungan hidupnya dan

33

keluarganya. Ada beberapa jenis pekerjaan atau mata pencaharian yang ditekuni penduduk Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, diantaranya bidang pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, perdagangan, pengangkutan, PNS/ABRI, buruh, jasa dan lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3

Mata Pencaharian Penduduk di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros

Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persentase (%) Petani tanaman pangan

Sumber: Data Sekunder Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, 2013 Dari Tabel 4.3 terlihat bahwa penduduk yang bermata pencaharian sebagai peternak di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros sebanyak dengan persentase 2,88%. Cukup banyaknya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai peternak di Kecamatan Bantimurung disebabkan budaya masyarakat yang sudah menggeluti usaha di bidang peternakan sejak lama, bahkan merupakan usaha turun temurun dari orang tua mereka.

34

4.1.5 Penggunaan Lahan

Berdasarkan topografinya Kecamatan Bantimurung sebagian besar berupa daratan rendah yang menyebabkan penggunaan lahan sebagian besar untuk aktivitas pertanian dan perikanan seperti; persawahan, perladangan, perkebunan, dan tambak. Adapun luas dan penggunaan lahan di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4

Luas dan Penggunaan Lahan di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros

Jenis Penggunaan Lahan Luas Lahan (ha) Persentase (%) Persawahan

Sumber: Data Sekunder Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, 2013 Berdasarkan Tabel 4.4 dapat diketahui jenis dan luas penggunaan lahan terbesar yaitu untuk pemukiman/kantor/pertokoan seluas 6.067,21 ha atau 47,03%. Luasnya penggunaan lahan untuk kebutuhan pemukiman/kantor/pertokoan disebabkan oleh jumlah penduduk yang cukup besar yang tentunya membutuhkan lahan yang cukup luas untuk pemukiman, perkantoran, dan pertokoan untuk mendukung kehidupan.

4.1.6 Keadaan Peternakan

Usaha peternakan merupakan jenis usaha yang cukup diminati di Kecamatan Bantimurung hal ini terlihat dengan cukup banyaknya

35

masyarakat yang mengelola usaha usaha peternakan baik itu sebagai usaha pokok maupun sampingan. Adapun keadaan ternak di Kecamatan Bantimurung dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5

Jumlah Ternak Menurut Jenisnya di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros

Jenis Ternak Jumlah (ekor)

Sapi

Sumber: Data Sekunder Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros, 2013 Dari Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa jenis ternak yang populasinya terbesar berupa ayam potong/broiler yaitu sebanyak 1.352.185 ekor. Besarnya jumlah populasi ayam broiler dibanding dengan jenis ternak lainnya di Kecamatan Bantimurung disebabkan Karena pengelolaannya yang tidak rumit disamping itu daerah ini memiliki lokasi yang strategis sebagai sentra budidaya ayam ras karena daerah ini memiliki akses terhadap sapronak dan pasar yang cukup lancar, sehingga banyak masyarakatnya yang beternak ayam broiler baik secara bermitra dengan perusahaan maupun mandiri.

36

4.2 Karakteristik Responden 4.2.1 Umur Responden

Karakteristik umum responden peternak ayam broiler di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros berdasarkan tingkat umur dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6

Karakteristik RespondenPeternak Ayam Potong Berdasarkan Umur Di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros

Umur (Tahun) Jumlah Persentase

24 – 33

Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2013

Pada tabel 4.6 terlihat bahwa karakteristik responden berdasarkan umur cukup bervariasi. Dimana jumlah responden terbanyak yaitu berumur antara 34 – 43 tahun yaitu sebanyak 32 orang atau 45,71%. Melihat kenyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa berdasarkan karakteristik umur maka peternak ayam broiler di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros berada pada umur produktif.

4.2.2 Pendidikan

Tingkat pendidikan responden peternak ayam potong di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros dapat dilihat pada tabel 4.7.

37

Tabel 4.7

Karakteristik Responden Peternak Ayam Potong Berdasarkan

Karakteristik Responden Peternak Ayam Potong Berdasarkan

Dokumen terkait