HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Perusahaan
1. Biaya Pemesanan
cadangan produksi berikutnya maupun sebagai cadangan apabila bahan baku jahe yang dipesan tidak datang tepat waktu.
CV Intrafood memerlukan biaya-biaya untuk menyelenggarakan persediaan baku baku jahe yang turut diperhitungkan didalam penentuan besarnya persediaan bahan baku jahe tersebut. Dalam hubungannya dengan biaya-biaya persediaan ini, maka digunakan data biaya persediaan yaitu:
1. Biaya Pemesanan
Biaya pemesanan bahan baku jahe pada CV. Intrafood terdiri dari biaya pembuatan faktur permintaan pembelian, biaya bongkar bahan, dan biaya telepon. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada bagian pembelian, biaya pembuatan faktur permintaan berupa kertas faktur pembelian, pesanan pembelian, dan laporan penerimaan bahan. Biaya bongkar bahan merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membayar kuli gendong yang mengangkut bahan baku jahe dari truk sampai ke gudang. Biaya telepon untuk menelpon supplier dalam melakukan pemesanan bahan baku jahe. Berikut ini rincian biaya pemesanan dalam setahun pada tahun 2012 dan 2013, lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2 Biaya Pemesanan
No Jenis Biaya Tahun
2012 2013 1. Biaya pembuatan faktur permintaan
pembelian, pesanan pembelian, laporan penerimaan
330.000 385.000
2. Biaya bongkar bahan 480.000 560.000
3. Biaya telepon 730.000 851.000
Jumlah 1.540.000 1.796.000
Sumber: CV Intrafood, 2014 2. Biaya Penyimpanan
Besarnya biaya penyimpanan bahan baku jahe selama 1 tahun yang ditetapkan oleh perusahaan berdasarkan perkiraan masa lampau sejak tahun 2010 yaitu sebesar 10% dari total harga bahan baku yang di simpan dalam gudang. Biaya penyimpanan meliputi biaya pemeliharaan bahan seperti: exhouse fan untuk menjaga kelembaban jahe didalam gudang dan palet sebagai alas jahe supaya tidak cepat rusak, serta biaya
15
penyusutan jahe. Biaya penyusutan jahe merupakan menurunnya kualitas jahe karena disimpan dalam gudang dalam kurun waktu tertentu. Data tentang biaya penyimpanan dapat dilihat pada tabel 3 dan tabel 3.1 mengenai data rincian biaya penyimpanan.
Tabel 3
Prosentase Biaya Simpan, Harga Per Unit, dan Biaya Penyimpanan
Tahun % Biaya Simpan Rata-rata Harga Per Kg (Rp) Biaya Penyimpanan
2012 10% 11.500 1.150
2013 10% 9.000 900
Sumber: CV Intrafood, 2014
Tabel 3.1
Rincian Biaya Penyimpanan
Jenis Biaya 2012 2013
Listrik (exhouse fan) Rp 575.000 Rp 514.150
Palet Rp 80.000 Rp 50.000
Penyusutan Rp 1.078.000 Rp 846.200
Total per bulan Rp 1.733.000 Rp 1.410.350 Total per tahun Rp 20.796.000 Rp 16.924.200
Sumber: CV Intrafood, 2014
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2013 biaya penyimpanan menjadi lebih sedikit daripada tahun 2012, hal ini disebabkan karena harga bahan baku jahe mengalami penurunan di tahun 2013. Selain itu, persediaan akhir di gudang lebih banyak di tahun 2012, sehingga biaya listrik dan palet lebih besar di tahun 2012.
Penentuan jumlah persediaan optimal dengan menggunakan metode EOQ
a. Analisis Kebutuhan Bahan Baku
Untuk mengetahui kebutuhan bahan baku pada bulan pertama tahun 2014 menggunakan metode trend projection, dengan rumus sebagai berikut: (Ahyari 1995: 45)
Ŷ = a + bX Dimana:
Ŷ = peramalan kebutuhan bahan baku
a = rata-rata penggunaan bahan baku selama tahun 2012 sampai 2013 b = bilangan waktu untuk satuan waktu
16
Data tentang penggunaan bahan baku selama tahun 2012 sampai 2013 dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini:
Tabel 4
Perhitungan Bahan Baku Jahe Tahun 2012 - 2013 CV. Intrafood (Trend Garis Lurus) No Bulan Y X XY X2 1 Januari 42.320,8 -23 -973.378,4 529 2 Februari 41.660,0 -21 -874.860,0 441 3 Maret 39.780,0 -19 -755.820,0 361 4 April 44.160,0 -17 -750.720,0 289 5 Mei 42.880,7 -15 -643.210,5 225 6 Juni 37.540,0 -13 -488.020,0 169 7 Juli 34.670,5 -11 -381.375,5 121 8 Agustus 43.060,9 -9 -387.548,1 81 9 September 38.450,0 -7 -269.150,0 49 10 Oktober 43.090,0 -5 -215.450,0 25 11 November 44.800,0 -3 -134.400,0 9 12 Desember 45.310,5 -1 -45.310,5 1 13 Januari 44.649,0 1 44.649,0 1 14 Februari 46.524,4 3 139.573,2 9 15 Maret 47.827,0 5 239.135,0 25 16 April 49.583,0 7 347.081,0 49 17 Mei 47.792,0 9 430.128,0 81 18 Juni 46.340,1 11 509.741,1 121 19 Juli 43.616,0 13 567.008,0 169 20 Agustus 48.671,7 15 730.075,5 225 21 September 45.547,2 17 774.302,4 289 22 Oktober 44.088,4 19 837.679,6 361 23 November 50.850,0 21 1.067.850,0 441 24 Desember 50.461,7 23 1.160.619,1 529 Jumlah 1.063.673,9 0 928.598,9 4.600 Rata-rata 44.319,7
Sumber: Data diolah, 2014
a = 44.319,7 b = 201,86
X = 25 (bulan ke-25 yaitu Januari 2014) Ŷ = a + bX
17 = 49.366,2 kg
Jadi, peramalan bahan baku untuk bulan ke 25 (Januari 2014) adalah sebesar 49.366,2 kg.
b. Analisis pembelian bahan baku
Dalam menentukan pembelian bahan baku yang optimal, dibutuhkan data mengenai jumlah permintaan atau kebutuhan bahan baku per tahun (RU), biaya pemesanan (CO), harga bahan baku per kg (CU), persentase biaya penyimpanan (CC), tenggang waktu (lead time), penggunaan bahan baku maksimum, dan rata-rata penggunaan bahan baku dapat dilihat pada tabel 5.
c. Analisis total biaya persediaan bahan baku
Jumlah total biaya persediaan bahan baku (AC) dapat diketahui setelah menghitung besarnya EOQ dan frekuensi pembelian. Data mengenai perhitungan-perhitungan tersebut serta perthitungan safety stock dan reorder
18 Tabel 5
Penentuan Pembelian Bahan Baku Optimal
RU = permintaan atau kebutuhan bahan baku per tahun
CO = biaya pemesanan atau pembelian per pesan atau per pembelian CU = harga bahan baku per unit (kg)
CC = persentase biaya penyimpanan per tahun.
Sumber: Data diolah, 2014
Tabel 6
Perhitungan Bahan Baku Optimal
EOQ = kuantitas pemesanan atau pembelian ekonomis
AC = total biaya persediaan bahan baku
Sumber: Data diolah, 2014
Tahun RU CO CU CC Lead Time
(hari)
Penggunaan Bahan Baku Maksimum
Rata-rata Penggunan Bahan Baku 2012 497.723,4 1.540.000 11.500 10% 3 45.310,5 41.477,0 2013 565.950,5 1.796.000 9.000 10% 3 50.850,0 47.162,5 Tahun EOQ = Frekuensi Pembelian AC = Safety Stock
= Tenggang waktu x (Tingkat penggunaan bahan baku maksimal – Tingkat rata-rata penggunaan bahan baku)
Reorder Point
= (Tingkat rata-rata penggunaan bahan baku x Tenggang
waktu)+ Persediaan pengaman (Safety Stock)
2012 36.510,73 14 kali Rp 41.987.334,79 383,37 4.531,05
19
Berdasarkan tabel 5 dan 6 di atas dapat diketahui bahwa terjadi penurunan harga jahe dari tahun 2012 sebesar Rp 11.500 menjadi sebesar Rp 9.000 pada tahun 2013, dan terjadi peningkatan jumlah permintaan konsumen dari tahun 2012 ke 2013. Sehingga, jumlah penggunaan bahan baku maksimum dan rata-rata penggunaan bahan baku menjadi meningkat. Jumlah pembelian ekonomis (EOQ) mengalami kenaikan dari 36.510,73 kg menjadi 47.526,53 kg, hal ini disebabkan karena pada tahun 2013 jumlah kebutuhan bahan baku meningkat dan harga bahan baku per kg menurun. Frekuensi pembelian mengalami penurunan dari tahun 2012 ke tahun 2013 yaitu sebesar 14 kali menjadi 12 kali. Penurunan jumlah frekuensi pembelian dan kenaikan jumlah EOQ di tahun 2013 berarti bahwa tahun 2013 lebih bagus daripada tahun 2012, karena dengan meminimalisasi jumlah frekuensi pembelian dapat menghemat biaya pemesanan. Besarnya total biaya persediaan bahan baku jahe (AC) pada tahun 2013 naik menjadi Rp 42.773.879,60, sedangkan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 41.987.334,79. Kenaikan AC disebabkan oleh kebutuhan bahan baku (RU) dan biaya pemesanan (CO) meningkat di tahun 2013. Safety stock pada tahun 2012 lebih tinggi daripada tahun 2013 karena selisih tingkat penggunaan bahan baku maksimal dengan tingkat rata-rata penggunaan bahan baku pada tahun 2012 lebih besar daripada selisih pada tahun 2013. Dengan demikian, tahun 2013 lebih baik daripada tahun 2012, karena perusahaan tidak menyimpan bahan baku dalam jumlah besar yang akan meningkatkan biaya penyimpanan. Reorder point pada tahun 2013 lebih tinggi daripada tahun 2012, hal ini menandakan bahwa tahun 2013 lebih baik karena untuk memenuhi permintaan bahan baku yang lebih besar daripada tahun 2012, maka jumlah bahan baku yang harus tersedia sampai bahan datang lebih besar.
Dengan menggunakan metode EOQ, maka manajemen persediaan pada CV Intrafood menjadi lebih baik di tahun 2012 dan 2013. Jumlah frekuensi pembelian di tahun 2012 dan 2013 lebih kecil daripada yang selama ini dilakukan oleh CV Intrafood. Dalam setahun, CV Intrafood dapat melakukan pemesanan pembelian persediaan bahan baku jahe sebanyak 30 hingga 35 kali. Keputusan pembelian bahan baku yang selama ini dilakukan CV Intrafood yaitu melakukan pembelian bahan baku secara berkali-kali dalam jumlah kecil, karena perusahaan tidak ingin berisiko membeli bahan baku dengan jumlah besar yang menyebabkan bahan baku menjadi menumpuk di gudang. Hal ini menjadi kurang efisien karena dalam setiap pembelian bahan baku, ada biaya yang melekat pada bahan baku tersebut yaitu biaya pemesanan dan biaya penyimpanan. Jadi semakin sering frekuensi pemesanan bahan baku dilakukan perusahaan, semakin tinggi biaya persediaan
20
yang harus ditanggung perusahaan. Data mengenai perbandingan biaya persediaan bahan baku jahe menggunakan metode EOQ dengan yang selama ini dikeluarkan oleh perusahaan dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini.
Tabel 7
Perbandingan Biaya Persediaan Bahan Baku Jahe
Macam-macam biaya
Perhitungan dengan model EOQ Perhitungan oleh CV Intrafood
2012 2013 2012 2013
Frekuensi
pembelian 14 kali 12 kali 30 kali 34 kali
Biaya Pemesanan Rp 615.996 Rp 739.522 Rp 1.540.000 Rp 1.796.000 Biaya
Penyimpanan Rp 20.796.000 Rp 16.924.200 Rp 20.796.000 Rp 16.924.200
Sumber: Data diolah, 2014
Analisis efisiensi biaya bahan baku
Untuk mengetahui besarnya efisiensi biaya bahan baku, yang pertama dilakukan adalah dengan menghitung besarnya AC (total biaya persediaan bahan baku) perusahaan. Dalam menghitung total biaya persediaan bahan baku, perusahaan menggunakan perhitungan sebagai berikut: (persediaan rata–rata 1 tahun x biaya simpan) + biaya pesan dalam 1 tahun. Perhitungan total biaya persediaan bahan baku jahe menurut perusahaan dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8
Total Biaya Persediaan Bahan Baku Perusahaan Tahun 2012-2013
Tahun Total Biaya Persediaan Bahan Baku 2012 AC = (41.477,0 x 1.150) + 1.540.000
= Rp 49.238.550
2013 AC = (47.162,5 x 900) + 1.796.000 = Rp 44.242.250
Sumber: Data diolah, 2014
Kemudian membandingkan total biaya persediaan sebelum dan sesudah menggunakan metode EOQ. Untuk mengetahui perbandingan total biaya persediaan bahan baku menurut EOQ dengan total persediaan bahan baku yang dijalankan perusahaan dan
21
efisiensi yang dihasilkan selama periode tahun 2012 - 2013 dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9
Efisiensi Total Biaya Persediaan Bahan Baku Jahe
Tahun AC menurut perusahaan
AC menurut EOQ Efisiensi 2012 Rp 49.238.550 Rp 41.987.334,79 Rp 7.251.215,21 2013 Rp 44.242.250 Rp 42.773.879,60 Rp 1.468.370,40
Sumber: Data diolah, 2014
Dari tabel 9 di atas, dapat diketahui bahwa pada tahun 2012 tingkat efisiensi biaya persediaan bahan baku jahe yang dapat diperoleh perusahaan apabila menggunakan metode EOQ adalah sebesar Rp7.251.215,21. Hasil ini diperoleh dari selisih perhitungan total biaya persediaan menurut perusahaan dengan total biaya persediaan menurut EOQ. Sedangkan pada tahun 2013 tingkat efisiensi biaya persediaan bahan baku jahe yang dapat diperoleh perusahaan adalah sebesar Rp1.468.370,40.
Total biaya persediaan bahan baku yang dikeluarkan perusahaan lebih besar bila dibandingkan dengan total biaya persediaan bahan baku yang dihitung menurut EOQ, karena frekuensi pembelian bahan baku yang tinggi dengan jumlah pembelian yang kecil, sehingga perusahaan mengeluarkan biaya yang besar untuk biaya pesan dan biaya penyimpanan. CV Intrafood memilih untuk membeli dengan jumlah sedikit secara berkali-kali dengan alasan bahwa perusahaan tidak ingin berisiko membeli bahan baku dengan jumlah yang besar, karena pernah terjadi ketika perusahaan memesan dalam jumlah banyak ternyata permintaan konsumen sedikit, sehingga persediaan menjadi menumpuk di gudang dan menyebabkan penyusutan bahan baku dan kualitas bahan baku menjadi kurang bagus. Hal ini terjadi karena perusahaan hanya menggunakan perkiraan ketika memesan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa EOQ dapat meningkatkan efisiensi bahan baku dalam persediaan, karena ketika jumlah pembelian yang optimal diketahui, maka dapat mengurangi besarnya biaya pesan dan biaya penyimpanan yang timbul dari banyaknya persediaan yang menumpuk atau kurangnya persediaan.
Berdasarkan hasil analisis efisiensi biaya persediaan bahan baku di atas, CV Intrafood dapat melakukan efisiensi terhadap biaya persediaan dengan menggunakan metode EOQ, sehingga perusahaan dapat mengalokasikan anggaran persediaan yang berlebih untuk keperluan lainnya.
22 PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan mengenai efisiensi biaya persediaan bahan baku jahe dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ), dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Setelah metode EOQ diaplikasikan pada CV Intrafood di tahun 2012 dan 2013, diketemukan bahwa kuantitas pembelian bahan baku jahe yang optimal pada tahun 2012 adalah sebesar 36.510,73 kg, sedangkan pada tahun 2013 pembelian yang optimal adalah sebesar 47.526,53 kg. Frekuensi pembelian bahan baku menjadi lebih kecil, batas atau titik pemesanan bahan baku (reorder point) menjadi lebih besar, serta adanya safety stock pada perusahaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 10 berikut ini.
Tabel 10
Aplikasi Metode EOQ Pada CV Intrafood
Aplikasi Metode EOQ
Perhitungan dengan model EOQ Perhitungan oleh CV Intrafood
2012 2013 2012 2013
Kuantitas
Pembelian 36.510,73 kg 47.526,53 kg 16.400 kg 16.700 kg Frekuensi
Pembelian 14 kali 12 kali 30 kali 34 kali
Safety Stock 383,37 kg 368,76 kg - -
Reorder Point 4.531,05 kg 5.085 kg 4.000 kg 4.000 kg Sumber: Data diolah, 2014
2. Total biaya persediaan bahan baku jahe yang dihitung menggunakan metode EOQ lebih sedikit dibandingkan yang dikeluarkan oleh CV Intrafood, sehingga diperoleh efisiensi biaya persediaan bahan baku sebesar Rp 7.251.215,21 (14,7%) pada tahun 2012 dan Rp 1.468.370,40 (3,32%) pada tahun 2013.
Implikasi Terapan
23
dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ) dapat diketahui kuntitas pembelian bahan baku jahe yang optimal serta efisiensi total biaya persediaan bahan baku. Implikasi terapan dari penelitian ini antara lain:
1. Bagi pihak manajemen CV Intrafood kedepannya dapat mempertimbangkan untuk menggunakan metode EOQ dalam melakukan pembelian persediaan bahan baku jahe, karena dengan metode EOQ, perusahaan dapat melakukan pembelian yang optimal dengan biaya yang lebih kecil. Sehingga perusahaan dapat melakukan penghematan biaya persediaan dan penghematan yang diperoleh dapat dialokasikan untuk kebutuhan yang lain.
2. Perusahaan sebaiknya menentukan besarnya persediaan pengaman (safety stock) dan pemesanan kembali (reorder point), karena dengan adanya penentuan safety
stock dapat mencegah terjadinya kekurangan bahan baku dan adanya reorder point
dapat menentukan waktu yang tepat dalam pembeliaan bahan baku sehingga tidak terjadi kekosongan persediaan bahan baku di gudang. Dengan demikian, proses produksi dapat berjalan lancar.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu:
1. Data yang diperoleh hanya dari wawancara, tidak ada verifikasi langsung dengan bagian gudang yang berkaitan langsung dengan proses persediaan bahan baku jahe. 2. Asumsi yang digunakan dalam metode EOQ antara lain: permintaan konstan, harga per unit konstan, biaya pemesanan konstan, pengiriman seketika, dan pesanan yang independen. Sehingga apabila salah satu asumsi tidak terpenuhi, maka metode EOQ tidak dapat diterapkan.
Saran
Dengan adanya keterbatasan dalam penelitian ini, rekomendasi untuk penelitian selanjutnya yaitu data yang diperoleh sebaiknya juga diverifikasi oleh bagian yang berkaitan langsung dengan proses persediaan, seperti melihat laporan keuangan biaya-biaya yang terkait dengan penghitungan metode EOQ.
xii DAFTAR PUSTAKA
Ahyari, Agus. 1995. Efisiensi Persedian Bahan. Yogyakarta: BPFE.
Ahyari, Agus. 2003. Manajemen Produksi, Perencanaan Sistem Produksi Buku Satu. Yogyakarta: BPFE.
Assauri, Sofyan. 2004. Manajemen Pemasaran (Dasar, Konsep, dan Strategi). Jakarta: PT. Grafindo Persada.
Carter, William K. 2006. Akuntansi Biaya. Krista (pen.). 2009. Jakarta: Salemba Empat.
Daljono. 2004. Akuntansi Biaya. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gitosudarmo, Indrio. 2002. Manajemen Keuangan Edisi 4. Yogyakarta: BPFE .
Hanafi, Halim, 2005. Akuntansi dan Perbankan. PT. Raja Grafindo
Handoko, T. Hani, 1999. Manajemen. Edisi kedua. Yogyakarta: BPFE.
Hansen, Don R. dan Maryanne Mowen. 2005. Akuntansi Manajemen Buku 2. Fitriasari, Dewi dan Deny Arnos Kwary (pen). 2005. Jakarta: Erlangga.
Hidayanto, Taufik. (2007). “Analisis Perbandingan Pengendalian Persediaan Bahan Baku dengan Pendekatan Model EOQ dan JIT/EOQ”. Jurnal Teknologi Industri. Vol. XI, No. 4, hal.315–322.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2007. Standar Akuntansi Keuangan, Per September 2007, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, hal 14.1.
Keown Arthur J., Martin John D., Petty J. William and Scott David F., 2005, IFinancial
Management : Principles and Applications, 10th ed., Pearson Prentice Hall, New Jersey.
xiii
Prawirosentono, Sujadi. 2001. Manajemen Operasi Analisis dan Studi Kasus. Jakarta: Bumi Aksara.
Puspika, J. dan Anita, D. (2013) “Inventory Control dan Perencanaan Persediaan Bahan Baku Produksi Roti Pada Pabrik Roti Bobo Pekanbaru”. Jurnal Ekonomi. Vol. 21, No. 3, 3 September 2013.
Rangkuti, Freddy. 2007. Manajemen Persediaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Renta, N., Djoko, H. dan Nurseto, S.(2013) “Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Rokok Pada PT. Gentong Gotri Semarang Guna Meningkatkan Efisiensi Biaya Persediaan”. Diponegoro Journal of Social and Politic Vol. 2, No. 1, Januari 2013.
Robyanto, C.B., Antara, M. dan Dewi, R.K. (2013) “Analisis Persediaan Bahan Baku Tebu pada Pabrik Gula Pandji PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero) Situbondo, Jawa Timur”. Jurnal Agrobisnis dan Agrowisata.
Sulastiningsih dan Zulkifli. 1999. Akuntansi Biaya Dilengkapi dengan Isu-Isu
Kontemporer. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Zulfikarijah, Fien (2005). Manajemen Persediaan. Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang, Malang.
xii LAMPIRAN
xiii