PENGADAAN DAN PENANGANAN BIBIT KLONAL
TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) DI BALAI
PENELITIAN SUNGEI PUTIH SUMATERA UTARA
ADE ARY SURYA NULLAH SIAGIAN
PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI LAPORAN TUGAS AKHIR DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan laporan tugas akhir Pengadaan dan
Penanganan Bibit Klonal Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) di Balai Penelitian Sungei Putih Sumatera Utara adalah karya saya dengan arahan dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir laporan ini.
Bogor, Juli 2014
ABSTRAK
ADE ARY SURYA NULLAH SIAGIAN. Pengadaan dan Penanganan Bibit Klonal Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) di Balai Penelitian Sungei Putih Sumatera Utara. Dibimbing oleh ENY WIDAJATI.
Pengadaan dan penangan bibit klonal tanaman karet merupakan langkah awal untuk mencapai tanaman karet yang berproduksi tinggi. Kegagalan dalam pengadaan bahan tanam bibit klonal tanaman karet disebabkan oleh penyakit dan kerusakan pada bahan tanam ketika sampai di lapangan, sehingga penanganan khusus perlu dilakukan mulai dari pengadaan bahan tanam hingga siap untuk disalurkan.
Pengadaan dan penanganan bibit klonal tanaman karet di Balai Penelitian Sungei Putih ialah bibit klonal stadia stum okulasi mata tidur dan bibit polybag. Kegiatan dalam penanganan stum okulasi mata tidur meliputi: pencabutan stum, seleksi stum, dan penanganan stum sebelum di salurkan. Pengadaan dan penangan bibit polybag, kegiatannya meliputi: pengisian tanah kedalam polybag,
penyusunan polybag, penanaman, pemeliharaan bibit polybag, dan seleksi bibit polybag.
Presentase stum okulasi mata tidur yang lulus dapat ditingkatkan dengan melakukan pengendalian serangan penyakit jamur akar putih serta kemahiran tenaga kerja dalam melakukan pencabutan dan seleksi. Penggunaan serbuk gergaji lembab dapat menjaga stum dari benturan dan menjaga kesegaran bibit hingga siap tanam di lapangan. Media tanah pada penanaman stum dalam polybag harus padat dan arah tunas okulasi harus menghadap Utara-Selatan, agar memperoleh bibit polybag yang bermutu baik. Layu Fusarium adalah penyakit paling
berbahaya pada pembibitan polybag, maka perlu dilakukan pengendalian dengan penyemprotan fungisida berbahan aktif Tridimefon dengan kosentrasi 0.5%, rotasi dilakukan setiap satu minggu sekali.
ABSTRACT
ADE ARY SURYA NULLAH SIAGIAN. Procurement and Seed Handling Plant Clonal Rubber (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) at The Research Institute of Sungei Putih North Sumatra. Supervised by ENY WIDAJATI.
Procurement and handling of seed to be used in the field is the first step to achieve the goal of high producing natural rubber. Failure in the procurement of planting materials of seed clonal rubber plants is most often caused by disease and damage to the planting materials when it arrived in the field, so special care needs to be done starting from the procurement of planting materials until ready to be distributed.
Procurement and handling of clonal plant rubber seedlings in Research Institute of Sungei Putih is a clonal seed stadia rubber of grafting budded stump and polybag. Activity in the treatment of rubber grafting budded stump include: revocation stum, stum selection, and handling before stump channeled.
Procurement and handling seedlings, activities include: fill media into polybag, structuring polybag, planting, maintenance seedlings, and seed selection polybag.
The percentage of pass in rubber of grafting budded stump can be improved by controlling white root fungus disease and labor finesse to perform revocation and selection. The use of moist sawdust to keep stum from impact and maintain freshness seed until ready for planting in the field. Soil at planting stump in polybags should be solid and bud grafting should be facing the direction North-South, in order to obtain good quality polybag seedlings. Fusarium wilt is most dangerous disease in polybag nursery, controlled by spraying with a fungicide that contain Tridimefon 0.5%, the frequency is done every single week.
RINGKASAN
ADE ARY SURYA NULLAH SIAGIAN. Pengadaan dan Penanganan Bibit Klonal Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg) di Balai Penelitian Sungei Putih Sumatera Utara. Dibimbing oleh ENY WIDAJATI.
Luasnya areal perkebunan tidak menjamin Indonesia menjadi negara dengan produktivitas karet tertinggi di dunia. Pengadaan dan penangan bibit yang akan digunakan di lapangan merupakan langkah awal untuk mencapai tujuan karet alam yang berproduksi tinggi. Kegagalan dalam pengadaan bahan tanam bibit klonal tanaman karet disebabkan oleh penyakit dan kerusakan pada bahan tanam ketika sampai di lapangan, sehingga penanganan khusus perlu dilakukan mulai dari pengadaan bahan tanam hingga siap untuk disalurkan. Balai Penelitian Sungei Putih adalah unit kerja penelitian dan pengembangan tanaman karet yang berperan penting dalam pengadaan bahan tanam karet nasional.
Balai Penelitian Sungei Putih merupakan unit kerja penelitian dan
pengembangan yang berada di bawah Pusat Penelitian Karet. Untuk pengadaan bibit klonal Balai Penelitian Sungei Putih memiliki lahan percobaan yang luasnya mencapai 35 ha. Balai Penelitian Sungei Putih juga memiliki gedung pengepakan, yang fungsinya sebagai ruang kerja penanganan stum okulasi mata tidur sebelum disalurkan, serta memiliki lima laboratorium yaitu, laboratorium tanah,
laboratorium proteksi, laboratorium fisiologi, laboratorium agronomi, dan laboratorium pasca panen.
Pengadaan dan penanganan bibit klonal tanaman karet yang dilakukan di Balai Penelitian Sungei Putih ialah bibit klonal stadia stum okulasi mata tidur dan bibit polybag. Stum okulasi mata tidur adalah bibit karet berumur kurang dari dua bulan yang sudah dicabut dari pembibitan dan mata tunasnya belum tumbuh. Bibit polybag diperoleh dari penanaman stum okulasi mata tidur yang ditanam di polybag hingga terbentuk 2-3 payung daun untuk bibit berumur satu tahun, atau terdapat 6-7 payung daun pada bibit berumur dua tahun.
Kegiatan pencabutan bibit dilakukan dengan menggunakan dongkrak stum atau sering juga disebut dengan pulling jack. Pencabutan dan seleksi stum dilakukan pada tanggal 14 Februari 2014 dengan hasil: klon RRIC sebanyak 424 batang, AVROS 2037 sebanyak 300 batang, dan klon GT 1 sebanyak 70 batang. Total jumlah stum yang dicabut sebanyak 1 000 batang, dan presentase bibit lulus sebesar 76.6%. Rendahnya presentase kelulusan pencabutan dan seleksi stum disebabkan serangan penyakit jamur akar putih dan banyaknya stum yang rusak.
Upaya yang harus dilakukan dalam menekan serangan jamur akar putih ialah pengolahan lahan yang baik pada saat penanaman batang bawah, yaitu dengan membongkar semua sisa kayu dari tanaman sebelumnya. Pengendalian preventif harus dilakukan juga untuk menekan perkembangan jamur akar putih, yaitu dengan penaburan belerang atau biofungisida berbahan aktif Tricoderma digawangan pembibitan batang bawah. Upaya yang harus dilakukan untuk menimalisir stum yang tidak lulus karena stum rusak adalah pencabutan harus dilakukan oleh tenaga yang terlatih.
larutan fungisida berbahan aktif Mancozeb. Untuk pengiriman jarak jauh, stum dikemas dengan peti kayu berukuran 60 cm × 50 cm × 50 cm. Stum disusun secara berselang-seling dengan bahan pengawet serbuk gergaji lembab.
Media tanah yang digunakan untuk pengadaan bibit polybag ialah tanah yang telah diayak dan dicampur dengan fosfat dengan perbandingan 2:1. Polybag selanjutnya disusun secara barisan, yang masing-masing dua polybag per baris. Bahan tanam yang digunakan dalam pengadaan bibit polybag ialah stum okulasi mata tidur. Penanaman dilakukan dengan memperhatikan kepadatan tanah dan arah tumbuh tunas okulasi. Tanah yang baik untuk pertumbuhan polybag harus padat dan arah tumbuh tunas saling membelakangi. Pemeliharaan dilakukan sampai bibit polybag siap untuk disalurkan. Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman bibit polybag, pewiwilan tunas liar, penyiangan gulma, pemupukan, dan pengendalian penyakit.
Kegiatan seleksi mulai dilakukan pada saat bibit polybag telah berumur satu tahun. Parameter yang diamati dalam seleksi bibit polybag ialah tinggi payung, diameter batang, dan warna daun. Bibit dinyatakan lulus seleksi apabila tinggi payung pertama ≥20 cm, diukur dari pertautan okulasi sampai ke titik tumbuh dengan diameter batang minimal 8 mm, yang diukur pada ketinggian 10 cm dari pertautan okulasi. Jika tinggi payung 15-20 cm maka diameter batang minimal 1 cm, dan daun berwarna hijau segar, tidak menguning serta tidak terserang hama dan penyakit.
Kegiatan yang dilakukan dalam pengadaan dan penanganan stum okulasi mata tidur ialah okulasi, pencabutan stum, seleksi stum, pengemasan stum, dan perlakuan stum sebelum disalurkan. Presentase stum okulasi mata tidur yang lulus dapat ditingkatkan dengan melakukan pengendalian serangan penyakit jamur akar putih serta kemahiran tenaga kerja dalam melakukan pencabutan dan seleksi. Penggunaan serbuk gergaji lembab dapat menjaga stum dari benturan, dan menjaga kesegaran bibit hingga siap tanam di lapangan.
Kegiatan pengadaan dan penangan bibit polybag, meliputi: pengisian tanah ke dalam polybag dan penyusunan polybag, penanaman stum, pemeliharaan bibit polybag hingga siap salur, serta seleksi bibit polybag sebelum disalurkan.
Penanaman dilakukan dengan memperhatikan kepadatan tanah dan arah tumbuh tunas okulasi. Tunas okulasi harus menghadap Utara-Selatan, agar memperoleh bibit polybag yang bermutu baik. Kegiatan penanganan penyakit layu Fusarium perlu dilakukan sejak dini dengan melakukan penyemprotan fungisida berbahan aktif Tridimefon dengan kosentrasi 0.5%, rotasi dilakukan setiap satu minggu sekali.
PENGADAAN DAN PENANGANAN BIBIT KLONAL
TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) DI BALAI
PENELITIAN SUNGEI PUTIH SUMATERA UTARA
ADE ARY SURYA NULLAH SIAGIAN
Laporan Tugas Akhir
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya pada
Program Diploma Keahlian Teknologi Industri Benih
PROGRAM KEAHLIAN TEKNOLOGI INDUSTRI BENIH PROGRAM DIPLOMA
7
Judul Tugas Akhir : Pengadaan dan Penanganan Bibit Klonal Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) di Balai Penelitian Sungei Putih Sumatera Utara
Nama : Ade Ary Surya Nullah Siagian
NIM : J3G111055
Disetujui oleh
Dr Ir Eny Widajati, MS Pembimbing
Diketahui oleh
Dr Ir P. Purwanto, MAgr Dr Ir Abdul Qadir, MSi Direktur Koordinator Program Keahlian
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam kegiatan praktik kerja lapangan yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2014 sampai April 2014 ialah penanganan bibit klonal, dengan judul Pengadaan dan Penanganan Bibit Klonal Tanaman Karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) di Balai Penelitian Sungei Putih Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr Ir Eny Widajati, MS selaku dosen pembimbing, dan terimakasih kepada Ir Haposan Munthe, Dr Radite Tistama, serta seluruh staf yang telah mengkoordinir dan membimbing penulis dalam pelaksanaan praktik kerja lapangan di Balai Penelitian Sungei Putih Sumatera Utara. Penghargaan penulis sampaikan kepada Ibu Ernita Bukit, SP, MM dan Bapak Adil Tarigan yang telah membantu penulis selama pengumpulan data di Balai Penelitian Sungei Putih. Ungkapan terimakasih yang sebesar-besarnya disampaikan pula kepada ayah, ibu, serta keluarga, atas doa dan kasih sayangnya.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Bogor, Juli 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL x
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR LAMPIRAN x
1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 2
2 METODE PELAKSANAAN 2
2.1 Waktu dan Tempat 2
2.2 Metode Pelaksanaan 2
3 KEADAAN UMUM BALAI PENELITIAN SUNGEI PUTIH 4
3.1 Sejarah Singkat 4
3.2 Visi dan Misi 5
3.2.1 Visi 5
3.2.2 Misi 5
3.3 Fungsi dan Tugas Pokok Balai Penelitian Sungei Putih 5 3.4 Pemberdayaan lahan Balai Penelitian Sungei Putih 6
3.5 Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia 6
3.5.1 Struktur Organisasi 6
4 KEGIATAN PENGADAAN DAN PENANGANAN BIBIT KLONAL DI
BALAI PENELITIAN SUNGEI PUTIH 7
4.1 Stum Okulasi Mata Tidur 7
4.1.2 Pencabutan dan Seleksi Stum Okulasi Mata Tidur 8 4.1.3 Penanganan Stum Okulasi Mata Tidur sebelum di Salurkan 11
4.2 Bibit Klonal di dalam Polybag 13
4.6 Seleksi Bibit Polybag 24
5 SIMPULAN DAN SARAN 24
5.1 Simpulan 24
5.2 Saran 25
DAFTAR PUSTAKA 25
DAFTAR TABEL
1 Penggunaan lahan kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih 6 2 Hasil pencabutan dan seleksi stum okulasi mata tidur 9
3 Efektivitas berbagai media pengawet 12
4 Jumlah stum okulasi mata tidur yang ditanam di polybag 14
5 Dosis pupuk tunggal di pembibitan polybag 16
DAFTAR GAMBAR
1 Pencabutan stum okulasi mata tidur 8
2 (a) Perakaran stum okulasi mata tidur normal, (b) Perakaran stum abnormal 9 3 Akar stum okulasi terserang penyakit jamur akar putih 10
5 Perendaman stum dalam larutan fungisida 11
4 Penculupan stum pada lilin cair 11
6 Pengepakan stum okulasi mata tidur 12
8 Penyusunan polybag 14
7 Pengisian tanah ke dalam polybag 14
9 (a) Penanaman stum okulasi mata tidur, (b) Arah tumbuh tunas okulasi 15
10 Pewiwilan tunas liar 16
11 Miselium jamur akar putih pada akar bibit polybag 17
12 Daun karet terserang penyakit Oidium heveae 19
13 (a) Alat pendebu pengendalian penyakit Oidium heveae, (b) Pengaplikasian
belerang cirrus 20
14 Daun tanaman karet terserang penyakit Colletotrichum 20 15 Daun tanaman karet terserang penyakit Corynespora cassicola 21 16 Daun tanaman karet terserang penyakit Helminthosporium 22 17 Bibit polybag terserang penyakit layu Fusarium 23
DAFTAR LAMPIRAN
1 Struktur organisasi Balai Penelitian Sungei Putih 27 2 Data pencabutan stum okulasi mata tidur Balai Penelitian Sungei Putih pada
tahun 2013 28
3 Surat pengantar pengiriman bibit klonal 29
4 Standart prestasi kerja, kebutuhan alat dan bahan untuk pembibitan di
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara ilmiah tanaman karet dikenal dengan bahasa latin Hevea brasiliensis. Tanaman karet di Indonesia dikenal dengan beberapa nama yaitu pohon rambong, pohon hevea, pohon getah, atau pohon para. Agribisnis perkebunan karet secara besar-besaran dimulai tahun 1902 di Pulau Jawa dan tahun 1906 di Pulau Sumatera. Perkembangan perkebunan karet sejak saat itu cukup pesat dan Indonesia merupakan negara yang memiliki areal karet terluas di dunia. Luasnya areal perkebunan tidak menjamin Indonesia menjadi negara dengan produktivitas karet tertinggi di dunia. Data yang dirilis FAO tahun 2003 sampai 2009
menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal dari Thailand (Tumpal dan Irwan 2013). Pengadaan dan penangan bibit yang akan digunakan di lapangan
merupakan langkah awal untuk mencapai tujuan karet alam yang berkualitas dan berproduksi tinggi.
Bahan tanam karet yang bermutu baik adalah bahan tanam yang telah dianjurkan oleh Pusat Penelitian Karet, yaitu bahan tanam klon unggul yang diperbanyak secara okulasi. Penggunaan bahan tanam klon sangat menguntungkan dibandingkan dengan bibit semaian karena produktivitas tanaman lebih tinggi, masa tanaman belum menghasilkan lebih cepat, keseragaman tanaman lebih besar sehingga produksi pada tahun sadap pertama lebih tinggi serta memiliki sifat sekunder yang diinginkan seperti relatif tahan terhadap penyakit tertentu, batang tegap, diameter kayu per pohon besar. Bibit hasil okulasi biasanya disebut bibit klonal. Bibit klonal ada beberapa jenis, yaitu stum mata tidur, stum mini, stum tinggi, bibit okulasi dalam kantong plastik atau bibit polybag, dan bibit sistem sarung atau tapih.
Kegagalan dalam pengadaan bahan tanam bibit klonal tanaman karet sering disebabkan oleh penyakit dan kerusakan pada bahan tanam. Penyakit lapuk batang atau yang lebih dikenal dengan sebutan layu Fusarium, merupakan penyakit paling berbahaya pada pengadaan bibit polybag. Penyakit jamur akar putih merupakan penyakit yang paling berperan dalam kegagalan pengadaan bahan tanam stum okulasi mata tidur. Kerusakan pada bahan tanam ketika sampai di lapangan juga masih sering terjadi, sehingga penanganan khusus perlu dilakukan, mulai dari pengadaan bahan tanam hingga siap untuk disalurkan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari Praktik Kerja Lapangan ini ialah:
1. Mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan mahasiswa untuk menganalisa dan memahami persoalan yang nyata dalam dunia kerja, melalui penerapan ilmu, latihan kerja, dan pengalaman teknis dalam bidang kegiatan penangan bibit klonal tanaman karet hingga siap salur.
2. Meningkatkan pemahaman dan kemampuan mahasiswa dalam teknik
pengadaan dan penanganan stum okulasi mata tidur dan stum mata tidur dalam polybag hingga siap salur.
2 METODE PELAKSANAAN
2.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktik kerja lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 10 Februari sampai 12 April 2014 di Balai Penelitian Sungei Putih Pusat Penelitian Karet, Desa Tumbuan Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Kegiatan dilakukan di kebun-kebun percobaan dan perpustakaan Balai Penelitian Sungei Putih.
2.2 Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan kegiatan praktik kerja lapangan yang digunakan ialah pengamatan secara langsung dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan yang ada di Balai Penelitian Sungei Putih. Kegiatan-kegiatan tetap difokuskan pada pengadaan dan penanganan bibit klonal tanaman karet, yaitu panen stum okulasi mata tidur, seleksi stum, penanganan stum okulasi mata tidur sebelum disalurkan, serta pengadaan bibit polybag, dan penanganannya hingga siap untuk disalurkan.
Kegiatan tersebut dilengkapi dengan studi pustaka, wawancara, dan diskusi untuk memperkuat data-data yang diperoleh. Wawancara dan diskusi dilakukan dengan para staf, dan pekerja lapangan Balai Peneliti Sungei Putih yang
berkompeten dengan bidang pengadaan dan penangan bibit klonal tanaman karet. Data primer diperoleh di lapangan berdasarkan kegiatan secara langsung dan data sekunder diperoleh dari studi pustaka, diskusi, serta arsip dari Balai Penelitian Sungei Putih. Berikut rincian kegiatan metode pelaksanaan tersebut:
1. Pengenalan keadaan umum Balai Penelitian Sungei Putih
3
keadaan umum balai dari sejarah balai, struktur organisasi, visi, misi dan lain-lain.
2. Pengenalan lahan pembibitan Balai Penelitian Sungei Putih
Pengenalan kondisi lapang dilakukan di lahan pembibitan Balai Penelitian Sungei Putih atau menyesuaikan, dibimbing oleh pembimbing lapang pembibitan yang ditunjuk oleh pihak balai. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan umum pembibitan, penanganan hasil pembibitan sampai disalurkan oleh Balai Penelitian Sungei Putih.
3. Kegiatan praktik dan pengamatan pengadaan dan penanganan bibit klonal Kegiatan praktik pengadaan dan penangan bibit klonal di lakukan di lahan percobaan Balai Penelitian Sungei Putih. Kegiatan pengadaan dan penanganan bibit klonal dilakukan pada bibit klonal jenis stum okulasi mata tidur dan bibit okulasi dalam kantong plastik atau bibit polybag. Untuk jenis stum okulasi mata tidur, kegiatannya meliputi: pencabutan stum, seleksi stum, dan penanganan stum sebelum disalurkan, dan untuk stadia bibit polybag kegiatannya meliputi: pengisian media tanam ke polybag dan penataan polybag, penanaman stum pada media polybag, pemeliharaan bibit polybag hingga siap salur, dan seleksi bibit polybag sebelum disalurkan. Tujuan kegiatan ini ialah untuk mengetahui secara langsung teknik pengadaan dan penanganan bibit klonal hingga disalurkan.
4. Wawancara dan studi pustaka
Wawancara dilakukan kepada seluruh elemen yang terlibat dalam kegiatan pengadaan dan penangan bibit klonal. Studi pustaka dilakukan, agar dapat memadukan antara teori dan praktik di lahan pembibitan Balai Penelitian Sungei Putih.
5. Pengumpulan data
Data yang dikumpulkan terbagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dilapangan dan merupakan data pokok. Sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung melalui literatur.
6. Evaluasi
Evaluasi dilakukan diakhir kegiatan dengan tujuan untuk mengukur kemajuan, menunjang penyusunan rencana, dan memperbaiki atau
meyempurnakan kembali data yang didapat. 7. Penyusunan laporan
Semua kegiatan praktik kerja lapangan yang dilakukan ditulis dalam jurnal harian. Jurnal tersebut selanjutnya dibuat dalam Laporan Periodik Praktik Kerja Lapangan dan disahkan oleh Pembimbing Lapangan, dan yang asli diserahkan kepada Dosen Pembimbing pada saat awal
3 KEADAAN UMUM BALAI PENELITIAN SUNGEI PUTIH
Balai Penelitian Sungei Putih merupakan unit kerja penelitian dan pengembangan yang berada di bawah Pusat Penelitian Karet. Lokasi Balai Penelitian Sungei Putih berada pada ketinggian 80 mdpl. Untuk pengadaan bibit klonal stum okulasi mata tidur, Balai Penelitian Sungei Putih memiliki lahan percobaan pembibitan yang luas keseluruhan mencapai 25 ha. Pengadaan bibit klonal dalam polybag dilakukan di terminal polybag seluas 1 ha. Balai Penelitian Sungei Putih juga memiliki gedung pengepakan, yang fungsinya sebagai ruang kerja penanganan stum okulasi mata tidur sebelum disalurkan.
3.1 Sejarah Singkat
Balai Penelitian Sungei Putih berawal dari berdirinya lembaga penelitian milik Belanda pada tahun 1916 yang benama AVROS (Algemeen Vereniging Van Rubber Planters Ost Kust Van Sumatera). Pada tahun 1952 AVROS disatukan dengan Deli Planters Veregining dan pada tahun 1957 berganti nama menjadi RISPA (Research Institute of The Sumatera Planters Association). Selanjutnya Balai Penelitian Sungei Putih dibentuk tahun 1981 sebagai Pusat Penelitian Karet. Balai Penelitian Sungei Putih, awalnya ialah Pusat Penelitian Karet Sungei Putih yang didirikan dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI No.
790/Kpts/Org/1981, tepatnya September 1981. Selanjutnya berubah menjadi Pusat Penelitian Perkebunan (Puslitbun) Sungei Putih tahun 1989 sampai 1992 berdasarkan SK Menteri Pertanian RI No. 823/Kpts/KB.110/89 dan SK AP3I No. 222/APP/89.
Puslitbun Sungei Putih, bersama Puslitbun Sembawa, Puslitbun Getas, dan bagian Pasca Panen Karet Puslitbun Bogor, berdasarkan segi mandat komoditas dikelompokan menjadi Pusat Penelitian Karet, yang berkedudukan di Sungei Putih pada tahun 1992 sampai 2003 berdasarkan SK DPH-AP3I No.
084/Kpts/DPH/X2/92. Penggabungan keempat Puslitbun berfungsi sebagai unit kegiatan penelitian Pusat Penelitian Karet (PPK), dan melalui keputusan DPH-AP3I No. 059/93 nama Puslitbun Sembawa diubah menjadi Balai Penelitian Sembawa, Puslitbun Getas diubah menjadi Balai Penelitian Getas, dan Bagian Pasca Panen Karet Puslitbun Bogor diubah menjadi Balai Penelitian Teknologi Karet Bogor, sedangkan Puslitbun Sungei Putih, menjadi kantor utama Pusat Penelitian Karet (Puslit Karet).
3.2 Visi dan Misi
Balai Penelitian Sungei Putih adalah lembaga litbang yang memegang peranan penting dalam membantu tercapainya tujuan pembangunan pertanian khususnya di bidang agribisnis berbasis karet di Indonesia. Balai Penelitian Sungei Putih memberikan bantuan pelayanan kepada stakeholder dan institusi lain (perkebunan swasta, petani, dan instansi terkait), sesuai dengan motto Balai Penelitian Sungei Putih yaitu sebagai “Pelita Kemajuan Agribisnis Karet”.
3.2.1 Visi
Menjadi perusahan berbasis riset dan pengembangan teknologi perkebunan karet berkelas dunia, berdaya saing tinggi, dan terus berkembang.
3.2.2 Misi
a. Menghasilkan inovasi, merekayasa dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan bagi pengembangan sistem dan usaha
agribisnis karet untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional.
b. Memasyarakatkan secara intensif inovasi teknologi hasil penelitian kepada pengguna
c. Mendorong peningkatan kinerja industri berbasis karet di dalam negeri, melalui introduksi dan inovasi teknologi serta pelayanan yang proaktif.
d. Mendorong terciptanya industri berbasis karet yang ramah lingkunan dan mempertahankan kelestarian agroindustri.
e. Melakukan upaya-upaya yang mengarah pada kemandirian institusi secara finansial melalui kegiatan dan usaha yang berbasis kompetensi.
3.3 Fungsi dan Tugas Pokok Balai Penelitian Sungei Putih
1. Melaksanakan kegiatan penelitian untuk menghasilkan teknologi karet yang meliputi bidang pra-panen (pemuliaan, agronomi, proteksi tanaman, tanah dan pemupukan, iklim, usahatani, serta penyadapan), pasca panen, dan sosial ekonomi.
2. Melaksanakan pelayanan/jasa hasil penelitian kepada para petani, penyuluh pertanian, dan pekebun karet, terutama anggota Lembaga Riset Perkebunan Indonesia.
6
3.4 Pemberdayaan lahan Balai Penelitian Sungei Putih
Balai Penelitian Sungei Putih memiliki lima laboratorium yaitu,
laboratorium tanah, laboratorium proteksi, laboratorium fisiologi, laboratorium agronomi, dan laboratorium pasca panen, untuk menunjang pengembangan teknologi perkaretan. Balai Penelitian Sungei Putih juga memiliki tiga buah rumah kaca dan satu stasiun cuaca. Fasilitas sosial lainnya yaitu jalan, masjid, gereja, sekolah, lapangan olah raga, dan emplasmen.
Balai Penelitian Sungei Putih memiliki kebun percobaan yang terdapat di dua lokasi, yaitu di Sikijang Riau provinsi Riau, dan di Sungei Putih provinsi Sumatera Utara. Kebun percobaan yang berada di Sungei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, bagian Timur dan Utaranya berbatasan dengan areal perkebunan milik PT. Perkebunan Nusantara III, sebelah Selatan berbatasan dengan areal Perkebunan Tanjung Purba, dan sebelah Barat berbatasan dengan PT. Serdang Tunggal. Lahan percobaan digunakan untuk pertanaman karet dan sebagian kecilnya untuk tanaman sawit yang total luasnya adalah 1 012.06 ha. Pembagian penggunaan lahan Balai Penelitian Sungei Putih dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Penggunaan lahan kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih
Penggunaan areal lahan
Luas lahan (ha)
Karet KelapaSawit
Tanaman menghasilkan 162.62 104.81
Tanaman belum menghasilkan 70.41 35.44
Kebun entres 12.50
-Plasma nutfah 45.46
-Kebun persilangan 5.30
-Tanaman F1 12.17
-Pembibitan 25.00
-Emplasmen, jalan, dan rendahan 108.69
-Total 871.81 140.25
Sumber : Balai Penelitian Sungei Putih 2013
3.5 Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia
3.5.1 Struktur Organisasi
7
Kepala Balai : Dr. Ir. Sumarmadji, MS
Koordinator Penelitian : Dr. Ir. Tumpal H.S. Siregar, MS Kepala Urusan Penelitian : Dr. Radite Tistama, MS
Kepala Urusan Komersial Hasil Penelitian : Ir. Istianto, MS Kepala Urusan Tata Usaha : Sunardi, SE
Kepala Kebun : Ir. Haposan Munthe
Berdasarkan Keputusan Direktur Eksekutif LRPI No.06/Kpts/LRPI/2003, tanggal 26 Maret 2003 yang kemudian diubah dalam SK Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara No.17/Kpts/RPN/2011, maka Kepala Balai dalam menjalankan fungsinya dibantu beberapa pejabat struktural setingkat Kepala Urusan yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan (Lampiran 1).
3.5.2 Sumber Daya Manusia
Jumlah karyawan tetap dan tidak tetap Balai Penelitian Sungei Putih per 31 Desember 2012 sebanyak 341 orang. Jumlah tersebut termasuk tenaga peneliti, teknisi peneliti dan staf pendukung. Tenaga peneliti terdiri atas peneliti utama, peneliti madya, peneliti muda, peneliti pertama, dan calon peneliti, serta peneliti dalam masa percobaan, yang totalnya berjumlah 20 orang. Karyawan pendukung, yang terdiri atas karyawan umum dan monitoring, karyawan penunjang penelitian dan karyawan penunjang kebun percobaan, totalnya berjumlah 321 orang.
Berdasarkan kegiatan penelitian yang dilaksankan, peneliti di Balai Penelitian Sungei Putih dikelompokkan kedalam empat kelompok, yaitu:
1. Kelompok Peneliti Pemuliaan (Plant Improvement)
2. Kelompok Peneliti Agronomi (Plant Growth and Development) 3. Kelompok Peneliti Proteksi Tanaman (Plant Protection)
4. Kelompok Peneliti Pasca Panen (Post Harvest Technologies)
4 KEGIATAN PENGADAAN DAN PENANGANAN BIBIT
KLONAL DI BALAI PENELITIAN SUNGEI PUTIH
4.1 Stum Okulasi Mata Tidur
8
4.1.2 Pencabutan dan Seleksi Stum Okulasi Mata Tidur
Pencabutan stum dapat dilakukan dengan menggunakan cangkul atau dengan menggunakan dongkrak stum. Kegiatan pencabutan yang dilakukan di Balai Penelitian Sungei Putih menggunakan dongkrak stum atau sering juga disebut dengan pulling jack. Hasil pencabutan dengan pulling jack cukup baik, mudah, dan cepat, dibanding dengan menggunakan cangkul, namun bila batang memiliki diameter >2.7 cm, pencabutan dengan dongkrak stum sangat sulit, bila dipaksakan dapat menyebabkan akar tunggang patah. Balai Penelitian Sungei Putih menerapkan sistem borongan kepada pihak luar untuk pencabuatan stum dalam skala besar. Prestasi kerja untuk mencabut stum dengan pulling jack mencapai 600-700 stum per hari kerja, sedangkan dengan menggunakan cangkul hanya 125-150 per hari kerja.
Kegiatan pencabutan stum dimulai dengan pemotongan tajuk bagian atas tanaman yang okulasinya berhasil. Pemotongan tajuk dilakukan 10 hari sebelum pencabutan, tujuannya untuk mematahkan sifat dominasi apikal (Siagian 2012). Pemotongan tajuk bagias atas juga berfungsi sebagai tanda bibit akan dicabut, dan mempermudah kegiatan pencabutan. Pencabutan stum di Balai Penelitian Sungei Putih dilakukan dengan menggunakan dongkrak stum atau lebih dikenal dengan sebutan pulling jack. Pencabutan dilakukan dengan memasukkan batang ke jepitan pulling jack. Posisi jepitan berjarak 20-30 cm diatas tempelan okulasi, selanjutnya pegangan ditarik ke atas (Gambar 1).
Pada tanggal 14 Februari 2014, penulis melakukan pencabutan stum okulasi mata tidur di kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih Blok 11, dengan dibantu tiga orang tenaga kerja pencabut. Seleksi stum okulasi mata tidur di Balai Penelitian Sungei Putih dilakukan langsung di lapangan. Kegiatan seleksi di lapangan meliputi seleksi akar, pemotongan akar tunggang, perempelan akar lateral, pemotongan ujung batang, dan seleksi penyakit jamur akar putih, serta pemeriksaan perisai okulasi. Hasil pencabutan dan seleksi dapat dilihat pada Tabel 2. Stum okulasi mata tidur yang telah dicabut tidak semuanya dapat digunakan sebagai bahan tanam, oleh sebab itu perlu dilakukan seleksi stum. Stum yang lulus
9
seleksi ialah stum yang sesuai standar. Standar stum okulasi mata tidur yang digunakan Balai penelitian Sungei Putih sebagai bahan tanam, yaitu:
1. Akar tunggangnya lurus, normal, tidak bercabang, tidak berbentuk garpu, dan tidak berbonggol (Gambar 2)
2. Panjang akar tunggang 25-35 cm 3. Panjang akar lateral 5-7 cm
4. Stum bebas penyakit jamur akar putih
5. Mata okulasi masih hidup serta satu stum okulasi tidak lebih dari dua kali okulasi
6. Diameter batang 1.5-2.7 cm
Tabel 2 Hasil pencabutan dan seleksi stum okulasi mata tidur
No Jenis klon
Jumlah stum yang dicabut
(batang)
Hasil seleksi stum (batang) Lulus Tidak lulus
Jamur akar
putih Stumrusak
1 RRIC 100 500 424 39 37
2 AVROS 2037 400 300 15 85
3 GT 1 100 70 23 7
Stum okulasi mata tidur yang dicabut pada hari tersebut sedikit, sebab stum dicabut untuk keperluan bahan tanam penelitian, bukan untuk dijual. Stum okulasi mata tidur jenis klon RRIC 100 memiliki presentase kelulusan 84.8%, dan klon AVROS 2037 memiliki presentase kelulusan 75%, sedangkan GT 1 memiliki presentase kelulusan sebesar 70%. Total presentase kelulusan stum okulasi mata tidur yang dicabut pada tanggal 14 Februari 2014 untuk dapat digunakan sebagai bahan tanam ialah 76.6%. Presentase keberhasilan pencabutan stum lebih rendah dibanding hasil pencabutan stum sejak bulan Agustus-Desember 2013, yaitu
b
Gambar 2 (a) Perakaran stum okulasi mata tidur normal, (b) Perakaran stum abnormal
10
mencapai 90% (Lampiran 2). Rendahnya presentase pencabutan pada tanggal 14 Februari karena serangan penyakit jamur akar putih dan stum yang dicabut merupakan panen stum yang terakhir dan dikerjakan oleh karyawan lepas.
Stum okulasi mata tidur tidak lulus untuk digunakan sebagai bahan tanam karena stum telah terserang penyakit jamur akar putih. Penyakit jamur akar putih disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus yang menyerang bagian pangkal batang hingga ke bagian akar. Gejala serangan jamur akar putih adalah daun terlihat kuning pucat dan tepi atau ujung daun terlipat ke dalam. Peningkatan serangan ditandai dengan gugurnya daun dan ujung ranting mati, serta daun muda terbentuk lebih awal, dan bila dibongkar perakaran tanaman yang terserang jamur akar putih akan terlihat miselium atau benang-benang jamur berwarna putih (Fairuzah 2012). Gambar akar stum yang terserang jamur akar putih dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 Akar stum okulasi terserang penyakit jamur akar putih
Upaya yang harus dilakukan untuk menimalisir stum yang tidak lulus karena penyakit jamur akar putih adalah dengan pengolahan lahan yang baik pada saat penanaman batang bawah. Pengolahan lahan yang baik ialah dengan
membongkar tunggul-tunggul pada lahan pembibitan yang dapat menjadi sumber penyebaran penyakit jamur akar putih. Pengendalian jamur akar putih bukan saja berpegang pada penekanan populasi awal dengan pengolahan tanah secara mekanis, akan tetapi harus diikuti dengan pengendalian preventif. Aplikasi biofungsida Tricoderma sp di sekitar gawangan sebanyak 600 kg ha-1, merupakan
salah satu pengendalian jamur akar putih secara preventif. Untuk menimalisir penyebaran serangan jamur akar putih, stum yang terserang dikumpulkan dan selanjutnya dibakar.
11
kuat, sebaiknya dicabut dengan menggunakan cangkul agar resiko akar patah dapat diminimalisir.
4.1.3 Penanganan Stum Okulasi Mata Tidur sebelum di Salurkan
Penanganan stum okulasi mata tidur dilakukan di gedung pengepakan. Kegiatan yang dilakukan di gedung pengepakan yaitu memisahkan stum mata tidur yang abnormal, pelilinan ujung batang stum bekas pemotongan (Gambar 4), yang bertujuan untuk mengurangi penguapan, serta perendaman stum dengan larutan fungisida berbahan aktif Mancozeb dengan dosis 15 g per 50 liter air. (Gambar 5), tujuannya untuk mencegah stum terserang cendawan atau patogen lainnya.
Gambar 4 Pencelupan stum pada
lilin cair
Gambar 5 Perendaman stum dalam larutan fungisida
Pengiriman jarak jauh stum okulasi mata tidur perlu memperhatikan
kelembapan, benturan, dan kesegaran stum. Setiap kegiatan pengerjaan pengadaan stum okulasi mata tidur, seperti pencabutan bibit, seleksi, merempel, melilin dan pengemasan, lama waktu pengerjaannya tidak melebihi 2-3 hari dan dikerjakan di tempat yang teduh (Siagian 2012). Penyimpanan atau pengiriman perlu dilakukan pengawetan agar stum okulasi mata tidur tetap segar. Pengawetan bertujuan untuk meningkatkan kelembapan, agar suhu tetap rendah dan laju respirasi dapat
ditekan.
Berbagai media pengawet seperti serbuk gergaji, spagnum dan kertas koran, dapat digunakan untuk mempertahankan kesegaran stum okulasi dalam
12
Tabel 3 Efektivitas berbagai media pengawet Stum okulasi mata tidur hidup (%) Di penyimpanan Di lapangan
Serbuk gergaji 100 86.26
Serabut kelapa 95 70.00
Sekam padi 90 48.25
Kertas tisu 90 82.50
Spons 80 67.50
Spagnum 100 100.00
Sumber: Husni dan Sunarwidi (1987)
Bibit yang disimpan dengan bahan spagnum menunjukkan presentase bibit hidup yang paling tinggi dibandingkan dengan media lainnya. Balai Penelitian Sungei Putih memilih media serbuk gergaji lembab sebagai bahan pengawet stum okulasi mata tidur, karena media serbuk gergaji lembab masih memiliki presentase hidup yang tinggi, murah, dan masih tersedia dilapangan. Balai Penelitian Sungei Putih menggunakan peti kemas untuk pengiriman stum okulasi mata tidur, dan pengiriman dilakukan dengan menggunakan truk. Peti kemas terbuat dari kayu sengon atau kayu kalasan lain, dengan ukuran 60 cm x 50 cm x 50 cm, yang dilengkapi dengan serbuk gergaji yang sudah matang dan lembab. Serbuk gergaji lembab berguna untuk meredam benturan dan menjaga kesegaran stum selama proses pengiriman. Stum okulasi mata tidur disusun secara berselang seling dengan serbuk gergaji lembab (Gambar 6). Peti kemas mampu menampung 200-300 stum okulasi mata tidur, dengan berat peti siap kemas 75-85 kg.
13
Truk yang dipakai untuk pengiriman ialah truk PS 100 atau Colt disel dengan daya tampung sebanyak 63 peti, truk Engkel enam roda memiliki daya tampung 120 peti, dan truk Tronton sepuluh roda memiliki daya tampung 180 peti, sedangkan truk Intercooler memiliki daya tampung sebanyak 220 peti. Harga stum okulasi mata tidur sebesar Rp. 6 500 per batang. Setiap transaksi pembelian produk bibit klonal baik berupa stum okulasi mata tidur atau bibit polybag harus dilengkapi surat pengantar pengiriman barang, seperti yang terlampir pada Lampiran 3.
4.2 Bibit Klonal di dalam Polybag
Bibit polybag diperoleh dari penanaman stum okulasi mata tidur yang ditanam di polybag hingga terbentuk 2-3 payung daun untuk bibit berumur satu tahun, atau terdapat 6-7 payung daun pada bibit berumur dua tahun. Kelebihan dari penggunaan bahan tanam bibit polybag ialah kecilnya presentase kematian dan pertumbuhannya lebih seragam dibanding bahan tanam stum okulasi mata tidur. Kekurangan penggunaan bahan tanam bibit polybag ialah memerlukan tenaga kerja, biaya pengadaan, dan pengangkutannya yang besar dibanding dengan bahan tanam stum okulasi mata tidur.
Polybag yang digunakan Balai Penelitian Sungei Putih untuk stum okulasi mata tidur dalam kantong plastik berukuran 25 cm × 50 cm dengan tebal 0.1-0.15 mm, polybag diukur dalam keadaan terlipat. Pengadaan bibit polybag harus dilakukan di areal yang rata dan bersih dari tunggul-tunggul, serta lokasi
pembibitan sebaiknya ternaungi. Standar prestasi kerja dan kebutuhan bahan serta alat untuk pembibitan di polybag dengan luas 1 ha atau berkisar 110 000 polybag, dapat dilihat di Lampiran 4. Berikut kegiatan-kegitan yang dilakukan dalam pengadaan dan penangan bibit polybag:
1. Pengisian tanah kedalam polybag dan teknik penyusunannya
Bagian tanah lapisan bawah tidak dianjurkan digunakan karena mengandung bahan organik yang rendah dan juga sifat fisiknya yang jelek. Tanah diambil dengan mengunakan cangkul dengan kedalaman 0-15 cm dari permukaan tanah, dan di ayak serta diberi pupuk fosfat alam sebanyak 5 g per polybag, selanjutnya tanah dimasukkan kedalam polybag dengan menggunakan sekop kecil yang dimodifikasi sendiri (Gambar 7).
14
Gambar 7 Pengisian tanah ke dalam polybag
Gambar 8 Penyusunan
polybag
2. Penanaman stum okulasi mata tidur di dalam polybag
Bahan tanam yang digunakan Balai Penelitian Sungei Putih untuk bibit klonal dalam polybag ialah stum okulasi mata tidur. Stum okulasi mata tidur yang telah lulus seleksi, segera ditanam ke dalam polybag. Sebelum
15
Tabel 4 Jumlah stum okulasi mata tidur yang ditanam di polybag
No Jenis klon Jumlah yang ditanam
1 RRIC 100 424
2 AVROS 2037 300
3 GT 1 70
Stum okulasi mata tidur yang ditanam tumbuh 100%, pengamatan dilakukan hinga 14 hari setelah tanam. Hal yang harus diperhatikan dalam penanaman stum okulasi mata tidur di polybag adalah media tanah pada saat penanaman stum harus padat agar bibit tumbuh dengan kokoh, dan penanaman harus memperhatikan arah tumbuh tunas mata okulasi (Gambar 9). Tunas okulasi nantinya harus tumbuh menghadap utara-selatan, tujuannya ialah agar tunas yang tumbuh nantinya tidak saling bertabrakan, dan tujuan lain ialah untuk menghindarkan tunas yang baru melintis tersengat matahari langsung.
3. Pemeliharaan bibit polybag
Pemeliharaan dalam pembibitan polybag meliputi penyiraman, penyiangan, penunasan, dan pemupukan.
a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari sampai tanah pengisi polybag mencapai kapasitas lapang. Jika air hujan turun dengan curah hujan ≥10 mm per hari, maka bibitan boleh tidak disiram pada hari itu, sedangkan bila curah hujan <10 mm, maka bibitan harus disiram. Kalkukasi kebutuhan air untuk pembibitan yang memiliki areal luas, harus dilakukan dengan cermat untuk mendapatkan sumber air yang cukup. Untuk penyiraman, setiap hari
dibutuhkan ±0.5 liter air per polybag, namun tetap memperhatikan faktor yang mempengaruhi transpirasi dan evaporasi, yaitu cahaya, suhu, dan angin.
b. Penyiangan
Gambar 9 (a) Penanaman stum okulasi mata tidur (b) Arah tumbuh tunas di polybag
16
Penyiangan gulma dalam polybag dilakukan secara rutin sampai bibit siap salur. Gulma di pembibitan polybag ialah semua jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di areal pembibitan polybag maupun di dalam polybag, yang sifatnya menimbulkan gangguan bagi tanaman ataupun kegiatan pengadaan dan penanganan bibit polybag. Penyiangan dilakukan secara manual dengan rotasi dua minggu sekali atau tergantung pada pertumbuhan gulma.
Pengendalian gulma secara manual yakni menggunakan alat-alat pertanian sederhana seperti cangkul, kored, atau sabit. Penggunaan herbisida sebaiknya dihindarkan karena dapat merusak pertumbuhan bibit klonal dalam polybag. c. Penunasan
Penunasan atau pewiwilan dilakukan terhadap tunas-tunas liar yang tumbuh pada batang bawah, yang dilaksanakan dengan rotasi satu minggu sekali, dengan menggunakan pisau tunas (Gambar 10). Penunasan
dimaksudkan untuk mencegah timbulnya persaingan energi yang diperlukan untuk pertumbuhan tunas dari mata okulasi. Stum yang baik akan bertunas pada 10-14 hari setelah tanam.
d. Pemupukan
Bibit klonal dalam polybag dipupuk dengan menggunakan pupuk lengkap NPKMg 15-15-6-4. Pada bulan pertama, 5 g per polybag dan pada bulan-bulan berikutnya 10 g per polybag. Pemberian pupuk pertama dilakukan jika daun pada payung daun pertama telah mengeras atau berwarna hijau tua. Pengaplikasian pupuk dilakukan dengan cara menyebar pupuk disekitar
dinding polybag. Bila pupuk lengkap tidak tersedia, pemberiaan pupuk tunggal juga dapat diberikan, pada Tabel 5 menunjukkan dosis pupuk yang digunakan.
Tabel 5 Dosis pupuk tunggal di pembibitan polybag Umur
bibit (bulan)
Dosis pupuk (g per pohon)
Urea SP-36 KCl Kieserit
17
1 5 6.25 2 2
2 5 6.25 2 2
3 5 6.25 2 2
Sumber: Balai Penelitian Sungei Putih (2004)
e. Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan polybag
Pengendalian hama di pembibitan polybag Balai Penelitian Sungei Putih, belum dilakukan karena melihat kondisi di lapangan bahwa serangan hama pada lahan pembibitan polybag masih dapat ditoleransi atau tidak mengganggu tanaman. Hama yang menyerang di pembibitan ialah ulat, rayap, dan hewan ternak. Berikut penyakit-penyakit yang dapat menyerang bibit klonal dalam polybag:
1. Jamur Akar putih
Penyakit jamur akar putih (JAP) disebabkan oleh cendawan Rigidoporus lignosus yang menyerang bagian pangkal batang hingga ke bagian akar. Gejala serangan jamur akar putih yaitu, daun terlihat kuning pucat dan tepi atau ujung daun terlipat ke dalam. Peningkatan serangan ditandai oleh daun gugur dan ujung ranting mati, serta daun muda terbentuk lebih awal. Pada perakaran tanaman yang terserang jamur akar putih akan terlihat benang-benang jamur berwarna putih atau miselium (Gambar 11).
Miselium adalah paduan kompak benang-benang jamur yang menyerupai akar tanaman. Miselium R. lignosus yang muda berwarna putih dan bentuknya pipih, semakin tua umur miselium, warna putih berubah menjadi kuning gading dan bentuknya menyerupai akar rambut. Pada serangan berat, akar tanaman
18
busuk, batang mengering dan mati (Balit SP 2008). Pembibitan di polybag dapat terserang penyakit jamur akar putih disebabkan oleh stum yang digunakan telah terjangkit penyakit jamur akar putihdan terlewat sewaktu proses seleksi.
Timbulnya penyakit jamur akar putih, juga erat hubungannya dengan kebersihan lahan. Perdu, semak, dan tunggul atau sisa tebangan pohon yang tertinggal dalam tanah, merupakan substrat R. lignosus.
Akar tanaman yang terserang jamur akar putih digolongkan atas empat stadia yaitu stadia satu, keadaan pada saat akar tanaman ditumbuhi miselium R. lignosus tetapi terbatas, hanya pada permukaan kulit. Stadia dua, kondisi
miselium telah melekat kuat pada kulit atau telah melakukan penetrasi ke jaringan kayu. Stadia tiga, bagian kulit dan kayu telah membusuk, dan stadia empat, tanaman mati (Fairuzah 2012)
Hal terpenting untuk mencegah serangan penyakit jamur akar putih di pembibitan polybag ialah dengan melakukan seleksi stum yang ketat dan intensif. Selain itu, hal lain yang harus diperhatikan ialah penggunaan media tanah yang steril. Pencegahan penyakit jamur akar putih juga dapat dilakukan dengan cara menabur biofungisida Triko SPplus sebanyak 25 g per polybag, dengan cara
pengaplikasian ditabur di sekeliling tanaman dengan interval 6 bulan. Triko SPplus
merupakan produk dari hasil penelitian Balai Penelitian Sungei Putih dengan berbahan aktif Trichoderma sp, yang efektif dan efisien untuk mencegah serangan penyakit jamur akar putih pada tanaman karet (Lampiran 5).
Penyakit jamur akar putih merupakan penyakit paling berbahaya dalam pengadaan bibit klonal tanaman karet, sebab jamur akar putih dapat menyerang bibit klonal stum okulasi mata tidur dan bibit polybag. Meluasnya penyakit jamur akar R. lignosus akan menghambat atau menggagalkan usaha peremajaan dan perluasan tanaman karet. Dalam tahun 1964 dilaporkan bahwa luas areal peremajaan yang terserang jamur akar R. lignosus adalah 11 000 ha dan 19.6 persen dari jumlah tanaman dalam areal tersebut mati akibat penyakit tersebut. Dalam tahun 1980 salah satu kebun di Jawa melaporkan bahwa selama tiga tahun setelah penanaman dalam rangka peremajaan, 80% tanaman menderita gangguan penyakit jamur R. lignosus. Pada tahun 1990, salah satu kebun inti di Sumatra pernah diketahui tanamannya terserang R. Iignosus sebanyak 40% selama 4-11 tahun (Fairuzah 2012).
Pengendalian penyakit akar R. lignosus dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, yaitu:
(1) Mencegah timbulnya jamur akar putih, pada saat melakukan persiapan lahan dengan menghilangkan tunggul-tunggul atau organ-organ tanaman berkayu secara tuntas. Penerapan cara ini akan mengakibatkan rusaknya struktur tanah serta erosi pada areal yang miring.
(2) Menanam tanaman penutup tanah jenis leguminose yang tumbuhnya menjalar minimal satu tahun lebih awal dari penanaman karet untuk menggalakkan kegiatan organisme renik pelapukan kayu, selain itu dapat pula dilakukan dengan cara menaburkan 150 belerang cirrus pada lubang tanaman atau disekitar tanaman baru.
(3) Melakukan pengendalian penyakit akar dengan pelumasan fungisida Tridemorph 10% atau PCNB 20% pada permukaan akar yang terserang. Permukaan akar tanaman yang sakit dibebaskan terlebih dahulu dari
19
jalan mengerok. Pengerokan Rizomorpha jamur hendaknya menggunakan alat yang tumpul agar tidak melukai akar.
(4) Saat ini mulai digunakan cara yang lebih sederhana yaitu dengan metode penyiraman fungisida berbahan aktif Triadimefon, Triadimenol atau Heksakonazol. Tanah di sekitar pohon dibuka sedalam 8-10 cm sebelum penyiraman, kemudian fungisida disiramkan dengan dosis sesuai umur tanaman. Penyiraman dilakukan 6 buIan sekali sampai tanaman menjadi sehat.
(5) Tanaman yang terserang berat atau telah mati dikumpul secara menyeluruh dan dibakar di luar areal pertanaman.
2. Penyakit gugur daun Oidium heveae
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Oidium heveae. Pertumbuhan daun muda yang bertepatan dengan musim kering panjang akan mengalami serangan Oidium yang berat. Gejala dapat dilihat pada daun muda yang sedang berkembang dengan timbulnya bercak-bercak putih kekuningan, dan dalam waktu singkat bercak membesar disertai dengan pertumbuhan benang jamur yang timbul kepermukaan dan membentuk kumpulan spora berwarna putih seperti tepung (Gambar 12). Daun yang terserang akan menjadi keriput dan tampak seperti layu serta diikuti dengan gugurnya daun.
Penyakit Oidium heveae berkembang pesat dengan sedikit hujan, tidak banyak sinar matahari, dan suhu yang agak rendah. Cuaca kering tidak disertai suhu tinggi tidak menghambat penyakit ini. Setelah hujan turun cukup banyak, intensitas penyakit gugur daun O. heaveae biasanya menurun karena konidia di permukaan daun tercuci. Areal kebun atau bibitan yang letaknya lebih dari 300 mdpl, akan mengalami serangan penyakit Oidium yang lebih berat jika
dibandingkan dengan kebun yang letaknya lebih rendah.
Pengendalian penyakit O. heveae yang efektif ialah dengan menggunakan serbuk balerang murni atau biasa disebut belerang cirrus. Belerang cirrus yang dianjurkan adalah balerang cirrus yang memenuhi syarat-syarat teknis sebagai berikut: serbuk halus, lebih dari 90% lolos pada saringan 100 mesh, kadar air kurang dari 3% dan kandungan balerang lebih dari 90%. Penanggulangan penyakit akan efektif apabila perlakuan fungisida telah dimulai pada saat flush atau pucuk daun baru akan mekar.
a b
20
Penghembusan belerang cirrus untuk menanggulangi O. heveae diberikan dengan dosis 5-7 kg ha-1, interval 3-7 hari dan 6 kali aplikasi. Pendebuan
sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum pukul 06.00 WIB atau pada malam hari, dengan tujuan untuk mengoptimalkan semprotan balerang, sebab balerang cirrus sangat peka terhadap hembusan angin. Alat yang digunakan untuk
pendebuan disebut hand duster, alat ini akan mengeluarkan balerang cirrus yang telah diisi sebelumnya dengan memutar pegangan yang telah disediakan di sebelah kanan (Gambar 13).
Gambar 13 (a) Alat pendebu pengendalian penyakit Oidium heveae
(b) Pengaplikasian belerang cirrus
3. Penyakit Gugur Daun Colletotrichum
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletrotrichum gloeosporioides. Serangan C. gloeosporioides pada daun muda menimbulkan bercak-bercak berwarna coklat kehitaman pada bagian tengahnya, yang berturut-turut diikuti oleh mengeriputnya lembaran daun, timbulnya busuk kebasahan, dan pada daun yang terinfeksi serangan berat dapat berakibat gugurnya daun. Pada daun tua atau daun yang telah berumur lebih dari 10 hari, serangan C. gloeosporioides
21
Gambar 14 Daun tanaman karet terserang penyakit Colletotrichum
Kelembaban nisbi udara dan curah hujan yang tinggi membantu timbul dan berkembangnya penyakit gugur daun C. gloeosporioides. Oleh karena itu,
penyakit ini timbul dan berkembang terutama pada saat musim hujan. Serangan C. gloeosporioides dapat mengakibatkan tanaman gundul sepanjang tahun, apabila penanggulangan penyakit gugur daun Oidium yang menyerang
sebelumnya kurang sempurna. C. gloesporioides dapat juga menyerang ranting-ranting dan tunas-tunas muda yang masih berwarna hijau dengan gejala serangan ranting busuk, kering, dan akibatnya mati pucuk. Pada tanaman yang terserang akan timbul tunas liar dari bawah ranting yang busuk, dan akibatnya bentuk tegakan tanaman menjadi tidak beraturan.
Pengendalian penyakit gugur daun Colletotrichum dapat dilakukan melalui pemeliharaan tanaman dan penggunaan fungisida. Penyiangan gulma secara teratur dan pemupukan rasional akan berpengaruh positif terhadap pencegahan penyakit. Beberapa fungisida yang efektif untuk penyakit ini adalah fungisida yang berbahan aktif Mancozeb, pengaplikasiannya disemprotkan dengan kosentrasi 0.20%-0.30% formulasi dalam air 500 liter ha-1 dengan interval 5-7
hari. Penyemprotan fungisida dilakukan pada saat daun baru mekar, berwarna coklat tembaga samapai hijau muda.
4. Penyakit Daun Corynespora cassicola
22
Serangan Corynespora cassicola yang berat biasanya timbul dalam cuaca yang lembab atau berawan dengan curah hujan yang relatif tidak terlalu tinggi dan merata sepanjang hari, serta suhu udara sekitar 26°-29°C. Keadaan hujan
merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi timbulnya serangan
patogen. Pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan yang merata sepanjang tahun atau di daerah dengan batas musim hujan dan musim kering tidak begitu jelas, C. Cassicola menimbulkan kerusakan yang berat dan tanaman akan meranggas terus menerus. Umumnya, kebun yang lahannya kurang subur atau bahkan tanaman tidak dipupuk maka akan mudah terserang C. Cassicola. Kerentanan klon sangat berpengaruh terhadap timbul dan berkembangnya penyakit gugur daun C. Cassicola.
Pencegahan penyakit C. Cassicola dapat dilakukan dengan menanam klon-klon yang resisten, sesuai dengan anjuran Pusat Penelitian Karet. Klon yang diketahui resisten antara lain adalah IRR 110, IRR119, AVROS 2037, BPM 109, BPM 107, BPM 1, dan RRIC 100. Pemeliharaan yang optimal dan perlakuan kultur teknis yang meliputi pengendalian gulma dan pemupukan, dapat mencegah serangan penyakit C. Cassicola. Tindakan pengendalian penyakit daun
Corynespora cassicola dapat menggunakan fungisida berbahan aktif Mancozeb, dengan kosentrasi 0.2%-0.4% dengan cara aplikasi disemprot.
5. Penyakit Bercak Daun Helminthosporium
Penyakit bercak daun Helminthosporium dikenal pula sebagai penyakit bercak daun mata burung. Pada daun muda penyakit menyebabkan timbulnya bercak-becak berwarna coklat dengan bentuk tidak beraturan, dan nantinya daun akan mengeriput. Pada serangan yang lebih lanjut, pusat bercak berwarna putih dan kadang-kadang pada bagian tersebut terdapat bintik-bintik yang berwarna hitam yang berarti cendawan patogen (Gambar 16).
23
Gambar 16 Daun tanaman karet terserang penyakit Helminthosporium
Penyakit bercak daun Helminthosporium menyebar bersama hujan dan mampu menyerang pada suhu yang relatif tinggi, yaitu 25°C-29°C. Penyakit bercak daun Helminthosporium umumnya merupakan komplikasi penyakit semaian lainnya, yaitu penyakit gugur daun Colletotrichum. Serangan berat dapat menyebabkan daun gugur dan sebagai akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat.
Penyakit daun Helminthosporium dapat diatasi dengan menyemprotkan fungisida Mankozeb 0.2% formulasi dalam air atau fungisida tembaga (KOC) 0.5% formulasi dalam air, dengan dosis 400-600 liter ha-1 dengan interval waktu
selama 7 hari. Daun-daun yang perlu dilindungi dari serangan bercak daun
Helminthosporium adalah daun-daun yang masih muda, yaitu daun yang berwarna ungu sampai dengan hijau muda. Beberapa fungisida untuk pengendalian penyakit gugur daun, sifat dan cara aplikasinya dapat dilihat pada Lampiran 6.
6. Penyakit Layu Fusarium
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium sp. Penyakit ini mudah berjangkit pada musim hujan, terutama di daerah-daerah yang memiliki
c
b a
24
Pengendalian penyakit layu Fusarium dapat dilakukan dengan
penyemprotan fungisida berbahan aktif Tridimefon. Aplikasi dengan kosentrasi 0.5%, dengan rotasi waktu setiap satu minggu sekali. Tanaman yang mati terserang penyakit layu Fusarium dikumpulkan dan dibakar untuk menimalisir penyebaran penyakit lapuk batang pada tanaman yang sehat.
4.6 Seleksi Bibit Polybag
Pelaksanaan seleksi telah dilakukan sejak pengadaan biji sampai dengan seleksi stum mata tidur ditanam di polybag, namun penyeleksian bibit klonal di dalam polybag masih perlu dilakukan sebelum di distribusi atau disalurkan. Bibit dinyatakan lulus seleksi apabila: (a) Tinggi payung pertama ≥20 cm, diukur dari pertautan okulasi sampai ke titik tumbuh dengan diameter batang minimal 8 mm, yang diukur pada ketinggian 10 cm dari pertautan okulasi. Jika tinggi payung 15-20 cm maka diameter batang minimal 1 cm. (b) Daun berwarna hijau segar, tidak menguning serta tidak terserang hama dan penyakit.
Balai Penelitian Sungei Putih juga melakukan seleksi terhadap bibit polybag yang mata okulasinya bukan berasal dari klon atau bibit berasal dari semaian. Identifikasi bibit palsu dalam polybag dapat dilakukan secara morfologis. Berikut ciri bibit polybag yang mata okulasinya berasal dari semaian:
a. Warna batang tunas muda cokelat kemerahan, mulai dari ujung sampai kepangkal batang tunas.
b. Sudut tunas muda terhadap garis vertikalnya hanya 19o-25o
c. Jumlah tangkai daun pada payung daun pertama 5-7 tangkai
Bibit polybag yang mata okulasinya berasal dari klon, memiliki cir-ciri sebagai berikut:
a. Warna batang tunas muda dari pangkal hingga ke ujung ialah hijau b. Sudut tunas muda terhadap garis vertikal ialah 36o-49o
c. Jumlah tangkai daun pada payung daun pertama mencapai 8-12 tangkai
5 SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Kegiatan pengadaan dan penanganan stum okulasi mata tidur meliputi: okulasi, pencabutan stum, seleksi stum, pengemasan stum, dan penangan stum sebelum disalurkan. Presentase stum okulasi mata tidur yang lulus dapat
ditingkatkan dengan melakukan pengendalian serangan penyakit jamur akar putih serta kemahiran tenaga kerja dalam melakukan pencabutan dan seleksi.
Penggunaan serbuk gergaji lembab dapat menjaga stum dari benturan, dan menjaga kesegaran bibit hingga siap tanam di lapangan.
Kegiatan pengadaan dan penangan bibit polybag, meliputi: pengisian tanah ke dalam polybag dan penyusunan polybag, penanaman stum, pemeliharaan bibit polybag hingga siap salur, serta seleksi bibit polybag sebelum disalurkan.
5.2 Saran
Bibit klonal yang unggul dan bermutu akan tercipta jika semua kegiatan teknis pengadaan dan penanganan dilakukan dengan baik dan benar, oleh karena itu perlunya dilakukan penyuluhan kepada setiap karyawanan Balai Penelitian Sungei Putih betapa pentingnya semua kegiatan dilaksanakan sesuai standar operasional, selain itu kebun percobaan Balai Penelitian Sungei Putih cukup luas dan areal pembibitan terdapat dibeberapa blok, sebaiknya dilakukan penambahan tenaga pengawas.
DAFTAR PUSTAKA
[BPSP] Balai Penelitian Sungei Putih. 2004. Pedoman Budidaya Karet. Medan (ID): BPSP Pr.
Fairuzah, Zaida. 2012. Identifikasi dan Pengendalian Penyakit Tanaman Karet. Makalah Diseminasi Perlindungan Perkebunan. Pusat Penelitian Karet, Sungei Putih.
Husni Z, Sunarwidi. 1987. Pengiriman Jarak Jauh Bibit Karet Stum Okulasi. Warta Perkaretan. 6 (2): 11-13.
Siagian N. 2012. Pembibitan dan Pengadaan Bahan Tanam Karet Unggul. Karyudi, editor. Medan (ID): BPSP Pr.
Siagian, N. 2012. Seleksi, Standar Mutu, dan Penyiapan Berbagai Bahan Tanamn Karet. Makalah Workshop Penggunaan Klon Unggul dan Penyiapan Bahan Tanaman Prima untuk Mendapatkan Produktivitas yang Optimal. Balai Penelitian Sungei Putih. Pusat Penelitian Karet. 29 hal.
Penjab. LAB. RUMAH KACA &
STASIUN
PENELITIAN KOMERSIALISASI URUSAN HASIL PENELITIAN
29
30
31
Lampiran 4 Standart prestasi kerja, kebutuhan alat dan bahan untuk pembibitan di polybag dengan luas 1 ha atau berkisar 110 000 polybag
No Uraian gaji dan Upah Norma (satuan) Total HK
1 Meratakan tanah 25 Hk ha-1 25 Hk
2 Mengisi polybag dan pupuk dasar 150 polybag per Hk 734 Hk
3 Menanam stum 300 stum per Hk 367 Hk
4 Menyiram 90 Hari (1 x 2 hari) 10 000 stum per Hk 495 Hk 5 Menyiang bibitan 8 rotasi 21 Hk ha-1 168 Hk
6 Menyiang polybag 8 rotasi 5 000 polybag per
Hk 176 Hk
7 Memupuk 2 rotasi 10 000 stum per Hk 22 Hk
8 Menunas 6 rotasi 5 000 stum per Hk 132 Hk
9 Pengendalian penyakit 4 rotasi 3 Hk ha-1 12 Hk
10 Seleksi bibit 5 000 batang per Hk 22 Hk
11 Tambah tanah polybag 3 000 polybag per Hk 37Hk 12 Operator mesin 90 hari 1 Hk per hari 90 Hk 13 Jaga hewan 90 hari 1 Hk per hari 5 ha-1 18 Hk
14 Jaga malam 90 hari 2 Hk per hari 5 ha-1 36 Hk
15 Menyusun polybag per langsir polybag 500 polybag per Hk 220 Hk
Total Gaji per Upah 2 554 HOK
Bahan dan Alat Total bahan
1 Polybag (25 cm×50 cm×0.13 cm) 110 000 x 1.05 polybag 115 500
2 Pupuk posfat alam 50 g per polybag 5 500 kg
3 Pupuk NPKMg 15-15-6-4 15 g per polybag 1 650 kg
4 Dithane 3 kg ha-1 3 kg
5 Calixin 750 EC 6 liter ha-1 6 liter
6 Balerang 10 kg ha-1 10 kg
7 SOMT (80 % hidup) 110 000 x 1.2 batang 132 000
batang
8 Pisau tunas 2 satuan ha-1 2 satuan
9 Knapsnack spayer 0.01 unit ha-1 0.01 unit
10 Citowet 0.4 liter ha-1 0,4 liter
11 Ember plastik 3 satuan ha-1 3 satuan
12 Gembor 10 satuan ha-1 10 satuan
13 Slang 100 m ha-1 100 m
14 Mesin pompa 0.25 buah ha-1 0.25 buah
15 Tong atau drum 10 satuan ha-1 10 satuan
32
Lampiran 5 Biofungisida dan beberapa fungisida untuk pengendalian jamur akar putih, sifat dan cara aplikasinya
No DagangNama Bahan Aktif Formulasi Sifat Cara Aplikasi
Dosis
1. Belerang Sulfur Tepung
Non Sistemik
CP Tridemorf Pasta SistemikProtektif
Kuratif
SC konasolHeksa- Cairan SistemikProtektif
Kuratif
SPPlus Tricodermasp Tepung
33
* Dilarutkan dalam air, setiap 5 – 10 ml fungisida/1 liter air ** Untuk pembibitan diperlukan 25 g
Lampiran 6 Fungisida untuk pengendalian penyakit daun pada bibit klonal tanaman karet
No DagangNama Bahan Aktif Formu-lasi Sifat AplikasiCara pohon perDosis per aplikasi
Fogging * liter ha0.25%-1 7-10
Colletotrichum dan Helminthosporium
1. DithaneM
45-2 Daconil75 WP Klorotalonil Tepung
3 Delsene250 EC KarbendazimMancozeb Tepung
34
1 DithaneM 45 – 80 WP
Mancozeb Tepung
Protektif
Non Persist
en
Semprot 0.2% 7 – 10
2
Bavistin 50 WP
atau Benlate
Karbendazi m atau
Benomil Tepung
Sistemik
Non Persist
en
Protektif
Semprot 0.2% 7 – 10
Keterangan : * : ditambah Shell Fogging Oil sebanyak 1.75 l ha-1
RIWAYAT HIDUP
Penulis yang bernama lengkap Ade Ary Surya Nullah Siagian dilahirkan pada tanggal 29 April 1993 di Bukit Dame Desa Siamporik, Kecamatan Kualu Hulu Selatan, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Sumatera Utara. Penulis merupakan anak kedua dari delapan bersaudara, dari pasangan Hasanuddin Siagian dan Nurmalasari Munthe.