II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Economic Value Added (EVA)
2.4.4 Biaya Modal
Biaya modal (Cost Of Capital) menunjukkan besarnya kompensasi atau pengembalian modal yang dituntut oleh investor atas modal yang diinvestasikan di perusahaan. Biaya modal merupakan suatu biaya kesempatan yang mencerminkan pengembalian yang diharapkan investor dari investasi lain dengan risiko yang serupa (Young dan O’byrne, 2001).
Menurut Utomo (1999) Biaya modal atau cost of capital adalah tingkat pengembalian minimum yang diharapkan oleh pemegang saham (pemilik) perusahaan dalam investasinya. Untuk praktisi bidang keuangan, istilah cost of capital ini digunakan: 1. Sebagai tarif diskonto (discount rate) untuk membawa arus kas masa mendatang suatu proyek ke nilai sekarang (present value). 2. Sebagai tarif minimum yang diinginkan untuk menerima project baru. 3. Sebagai biaya modal (capital charge) dalam perhitungan Economic Value Added. 4. Sebagai bandingan (benchmark) untuk menaksir tarif biaya pada modal yang digunakan Cost of capital sangat dipengaruhi oleh hubungan antara risiko (risk) dan tingkat pengembalian (return),
dimana semakin besar risiko yang ditanggung oleh investor semakin tinggi pula tingkat pengembalian yang dikehendaki sebelum nilai tambah dapat diciptakan dan semakin tinggi biaya modal yang timbul. Menurut Sartono (1997) model yang dipergunakan untuk menghitung biaya modal meliputi biaya utang, biaya saham biasa dan biaya saham preferen.
1. Biaya Utang
Biaya utang merupakan besarnya tingkat keuntungan yang diminta oleh investor (pemilik dana). Besarnya tingkat keuntungan yang diminta investor tersebut adalah sama dengan tingkat bunga yang menyamakan present value penerimaan di masa datang yang berupa bunga dan pembayaran pokok pinjaman dengan dana yang diberikan saat ini (Sartono, 1997). Karena pembayaran bunga mengurangi pajak, maka biaya utang setelah pajak harus disesuaikan dengan faktor koreksi (1-t).
2. Biaya Saham Biasa
Saham biasa merupakan sumber dana yang paling berisiko dibanding dengan sumber dana lain, hal ini disebabkan karena pembayaran dividen kepada pemegang saham biasa dibayarkan setelah pembayaran bunga dan dividen saham preferen. Seperti halnya biaya modal yang berasal dari biaya utang dan saham preferen, biaya saham biasa adalah sebesar tingkat keuntungan yang disyaratkan investor saham biasa. Menurut Keown (2004), terdapat dua metode untuk mengestimasi tingkat pengembalian yang disyaratkan pemegang saham biasa, yaitu :
a) Model pertumbuhan deviden
Pendekatan ini dipakai bila pertumbuhan deviden dan pendapatan perusahaan akan tumbuh pada tingkat yang konstan. Rumusnya adalah:
Ks = Di + g ………(2)
g = Tingkat pertumbuhan yang diharapkan
12
b) Penetapan harga aktiva modal (Capital Asset Pricing Model/CAPM) CAPM merupakan pernyataan mengenai hubungan antara pengembalian yang diharapkan dan risiko, dimana risiko sistematis untuk aset yang berisiko. Risiko sistematis merupakan risiko yang terjadi karena faktor perubahan pasar secara keseluruhan. Menurut Keown (2004), CAPM memberikan dasar untuk menentukan harapan investor atau tingkat pengembalian hasil dari investasi saham biasa. Model ini tergantung pada tiga hal :
1. Tingkat bebas risiko.
2. Risiko sistematis dari pengembalian atas saham biasa dibandingkan dengan pengembalian atas pasar secara keseluruhan atau koefisien beta saham.
3. Premi risiko pasar yang setara dengan perbedaan tingkat pengembalian yang diharapkan atas surat berharga rata-rata dikurangi tingkat bebas risiko.
Young and O’byrne (2001), menjelaskan bahwa CAPM dikembangkan secara independen oleh Professor William Sharpe dari Universitas Standford dan John Lintner dari Universitas Harvard, menarik sumbangsih sebelumnya terhadap teori keuangan oleh James Tobin dan Harry Markowits. CAPM merupakan model pengharapan yang berdasarkan pada apa yang diharapkan investor akan terjadi dan bukan pada apa yang sudah terjadi. Rumus dari CAPM dapat dirumuskan sebagai berikut :
E(R) = Rf + βi MRP……….(3) MRP = Rm – Rf ………...(4) Dimana:
E(R) = Harapan pengembalian
Rf = Tingkat pengembalian atas risiko pasar
Βi = Faktor risiko (beta) yang berlaku spesifik untuk perusahaan MRP = Market Premium Risk
3. Biaya Saham Preferen
Biaya saham preferen adalah tingkat pengembalian yang diperlukan investor atas perusahaan yang dihitung sebagai deviden saham preferen
dibagi dengan harga penerbitan. Menentukan biaya saham istimewa begitu sederhana karena kesederhanaan arus kas yang dibayarkan kepada pemegang saham istimewa (Keown, 2004).
2.4. Strategi Perusahaan
Strategi perusahaan didasarkan bagaimana perusahaan mampu menciptakan nilai bagi pemegang sahamnya. Strategi perusahaan diambil dari pendekatan penciptaan nilai sudah mencakup tingkat pengembalian perusahaan tersebut. Penciptaan nilai pada suatu perusahaan dapat dicapai ketika perusahaan menghasilkan tingkat pengembalian diatas biaya modal maka perusahaan mampu meningkatkan nilai pemegang sahamnya.
Penciptaan nilai di dalam suatu perusahaan dapat dirumuskan sebagai berikut :
EVA = (RONA - WACC) x modal yang diinvestasikan …………(5) Dimana :
EVA = Nilai yang diciptakan dalam suatu periode
RONA = Laba operasi bersih setelah pajak dibagi dengan aktiva bersih WACC = Biaya modal rata-rata tertimbang perusahaan
Berdasarkan perumusan di atas, perusahaan dapat melakukan banyak hal untuk menciptakan nilai tambah, tetapi pada prinsipnya EVA akan meningkat jika manajemen melakukan satu dari tiga hal berikut (Stewart, 1993 dalam Utomo, 1999):
1. Meningkatkan laba operasi tanpa adanya tambahan modal.
2. Menginvestasikan modal baru ke dalam project yang mendapat return lebih besar dari biaya modal yang ada.
3. Menarik modal dari aktivitas-aktivitas usaha yang tidak menguntungkan.
Pengukuran EVA bersifat jangka pendek (setahun) bukan kesinambungan. Karena kinerja manajemen diukur dari potret jangka pendek. Manajemen berkepentingan meningkatkan EVA dan cenderung enggan berinvestasi jangka panjang. Penundaan investasi mengakibatkan turunnya daya saing perusahaan dimasa depan. EVA dapat digunakan secara mandiri tanpa memerlukan data pembanding seperti standar industri atau data perusahaan lain. Sebagaimana konsep penilaian dengan menggunakan
14
analisis rasio. Dalam prakteknya data pembanding ini seringkali tidak tersedia.
2.5. Penelitian Terdahulu
Ningrum (2008) dengan “Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Telekomunikasi Go Public dengan Metode Economic Value Added (EVA)”, melakukan penelitian terhadap perusahaan telekomunikasi yang sudah go public di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan tahun penelitian 2002 - 2007.
Perusahaan yang diteliti antara lain PT Telekomunikasi Tbk, PT Indosat Tbk, PT Excelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom dan PT Mobile-8.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari kelima perusahaan yang diteliti dengan menggunakan EVA, terdapat satu perusahaan yang memiliki nilai EVA positif yaitu PT Telekomunikasi Tbk dan PT Indosat Tbk menjadi urutan kedua. Sedangkan tiga perusahaan lainnya yaitu PT Excelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom dan PT Mobile-8 memiliki nilai EVA yang negatif karena laba usaha yang dihasilkan lebih rendah dari biaya modalnya.
Dengan demikian, ketiga perusahaan tersebut belum dapat menciptakan kekayaan bagi pemegang sahamnya dan belum dapat menciptakan nilai tambah ekonomis bagi investornya.
Mubarok (2009) dengan “Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Metode Economic Value Added (EVA)”, melakukan penelitian terhadap perusahaan otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan tahun penelitian 2007-2008. Perusahaan yang diteliti yaitu PT Multistrada Tbk dan PT Gajah Tunggal Tbk. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa terdapat satu perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang baik dengan kata lain telah memenuhi harapan investor dan kreditur serta bagi manajemen perusahaan itu sendiri yaitu PT Multistrada Tbk, karena pada tahun 2008 PT Multistrada mengalami peningkatan kinerja keuangan dari tahun 2007 yang memiliki nilai EVA negatif meningkat menjadi positif pada tahun 2008, walaupun pada akhir tahun tersebut terjadi krisis ekonomi global. Berbeda dengan PT Multistrada, PT Gajah Tunggal Tbk memiliki penurunan kinerja pada tahun 2008. Pada tahun 2007 perusahaan memiliki nilai EVA yang positif, akan tetapi pada akhir tahun
nilai EVA menurun menjadi negatif, karena adanya kerugian yang cukup besar akibat dari krisis ekonomi global.
16
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran
Pengukuran kinerja keuangan perusahaan pada dasarnya dilaksanakan karena ingin mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat resiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan. Dalam menilai faktor-faktor yang berkaitan dengan pengukuran kinerja keuangan perusahaan, terdapat berbagai alat ukur yang dapat digunakan, diantaranya yaitu menggunakan EVA. EVA merupakan suatu alat analisis finansial untuk menilai profitabilitas yang realistis dari operasi perusahaan, dengan penghitungan EVA diharapkan dapat memperoleh hasil perhitungan pada upaya penciptaan nilai perusahaan (Creating a Firms value) yang lebih realistis. Perusahaan yang akan diteliti adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan yang telah tercatat di BEI dalam LQ45 pada periode Agustus 2006-Januari 2007 sampai dengan Agustus 2008-Januari 2009. Perusahaan-perusahaan yang terpilih adalah Bank Mandiri (Persero) Tbk dan Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Data laporan keuangan berupa laporan laba rugi dan neraca diperlukan untuk mengukur kinerja keuangan. Secara sederhana EVA dapat diketahui dari NOPAT dikurangi dengan capital charges atau laba bersih setelah pajak dikurangi biaya modal. Setelah nilai EVA diketahui, maka dapat dilihat perusahaan mana yang mampu memaksimumkan nilai perusahaan serta meningkatkan nilai pemegang sahamnya. Dan nilai tersebut pun berguna bagi orang-orang yang berkepentingan seperti manajer, investor dan kreditur untuk mengambil keputusan. Kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 1.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi Penelitian yang terkait dengan penelitian yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Pusat Referensi Pasar Modal Bursa Efek Indonesia (PRPM-BEI). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2009 – Oktober 2009.
3.3. Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu melalui studi pustaka dengan mengumpulkan data-data mengenai teori-teori kinerja keuangan yang dilakukan dengan membaca literatur-literatur yang terkait serta searching data melalui internet. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari periode Januari 2007-Desember 2008.
Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini yaitu laporan keuangan, data bulanan indeks harga saham masing-masing perusahaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bulanan dari tahun 2007 sampai dengan 2008, tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) per bulan dari tahun 2007 hingga 2008 dan gambaran umum beberapa bank yang masuk dalam LQ45 di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bank Mandiri (Persero) Tbk dan Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Laporan Keuangan
Laporan Laba Rugi Neraca
Net Operating After Tax
(NOPAT)
Biaya Saham
Biaya Hutang Modal yang
diinvestasikan (IC)
Biaya Modal Rata-rata Tertimbang (WACC)
(WACC)
Biaya Modal (COC) Economic Value Added
(EVA)
18
Dalam penelitian ini, data-data yang diolah berasal dari data sekunder.
Pengolahan data dilakukan setelah data di lapangan terkumpul. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Ms Excel 2003. Alat analisis yang digunakan dalam mengolah data dalam penelitian ini adalah analisis Economic Value Added (EVA). EVA merupakan alat analisis untuk mengukur kinerja perusahaan dengan menghitung laba operasi setelah pajak dikurangi dengan total biaya modal. Langkah-langkah dalam perhitungan analisis EVA adalah sebagai berikut :
1. Menghitung tingkat pengembalian dari masing-masing saham yang didefinisi- kan sebagai rata-rata dari keuntungan modal yaitu selisih antara harga saham bulan ini dengan harga saham bulan sebelumnya. Rumusnya adalah:
Rit = ...(6)
Dimana:
Rit = Tingkat pengembalian saham perusahaan bulan ke-t
Pit = Harga saham perusahaan perlembar bulan ke-t
Pit-1 = Harga saham perusahaan perlembar bulan ke-t-1
Dt = Deviden pada bulan ke-t
2.Menghitung tingkat pengembalian pasar bulanan dan tingkat pengembalian rata-rata pasar. Rumusnya adalah: IHSGt-1 = Indeks Harga Saham Gabungan bulan ke t-1
Pit – Pit-1 + Dt Pit-1
IHSGt – IHSGt-1 IHSGt-1
n
E(Rm) = Tingkat pengembalian rata-rata pasar yang diharapkan dalam satu bulan
N = Jumlah pengamatan dalam satu tahun (N=12)
3. Menghitung risiko masing-masing saham yang ditunjukkan oleh beta usaha (β). Beta dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
βi = σim ...……….(9) σ2m
σim = ………(10)
σ2m = ………...(11)
Dimana:
σim = Kovarian tingkat pengembalian saham i dengan tingkat pengembalian pasar
σ2m = Varian tingkat pengembalian pasar
4. Menentukan tingkat bunga bebas risiko (Rf). Tingkat bunga bebas risiko adalah tingkat suku bunga investasi yang dapat diperoleh investor tanpa menanggung risiko. Tingkat bunga bebas risiko yang digunakan adalah tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
5. Menghitung biaya ekuitas atau Modal Sendiri. Rumusnya:
E(R)/Ke = Rf + β(Rm – Rf) ………... ………..(12) MRP = Rm – Rf ……….……….... (13) Dimana:
E(R) = Harapan pengembalian
Rf = Tingkat pengembalian bebas risiko Rm = Tingkat pengembalian atas risiko pasar
β = Faktor risiko (beta) yang berlaku untuk perusahaan MRP = Market Premium Risk (Premi Risiko Pasar)
6. Perhitungan biaya utang, dengan rumus:
Kd = kd x (1-t) ……….. ……….(14)
20
Dimana:
kd = Beban bunga dibagi jumlah utang jangka panjang 1-t = Faktor koreksi
7. Menghitung biaya atas modal dengan metode Weighted Average Cost of Capital / WACC. Rumusnya adalah:
WACC = kd (1-t) Wd + Ke We ………... (15) Dimana:
Kd = Biaya utang jangka panjang Ke = Biaya pengembalian saham
Wd = Proporsi utang dalam struktur modal We = Proporsi saham dalam struktur modal t = Tingkat pajak perusahaan
8.Perhitungan NOPAT (Net Operating Profit After Tax). Rumusnya adalah:
NOPAT = Laba Bersih + Beban Bunga ………(16) Dimana:
Beban Bunga = biaya bunga yang harus dibayar oleh perusahaan 9. Perhitungan EVA. Rumusnya:
EVA = NOPAT – Biaya Modal ……… (17) Dimana:
Biaya modal = WACC x modal yang diinvestasikan
Kinerja keuangan perusahaan melalui EVA, untuk menentukan strategi yang dapat dijalankan agar kinerja keuangan lebih baik, dinilai dengan kriteria sebagai berikut:
1. Jika EVA > 0, maka terjadi proses nilai tambah perusahaan, kinerja perusahaan baik. Ini bermakna laba yang tersedia mampu melebihi harapan investor, perusahaan dapat mengembalikan pinjaman kreditur serta dapat menganggarkan pemberian bonus kepada karyawan.
2. Jika EVA = 0, maka menunjukan posisi impas perusahaan. Ini bermakna laba yang tersedia impas untuk memenuhi harapan kreditur dan investor.
3. Jika EVA < 0, hal itu berarti total modal perusahaan lebih besar daripada laba operasi setelah pajak yang diperolehnya, sehingga kinerja
perusahaan tersebut tidak baik. Ini bermakna di dalam perusahaan tidak terjadi nilai tambah, laba yang tersedia tidak mampu memberikan pengembalian setimpal dengan yang ditanam investor.
22
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Profil Perusahaan
4.1.1 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, 1. Pendirian dan Informasi Umum
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Perusahaan) didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintahan Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Exim dan Bank Bapindo dilebur menjadi Bank Mandiri. Masing-masing dari keempat legacy banks memainkan peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan hari ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia.
Setelah merger, Bank Mandiri melaksanakan proses konsolidasi secara menyeluruh. Pada saat itu, Bank Mandiri menutup 194 kantor cabang yang saling berdekatan dan mengurangi jumlah karyawan, dari jumlah gabungan 26.600 menjadi 17.620.
Dan pada saat ini, berkat kerja keras dari 22.408 karyawan yang tersebar di 1.027 kantor cabang dalam negeri dan 5 kantor cabang luar negeri termasuk perwakilannya dan didukung oleh anak perusahaan yang bergerak di bidang investment banking, perbankan syariah, bancassurance, bank specialist dan multi-finance, Bank Mandiri menyediakan solusi keuangan yang menyeluruh bagi perusahaan swasta maupun milik Negara, komersial, usaha kecil dan mikro serta nasabah consumer.
Brand Bank Mandiri diimplementasikan secara sekaligus ke semua jaringan mereka dan pada seluruh kegiatan periklanan dan promosi lainnya. Sampai dengan 31 Desember 2008, Bank Mandiri dimiliki oleh 25.086 pemegang saham. Jumlah pemegang saham tersebut terdiri dari 24.596 pemegang saham domestik dan 490
pemegang saham asing serta 36,53 persen dari total pemegang saham yang tercatat tersebut merupakan pegawai Bank Mandiri.
Kepemilikan saham Bank Mandiri per 31 Desember 2008 diantaranya dimiliki oleh pemerintah RI sebesar 66,97 persen dan oleh publik 33,03 persen.
Adapun visi perusahaan adalah Bank Mandiri berupaya untuk menempatkan diri sebagai bank terpercaya pilihan masyarakat di Indonesia maupun di luar Indonesia. Selain itu Bank Mandiri mempunyai misi berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar, mengembangkan sumber daya manusia profesional, memberi keuntungan yang maksimal pada stakeholder, melaksanakan manajemen terbuka dan peduli terhadap kepentingan masyarakat dan lingkungan.
2. Karyawan, Direktur dan Komisaris
Berdasarkan laporan perusahaan, susunan anggota dewan komisaris dan direksi perusahaan per 31 Desember 2008 adalah : a. Dewan Komisaris :
Komisaris Utama dan Komisaris Independen : Edwin Gerungan
Wakil Komisaris Utama : Muchayat
Komisaris : Mahmuddin Yasin
Komisaris Independen : Soedarjono
Komisaris Independen : Gunarni Soeworo
Komisaris Independen : Pradjoto b. Dewan Direksi :
Direktur Utama : Agus M
Wakil Direktur Utama : I Wayan Agus M.
Direktur Commercial Banking : Zulkifli Zaini
Direktur Technology dan Operations : Sasmita
Direktur Special Asset Management : Abdul Rachman
Direktur Risk Management : Sentot A. Sentausa
24
Direktur Corporate Secretary, Legal dan : Bambang Setiawan Customer Care
Direktur Corporate Banking : Riswinandi
Direktur Treasury dan International Banking : Thomas Arifin
Direktur Micro dan Retail Banking : Budi G. Sadikin
Direktur Compliance dan Human Capital : Ogi Prastomiyono Jumlah karyawan perusahaan per 31 Desember 2008 adalah 22.408 orang dengan kantor cabang 1.027.
3. Anak Perusahaan
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memiliki beberapa Anak Perusahaan yang dapat dilihat sebagai berikut :
Bank Mandiri (Europe) Limited (“BMEL”)
BMEL bergerak dalam bidang perbankan yang berkedudukan di London.
PT Bank Syariah Mandiri (“BSM”)
BSM bergerak dalam bidang perbankan syariah yang berkedudukan di Jakarta.
PT Usaha Gedung Bank Dagang Negara (“UGBDN”)
UGBDN bergerak dalam bidang jasa pengelolaan dan penyewaan gedung, UGDBDN memiliki 25 persen modal saham PT Pengelolaan Investama Mandiri (PIM), suatu perusahaan yang didirikan untuk mengelola penyertaan-penyertaan saham milik Bank Mandiri.
PT Mandiri Sekuritas (“MS”)
MS didirikan melalui penggabungan usaha PT Bumi Daya Sekuritas, PT Exim Sekuritas dan PT Merincorp Securindo. MS bergerak dalam bidang manajemen dan penasehat investasi yang berkedudukan di Jakarta.
PT Bumi Daya Plaza (“BDP”)
BDP bergerak dalam bidang jasa pengelolaan dan penyewaan gedung yang berkedudukan di Jakarta.
PT Bank Sinar Harapan Bali (“BSHB”)
Sebagai bank terbesar, Bank Mandiri memiliki keunggulan komparatif dalam skala operasi, efisiensi dan komposisi aktiva termasuk Obligasi Pemerintah yang jumlahnya besar. Pada akhir tahun Desember 2008 Bank Mandiri mengalami penambahan aktiva sebesar 12,33 persen atau setara dengan Rp 39.353.088.000.000, dari tahun 2007 total aktiva sebesar Rp 319.085.590.000.000 meningkat menjadi Rp 358.438.678.000.000 pada akhir tahun 2008.
Penambahan total akiva ini terjadi karena adanya peningkatan yang cukup signifikan dari aktiva lancar dan aktiva tetap.
Tabel 2. Ringkasan Neraca PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, periode 31 Desember 2007 dan 2008. (dalam jutaan Rupiah)
Komponen 2007 2008 Persentase (%)
Aktiva lancar 305.297.033 342.317.065 12,13%
Aktiva tetap 13.788.557 16.121.613 16,92%
Total aktiva 319.085.590 358.438.678 12,33%
Kewajiban jangka
pendek 253.618.141 297.449.964 17,28%
Kewajiban jangka
panjang 36.217.371 30.446.776 (15,93%) Total kewajiban 289.835.512 327.896.740 13,13%
Ekuitas 29.250.078 30.541.938 4,42%
Total ekuitas dan
kewajiban 319.085.590 358.438.678 12,33%
Total kewajiban Bank Mandiri mengalami peningkatan pada tahun 2008 yaitu sebesar 13,13 persen atau Rp 38.061.228.000.000, dari tahun 2007 total kewajiban bank sebesar Rp
26
289.835.512.000.000 menjadi Rp 327.896.740.000.000 pada tahun 2008. Penambahan total kewajiban ini terjadi karena adanya peningkatan pada kewajiban jangka pendek, dengan kenaikan 17,28 persen.
bersih 12.785.921 15.284.600 19,54%
Laba operasional 6.212.917 7.910.442 27,32%
Laba sebelum
manfaat pajak 6.333.383 8.068.560 27,40%
Laba sebelum hak
minoritas 4.347.491 5.315.316 22,26%
Laba bersih 4.346.224 5.312.821 22,24%
Laba bersih yang dihasilkan Bank Mandiri di akhir tahun 2008 mengalami peningkatan yaitu sebesar 22,24 persen atau senilai Rp 966.597.000.000 dari Rp 4.346.224.000.000 pada tahun 2007 menjadi Rp 5.312.821.000.000 pada akhir 2008. Penambahan ini terjadi karena adanya peningkatan pada pendapatan bunga bersih dan laba operasional, dengan masing-masing kenaikannya adalah 19,54 persen untuk pendapatan bunga bersih dan 27,32 persen untuk laba operasional. Peningkatan ini membuktikan bahwa Bank Mandiri mampu mengatasi masalah krisis global pada pertengahan tahun 2008.
4.1.2 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, 1. Pendirian dan Informasi Umum
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk merupakan salah satu bank terbesar dan tertua di Indonesia, didirikan pada tanggal 16 Desember 1895. Sebagai bank milik pemerintah, BRI banyak berperan mewujudkan visi pemerintah dalam membangun ekonomi
kerakyatan. Pada tahun 1960, pemerintah mengubah nama BRI menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN). Berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968, pemerintah menetapkan kembali nama Bank Rakyat Indonesia sebagai bank umum dan berdasarkan Undangundang Perbankan No. 7 tahun 1992, BRI berubah nama dan status badan hukumnya menjadi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero). Dengan fokus bisnis pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), BRI telah menginspirasi berbagai pihak untuk lebih mendayagunakan sektor UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
Pada tanggal 10 November 2003, BRI menjadi Perseroan Terbuka dengan pencatatan 30 persen sahamnya di bursa efek yang kini bernama Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan kode saham BBRI dan saat ini tergabung dalam indeks saham LQ45 sebagai salah satu saham yang diperhitungkan dalam mengukur Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI. Sampai dengan 31 Desember 2008, Pemerintah Republik Indonesia memiliki 56,79 persen saham dan sisanya dimiliki oleh masyarakat pemodal. Nilai kapitalisasi pasar saham BRI pada akhir tahun 2008 mencapai Rp 55,85 triliun atau sekitar 5,56 persen dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.
Visi dari perusahaan BRI adalah menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah. Untuk mewujudkan visi tersebut, BRI menetapkan tiga misi yang harus dilaksanakan, yaitu melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha Mikro, Kecil, dan Menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat, memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dengan melaksanakan praktik tata kelola perusahaan yang baik dan memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders).
28
2. Karyawan, Direktur dan Komisaris
Berdasarkan laporan perusahaan, susunan anggota dewan komisaris dan direksi perusahaan per 31 Desember 2008 adalah : a. Dewan Komisaris :
Komisaris Utama dan Komisaris Independen : Bunasor Sanim
Komisaris : Agus Pakpahan
Komisaris : Agus Suprijanto
Komisaris : Saifullah Yusuf
Komisaris Independen : B. S. Kusmuljono
Komisaris Independen : Baridjussalam H
Komisaris Independen : Aviliani
Direktur Kepatuhan dan Direktur Manajemen : Bambang Soepeno Risiko
Direktur Bisnis Kelembagaan : Asmawi Syam
Direktur Jaringan dan Layanan : Suprajarto
Jumlah karyawan perusahaan per 31 Desember 2008 adalah 37.565 orang dan 5.400 unit kerja yang terdiri dari Kantor Wilayah, Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, Kantor Kas maupun BRI
Jumlah karyawan perusahaan per 31 Desember 2008 adalah 37.565 orang dan 5.400 unit kerja yang terdiri dari Kantor Wilayah, Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, Kantor Kas maupun BRI