4.1. Hasil Penelitian
4.1.1. Daftar Perusahaan Sektor Real Estate
Perusahaan yang akan diteliti adalah 31 perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2010 sampai dengan 2012.
Tabel 4.1.
Nama Perusahaan dan Kode Listing di IDX
No Nama Perusahaan Kode
1 Agung Podomoro Land Tbk APLN
2 Alam Sutera Reality Tbk ASRI
3 Bekasi Asri Pemula Tbk BAPA
4 Bumi Citra Permai Tbk BCIP
5 Bukit Darmo Property Tbk BKDP
6 Sentul City Tbk BKSL
7 Ciputra Property Tbk CTRP
8 Ciputra Surya Tbk CTRS
9 Duta Anggada Realty Tbk DART
10 Intiland Development Tbk DILD
11 Duta Pertiwi Tbk DUTI
12 Bakrieland Development Tbk ELTY
13 Megapolitan Developments Tbk EMDE
14 Fortune Mate Indonesia Tbk FMII
15 Gowa Makassar Tourism Development Tbk GMTD
16 Greenwood Sejahtera Tbk GWSA
17 Jakarta International Hotels & Development Tbk JIHD
18 Jaya Real Property Tbk JRPT
19 Kawasan Industri Jababeka Tbk KIJA
20 Lamicitra Nusantara Tbk LAMI
21 Laguna Cipta Griya Tbk LCGP
22 Lippo Cikarang Tbk LPCK
23 Modernland Realty Ltd Tbk MDLN
24 Metropolitan Kentjana Tbk MKPI
25 Metropolitan Land Tbk MTLA
26 Metro Reality Tbk MTSM
27 Indonesia Prima Property Tbk OMRE
28 Pakuwon Jati Tbk PWON
29 Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk RBMS
30 Suryamas Dutamakmur Tbk SMDM
31 Sumareccon Agung Tbk SMRA
Alat uji statistik yang digunakan untuk penelitian ini adalah Uji T independent sampel. Data yang diperlukan yaitu data tentang rata-rata rasio benchmark DJP dan perusahaan. Uji T independent sampel merupakan alat uji yang bersifat parametrik, oleh karena itu perlu dilakukan uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirov.
Tabel 4.2.
Uji Normalitas dengan Kolmogorov-Smirov
Berdasarkan Tabel 4.2. ditemukan hasil bahwa:
Hasil uji Kolmogorov-Smirov menunjukan bahwa semua rasio yang diteliti memiliki nilai Asymp.Sig(2-tailed) diatas 0.05, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semua data sudah berdistribusi normal.
4.1.3. Pengujian Hipotesa
Tabel 4.3.
Hasil Uji Beda Rata-Rata
Group Statistics
Entitas N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
GPM Perusahaan 89 49.9802 12.93798 1.37142
DJP 89 40.8200 .00000 .00000
OPM Perusahaan 88 26.2676 17.66602 1.88320
DJP 88 19.1800 .00000 .00000
PPM Perusahaan 85 26.9701 17.47642 1.89558
DJP 85 22.1200 .00000 .00000
CTTOR Perusahaan 88 5.7598 1.68535 .17966
DJP 88 5.3900 .00000 .00000
NPM Perusahaan 85 20.9370 16.93467 1.83682
DJP 85 16.7400 .00000 .00000
DPR Perusahaan 31 16.1079 10.31868 1.85329
DJP 31 9.4000 .00000 .00000
g Perusahaan 84 9.5877 5.64567 .61599
DJP 84 8.0000 .00000 .00000
b Perusahaan 64 5.0858 4.15216 .51902
DJP 64 2.0000 .00000 .00000
s Perusahaan 37 .3394 .25603 .04209
DJP 37 .1800 .00000 .00000
py Perusahaan 68 1.3110 1.05532 .12798
DJP 68 1.8200 .00000 .00000
x Perusahaan 71 1.1188 .76490 .09078
DJP 71 15.0000 .00000 .00000
pl Perusahaan 82 5.0072 3.79187 .41874
DJP 82 10.3600 .00000 .00000
bl Perusahaan 81 5.0749 4.80295 .53366
DJP 81 7.4200 .00000 .00000
Hasil Uji Beda GPM
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Gross Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara Gross Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.29. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (6,679>2,280) dan Sig.(2-tailed) (0.000<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara GPM yang ditetapkan DJP dengan perusahaan
3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara Gross Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 9,16%
Hasil Uji Beda OPM
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Operating Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara Operating Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.30. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (3,764>2,280) dan Sig.(2-tailed) (0.000<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara OPM yang ditetapkan DJP dengan perusahaan
3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara Operating Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 7%
Hasil Uji Beda PPM
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Pretax Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara Pretax Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.31. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (2.559>2,282) dan Sig.(2-tailed) (0.012<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara PPM yang ditetapkan DJP dengan perusahaan
3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara Pretax Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 4.85%
Hasil Uji Beda CTTOR
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Corporate Tax To Turn Over Ratio yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara Corporate Tax To Turn Over
Ratio yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.32. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (2,058>1,987) dan Sig.(2-tailed) (0.043<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara CTTOR yang ditetapkan DJP dengan perusahaan
3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara Corporate Tax To Turn Over Ratio yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 0.37%
Hasil Uji Beda NPM
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Net Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara Net Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.33. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (2,285>2,282) dan Sig.(2-tailed) (0.024<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara NPM yang ditetapkan DJP dengan perusahaan
3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara Net Profit Margin yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 4.19%
Hasil Uji Beda DPR
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara Dividend Payout Ratio yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara Dividend Payout Ratio yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.34. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (3,619>2,359) dan Sig.(2-tailed) (0.001<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara DPR yang ditetapkan DJP dengan perusahaan
3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara Dividend Payout Ratio yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 6,7%
Hasil Uji Beda g
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio gaji/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio gaji/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.35. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (2,578>2,282) dan Sig.(2-tailed) (0.012<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio gaji/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan
3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio gaji/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 1,58%
Hasil Uji Beda b
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio bunga/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio bunga/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.36. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (5,945>2,296) dan Sig.(2-tailed) (0.000<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio bunga/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan 3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio
bunga/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 3,08%
Hasil Uji Beda s
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio sewa/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio sewa/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4. . adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai t hitung > t tabel (3,3786>2,339) dan Sig.(2-tailed) (0.001<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio sewa/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan 3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio
sewa/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 0,15%
Hasil Uji Beda py
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio penyusutan/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio penyusutan/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.38. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai -t hitung < -t tabel (-3,978<-2,292) dan Sig.(2-tailed) (0.000>0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio penyusutan/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan 3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio
penyusutan/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 0,5%
Tabel 4.14.
Hasil Uji Beda x
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio input lain/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio input lain/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.39. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai -t hitung < -t tabel (-152,916<-2,290) dan Sig.(2-tailed) (0.00<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio input lain/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan 3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio input
lain/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 13,88%
Tabel 4.15.
Hasil Uji Beda pl
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio penghasilan luar usaha/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio penghasilan luar usaha/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4.40. adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai -t hitung < -t tabel (-12,783<-2,283) dan Sig.(2-tailed) (0.00<0.05) maka Ho ditolak, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio input lain/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan 3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio input
lain/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 5,35%
Tabel 4.16.
Hasil Uji Beda bl
Hipotesa:
H01: Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio beban luar usaha/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
H11: Terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio beban luar usaha/penjualan yang ditetapkan DJP dengan rasio keuangan yang dihasilkan perusahaan sektor Real Estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Hasil uji statistik dari Tabel 4. . adalah:
1. Melihat hasil uji F (Levene’s Test), oleh karena nilai probabilitas (signifikansi) adalah 0.00 yang berarti lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa kedua varian berbeda. Dengan ini penggunaan uji T menggunakan equal variance not assumed
2. Oleh karena nilai –t hitung < -t tabel (-4.394<-2,284) dan Sig.(2-tailed) (0.00<0.05) maka Ho diterima, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio beban luar usaha/penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan
3. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan antara rasio beban luar usaha /penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perbedaan rata-rata (mean difference) sebesar 2,34%
Sebelum dilakukan analisis berdasarkan penjelasan sebelumnya, berikut akan ditampilkan mengenai data keuangan perusahaan yang diperoleh dalam penelitian ini yang sudah diolah sebelumnya. Data-data tersebut adalah rata-rata dari tahun 2010 hingga 2012, yaitu laba kotor/penjualan(GPM), laba bersih/penjualan(OPM), laba bersih sebelum pajak/penjualan(PPM), PPh terhutang/penjualan(CTTOR), Laba bersih setelah pajak/penjualan(NPM), Deviden tunai/laba bersih setelah pajak(DPR), beban gaji/penjualan(g), beban bunga/penjualan(b), beban sewa/penjualan(s), beban penyusutan/penjualan(py), beban input lain-lain/penjualan(x), penghasilan dari luar usaha/penjualan(pl), dan beban luar usaha/penjualan(bl).
Tabel 4.17.
Rata-rata Komponen Untuk Perhitungan Rasio Benchmark Perusahaan
2010 2011 2012 DJP
GPM 49,08% 48,93% 45,28% 40,82%
OPM 21,86% 21,98% 18,34% 19,18%
PPM 22,52% 20,23% 14,20% 22,12%
CTTOR 4,87% 5,57% 5,96% 5,39%
NPM 16,28% 14,76% 8,28% 16,74%
DPR 14,70% 17,24% 16,30% 9,40%
g 9,98% 12,41% 11,04% 8,00%
b 5,89% 4,69% 6,19% 2,00%
s 0,79% 1,08% 0,60% 0,18%
py 2,34% 2,60% 1,43% 1,82%
x 1,64% 1,60% 1,11% 15,00%
pl 7,42% 6,95% 5,81% 10,36%
bl 7,20% 7,64% 6,19% 7,42%
Sumber: Data Olahan (2013)
Dalam penentuan perusahaan yang akan diteliti, pendekatan yang dilakukan adalah dengan Sig.(2-tailed) terbesar yaitu rasio CTTOR sebesar 0.043.
Ditemukan bahwa PT.Fortune Mate Indonesia (FMII) (tidak dalam kewajaran dengan rata-rata CTTOR = 1,72%), sedangkan perusahaan yang didalam kewajaran terdapat beberapa perusahaan, namun dalam penelititan ini menggunakan PT.Duta Pertiwi (DUTI) dengan rata-rata CTTOR = 5,96%
(mendekati nilai benchmark DJP pada tiap tahunnya)
Rasio Corporate Tax To Turnover Ratio (CTTOR) pada tiap tahunnya
Sumber: Data Olahan (2013) Tabel 4.19.
Penjualan pada tiap tahunnya(dalam Milyar rupiah)
Penjualan 2010 2011 2012
FMII Rp. 11.034 Rp.23.782 Rp. 37.314
DUTI Rp. 1.007.355 Rp. 1.117.683 Rp. 1.569.176 Sumber : Laporan Keuangan
Tabel 4.20.
Benchmark perusahaan FMII
FMII 2010 2011 2012 Benchmark Selisih
2010 2011 2012
GPM 17,94% 39,79% 43,34% 40,82% -22,88% -1,03% 2,52%
OPM -45,44% 1,47% 17,88% 19,18% -64,62% -17,71% -1,30%
PPM -61,34% 1,47% 12,93% 22,12% -83,46% -20,65% -9,19%
CTTOR -8,90% 3,73% 10,33% 5,39% -14,29% -1,66% 4,94%
NPM -48,17% -2,25% 2,60% 16,74% -64,91% -18,99% -14,14%
DPR 0,00% 0,00% 0,00% 9,40% -9,40% -9,40% -9,40%
g 32,32% 16,93% 12,71% 8,00% 24,32% 8,93% 4,71%
b 3,92% 0,00% 0,00% 2,00% 1,92% -2,00% -2,00%
s 1,63% 0,97% 0,64% 0,18% 1,45% 0,79% 0,46%
py 15,42% 9,84% 5,92% 1,82% 13,60% 8,02% 4,10%
x 6,68% 3,49% 1,96% 15,00% -8,32% -11,51% -13,04%
pl 4,13% 3,44% 0,97% 10,36% -6,23% -6,92% -9,39%
bl 16,10% 0,32% 0,01% 7,42% 8,68% -7,10% -7,41%
Sumber : Data Olahan (2013)
CTTOR
2010 2011 2012 FMII -8,90% 3,73% 10,33%
DUTI 6,07% 5,99% 5,82%
Benchmark perusahaan DUTI
DUTI 2010 2011 2012 Benchmark Selisih
2010 2011 2012 GPM 72,52% 73,96% 67,14% 40,82% 31,70% 33,14% 26,32%
OPM 33,81% 36,94% 38,33% 19,18% 14,63% 17,76% 19,15%
PPM 38,86% 43,78% 44,91% 22,12% 16,74% 21,66% 22,79%
CTTOR 6,07% 5,99% 5,82% 5,39% 0,68% 0,60% 0,43%
NPM 26,51% 37,79% 39,20% 16,74% 9,77% 21,05% 22,46%
DPR 0,00% 9,04% 6,36% 9,40% -9,40% -0,36% -3,04%
g 11,71% 13,01% 8,98% 8,00% 3,71% 5,01% 0,98%
b 7,98% 7,06% 2,79% 2,00% 5,98% 5,06% 0,79%
s 0,16% 0,15% 0,00% 0,18% -0,02% -0,03% -0,18%
py 3,69% 2,51% 1,75% 1,82% 1,87% 0,69% -0,07%
x 2,51% 2,25% 2,89% 15,00% -12,49% -12,75% -12,11%
pl 10,12% 9,08% 14,33% 10,36% -0,24% -1,28% 3,97%
bl 8,57% 6,52% 10,46% 7,42% 1,15% -0,90% 3,04%
Sumber : Data Olahan (2013)
4.1.5. Gambaran umum perusahaan yang diteliti 4.1.5.1. FMII
PT. Fortune Mate Indonesia.Tbk pertama kali didirikan pada tahun 1989.
Entitas mulai beroperasi secara komersial di bidang produksi sepatu yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur. Pada pertengahan bulan Maret 2004, entitas menghentikan operasi komersial produksi sepatu dan mulai bergerak di bidang real estate di Surabaya. Perusahaan memiliki 2 anak perusahaan yang bergerak di bidang pembangungan real estate yang juga berlokasi di Surabaya dengan persentase kepemilikan sebesar 99,67% dan 51%.
4.1.5.2. DUTI
PT. Duta Pertiwi Tbk didirikan pada tahun 1972 dan memulai usahanya di bidang pengembang dan real estate pada tahun 1987, dan melakukan pengembangan areal komersial yaitu sejumlah unit rumah toko(ruko) di Jakarta.
tercatat di bursa efek sejak tahun 2002. Pada tahun 1989, entitas mempelopori pembangunan proyek komersil terpadu (superblok) seluas 29 ha di kawasan Mangga Dua, Jakarta. Kawasan superblok ini kemudian lebih dikenal dengan
tersebar di Jabodetabek, Balikpapan, dan Surabaya.
4.1.6. Penerapan rasio Benchmarking untuk indikasi Tax Evasion 1. 10pn + g + b + x + OPM = 100%
2. 10pn + g + b + x + PPM – (pl – bl) = 100%
3. 10pn + g + b + x + NPM – (pl –bl) + CTTOR = 100%
Ketiga persamaan di atas menunjukkan adanya keterkaitan antara satu rasio dengan rasio lain. Adanya keterkaitan tersebut menunjukan bahwa kewajaran input dan laba suatu perusahaan dapat dinilai dari besarnya komposisi masing-masing rasio. Tingginya suatu rasio input akan diimbangi dengan rendahnya rasio input yang lain dan/atau rendahnya tingkat laba. Dengan berasumsi bahwa wajib pajak dalam suatu kelompok usaha sejenis cenderung akan memiliki karakter usaha yang sama, komposisi input dan laba suatu perusahaan juga akan memiliki komposisi yang mirip. Dengan menilai suatu Wajib Pajak berdasarkan komposisi masing-masing rasio-rasio dalam persamaan diatas, kemudian membandingkan dengan rasio-rasio benchmark untuk jenis usaha yang sama dengan wajib pajak, dapat diperoleh gambaran awal bagaimana kemungkinan Wajib Pajak beroperasi, serta kinerja keuangan dan kepatuhan perpajakannya.(SE-96/PJ/2009)
Dari total persamaan pada perusahaan FMII dan DUTI hanya dapat mencerminkan berkisar -3% hingga 27% untuk FMII dan 56%-59% pada DUTI, cukup jauh dibawah 100%. Hal ini dikarenakan input dari pajak masukan perusahaan tidak diperoleh datanya. Nilai pn yang kecil juga dapat disebabkan bahan baku dari usaha tidak dikenakan PPN atau PPN-nya tidak dapat dikreditkan. Sedangkan rendahnya nilai yang dimiliki oleh FMII dikarenakan adanya kerugian pada tahun 2010 dan mulai membaik pada tahun-tahun berikutnya.
Penerapan Rumus Benchmarking
FMII DUTI
Cara 2010 2011 2012 2010 2011 2012
1 -3% 19% 27% 56% 59% 56%
2 -3% 19% 27% 56% 59% 56%
3 -3% 19% 27% 56% 59% 56%
Sumber: Data Olahan (2013)
4.1.6.1. Biaya Usaha
Tabel dibawah menunjukan perbandingan rasio benchmark DJP dengan perusahaan FMII (PT. Fortune Mate Indonesia Tbk) dan DUTI (PT. Duta Pertiwi Tbk) atas komponen biaya perusahaan, dimana semua komponen dibagi dengan penjualan pada tahun bersangkutan. Kolom biaya usaha pertama bertujuan untuk melihat proporsi biaya yang dikeluarkan perusahaan secara langsung terkait dengan aktivitas utama perusahaan (Harga Pokok Produksi / Cost of Goods Sold) dan biaya aktivitas pendukung seperti beban penjualan dan administrasi (Selling and Administrative Expenses). Sedangkan di kolom biaya usaha kedua memiliki fungsi untuk melihat berapa proporsi biaya yang dikeluarkan baik aktivitas utama maupun pendukung di tiap bagiannya masing-masing.
Tabel 4.23.
Biaya Usaha Perusahaan FMII
Sumber : Laporan Keuangan
Berdasarkan data yang diolah dapat diketahui apabila Harga Pokok
mampu untuk mengurangi biaya yang terjadi sehingga pada tahun-tahun berikutnya perusahaan dapat memperoleh laba. Perlu dilakukan analisa yang lebih mendalam mengenai pos apakah yang menyebabkan beban yang terjadi terlalu besar.
Rasio g wajib pajak sangatlah tinggi dibandingkan dengan benchmark DJP, hal ini dapat terjadi karena rendahnya nilai penjualan perusahaan. Hal ini terlihat dari komposisi jumlah karyawan yang memang tidak terlalu banyak perubahan pada 3 tahun terakhir.
Gambar 4.24.
Jumlah Karyawan Perusahaan FMII
FMII 2010 2011 2012
J.Karyawan 82 102 111
Sumber : Laporan Keuangan
Rasio py wajib pajak relatiif lebih rendah dari benchmark dapat terjadi karena perusahaan tidak melakukan pembelian alat inventaris atau peralatan administrasi yang terlalu besar.
Rasio s wajib pajak sedikit diatas benchmark karena terdapat beban sewa sebesar 180 juta ,230 juta ,dan 240 juta pada tahun 2010-2012. Namun, karena tidak penjelasan yang lebih lengkap mengenai rincian sewa yang dilakukan, analisi yang lebih mendalam tidak dapat dilakukan
Rasio b wajib pajak cukup besar pada tahun 2010 karena terdapat peminjaman uang pada PT. Bank Mestika Dharma dan pada PT.Bank Tabungan Negara Tbk.
Rasio pemakaian bahan terhadap penjualan menunjukan nilai antara 60%- 85%, (diatas benchmark 7%-31% ) yang dapat berarti bahwa wajib pajak tidak menggunakan bahan baku atau bahan pembantu secara efisien baik secara harga yang lebih murah atau penggunaan yang maksimal seiring berjalannya waktu dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis, atau karena nilai penjualan perusahaan yang rendah pada tahun 2010
Biaya Usaha Perusahaan DUTI
Sumber : Laporan Keuangan
Berdasarkan data yang diolah dapat diketahui apabila Harga Pokok Produksi milik DUTI sudah dibawah rasio benchmark, hal ini menunjukan bahwa dalam penggunaan barang produksi sudah efisien. Namun dalam biaya usaha lain yang digunakan untuk mendukung berjalannya aktivitas operasional, berada diatas nilai benchmark. Oleh karena itu perlu dilakukan analisa yang lebih mendalam untuk mengetahui pos apa yang menyebabkan terjadinya kenaikan beban tersebut.
Rasio g wajib pajak selalu diatas benchmark, hal ini dapat terjadi karena adanya penambahan pekerja atau bertambahnya gaji. Terlihat bahwa pada tahun 2012 rasio beban gaji telah menurun, sesuai dengan menurunnya jumlah karyawan pada 2 tahun terakhir.
Gambar 4.26.
Jumlah Karyawan DUTI
DUTI 2010 2011 2012
J.Karyawan 763 685 634 Sumber : Laporan Keuangan
Rasio py wajib pajak lebih tinggi dari benchmark dapat terjadi karena perusahaan melakukan pembelian alat inventaris atau peralatan administrasi yang terlalu besar atau pengalokasian metode penyusutan double declining.
Rasio s wajib pajak kecil karena hanya melakukan sewa atas ruangan kantor. Hal ini dapat terjadi karena dalam pembangunan sebuah Real Estate, suatu projek dilakukan dengan outsource yang bersifat tender. Oleh karena itu
projek-projek tersebut.
Rasio b wajib pajak cukup tinggi karena terdapat kurang lebih 18% beban bunga bank pada tahun 2012 dan 15% pada tahun 2011, sedangkan sisanya adalah beban bunga yang dibayarkan kepada pihak-pihak berelasi atas peminjaman uang.
Rasio pemakaian bahan terhadap penjualan menunjukan nilai antara 38%- 45%, (dibawah benchmark 8%-15%) yang dapat berarti bahwa wajib pajak telah menggunakan bahan baku atau bahan pembantu secara efisien baik secara harga yang lebih murah atau penggunaan yang maksimal dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis.
4.1.4.6.1. Analisa Perbandingan Biaya Usaha Antara FMII dan DUTI
Biaya usaha lain (GPM-OPM) kedua perusahaan sama-sama berada diatas rasio benchmarking, setelah dilakukan analisa terdapat 2 pos yang diatas kewajaran yaitu pos gaji, penyusutan, dan bunga yang terlalu besar.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah karena semua rasio dibagi dengan penjualan, tingkat penjualan yang meningkat (FMII) menunjukan adanya hubungan antara nilai penjualan dengan rasio g,py, dan b. Sedangkan pada perusahaan DUTI yang tingkat penjualannya tidak jauh berbeda sudah menunjukan nilai rasio yang lebih baik meskipun rasio keuangan yang dihasilkan masih diatas nilai rasio benchmarking.
Rasio gaji berhubungan dengan karyawan, oleh karena itu dapat dilihat bahwa kedua perusahaan baik FMII dan DUTI memiliki rasio g diatas benchmark, hal ini perlu dilakukan analisa lebih mendalam mengenai apakah terjadi pembiayaan gaji yang berlebihan. Terutama bagi FMII dimana jumlah karyawan yang sedikit, berbeda dengan DUTI dimana jumlah penurunan karyawan pada 2 tahun terakhir diikuti dengan penurunan rasio g.
Rasio penyusutan kedua perusahaan berada diatas benchmark. Hal ini dapat disebabkan karena rendahnya nilai penjualan perusahaan.
Rasio sewa yang dimiliki kedua perusahaan relatif kecil karena terdapat sewa ruangan pada perusahaan DUTI. Analisa lebih mendalam tidak dapat dilakukan karena keterbatasan informasi dari laporan keuangan saja.
Rasio bunga berhubungan dengan beban bunga. Pada perusahaan FMII, beban bunga hanya terdapat pada tahun 2010, dimana beban bunga tersebut dibayarkan kepada PT. Bank Mestika Dharma dan pada PT.Bank Tabungan Negara Tbk.. Sedangkan pada perusahaan DUTI, beban bunga tersebut dibayarkan mayoritas kepada pihak berelasi. Anaisa yang lebih mendalam perlu dilakukan dengan melihat laporan keuangan pihak-pihak yang berelasi.
Rasio input lain adalah beban lain-lain yang tidak mencakup beban-beban selain gaji,bunga,sewa, dan penyusutan. kedua perusahaan tidak jauh berbeda.
Rasio pemakaian bahan baku perusahaan FMII masih diatas nilai benchmarking yang berarti perusahaan FMII masih belum beroperasi secara maksimal. Namun pada perusahaan DUTI, terjadi sebaliknya rasio pemakaian bahan baku menunjukan nilai dibawah benchmarking.
4.1.6.2. Koreksi Fiskal
Rasio antara CCTOR/PPM digunakan untuk menguji apakah nilai total koreksi fiskal suatu wajib pajak dapat dinilai wajar atau tidak. Hasil wajib pajak yang lebih rendah dapat disebabkan karena adanya kompensasi kerugian, penghasilan yang bersifat final, dan koreksi fiskal positif / negatif yang dilakukan lebih rendah / tinggi dari yang seharusnya. Namun dalam laporan keuangan tidak dapat dilihat apa saja yang menjadi koreksi yang dilakukan perusahaan sehingga analisa lebih mendalam tidak dapat dilakukan.
Tabel 4.27.
Koreksi Fiskal Perusahaan FMII
Sumber : Laporan Keuangan Tabel 4.28.
Koreksi Fiskal Perusahaan DUTI
Sumber : Laporan Keuangan
4.1.6.2.1. Analisa Perbandingan Koreksi Fiskal Antara FMII dan DUTI Dalam nilai penjualan, perusahaan FMII mengalami peningkatan yang cukup besar namun dalam CTTOR/PPM yang menunjukan proporsi pembayaran PPh terhutang dari pendapatan sebelum pajak mengalami perubahan yang besar pada tiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2010 dan 2011, perusahaan FMII mengalami kerugian sehingga dapat terjadi kompensasi kerugian atas tahun 2010-2012.
Pada perusahaan DUTI adanya perbedaan sekitar 10% antara benchmark DJP dengan rasio perusahaan dapat terjadi karena benchmark DJP menggunakan data tahun pajak 2007 dimana pajak penghasilan atas wajib pajak badan dikenakan tarif progresif, sedangkan mulai tahun 2009 sudah menggunakan tarif 25% atau terjadi karena adanya pajak penghasilan yang bersifat final, contohnya berupa penjualan tanah dan bangunan yang merupakan aktivitas utama perusahaan yang bergerak di bidang Real Estate.
4.1.6.3. Penghasilan dan Beban Luar Usaha
Hasil pembandingan dibawah menunjukan antara penghasilan dan biaya diluar aktivitas operasional perusahaan. Tinggi rendahnya pendapatan dan biaya dapat terjadi karena penghasilan yang bersifat insidentil (pembatalan kontrak) atau
dalam usaha sejenis.
Tabel 4.29.
Penghasilan dan Biaya Luar Usaha Perusahaan FMII
Sumber : Laporan Keuangan Tabel 4.30.
Penghasilan dan Biaya Luar Usaha Perusahaan FMII (2)
Sumber : Laporan Keuangan Tabel 4.31.
Penghasilan dan Biaya Luar Usaha Perusahaan DUTI
Sumber : Laporan Keuangan
4.1.6.3.1. Analisa Perbandingan Penghasilan dan Beban Luar Usaha Antara FMII dan DUTI
Pada perusahaan FMII, rasio beban luar usaha melebihi penghasilan luar usaha dikarenakan adanya denda pajak, beban penyusutan, dan beban lain- lain. Namun pada tahun 2011 dan 2012 banyak beban luar usaha yang sudah tidak
bersih dari penghasilan luar usaha setelah dikurangi biaya usaha. Pada tahun 2010-2012, hasil rasio keuangan milik perusahaan DUTI tidak mengindikasikan adanya tax evasion.
Dalam melihat analisa penghasilan dan beban luar usaha, pendapatan dan beban bunga adalah akun yang sangat mempengaruhi perusahaan. Namun dalam laporan keuangan tidak ada penjelasan mengenai rincian pendapatan dan beban lain-lain, oleh karena itu tidak dapat diteliti lebih dalam.
4.1.6.4. Objek Pemotongan dan Pemungutan PPh
Pengujian ini dilakukan untuk membandingkan apakah objek pemotongan dan pemungutan PPh yang meliputi PPh 21(gaji), PPh23(bunga,sewa), dan PPh pasal 4 ayat (2). Dalam melihat PPh 21 yang dipotong, hal ini dibandingkan dengan beban gaji yang dibayarkan perusahaan. Apabila beban gaji semakin besar maka seharusnya PPh 21 yang dipotong perusahaan juga ikut meningkat. PPh 23 yang dipungut oleh perusahaan lain adalah bunga yang diterima bukan dari bank.
Sedangkan sewa yang dimaksud adalah sewa atas mesin dan bukanlah sewa atas ruangan yang dikenakan pajak final. Sedangkan pasal 4 ayat (2) yang bersifat final dapat dilihat dengan membandingkan pendapatan final perusahaan.
Tabel 4.32.
Objek Pemotongan dan Pemungutan Perusahaan FMII
Sumber : Laporan Keuangan Tabel 4.33.
Objek Pemotongan dan Pemungutan Perusahaan FMII (2)
Sumber : Laporan Keuangan
Pemotongan PPh 21 yang dilakukan oleh perusahaan FMII terlihat meningkat di tiap tahunnya, namun dalam rasio g terlihat penurunan yang besar hal ini dikarenakan adanya penurunan jumlah karyawan. Apabila dilihat dari sisi beban gaji sendiri, terjadi peningkatan beban gaji di tiap tahunnya. Maka dapat dikatakan sesuai dengan kewajaran. Pada laporan keuangan perusahaan FMII PPh pasal 23 dan kewajaran PPh pasal 4 ayat (2) mengalami penurunan pada tahun 2012, untuk mengetahui apakah yang menjadi penyebab perlu adanya informasi dari SPT Tahunan untuk menganalisa lebih dalam.
Tabel 4.34.
Objek Pemotongan dan Pemungutan Perusahaan DUTI
Sumber : Laporan Keuangan Tabel 4.35.
Objek Pemotongan dan Pemungutan Perusahaan DUTI (2)
Sumber : Laporan Keuangan
Pemotongan PPh 21 yang dilakukan oleh perusahaan DUTI terlihat meningkat di tiap tahunnya, namun dalam rasio g terjadi penurunan hal ini dikarenakan rasio g yang dibagi dengan penjualan. Apabila dilihat dari sisi beban gaji sendiri, terjadi peningkatan beban gaji di tiap tahunnya. Maka dapat dikatakan sesuai dengan kewajaran dan tidak terdapat indikasi tax evasion. Pemungutan PPh 23 yang dapat terjadi pada perusahaan hanya berasal dari pendapatan bunga bukan dari bank, namun dalam laporan keuangan perusahaan tidak dijelaskan mengenai rincian pendapatan bunga. Oleh karena itu tidak dapat dilakukan analisa lebih mendalam mengenai kewajaran pemungutan PPh pasal 23. Sedangkan pada PPh
Tahunan.
4.2. Analisis
4.2.1. Temuan dan Intepretasi
Dari data-data mengenai benchmark perusahaan sektor real estate, diketahui bahwa terdapat perbedaan pada ke-13 rasio antara rasio benchmark DJP dengan rasio yang dihasilkan oleh perusahaan. Adanya perbedaan rasio yang dihasilkan dapat disebabkan oleh perubahan kondisi perekonomian terutama dalam sektor real estate dimana penjualan yang terjadi meningkat banyak beberapa tahun terakhir, mengingat rasio benchmark DJP masih menggunakan data tahun pajak tahun 2007. Berdasarkan pengujian asumsi yang dilakukan, ditemukan bahwa terdapat perbedaan yang singifikan antara Gross Profit Margin, Operating Profit Margin, Pretax Profit Margin, Corporate Tax To Turn Over Ratio, Net Profit Margin, Dividend Payout Ratio, rasio gaji terhadap penjualan, rasio bunga terhadap penjualan, rasio sewa terhadap penjualan, rasio penyusutan/penjualan, rasio input lainnya terhadap penjualan, dan rasio penghasilan di luar usaha terhadap penjualan, dan rasio beban luar usaha terhadap penjualan yang ditetapkan DJP dengan perusahaan sektor real estate terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Hasil analisa indikasi tax evasion pada penelitian ini menerapkan rasio benchmarking pada 2 perusahaan sektor real estate yaitu PT. Fortune Mate Indonesia Tbk (FMII) dan PT. Duta Pertiwi Tbk (DUTI). Rasio benchmarking yang dihasilkan oleh kedua perusahaan terdapat kemungkinan adanya tax evasion, meskipun pada perusahaan DUTI nilai rasio Gross Profit Margin(GPM), Operating Profit Margin(OPM), Pretax Profit Margin(PPM), Corporate Tax Turnover Ratio(CTTOR), dan Net Profit Margin(NPM) yang berhubungan dengan nilai penjualan dan pembayaran pajak semuanya diatas rasio benchmarking. Sedangkan pada perusahaan FMII terjadi kerugian pada tahun 2010 dan 2011 dimana rasio keuangan yang dihasilkan dibawah benchmark DJP namun belum pasti didalam kerugian tersebut tidak terjadi tax evasion. Pada rasio- rasio yang berhubungan dengan beban seperti rasio gaji/penjualan(g), rasio
rasio input lain/penjualan(x), kedua perusahaan memiliki rasio yang menunjukan ketidakwajaran, yaitu pada rasio gaji/penjualan(g), rasio bunga/penjualan(b), rasio penyusutan/penjualan(py).
Setelah dilakukan analisa mengenai kewajaran biaya usaha, kewajaran koreksi fiskal, kewajaran penghasilan dan biaya luar usaha, dan kewajaran pemotongan dan pemungutan PPh, dapat disimpulkan bahwa kedua perusahaan terdapat indikasi tax evasion hanya pada kewajaran biaya usaha, hal ini dikarenakan adanya beban-beban diatas kewajaran seperti rasio gaji, bunga, dan penyusutan. Ketiga rasio tersebut berpengaruh pada biaya usaha lain atau pendukung (diluar Harga Pokok Produksi), mengingat kedua perusahaan memiliki nilai diluar kewajaran. Namun, karena penggunaan rasio benchmarking hanya dapat menilai secara umum, belum tentu perusahaan yang telah diteliti memang benar-benar telah melakukan tindakan tax evasion. Perlu dilakukan analisis yang lebih mendalam dengan menggunakan SPT Tahunan, SPT PPN, dan observasi ditempat Wajib Pajak.
Berdasarkan hasil pengujian asumsi ditemukan bahwa hasil rasio yang dihasilkan oleh perusahaan berbeda dengan rasio benchmarking DJP, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan relevansi pada tahun 2012.
Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh 2 hal yaitu :
1. Dalam pengambilan sampel perusahaan, terdapat perusahaan yang berkinerja baik maupun yang berkinerja buruk, hal ini dapat menyebabkan nilai suatu rasio memiliki standart deviasi yang cukup tinggi. Suatu perusahaan yang dalam tahun-tahun tertentu memiliki kondisi keuntungan atau kerugian yang cukup tinggi dapat mempengaruhi nilai rata-rata secara keseluruhan sebuah rasio.
Namun apabila nilai-nilai ekstrim tersebut dihilangkan, maka hasil rata-rata tidak dapat menunjukan nilai yang sebenarnya. Salah satu cara yang dilakukan di Australia untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan pengelompokan perusahaan. Terutama pada perusahaan yang memiliki nilai penjualan diatas rata- rata, serta perusahaan yang mengalami kerugian tidak memerlukan penggunaan rasio benchmarking. Menurut Australian Taxation Office, perusahaan yang
benchmarking, sedangkan perusahaan yang memiliki hasil yang dibawah benchmark baik karena kerugian atau alasan lain perlu mengirimkan voluntary disclosure yang berisi mengapa memiliki nilai rasio dibawah DJP serta perlu diperiksa sewaktu-waktu apabila dinilai kerugiannya tidak wajar baik dari pernyataan, segi waktu, maupun transaksi.
2. Hasil rasio benchmarking akan lebih relevan apabila dalam penentuan kewajaran rasio benchmark digunakan dalam bentuk skala seperti yang telah dilakukan di Australia. Penetuan skala kewajaran rasio perlu dibuat berdasarkan ukuran perusahaan baik dari nilai penjualan maupun dari nilai aset yang dimiliki.