KETUA RAPAT :
Terima kasih pak Sukardi Harun, yang telah menyempurnakan pertanyaan-pertanyaan yang ada, namun kalau kita mau ikut jadi satu kebulatan, tampaknya betul saran pak Lapoe tadi kita waktu untuk minta team workssebentarkoordinasi antar Komisi VII supaya lebih licin dan lapang.
Oleh karena itu kami mohon pak menteri untuk minta waktu I 0 men it untuk memberikan kesempatan rekan mengkoordinasikan, nampaknya titik terang sudah ada, dengan demikian kita sepakati diskor selama I 0 men it.
RAPAT DISCOR PUKUL 17.05 SCOR DICABUT PUKUL 18.30 KETUA RAPAT :
Bapak Mentri dan rekan-rekan seperti yang telah kita sepakati tadi bahwa pukul 18,30 waktu kita skors, untuk itu skors saya cabut kembali.
Rekan -rekan anggota Komisi VII Bapak Menteri besertajajaran yang saya hormati, basil sementara dari Jobi Komisi VII DPR-RI mungkin perlu disampaikan dan didengarkan bersarna, hal ini sudah ditunggu - tunggu oleh jajaran Pemerintah.
Untuk mempersingkat acara mari kita dengarkan bersama. Saya kira dari Komisi VII dipersilahkan untuk menyampaikan pendapatnya, silahkan pakAhmad SanusL
ANGGOTA F. REFORMASl(DR. H.A.SANUSI TAMBUNAN )
66
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
Terima kasih pak ketua. Barangkali suatu illustrasi yang perlu kami sampaikan dalam rangka keinginan DPR untuk tetap eksisnya poin 3 ini, barangkali redaksionalnya tidak menapis jadi didalam perjalanan IPTEK di Indonesia itu kelihatannya sebenarnya dibidang Kedokteran ada hal - hal yang diharapkan memiliki koordinasi yang kuat untuk pemakaian teknologi kedokteran dalam diskusi kita tadi bahwa ada kesepakatan yang menjadi tumpuan utama agar seluruh alat teknologi yang masuk yang akan dipakai.
pokter haruslah aman, menyamankan, melindungi masyarakat itu yang diharapkan sebenarnya, bagaimna caranya supaya semua alat aman .
Dalam perjalanan yang saya katakan tadi, pernah, ada kejadian di Indonesia suatu departemen, Depkes sendiri, seorang dirjen membolehkan teknologi ozon yang tanpa ada penelitil!n yang baik, dipakai dan temyata banyak pasien yang tidak mendapat keuntungan yang maksimal dari itu.
Belakangan dirjen tersebut men-stop alat ini tidak boleh dipakai, teknologi ini tidak boleh dipakai. Dari titik tolak inilah kawan - kawan dapatmelihat bahwa memang bagaimana caranya kita memberi suatu wewenang kepada konsil agar konsiljuga bisa mengatur alat- a lat apa sajayang boleh dipakai dokter demi kesehatan, keselamatan masyarakat itu lntinya yang akan kita atur disini, bahwa dalam proses penapisan, teknologi kedokteran semata, teknologi yang lain ticlak menjadi masa~ah kami, itu yang memproses masuknya alat dan sebagainya tidak dalam konsil, tapi begitu alat itu akan diterapkan oleh semua jajaran dokter dan dokter gigi harus melalui persetujuan dari konsil ini.
Sedangkan prosesnya bisa digambarkan. Ada alat yang mungkin oleh suatu penapisan sistem yang diluar kita, apa itu pemerintah atau tidak kelompok ini dengan perantaraan komite yang ada di dalam konsil di undang kedalam konsil dan dipaparkan maka nanti didalam proses ini dilihat dari sudut pandang agama, kesosialan, dsb. Didalam konsil itu menilai ini pantas dipakai maka oleh konsil disahkanlah alat itu untuk dipakai dokter dan selamat serta aman dipakai oleh masyarakat.
Intinya konsil ini betul - betul untuk menjaga mutu dokter agar masyarakat aman, nyaman dan dilindllngi UU daiam mtitllriya,jadi iiltiiiya hampir saiiia dengan tentang standar pendidikan jadi kami menginginkan bahwa konsil diberi 67
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
wewenang mengesahkan semua alat I teknik teknologi kedokteran yang layak dipakai dokter, dokter gigi demi keselamatan masyarakat pengguna layanan itu.
Itu intinya yang bisa saya sampaikan. Mungkin ada tambahan dari rekan-rekan saya persilahkan.
KETUA RAPAT : Terima kasih pak Sanusi.
Saya kira apa yang disampaikan oleh pak Sanusi sudah cukup jelas, apakah ada yang akan menambahkan, kalau tidak ada untuk mernpersingkat waktu kami persilahkan kepada bapak menteri atau jajaran pemererintah untuk mengomentari atau bahkan memberikan penjelasan lebi,h Ian jut tentang rizening- rizening lebih lanjut.
Silahkan bapak Menteri.
MENTERI KIESEHATAN (dr, ACHMAD SUJUDI):
Terima kasih bapak ketua.
Tentang penapisan IPTEK ini sekali lagi kami akan mengacu kepada penapisan yang dilakukan oleh lembaga - lembaga yang memang bidang IPTEK juga orang yang memang membidangi organisasi masalah-masalah IPTEK tersebut dan mereka-mereka yang memang berada dalam bidang IPTEK tersebut. Karena itu kembali pada konsep awal yaitu adanya suatu komite yang telah kami sampaikan dan bacakan seperti pada halaman 16.
dimana komite IPTEK Kedokteran ini benar - benar mandiri kemudian tentunyajuga bertanggungjawab kepada Pemerintah yangjuga mempunyai tanggung jawab terhadap peiaksanaan berbagai hal termasuk praktek kedokteran.
68
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
Sedangkan bardasarkan suatu peraturan perundang-'undangan yang ada, mengenai alat - alat kesehatan sudah diatur dalam UU no 23 tahun 11992 tentang kesehatan dan sudah ditindak lanj uti dalam PP no. 72 tahun 11998.
dimana alat kesehatan sebelum beredar harus memiliki suatu izin edar terlebih dahulu dan melalui uji-uji safety, quality, dari efikasl, saya kira demikian menurut pernndangan dan peraturan yang berlaku. Sedangkan apabila kembali ini harus disahkan terlebih dahulu oleh konsil maka akan terjadi benturan dengan peraturan dan perundangan yang ada. Namun demikian tentunya dapat dieari jalan keluar, dimanakah konsil ini berperan dalam penapisan IPTEK kedokteran ini. Padaprihsipnya demikian pak ketua,jadi kami menjaga betul agar apa-apa yang sudah di atur dalam UU dan peraturan tidak berbenturan dengan UU yang sedang kita buat ini.
Demikian yang bisa saya sampaikan. Kemudian bpk. Abdul gani dapat akan menambahkan dari segi UU.
AHLI HUKUM (Prof. ABDUL GANI):
Terima kasih bapak Menteri. Bapak - bapak ari.ggota komisi VII DPR yang saya hormati. Hal ini disebutjuga dalamUU kesehatan kemudian apabila dalam ha! pengawasan peraletar, apakah perlu secara eksplisit hat yang secara teknis diatur dalam UU ini. Penyaringannya bisa dilakukan melalui komite penapisan ilmu pengetahuan teknologi tadi atau IPTEK kedokteran,jadi tidak terjadi duplikasi disini, sebab penapisan dilihat dari batang tubuh UU ini keatasnya itu merupakan pe1ijabaran elaboras ~arii tugas ini, terus keatas jadi bicara soal lembaga konsil. Kalau bicara demikian berarti UU ini hanya membentuk konsil tugasnya kewenangan, kemudian penjabaran lebih lanjut.
Jadi dilihat dari konstruksi batang tubuh UU ini semcam UU KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi ), konstruksinya hampir sama atau UU tentang pengadilan HAM Ad~Hoc isinya pasal mengenai kejahatan HAM berat kemudian bentuk p~mgadilan. Kalau dirinci
seperti itu,jadi
seakan-akan UU ·in i, UU ten tang konsi I praktek69
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
Kedokteran, bisa dikatakan begitu, kalau dari segi kami yang membuat UU ada lembaga yang dibuat seperti ini, tapi kalau tidak di rinci langsung masalah teknis itu bisa dibaurkan kalau dalam istilahnya bukanlah penyelundupan hukum dalam istilahnya itu tapi ada penghalusan istilah - istilah sehingga tidak kelihatan bahwa UU ini membentuk sengaja UU tentang konsil praktik Kedokteran seakail - akan begitu tapi kita mau bersembunyi dibalik istifah praktik Kedokteran HAM, maka kalau bisa tidak terinci. Nanti kan kita belum masuk kedalam pengadilan disiplin. Belum lagi kita masuk disitu lantas UU ini mau dikemanakan? Jadi kalau menurut sayadari segi Perundang-undangannya ini memasukkan hat yang sangat tekhnis, padahal dengan melakukan registrasi dan menetapkan, mengesahkan standar itu kan implikasi yuridisial luas. Jadi suatu standar pendidikan tinggi kedokteran tidak akan mempunyai legalitas hukum apabilatidak melalui apropal dari sini,jadi apropal dia sangat menentukan status hokum, berarti kalau dalam istilahnya pengesahan dari ini tidak dilakukan maka itu namanya mahfum khalafah itu dilarang tidak sah,jadi penggunaan alat itujadinya ilegal. kalau kitaambil inijadi pengertian yuridis pak,jadi mahfum mukhalafahnya seperti itu.
Nah kalau dipakai juga bisa dituntut melanggar hukum. Dia telah melanggar ketentuan pasal ini, tentang ini menggunakan alat yang ilegal. Kalau _dia melakukan itu dan ada kesalahan dalam praktik Kedokteran, dia melakukan dua-kali tittdakpidana karena itu-maka didafam pasal 7 mungkih belilm ada ketentuan-ketentuan pidana, kalau kalau terjadi ada seorailg dokter gigi yang waktu melakukan praktik Kedokteran gigi dia gunakan tang biasa, untuk membantu alat Kedokteran yangtidak bisa dilakukan dengan tangan, harus dengan tang maka ada tang besi yang digunakan untuk membantu alat pencabutan gigi bukannya begitu, padahal tang itu tidak direkomendasikan/
disahkan oleh konsil menjadi alat ini, kan begitu. Wah kalau sudah masuk sudah menjurus kepada soal yangpembentukan satu institusi saja. Jadi kalau Pak Anggota komisi yang terhormat, kalau memang diinginkan begitu, lebih baik diperhalus istilahnya, atau dimasukkan kepasal-pasal yang lain, barangkali bapak-bapak ada pengalaman yang sangat bagus didalam Undang-undang . Pendidikan Nasional. Undang undang Pendidikan Nasional itu tiap bab atau tiap pasal ada PP nya, tapi itu keliru juga kalau saya mengatakan kepada 70
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
Dirjen Dikti atau kemana begitu, ini UU kurang percaya diri saya bilang, apa-apa diatur PP, apa-apa-apa-apa diatur PP, tidak mau mengatur sendiri,jadi itu kurang baik j uga, Departemen
Kehakiman sekarang mengembangkan sistem mengurangi delegasi kepada PP untuk UU kecuali terpaksa dilakukan, kalau terpaksa dilakukan maka istilahnya bukan pakai dengan tapi diatur lebih lanjut dalam PP jadi satu UU ada satu PP untuk melaksanakan secara efektif UU ini.
Jadi kemungkinan UU ini kalau menurut prediksi saya pak, perlu ada PP sebagai peraturan pelaksanaan. Jadi kalau tidak ada PP itu, UU nya tidak berjalan, kelihatan seperti itu. Karena banyak sekali, apa namanya larinya keatas institusi yang dibikin, karena ada institusi konsil, institusi pengadilan, pengadilan praktek disiplin, pengadilan praktek Kedokteran sudah itu ada komite dan banyak sekali, ini perlu PP yang merumuskan lebih lanjut sehingga UU nya sangat simpel nantinya kalau menurut prediksi saya, karena itu, hal-hal seperti itu kalau boleh kami mengusul mari kita atur dalam PP tapi diselipkan pada pasal-pasal yang lain saya kira yang penting adalah penjabaran satu, dua ini. Penjabaran satu ,dua rumusan diatas sudah ada, itu kita elabor:asi lebih lanjut, tapi kalau bicara tehnis seperti diterangkan oleh pak ketua yang terhonnat tadi itu masuk pada hal yang sangat tehnis, nah kalau ada keinginan seperti itu yang disampaikan oleh bapak, itu berikan saja kepada PP. Toh PP itu dilaksanakanjuga oleh konsil bukan oleh Pemerintah saja, tapijuga oleh konsiljuga, itujalan keluar untuk menghadapi hal seperti itu. Pengalaman tentang UU pendidikan Nasional itu bagus sekali, itu bisa ditiru dalam UU pendidikan Nasional. Saya kira itu pertambahan dari saya pak rnenteri. Terima kasih.
MENTERI KESEHATAN (dr. ACHMAD SUJUDI):
Terima kasih sdr. Abdul Gani saya kira kalau kita lihat saat sekarang memang masih ada yang belum sempurna dimana komite IPTEK tersebur belum sempurna betul, karena itu kami usulkan komite IPTEK seperti dalam 71
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
halaman 16, namun komite IPTEK ini yang kalau tanya seperti yang saya sebutkan tadi, bertanggung jawab kepada Pemerintah karena alat-alat Kedokteran yang ada sama dengan obat-obat,juga ijin edar diberikan oleh Pemerintah. tidak rancu nanti apabila ada lembaga lain yangjuga mengatur hal itu obat-obatan alat kedokteranjuga demikian, melalui suatu uji coba dan ijin edar sedagkan penapisan teknologi secara umum dilakukan oleh komite tersebut apabila sudah lolos maka diserahkan pembuatannya kepada suatu manufaktur kalau toh sudah lolos uji tekhnik, uj i IPTEK maka harus ada ij in edardari Pemerintahjadi yang memberikan ijin edardari obat-obatan ataupun alat -alat kedokteran.
Dalam teknis pelaksanaan di masyarakat demikian, jadi akan rancu apabila alat kedokteran seperti halnya obat. ljin edarnya berada di konsil.
Mohon maaf ini sangat mendasar Bapak Ketua, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih pak Menteri, yang setelah mendengarkan penjelasan dari komisi VII kemudian dari pihak Pemerintah nampak-nampaknya belum ada mik temu, tapi baiklah sebelum, kita membaca tata tertib saya beri kesempatan lagi satu kali untuk. komisi VII menyampaikan pendapatnya, kami persilahkan.
ANGGOTA F. REFORMASI ( DR. A. SANUSI TAMBUNAN ) : Jadi sebetulnya Bapak Ketua barangkali masih ada salah pengertian, tentunya yang kita inginkan adalah alat teknologi yang akan dipakai dokter, saya ingin klarifikasi kepada Pemerintah. Satu contoh ilustrasi yang saya sampaikan tadi, Dirjen POM mengijinkan alat ozon di Indonesia, tapi Dirjen Yanmed melarang pemakaian itu, itu tanpa komite, ini yang ingin kamijaga supaya dari awal sernua dokter dalam pemakaian alat dalam riset penelitian itu ikut diawasi, ini pantas, inijangan dulu, ini boleh, ini dari golongan agama, tidak, ini terbatas, hanya untukyang dipakai dokter, ini menjaga keselamatan 72
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
masyarakat bahwa pemerintah yang menseleksi itu, yang memutuskan alat itu di import dan sebagainya, silahkan, tapi begitu mau dipakai para dokter kami tahu dulu, dipaparkan dulu oleh badan itu, atau oleh komite itu, paparkan dulu didalam konsil, ini lob gambarannya alat yang kami import, yang akan kami ijinkan di Indonesia untuk teknologi kedokteran begitu dinilai oleh kelompok ini, oh .. ini pantas, ini boleh, ini sebaiknyajangan dipakai dokter.
Nab .. sebatas itu saja wewenangyang dipuny~i oleh konsil ini, dia tidak permasalahkan bahwa Pemerintah mau memasukan import ini, mau alat ini dan sebagainya, tapi khusus untuk menjaga masyarakat, berilah wewenang konsil ini untuk memilih, ini layak ini tidak layak, karena mereka menjaga supaya tetap dokter itu dalam mutu yang baik, dan masyarakat aman, barangkali bisa diutamakan yang lain.
Silahkan pak Tibrani.
ANGGOTA F. REFORMASI ( H. TffiRANI BASRI ) :
Saya yakin kita yang hadir didalam ruangan ini menginginkan semua, mudah-mudahan iniselesaikarenamemangditungguoleh masyarakat, saya ingin meminjam istilah pak Prof. Gani bahwa didalam ruangan ini ada tukang jahit, prof Gani kalau tadi malam mengistilahkan dirinya sebagai tukangjahit, nab tukangjahit ini kan sudah tahu kondisi apa yang dikehendaki oleh Depkes, apa yang kami kehtmdaki. Barangkali bapak bisa mempertemukan pak, jadi apakah ini mau diskors atau diapakan tapi setelah pak Sanusi menjelaskan apa yang sebenarnya kita kehendaki, artinya bukan semua, bukan menyangkut teknologi semua yang kita kehendaki, ada hal hal tertentu, ada penekanan -penekanan dalam hal ini saya inginbapak memberikan komentar, bagaimana jalan keluamya, saya yakin ini masih ada jalan keluar pak.
KETUA RAPAT:
73
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
Barangkali adayang mau menarnbah, silahkan pak Lapoe.
ANGGOTA F.PG ( DR. LAPOE MOEKOE ) :
Jadi cara berpikir kami tadi ialah oleh karena pertama tadi dijelaskan kepada kami bahwa sebenarnya belum ada komite itu yang ada itu baru secara umum, tapi khusus untuk menapis teknologi "Kedokteran itu belum ada, itu yang pertama. Padahal kami merasa itu penting sekali, itu yang pertama. Yang kedua bahwa untuk membentuk satu komite yang otonom, mandiri didalam UU ini menurut pak Tabrani tadi tidak bisa, oleh karena itu kemungkinannya hanya ada dua kita serahkan sama sekali pada Pemerintah untuk mengatur itu, atau konsil juga ikut mengati.Ir seperti yang diusulkan oleh pak Sanusi tadi. ltu yang ada dalam pikiran kami pak, sebab kawan-kawan semua mengatakan bahwa ini penting sekali untuk ada satu badan yang bisa memilah itu, kedokteran mana yang aman kita pakai dalam praktik untuk melindungi rakyat, itu saja yang kami inginkan pak ketua.
WAKIL KETUA :
Saya in.gin mempertanyakan apa keberatnnya kalau komite penapisan IPTEK ini, atau pengesahan IPTEK untuk dipakai dokter itu merupakan bagian dari konsil kedokteran,jadi konsil kedokterail ada komite registrasi, ada komite Pendidikan, ada komite riset katakanlah yang nanti memberikan rekomendasi kepada dokter dalam pembinaannya, ini bisa digimakan, ini tidak. Persoalan ini mengedar ke pak Menteri, tadi ya .. urusan pemerintahlah, tapi konsil kedokteran bertanggung jawab didalam pembinaan dokternya termasuk pendidikan dan riset yang berkembang, teknologi yang bisa diapakai didalam praktik sehingga tidak merugikan pasien, atau keberatannya. Sehingga harus dibentuk mandiri-mandiri.
Pemerintah mengatakan komite pelaksanaan komisi IPTEK yang mandiri, katakanlah dibawah Depkes atau dibawah siapa nanti, apakah Depkes atau 74
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
Depdiknas apa Menristek, itu nanti bertengkar lagi Pemerintah, nah itu maksudnya.
Didalam konsil kedokteran ada dua komite, apa mungkin penapisan IPTEK. Mungkin terlalu hebat, komite yang memberikan rekomendasi untuk . pembinaan dokter, teknologi mana yang tidak merugikan pasien begitu, apa keberatannya kalau masuk kedalam konsul kedokteran itu. Apa karena ia takut dilembaga independen, sehinga tidak dapat dikontrol Pemerintah atau tidak, karena pembinaan doktertidak terpisah. Untuk syarat pendidikannyakan bekerjasama,samaAsosiasi Fakultas Kedokteran Indonesia, Organisasi profesi ini juga nanti bekerja sama, sama lembaga-lembaga Riset yang sudah ada.
Lembaga Eykman lembaga apa dari universitas misalnya, riset-riset dari universitas teknologi yang mau masuk, yang mau diterapkan oleh dokter-dokter di Indonesia, keberatan apa sehingga susah dimasukkan ke konsul kedokteran, apalagi Majelis Disiplinjuga mau dipisahkan lagi,jadi apa lagi konsil ini mau didirikan, samajuga macan ompong kata temanteman terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baiklah nampaknya masih mengulang keinbali pada posisi semula, masih bersikukuh antara Pemerintah dengan Komisi VII, dengan resceningnya masing-masing.
Baiklah sebelum saya bacakan tata tertibnya bafangkali setengah putaran lagi saya serahkan dulu pada Pemerintah barangkali ada penjelasan,
Silahkan.
MENTERI KESEHATAN (dr. ACHMAD SUJUDI}:
75
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
Bapak Ketua, · pada dasamya sebagiari sama, kita menginginkan satu keselamatan dan suatu pertolongan yang optimal bagi masyarakat melalui sebuah kemajuan teknologi, karenakemajuan teknologi begitu cepat tentu harus ada penapisan, sehingga sesuai dengan keadaan kita, karena itu ada penapisan. Penapisan dilakukan oleh mereka-mereka yang memang paham tentang teknologi, itu komite.
Tentu keadaan yang ada di Indonesia saat ini masih belum sempuma sehingga terjadi hal - hal yang tadi yang disebutkan oleh bapak Sanusi Tambunan, oleh karena itu kita tidak menginginkan keadaan yang rancu tersebut maka dibentuk suatu komite penapisan IPTEK kedokteran, kornite ini yang betul - betul memahami tentang IPTEK, apakah suatu teknologi kedokteran itu diloloskan atau tidak, teknologinya. IPTEK inilah, komite inilah yang sangat penting berpendapat tentang teknologi dan penapisannya dalam arti yang luas. Kemudian dimana peran konsil dalam hat ini, apa konsil harus mengesahkan atau harus melalui suatu pengesahan konsil dari suatu pekerjaan penapisan yang dilakukan oleh komite. Kalau dikatakan apa ketakutan kami, adalah ketakutan independensidari komite ini walaupun konsil juga independen tetapi independen juga dalam arti kata keanggotaan konsil itu, nah apabila demikian maka semua hal tergantung pada bapak-bapak dan ibu-ibu anggota konsil yangjumlahnya 25 atau beram1p_un walaupunrnerupakan wakil-wakil dari semua yang ada tetapi pada suatu saat menentukan segalanya, termasuk menentukan · lolos atau tidaknya penapisan yang dilakukan oleh komite. Karena itu seperti awal kami sampaikan tadi, apabila konsil inginjuga berperan maka konsil mengkoordinasikan penapisan - penapisan tersebut, Pak Prof. Abdul Gani, silahkan dari segi hukum.
AHLI HUKUM (Prof. ABDUL GANI ) :
Terima kasih Pak Menteri. Anggota Komisi VII yang saya hormati saya kira ada satu po in yang perlu kita samakan persepsinya; kalau kemauan sama, cuma mungkin saya kira persepsi kita belum sama. Saya pikir ada bapak-bapak yang ikut membahas dalam RUU Kementrian yang sangat strategis,
BIDANG ARSIP DAN MUSEUM
antara lain tentang kesehatan, sudah tentu pembentukkan ini dalam kaitan dengan bagaimana mewujudkan program kerja atau visi dan misi dari presiden terpilih sesuai GBHNnya, diajual GBHN nya dalam kampanye. Nah ketika terpilih dia harus bentuk kementrian untuk kabinet untuk mewujudkan itu, nah ketika terbentuk kabinet ini antara 20 sampai 27 Oktober, karena 20 Oktober, acara pelantikan presiden. Begitu kabinet dibentuk, ini Konsil sudah ada katakanlah begitu, pertanyannya, ini konsil anggota kabinet atau bukan itu. Sudah itu kalau Bank Indonesia itu adalah state institusi-institusi negara yang mandiri, independen, dan sebagainya kalau tidak salah saya tidak disebut bertanggung jawab kepada presiden. Nah institusi ini yang diatur disini bertanggung jawab kepada presdien sebagai kepala negara, kalau ini masalahnya berarti dia itu komponen Presdien terpilih. Ketika presiden terpilih UU sudah lahir. Inilah konsil presiden, konsil untuk mendampingi Menteri kesehatan atau apa namanya kan belumjelas hubungan kerja Konsil dengan Menteri Kesehatan dengan Menteri IPTEK dengan Menteri Diknas kan belum jelas disini. Nah karena ada tiga institusi ini yang harus berkait dengan konsil,
antara lain tentang kesehatan, sudah tentu pembentukkan ini dalam kaitan dengan bagaimana mewujudkan program kerja atau visi dan misi dari presiden terpilih sesuai GBHNnya, diajual GBHN nya dalam kampanye. Nah ketika terpilih dia harus bentuk kementrian untuk kabinet untuk mewujudkan itu, nah ketika terbentuk kabinet ini antara 20 sampai 27 Oktober, karena 20 Oktober, acara pelantikan presiden. Begitu kabinet dibentuk, ini Konsil sudah ada katakanlah begitu, pertanyannya, ini konsil anggota kabinet atau bukan itu. Sudah itu kalau Bank Indonesia itu adalah state institusi-institusi negara yang mandiri, independen, dan sebagainya kalau tidak salah saya tidak disebut bertanggung jawab kepada presiden. Nah institusi ini yang diatur disini bertanggung jawab kepada presdien sebagai kepala negara, kalau ini masalahnya berarti dia itu komponen Presdien terpilih. Ketika presiden terpilih UU sudah lahir. Inilah konsil presiden, konsil untuk mendampingi Menteri kesehatan atau apa namanya kan belumjelas hubungan kerja Konsil dengan Menteri Kesehatan dengan Menteri IPTEK dengan Menteri Diknas kan belum jelas disini. Nah karena ada tiga institusi ini yang harus berkait dengan konsil,