REKOMENDASI KGM
2. BIDANG HUKUM DAN HAM Pendahuluan Pendahuluan
1. Sistem Hukum
Indonesia adalah Negara Hukum. Pernyataan ini dengan jelas tercantum dalam Pasal 1 ayat 3 UUD 1945. Dengan demikian kehidupan ketatanegaraan, kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan haruslah berdasar atas hukum yang telah disepakati. Sebagai negara hukum, Indonesia tentu memiliki satu kesatuan sistem hukum yang dibangun berdasarkan dan untuk memperkokoh sendi-sendi Pancasila dan UUD 1945, sebagai dasar negara. Di dalam sistem hukum sedemikian, tidak ada hukum yang memberikan hak istimewa pada warga negara tertentu berdasarkan suku, ras atau agama. Itu berarti pembentukan hukum di satu sisi harus memperhatikan kemajemukan masyarakat, namun di sisi lain harus memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
2. Penegakan Hukum dan HAM
Dibandingkan dengan masa Orde Baru, penegakan hukum dan perlindungan terhadap Hak-hak Asasi Manusia saat ini, haruslah diakui, dalam banyak hal lebih maju. Akan tetapi, apabila dibandingkan dengan masa Indonesia menggunakan Konstitusi RIS dan UUDS, UUD 1945 yang telah mengalami 4 (empat) kali perubahan dan yang digunakan sekarang dalam beberapa hal masih ketinggalan. Sebagai contoh dapat dilihat pada aspek kebebasan beragama, di mana Konstitusi RIS, Pasal 18, berbunyi; “setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, keinsyafan batin dan agama, hal ini meliputi pula kebebasan bertukar agama atau keyakinan, begitu pula kebebasan menganut agamanya atau keyakinannya, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, baik di muka umum maupun dalam lingkungannya sendiri dengan jalan mengajarkan, mengamalkan, beribadat, mentaati perintah dan aturan-aturan agama, serta dengan jalan mendidik anak-anak dalam iman dan keyakinan orang tua mereka.”
Implementasi penegakan HAM di Indonesia masih cukup memprihatinkan. Dalam konteks Indonesia yang tengah bertransisi ke dalam negara yang lebih demokratis selama sepuluh
tahun terakhir, timbul euphoria dari arus kebebasan yang lahir dari gerakan reformasi. Kenyataannya, arus kebebasan yang semestinya menjadi kekuatan konstruktif pembangunan bangsa malah menjadi persoalan baru. Sebagian masyarakat merasa berhak melakukan apa saja atas nama kebebasan, bahkan melalui cara-cara kekerasan dengan dalih memerangi ketidak-benaran menurut ukuran mereka sendiri atau kelompoknya dan memerangi kelompok lain yang tidak sepaham, tanpa mengindahkan hukum yang berlaku dan mengabaikan hak-hak asasi masyarakat sebagai manusia.
3. Posisi Negara
Peraturan Hukum yang diskriminatif ini sangat berpotensi memecah-belah persatuan, tidak senafas dengan prinsip hukum yang kita anut, yang memandang setiap warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahaan, dan tak sejalan dengan perlindungan HAM yang hendak kita tegakkan. Sangat disayangkan, negara lalai dalam tugasnya untuk meninjau-ulang seluruh produk hukum yang diskriminatif sedemikian. Dalam kondisi demikian, terkesan bahwa Negara tidak memposisikan dirinya untuk melindungi seluruh masyarakat, tanpa terkecuali.
Posisi yang demikian semakin jelas terlihat dalam sikap pemerintah yang membiarkan terjadinya aksi-aksi anarkis oleh sekelompok masyarakat yang memaksakan kehendaknya untuk menutup rumah-rumah ibadah.
Pancasila sebagai Prinsip Dasar
Dalam penegakan hukum dan HAM di Indonesia, masih ada orang yang beranggapan bahwa perlindungan HAM dalam Konstitusi kita sangat dipengaruhi pola pikir individualisme atau liberalisme, seperti yang tertuang dalam Deklarasi Umum mengenai Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Anggapan yang keliru ini masih sering diwacanakan, karena ada anggapan bahwa nilai-nilai HAM itu tidak sesuai dengan kepribadian kita.
Namun sebenarnya, apabila kita dalami, penegakan hukum dan perlindungan HAM itu justru adalah pengamalan dari ideologi
Pancasila, khususnya sila Kemanusian yang Adil dan Beradab serta sila Ketuhanan yang Maha Esa.
Pancasila sebagai ideologi nasional adalah faktor pengikat dan pemersatu kita sebagai Bangsa. Tanpa Pancasila, tidak akan terbayangkan Negara kita yang begitu luas dan sangat majemuk dapat utuh dan bersatu sampai sekarang.
Realita dan Analisa
Dalam kenyataannya kini, cukup banyak produk-produk hukum yang diskriminatif di Indonesia, seperti lahirnya perda-perda syariah di beberapa daerah, bahkan juga dalam proses legislasi di tingkat nasional. Selain itu juga, masih ada produk-produk hukum yang hanya mengakomodasi kepentingan-kepentingan pemodal dan cenderung mengabaikan kepentingan rakyat banyak dan pemeliharaan lingkungan.
Hal-hal sedemikian bisa terjadi karena proses-proses politik yang melahirkan produk hukum tersebut masih sangat dikuasai oleh infrastruktur politik yang lekat dengan kepentingan-kepentingan kelompok dan sesaat. Dalam sistem politik yang demokratis, suprastruktur politik dan infrastruktur politik saling mempengaruhi dalam semua proses politik sebelum melahirkan sebuah produk hukum. Dalam konteks Indonesia kini, infrastruktur politik belum berjalan sebagaimana mestinya. Selain kecenderungan Partai Politik menggunakan dan memperjuangkan simbol-simbol emosional, produk hukum juga acap lahir tanpa melibatkan masyarakat dalam proses legislasi.
Sementara itu, dalam penerapannya juga ternyata masih jauh dari harapan. Dalam realitasnya masyarakat main hakim sendiri ketimbang menyelesaikan persoalan secara hukum; hal ini acap terjadi dan dibiarkan oleh negara. Dalam penyelesaian hukum pun, ternyata aparat hukum sering juga terjebak dalam tekanan kepentingan-kepentingan tertentu ketimbang kepentingan-kepentingan hukum itu sendiri. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam berbagai kasus hukum di mana kepentingan rakyat acap kali dikorbankan demi kepentingan pemodal. Hal yang sama juga terjadi antara kelompok minoritas yang acap kali dikorbankan karena tekanan kaum mayoritas.
Hal-hal sedemikian terbukti dengan lahirnya sejumlah undang-undang dan peraturan, seperti:
n UU nomor 1/1974 tentang Perkawinan
n UU nomor 7/1992 jo UU nomor 10/1998 dan UU nomor 23/1999 tentang Sistem Perbankan Nasional yang mengizinkan beroperasinya Bank Syariah
n UU nomor 21/2008 tentang Perbankan Syariah n UU nomor 19/2008 Surat Berharga Syariah Negara n UU Pornografi
n dan puluhan PERDA bernuansa agama di berbagai daerah. Dari contoh-contoh ini terlihat adanya strategi melalui proses legislasi yang merupakan grand design untuk mengganti Dasar Negara Pancasila menjadi dasar negara Islam.
Rekomendasi
a. Pancasila tetap dijadikan azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dan diperjuangkan sebagai satu-satunya sumber hukum di negara Indonesia yang berlaku secara nasional. b. Pemerintah agar lebih tegas dalam menindak pihak-pihak yang
melanggar hukum dan HAM tanpa memandang bulu, termasuk mereka yang melakukan tindak anarkhis atas nama agama.
c. Pemerintah agar lebih lagi menjamin kebebasan beragama di Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi dan Undang-undang.
d. Memberi kewenangan yang lebih besar kepada Komnas HAM untuk melakukan penyelidikan, penyidikan dan pembentukan serta pelaksanaan Pengadilan Adhoc HAM yang diatur dalam undang-undang tersendiri.
Pelaksanaan
1. PGI memfasilitasi pertemuan dengan calon anggota legislatif lintas partai sebelum Pemilu dalam rangka pembekalan nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan dari perspektif iman Kristen.
2. PGI memfasilitasi pertemuan dengan para anggota legislatif lintas partai terpilih setelah Pemilu, dan bila dianggap perlu mendorong pembentukan kaukus Kristiani.
3. PGI memfasilitasi pertemuan para penegak hukum (Polisi, Jaksa, Hakim dan Pengacara) dalam rangka pembekalan nilai-nilai Kristiani pada pelaksanaan penegakan hukum di Indonesia. 4. Pembentukan Komisi Hukum dan HAM di setiap Sinode Gereja
yang terlibat langsung dalam proses legislasi di tingkat Nasional (DPR) maupun lokal (DPRD) serta memberikan penyuluhan hukum kepada jemaat-jemaat lokal.
5. Gereja-gereja meningkatkan dan mengembangkan jaringan dan kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat lintas iman dalam rangka mengadvokasi kasus-kasus HAM dan mengawal proses legislasi.
6. Guna mempercepat komunikasi dalam proses legislasi, maka gereja-gereja hendaknya memiliki sarana komunikasi modern (Website, E-mail) dan media komunikasi lainnya.
7. Membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat Pancasila (semacam Pancasila Watch), yang bertugas:
• Mengawal dan mengawasi pelaksanaan Pancasila dalam penyusunan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
• Mengawasi penegakan HAM di Indonesia.
Kesimpulan dan Penutup
Demi kelestarian dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka Pancasila sebagai Dasar Negara harus tetap dipertahankan dan tidak dapat ditawar lagi. Sehingga konsistensi dalam membangun hukum yang sesuai jatidiri Bangsa yakni Pancasila, dan melaksanakan penegakan hukum yang tanpa pilih bulu, adalah kunci keberhasilan dalam melindungi Hak-hak Asasi Manusia di Indonesia.