• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

BAB IV Situasi Upaya Kesehatan Kabupaten Yahukimo

C. Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)

1. Seksi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Tertentu a. P2 Malaria

Malaria masih merupakan masalah bagi masyarakat Kabupaten Yahukimo, Angka malaria di Kabupaten Yahukimo masih cukup tinggi sampai sekarang di tahun 2014 terdapat 14.708 kasus, dimana paling tinggi terjadi pada jenis kelamin perempuan sebesar 7.406 orang dan jenis kelamin laki-laki sebesar 7.302 orang. Dari total kasus tersebut dilaporkan kasus kematian akibat Malaria ada 254 orang dengan tingkatan CFR 1,52 untuk laki-laki dan 1,93 untuk perempuan. Pada tahun 2015 angka kesakitan Malaria yang dilaporkan oleh 31 Puskesmas dengan jumlah suspek Malaria sebesar 4.167 orang yang diperiksa sediaan darah terdapat 949 positif Malaria diantaranya (513 laki-laki dan 436 perempuan) dengan nilai API

(Annual Parasit Incidence) sebesar 28.24 per 1.000 penduduk beresiko.

Data kesakitan Malaria lain yang dilaporkan dari RSUD Dekai bahwa pada data 10 besar penyakit rawat jalan Malaria menempati urutan pertama

laki dan 2.601 perempuan. Sedangkan pada data 10 besar penyakit rawat inap, memiliki kesamaan yaitu Malaria berada pada posisi pertama dengan jumlah penderita sebanyak 1.886 orang diantaranya 1.140 laki-laki dan 746 perempuan. Melihat kecenderungan tingginya kasus malaria mengisyaratkan bahwa Kabupaten Yahukimo wajib menyusun program pengendalian dan eliminasi Malaria yang tepat sasaran.

b. P2 Diare

Kegiatan P2 Diare dilaksanakan oleh puskesmas dengan menemukan, mengobati dan memberi penyuluhan tentang Diare. Pada tahun 2014 dari seluruh Puskesmas diperoleh kasus Diare sebanyak 783 orang (IR = 32%). Insiden Rate tertinggi terjadi di Puskesmas Suru-Suru sebesar 58 % dan terendah terjadi di Puskesmas Samenage sebesar 9%.

Pada tahun 2015 jumlah penderita Diare yang dilaporkan dari 31 Puskesmas berjumlah 685 orang yang terdiri dari 331 laki-laki dan 354 perempuan dengan angka kesakitan Diare per 1.000 penduduk adalah 214 orang. Dilihat dari data kesakitan Diare pada tahun 2015 mengalami penurunan 12,5% bila dibandingkan dengan data kesakitan Diare pada tahun 2014.

c. P2 ISPA

Kegiatan P2 ISPA dilaksanakan oleh Puskesmas dengan menemukan, mengobati dan memberikan penyuluhan tentang ISPA terutama jika terjadi Pneumonia. Jumlah kasus baru Penyakit Pneumonia di Kabupaten Yahukimo pada tahun 2014 sebanyak 113 kasus, ( IR 61,7 %).

Pada tahun 2015 untuk kasus Pneumonia yang dilaporkan oleh 31 Puskesmas sebanyak 114 orang diantaranya 52 laki-laki dan 62 perempuan.

d. P2 TBC

Pada tahun 2014 Jumlah penderita baru terdaftar sebanyak 29 orang yang dikategorikan pasien berobat lengkap ada 27 orang, untuk data kesembuhan akan di evalusi pada tahun 2015. Data penderita TB terdaftar keseluruhan kasus baru plus kasus lama pada tahun 2014 sebanyak 37 penderita semua diobati 72,9% dengan 27 penderita BTA positif, setelah dievaluasi pada tahun 2015 yang dinyatakan sembuh sebanyak 27 penderita (72,9%) pengobatan lengkap sebanyak 27 (72,9%) default (DO) 5 (13,5%) gagal 2 orang (5,4%) pindah 2 orang (5,4 %) dan meninggal 1 orang (2,7%).

Tahun 2015 jumlah kasus baru TB BTA+ yang dilaporkan hanya Puskesmas Dekai dengan jumlah penderita sebanyak 22 orang diantaranya 13 laki-laki dan 9 perempuan dan kasus TB Anak usia 0-14 tahun berjumlah 8 orang. Jumlah penderita TB yang diobati adalah 22 orang dengan angka kesembuhan 9,09% karena hanya 2 penderita saja yang terdata sedangkan angka pengobatan lengkap meningkat signifikan menjadi 19 orang dengan angka keberhasilan pengobatan sebesar 95,45%.

Data kesembuhan penderita TB pada tahun 2015 telah sesuai target karena menunjukkan bahwa angka tersebut melampaui target kesembuhan (85%). Hal tersebut dimungkinkan karena :

1) Terjadinya penunjukkan wasor baru untuk program TB kabupaten sebagai pilot project adalah Puskesmas Dekai dan RSUD Dekai sehingga terjadi peningkatan sistem pengawasan waktu penderita konversi. 2) Pekerjaan juru TB puskesmas dan rumah sakit diberikan pelatihan yang

memadai tentang pengawasan dalam pengobatan maupun waktu konversi penderita TB.

3) Meningkatnya partisipasi masyarakan untuk memeriksakan dahaknya pada waktu konversi.

4) Untuk setiap penderita TB yang terjaring menerima perlakuan untuk dilakukan pemeriksaan kolaborasi TB-HIV guna mengetahui status jelas penderita apakah hanya mengidap TB saja atau terpapar HIV/AIDS. e. P2 Kusta

Untuk data Kusta pada tahun 2015 hanya 1 Puskesmas yang melaporkan yaitu Puskesmas Dekai bahwa terdapat 2 penderita kusta tipe Multi Basiler dan 2 penderita Kusta tipe PB dan MB, dimana keempatnya berjenis kelamin laki-laki sesuai dengan daftar laporan dari Puskesmas Dekai (Lampiran Tabel 14). Dari 4 penderita tersebut yang belum dikategorikan RFT MB dan PB dikarenakan 4 penderita tersebut telah pindah ke kampung lain.

f. P2 Frambusia

Dalam upaya pemberantasan Frambusia , Kabupaten Yahukimo pada tahun 2014 telah melaksanakan beberapa kegiatan yaitu : Penemuan rutin melalui kunjungan penderita ke puskesmas, Kegiatan mobile klinik terpadu dan penemuan yang dilakukan melaui survei di lapangan. Puskesmas yang berhasil dilaksanakan survei Frambusia adalah Puskesmas Dekai dan hasilnya Frambusia M sebanyak 4 orang . Penemuan secara rutin ditemukan di Puskesmas Dekai sebanyak 5 orang sedangkan melalui mobile klinik sebanyak 2 orang total 11 penderita dengan kontak 165 orang semua diobati 100%.

Untuk kegiatan penemuan penyakit Frambusia pada Tahun 2015 tidak ditemukan kasus baru hanya lanjutan pengobatan kepada pasien Frambusia yang terdaftar pada tahun 2014.

g. P2 Filaria

Data kesakitan Filariasis sebagai kasus baru yang dilaporkan pada tahun 2015 berjumlah 18 orang diantaranya 11 laki-laki dan 7 perempuan. Jika dijumlahkan dengan data penderita lama yang sedang mengikuti program pengobatan semuanya berjumlah 24 orang. Puskesmas yang melaporkan kejadian Filariasis adalah Puskesmas Dekai (10 kasus), Puskesmas Suru-Suru (5 kasus), Puskesmas Seradala (3 kasus).

h. P2 IMS dan HIV-AIDS

Kasus HIV AIDS Kabupaten Yahukimo secara kumulatif sampai dengan Desember 2014 berjumlah 30 Kasus yang terdiri dari HIV 4 orang dan AIDS 26 orang. Dari 30 penderita dilaporkan meninggal 2 orang terjadi pada jenis kelamin laki-laki dengan usia interval 50-59 tahun.

Pada Tahun 2015 data kesakitan HIV yang dilaporkan oleh RSUD Dekai yang memiliki fasilitas VCT IMS/HIV-AIDS berjumlah 31 orang dengan rincian laki-laki 17 orang dan perempuan 14 orang. Jumlah penderita HIV meningkat signifikan di tahun 2015 jika dibandingkan dengan data HIV tahun 2014 dari 4 kasus HIV menjadi 31 kasus HIV dengan peningkatan kasus sebesar 7,8 kali lipat. Sedangkan angka penderita AIDS dilaporkan oleh RSUD Dekai terdapat 10 penderita dengan rincian 2 laki-laki dan 8 perempuan. Jumlah penderita AIDS di tahun 2015 menurun 38,5% jika dibandingkan dengan data penderita AIDS di tahun 2014.

Jumlah kematian yang disebabkan oleh AIDS di tahun 2015 ada 3 kasus 1 adalah laki-laki dan 2 perempuan yang terjadi pada kelompok umur 25-49 tahun. Selain HIV-AIDS penyakit infeksi menular seksual yang dilaporkan adalah penderita Syphilis dengan jumlah penderita sebanyak 12

orang semuanya adalah laki-laki kelompok umur 25-49 tahun yang terdata di RSUD Dekai.

Kasus HIV-AIDS beberapa tahun ini cenderung terus meningkat seiring dengan meningkatnya pelayanan VCT di RSUD Dekai. Hal ini dimungkinkan karena adanya masyarakat yang memilih layanan VCT di RSUD Dekai. Angka kasus tersebut dapat dipastikan belum angka puncak bila di kaitkan dengan angka survei terpadu HIV perilaku pada tahun 2006 yang menyatakan prevalensi di Papua diperoleh angka 2,4 % untuk usia 15 s/d 49 tahun terinfeksi HIV. Dengan demikian masih banyak yang belum terdeteksi, sehingga masih perlu upaya yang gigih untuk menemukan dan menangani secara komprehensif dengan harapan dapat menghambat penularan dan memberdayakan serta meningkatkan kwalitas hidup orang yang terinfeksi HIV.

i. Surveilans Epidemiologi dan Penanggulangan Wabah

Kegiatan Surveilans Epidemiologi dan penanggulangan wabah tahun 2015 terdiri dari :

1) SKD KLB- Wabah

SKD (Sistem Kewaspadaan Dini ) suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah secara dini terjadinya KLB-Wabah. Kegiatan yang dilakukan adalah membuat pemantauan terhadap beberapa penyakit menular yang potensial terjadi KLB-Wabah setiap minggu dengan memperhatikan variabel epidemiologi yaitu Tempat, Waktu dan Orang dalam bentuk Laporan W2 puskesmas.

Laporan W2 Puskesmas diharapkan kelengkapan 100% dan ketepatan mencapai 95%, hasil yang diperoleh secara kabupaten kelengkapan dan ketepatan laporan W2 puskesmas sampai dengan 10

Januari 2016 adalah Kelengkapan 12,9% (4 Puskesmas yang melapor dari total 31 puskesmas) dan ketepatan 9,7% (3 Puskesmas yang benar laporan W2 dari 4 Puskesmas yang melapor).

2) Penanggulangan Wabah

Pada tahun 2014 di Distrik Seradala di Kampung Burukmakot terjadi KLB-Wabah diare yang diakibatkan oleh sumber mata air yang tercemar Bakteri E.colie yang di gunakan oleh masyarakat untuk MCK. Penderita diare berjumlah 185 orang dan meninggal 12 orang (CFR = 11,7%). Kronologis singkat menjelaskan terjadi KLB Diare adalah sehubungan dengan cara makan yang tidak higiene yang mana makanan yang dimakan tidak melalui proses memasak secara benar atau di cuci bahan makanan di tempat mata air yang sudah banyak tercemar bakteri

E-Colie sehingga menyebabkan diare.

KLB ini di tangani segera setelah ada laporan dari Puskesmas Seredala, Kegiatanya meliputi; Penyelidikan KLB, Pengobatan Massal, Koordinasi dengan Pemda Kabupaten Yahukimo dan penegakan diagnosis dengan pemeriksaan laboratorium. Angka kesakitan dan kematian tidak bertambah setelah dilakukan kegiatan penanggulangan.

Pada tahun 2015 tidak dilaporkan adanya kejadian luar biasa penyakit tertentu dari 31 puskesmas.

3) Penemuan Kasus AFP

Kegiatan penemuan kasus AFP adalah upaya pembuktian bahwa di suatu daerah bebas dengan kasus polio liar. Kegiatannya adalah penemuan kasus lumpuh layu mendadak = Acute Flasyd Paralisis pada usia kurang dari 15 tahun. Target penemuan kasus adalah 2 / 100.000

Kabupaten Yahukimo belum melaksanakan kegiatan penemuan kasus AFP.

2. Seksi Imunisasi

Program Imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat yang paling efektif dan telah di selenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Dengan program ini Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun 1974. Selain itu dengan telah di perluasnya program immunisasi menjadi program pengembangan immunisasi sejak tahun 1977, Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I ) dapat di tekan.

Pada tahun 2015 kegiatan immunisasi di Kabupaten Yahukimo yang lapor hanya Puskesmas Dekai sedangkan 30 puskesmas lainnya tidak melakukan kegiatan imunisasi dikarenakan penyediaan vaksin yang terbatas dan perlengkapan rantai vaksin (cold chain dan vaksin carrier) yang belum ada ditambah petugas kesehatan yang tidak selalu ada di tempat tugas dikarenakan sulitnya transportasi regular dari ibu kota kabupaten ke distrik-distrik. Untuk mensiasati agar imunisasi dapat dilaksanakan di puskesmas yang ada di gunung-gunung biasanya dilakukan pada saat pengiriman tim medis mobile klinik dengan kegiatan kunjungan pelayanan kesehatan di kampung-kampung dan langsung dilakukan imunisasi masal dan tidak menjangkau seluruh kampung hanya bertempat di lokasi kegiatan pengobatan di distrik atau di Puskesmas.

Seharusnya kegiatan yang dilaksanakan adalah Peningkatan immusisasi (sweeping akselerasi cakupan), Pelaksanaan Vaksinasi bagi Anak Sekolah dan imunisasi Wanita Usia Subur (TT WUS).

a. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Kasus PD3I sampai saat ini belum diketahui karena pelaksanaan imunisasi dasar di 31 Puskesmas dan 65 Pustu belum semuanya terlaksana

disebabkan kendala distribusi logistik Vaksin, Cold Chain, tidak adanya Perangkat Listrik Non PLN yang memadai, jarak kampung wilayah kerja yang jauh, kendala geografis dan lain sebagainya.

b. Upaya Peningkatan Imunisasi

Dalam upaya peningkatan immunisasi bertujuan agar seluruh bayi yang ada di Kabupaten Yahukimo memperoleh imunisasi dasar secara lengkap dan terlindung dari ancaman penularan penyakit yang dapat di cegah dengan Imunisasi ( PD3I ).

Beberapa upaya yang telah dilakukan adalah: 1) Imunisasi Rutin

Imunisasi rutin adalah imunisasi yang dilakukan di puskesmas secara rutin sehingga cakupan tergantung dari kunjungan bayi yang datang dan diberikan imunisasi.

2) Imunisasi Anak Sekolah

BIAS merupakan Bulan Immunisasi Bagi Anak Sekolah yang mana sasarannya adalah anak Sekolah Dasar kelas I s/d kelas III laki-laki maupun perempuan. Pelaksanaan BIAS di lakukan pada bulan Oktober dengan jadwal pemberian : kelas I : imunisasi DT dan Campak, sedangkan kelas II dan III imunisasi TT.

Sebelum pelaksanaan BIAS, petugas Kabupaten melakukan Koordinasi ke 31 Puskesmas untuk mengetahui persiapan yang berhubungan dengan pelaksanaan BIAS, seperti jumlah sekolah, jumlah sasaran dan logistik (vaksin, ADS, safetybox, formulir pelaporan, buku BIAS, format (KIPI ). Namun pada tahun 2015 BIAS tidak dilakukan karena tidak disertakan jadwal BIAS dalam POA bulanan Puskesmas.

Berikut adalah data imunisasi Puskesmas Dekai yang dilaksanakan pada Tahun 2015.

Grafik 4.2 Data Imunisasi Puskesmas Dekai Tahun 2015

134 151 134 151 123 123 121 121 0 20 40 60 80 100 120 140 160 Laki-Laki Perempuan Sasaran Imunisasi Ju ml ah T ar ge t S as ar an DPT-HB Polio Campak Imunisasi Lengkap

4.3 Diagram Imunisasi Puskesmas Dekai Tahun 2015

Laki-Laki, DPT-HB, 26% Laki-Laki, Imunisasi Lengkap, 24% Laki-Laki, Polio, 26% Laki-Laki, Campak, 24% DPT-HB Polio Campak Imunisasi Lengkap

3. Seksi Penyehatan Lingkungan

Kegiatan pada tahun 2015 masih terfokus pada penyehatan lingkungan, meliputi:

a. Pemantauan Kwalitas Air Bersih

Dalam rangka meningkatkan kwalitas air di masyarakat baik air bersih maupun air minum agar layak dan aman dikonsumsi maka setiap tahun dilakukan pengambilan dan pemeriksaan sampel air. Untuk pemantauan Kwalitas air tahun ini selain melakukan pemeriksaan lab juga dilakukan penyuluhan kepada masyarakat.

b. Pendataan Sarana Kesehatan Lingkungan

Dari hasil pendataan petugas sanitarian puskesmas yang melaporkan hanya Puskesmas Dekai dengan jumlah rumah tangga 3.679 KK dan jumlah penduduk 17.654 jiwa dan rumah yang di data sebanyak 130 rumah yang diperiksa. Dari data rumah di Distrik Dekai yang diperiksa diperoleh data sebagai berikut :

1) Rumah sehat sebanyak 70 dan tidak sehat sebanyak 68 2) Pekarangan sehat sebanyak 70 dan tidak sehat sebanyak 68

3) Kepadatan Jentik sebanyak 100% dan bebas tikus sebanyak 15 rumah 4) Kandang ternak 120 kandang yang terpisah sebanyak 91 kandang dan

yang tidak terpisah sebanyak 29 kandang.

5) Data jumlah keluarga yang didata ada sebanyak 130 rumah dengan jumlah pengguna ada 237 orang dengan hasil sebagai berikut :

 Keluarga yang memiliki Jamban sebanyak 130 KK sebanyak 130 jamban berjenis leher angsa.

 Keluarga yang memiliki SPAL sebanyak 70 KK

 Dari pendataan TTU ( Tempat-Tempat Umum) jumlah yang terdaftar sebanyak 21 TTU diperiksa sebanyak 21 TTU yang memenuhi syarat sebanyak 20 TTU.

 Untuk tempat pengolahan makanan dan minuman (TPM) yang diperiksa berjumlah 50 TPM yang memenuhi syarat hygiene sanitasi ada 28 TPM (56%) dan tidak memenuhi syarat hygiene sanitasi berjumlah 22 TPM (44%).

c. Kegiatan Desa STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat)

Kegiatan ini belum dilaksanakan di kampung-kampung karena keterbatasan anggaran, seharusnya Kegiatan ini wajib dilaksanakan karena terdiri dari beberapa kegiatan yaitu :

1) Pelatihan Kader Kesehatan Lingkungan. 2) Assesment (Penilaian Kesehatan Lingkungan). 3) Higiene Promosi dan Pemicuan CLTS.

4) Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat. 5) Evaluasi Program.

Muatan dari kegiatan ini sesuai dengan 5 Pilar dalam STBM yaitu : 1) Stop BABs

2) CTPS ( Cuci Tangan Pakai Sabun).

3) PAM-RT ( Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga ). 4) Pengelolaan Samapah Rumah tangga.

5) Pengelolaan Limbah cair rumah tangga.

Tujuan dari kegiatan ini adalah supaya masyarakat dapat ber PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sehingga tercipta kampung bersih dan masyarakat yang sehat, juga ada peran serta masyarakat untuk peduli

terhadap lingkungan dan dapat pula membangun sarana sanitasi secara swadaya atau gotong royong. Dengan ini diharapkan masyarakat dapat melaksanakan atau mempraktekkan 5 pilar STBM tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat akan semakin sehat dan kampung akan semakin bersih.

Dokumen terkait