2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan
2.4.2. Bidang Distribusi dan Akses Pangan
Distribusi pangan berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien, sebagai prasyarat untuk menjamin agar seluruh rumah tangga dapat memperoleh pangan dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang waktu dengan harga yang terjangkau. Akses pangan secara ekonomi menyangkut keterjangkauan masyarakat terhadap pangan yang ditunjukkan oleh harga dan daya beli. Aksesibilitas merupakan komponen penting dalam ketahanan pangan rumah tangga. Akses menunjukkan jaminan bahwa setiap rumah tangga dan individu mempunyai sumberdaya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan sesuai dengan norma gizi. Pemeliharaan lingkungan hidup dimaksudkan untuk jaminan pangan di masa datang. Pemeliharaan lingkungan berhubungan dengan akses terhadap sumberdaya yaitu dalam hal kepemilikan sumberdaya untuk memproduksi atau membeli pangan yang dibutuhkan. Oleh karena itu masyarakat mempunyai kepentingan untuk melaksanakan konservasi sumberdaya alam dalam rangka ketahanan pangannya. Pada kondisi
42 lingkungan yang marginal maka kecenderungan untuk mengalami ketidaktahanan pangan akan semakin besar.
Pencapaian standar pelayanan minimal distribusi pangan dan akses pangan, dioperasionalkan melalui indikator ketersediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan, dan indikator stabilisasi harga dan pasokan pangan. Informasi harga, pasokan, dan akses pangan adalah kumpulan data harga pangan, pasokan pangan, dan akses pangan yang dipantau dan dikumpulkan secara rutin atau periodik oleh provinsi maupun kabupaten/kota untuk dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat analisis perumusan kebijakan yang terkait dengan masalah distribusi pangan. Data dan Informasi tersebut mencakup komoditas gabah/beras, jagung, kedele, daging sapi, daging ayam, telur, minyak goreng, gula pasir, cabe merah yang disajikan dalam periode mingguan/ bulanan/kuartal/tahunan. Pada tahun 2015, diharapkan tercapai ketersediaan informasi dan stabilitas harga, pasokan, serta akses pangan minimal 90%.
Stabilitas harga dan pasokan pangan adalah memantau dan melakukan intervensi secara cepat jika harga dan pasokan pangan di suatu wilayah tidak stabil. Harga dinyatakan stabil jika gejolak harga pangan di suatu wilayah kurang dari 25 % dari kondisi normal dan Pasokan pangan dinyatakan stabil jika penurunan pasokan pangan di suatu wilayah berkisar antara 5 % - 40 %.
Di kabupaten Bandung, berdasarkan jumlah komoditas, lokasi dan waktu pemantauan diperoleh data bahwa informasi pasokan pangan Kabupaten Bandung sebesar 84,1% (Tabel 10). Nilai ini masih di bawah target ketersediaan informasi pasokan, harga, dan akses pangan yaitu minimal 90% pada tahun 2015. Analisa data lebih mendalam menunjukkan bahwa rendahnya informasi pasokan pangan disebabkan karena realisasi pemantauan yang tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan, yaitu
43 hanya 4 minggu dari target 52 minggu. Sementara itu jumlah lokasi yang dipantau sesuai dengan target sedangkan realisasi jumlah komoditas yang dipantau mencapai 144%, melebihi dari target. Dengan demikian, perbaikan ketersedian informasi pasokan pangan ke depan dapat dilakukan dengan meningkatkan realisasi pada jumlah waktu pemantauan.
Tabel 10. Analisis Ketersediaan Informasi Pasokan Pangan di Kabupaten Bandung (2015) Informasi Pasokan 2015 T R R/T*100% 1. Komoditas 9 13 144,4 2. Lokasi 9 9 100,0 3. Waktu (minggu) 52 4 7,7 Ki 84,1 Keterangan:
T : Target Ki : Ketersediaan Informasi R: Realisasi
Informasi pasokan komoditas beras tersedia di semua pasar yang di survey (9 pasar), sedangkan informasi dari komoditas telur ayam tersedia di 7 pasar kecuali Pasar Cileunyi dan Pasar Ciwidey. Informasi pasokan mengenai daging sapi, minyak goreng dan gula pasir terdapat di 6 pasar. Informasi pasokan cabe merah terdapat di 4 pasar, sedangkan informasi pasokan jagung hanya terdapat di 1 pasar. Tabel 11 menunjukan informasi pasokan pangan yang tersedia di Kabupaten Bandung pada tahun 2015.
Tabel 11. Informasi pasokan pangan di 10 kecamatan di Kabupaten Bandung tahun 2015
No Kecamatan Jenis Pangan
1 Banjaran Beras, kacang kedelai, cabe merah, gula pasir, daging ayam, telur ayam, daging sapi
((-) data jagung, minyak goreng)
2 Majalaya Beras, daging ayam, telur ayam, minyak goreng, gula pasir, cabe merah
((-) data jagung, daging sapi, kacang kedelai)
3 Baleendah Beras, kacang kedelai, daging sapi, daging ayam, telur ayam, minyak goreng, cabe merah, gula pasir
44
No Kecamatan Jenis Pangan
4 Cileunyi Beras, minyak goreng, daging sapi, gula pasir, kacang kedelai
((-) data jagung, cabe merah, daging ayam, telur ayam)
5 Margahayu Beras, daging ayam, telur ayam, cabe merah, minyak goreng, kacang kedelai, daging sapi, gula pasir, kacang tanah
((-) jagung)
6 Soreang Beras, kacang kedelai, daging sapi, telur ayam, minyak goreng, gula pasir, cabe merah.
((-) data jagung, daging ayam)
7 Ciwidey Beras, daging sapi, minyak goreng, gula pasir.
((-) data jagung, kacang kedelai, daging ayam, cabe merah, telur ayam)
8 Pasirjambu Beras, kacang kedelai, daging sapi, telur ayam, minyak goreng, cabe merah, gula pasir
((-) data jagung, daging ayam)
9 Margaasih Beras, telur ayam, cabe merah, jagung, kacang kedelai
((-) data daging sapi, minyak goreng, gula pasir, daging ayam)
Kecamatan Margahayu dengan demikian memiliki informasi pasokan pangan yang lebih lengkap dibandingkan dengan kecamatan lainnya, dimana hampir semua komoditas terdapat informasi pasokan pangannya, kecuali jagung. Informasi pasokan jagung hanya terdapat di Kecamatan Margaasih. Informasi jumlah pasokan pangan yang tersedia di setiap kecamatan berdasarkan data dari distributor yang terdapat di 9 kecamatan di Kabupaten Bandung dirinci pada tabel 12 berikut.
Tabel 12. Informasi pasokan (impor) pangan tingkat kecamatan di Kabupaten Bandung tahun 2015
No Kecamatan Jenis Pangan Daerah Asal Pangan
Pasokan (Impor) Pangan Jumlah Penduduk (jiwa) (kg/minggu) (ton/tahun) 1 Banjaran Beras Tasikmalaya dan Cianjur 2.100 109,2 120.119 Kacang kedelai Kota Bandung dan Cirebon 126 6,6 Daging ayam Tasikmalaya, Garut, Kota Bandung 7.365 383,0 Daging sapi Kota
45 No Kecamatan Jenis Pangan Daerah Asal
Pangan
Pasokan (Impor) Pangan Jumlah Penduduk (jiwa) (kg/minggu) (ton/tahun) Telur ayam Jawa dan Kota Bandung 2.350 122,2 Cabe merah Kota
Bandung 145 7,5
Gula pasir Kota
Bandung 26.750 1.391,0
2 Majalaya
Beras Kota Banjar,
Majalengka 16.000 832,0
156.707 Cabe merah Kota
Bandung 700 36,4
Daging ayam Kota
Bandung 150 7,8 Telur ayam Kota Bandung, Banjar, Jawa Timur 11.225 583,7 Minyak goreng Kota Banjar 350 18,2 Gula pasir Kota
Bandung 72 3,7
3 Baleendah
Beras Luar Daerah 19.600 1.019,2
248.024 Kacang kedelai Kota
Bandung 490 25,5
Daging sapi Kota
Bandung 700 36,4
Daging ayam Tasikmalaya,
Garut 38.500 2.002,0 Telur ayam Kota Bandung dan Medan 14.000 728 Minyak goreng Kota
Bandung 18.760 975,5
Cabe merah Kota
Bandung 175 9,1
Gula pasir Kota
Bandung 770 40,0
Ketan Luar Daerah 800 41,6
Beras merah Luar Daerah 10.000 520,0
4 Cileunyi
Beras Kabupaten
Sumedang 1.500 78,0
189.281 Kacang kedelai Kota
Bandung 210 10,9
Daging sapi Kota
Bandung 200 10,4
Minyak goreng Kota
46 No Kecamatan Jenis Pangan Daerah Asal
Pangan
Pasokan (Impor) Pangan Jumlah Penduduk
(jiwa) (kg/minggu) (ton/tahun)
Gula pasir Kota
Bandung 575 29,9 5 Margahayu Beras Cianjur, Garut, Majalengka 4.150 215,8 124.132 Daging ayam Garut, Sumedang, Kota Bandung 3.670 190,8 Telur ayam Kota Bandung dan Blitar 1.818 94,5 Tepung terigu Kota
Bandung 3.300 171,6
Minyak goreng Kota
Bandung 2.838 147,6
Cabe merah Kota
Bandung 503 26,1
Kacang kedelai Kota
Bandung 90 4,7
Daging sapi Jawa 418 21,7
Gula pasir
Kota Bandung, Jakarta
753 39,2
Kacang tanah Kota
Bandung 400 20,8
6 Soreang
Beras Kota Banjar 500 26,0
111.060 Kacang kedelai Kota
Bandung 20 1,0
Daging sapi Kota
Bandung 100 5,2 Telur ayam Kota Bandung, Blitar 2.400 124,8 Minyak goreng Kota Bandung, Bogor 3.180 165,4 Gula pasir Kota
Bandung 75 3,9 Cabe merah Tasikmalaya dan Kota Bandung 25 1,3 7 Ciwidey Beras Cianjur, Kota Banjar dan Tasikmalaya 452.600 23.535,2 75.441 Daging sapi Boyolali dan
47 No Kecamatan Jenis Pangan Daerah Asal
Pangan
Pasokan (Impor) Pangan Jumlah Penduduk
(jiwa) (kg/minggu) (ton/tahun)
Bandung
Minyak goreng Jakarta 63.700 3.312,4 Gula pasir Kota
Bandung 185.500 9.646,0 Tepung terigu Kota
Bandung 147.000 7.644,0
8 Pasirjambu
Beras Kota Banjar 33.250 1.729,0
82.565 Telur ayam Kota Bandung dan Blitar 18.900 982,8 Minyak goreng Kota
Bandung 20.510 1.066,5 Cabe merah Kota Bandung dan Tasikmalaya 210 10,9
Kacang kedelai Kota
Bandung 105 5,5
Daging sapi Kota
Bandung 700 36,4
Gula pasir Kota
Bandung 525 27,3
9 Margaasih
Beras Tasikmalaya,
Majalengka 2.700 140,4
145.639
Telur ayam Brebes 4.500 234,0
Cabe merah Kota
Bandung 3.000 156,0
Jagung Kota
Bandung 1.500 78,0
Kacang kedelai Jawa Timur 270 14,0
Kecamatan Banjaran memiliki informasi pasokan pangan yang meliputi komoditas beras, kacang kedelai, daging ayam, daging sapi, telur ayam, cabe merah, dan gula pasir dengan jumlah pasokan masing-masing 109,2; 6,6; 383,0; 1,3; 122,2; 7,5; dan 1.391,0 ton. Dari semua jenis pasokan pangan yang masuk ke Kecamatan Banjaran, gula pasir merupakan komoditas yang dipasok lebih banyak, sedangkan daging sapi adalah komoditas yang dipasok lebih sedikit.
48 Ketersediaan informasi pasokan pangan di Kecamatan Majalaya meliputi beras, cabe merah, daging ayam, telur ayam, minyak goreng dan gula pasir. Beras merupakan komoditas pangan yang lebih banyak dipasok ke Kecamatan Majalaya, yaitu sebesar 832 ton/tahun. Sementara itu, pasokan komoditas cabe merah sebesar 36,4 ton, daging ayam sebesar 7,8 ton, telur ayam sebesar 583,7 ton, minyak goreng sebanyak 18,2 ton dan gula pasir sebanyak 3,7 ton.
Ketersediaan informasi pangan di Kecamatan Baleendah meliputi beras, kacang kedelai, daging sapi, daging ayam, telur ayam, minyak goreng, cabe merah, gula pasir, ketan dan beras merah. Pasokan pangan tertinggi berasal dari komoditas beras dan daging ayam yaitu 1.019,2 dan 2.002,0 ton. Sedangkan pasokan pangan komoditas kacang kedelai, daging sapi, telur ayam, minyak goreng, cabe merah, gula pasir, ketan dan beras merah masing-masing sebesar 25,5; 36,4; 728; 975,5; 9,1; 40; 41,6; dan 520 ton.
Informasi pasokan pangan Kecamatan Cileunyi meliputi beras, kacang kedelai, daging sapi, minyak goreng dan gula pasir. Adapun jumlah pasokan yang didapatkan Kecamatan Cileunyi untuk beras, kacang kedelai, daging sapi, minyak goreng, dan gula pasir masing-masing sebanyak 78; 10,9; 10,4; 249,6; 29,9 ton/tahun.
Kecamatan Margahayu merupakan kecamatan dengan informasi pasokan pangan sebanyak 10 jenis pangan yaitu beras, daging ayam, telur ayam, tepung terigu, minyak goreng, cabe merah, kacang kedelai, daging sapi, gula pasir dan kacang tanah. Beras dan daging ayam merupakan pangan dengan jumlah pasokan cukup banyak yaitu masing-masing mencapai 215,8 dan 190,8 ton. Sedangkan pangan telur ayam, tepung terigu, minyak goreng, cabe merah, kacang kedelai, daging sapi, gula pasir, dan kacang tanah dipasok masing-masing sebanyak 94,5; 171,6; 147,6; 26,1; 4,7; 21,7; 39,2; dan 20,8 ton.
49 Pasokan pangan yang tercatat masuk ke Kecamatan Soreang yaitu komoditas beras, kacang kedelai, daging sapi, telur ayam, minyak goreng, gula pasir, dan cabe merah. Adapun jumlah pasokan setiap pangan masing-masing sebanyak 26 ton untuk beras; 1,0 ton untuk kacang kedelai; 5,2 ton untuk daging sapi; 124,8 ton untuk telur ayam; 165,4 ton untuk minyak goreng, 3,9 ton untuk gula pasir, dan 1,3 ton untuk cabe merah.
Pasokan beras di Kecamatan Ciwidey berasal dari Cianjur, Kota Banjar dan Tasikmalaya sebanyak 23.535,2 ton. Pasokan beras di Kecamatan Ciwidey merupakan pasokan beras terbesar jika dibandingkan dengan pasokan beras di kecamatan lainnya. Selain pasokan beras, Kecamatan Ciwidey juga mendapatkan pasokan daging sapi, minyak goreng, gula pasir dan tepung terigu masing-masing sebanyak dan 1.153,1; 3.312,4; 9.646; .6447 ton.
Ketersediaan informasi pasokan pangan Kecamatan Pasirjambu ada 7 jenis, yaitu beras, telur ayam, minyak goreng, cabe merah, kacang kedelai, daging sapi, dan gula pasir. Beras merupakan pangan dengan jumlah pasokan terbanyak yaitu mencapai 1.729 ton. Komoditas minyak goreng yang dipasok dari Bandung dan Cibuntu sebanyak 1.066,5 ton. Komoditas telur ayam dipasok sebanyak 982,8 ton, sedangkan daging sapi dipasok sebanyak 36,4 ton. Sementara itu, komoditas gula pasir, cabe merah, dan kacang kedelai masing-masing dipasok sebanyak 27,3; 10,9; dan 5,5 ton.
Informasi jumlah pasokan pangan yang tercatat di Kecamatan Margaasih adalah komoditas beras, telur ayam, cabe merah, jagung dan kacang kedelai. Komoditas telur ayam merupakan pangan dengan pasokan tertinggi yaitu sebanyak 234 ton. Kemudian dilanjutkan dengan cabe merah sebanyak 156 ton, beras sebanyak 140,4 ton. Adapun jagung dan
50 kacang kedelai dipasok ke Kecamatan Margaasih dengan jumlah masing-masing 78 ton dan 14 ton.
Dari data ini terlihat (tabel 12) bahwa jumlah penduduk tidak berpengaruh pada jumlah pasokan pangan. Hal ini dapat dilihat seperti pada kasus Kecamatan Ciwidey yang mempunyai jumlah penduduk terkecil namun memiliki pasokan pangan yang lebih besar daripada Kecamatan Baleendah dengan jumlah penduduk terbesar.
Untuk melihat data lebih global, tabel 13 tentang rekapitulasi informasi pasokan pangan di bawah ini dapat memberikan informasi yang lebih luas.
Tabel 13. Rekapitulasi Informasi pasokan pangan di Kabupaten Bandung tahun 2015
No Jenis Pangan Wilayah Pemasok Pangan
Jumlah Pasokan (kg/minggu) Jumlah pasokan (ton/tahun) 1 Beras Tasikmalaya, Sumedang, Cianjur,
Garut, Kota Banjar, Majalengka, Bogor 535.900 27.866,8
2 Jagung Kota Bandung 1.500,0 78,0
3 Kacang kedelai Kota Bandung, Cirebon, Jawa Timur 1.311 68,2 4 Daging sapi Boyolali, Kota Bandung 24.318 1.264,6 5 Daging ayam Tasikmalaya, Kota Bandung, Garut,
Sumedang 49.685 2.538,6
6 Telur ayam Blitar, Kota Bandung, Medan, Brebes,
Banjar 55.193 2.870,0
7 Minyak goreng Kota Bandung, Banjar, Jakarta, Bogor 114.138 5.935,2 8 Gula Pasir Kota Bandung, Jakarta 215.020 11.181,0
9 Tepung terigu Kota Bandung 150.300 7.815,6
10 Cabe Merah Tasikmalaya, Kota Bandung 4.758 247,4
11 Kacang tanah Kota Bandung 400 20,8
12 Beras Merah Luar wilayah 10.000 520,0
13 Ketan Luar wilayah 800 41,6
Berdasarkan tabel 13, komoditas beras merupakan bahan pangan dengan pasokan terbesar dibandingkan bahan pangan lainnya, yaitu mencapai 27.866,8 ton/tahun. Komoditas beras berasal dari daerah Tasikmalaya,
51 Sumedang, Cianjur, Garut, Kota Banjar, Majalengka, dan Bogor. Pasokan gula pasir sebesar 11.181,0 ton/tahun yang berasal dari Kota Bandung (Pasar Caringin) dan Jakarta. Pasokan tepung terigu berasal dari Kota Bandung dengan jumlah pasokan sebesar 7.815,6 ton/tahun. Pasokan minyak goreng sebesar 5.935,2 ton/tahun berasal dari Kota Banjar, Kota Bandung, Bogor dan Jakarta.
Pasokan telur sebesar 2.870,0 ton/tahun berasal dari Blitar, Kota Bandung, Medan, Brebes, Banjar. Pasokan daging ayam berasal dari Tasikmalaya, Kota Bandung, Garut, Sumedang dengan jumlah sebesar 2.538,6 ton/tahun. Pasokan daging sapi sebesar Boyolali dan Kota Bandung sebesar 1.264,6 ton/tahun. Pasokan cabe merah berasal dari Tasikmalaya dan Kota Bandung dengan jumlah sebesar 247,4. Pasokan jagung berasal dari Kota Bandung (Pasar Caringin) sebesar 78 ton/tahun. Pasokan kedelai berasal dari Kota Bandung, Cirebon dan Jawa Timur dengan jumlah sebesar 68,2 Pasokan kacang tanah berasal dari Kota Bandung dengan jumlah sebesar 20,8 ton/tahun. Pasokan beras merah dan ketan berturut-turut sebesar 520 dan 41,6 ton/tahun dengan asal pangan tidak tercatat.
Berdasarkan wilayah pemasok pangan, Kota Bandung merupakan daerah pemasok untuk 10 jenis pangan, yaitu kacang kedelai, daging sapi, daging ayam, telur ayam, minyak goreng, gula pasir, tepung terigu, cabe merah, jagung dan kacang tanah. Hal ini disebabkan terdapat pasar induk Caringin di Kota Bandung yang menjadi pusat perdagangan pangan di wilayah Priangan. Pasar induk tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan Kota Bandung, tetapi juga termasuk memenuhi kebutuhan Kabupaten Bandung.
Tabel 14. Informasi ekspor padi Kabupaten Bandung pada tahun 2015 No
. Jenis Pangan
Jumlah Ekspor (kg/minggu)
Jumlah Ekspor
(ton/tahun) Daerah Tujuan Pangan
52 No . Jenis Pangan Jumlah Ekspor (kg/minggu) Jumlah Ekspor
(ton/tahun) Daerah Tujuan Pangan
2 Telur ayam 900 46,8 Kabupaten Garut
3 Cabe merah 80.000 4.160,0 Pasar Induk Cipinang 4 Beras merah 80.000 4.160,0 Pasar Induk Cipinang
5 Ketan 2.250 117,0 Pasar Induk Cipinang
Selain menerima pasokan pangan dari daerah lain, Kabupaten Bandung juga melakukan ekspor beberapa pangan, seperti beras, telur ayam, cabe merah, beras merah dan ketan. Adapun sebagian besar daerah tujuan kegiatan ekspor ini yaitu Pasar Induk Cipinang, Jakarta. Beras merupakan komoditas ekspor terbesar dibandingkan pangan lainnya, yaitu mencapai 100.625 kg/minggu atau 5.232,5 ton/tahun. Daerah tujuan ekspor beras ini yaitu ke daerah Sukabumi, Cianjur, dan Jakarta (Tabel 14).
Berdasarkan situasi ketersediaan pangan Kabupaten Bandung tahun 2015, diketahui bahwa konsumsi beras sebesar 278,6 gram/kap/hari. Ketersediaan beras untuk konsumsi 2015 yaitu sebesar 390.812 ton, sedangkan produksi beras sebesar 317.762 ton sehingga dapat diestimasikan bahwa masih dibutuhkan pasokan beras (impor) sejumlah 85.050 ton (Tabel 2.18). Berdasarkan kegiatan survey pasokan pangan yang sudah dilakukan, jumlah pasokan beras ke Kabupaten Bandung hanya sebesar 27.866,8 ton. Hal ini menunjukkan bahwa pasokan beras masih kurang sebesar 57.183,2 ton. Disisi lain, Kabupaten Bandung juga telah melakukan ekspor beras ke daerah Sukabumi, Cianjur dan Jakarta dengan total ekspor sebesar 5.232,5 ton.
Kegiatan ekspor lainnya yaitu pangan telur ayam sebanyak 46,8 ton/tahun ke daerah Kabupaten Garut. Berdasarkan situasi ketersediaan pangan Kabupaten Bandung 2015, konsumsi telur ayam penduduk Kabupaten Bandung sebesar 28,0 gram/kap/hari. Ketersediaan telur ayam untuk konsumsi tahun 2015 yaitu sebesar 39.264 ton dengan jumlah produksi sebesar 7.795 ton sehingga dapat diestimasikan bahwa masih dibutuhkan
53 pasokan telur ayam (impor) sejumlah 31.469 ton. Namun, pasokan aktual yang terlaksana di Kabupaten Bandung hanya sebesar 2.870 ton/tahun sehingga data pasokan telur ayam masih sangat kurang yaitu sebesar 28.599 ton.
Dengan demikian sangat disarankan bahwa kegiatan ekspor beras dan telur ayam sebaiknya tidak dilakukan terlebih dahulu melihat jumlah pasokan yang diestimasikan untuk memenuhi kebutuhan Kabupaten Bandung sendiri masih sangat kurang. Pola distribusi pangan seharusnya lebih mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan Kabupaten Bandung terlebih dahulu. Jika kebutuhan dalam kabupaten sudah terpenuhi dan berlebih, maka dapat dilanjutkan untuk melakukan kegiatan ekspor ke daerah lain.
Cabe merah sebagai pangan strategis juga diekspor sebesar 4.160 ton ke Pasar Induk Cipinang. Hal ini menunjukkan bahwa pangan cabe merah (tergolong kelompok pangan sayuran) merupakan pangan yang berpotensi untuk diekspor ke daerah lain dengan estimasi ekspor sebesar 435.370 ton. Selain itu, beras merah dan ketan sebagai pangan non-strategis diekspor sebanyak masing-masing 520 dan 41,6 ton dengan tujuan yang sama, yaitu Pasar Induk Cipinang.
Data aktual survey pasokan pangan yang telah diolah mungkin tidak sesuai dengan keadaan di lapangan karena minimnya data dalam metode pelaksanaan survey. Survey seharusnya dilaksanakan selama dua bulan dengan periode mingguan. Pada kenyataannya, survey dilaksanakan dengan mengambil beberapa minggu tertentu selama waktu yang telah ditentukan. Tabel 15 menunjukkan jumlah pasokan aktual dan estimasi pasokan berdasarkan jenis pangan di Kabupaten Bandung tahun 2015.
Tabel 15. Jumlah pasokan dan estimasi pasokan (ton/tahun) Kabupaten Bandung tahun 2015
54 No Jenis Pangan Pasokan
Aktual (ton)* Estimasi Pasokan (ton)** Ekspor Aktual (ton)* Estimasi Ekspor (ton)** 1 Beras 27.866,8 85.050 5.193,5 2 Jagung 78,0 - - 80.173 3 Kacang kedelai 68,2 31.378 - - 4 Daging sapi 1.264,6 - - 1.570 5 Daging ayam 2.538,6 17.229 - - 6 Telur ayam 2.870,0 32.291 46,8 - 7 Minyak goreng 5.935,2 38.759 - - 8 Gula Pasir 11.181,0 17.364 - - 9 Tepung terigu 7.815,6 44.369 - - 10 Sayuran 247,4 - 4.160,0 435.370 11 Kacang tanah 20,8 - - 1.132 Keterangan :
* Survey Pasokan Pangan Kab Bandung tahun 2015
** Estimasi Impor dari Neraca Bahan Makanan pada Laporan Analisis dan Penyusunan Pola Konsumsi dan Suplai Pangan Kabupaten Bandung tahun 2015
Berdasarkan Tabel 15, Kabupaten Bandung harus menerima pasokan seluruh kelompok pangan strategis kecuali komoditas jagung, daging sapi dan cabe merah. Tabel tersebut juga menunjukkan bahwa pasokan pangan aktual masih kurang untuk memenuhi kebutuhan Kabupaten Bandung. Berdasarkan estimasi impor dari NBM Kabupaten Bandung tahun 2015, Kabupaten Bandung dapat melaksanakan kegiatan ekspor untuk komoditas jagung, daging sapi dan cabe merah. Namun, ketiga pangan strategis tersebut ternyata masih diimpor (pasokan) dari daerah lain yaitu sebanyak 78,0 ton untuk jagung, 1.264,6 ton untuk daging sapi, dan 246,4 ton untuk cabe merah. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa pencatatan data pasokan pangan underestimated karena gap antara data estimasi dan actual sangat jauh berbeda.
Berdasarkan data tentang distribusi dan akses pangan di atas, maka kabupaten Bandung perlu melakukan langkah-langkah seperti efisiensi pemasaran perdagangan untuk memotong rantai pasok dengan membangun pasar-pasar lokal di kecamatan sehingga harga pangan bisa lebih murah. Informasi tentang trend harga dan pasokan sangat diperlukan sehingga langkah antisipatif dapat dilakukan untuk menjaga
55 stabilitas harga dan pasokan. Hal ini dapat dilakukan dengan pemantauan harga dan pasokan secara rutin bekerjasama dengan instansi terkait.