• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBANGUNAN PAPUA DEWASA INI Barnabas Suebu, SH34

Dalam dokumen Editor: Jan Sihar Aritonang Gomar Gultom (Halaman 99-103)

Otonomi khusus adalah satu solusi bagi Papua. Adalah fakta bahwa sebagian besar rakyat Papua ingin melepaskan diri dari NKRI pada satu sisi. Tetapi pada sisi lain adalah fakta sejarah bahwa Papua sudah menjadi bagian integral dari NKRI. Ketika dua hal itu berhadap-hadapan maka yang terjadi adalah konflik, dan korban yang akan jatuh tentu di pihak rakyat. Oleh karena itu, dicarilah jalan penyelesaian secara damai, yaitu usul tentang otonomi khusus untuk Papua.

Kerangka ini diusulkan oleh putra-putri Papua, termasuk saya. Kerangka di dalam Wide Weight Autonomy. Semua kekuasaan diserahkan ke Papua, kecuali militer, peradilan, moneter, masalah

luar negeri dan soal-soal keagamaan. Lebih dari itu semua

diserahkan untuk diatur oleh Papua sendiri.

Waktu itu saya ingat, sudah beberapa tahun lalu, hampir seluruh rakyat tidak mau otonomi karena yang dikehendaki adalah merdeka. Ada kelompok ekstrem, Kongres Papua. Sementara di pihak lain, ketika dibicarakan di tingkat pusat, kita menghadapi persoalan yang sulit karena banyak yang curiga terhadap otonomi khusus ini. Otonomi khusus ini dicurigai sebagai akal-akalan, sehingga menjadi perdebatan yang panjang ketika dibahas di DPR. Dan Pak Sabam Sirait sangat berpihak untuk berjuang bagi rakyat Papua.

Akhirnya UU Otonomi Khusus disahkan pada akhir 2001. Namun ketika kita masuk pada masa implementasinya, dia menjadi masalah. Otonomi khusus yang tadinya merupakan solusi berubah menjadi masalah. Tidak menjadi solusi terhadap masalah, sehingga masalah tak pernah selesai, karena masalah tidak bisa menyelesaikan masalah. Mengapa?

Pertama, pemahaman yang keliru, setengah-setengah, bahkan sama sekali salah. Mulai dari tingkat menteri hingga di rakyat Papua. Juga di lingkungan pemerintahan Papua, pada tingkat provinsi, kabupaten, dan lain-lain terjadi kekeliruan. Persepsi berbeda-beda karena masing-masing punya interpretasi, sehingga dalam pelaksanaannya sangat menghambat.

Kedua, masalah kemauan politik. Kesungguhan dan keikhlasan pemerintah pusat untuk melaksanakan atau mengimplementasikan UU ini secara utuh, konsekuen dan konsisten perlu dipertanyakan. Contoh: banyak kewenangan dsepartemen yang mestinya menjadi kewenangan untuk Papua, tetapi dalam pelaksanaannya nol, seperti Departemen Kehutanan. Sampai hari ini Menteri Kehutanan belum menyerahkan kewenangannya itu. Ada masalah hand over. Kita mau terima amanat UU, mau take over. Hal ini menimbulkan banyak persoalan. Misalnya dalam hal kayu, illegal logging dan HPH. Saya sendiri mencabut izin log, tidak boleh keluar Papua. Tetapi kita berhadapan dengan Menteri Kehutanan.

Ketiga, masalah good governance. Masih ada masalah tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, transparan dan akuntabel, dan yang menangani proyek dengan sebaik-baiknya. Semua hal itu belum siap, baik leadership, management, controlling maupun accountability system. Akibatnya adalah, ketika sudah mengalir trilyunan rupiah maka timbullah korupsi.

Keadaan ini diperparah dengan hadirnya INPRES Nomor 1 yang dilahirkan oleh Presiden Megawati, yang melahirkan Provinsi Papua Barat. Ini didukung oleh keputusan Mahkamah Konstitusi yang bertentangan dengan konsitutusi RI dan UU Otonomi Khusus itu sendiri.

Jadi hal-hal inilah yang membuat implementasi UU Otsus tidak berjalan sebagaimana yang diamanatkan oleh UU itu sendiri. Semua masalah tersebut tadi bermuara pada dua hal, yaitu tercipta dua dunia. Satu dunia birokrasi yang berpesta pora dengan uang otsus trilyunan rupiah, tidak ada kontrol dan tidak transparan, sehingga terbuka korupsi. Dunia yang satu lagi adalah dunia rakyat kecil di kampung. Di Papua ada 4000 kampung. Di daerah saya saja ada 3000 kampung. Tapi sangat menyedihkan karena mereka hidup dalam kemiskinan,

kebodohan bahkan kemiskinan absolut. Penyakit, menjadikan suasana yang sangat buruk. Human Development Indexnya lebih buruk dari Somalia dan Bangladesh. Kita di Indonesia pada umumnya yang terendah 60, tapi di Papua mencapai angka sangat rendah, yaitu 40. Keadaan ini menimbulkan konflik baru.

Rakyat mulai tidak percaya kepada Republik dan Otsus. Mereka berdemo terus-menerus. Otsus bukan solusi. Dan konflik ada yang alamiah, tapi ada yang direkayasa sebagai proyek/bisnis. Situasi seperti ini berlangsung antara tahun 2002-2006. Pada Nopember 2001, UU disahkan. Pada pertengahan 2006, saya dengan Alex terpilih untuk memimpin Papua. Kami hadir sebagai pemimpin yang baru dalam situasi seperti itu. Kami masuk dalam situasi penuh konflik dan paradoks. Artinya, pada satu sisi Papua kaya, dana Otsus trilyunan, tetapi rakyatnya menderita miskin di atas kekayaanya sendiri. Sekaligus Papua berada pada persimpangan jalan. Jalan yang satu ketika suasana konflik terus berlangsung, maka ke depan kita akan celaka.

Rancangan kecelakaan ini mungkin diciptakan oleh setan-setan. Sekarang ada penyakit korupsi, HIV dan AIDS, rakyat frustrasi lalu mabuk, free-sex, dan lain-lain. Kemarin saya tidak sempat ke sini, karena ada rapat akbar untuk berperang lawan korupsi dan HIV dan AIDS, karena di hadapan mata kita semua rakyat akan mati kalau perang tidak dimulai pada soal-soal seperti ini.

Ketika di persimpangan jalan, kita melihat Tuhan Allah kita adalah Tuhan yang menuntun masa depan Papua yang penuh rancangan damai sejahtera yang disediakan Allah bagi umat-Nya. Dalam pidato saya sampaikan: Dengan keadaan sekarang tidak ada jalan untuk Papua, yang lebih baik, yang membawa damai dan sejahtera. Itu berarti butuh perubahan besar, yang tidak akan jatuh dari langit. Perlu pemimpin visioner, power, sistem, organisasi, manajemen; perlu sumber daya manusia. Perlu inovasi dan terobosan baru.

Kekuasaan dan kepemimpinan, segenap yang tersedia, dilakukan untuk melakukan perubahan besar dengan inovasi dan terobosan baru. Dalam hubungan ini, sejak 2006 ada agenda-agenda pembangunan baru. Ada kebijakan dasar pembangunan, di mana manusia harus menjadi titik sentral pembangunan itu sendiri. Karena pembangunan

adalah dialog antara Tuhan, alam dan manusia. Pembangunan bermula untuk manusia dan berakhir untuk manusia.

Karena konsep dasar ini maka strategi pertama adalah perlu ada pertumbuhan, investasi, kekayaan alam diolah, kapasitas fiskal naik, dan seterusnya. Inilah yang disebut dengan Papua harus bertumbuh. Khususnya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan karena Papua punya alam. Stretegi kedua adalah pembangunan yang berfokus pada manusia. Ketiga harus menjaga stabilitas, sustainabilitas dan kontinuitas pembangunan.

Pendeta Kijne, seorang rasul Papua, menulis dalam bahasa Belanda: ”Pembangunan peradaban manusia ibarat maju dan naik, maju lalu naik kembali”. Dengan kebijakan itu saya canangkan empat agenda penting:

1. Menata kembali tata-kelola pemerintahan pada segenap

jajaran dan tingkatan. Hal ini dilakukan melalui reformasi

birokrasi dan reformasi anggaran, di mana selama ini yang tampak adalah seperti piramida terbalik. Yang semakin kecil adalah rakyat. Kita lakukan pembangunan struktur, cegah pemborosan 700 milyar rupiah. Jadi mutlak, Papua harus keluar dari persoalan ini, pemerintah harus baik. Apalagi Papua adalah daerah Kristen, harus menjadi contoh yang baik untuk negeri ini. Dan banyak sekali yang kita lakukan. Dari sisi manajemen pemerintahan tidak perlu detail. Tetapi hasil pemeriksaan akuntan: Desclaimer, naik lagi: wajar tanpa pengecualian. Artinya, korupsi berkurang, semua uang harus dipertanggungjawabkan. Semua yang korup dibawa ke pengadilan. Baru saja ketua KPK saya undang ke Papua dan kita bicara lagi. Kita harap upaya pembenahan akan secepatnya kita lakukan pada provinsi, kabupaten, kota dan kampung.

2. Fokus kepada manusia di kampung yang sudah mulai, yaitu rencana Strategis Pembangunan Kampung bekerjasama dengan PMP Mandiri. Disediakan bantuan dana antara Rp. 200-400 juta per kampung, jadi secara keseluruhan lebih dari 1 trilyun turun. Langsung kita siapkan pendamping. Camat (kepala distrik) diperkuat, APB kampung, kebijakan fiskal, seluruh rakyat harus kumpul, diajar dan setiap satu sen harus dipertanggungjawabkan. Dan pendekatan ini disebut inisatif masyarakat dari bawah. Secara

menyeluruh dan besar-besaran. Total dana di kampung 1, 5 milyar rupiah untuk perbaikan gizi, kesehatan, mutu Pendidikan Dasar, rumah sehat, air bersih, dan ekonomi ditingkatkan sungguh-sungguh. Tidak melalui proyek pemerintah. Kita didik rakyat agar kerja sendiri, pertanggungjawabkan sendiri. Saya juga harus keliling lihat kampung demi kampung, karena kita baru mulai. Semua harus disiapkan dulu. Kita melatih pelatih untuk melatih mereka. Biaya besar dan sekarang 2008 baru mulai dengan People Driven Development Strategy. Dan 5-10 tahun ke depan dana untuk mereka kelola sendiri bisa mencapai 15 trilyun.

3. Menjaga masyarakat Papua yang penuh konflik agar menjadi satu tanah yang damai. Rakyatnya harus tertib, disiplin dan menghormt HAM dan nilai-nilai kemanusiaan. Supaya tidak ada perang suku dan konflik, tetapi yang terjadi penegakan hukum (Law and Order).

4. Infrastruktur. Papua seperti sekarang belum sama seperti ketika Daendels membangun Jawa [pada awal abad ke-19]. Di Papua semua orang harus naik pesawat terbang karena 70% transportasi Papua bergantung pada udara Ini mengakibatkan high cost economy. Karena itu dibangun infrastruktur: jalan darat dan udara dipadukan dalam way intergrated transportation. Kita masih kekurangan dana. Infrastruktur penting membuka akses ekonomi masyarakat, supaya terbuka dari isolasi fisik dan informasi. Karena itu, energi kita bangun dari tenaga minyak. Mudah-mudahan suatu hari energi listrik di Papua bersumber dari air, angin, matahari terbangun. Air bersih kita tangani semua, untuk pertumbuhan. Seperti raksasa yang tidur, kekayaan alam ini harus dikelola supaya jangan ia bunuh rakyat karena yang ambil orang dari luar. Inilah agenda yang saya kerjakan dua tahun ini.

Sebelum saya akhiri, saya ingin buka sedikit tentang hubungan kemitraan gereja, pemerintah dan masyarakat.

Pertama, Sejarah Papua mencatat bahwa dasar-dasar untuk

membangun peradaban Papua diletakkan sejak Injil masuk 150 tahun lalu di Mansinam. Papua dibangun oleh para misionaris dan bukan oleh pemerintah. Tidak ada satu tempat pun di Papua yang dibuka oleh pemerintah. Semuanya dibuka oleh gereja. Mereka yang

meletakkan dasar-dasar Papua. Pendidikan 100% milik gereja, tidak ada pemerintah. Oleh karena itu, kuasa Injil yang meletakkan dasar ini sebagai benang merah harus terus dipertahankan, terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Oleh karena itu, peran ini hendaknya dipertahankan. Sangat disayangkan, ereja kini lebih banyak berdemo daripada berbuat yang berarti. Karena itu saya kumpulkan semua, termasuk Katolik. Sudah dua kali dan sedang direncanakan untuk ketiga kalinya.

Kedua, misi kenabian gereja untuk menegur pemerintah yang

salah hendaknya dilakukan dengan benar dan alkitabiah. Gereja hendaknya melihat perubahan zaman dan menjaga benang merah. Yang tadi saya bilang, Papua sedang berada di persimpangan jalan. Terancam semua bisa mati atau misi penantian ini membawa kita kepada gereja untuk membawa umatnya di tanah Papua. Tapi karena saya juga dari gereja, mari kita urus bersama pembangunan di Papua ini. Kadang-kadang saya berbicara seperti pendeta, dan mereka berbicara seperti politisi. Tapi yang sangat penting adalah misi pengabdian ini.

Ketiga, ketika manusia menjadi titik sentral dari pembangunan,

maka nilai kemanusiaan, etika moral dan rohani hendaknya menjadi pupuk untuk memberikan bentuk, warna, arah dan kekuatan bagi perubahan yang sedang terjadi di Papua. Sejarah bangsa-bangsa di dunia membuktikan bahwa satu bangsa kuat, adil dan sejahtera kalau dibangun di atas nilai rohani, kemanusiaan, etika dan moral. Karena itu, Papua yang mayoritas penduduknya Kristen harus memaknai nilai-nilai ini.

Keempat, pendekatan baru yang bersifat komprehensif dalam

pekabaran Injil, memandang berita anugerah tidak saja rohani, tetapi juga dalam arti jasamani. Pada Markus 8, Yesus memberi makan orang banyak yang telah tiga hari menahan lapar. “Apakah kalian sudah kenyang?” 150 tahun sudah rakyat Papua mendengar berita itu. Mereka bukan saja tiga hari menahan lapar, tetapi 150 tahun. Dan Yesus, Dia juga bertanya kepada mereka: Dorang sudah dengar khotbah? Ada orang pulang dari gereja, orang Yahukimo, mati lapar dan kebetulan gunung tempat ia meninggal adalah gunung emas. Jadi apa artinya pendekatan tentang kesejahteraan jasmani yang dilakukan

oleh pemerintah? Tugas saya sebagai gubernur bukanlah berkhotbah, saya mengurus ekonomi, kesejahteraan. Saya tahu peradaban Papua ada karena gereja. Karena itu, kita beri bantuan bagi gereja, rumah sakit dan sekolah. Itu yang dikerjakan oleh Belanda. Guru pergi mengajar di sekolah dan hari Minggu pun mengajar jemaat. Gajinya dibayar oleh gereja (Belanda) dan itu juga yang akan kita lakukan kini.

Ketika rohani jemaat membaik, tidak usah sepuluh persen, dua persen saja masuk, uang sudah cukup. Masalahya: ketika punya uang, rohaninya kurang baik. Atau rohaninya baik, tapi miskin. Kasih yang ada padanya itulah yang terbesar. Dengan begitu keuangan gereja bertumbuh dari pendapatan yang naik. Itu berarti gereja hidup dari hasil imannya sendiri.

Hal-hal seperti tadi akan kita lakukan. Saya ada dalam posisi tidak boleh hanya teori, harus laksanakan sungguh-sungguh lewat program dengan semua gereja di Papua. Sehingga apa yang disebut nilai-nilai Kekristenan menjadi jelas. Untuk itu perlu dibangun komunikasi intensif dengan pimpinan gereja dan semua pelayan dalam gereja.

Akhirnya saya ingin katakan: kami menanam, kami menyiram dan Tuhan yang menumbuhkan. Kita hanya bisa menanam, kita hanya bisa menyiram, tapi kita tidak boleh lupa bahwa hanya kuasa Tuhan yang menumbuhkan. Buah akan akan kita lihat pada jangka pendek dan jangka panjang, karena Dia adalah pemilik dari ladang ini.

Dalam dokumen Editor: Jan Sihar Aritonang Gomar Gultom (Halaman 99-103)