• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.2 Manfaat Penelitian

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dirumuskan masalah pada penelitian ini adalah berapa besar hubungan antara pendapatan peternak dengan jumlah produksi ternak ayam potong di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara pendapatan peternak dengan jumlah produksi ternak ayam potong di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros.

1.3.2 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:

1.3.2.1 Sebagai input bagi pemerintah daerah serta pihak-pihak yang terlibat langsung dalam pengembangan usaha peternakan ayam potong di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros.

1.3.2.2 Sebagai input bagi peternak, apakah dalam produksi selanjutnya peternak dapat melakukan peningkatan produksi atau tidak.

9

1.3.2.3 Untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi setiap mahasiswa dan memperkaya khasanah peneliti tentang pengaruh besarnya pendapatan ayam terhadap jumlah produksi ternak ayam potong di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros.

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Peternakan

Peternakan adalah kegiatan mengembangbiakkan dan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil berupa jasa, tenaga, dan keuntungan finansial dari kegiatan tersebut.

Pengertian peternakan tidak terbatas pada pemeliharaan saja, memelihara dan peternakan perbedaannya terletak pada tujuan yang ditetapkan. Tujuan peternakan adalah mencari keuntungan dengan penerapan prinsip-prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi yang telah dikombinasikan secara optimal.

Kegiatan di bidang peternakan dapat dibagi atas dua golongan, yaitu peternakan hewan besar seperti sapi, kerbau dan kuda, sedang kelompok kedua yaitu peternakan hewan kecil seperti ayam, kelinci dll.

Sistem peternakan diperkirakan telah ada sejak 9.000 SM yang dimulai dengan domestikasi anjing, kambing, dan domba. Peternakan semakin berkembang pada masa Neolitikum, yaitu masa ketika manusia mulai tinggal menetap dalam sebuah perkampungan. Pada masa ini pula, domba dan kambing yang semula hanya diambil hasil dagingnya, mulai dimanfaatkan juga hasil susu dan hasil bulunya (wol). Setelah itu manusia juga memelihara sapi dan kerbau untuk diambil hasil kulit dan hasil susunya serta memanfaatkan tenaganya untuk membajak tanah. Manusia juga mengembangkan peternakan kuda, babi, unta, dan lain-lain.

10

11

Ilmu pengetahuan tentang peternakan, diajarkan dibanyak universitas dan perguruan tinggi diseluruh dunia. Para siswa belajar disiplin ilmu seperti ilmu gizi, genetika dan budi-daya, atau ilmu reproduksi. Lulusan dari perguruan tinggi ini kemudian aktif sebagai dokter hewan, farmasi ternak, pengadaan ternak dan industri makanan.

Dengan segala keterbatasan peternak, perlu dikembangkan sebuah sistem peternakan yang berwawasan ekologis, ekonomis, dan berkesinambungan sehingga peternakan industri dan peternakan rakyat dapat mewujudkan ketahanan pangan dan mengantasi kemiskinan.

Adapun jenis-jenis ternak diantaranya sapi, kerbau, sapi perah, domba, kambing, babi, kelinci, ayam, itik, mentok, puyuh, ulat sutera, belut, katak hijau, dan ternak lebah madu. Masing-masing hewan ternak tersebut dapat diambil manfaat dan hasilnya. Hewan-hewan ternak ini dapat dijadikan pilihan untuk diternakkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

2.2 Pengertian Ayam Potong

Ayam potong disebut juga broiler yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktifitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan di berbagai wilayah di Indonesia.

Ayam potong adalah hasil dari perkembangan dan penerapan prinsip genetika pada ayam petelur. Kemudian, dihasilkan ayam dengan produksi daging

12

tinggi dalam waktu yang singkat. Selain itu, penggunaan pakan pun relatif sedikit.

Ayam hasil seleksi yang unggul ini, meskipun tinggi produksinya, tetapi memiliki kelemahan yaitu kurang tahan terhadap penyakit. Ayam broiler adalah hasil dari pengembangan dan penerapan prinsip genetika pada ayam petelur. Kemudian, dihasilkan ayam dengan produksi daging tinggi dalam waktu yang singkat. Selain itu penggunaan pakan pun relatif singkat. Ayam hasil seleksi yang unggul ini, meskipun tinggi produksinya, tetapi memiliki kelemahan yaitu kurang tahan terhadap penyakit.

Dalam industri makanan, ayam potong memiliki prospek tersendiri.

Industri pada pengolahan ayam potong menghasilkan produk seperti chicken nugget, sosis ayam, cornet chicken, roasted chicken, dan smoke chicken.

Jenis ayam potong yang banyak beredar di pasaran adalah super 77, Tegel 70, ISA, Kim Cross, Losman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro, Plich, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian river, Hybro, Cronish, Brahma, Lngshans, Hypeco-Broiler, Ross, Mar-shall, Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex, Bromo, dan CP 707. Adapun jenis ayam potong yang banyak beredar di pasaran adalah Super 77, Tegel 70, ISA, Kim Cross, Lohman 202, Hyline, Vdett, Missouri, Hubbard, Shaver Starrbro, Plich, Yabro, Goto, Arbor arcres, Tatum, Indian River, Hybro, Cornish, Brahma, Langshans, Hypeco-Broiler, Ross, Mar-shall, Euribrid, A.A 70, H&N, Sussex, Bromo, dan cp 707.

2.3 Beternak Ayam Sebagai Usaha Produksi

Peternakan sesungguhnya tidak sekedar hanya terbatas pada pengambilan hasil melainkan juga merupakan suatu usaha produksi. Dalam hal ini akan

13

berlangsung pendayagunaan lahan, modal, tenaga kerja, dan keterampilan sebagai faktor produksi tersebut. Jika pendayagunaannya dilakukan dengan baik akan menghasilkan produksi yang baik pula dan sebaliknya jika pengelolaanya tidak berjalan dengan baik maka produksinya tidak dapat diandalkan. Jika hasil-hasilnya tersebut sangat baik ditinjau dari segi kuantitas dan kualitas akan menghasilkan suatu kepuasan bagi produsen itu sendiri. Dengan demikian dalam produksi komoditi peternakan terdapat berbagai kegiatan dan hubungan antara sumber-sumber produksi yang digunakan dengan hasil komoditasnya.

2.4 Fungsi Produksi

Sukirno (2003) menyatakan bahwa fungsi produksi menunjukkan sifat hubungan diantara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang dihasilkan.

Faktor-faktor produksi dikenal pula dengan input dan jumlah produksi dikenal juga sebagai output.

Fungsi produksi dapat dinyatakan dalam bentuk fungsional/matematis sebagai berikut:

Y = f (X 1, X 2, X 3, ... X n) Dimana:

Y = jumlah output

X 1, X 2, X 3, ... Xn = jumlah input faktor (seperti modal, tenaga kerja, tanah atau bahan baku).

Fungsi produksi pada hakikatnya terletak antara kelangkaan dan tindakan ekonomi (Suhartati dan Fathorrozi). Kelangkaan yang menimbulkan masalah ekonomi dan tindakan sebagai upaya untuk memecahkannya. Masalah ekonomi

14

timbul karena kebutuhan manusia terbatas sementara alat pemuas kebutuhan manusia relatif sangat terbatas. Karena adanya masalah ini kemudian timbul tindakan, yakni tindakan memilih berbagai alternatif yang mungkin dapat memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas tadi. Tentunya tindakan ini didasari oleh motif ingin memperoleh keuntungan dengan tetap bersandarnatif yang mungkin dapat memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas tadi. Tentunya tindakan ini didasari oleh motif ingin memperoleh keuntungan dengan tetap bersandar pada prinsip-prinsip dengan biaya tertentu diharapkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Jadi fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input tertentu yang digunakan untuk mengatasi masalah kelangkaan akibat kebutuhan manusia yang relatif tidak terbatas sementara alat pemuas kebutuhan yang relatif terbatas jumlahnya.

2.5 Permintaan Ayam Potong

Permintaan akan daging ayam di Indonesia ini memang berawal dari kebutuhan manusia akan kerja dan sebagai bagian dari sistem budaya dan religius masyarakat. Ini berbeda dengan yang ada di negara-negara barat yang berkembang dari kebutuhan konsumsi masyarakatnya. Faktor ini masih melekat kuat hingga saat ini, terutama di pedesaan umumnya. Banyak anggota masyarakat yang memotong ayam kala ada keramaian dan saat hari raya.

Jumlah ayam potong yang akan dipasarkan akan menambah jumlah ayam di suatu wilayah pemasaran. Jumlah ini tentu akan mempengaruhi harga ayam

15

kelak. Jadi antara faktor jumlah dan harga memang berkaitan. Sayangnya banyak peternak yang memasarkan ayamnya hanya pada wilayah potensial sehingga terjadi kejenuhan pasar. Sedikit banyaknya jumlah ayam potong yang diproduksi akan mmpengaruhi keadaan pasar (Rasyaf, 1999).

Pemasaran pada usaha peternakan ayam potong merupakan fase terakhir dalam penelolaan usaha peternakan ayam potong. Pemasaran mulai dilakukan hari ke 32 sampai dengan ternak tersebut habis dalam kandang yaitu maksimal hari 38 atau 40.

2.6 Biaya dan Pendapatan Dalam Usaha Peternakan Ayam Potong

Biaya usaha tani diklasifikasikan menjadi dua biaya tetap (fixed cost) adalah biaya relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Jadi besarnya biaya tetap ini tidak bergantung pada besar kecilnya poduksi, contohnya pajak. Biaya variabel (variabel cost) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh, contohnya biaya untuk sarana produksi (Soekartawi, 1995).

Biaya tetap adalah biaya yang tidak bergantung pada kesibukan perusahaan atau dengan perkataan lain biaya yang tidak bergantung pada penggunaan kapasitas perusahaan, jadi tetap atau manfaat biaya ini tidak berubah oleh adanya perubahan-perubahan pada kapasitas perusahaan atau pabrik. Biaya variabel (biaya perubah) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor yang dapat berubah mengikuti besar kecilnya produksi dengan berbagai cara (Bambang dan Kartasapoetra, 1992).

16

Besarnya biaya yang dikeluarkan peternak dalam suatu usaha peternakannya tergantung pada beberapa hal, yaitu:

a) Biaya yang dikeluarkan dengan bergantung pada jenis ternak. b) Biaya yang dikeluarkan tergantung pada besar kecilnya usaha peternakan. c) Biaya yang dikeluarkan tergantung pada kemampuan manajemen dan administrasi peternakan (Rasyaf, 1996).

Swastha dan Sukotjo (1993) menyatakan bahwa biaya produksi terbagi atas tiga yaitu:

a) Biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah disebabkan oleh adanya perubahan jumlah hasil. Apabila jumlah barang yang dihasilkan bertambah maka biaya variabelnya juga akan meningkat. 2) Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah-ubah (konstan) untuk setiap tingkatan/sejumlah hasil yang diproduksi. 3) Biaya total adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan atau dengan kata lain merupakan jumlah dari biaya variabel dan biaya tetap.

Pengertian pendapatan dalam suatu usaha ada dua macam, yaitu pendapatan kotor dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor yaitu keseluruhan hasil nilai uang dari hasil usaha. Pendapatan bersih yaitu jumlah pendapatan dikurangi dengan biaya atau keseluruhan korbanan atau merupakan selisih antara biaya produksi dengan harga pokok yang dikalikan dengan jumlah produk usaha (Prawirokusumo, 1990).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa ada beberapa pembagian tentang income atau pendapatan yaitu gross dan net income. Gross income atau permintaan adalah

17

pendapatan usaha yang belum dideduksi dengan biaya. Sedangkan net income adalah pendapatan setelah dikurangi biaya. Gross income dapat dibagi kedalam bentuk cash dan non cash. Bentuk cash berasal dari penjualan hasil produk atau output, sedangkan non cash dapat berupa produk atau output yang dikonsumsi langsung atau ditukar dengan komoditi lain atau dapat berupa barang atau servis, serta hasil usaha yang ditimbun.

Peneriamaan adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Sedangkan pendapatan (keuntungan) adalah selisih antara penerimaan dengan semua biaya dengan rumus π = TR – TC dimana π adalah pendapatan, TR adalah total penerimaan dan TC adalah total biaya. Selanjutnya dikatakan bahwa penerimaan diperoleh dari produksi fisik dikalikan dengan harga produksi. Total pendapatan bersih diperoleh dari total penerimaan dikurangi dengan biaya dalam suatu produksi (Soekartawi, 1995).

Jumlah produk yang dijual dikalikan dengan harga yang ditawarkan merupakan jumlah uang yang diterima merupakan ganti produk peternakan yang dijual. Inilah yang dinamakan dengan penerimaan (Rasyaf, 1998).

Penerimaan adalah nilai produksi yang dihasilkan dari suatu usaha. Jumlah penerimaan dari suatu proses produksi dapat ditentukan dengan mengalikan jumlah produksi yang dihasilkan dengan harga produksi tersebut (Riyanto, 1991).

2.7 Peluang Usaha Peternakan Ayam Potong

Keadaan ekonomi inividu yang terus membaik dan adanya tingkat kesadaran masyarakat akan arti pentingnya memelihara kesehatan tubuh melalui asupan makanan bergizi merupakan dua faktor utama penyebab terjadinya

18

peningkatan jumlah permintaan konsumen terhadap daging ayam potong (broiler) akhir-akhir ini. Sejalan dengan hal itu mendorong peternak ayam potong meningkatkan terus kapasitas usahanya sehingga akan dapat memenuhi permintaan pasar akan daging ayam potong yang berkualitas baik. Sampai saat ini belum semua permintaan pasar akan daging ayam potong dapat dipenuhi. Terbuka peluang yang cukup besar untuk mengusahakan atau beternak ayam broiler komersial.

Usaha peternakan ayam potong atau sering disebut dengan ayam broiler komesial merupakan usaha yang sangat menguntungkan. Dalam perhitungan di atas kertas, usaha ternak ayam broiler komersial menjanjikan perputaran modal yang relatif cukup cepat (35-40 hari). Dapat dibayangkan dalam waktu kurang dari satu setengah bulan ayam broiler modern telah dapat dipanen. Artinya dalam kurun waktu kurang dari satu setengah bulan peternak ayam broiler komersial telah dapat mengantongi keuntungan dari usaha peternakannya.

Beternak ayam broiler komersial ada yang sudah memanen usahanya itu dalam waktu kurang dari setengah bulan, khususnya untuk memproduksi daging dari ayam broiler dengan kisaran berat 1,7 kilogram. Pemanenan ternak ayam broiler komersial pada umur 30 – 35 hari sering disebut produksi ‘ayam kecil’.

Ayam jenis ini biasanya dipelihara di area panas atau dekat dengan kota besar.

Langkah ini ditempuh atau dipilih peternak untuk memenuhi tuntutan kebutuhan akan daging ayam broiler dengan waktu relatif singkat.

Selain produksi ‘ayam kecil’, di pasaran beredar pula ‘ayam besar’

dengan kisaran berat antara 2 – 2,5 kilogram. Yama broiler yang demikian ini

19

dipanen pada umur pemeliharaan dalam kandang sekitar 40 hari. Produsen ayam besar dilakukan atau dipelihara dalam kandang di area sejuk atau dingin.

Tingkat kecepatan dalam produksi pada ayam broiler sangat ditentukan oleh faktor genetis yang terdapat pada diri ayam broiler tersebut. Fakor genetis tersebut dikondisikan mealui penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para pakar unggas secara terus-menurus dan berkesinambungan. Para ahli terus-menurus melakukan perbaikan genetis untuk menghasilkan bibit ayam broiler komersial yang semakin unggul. Setiap tahun, bisa dikatakan pencapaian pertumbuhan broiler secara genetis maju 1 hari. Sebagai gambarannya, dalam 50 tahun terakhir laju pertumbuhan broiler maju 50 hari untuk mencapai bobot badan yang sama.

Dilihat dengan menggunakan kaca mata ekonomi beternak ayam terutama ayam broiler skala komersial nyata-nyata memberikan banyak keuntungan secara finansial dan bisa menjadi tambatan mencari nafkah. Selain itu, beternak ayam mengandung kearifan lokal diantaranya untuk memenuhi kebutuhan khalayak luas akan protein hewani; dapat menyerap tenaga kerja lokal, mulai dari pembangunan kandang, pemeliharaan/pembesaran ternak, sampai tahap pemanenan hasil dan penanganan pasca panen, membangun kerjasama sinergis dengan petani yang menghasilkan sekam(padi) dan tanaman keras seperti kayu, bambu, dan lain-lain untuk pembuatan kandang ayam, kotoran ayam dapat digunakan sebagai pupuk kandang tanaman budidaya oleh petani, dan lain-lain.

Secara kualitatif dapat dinyatakan bahwa hingga saat ini kebutuhan akan daging ayam broiler sebagai sumber bahan makanan yang kaya zat protein terus mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan

20

kenaikan taraf ekonomi masyarakat. Dengan demikian usaha di bidang ternak ayam broiler penghasil daging memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan dan akan menghasilkan keuntungan finansial bagi peternak.

2.8 Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah analisis korelasi adalah merupakan teknik analisis yang termasuk dalam salah satu teknik pengukuran asosiasi/hubungan (measures of association). Pengukuran asosiasi merupakan istilah umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam statistik bivariat yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel. Pengukuran asosiasi mengenakan nilai numerik untuk mengetahui tingkatan asosiasi atau kekuatan hubungan antara variabel. Dua variabel dikatakan berasosiasi jika perilaku variabel yang satu mempengaruhi variabel yang lain. Jika tidak terjadi pengaruh, maka kedua variabel tersebut disebut independen.

Korelasi bermanfaat untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel (kadang lebih dari dua variabel) dengan skala-skala tertentu. Kuat lemah hubungan diukur menggunakan jarak (range) 0 sampai dengan 1. Korelasi mempunyai kemungkinan pengujian hipotesis dua arah (two tailed). Korelasi searah jika nilai koefesien korelasi diketemukan positif; sebaliknya jika nilai koefesien korelasi negatif, korelasi disebut tidak searah. Yang dimaksud dengan koefesien korelasi ialah suatu pengukuran statistik kovariasi atau asosiasi antara dua variabel. Jika koefesien korelasi diketemukan tidak sama dengan nol (0), maka terdapat hubungan antara dua variabel tersebut. Jika koefesien korelasi diketemukan +1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna

21

dengan kemiringan (slope) positif. Sebaliknya. jika koefesien korelasi diketemukan -1. maka hubungan tersebut disebut sebagai korelasi sempurna atau hubungan linear sempurna dengan kemiringan (slope) negatif.

Dalam korelasi sempurna tidak diperlukan lagi pengujian hipotesis mengenai signifikansi antar variabel yang dikorelasikan, karena kedua variabel mempunyai hubungan linear yang sempurna. Artinya variabel X mempunyai hubungan sangat kuat dengan variabel Y. Jika korelasi sama dengan nol (0), maka tidak terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut.

Korelasi mempunyai karakteristik-karakteristik diantaranya:

Kisaran Korelasi : Kisaran (range) korelasi mulai dari 0 sampai dengan 1.

Korelasi dapat positif dan dapat pula negatif.

Korelasi = ( 0 ) : Korelasi sama dengan 0 mempunyai arti tidak ada hubungan antara dua variabel.

Korelasi = ( + 1 ) : Korelasi sama dengan + 1 artinya kedua variabel

mempunyai hubungan linier sempurna (membentuk garis lurus) positif. Korelasi sempurna seperti ini mempunyai makna jika nilai X naik, maka Y juga naik.

Korelasi = ( -1 ) : Korelasi sama dengan - 1 artinya kedua variabel mempunyai hubungan linier sempurna (membentuk garis lurus) negatif.

Korelasi sempurna seperti ini mempunyai makna jika nilai X naik, maka Y turun dan berlaku sebaliknya.

Untuk memudahkan melakukan interpretasi mengenai kekuatan hubungan antara dua variabel maka diberikan kriteria sebagai berikut :

22

Tabel Interprestasi

Koefisien Korelasi Arti Korelasi 0

Tidak ada korelasi antara dua variabel Korelasi sangat lemah

Usaha peternakan ayam broiler dapat memberikan kontribusi yang cukup besar dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya peternak.

Kenyataan ini tidak terlepas dari keunggulan yang dimiliki oleh usaha peternakan ayam broiler yaitu masa produktif yang relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan usaha peternakan lainnya. Pengembangan usaha peternakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi, meningkatkan pendapatan petani peternak serta memperluas lapangan kerja. Peningkatan produksi ayam potong dilakukan dengan cara memanfaatkan faktor-faktor produksi untuk mencapai hasil yang maksimal.

Pengembangan peternakan ayam potong merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan mayarakat akan protein hewani. Sebagaimana kita ketahui bahwa ayam potong adalah salah satu jenis ternak unggas yang dikenal oleh masyarakat karena dagingnya yang cukup banyak. Daging ayam potong adalah bahan makanan yang padat gizi dan kadar proteinnya cukup tinggi. Dagingnya lembut, warnanya merah terang, bersih dan menarik, memiliki asam amino yang lengkap, mudah diolah (Anonim, 1988). Selain hal tersebut, pengembangan usaha

23

peternakan ayam potong merupakan upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap protein hewani yang tidak terlepas dari meningkatnya permintaan akan produk peternakan sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya.

Berdasarkan tujuan tersebut, maka objek penulisan ini didasarkan pada peluang usaha peternakan ayam potong di Kabupaten Maros sebagaimana yang ditemui dilapangan bahwa meningkatnya produksi peternakan ayam potong dipengaruhi oleh permintaan akan daging ayam potong yang meningkat dipasaran.

Dengan demikian bahwa minat masyarakat untuk beternak ayam potong didasarkan pada peluang usaha peternakan ayam potong yang besar dan pendapatan dari beternak yang menjanjikan.

Dalam penelitian ini penulis mengemukakan kerangka fikir sebagai berikut:

Gambar Kerangka Pikir Penelitian Masyarakat Kec. Bantimurung

Peternak Ayam

Pemasaran

Peningkatan Pendapatan

Peningkatan Produksi Ayam Potong

24

2.10 Hipotesis

Sebagai upaya pemecahan masalah yang telah dikemukan pada perumusan masalah, maka penulis mengajukan hipotesis diduga bahwa hubungan antara pendapatan peternak berpengaruh terhadap jumlah produksi ayam potong di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros.

25

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros yang merupakan salah satu sentra pengembangan usaha peternakan ayam potong (broiler) di Kabupaten Maros. Adapun waktu yang digunakan dalam penelitian ini selama satu bulan. Waktu penelitian yaitu Maret Sampai dengan April 2014.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah:

3.2.1 Data Primer yaitu data yang bersumber dari hasil wawancara langsung dengan responden daftar pertanyaan yang telah disiapkan, berupa pertanyaan tentang biaya serta pendapatan yang diperoleh dari produksi ayam potong (broiler).

3.2.2 Data Sekunder yaitu data yang bersumber dari kantor daerah, lembaga dan instansi pemerintah lain yang berhubungan dengan daerah yang akan diteliti serta hasil kepustakaan, berupa data-data tentang perkembangan produksi ayam potong (broiler).

25

26

3.3 Metode Pengumplan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa:

3.3.1 Library Research (Penelitian Pustaka) yaitu metode penelitian kepustakaan.

Hal ini dilakukan dengan membaca berbagai literatur, artikel-artikel dan tulisan ilmiah yang berkaitan dengan peternakan ayam broiler dan sistem kemitraan dalam beternak ayam broiler, baik yang ada di BPS Kabupaten Maros maupun Dinas Perikanan, Kelautan, dan Peternakan Kabupaten Maros.

3.3.2 Field Research (Penelitian Lapangan) yaitu penulis terjun langsung kelapangan mengambil dengan cara:

a. Mengedarkan angket

Yaitu suatu teknik atau alat pengumpulan data dengan jalan mengajukan daftar pertanyaan mengenai masalah yang hendak diiteliti kepada responden untuk dijawab.

b. Observasi

Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan

Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan

Dokumen terkait