l
1 11 '
1
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
~
t
l
f
•
-1~
r
40'16
Rapat 158. Rantjangan Anggaran Negara tahun 1959 (Std. 1958,P.
350).(Dr Sahar gelar Sutan Besar.) ,,Dunia diadang, kikir diperbuat".
Dalam hal ini tidak perlu Pemerintah segan menge-luarkan biaja jang besar, tetapi hendaknja pakailah dengan hemat dan seefficient-efficientnja dan hanja semata-mata buat menamhah hasil produksi bahan makanan dalam taraf pertama.
Disamping memikirkan dan membuat blue-print rentjana-rent_jana raksasa, sebaiknjalah keuangan ini lebih disalurkan langsung kepada instansi jang me-njelenggarakan dan jang mengawasi usaha-usaha ke-makmuran itu. Lebih-lebih didaerah-daerah dalam tingkatan badan-badan Pemerintah Daerah jang langsung dapat menjelesaikan dan memetjahkan per-soalan-persoalan perluasan tanah buat persawahan dan penanaman bahan makanan dan penggiatan tena"
ga produksi bahan ekspor basil pertanian rakjat.
Dalam hal ini saja lebih mengharapkan politik Pemerintah dalam pemulihan keamanan dengan ke-landjutahnja menempuh djalan jang dapat memberi-kan reserve dalam anggaran belandja ini buat keper-luan-keperluan lain dan dapat meringankan beban rakjat ja:ng disebabkan oleh pengeluaran-pengeluaran dewasa ini jang terpaksa dilakukan dan menelan budget tidak kurang dari hampir
lfs.
Lebihtlebih dirasakan desakan kearah itu, karena dalam lihgkaran jang tak berudjung-pangkal dewasa ini, Pernerintah memulai mentjoba memutuskannja dengan tindakan-tindakan jang tegas, tepat dan
tje-pat, waJ.aupun harus dengan mengorbankan sebagian besar budget negara bagi itu.
Tetapi disamping itu pengaruh politik ekonomi, keuangan, hendaknja dapat memberi napas jang agak lapang kepada rakjat, agar dapat mempergunakan tenaganja dengan tepat pula dan penuh rasa gem-bira, atau sekurang-kurangnia bebas dari rasa takut dan chawatir, jang akan dapat mendjamin
kete-r.angan dan kegembiraan kerdja, jang hanja dapat di-berikan oleh djalannja perekonomian jang baik dan politik keuangan jang sehat, dari mana rakjat meng-harapkan diperolehnja keseimbangan hidup, buat hari-kehari. Soal bahan buat hidup itulah hendaknja jang lebih merata dapat dibagikan, seperti bahan makanan, pakaian, gula, minjak, sabun dan sebagai-nja clan dapat diletakkan dalam bidang djengkauan tenaga pembeli rakjat '~'1g akan dapat Jebih meri-ngankan beban mereJ<..i:t menghadapi perbelandjaan sehari-hari .
Masih amat tebal kejakinaPl mereka kepada nasib jang ditentukan Tuhan, dan mereka selamanja men-djalankan pesuruh-pesuruhnja buat bekerdja keras bagi nafkah sehari-hari, dengan kurang mengenal ke-lesuan, jang seharusnja disambut olelh kita semuanja dan Pemerintah jang berhutang budi kepada kaum petani, den,gan usaha buat meringankan bebannja, terutama dalam mengisi keperluan-keperluan primair dalam usaha menghastlkan bahan-bahan makanan itu.
Baiklah saja sentuh disini hal~hal jang dapat di-anggap sebagai udjian terhadap kebidjaksanaan Pemerintah dalam mendjalankan tugasnja.
Rakjat memerlukan keuangan; bibit, padi, rabuk, alat-alat dan sebagainja.
Saudara Ketua, persoalannja sekarang, ialalh ba-gaimana kita pada tahun 1959 ini mengadakan per·
sediaan beras jang tjukup, karena ini mempunja;i aki-bat-akibait langsung untuk tahun 1959 dan mend jadi persoalan masjarakat jang akan datang.
Pemerintah jang pada ta:hun dahulu kelihatan le-bih optimistis, sekarang ternjata' mendjadi pessimis·
tis dalam menghadapi persoalan beras ini.
Saudara Ketua, tentang bagaimana tjaranja Peme-rintah menuangkan kebidiaksanaannja kedalam ang-garan belandja dapat lebih djelas kalau kita lihat pada Anggaran Kementerian Pertanian, dimana ada pos unituk 1pembangunan gedung~gedung dengan har-ga jang sekian puluh djuta rupiith.
Sauda:ra Ketua, Pemerintah didalam usaha pemba-ngunan gedung-gedung ini memang selalu 1bermain den:gan puluhan djuta rupiah. Dalam hal ini saja mentjoba minta keterangan kepada Pemerintah; ba-rangkali didalam hari-hari jan:g akan datang in~ sem-pat untuk memberi pendjelasan tentang berapa ge·
dung/bangunan jang akan dibangun untuk tahun 1959, dengan djumlah biajanja ..
Menurut hemat saja segala pembangunan itu.
oleh karena sebagian besar akan tergantung dari adanja biaja jang tersedia buat membeli dari luar negeri djutaan bahan-bahan pen.ting jang harus di-impor seperti betonijzer, katja~katja, eterniet dan seterusnja, dengan djumlah jang kira-kira akan mendekati 50% dari anggaran jang disediakan bagi pekerdjaan-pekerdjaan itu, tentu tidak akan dapat sekaligus dilaksanakan, karena persediaan devisen kitalah jang akan turut menentukannja kelak.
Apakah Pemerintah tidak sependapat dengan saja, agar lebih tepat apabila pembangunan gedung-gedung itu sebagian besar ditunda dahulu, dan keuangannja lebih utama di:tudjukan kepada usaha-usaha Peme-rintah buart menambah bahan makanan ini.
Hal lain jam~ saja batja dalam anggairan belandia ialah mengenai ... .
Ketua: Saja peringatkan, bahwa waktu Saudara sudah habis.
Dr S9Jhar gelar Sutan Besar: Saja harap sadja lain kali saja akan berbitjara Iebih tjepat.
Ketua: Saja persilakan Saudarn Njonja Sundari.
Nj. Sundari Abdubachman: Saudara Ketua jang terhormat, dalam kesempatan p~mbahasan rantjang-an Anggarrantjang-an Belrantjang-andja tahun 11959 ini, perkenrantjang-an- perkenan-kanlah sa,ia ikut-serta menjumbangkan pikiran saja, terutama jang menjangkut bidang Kementerian
Ke-hakiman. '
Djika kita melihat apa jang t~rtjatum dalam Nota Keuangan lampiran II, maka da[am tahun 1959
Ang-d I
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
r:
llantjangan Anggaran Negara tahun 19S9 (Sid. 19S$,. :P. 350).
tbpat 1S8.401 T
(Nj. Sundari Abdulrachman.)
garan Kementerian Kehakiman mengalami kenaikan dari Rp. 392,5 djuta mendjadi Rp. 414,5 djuta.
Menurut Anggaran Belandja tahun 1958 setelah mengalami perubahan, maka djumlah pengeluaran seluruhnja ada Rp. 418 djuta, djadi berbeda dengan apa jang tertjantum dalam Nota Keuangan tahun 1959, anggaran belandja untuk Kementerian Keha-kiman ternjata dalam tahun 1959 mengalami pengu-rangan. Mungkin apa jang tertjantum dalam Nota Keuangan tahun 1959 itu adalah benar, sebab kita belum menerima begrotingsrekening dari pengeluaran tahun 1958.
Pada umumnja angka-angka tahun 1959 tidak dja-uh berbeda dengan angka-angka tahun 1958 setelah mengalami perubahan. Ketjuali pos 7.3 Pemilihan Umum, jang dalam tahun 1958 berdjumlah Rp. 2 djuta, kini naik rnendjadi Rp. 27 djuta. Djuga pengeluaran tak tersangka jang dulu berdjumlah Rp. 50.000,- sekarang tertjantum ,,mernori". De-ngan tidak djauh berbedanja Anggaran Belandja tahun 1959 dari tahun sebelumnja bisa menimbul-kan pikiran, bahwa didalam Kernenterian Kehakiman tidak terdapat perubahan-perubahan, jang berarti tidak terdapat kemadjuan-kemadjuan.
Saudara Ketua, ingin saja mendapat pendjelasan dari Pemerintah, mengapa dalam merentjanakan Anggaran Belandja tahun 1959 belum djuga diper-hitungkan tambahan pengeluaran berhubung dengan perbaikan gadji pokok pegawai, jang toch telah diren-tjanakan mulai tahun ini. Apa jang telah direntja-nakan semestinja sudah harus diperhitungkan djuga didalam rantjangan anggaran belandja tahun jang bersangkutan. Alangkah baiknja djika sebelum kita merentjanakan sesuatu anggaran terlebih dahulu kita petjahkan, apa iang diperlukan untuk tahun anggaran jang bersangkutan.
Untuk Jebih djelasnja pembahasan saja terhadap Anggaran Belandja tahun 1959 ini, baiklah saja menguraikannja pos demi pos jang ada.
Pos 7.1 Kementerian Umum dan Pengeluaran um um.
Dalam belandja modal pada mata-anggaran 7.1.1.
21 terdapat pengeluaran sebanjak Rp. 10 djuta.
Pada anggaran berikutnja sampai pada mata-anggaran 7.1. 1.21 tertjantum ,,memori". Sangat di-sesalkan, bahwa untuk sekian banjaknja mata-ang-garan, Pemerintah masih belum tahu pasti herapa rentjana pengeluarannja. S~lain itu dalam Satuan 3 A didjelaskan, bahwa mata-anggaran 7.1.1.21 diper-untukkan pembelian kendaraan, perkakas kantor, buku-buku hukum, lontjeng dinding dan lain-Iain.
Kalau kita teliti ang~aran belandja tahun-tahun jang lalu, maka pendjelasan ini bunjinja selalu sama.
Misalnja sadja lontjeng dinding, sedjak <lulu lontjeng dinding ini ditjanturhkan dalam rentjana pembeiian alat-alat. Apa mema!ng itu belum dibeli atau karena memang begitu banjak jang memerlukan lontjeng dinding? Untuk iQi · memang sangat perlu kita
ke-tahui matjamnja inventaris dari sesuatu bagian, sehingga mudah untuk kemudian meneliti apa jang belum ada dan jang perlu diadakan, untuk tahun tertentu.
Mata-anggaran 7 1.1.28 menundjukkan penge-luaran sebesar Rp. 20 djuta, pengeluaran mana adalah sama besarnja dengan pengeluaran jang di-pergunakan untuk gedung-gedung kependjaraan, se-bagaimana tertjantum dalam mata-anggaran 7.1.1.29.
Menurut Djawatan Kependjaraan Pusat, maka ren-tjana begroting jang diperlukan untuk pembangunan/
perbaikan rumah-rumah pendjara, berdjumlah Rp. 28 djuta untuk seluruh Indonesia. Meskipun gedung-gedung pengadilan dan kedjaksaan didaerah-daerah djuga sangat menjedihkan keadaannja, tetapi djika dibandingkan dengan rumah-rumah pendjara dimana berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus orang harus mendapatkan tempat tinggal sernentara, maka djPm-lah pengeluaran jang disamakan itu, menurur pen-dapat saja adalah tidak tepat.
Chusus mengenai biaja untuk perbaikan gedung-gedung kependjaraan, kiranja perlu disini saja ke-mukakan perintjian pengeluaran jang diperlukan un-tuk perbaikan rumah-rumah pendjara jang dikirim oleh Djawatan Kependjaraan Pusat. Dari djumlah Rp. 28 djuta tersebut diatas maka untuk Djakarta sadja diperlukan Rp. 8,7 djuta, sedang untuk daerah-daerah diluar Djakarta paling banjak disediakan/
direntjanakan uang sebesar Rp. 3 djuta. Misalnja untuk seluruh Nusa Tenggara termasuk Bali dan Lombok, daerah jang begitu luas dengan keadaan rumah pendjara jang menjedihkan, djuga tidak lebih dari Rp. 3 djuta. Apa jang dikemukakan kepada sa-ja. oleh Kepala Djawatan Kependjaraan di Timor, untuk daerahnja sadja telah diadjukan anggaran se-banjak Rp. 10 djuta guna pembangunan/ perbaikan rumah-rumah pendjara seluruh daerah Timor pada tahun 1956/1957. Menurut keterangan, jang teiah
di-otorisasi harnpir Rp. 2 djuta. Djika kita tidak melihat dengan mata kepala sendiri, memang tidak dapat membenarkan djumlah jang diadjukan itu. Kelam-batan bantuan biaja ini bisa membawa akibat-akibat jang tidak bisa kita inginkan; pendjara di Soe (Timor) jang berupa sebuah rumah seluas kira-kira 150 m2 berdinding batang dan beratap daun Jontar dengan penghuni sebanjak 112 orang, tentu tidak mungkin kita pertahankan terlalu lama.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka saja minta Pemerintah suka mempertimbangkan pe'rin-tjian pengeluaran sebagaimana diadjukan oleh Dja-watan Kependjaraan Pusat. Hendaknja segala penge-luaran digunakan du_lu untuk kepentingan jang · urgent. Untuk ill1i memang sebaiknja djika Pusat me-nindjau keadaan-keadaan didaerah, schingga dapat dimengerti keperluan-keperluan daerah, dan sekali-gus dapat mengontrol pelaksanaan pembangunan dan penggunaan uang.
Pasal 7.1.14 Biro Pengawas Orang Asing.
Mengenai Bipora ini, ingin saja mengadjukan sa-ran kepada Pemerintah unt\ik dipertimbaagkan.
•
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
•
40f S
Rapat 1~8. R.aotjangan Anggaran Negara taboo 195~ (Sid. 1958, P. j54)).(Nj. Sundari Abd·ulrachman.)
Adanja suatu instansi untuk mengawasi orang-orang asing jang masuk ke Indonesia dan jang ber-ada di Indonesia, pber-ada waktu sekarang i.ni, dimana kegiatan subversi dari orang-orang asing memainkan rol jang penting dalam kekatjauan-kekatjauan di-negeri kita, memang adalah sangat perlu. Meskipun demikian, karena sebagaimana kita mengetahui telah ada djawatan jang mempunjai tugas mengurus orang-orang asing, maka tidakkah Pemerintah se-pendapat dengan saja, djika segala persoalan jang
· mengenai bidang tersebut digabungkan sadja men-djadi satu. Dengan demikian, maka biro jang ada
ini tidak perlu dibubarkan, tetapi tjukup dimasuk-kan dalam formasi djawatan jang bersangkutan, jaitu Djawatan Imigrasi. Karena djawatan ini tidak mempunjai tugas pengawasan, maka biro pengawas-an ini setelah masuk dalam formasi, mendjadi ba-gian pengawasan dari djawatan tersebut.
Saja kira usul ini adalah redelijk. Dalam satuan 3 B nampak dengan djelas, bagaimana tidak vo1waar-dignja biro kita ini. Formasi jang terdiri dari 51 orang
hanja ada bezetting sebanjak 20 orang, terdiri dari:
seorang wakil kepala, 12 orang mulai ahli-ahli, pe-nasehat-penasehat, perakit-perakit sampai pada dju-ru-djuru tata-usaha, kemudian 2 orang perakit dan djuru ketik, 2 orang supir dan achirnja 3 orang pe-suruh. Biro Pengawasan jang tidak ber-Pengawas, karena diantara sekian orang pegawai tidak ada se-orang ahli Pengawaspun. Djadi, djika kita mau be-kerdja setjara efficient, maka tidak ada djalan lain ketjuali memasukkan kedalam Djawatan Imigrasi, jang sekarang baru mempunjai tugas pemeriksaan terhadap surat-surat orang-orang asing di Indonesia, tetapi belum mempunjai tugas untuk mengawasi orang-orangnja.
Pasal 715. Pengeluaran umum selama tidak di-sebut dipasal anggaran lain.
Dalam pasal ini terdapat pengeluaran sebesar Rp. 4.712.400,- untuk ongkos perdjalanan dinas dalam negeri jaitu dalam mata-anggaran 7.1.5.lla.
· · Adanja pengeluaran tersebut bisa dibenarkan, asal:-kan betul-betul digunaasal:-kan setjara efficient. Misalnja untuk pengiriman hakim-hakim guna menjelesaikan perkara jang belum selesai didaerah-daerah dimana terdapat kekurangan hakim seperti di Kalimantan, · Sulawesi, . Nusa Tenggara. Tidak hanja ke Nusa Kambangan, Bandung dan Pulau Seribu misalnja.
Mengenai mata-anggaran 7.1.5.lla dalam pendj:e-lasan diterangkan, bahwa pengeluaran tersebut di-mulai pada tahun Anggaran 1958. Apa sebabnja sebelum tahun tersebut tidak ada pengeluaran un- . tuk sewa rumah-rumah/tanah-tanah. Untuk ini ingin
· saja mendapat pendjelasan dari Pemerintah.
Mata-anggaran 7.1.5.31 merupakan pengeluaran untuk tundjangan kepada ,,Perhimpunan Ahli Hu-kum" dan ,,Ikatan Sar~jana Hukum". Dalam hu-bungan ini mengingat sudah terbentuknja Lembaga
Pembina Hukum Nasional, maka apakah tela:h .djuga direntjanakan oleh Pemerintah untuk menggunakan lembaga ini terutama untuk perbaikan perundang-undangan kita. Perundang-perundang-undangan kita masih ba-njak jang tidak sesuai Iagi dengan keadaan masja-rakat kita. Undang-undang jang seharusnja meng-untungkan rakjat dan melindungi rakjat tidak dja-rang mentjelakakan rakjat, disamping mem bikin bingungnja rakjat karena simpang-siurnja atau ka-rena bertentangan dengan Undang-undang Dasar Sementara kita. Djika pada suatu waktu kita menge-mukakan kepada jang berwadjib, biasanja djawab-annja sama sadja: ,,Undang-undangnja masih ada, belum ditjabut. Memang ini sudah tidak sesuai lagi.
Dan akan selekas mungkin diusahakan pengganti-nja". Biasanja diakui bahwa Undang-undang itu ko-lonial. Hanja sangat disesalkan, bahwa istilah sele·
kas mungkin tersebut, biasanja berarti tidak mem-berikan batas waktu. Ambillah tjontoh 1ilisalnja l.G.O. Terang suatu Undang-undang jang tidak tjo-tjok lagi. Tetapi mengapa mesti terlalu lama diperta-hankan, dan. mengapa penggantinja lambat sekali dikeluarkan. Adakah maksud-maksud lain? Masih boleh merasa untung kita djika jang melaksanakan bisa menjesuaikan pendiriannja dengan keadaan, dan tidak lagi berpikiran setjara kolot. Sebab tidak djarang jang bahkan menggunakan perundang-un-dangan jang lama jang bertjorak kolonial setjara se-wenang-wenang. Sesuatu jang harus · disesalkan.
Untuk: menghindarkan hal-hal jang tidak diinginkan, seperti diatas, maka hendaknja Pemerintah memper-timbangkan bagaimana pentingnja lembaga tersebut.
Adalah tepat djika lembaga ini merupakan bagian jang penting didalam Kementerian Kehakiman.
Maka dalam merentjanakan Anggaran Belandja tahun 1959 ini saja usulkan, hendaknja ada ditjan-tumkan mata-anggaran untuk pembiajaan lembaga
· tersebut.
Pos 7.2.
URUSAN HUKUM Pasal 7 .2.2 Pengadilan Tinggi.
Dalam Anggaran Belandja tahun 1959 tidak ter-dapat perubahan-perubahan ketjuali beberapa. angka.
Djika kita menindjau keadaan Pengadilan Tiriggi pada keadaan sekarang ini, maka bukankah Peme-rintah sependapat dengan saja, djika Pengadilan Tinggi perlu ditambah djumlahnja? Dengan djumlah jang sekarang ini menurut. hemat saja, belum dapat diatasi kesulitan-kesulitan jang ada. Salah satu tjon-toh, adanja satu Pengadilan Tinggi untuk . Sulawesi, · Nusa Tenggara dan Maluku adalah sesuatu jang su- · kar dapat dibenarkan. Bagaitnan~ Pengadilan Tinggi ini dapat melajani daerah jang seluas itu? Kekurang-an ini djuga merupakKekurang-an salah sam sebab kelambatKekurang-an dalam penjelesaian perkara-perk~ra. ·
Pasal 7.2.3 Mahkamah Agung dan Kedjaksaan Agung.
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
Raotjangan Angg$ran Negara taboo 1959 (Sid. 1958, P. 350). Rapat 158.
4019
(Nj. Sundari Abdukachman.)
Meskipun Parlemen telah memutuskan adanja penambahan Djaksa Agung Muda dari 2 mendjadi 3, tetapi menurut rentjana Anggaran tahun 1959, per-ubahan ini belum tertjermin didalamnja. Oleh karena itu sudilah kiranja Pemerintah memberikan pen-djelasan, bagaimana kelandjutan dari un-dang penambahan tersebut. Mulai kapankah Unun-dang- Undang-undang tersebut akan dilaksanakan. Selain itu sudah-kah Pemerintah menentukan ketiga Djaksa Agung Muda tersebut?
Pasal 7.2.3 Pengadilan-pengadilan Negeri dan Ke-djaksaan-kedjaksaan Pengadilan Negeri.
Mengingat keadaan jang menjedihkan didaerah-daerah maka perlu untuk ini mata-anggaran 7.1.1.21 menjediakan anggaran untuk pembelian alat-alat kantor terutama mesin-mesin tulis. Alat-alat ini sa-ngat penting, karena bisa membawa akibat kema-tjetan dalam penjelesaian p:erkara-perkara. Tidak ojarang didaerah-daerah perkara belum dapat di-adjukan karena proces verbaalnja belum selesai di:tik.
Pasal 7.2.4A Pendidikan untuk para Hakim dan Djaksa.
Usaha Pemerintah untuk mengatasi kekurangan selama ini terutama dalam menjelesaikan perkara jang bertimbun-timbun perlu mendapat penghargaan.
Bagaimana serieusnja persoalan jang harus dihadapi oleh Kementerian Kehakiman bisa dilihat dari ke-njataan sebagai berikut. Sekolah Menengah Kehakim-an Atas, Kursus Menengah KehakimKehakim-an Atas, Kur-sus-kursus Aplikasi, Kursus istimewa untuk Djaksa-djaksa tjukup banjak dilaksanakan. Meskipun demi-kian, djumlah perkara-perkara jang belum selesai masih tetap banjak.
Menurut tjatatan jang diperoleh dari Kemen-terian Kehakiman, maka sampai kini tahanan jang terdapat diseiuruh Indonesia jang sudah satu tahun lebih ada 2.812 oran:g. Angka itersebut masih harus diperiksa kebenarnnnja. Sedang seluruh tahanan jang terdapat dirumah-rumah pendjara diseluruh Indo-nasia ada 18.155 orang. Perkara-perkara kiriminil (belum termasuk jang sipil) jang belum selesai dan jang sudah terdaftar pada Pengadilan-pengadi.J'an Ne-geri sampai September 1958 ada 31.920 orang.
Dari angka-angka sementara ini bisa dilihat sam-pai dimana :basil Pemenintah dalam usahanja. Kira-nja perlu dijakini, lbahwa kursus-kurnus itersebut di-atas bukan merupakan satu-satunja djalan keluar, karena memang sebalb-selbab kesulitan tersebut ada beberapa banjaknja. Ketjuali kekurangan tenaga Hakim dan Djaksa, maka se~ab-sebab lain jakni, kekurangan kendaraan, kurang adanja kesanggupan dari para Hakim dan Djaksa untuk pindah ketem-pat-tempat terutama diluar Djawa, dan achirnja sebab-sebab lain ialah belum sempurnanja pelaksa-naan p:~rubahan Pengadilan Swapradja mendjadi fenga<.lil<tn Negeri biasa.
Djadi untuk dapat keluar dari kesulitan maka di-samping kursus, Pemerintah perlu mempertimbang-kan penambahan kendaraan, pengiriman tenaga-te-naga Hakim dan Djaksa untuk beberapa bulan ke-daerah-daerah jang kekurangan tenaga untuk dalam waktu tertentu memibantu menjelesaikan perkara-perkara jang ada. Djuga pelaksanaan perubahan Pengadilan Swapradja mendjadi Pengadilan Negeri biasa 1perlu ada 1perha•tian dari Pemerintah.
Pos 7.4.
DJAWATAN KEPENDJARAAN DAN LAIN-LAIN.
Separuh lebih dari Anggaran Belandja Kementeri-an KehakimKementeri-an dipergunakKementeri-an untuk pos 7.4. Dari djumlah tersebut hampir 35% digunakan untuk ma-kannja orang-orang dirumah-rumah pendjara, se-dang untuk keperluan perusahaan tersedia kira-kira 16%. Ini tidak kemudian berarti, bahwa saja meng-harapkan, supaja biaja makan untuk orang-orang terpendjara dikurangi, 1seba'b apa jang mereka dapat, adalah makanan dibawah minimum makanan rakjat Indonesia.
Tetaipi apakah tidak perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah, untuk menambah biaja guna keperluan perusahaan-perusahaan pendjara?
Saja :tertarik oleh pida'to Saudara Kepala Djawat-an KependjaraDjawat-an dalam Konperensi DjawatDjawat-an Ke-pendjaraan di Sarangan pada tahun 1956 jang men-citeer kalimat sebagai berikut:
,, ... tugas iterachir daf!i Djawatan Kependjara-an ialah mengembalikKependjara-an orKependjara-ang-orKependjara-ang hukumKependjara-an itu kemasjarakat sebagai anggotanja jang berguna dan seterusnja". Oleh Saudara jang terhormat tersebut, dikemukakan djuga, lbahwa ,, ... tugas ini tidak dapat terpengaruh oleh teori manrupun djuga dari ilmu hukum ... ". Dari apa jang dikemukakan oleh Saudara jang terhormat terselbut, maka djelas-lah bagi kita apa jang 'seharusnja dilaksanakan da-lam rumah-rumah pendjara kita, apalagi djika dilihat apa jang tertjantum dalam Nota Keuangan bah VI balaman 9 dimana ditulis bahwa satu aspek produksi jang merup\kan kuntji, adalah tenaga kerdja.
Keadaan dimana tenaga kerdja tidak dipakai se-penuhnja hams dihilangkan dan seterusnja. ,,Sudah barang tentu tjara menghilangkannja ini ialah dengan memberikan kepada mereka tempat dan alat kerdja sebagaimana didjelaskan dalam Nata Keuangan tersebut; ,,dengan melaksanakannja per-usahaan-perusahaan negara". Untuk maksud tersebut perlu ada latihan dan pendidikan jang luas. Meskipun ini tidak ditudjukan kepada orang-orang terpendjara, tetapi alangkah baiknja djika hal tersebut djuga di-gunakan dalam mempersiapkan orang-orang ter-pendjara mendjadi anggota-anggota masjarakat jang berguna.
Oleh karenanja, saja kira Pemerintah tidak me-naruh keberatan, untuk memiiertimbangkan bagai-mana mengembangkan perusahaan-perusahaan
da-•
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
•
4020
Rapat 158. Rantjangan Anggaran Negara tahun 1959 (Sid. 1958, P. 350).(Nj. Sundari Abdulrahman.)
lam pendjara-pendjara jang tersebar diseluruh kepu-lauan kita, sehingga pendjara-pendjara kita tidak lagi memberikan pemandangan jang menjedihkan, dima-na orang penghuninja karedima-na kurangnja tata-sibuk duduk melamun, suatu kesempatan untuk tumbuhnja penjakit-penjakit jang membahajakan kesehatan otak. Atau sebaliknja inert!ka Jang keluar dari pen-djara mendjadi lebih mahir dalam teori mentjuri-nja. Maka alangkah baiknja djika pendjara-pendjara kita bisa merupakan tempat latihan kerdja berbentuk perusahaan. Dengan djalan begini maka akan
lam pendjara-pendjara jang tersebar diseluruh kepu-lauan kita, sehingga pendjara-pendjara kita tidak lagi memberikan pemandangan jang menjedihkan, dima-na orang penghuninja karedima-na kurangnja tata-sibuk duduk melamun, suatu kesempatan untuk tumbuhnja penjakit-penjakit jang membahajakan kesehatan otak. Atau sebaliknja inert!ka Jang keluar dari pen-djara mendjadi lebih mahir dalam teori mentjuri-nja. Maka alangkah baiknja djika pendjara-pendjara kita bisa merupakan tempat latihan kerdja berbentuk perusahaan. Dengan djalan begini maka akan