Tabel dibawah menunjukan perbandingan rasio benchmark DJP dengan perusahaan FMII (PT. Fortune Mate Indonesia Tbk) dan DUTI (PT. Duta Pertiwi Tbk) atas komponen biaya perusahaan, dimana semua komponen dibagi dengan penjualan pada tahun bersangkutan. Kolom biaya usaha pertama bertujuan untuk melihat proporsi biaya yang dikeluarkan perusahaan secara langsung terkait dengan aktivitas utama perusahaan (Harga Pokok Produksi / Cost of Goods Sold) dan biaya aktivitas pendukung seperti beban penjualan dan administrasi (Selling and Administrative Expenses). Sedangkan di kolom biaya usaha kedua memiliki fungsi untuk melihat berapa proporsi biaya yang dikeluarkan baik aktivitas utama maupun pendukung di tiap bagiannya masing-masing.
Tabel 4.23.
Biaya Usaha Perusahaan FMII
Sumber : Laporan Keuangan
Berdasarkan data yang diolah dapat diketahui apabila Harga Pokok
mampu untuk mengurangi biaya yang terjadi sehingga pada tahun-tahun berikutnya perusahaan dapat memperoleh laba. Perlu dilakukan analisa yang lebih mendalam mengenai pos apakah yang menyebabkan beban yang terjadi terlalu besar.
Rasio g wajib pajak sangatlah tinggi dibandingkan dengan benchmark DJP, hal ini dapat terjadi karena rendahnya nilai penjualan perusahaan. Hal ini terlihat dari komposisi jumlah karyawan yang memang tidak terlalu banyak perubahan pada 3 tahun terakhir. karena perusahaan tidak melakukan pembelian alat inventaris atau peralatan administrasi yang terlalu besar.
Rasio s wajib pajak sedikit diatas benchmark karena terdapat beban sewa sebesar 180 juta ,230 juta ,dan 240 juta pada tahun 2010-2012. Namun, karena tidak penjelasan yang lebih lengkap mengenai rincian sewa yang dilakukan, analisi yang lebih mendalam tidak dapat dilakukan
Rasio b wajib pajak cukup besar pada tahun 2010 karena terdapat peminjaman uang pada PT. Bank Mestika Dharma dan pada PT.Bank Tabungan Negara Tbk.
Rasio pemakaian bahan terhadap penjualan menunjukan nilai antara 60%-85%, (diatas benchmark 7%-31% ) yang dapat berarti bahwa wajib pajak tidak menggunakan bahan baku atau bahan pembantu secara efisien baik secara harga yang lebih murah atau penggunaan yang maksimal seiring berjalannya waktu dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis, atau karena nilai penjualan perusahaan yang rendah pada tahun 2010
Biaya Usaha Perusahaan DUTI
Sumber : Laporan Keuangan
Berdasarkan data yang diolah dapat diketahui apabila Harga Pokok Produksi milik DUTI sudah dibawah rasio benchmark, hal ini menunjukan bahwa dalam penggunaan barang produksi sudah efisien. Namun dalam biaya usaha lain yang digunakan untuk mendukung berjalannya aktivitas operasional, berada diatas nilai benchmark. Oleh karena itu perlu dilakukan analisa yang lebih mendalam untuk mengetahui pos apa yang menyebabkan terjadinya kenaikan beban tersebut.
Rasio g wajib pajak selalu diatas benchmark, hal ini dapat terjadi karena adanya penambahan pekerja atau bertambahnya gaji. Terlihat bahwa pada tahun 2012 rasio beban gaji telah menurun, sesuai dengan menurunnya jumlah karyawan pada 2 tahun terakhir.
Gambar 4.26.
Jumlah Karyawan DUTI
DUTI 2010 2011 2012
J.Karyawan 763 685 634 Sumber : Laporan Keuangan
Rasio py wajib pajak lebih tinggi dari benchmark dapat terjadi karena perusahaan melakukan pembelian alat inventaris atau peralatan administrasi yang terlalu besar atau pengalokasian metode penyusutan double declining.
Rasio s wajib pajak kecil karena hanya melakukan sewa atas ruangan kantor. Hal ini dapat terjadi karena dalam pembangunan sebuah Real Estate, suatu projek dilakukan dengan outsource yang bersifat tender. Oleh karena itu
projek-projek tersebut.
Rasio b wajib pajak cukup tinggi karena terdapat kurang lebih 18% beban bunga bank pada tahun 2012 dan 15% pada tahun 2011, sedangkan sisanya adalah beban bunga yang dibayarkan kepada pihak-pihak berelasi atas peminjaman uang.
Rasio pemakaian bahan terhadap penjualan menunjukan nilai antara 38%-45%, (dibawah benchmark 8%-15%) yang dapat berarti bahwa wajib pajak telah menggunakan bahan baku atau bahan pembantu secara efisien baik secara harga yang lebih murah atau penggunaan yang maksimal dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis.
4.1.4.6.1. Analisa Perbandingan Biaya Usaha Antara FMII dan DUTI
Biaya usaha lain (GPM-OPM) kedua perusahaan sama-sama berada diatas rasio benchmarking, setelah dilakukan analisa terdapat 2 pos yang diatas kewajaran yaitu pos gaji, penyusutan, dan bunga yang terlalu besar.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah karena semua rasio dibagi dengan penjualan, tingkat penjualan yang meningkat (FMII) menunjukan adanya hubungan antara nilai penjualan dengan rasio g,py, dan b. Sedangkan pada perusahaan DUTI yang tingkat penjualannya tidak jauh berbeda sudah menunjukan nilai rasio yang lebih baik meskipun rasio keuangan yang dihasilkan masih diatas nilai rasio benchmarking.
Rasio gaji berhubungan dengan karyawan, oleh karena itu dapat dilihat bahwa kedua perusahaan baik FMII dan DUTI memiliki rasio g diatas benchmark, hal ini perlu dilakukan analisa lebih mendalam mengenai apakah terjadi pembiayaan gaji yang berlebihan. Terutama bagi FMII dimana jumlah karyawan yang sedikit, berbeda dengan DUTI dimana jumlah penurunan karyawan pada 2 tahun terakhir diikuti dengan penurunan rasio g.
Rasio penyusutan kedua perusahaan berada diatas benchmark. Hal ini dapat disebabkan karena rendahnya nilai penjualan perusahaan.
Rasio sewa yang dimiliki kedua perusahaan relatif kecil karena terdapat sewa ruangan pada perusahaan DUTI. Analisa lebih mendalam tidak dapat dilakukan karena keterbatasan informasi dari laporan keuangan saja.
Rasio bunga berhubungan dengan beban bunga. Pada perusahaan FMII, beban bunga hanya terdapat pada tahun 2010, dimana beban bunga tersebut dibayarkan kepada PT. Bank Mestika Dharma dan pada PT.Bank Tabungan Negara Tbk.. Sedangkan pada perusahaan DUTI, beban bunga tersebut dibayarkan mayoritas kepada pihak berelasi. Anaisa yang lebih mendalam perlu dilakukan dengan melihat laporan keuangan pihak-pihak yang berelasi.
Rasio input lain adalah beban lain-lain yang tidak mencakup beban-beban selain gaji,bunga,sewa, dan penyusutan. kedua perusahaan tidak jauh berbeda.
Rasio pemakaian bahan baku perusahaan FMII masih diatas nilai benchmarking yang berarti perusahaan FMII masih belum beroperasi secara maksimal. Namun pada perusahaan DUTI, terjadi sebaliknya rasio pemakaian bahan baku menunjukan nilai dibawah benchmarking.