• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Biaya Intermediasi Perbankan (Transaction Cost)

Istilah transaction cost pertama sekali diperkenalkan oleh Ronald Coase, dalam paper nya The Nature of the Firm tahun 1937, transaction cost digunakannya untuk mengembangkan sebuah kerangka teoritis (theoretical framework) untuk memprediksi ketika tugas tugas ekonomi tertentu akan dilakukan oleh perusahaan, dan ketika perusahaan tersebut ingin mempraktekkan di pasar. Dalam disiplin ilmu ekonomi dan ilmu ilmu lain yang berhubungan dengan ekonomi, transaction cost adalah cost yang timbul dari adanya pertukaran ekonomi.

Sebagai contoh, kebanyakan orang ketika dalam melakukan perdagangan saham

transaction cost dari adanya perdagangan stock tersebut. Atau contoh lain yang

sederhana ketika kita membeli pisang dari sebuah toko buah, kita tidak hanya membayar harga untuk pisang tersebut, tetapi kita juga harus mengeluarkan energi dan usaha untuk menemukan pisang mana yang akan kita beli, dimana membelinya, berapa harganya, biaya perjalanan dari rumah kita ke toko buah dan kembali kerumah, waktu antri ketika membayar dikasir toko buah, semua yang kita lakukan dan biaya yang kita keluarkan diatas untuk memperoleh pisang tersebut adalah

Dalam ilmu ekonomi Cost transaction memiliki berbagai nama lain (Dahlman, 1999) yaitu:

1.

untuk mencari barang yang mau dibeli dipasar dan harga barang mana yang paling murah.

2. Bargaining costs adalah biaya yang timbul dari agar terjadi transaksi, atau

agar ditanda tanganinya kontrak antara penjual dengan pembeli

3. Policing and enforcement costs adalah biaya yang dikeluarkan untuk

memastikan bahwa pihak lain yang terlibat dalam transaksi tetap komit terhadap kontrak yang disetujui.

2.2. Penawaran Kredit Perbankan

Sebagaimana diatur dalam UU No. 10, Tahun 1998 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan dana tersebut kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Dengan demikian, bank merupakan bagian dari lembaga keuangan yang memiliki fungsi intermediasi yang menjembatani kepentingan pihak yang kelebihan dana (penyimpan dana atau kreditur) dan pihak yang membutuhkan dana (peminjam dana atau debitur). Pihak-pihak yang kelebihan dana, baik perseorangan, badan usaha, yayasan, maupun lembaga pemerintah dapat menyimpan kelebihan dananya di bank dalam bentuk rekening giro, tabungan, ataupun deposito

berjangka sesuai dengan kebutuhan dan preferensinya Suseno dan Piter A. (2003). Sementara itu pihak- pihak yang kekurangan dan membutuhkan dana akan mengajukan pinjaman atau kredit kepada bank. Kredit tersebut dapat berupa kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi.

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi keputusan bank umum untuk menyalurkan kredit kepada masyarakat. Lebih lanjut Melitz dan Pardue dalam Insukindro (1999) merumuskan model penawaran kredit oleh sistem perbankan sebagai berikut:

SK = g(S, ic, ib, BD) ... (2.1) Keterangan:

SK = jumlah kredit yang ditawarkan oleh bank

S = kendala-kendala yang dihadapi bank seperti tingkat cadangan bank atau ketentuan mengenai nisbah cadangan wajib

ic = tingkat suku bunga kredit bank ib = biaya oportunitas meminjamkan uang BD = biaya deposito bank

Model di atas selanjutnya disempurnakan oleh Warjiyo (2004), yang memaparkan bahwa mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui saluran uang secara implisit beranggapan bahwa semua dana yang dimobilisasi perbankan dari masyarakat dalam bentuk uang beredar (M1, M2) digunakan untuk pendanaan aktivitas sektor riil melalui penyaluran kredit perbankan. Dalam kenyataannya menurut Warjiyo (2004), anggapan seperti itu tidak selamanya benar. Selain dana

yang tersedia (DPK), perilaku penawaran kredit perbankan juga dipengaruhi oleh persepsi bank terhadap prospek usaha debitur dan kondisi perbankan itu sendiri, seperti permodalan (CAR), jumlah kredit macet (NPL), dan Loan to Deposit Ratio (LDR).

Dengan demikian, dapat dinyatakan dalam suatu bentuk hubungan fungsi sebagai berikut:

KS = f(DPK, prospek usaha debitur, kondisi perbankan itu sendiri)

= f(DPK, prospek usaha debitur, CAR, NPL, LDR)... (2.2) Keterangan:

KS = Kredit yang ditawarkan perbankan DPK = Dana Pihak Ketiga

CAR = Capital Adequacy Ratio NPL = Non Performing Loan LDR = Loan to Deposit Ratio

Sementara menurut Suseno dan Piter A. (2003), selain faktor-faktor tersebut di atas, faktor rentabilitas atau tingkat keuntungan yang tercermin dalam Return on

Assets (ROA) juga berpengaruh terhadap Keputusan bank untuk menyalurkan kredit

Fungsi kredit perbankan dalam kehidupan perekonomian dan perdagangan antara lain sebagai berikut :

1. Kredit dapat meningkatkan daya guna dari uang, dalam arti :

a. Para pemilik uang atau modal dapat secara langsung meminjamkan

uangnya kepada para pengusaha yang memerlukan untuk meningkatkan produksi atau usahanya.

b. Para pemilik uang atau modal dapat menyimpan uangnya pada

lembaga-lembaga keuangan, yang kemudian oleh lembaga-lembaga-lembaga-lembaga keuangan tersebut diusahakan dalam bentuk pemberian kredit.

2. Kredit dapat meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang dalam arti kredit uang yang disalurkan melalui rekening giro dapat menciptakan alat pembayaran baru seperti cek, bilyet giro dan wesel sehingga apabila pembayaran-pembayaran dilakukan dengan cek, bilyet giro dan wesel maka akan dapat meningkatkan peredaran uang giral. Selain itu kredit perbankan yang ditarik tunai dapat pula meningkatkan peredaran uang kartal sehingga arus lalu lintas uang akan berkembang pula.

3. Kredit dapat meningkatkan daya guna dari barang dalam arti dengan

mendapat kredit para pengusaha dapat memproses bahan baku menjadi barang jadi sehingga daya guna barang tersebut menjadi meningkat.

4. Kredit dapat menjadi salah satu alat stabilisasi ekonomi dalam arti bila

keadaan ekonomi kurang sehat, kebijakan diarahkan kepada usaha-usaha antara lain pengendalian inflasi, peningkatan ekspor dan pemenuhan

kebutuhan pokok rakyat dimana untuk menekan laju inflasi pemerintah melindungi usaha -usaha yang bersifat nonspekulatif.

5. Kredit dapat meningkatkan kegairahan berusaha masyarakat dalam arti

bantuan kredit yang diberikan oleh bank akan dapat mengatasi kekurangmampuan para pengusaha dibidang permodalan tersebut sehingga para pengusaha akan dapat meningkatkan usahanya.

6. Kredit dapat meningkatkan pemerataan pendapatan dalam arti dengan bantuan

kredit dari bank para pengusaha dapat memperluas usahanya dan mendirikan proyek-proyek baru. Apabila perluasan usaha serta pendirian proyek-proyek baru telah selesai maka untuk mengelolanya diperlukan pula tenaga kerja, maka pemerataan pendapatan akan meningkat pula.

7. Kredit dapat sebagai alat hubungan ekonomi internasional dalam arti bank

bank besar di luar negeri yang mempunyai jaringan usaha dapat memberikan bantuan dalam bentuk kredit baik secara langsung maupun tidak langsung kepada perusahaan-perusahaan di dalam negeri. Bantuan dalam bentuk kredit ini tidak saja dapat mempererat hubungan ekonomi antar negara yang bersangkutan tetapi juga dapat meningkatkan hubungan internasional.

2.3. Tingkat Bunga Kredit

Seperti halnya Jumlah Uang Beredar, dalam perekonomian Indonesia, Tingkat Bunga juga memiliki peran yang sangat besar. Jika tingkat bunga tinggi, masyarakat akan tertarik untuk menyerahkan uang kas yang dimilikinya kepada bank, khususnya

dalam bentuk deposito dan sebagian mungkin dalam bentuk tabungan, akibatnya, permintaan terhadap komoditi akan berkurang, dan hal ini dapat menyebabkan harga turun. Turunnya harga akan mendorong dunia industri untuk mengurangi produksinya, akibatnya pengangguran dapat terjadi.

Di sisi lain, tingkat bunga yang tinggi akan membuat dunia industri mengurungkan niatnya untuk berinvestasi dan meningkatkan usahanya, karena biaya kredit/modal menjadi tinggi. Akibatnya produksi dan pertumbuhan ekonomi dapat terganggu. Jika tingkat bunga rendah, yang akan terjadi adalah sebaliknya.

Perubahan tingkat bunga dapat terjadi karena faktor dalam negeri dan faktor luar negeri. Dari dalam negeri, meningkatnya minat masyarakat untuk menabung atau mendepositokan uangnya akan mendorong tingkat bunga cenderung untuk turun, begitu pula sebaliknya. Perubahan tingkat pengembalian bentuk investasi lain juga dapat mempengaruhi tingkat bunga. Jika berinvestasi di surat berharga (saham misalnya) dapat memberikan keuntungan yang lebih tinggi, maka masyarakat akan mengalihkan dananya ke surat berharga tersebut, dan mengurangi keinginannya membuka deposito. Untuk mengembalikan minat masyarakat tentunya perbankan akan menaikkan tingkat bunga agar deposito kembali menarik masyarakat.

Tingkat bunga juga dapat berubah jika pemerintah menghendakinya. Pemerintah perlu merubah tingkat bunga, bila pemerintah melihat pertumbuhan ekonomi terlalu rendah dan perlu ditingkatkan. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah akan menurunkan tingkat bunga, agar dunia industri dapat

melakukan investasi dan ekspansi usahanya dengan kredit yang murah. Begitu pula sebaliknya.

Dari luar negeri, tingkat bunga dalam negeri juga akan berubah bila tingkat bunga di luar negeri berubah (Bank sentral Amerika merubah tingkat bunga misalnya). Perubahan karena faktor luar negeri juga bisa terjadi bila ada keinginan pemerintah untuk menarik investor asing masuk ke Indonesia. Dengan keinginan tersebut, tingkat bunga akan naik, agar investor asing tertarik menanamkan modalnya di Indonesia.

Masyarakat, atau yang sering disebut dengan pelaku ekonomi dari sektor Rumah Tangga punya kepentingan besar dengan tingkat bunga, paling tidak berkaitan dengan nilai kekayaannya yang disimpan di Bank.

Dunia industri atau Sektor riil, juka sangat perhatian dengan perubahan tingkat bunga, terutama berkaitan dengan nilai pengembalian kredit dan bunga yang harus dibayarkannya kepada pihak Bank. Semakin tinggi tingkat bunga, semakin berat beban cicilan pinjaman yang harus diserahkan.

Pemerintah juga sangat berkepentingan dengan tingkat bunga. Pemerintah dapat mencapai tujuan kebijakannya dengan memanfaatkan variabel tingkat bunga ini. Sebagai contoh, bila dipandang Jumlah Uang yang Beredar terlalu sedikit, sehingga berdampak pada rendahnya daya beli dan permintaan, maka pemerintah akan menurunkan tingkat bunga Bank dan juga tingkat bunga diskonto. Pemerintah juga dapat menggunakan tingkat bunga untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Bila Rupiah terus melemah, pemerintah melalui Bank Indonesia sebagai Bank Sentral,

akan menaikkan tingkat bunga, dengan harapan pihak asing akan menanamkan Dollarnya ke Indonesia, sehingga Dollar melimpah, sehingga nilainya akan turun, yang berarti Rupiah akan menguat.

Dokumen terkait