• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bibit Klonal di dalam Polybag

Dalam dokumen Pengadaan dan Penanganan Bibit Klonal Ta (Halaman 25-37)

Bibit polybag diperoleh dari penanaman stum okulasi mata tidur yang ditanam di polybag hingga terbentuk 2-3 payung daun untuk bibit berumur satu tahun, atau terdapat 6-7 payung daun pada bibit berumur dua tahun. Kelebihan dari penggunaan bahan tanam bibit polybag ialah kecilnya presentase kematian dan pertumbuhannya lebih seragam dibanding bahan tanam stum okulasi mata tidur. Kekurangan penggunaan bahan tanam bibit polybag ialah memerlukan tenaga kerja, biaya pengadaan, dan pengangkutannya yang besar dibanding dengan bahan tanam stum okulasi mata tidur.

Polybag yang digunakan Balai Penelitian Sungei Putih untuk stum okulasi mata tidur dalam kantong plastik berukuran 25 cm × 50 cm dengan tebal 0.1-0.15 mm, polybag diukur dalam keadaan terlipat. Pengadaan bibit polybag harus dilakukan di areal yang rata dan bersih dari tunggul-tunggul, serta lokasi

pembibitan sebaiknya ternaungi. Standar prestasi kerja dan kebutuhan bahan serta alat untuk pembibitan di polybag dengan luas 1 ha atau berkisar 110 000 polybag, dapat dilihat di Lampiran 4. Berikut kegiatan-kegitan yang dilakukan dalam pengadaan dan penangan bibit polybag:

1. Pengisian tanah kedalam polybag dan teknik penyusunannya

Bagian tanah lapisan bawah tidak dianjurkan digunakan karena mengandung bahan organik yang rendah dan juga sifat fisiknya yang jelek. Tanah diambil dengan mengunakan cangkul dengan kedalaman 0-15 cm dari permukaan tanah, dan di ayak serta diberi pupuk fosfat alam sebanyak 5 g per polybag, selanjutnya tanah dimasukkan kedalam polybag dengan menggunakan sekop kecil yang dimodifikasi sendiri (Gambar 7).

Polybag yang digunakan berukan 30 cm x 40 cm dengan ketebalan 0.15 mm dan diberi lubang di dinding pada dasar polybag untuk drainase air. Bagian atas polybag disisakan sekitar 1.5-2.0 cm, untuk tempat air penyiraman dan pupuk. Polybag yang telah berisi tanah disusun secara barisan, masing-masing dua polybag perbaris. Jarak antara polybag satu dengan yang lainnya ialah 0.6 m, dan untuk jalan pemeliharaan serta batas antar klon berjarak 1 m. Setiap barisan polybag memuat 2 x 100 polybag (Gambar 8).

14

Gambar 7 Pengisian tanah ke dalam polybag

Gambar 8 Penyusunan

polybag

2. Penanaman stum okulasi mata tidur di dalam polybag

Bahan tanam yang digunakan Balai Penelitian Sungei Putih untuk bibit klonal dalam polybag ialah stum okulasi mata tidur. Stum okulasi mata tidur yang telah lulus seleksi, segera ditanam ke dalam polybag. Sebelum

penanaman dilakukan, polybag disiram dengan air terlebih dahulu, dan selanjutnya dibuat lubang tanam dengan menggunakan kayu. Ukuran kayu yang digunakan berdiameter 3-5 cm. Stum okulasi mata tidur di masukkan ke dalam polybag yang sebelumnya telah dibuat lubang tanam, sampai akar lateral stum terbenam kedalam tanah. Penanaman stum tanggal 15 Februari 2014, dapat dilihat pada Tabel 4. Penanaman dilakukan pada pagi hari di terminal polybag Balai Penelitian Sungei Putih.

15

Tabel 4 Jumlah stum okulasi mata tidur yang ditanam di polybag

No Jenis klon Jumlah yang ditanam

1 RRIC 100 424

2 AVROS 2037 300

3 GT 1 70

Stum okulasi mata tidur yang ditanam tumbuh 100%, pengamatan dilakukan hinga 14 hari setelah tanam. Hal yang harus diperhatikan dalam penanaman stum okulasi mata tidur di polybag adalah media tanah pada saat penanaman stum harus padat agar bibit tumbuh dengan kokoh, dan penanaman harus memperhatikan arah tumbuh tunas mata okulasi (Gambar 9). Tunas okulasi nantinya harus tumbuh menghadap utara-selatan, tujuannya ialah agar tunas yang tumbuh nantinya tidak saling bertabrakan, dan tujuan lain ialah untuk menghindarkan tunas yang baru melintis tersengat matahari langsung.

3. Pemeliharaan bibit polybag

Pemeliharaan dalam pembibitan polybag meliputi penyiraman, penyiangan, penunasan, dan pemupukan.

a. Penyiraman

Penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanah pengisi polybag mencapai kapasitas lapang. Jika air hujan turun dengan curah hujan ≥10 mm per hari, maka bibitan boleh tidak disiram pada hari itu, sedangkan bila curah hujan <10 mm, maka bibitan harus disiram. Kalkukasi kebutuhan air untuk pembibitan yang memiliki areal luas, harus dilakukan dengan cermat untuk mendapatkan sumber air yang cukup. Untuk penyiraman, setiap hari

dibutuhkan ±0.5 liter air per polybag, namun tetap memperhatikan faktor yang mempengaruhi transpirasi dan evaporasi, yaitu cahaya, suhu, dan angin.

b. Penyiangan

Gambar 9 (a) Penanaman stum okulasi mata tidur (b) Arah tumbuh tunas di polybag

16

Penyiangan gulma dalam polybag dilakukan secara rutin sampai bibit siap salur. Gulma di pembibitan polybag ialah semua jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di areal pembibitan polybag maupun di dalam polybag, yang sifatnya menimbulkan gangguan bagi tanaman ataupun kegiatan pengadaan dan penanganan bibit polybag. Penyiangan dilakukan secara manual dengan rotasi dua minggu sekali atau tergantung pada pertumbuhan gulma.

Pengendalian gulma secara manual yakni menggunakan alat-alat pertanian sederhana seperti cangkul, kored, atau sabit. Penggunaan herbisida sebaiknya dihindarkan karena dapat merusak pertumbuhan bibit klonal dalam polybag. c. Penunasan

Penunasan atau pewiwilan dilakukan terhadap tunas-tunas liar yang tumbuh pada batang bawah, yang dilaksanakan dengan rotasi satu minggu sekali, dengan menggunakan pisau tunas (Gambar 10). Penunasan

dimaksudkan untuk mencegah timbulnya persaingan energi yang diperlukan untuk pertumbuhan tunas dari mata okulasi. Stum yang baik akan bertunas pada 10-14 hari setelah tanam.

d. Pemupukan

Bibit klonal dalam polybag dipupuk dengan menggunakan pupuk lengkap NPKMg 15-15-6-4. Pada bulan pertama, 5 g per polybag dan pada bulan-bulan berikutnya 10 g per polybag. Pemberian pupuk pertama dilakukan jika daun pada payung daun pertama telah mengeras atau berwarna hijau tua. Pengaplikasian pupuk dilakukan dengan cara menyebar pupuk disekitar

dinding polybag. Bila pupuk lengkap tidak tersedia, pemberiaan pupuk tunggal juga dapat diberikan, pada Tabel 5 menunjukkan dosis pupuk yang digunakan.

Tabel 5 Dosis pupuk tunggal di pembibitan polybag Umur

bibit (bulan)

Dosis pupuk (g per pohon)

Urea SP-36 KCl Kieserit

17

1 5 6.25 2 2

2 5 6.25 2 2

3 5 6.25 2 2

Sumber: Balai Penelitian Sungei Putih (2004)

e. Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan polybag

Pengendalian hama di pembibitan polybag Balai Penelitian Sungei Putih, belum dilakukan karena melihat kondisi di lapangan bahwa serangan hama pada lahan pembibitan polybag masih dapat ditoleransi atau tidak mengganggu tanaman. Hama yang menyerang di pembibitan ialah ulat, rayap, dan hewan ternak. Berikut penyakit-penyakit yang dapat menyerang bibit klonal dalam polybag:

1. Jamur Akar putih

Penyakit jamur akar putih (JAP) disebabkan oleh cendawan Rigidoporus lignosus yang menyerang bagian pangkal batang hingga ke bagian akar. Gejala serangan jamur akar putih yaitu, daun terlihat kuning pucat dan tepi atau ujung daun terlipat ke dalam. Peningkatan serangan ditandai oleh daun gugur dan ujung ranting mati, serta daun muda terbentuk lebih awal. Pada perakaran tanaman yang terserang jamur akar putih akan terlihat benang-benang jamur berwarna putih atau miselium (Gambar 11).

Miselium adalah paduan kompak benang-benang jamur yang menyerupai akar tanaman. Miselium R. lignosus yang muda berwarna putih dan bentuknya pipih, semakin tua umur miselium, warna putih berubah menjadi kuning gading dan bentuknya menyerupai akar rambut. Pada serangan berat, akar tanaman

18

busuk, batang mengering dan mati (Balit SP 2008). Pembibitan di polybag dapat terserang penyakit jamur akar putih disebabkan oleh stum yang digunakan telah terjangkit penyakit jamur akar putihdan terlewat sewaktu proses seleksi.

Timbulnya penyakit jamur akar putih, juga erat hubungannya dengan kebersihan lahan. Perdu, semak, dan tunggul atau sisa tebangan pohon yang tertinggal dalam tanah, merupakan substrat R. lignosus.

Akar tanaman yang terserang jamur akar putih digolongkan atas empat stadia yaitu stadia satu, keadaan pada saat akar tanaman ditumbuhi miselium R. lignosus tetapi terbatas, hanya pada permukaan kulit. Stadia dua, kondisi

miselium telah melekat kuat pada kulit atau telah melakukan penetrasi ke jaringan kayu. Stadia tiga, bagian kulit dan kayu telah membusuk, dan stadia empat, tanaman mati (Fairuzah 2012)

Hal terpenting untuk mencegah serangan penyakit jamur akar putih di pembibitan polybag ialah dengan melakukan seleksi stum yang ketat dan intensif. Selain itu, hal lain yang harus diperhatikan ialah penggunaan media tanah yang steril. Pencegahan penyakit jamur akar putih juga dapat dilakukan dengan cara menabur biofungisida Triko SPplus sebanyak 25 g per polybag, dengan cara

pengaplikasian ditabur di sekeliling tanaman dengan interval 6 bulan. Triko SPplus

merupakan produk dari hasil penelitian Balai Penelitian Sungei Putih dengan berbahan aktif Trichoderma sp, yang efektif dan efisien untuk mencegah serangan penyakit jamur akar putih pada tanaman karet (Lampiran 5).

Penyakit jamur akar putih merupakan penyakit paling berbahaya dalam pengadaan bibit klonal tanaman karet, sebab jamur akar putih dapat menyerang bibit klonal stum okulasi mata tidur dan bibit polybag. Meluasnya penyakit jamur akar R. lignosus akan menghambat atau menggagalkan usaha peremajaan dan perluasan tanaman karet. Dalam tahun 1964 dilaporkan bahwa luas areal peremajaan yang terserang jamur akar R. lignosus adalah 11 000 ha dan 19.6 persen dari jumlah tanaman dalam areal tersebut mati akibat penyakit tersebut. Dalam tahun 1980 salah satu kebun di Jawa melaporkan bahwa selama tiga tahun setelah penanaman dalam rangka peremajaan, 80% tanaman menderita gangguan penyakit jamur R. lignosus. Pada tahun 1990, salah satu kebun inti di Sumatra pernah diketahui tanamannya terserang R. Iignosus sebanyak 40% selama 4-11 tahun (Fairuzah 2012).

Pengendalian penyakit akar R. lignosus dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, yaitu:

(1) Mencegah timbulnya jamur akar putih, pada saat melakukan persiapan lahan dengan menghilangkan tunggul-tunggul atau organ-organ tanaman berkayu secara tuntas. Penerapan cara ini akan mengakibatkan rusaknya struktur tanah serta erosi pada areal yang miring.

(2) Menanam tanaman penutup tanah jenis leguminose yang tumbuhnya menjalar minimal satu tahun lebih awal dari penanaman karet untuk menggalakkan kegiatan organisme renik pelapukan kayu, selain itu dapat pula dilakukan dengan cara menaburkan 150 belerang cirrus pada lubang tanaman atau disekitar tanaman baru.

(3) Melakukan pengendalian penyakit akar dengan pelumasan fungisida Tridemorph 10% atau PCNB 20% pada permukaan akar yang terserang. Permukaan akar tanaman yang sakit dibebaskan terlebih dahulu dari

19

jalan mengerok. Pengerokan Rizomorpha jamur hendaknya menggunakan alat yang tumpul agar tidak melukai akar.

(4) Saat ini mulai digunakan cara yang lebih sederhana yaitu dengan metode penyiraman fungisida berbahan aktif Triadimefon, Triadimenol atau Heksakonazol. Tanah di sekitar pohon dibuka sedalam 8-10 cm sebelum penyiraman, kemudian fungisida disiramkan dengan dosis sesuai umur tanaman. Penyiraman dilakukan 6 buIan sekali sampai tanaman menjadi sehat.

(5) Tanaman yang terserang berat atau telah mati dikumpul secara menyeluruh dan dibakar di luar areal pertanaman.

2. Penyakit gugur daun Oidium heveae

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Oidium heveae. Pertumbuhan daun muda yang bertepatan dengan musim kering panjang akan mengalami serangan Oidium yang berat. Gejala dapat dilihat pada daun muda yang sedang berkembang dengan timbulnya bercak-bercak putih kekuningan, dan dalam waktu singkat bercak membesar disertai dengan pertumbuhan benang jamur yang timbul kepermukaan dan membentuk kumpulan spora berwarna putih seperti tepung (Gambar 12). Daun yang terserang akan menjadi keriput dan tampak seperti layu serta diikuti dengan gugurnya daun.

Penyakit Oidium heveae berkembang pesat dengan sedikit hujan, tidak banyak sinar matahari, dan suhu yang agak rendah. Cuaca kering tidak disertai suhu tinggi tidak menghambat penyakit ini. Setelah hujan turun cukup banyak, intensitas penyakit gugur daun O. heaveae biasanya menurun karena konidia di permukaan daun tercuci. Areal kebun atau bibitan yang letaknya lebih dari 300 mdpl, akan mengalami serangan penyakit Oidium yang lebih berat jika

dibandingkan dengan kebun yang letaknya lebih rendah.

Pengendalian penyakit O. heveae yang efektif ialah dengan menggunakan serbuk balerang murni atau biasa disebut belerang cirrus. Belerang cirrus yang dianjurkan adalah balerang cirrus yang memenuhi syarat-syarat teknis sebagai berikut: serbuk halus, lebih dari 90% lolos pada saringan 100 mesh, kadar air kurang dari 3% dan kandungan balerang lebih dari 90%. Penanggulangan penyakit akan efektif apabila perlakuan fungisida telah dimulai pada saat flush atau pucuk daun baru akan mekar.

a b

20

Penghembusan belerang cirrus untuk menanggulangi O. heveae diberikan dengan dosis 5-7 kg ha-1, interval 3-7 hari dan 6 kali aplikasi. Pendebuan sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum pukul 06.00 WIB atau pada malam hari, dengan tujuan untuk mengoptimalkan semprotan balerang, sebab balerang cirrus sangat peka terhadap hembusan angin. Alat yang digunakan untuk

pendebuan disebut hand duster, alat ini akan mengeluarkan balerang cirrus yang telah diisi sebelumnya dengan memutar pegangan yang telah disediakan di sebelah kanan (Gambar 13).

Gambar 13 (a) Alat pendebu pengendalian penyakit Oidium heveae

(b) Pengaplikasian belerang cirrus

3. Penyakit Gugur Daun Colletotrichum

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletrotrichum gloeosporioides. Serangan C. gloeosporioides pada daun muda menimbulkan bercak-bercak berwarna coklat kehitaman pada bagian tengahnya, yang berturut-turut diikuti oleh mengeriputnya lembaran daun, timbulnya busuk kebasahan, dan pada daun yang terinfeksi serangan berat dapat berakibat gugurnya daun. Pada daun tua atau daun yang telah berumur lebih dari 10 hari, serangan C. gloeosporioides

menyebabkan bercak-bercak daun berwarna coklat dengan warna kuning dan permukaan daun menjadi kasar. Serangan lebih lanjut menyebabkan bercak-bercak tersebut menjadi berlubang, apabila bercak-bercak tersebut berbatasan dengan tepi daun maka serangan lebih lanjut mengakibatkan daun menjadi sobek (Gambar 14).

21

Gambar 14 Daun tanaman karet terserang penyakit Colletotrichum

Kelembaban nisbi udara dan curah hujan yang tinggi membantu timbul dan berkembangnya penyakit gugur daun C. gloeosporioides. Oleh karena itu,

penyakit ini timbul dan berkembang terutama pada saat musim hujan. Serangan C. gloeosporioides dapat mengakibatkan tanaman gundul sepanjang tahun, apabila penanggulangan penyakit gugur daun Oidium yang menyerang

sebelumnya kurang sempurna. C. gloesporioides dapat juga menyerang ranting-ranting dan tunas-tunas muda yang masih berwarna hijau dengan gejala serangan ranting busuk, kering, dan akibatnya mati pucuk. Pada tanaman yang terserang akan timbul tunas liar dari bawah ranting yang busuk, dan akibatnya bentuk tegakan tanaman menjadi tidak beraturan.

Pengendalian penyakit gugur daun Colletotrichum dapat dilakukan melalui pemeliharaan tanaman dan penggunaan fungisida. Penyiangan gulma secara teratur dan pemupukan rasional akan berpengaruh positif terhadap pencegahan penyakit. Beberapa fungisida yang efektif untuk penyakit ini adalah fungisida yang berbahan aktif Mancozeb, pengaplikasiannya disemprotkan dengan kosentrasi 0.20%-0.30% formulasi dalam air 500 liter ha-1 dengan interval 5-7 hari. Penyemprotan fungisida dilakukan pada saat daun baru mekar, berwarna coklat tembaga samapai hijau muda.

4. Penyakit Daun Corynespora cassicola

Serangan penyakit ini disebabkan oleh jamur Corynespora cassiicola. Penyakit ini dapat menyerang daun tua maupun muda. Pada daun muda atau flush yang terserang penyaki C. cassicola akan berubah menjadi berwarna kuning, menggulung dan pada akhirnya layu. Pada daun yang lebih tua, timbulnya bercak coklat tua sampai hitam dan urat-urat daun tampak lebih gelap dibandingkan dengan sekelilingnya, sehingga bercak tersebut tampak menyirip seperti tulang ikan atau seperti tetesan tinta hitam pada kertas buram (Gambar 15). Bagian sekitar bercak akan berubah menjadi jingga sampai ungu dan akhirnya daun gugur. Ranting muda yang terserang akan pecah, kering dan akhirnya mati. Tanaman yang terus-menerus terserang penyakit ini tidak akan berdaun lebat dan secara berangsur-angsur mengalami mati pucuk sehingga akhirnya tanaman akan mati.

22

Serangan Corynespora cassicola yang berat biasanya timbul dalam cuaca yang lembab atau berawan dengan curah hujan yang relatif tidak terlalu tinggi dan merata sepanjang hari, serta suhu udara sekitar 26°-29°C. Keadaan hujan

merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi timbulnya serangan

patogen. Pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan yang merata sepanjang tahun atau di daerah dengan batas musim hujan dan musim kering tidak begitu jelas, C. Cassicola menimbulkan kerusakan yang berat dan tanaman akan meranggas terus menerus. Umumnya, kebun yang lahannya kurang subur atau bahkan tanaman tidak dipupuk maka akan mudah terserang C. Cassicola. Kerentanan klon sangat berpengaruh terhadap timbul dan berkembangnya penyakit gugur daun C. Cassicola.

Pencegahan penyakit C. Cassicola dapat dilakukan dengan menanam klon-klon yang resisten, sesuai dengan anjuran Pusat Penelitian Karet. Klon yang diketahui resisten antara lain adalah IRR 110, IRR119, AVROS 2037, BPM 109, BPM 107, BPM 1, dan RRIC 100. Pemeliharaan yang optimal dan perlakuan kultur teknis yang meliputi pengendalian gulma dan pemupukan, dapat mencegah serangan penyakit C. Cassicola. Tindakan pengendalian penyakit daun

Corynespora cassicola dapat menggunakan fungisida berbahan aktif Mancozeb, dengan kosentrasi 0.2%-0.4% dengan cara aplikasi disemprot.

5. Penyakit Bercak Daun Helminthosporium

Penyakit bercak daun Helminthosporium dikenal pula sebagai penyakit bercak daun mata burung. Pada daun muda penyakit menyebabkan timbulnya bercak-becak berwarna coklat dengan bentuk tidak beraturan, dan nantinya daun akan mengeriput. Pada serangan yang lebih lanjut, pusat bercak berwarna putih dan kadang-kadang pada bagian tersebut terdapat bintik-bintik yang berwarna hitam yang berarti cendawan patogen (Gambar 16).

23

Gambar 16 Daun tanaman karet terserang penyakit Helminthosporium

Penyakit bercak daun Helminthosporium menyebar bersama hujan dan mampu menyerang pada suhu yang relatif tinggi, yaitu 25°C-29°C. Penyakit bercak daun Helminthosporium umumnya merupakan komplikasi penyakit semaian lainnya, yaitu penyakit gugur daun Colletotrichum. Serangan berat dapat menyebabkan daun gugur dan sebagai akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat.

Penyakit daun Helminthosporium dapat diatasi dengan menyemprotkan fungisida Mankozeb 0.2% formulasi dalam air atau fungisida tembaga (KOC) 0.5% formulasi dalam air, dengan dosis 400-600 liter ha-1 dengan interval waktu selama 7 hari. Daun-daun yang perlu dilindungi dari serangan bercak daun

Helminthosporium adalah daun-daun yang masih muda, yaitu daun yang berwarna ungu sampai dengan hijau muda. Beberapa fungisida untuk pengendalian penyakit gugur daun, sifat dan cara aplikasinya dapat dilihat pada Lampiran 6.

6. Penyakit Layu Fusarium

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium sp. Penyakit ini mudah berjangkit pada musim hujan, terutama di daerah-daerah yang memiliki

kelembapan tinggi dan beriklim basah. Penularan penyakit ini melalui spora yang diterbangkan angin, sehingga jangkauan penyebarannya menjadi luas. Gejala awal penyakit layu Fusarium pada bibit di polybag ditandai dengan pertautan mata okulasi mulai berwarna hitam, kemudian mata tunas mati dan kulit batang membusuk. Tanaman yang terserang daunnya akan menguning kemudian gugur, diikuti dengan perubahan tajuk dari hijau menjadi coklat kehitaman yang pada akhirnya akan mengering hingga kepangkal batang. Pada Gambar 17 dapat dilihat gejala serangan layu Fusarium sp, sekitar perisai mata tunas okulasi berwarna hitam (a), tanaman menguning, layu dan kering (b), selanjutnya tanaman kering hingga ke pangkal tunas okulasi (c).

c

b a

24

Pengendalian penyakit layu Fusarium dapat dilakukan dengan

penyemprotan fungisida berbahan aktif Tridimefon. Aplikasi dengan kosentrasi 0.5%, dengan rotasi waktu setiap satu minggu sekali. Tanaman yang mati terserang penyakit layu Fusarium dikumpulkan dan dibakar untuk menimalisir penyebaran penyakit lapuk batang pada tanaman yang sehat.

Dalam dokumen Pengadaan dan Penanganan Bibit Klonal Ta (Halaman 25-37)

Dokumen terkait