PERMASALAHAN DAN ISU-ISU STRATEGIS PERANGKAT DAERAH
3. Bidang Bina Marga
a. Jumlah kendaraan operasional dan alat berat relatif kurang dengan kondisi sebagian besar rusak dan sudah tua.
b. Posisi kantor induk dan beberapa work shop masih tersebar, yang menyebabkan hambatan koordinasi langsung dan pengawasan asset.
c. Masih lemahnya penegakkan dan pengawasan dalam penerapan peraturan – peraturan di bidang kebinamargaan.
d. Terbatasnya sumber dana indikatif untuk pelaksanaan tugas pokok dan operasional kedinasan.
e. Kurangnya pemahaman & etos kerja pegawai terhadap visi , misi dan peraturan di lingkup dinas.
f. Kurangnya kesadaran dan peran serta masyarakat terhadap pemeliharaan dan operasional kebinamargaan.
g. Lemahnya koordinasi dalam pembangunan infrastruktur.
h. Banyaknya kerusakan dan kekurangan sarana & prasarana perkotaan bidang Jalan dan jembatan.
i. Kurangnya sarana dan prasarana infrastruktur jalan dan jembatan yang responsif terhadap isu gender yang beredar di masyarakat diantaranya akses pedestrian yang ramah difabel, lansia dan anak-anak, kekerasan pada perempuan dan anak, serta kurangnya akses infrastruktur kawasan daerah miskin yang mendukung terhadap pendidikan dan perekonomian yang baik.
Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu aspek penting dan viral untuk mempercepat proses pembangunan daerah. Infrastruktur juga memegang peranan penting sebagai roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Gerak laju dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan infrastruktur seperti transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan energi.
Pengembangan infrastruktur merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan secara keseluruhan. Hal ini mengingat dampaknya yang hampir memengaruhi indikator kunci keberhasilan pembangunan dasar, baik pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi.
RENSTRA – DINAS PEKERJAAN UMUM KOTA SEMARANG 2016-2021 III-3
Pembangunan infrastruktur berkualitas dengan kapasitas yang memadai dan merata merupakan faktor penting untuk mendorong konektivitas antar wilayah sehingga dapat mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi. Kualitas dan kapasitas infrastruktur yang memadai akan memperlancar konektivitas, menurunkan biaya transportasi dan biaya logistik sehingga dapat meningkatkan daya saing produk dan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, sehingga wilayah Kota Semarang akan mampu menjadi wilayah yang tangguh, produktif dan infrastruktur kota menjadi permasalahan di Kota Semarang.
Jaringan jalan pada suatu kota sangat tergantung pada topografi, morfologi kota (bentuk suatu kota) dan cakupan wilayah pelayanannya, dan beberapa faktor lainnya pembentuk pola jaringan jalan. Fungsi jaringan jalan pada saat ini tidak hanya sekedar memindahkan penumpang maupun barang saja, tetapi juga mempunyai peranan yang cukup strategis, yaitu sebagai pertumbuhan kawasan, pertumbuhan ekonomi dan mengatasi kemacetan dan lain-lain.
Sistem jaringan jalan yang ada di Kota Semarang sangat lengkap meliputi, arteri primer, arteri sekunder, kolektor primer, kolektor sekunder, lokal primer, lokal primer, dan jalan lingkungan.
• Fungsi Arteri Primer, Jalur ini menghubungkan Kota Semarang dengan kota-kota besar lain di luar Kota Semarang (kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kesatu atau kedua). Beberapa kelompok jalan yang berada dalam kelas ini antara lain;
Jalan raya Semarang Kendal-Jalan Siliwangi-Jalan Yos Sudarso-Jalan Usman Janatin-Pertigaan Jalan Kaligawe,
Jalan Raya Kaligawe (Pertigaan Jalan Tol Seksi C)-Batas Kota Semarang-Demak, Jalan Tol Seksi A (Jatingaleh-Srondol)-Jalan Tol Seksi B(Jatingaleh-Krapyak), Jalan Tol Seksi C (Kaligawe-Jangli),
Jalan Tol Semarang-Solo,
Jalan Inspeksi Sungai Babon-Jalan Brigjend Sudarto-Jalan Sendangmulyo-Pudakpayung-Perempatan Jalan Raya Mijen-Jalan Koptu Suyono,
Jalan Tol Semarang-Kendal, Jalan Tol Semarang-Solo, Jalan Perintis Kemerdekaan,
Jalan Dr. Sutomo-Jalan S. Parman-Jalan Sultan Agung, Jalan Citarum-Pedurungan,
Jalan Tentara Pelajar-Jalan Raya Kedungmundu, Jalan Kaligarang-Jalan Pamularsih,
Jalan Kelud raya-Jalan Menoreh Raya-Jalan Dewi Sartika-Jalan Raya Sekarang Gunung Pati,
RENSTRA – DINAS PEKERJAAN UMUM KOTA SEMARANG 2016-2021 III-4 Jalan Abdurahman Saleh-Jalan raya Manyaran Gunung Pati, Jrakah-Perempatan jalan LingkarLuar,
Mangkang-Jalan Lingkar Utara Semarang-Pertigaan Jalan Usman Janatin, Jalan Hanoman Raya-Jalan Lingkar Utara Semarang,
Jalan Gatot Subroto,
Jalan gajah Mada-Jalan Diponegoro.
• Fungsi Kolektor Primer, Di Kota Semarang fungsi kolektor primer ditunjukkan dengan oleh jaringan jalan yang menuju ke Purwodadi, selain jalan ini beberapa jalan lain di Kota Semarang yang masuk ke dalam fungsi kolektor primer diantaranya; Jalan Pramuka,
Jalan Raya Gunungpati-Ungaran,
Perempatan jalan Lingkar Luar-Mijen-Boja, Pertigaan Gunungpati-Jalan Lingkar Luar,
Pertigaan Jalan Gunungpati-Sekaran-Jalan Lingkar Luar, Gayamsari-Penggaron.
• Fungsi Kolektor Sekunder, Fungsi kolektor sekunder menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau kawasan sekunder ketiga, di Kota Semarang ditunjukkan pada jaringan jalan yang menghubungkan pusat kota dengan wilayah pengembangan pusat II dan III, seperti Genuk, Pedurungan, Mijen, Gunungpati, dan Tembalang. Beberapa ruas jalan tersebut diantaranya;
Jalan Pemuda, Jalan Hasanudin, Jalan MH Thamrin,
Jalan Sriwijaya-Jalan Veteran,
Jalan Cendrawasih-Jalan MT. Haryono,
Jalan Mayjend. Sutoyo-Jalan DI Panjaitan-Jalan Kartini-Jalan Kelurahan Sambirejo-Pertigaan jalan gajah,
Jalan Gajah-Jalan Lamper Tengah, Jalan Supriyadi,
Jalan Raya Kelurahan Karangroto, Jalan Raya Kudu,
Jalan Padi Raya, Jalan Muktiharjo,
Jalan Meteseh-Kedungmundu,
Jalan Profesor Sudarto-Jalan Meteseh,
UNDIP Tembalang-Kramas-Jalan Mulawarman Raya, Dr. Wahidin-Jangli-Undip Tembalang,
RENSTRA – DINAS PEKERJAAN UMUM KOTA SEMARANG 2016-2021 III-5 Jalan Durian Raya-Jalan Mulawarman Raya,
Jalan Karangrejo raya-Gedawang-Jalan Perintis Kemerdekaan, Pertigaan Jalan Setiabudi dengan Jalan Tol Seksi A-Sekaran, Jalan Pamularsih-Jalan Simongan-Jatibarang-Tambangan, Pongangan-Jatibarang,
Jalan Palapa
Jalan Lingkar Mijen, Jalan Bandungsari,
Jalan Kedungpane hingga Jalan Koptu Suyono, Jalan di Lingkungan Kawasan Industri Tugu.
• Fungsi Lokal, Sedangkan jalur lokal disini adalah jalur lokal primer, yaitu ditunjukkan oleh jaringan jalan Mijen-Boja, dan Mijen-Gunungpati. Jaringan ini perlu ditingkatkan fungsinya, karena jaringan jalan ini mempunyai manfaat yang besar untuk mengembangkan daerah-daerah pinggiran Kota Semarang seperti Kecamatan Mijen dan Gunungpati, karena selain untuk memperlancar akses dari pusat kota juga digunakan sebagai akses ke daerah Boja dan sekitarnya.
• Fungsi Lingkungan, Jaringan jalan ini menghubungkan menghubungkan lokasi-lokasi di dalam Kecamatan.
Adapun dari beberapa fungsi jalan yang ada di Kota Semarang tersebut, terdapat beberapa ruas jalan yang benar-benar mempunyai tingkat kepadatan dengan intensitas tinggi, yaitu jaringan jalan artei primer (pantura) yang banyak dilewati kendaraan dari arah Jakarta maupun kendaraan dalam Kota Semarang sendiri, jalan arteri primer yang menuju kearah Surakarta juga mempunyai kepadatan dengan intensitas tinggi, dan jalan-jalan dalam di pusat Kota Semarang yang mewadahi pergerakan masyarakat Semarang sebagai lokasi tujuan dari pergerakan.
Pola rencana jaringan jalan di Kota Semarang secara garis besar dikembangkan dengan pola Radial (memusat) dan Konsentris (melingkar). Pola Radial merupakan pola jaringan jalan yang menghubungkan Kota Semarang dan Kota-kota hinterland (kearah Kendal / Jakarta, Demak / Surabaya, Mranggen / Purwodadi, Ungaran / Surakarta / Yogyakarta dan ke arah Boja). Sedangkan pola jaringan jalan konsentris adalah rencana jaringan Jalan Lingkar Dalam (Inner Ring
Road), Lingkar Tengah (Middle Ring Road) dan Lingkar Luar (Middle Ring Road).
Adapun perbedaan fungsi utama dari masing-masing rencana jaringan jalan lingkar ini adalah sebagai berikut. Jaringan Jalan Lingkar Luar (Outter Ring Road) berfungsi untuk meneruskan lalu lintas menerus yang melewati Kota Semarang.
Jaringan Jalan Lingkar Tengah (Middle Ring Road) berfungsi untuk
menghubungkan sub pusat dalam wilayah kota Semarang atau Bagian Wilayah Kota sebagaimana tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana
RENSTRA – DINAS PEKERJAAN UMUM KOTA SEMARANG 2016-2021 III-6
Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Kota Semarang. Sedangkan Jaringan Jalan Lingkar Dalam (Inner Ring Road) berfungsi sebagai pelindung CBD (Central
Business District) Kota Semarang terhadap permasalahan transportasi seperti
kemacetan, tundaan dan antrian.
Untuk meningkatkan kinerja infrastruktur kota guna meningkatkan konektivitas daerah agar tercapai Kota Semarang yang tangguh, produktif dan berkelanjutan dalam bidang jalan dan jembatan maka akan dilaksanakan beberapa rencana pembangunan yang akan berlangsung selama 5 tahun ke depan diantaranya pembangunan inner ring road, midlle ring road, dan outer ring road, pembangunan ducting utility di segitiga mas (Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran dan Jalan Gajahmada), Pembangunan simpang susun Brigjen Sudiarto dan Srondol Sekaran, Pembangunan simpang tak sebidang rel kereta api madukoro, Pembangunan jembatan madukoro kokrosono, dll.
Gambar 3.1
Peta Jaringan Jalan Konsentris
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum, 2017