• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidang-Bidang Yang Sering/Merupakan Sumber

Bab VIII Peradilan Tata Usaha Negara

F. Bidang-Bidang Yang Sering/Merupakan Sumber

1. Perijinan (dispensasi, izin, lisensi, konsesi);

2. Administrasi kepegawaian negeri (kenaikan pangkat, ganti rugi jabatan, perlakuan tidak adil);

3. Administrasi keuangan negara (kekeliruan pembukuan, kekeliruan hitung, kekeliruan pertanggungjawaban);

4. Administrasi perumahan dan pergedungan (status rumah, status gedung, sewa, tanggung jawab perawatan dan sebagainya); 5. Perpajakan (penetapan jumlah, tata cara penagihan); 6. Perbeacukaian (penetapan kriteria, tata cara penagihan). 7. Agraria (pengambilan tanah untuk pelebaran jalan, sewa rumah); 8. Perfilman (Lembaga Sensor Film, perizinan impor film); 9. Pemeriksaan bahan makanan dan mutu barang dagangan; 10.Keselamatan perusahaan dan keselamatan kerja, pemeriksaan

instrumen-instrumen;

11. Jaminan sosial, tunjangan cacat, fakir miskin;

13.Kebersihan kota, tata cara penanggulangan sampah; 14.Organisasi dan pengaturan lalu lintas darat, air dan udara; 15.Keamanan dan ketertiban kota, keindahan kota;

16.Pertanian, perhewanan, peternakan, perikanan, perhutanan; 17.Pengamanan dan perawatan jalan, jembatan dan pelabuhan; 18.Organisasi dan pengamanan toko-toko, pasar-pasar umum; 19.Organisasi dan pengamanan rumah-rumah penginapan; 20.Kesehatan rakyat, rumah sakit, klinik-klinik, pertarifan dan

organisasinya;

21.Pelayanan yang dilakukan oleh BUMN seperti: pos, telepon, listrik, air;

22.Masalah perbankan;

23.Masalah-masalah yang berkaitan dengan proses peradilan; 24.Masalah hak asasi dalam arti luas;

25.Masalah-masalah yang baru sesuai perkembangan zaman (dalam hal ini ekses perkembangan ilmu dan teknologi, seperti penyadapan informasi dan kejahatan komputer).

G. Asas-asas Umum Pemerintahan Yang Baik

Menurut Sistem Pemerintahan Negara yang terdapat dalam Penjelasan UUD 1945 (sebelum diamandemen), Indonesia adalah Negara Hukum. Sesuai dengan asas negara hukum maka tiap-tiap tindakan penyelenggaraan administrasi negara harus berlandaskan pada hukum. Di samping itu pemerintahan pun harus melindungi dan menjamin hak warga negaranya sesuai dengan hukum.

Dengan adanya wewenang bagi para pelaksana administrasi negara dalam melaksanakan tugas-tugas, maka terjadi kemungkinan dalam pelaksanaan administrasi negara tersebut, pejabat administrasi negara melaksanakan perbuatan yang menyimpang dari peraturan yang berlaku, sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat.

Untuk menciptakan aparatur yang bersih, efisien, efektif, berwibawa dan mampu melaksanakan seluruh tugas umum pemerintahan dan pembangunan dengan sebaik-baiknya dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian pada negara dan bangsa, maka perlu adanya asas-asas umum pemerintahan yang baik (Algemene beginselen

van behoorlijke bestuur General principles of good administration).

Istilah Asas-asas umum pemerintahan yang baik pertama kali diperkenalkan oleh Panitia De Monchy di Negeri Belanda (1950) yang bertujuan sebagai sarana untuk menguji segi “rechtmatigheid” penggunaan kekuasaan bebas serta bertujuan memberikan perlindungan hukum yang lebih baik kepada warga negara dari tindakan penguasa.

Apa saja yang termasuk unsur-unsur atau asas-asas umum pemerintahan yang baik (behoorlijkheid), G.J Wiarda mengusulkan lima asas-asas umum pemerintahan yang baik, yaitu :

1. Asas “fair play” (het beginsel van fair play); 2. Asas kecermatan (zorgvuldigheid);

3. Asas sasaran yang tepat (zuverheid van oogmerk); 4. Asas keseimbangan (ovenwichtigheid);

5. Asas kepastian hukum (rechtszekerheid)35).

Sedangkan dalam yurisprudensi AROB (Peradilan Administrasi Belanda) menyebutkan bahwa asas-asas umum pemerintahan yang baik meliputi :

1. Asas pertimbangan (motiveringsbeginsel); 2. Asas kecermatan (zorgvuldigheidsbeginsel); 3. Asas kepastian hukum (rechtszekerheidsbeginsel);

4. Asas kepercayaan atau asas menanggapi harapan yang telah ditimbulkan (vertrouwensbeginsel of beginsel van opgewekte

verwachtingen);

5. Asas persamaan (gelijkheidsbeginsel);

6. Asas keseimbangan (ovenwichtigheidsbeginsel); 7. Asas kewenangan (behoegheidsbeginsel); 8. Asas fair play (beginsel van fair play);

9. Larangan “detournement de pouvoir” (het verbod detorne-

ment de pouvoir);

10.Larangan bertindak sewenang-wenang (het verbod van

willekeur)36).

Sedangkan di Indonesia asas-asas umum pemerintahan yang baik sebagaimana dikemukakan Prof. Kuntjoro Purbopranoto adalah sebagai berikut:

1. Asas kepastian hukum (principle of legal security); 2. Asas keseimbangan (principle of proportionality);

3. Asas kesamaan (dalam mengambil keputusan pangreh/ principle

of equality);

4. Asas bertindak cermat (principle of carefulness);

5. Asas motivasi untuk setiap keputusan pangreh (principle of

motivation);

6. Asas jangan mencampuradukkan kewenangan (principle of non

misuse of competence);

7. Asas permainan yang layak (principle of fair play);

8. Asas keadilan atau kewajaran (principle of reasonableness

or prohibition of arbitrariness);

9. Asas menanggapi pengharapan yang wajar (principle of

meeting raised expectation);

10. Asas meniadakan akibat-akibat suatu keputusan yang batal

(principle of undoing the qonsequences of annulled decison);

11. Asas perlindungan atas pandangan hidup (cara hidup) pribadi

(principle of protecting the personal way of life);

12. Asas kebijaksanaan (sapientia);

13. Asas penyelenggraan kepentingan umum (principle of public

service).

Dalam kesempatan ini akan diuraikan apa yang dimaksud dari asas- asas umum pemerintahan yang baik sebagaimana yang dikemukakan oleh Kuntjoro Purbopranoto.

1. Asas kepastian hukum (principle of legal security) Asas ini menghendaki dihormatinya hak yang telah diperoleh seseorang berdasarkan suatu keputusan Badan atau Pejabat Administrasi Negara. Asas ini juga menghendaki adanya stabilitas hukum, dalam arti suatu keputusan yang telah dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Administrasi Negara harus berisi kepastian dan tidak akan dicabut kembali.

35) Paulus Effendi Lotulung, Himpunan Makalah Azas-azas Umum Pemerintahan Yang

Baik, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1994, 106

2. Asas keseimbangan (principle of proportionality)

Asas keseimbangan ini menghendaki adanya keseimbangan yang wajar dalam menjatuhkan hukuman bagi pegawai yang melaku- kan kesalahan. Hal ini berarti bahwa hukuman yang dijatuhkan kepada pegawai yang berbuat salah hendaknya seimbang dengan kesalahannya.

3. Asas kesamaan (dalam mengambil keputusan pangreh/

principle of equality)

Asas ini menghendaki bahwa dalam menghadapi kasus (fakta) yang sama, Badan atau Pejabat Administrasi Negara harus dapat mengambil tindakan yang sama pula.

4. Asas bertindak cermat (principle of carefulness)

Asas ini menghendaki agar Badan atau Pejabat Administrasi Negara senantiasa bertindak secara hati-hati, agar tidak menimbulkan kerugian bagi warga masyarakat.

5. Asas motivasi untuk setiap keputusan pangreh (principle

of motivation)

Asas ini menghendaki bahwa Badan atau Pejabat Administrasi Negara dalam mengeluarkan keputusan harus berdasarkan atas alasan yang jelas, benar dan adil. Dengan motivasi yang jelas tersebut, warga masyarakat tersebut yang tidak menerimanya dapat mengajukan kontrol argumen yang tepat untuk naik banding guna memperoleh keadilan.

6. Asas jangan mencampuradukan kewenangan (principle of

non misuse of competence)

Asas ini menghendaki agar dalam melaksanakan tugasnya badan atau Pejabat Administrasi Negara tidak mencampuradukkan kewenangan yang ada padanya. Kewenangan yang diberikan harus dipergunakan sesuai dengan maksud diberikannya kewenangan tersebut.

Sering juga asas tersebut dinamakan penyalahgunaan wewenang

(detournement de pouvoir).

7. Asas permainan yang layak (principle of fair play)

Asas ini menghendaki bahwa Badan atau Pejabat Administrasi Negara hendaknya memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada warga masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar dan adil sehingga dapat pula memperoleh kesempatan yang luas untuk menuntut kebenaran dan keadilan. Asas ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada warga masyarakat menanggapi sesuatu keterangan yang tidak benar yang diberikan oleh Badan atau Pejabat Administrasi Negara. Karena itu adanya instansi banding merupakan hal yang penting bagi asas ini.

8. Asas keadilan atau kewajaran (principle of reasona bleness

or prohibition of arbitrariness)

Asas ini menghendaki agar dalam melakukan kegiatannya Badan atau Pejabat Administrasi Negara berlaku adil, tidak sewenang- wenang dan layak. Jika Pejabat Administrasi Negara melakukan hal-hal yang bertentangan dengan asas tersebut, maka keputusannya yang berkaitan dengan tindakannya dapat dibatalkan.

9) Asas menanggapi pengharapan yang wajar (principle of

Asas ini menghendaki agar sikap tindakan yang dilakukan oleh Badan atau Pejabat Administrasi Negara harus menimbulkan harapan-harapan bagi yang berkepentingan atau warga masyarakat.

10. Asas meniadakan akibat-akibat suatu keputusan yang batal

(principle of undoing the qonsequences of annulled decision)

Asas ini menghendaki agar jika terjadi pembatalan atau suatu keputusan, maka akibat dari keputusan yang dibatalkan tersebut harus dihilangkan sehingga pihak yang terkena putusan tersebut harus diberikan ganti rugi atau rehabilitasi.

11. Asas perlindungan atas pandangan hidup (cara hidup) pribadi (principle of protecting the personal way of life) Asas ini menghendaki agar pemerintah menghormati pandangan hidup seseorang. Khusus dalam penerapan asas ini di Indonesia, perlu adanya pembatasan terhadap asas tersebut disesuaikan dengan moral Pancasila dan Undang-Undang No. 8 Tahun 1974. Karena setiap tindakan pegawai negeri harus mencerminkan bahwa mereka adalah abdi negara dan abdi masyarakat.

12. Asas kebijaksanaan ( sapientia)

Asas ini menghendaki agar dalam melaksanakan tugasnya Badan atau Pejabat Administrasi Negara diberi kebebasan untuk melakukan kebijaksanaan tanpa harus selalu menunggu instruksi. Pemberian kebebasan ini berkaitan dengan perlunya tindakan positif dari pemerintah guna menyelenggarakan kepentingan umum. Dengan demikian di samping melaksanakan peraturan perundangan yang telah ada, pemerintah dapat melakukan

tindakan positif atau kebijaksanaan untuk menyelenggarakan kepentingan umum.

13) Asas penyelenggaraan kepentingan umum (principle of

public service)

Asas ini menghendaki agar dalam menyelenggarakan tugasnya Badan atau Pejabat Administrasi Negara, selalu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 Negara Indonesia adalah negara hukum yang dinamis yang menuntut semua aparat pemerintah melakukan kegiatan-kegiatan yang menuju penyeleng- garaan kepentingan umum. Oleh karena itu asas penyelenggaraan kepentingan umum ini menjadi asas pemerintahan yang baik. Sementara itu S.F Marbun dalam bukunya Peradilan Administrasi Negara dan Upaya Administratif di Indonesia, merinci asas-asas umum pemerintahan yang baik ke dalam 17 (tujuh belas) asas, yaitu:

a. Asas persamaan;

b. Asas keseimbangan, keserasian dan keselarasan;

c. Asas menghormati dan memberikan haknya setiap orang; d. Asas ganti rugi karena kesalahan;

e. Asas kecermatan; f. Asas kepastian hukum;

g. Asas kejujuran dan keterbukaan;

h. Asas larangan menyalahgunakan wewenang; i. Asas larangan sewenang-wenang;

k. Asas motivasi;

l. Asas kepantasan dan kewajaran; m. Asas pertanggung-jawaban; n. Asas kepekaan;

o. Asas penyelenggaraan kepentingan umum; p. Asas kebijaksanaan;

q. Asas itikad baik;

Lebih lanjut di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan nepotisme disebutkan bahwa asas-asas umum penyelenggaraan negara meliputi:

a. Asas Kepastian Hukum, yaitu asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang- undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara;

b. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara, yaitu asas yang menjadi landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan negara;

c. Asas Kepentingan Umum, yaitu asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif dan selektif;

d. Asas Keterbukaan, yaitu membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara;

e . Asas Proporsionalitas, yaitu asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban Penyelenggara Negara;

f. Asas Profesionalitas,yaitu asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan

g. Asas Akuntabilitas, yaitu asas yang menentukan setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan Penyelenggara Negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Akhirnya perlu dikemukakan bahwa asas-asas pemerintahan yang baik tersebut semula berasal dari pemikiran dan praktek di Negeri Belanda, di Indonesia aparatur negara dan aparatur pemerintah selaku abdi negara dan abdi masyarakat dalam melaksanakan tugas sehari-hari dituntut dapat melaksanakan asas-asas umum penyelenggaraan pemerintahan yang baik, karena dewasa ini aparatur negara dan pemerintah di dalam pelaksanaan tugas-tugas administrasi negara telah dibatasi oleh berbagai peraturan perundang-undangan yang mengarah kepada kepemerintahan baik atau good governance dan supremasi hukum.

H. Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Peradilan Tata Usaha Negara?

3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Keputusan TUN? 4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Sengketa TUN? 5. Sebutkan asas umum penyelenggaraan negara yang baik?

I. Rangkuman

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok- pokok Kekuasaan Kehakiman, sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999, Pasal 10 disebutkan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Peradilan di lingkungan : 1. Peradilan Umum;

2. Peradilan Agama; 3. Peradilan Militer;

4. Peradilan Tata Usaha Negara.

Namun setelah lebih kurang 15 tahun Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tersebut berjalan dari keempat jenis Peradilan tersebut di atas baru tiga jenis Peradilan yang sudah ada, yaitu Peradilan Umum, Peradilan Agama dan Peradilan Militer, sedangkan Peradilan Tata Usaha Negara belum ada, baru pada tahun 1986 Peradilan Tata Usaha Negara laihr dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986.

Adapun sebagai dasar pemikiran kelahiran Peradilan Tata Usaha Negara, diantaranya adalah :

1. Bahwa Negara Republik Indonesia sebagai negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bertujuan mewujudkan tata kehidupan negara dan bangsa yang sejahtera, aman, tenteram serta tertib yang menjamin persamaan kedudukan warga

masyarakat dalam hukum, dan yang menjamin terpeliharanya hubungan serasi, seimbang serta selaras antara aparatur di bidang Tata Usaha Negara dengan para warga masyarakat;

2. Dalam rangka mewujudkan tata kehidupan tersebut, dengan jalan mengisi kemerdekaan melalui pembangunan nasional secara bertahap, diusahakan untuk membina, menyempurnakan, dan menertibkan aparatur di bidang Tata Usaha Negara, agar mampu menjadi alat yang efisien, efektif, bersih, serta berwibawa, dan dalam melaksanakan tugasnya selalu berdasarkan hukum dengan dilandasi semangat dan sikap pengabdian untuk masyarakat. Dengan memperhatikan landasan pemikiran sebagaimana telah diuraikan di atas, maka tujuan PTUN diciptakan adalah untuk menyelesaikan sengketa antara Pemerintah dengan warga negaranya. Dalam hal ini sengketa yang timbul sebagai akibat dari adanya tindakan-tindakan Pemerintah yang melanggar hak warga negaranya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa PTUN diadakan dalam rangka memberi perlindungan kepada rakyat. Dengan kata lain tujuan PTUN sebenarnya tidak semata-mata untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan, melainkan juga untuk melindungi hak-hak masyarakat.

Dengan lahirnya Peradilan Tata Usaha Negara, maka kepada seluruh warga Negara Indonesia diberikan kesempatan untuk mengajukan gugatan setiap Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh Pejabat Administrasi Negara apabila keputusan tersebut merugikan, selain itu keberadaan PTUN juga memberikan perhatian kepada seluruh Pejabat Administrasi Negara dalam menjalankan tugas dan fungsinya, terutama apabila mengeluaran suatu Keputusan agar dikemudian tidak ada pihak yang dirugikan, sehingga tidak muncul adanya gugatan di PTUN.

Dalam usaha menciptakan penyelenggaraan pemerintah yang efisien, efektif dan wibawa serta mampu memberikan perlindungan hukum

94

terhadap masayarakat, pemerintah tidak hanya didasarkan pada keberadaan Peradilan Tata Usaha Negara, namun demikian pemerintah juga menerapakan asas-asas umum penyelenggaraan Negara yang baik, sebagaimana yang diatur di dalam Undang- Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Asas- asas umum penyelenggaraan negara yang baik meliputi:

1. Asas Kepastian Hukum;

2. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara; 3. Asas Kepentingan Umum;

4. Asas Keterbukaan; 5. Asas Proporsionalitas; 6. Asas Profesionalitas; dan 7. Asas Akuntabilitas.

BAB IX

P E N U T U P

A. Simpulan

Hukum Administrasi Negara merupakan sub sistem dari Sistem Hukum Nasional yang berlaku di Indonesia, oleh karena itu HAN harus didasarkan kepada Pancasila dan UUD 1945 serta peraturan perundang-undangan lainnya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Indonesia.

Hukum Administrasi Negara (HAN) adalah merupakan keseluruhan aturan-aturan hukum yang harus diperhatikan oleh alat-alat perlengkapan negara dan aparatur pemerintah apabila menjalankan kekuasaannya. Adapun tujuan HAN adalah memberikan batasan wewenang kepada aparatur negara dan aparatur pemerintah agar dalam penyelenggaraan tugas-tugas umum pembangunan dan pemerintah tidak berbuat sewenang-wenang serta dapat melindungi warga masyarakat, dengan demikian tidak terjadi benturan kepentingan antara penguasa dengan warga masyarakat.

Dalam era reformasi dan transparansi serta persaingan global dewasa ini, sebagai aparatur negara dan aparatur pemerintah di dalam menjalankan tugas dan fungsinya dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat yang membutuhkannya. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya aparatur negara dan aparatur pemerintah juga dituntut untuk berpedoman pada asas-asas umum penyelenggaraan pemerintahan yang baik serta dapat menegakkan supremasi hukum, hal ini sebagaimana diamanatkan di dalam Ketetapan MPR No.XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, dan Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang

Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, serta Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah serta peraturan perundang-undangan lainnya, semua peraturan perundang-undangan tersebut dibuat agar aparatur negara dan aparatur pemerintah di dalam melaksanakan tugas sehari-hari tidak terjadi adanya tuntutan atau gugatan dari masyarakat yang merasa dirugikan kepentingannya, dengan demikian akan terwujud adanya suatu pemerintahan yang baik atau good governance.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, di dalam kurikulum Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III (Diklatpim Tingkat III) materi Hukum Administrasi Negara (HAN) diberikan kepada peserta Diklatpim Tingkat III karena peserta Diklatpim Tingkat III pesertanya adalah para pejabat struktural eseleon III atau calon pejabat yang akan menduduki struktural eselon III.

B. Tindak Lanjut

Pertimbangan materi HAN diberikan kepada peserta Diklatpim Tingkat III adalah karena pejabat struktural eselon III adalah pejabat operasional yang sehari-hari menangani bidang tugasnya masing- masing.

Sehingga setelah diberikan materi HAN, sebagai tindak lanjutnya diharapkan kepada alumni peserta dapat memahami dan mampu menerapkan di dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya sehari-hari, dengan demikian maka tidak akan muncul gugatan ke Peradilan Tata Usaha Negara dari masayarakat, karena masyarakat merasa terayomi dan hak-haknya terlindungi.

DAFTAR PUSTAKA

Bagir Manan dan Kuntana Magnar. (1997). Beberapa Masalah Hukum

Tata Negara Indonesia, Bandung: Alumni.

CFG Sunaryati Hartono. (1991). Politik Hukum Menuju Satu Sistem

Hukum Nasional, Bandung: Alumni.

Bintoro Tjokroamodjojo, Sistem penyelenggaraan Pemerintahan

Negara Atas Dasar Undang-Undang dasar Negara republik Indonesia Tahun 1945 dan Perubahannya.

CST. Kansil. (1993). Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum

Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.

E. Utrecht/Moh. Saleh Djindang. (1990). Pengantar Hukum

Administrasi Negara Indonesia, Jakarta: Sinar Harapan.

Indroharto. (1999). Usaha Memahami Undang-Undang tentang

Peradilan Tata Usaha Negara: Beracara di pengadilan Tata

Usaha Negara, Jakarta: Sinar Harapan.

Kuntjoro Purbopranoto. (1975). Beberapa Catatan Hukum Tata

Pemerintahan Indonesia dan Peradilan Administrasi Negara, Bandung: Alumni.

Lembaga Administrasi Negara. (1994). Sistem Administrasi Negara

Republik Indonesia, Jakarta: Haji Masagung.

M. Nata Saputra. (1988). Hukum Administrasi Negara, Bandung: Alumni. Paulus Effendi Lotulung. (1994). Himpunan Makalah Azas-azas Umum

Pemerintahan Yang Baik (AAUPB), Bandung: Citra Aditya.

Philipus M. Hadjon dkk. (1993). Pengantar Hukum Administrasi

Indonesia (Introduction to the Indonesian Administrative Law), Jogjakarta: Gajah Mada University Press.

Ridwan, HR. (2002). Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta: UII Press.

S.F Marbun. (1997). Peradilan Administrasi Negara dan Upaya

Administratif di Indonesia, Yogyakarta: Liberty.

S.F Marbun dkk. (2001). Dimensi-dimensi Pemikiran Hukum

Administrasi Negara, Yogyakarta: UII Press.

S. Prajudi Atmosudirdjo. (1995). Hukum Administrasi Negara, Jakarta: Ghalia Indonesia.

W.F Prins-R.Kosim Adisapoetra. (1987). Pengantar Ilmu Hukum

Administrasi Negara Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita.

DAFTAR DOKUMEN

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketetapan Majelis Permusyawaran Rakyat Nomor XI/MPR/1998

tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas

Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Ketetapan Majelis Permusyawaran Rakyat Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan

Perundang-undangan.

Ketetapan Majelis Permusyawaran Rakyat Nomor I/MPR/2003 tentang

Penijauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan MPRS dan MPR-RI Tahun 1960 sampai dengan Tahun 2002.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Pokok-pokok

Kekuasaan Kehakiman sebagaimana telah diubah dengan

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha

Negara sebagaimana telah dibah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1986 tentang Mahkamah Agung

sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004;.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan

Negara Yang Bersih dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Program Pembangunan

Nasional Tahun 2000-2004.

Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja

Dokumen terkait