• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Jenis-jenis Sumberdaya Hutan yang Dimanfaatkan

B.1. Jenis-jenis Sumbe rdaya Hutan yang Dimanfaatkan dan Persentase Pemanfaat

3. Biji Akasia

Akasia nilotica sangat identik dengan TN Baluran. Pohon ini melimpah ruah dan penyebarannya pun cukup cepat di kawasan TN Baluran. Hampir di setiap zonasi dalam kawasan TN Baluran ditemui pohon akasia sehingga mempermudah masyarakat untuk mengambilnya (Lihat Lampiran 5). Lokasi- lokasi yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar TN Baluran antaralain di Alas Malang, Watu Numpuk, Sumber Kodung, Bilik, Merak, Balanan, Lempuyang, Kajang, Bekol, Pal Boto, Paleran, dan di sepanjang pinggir jalan raya mendekati pos Karang Tekok.

Dengan penyebaran tersebut di atas, tak heran jika masyarakat desa penyangga TN Baluran banyak yang memanfaatkan akasia dari dalam kawasan TN Baluran. Selain kayunya yang dipergunakan sebagai bahan bakar, bijinya pun dimanfaatkan untuk campuran kopi dan bisa juga dibuat kecambah untuk sayur.

Pada musim kemarau biji akasia sudah mulai tua dan masak antara bulan Juni-September.

Pengambilan biji akasia oleh masyarakat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan memungut dari biji yang jatuh di lantai hutan maupun dengan menggunakan alat yang dapat menjangkau biji akasia di pohonnya. Pengambilan tersebut dapat menekan laju pertumbuhan akasia sejauh kegiatan pemanfaatan dilakukan tanpa merusak kawasan di sekitar lokasi pemanfaatan. Tetapi ada sebagian masyarakat untuk memanfaatkannya mereka melakukan penyelipan (penjemuran dengan membuang kulitnya untuk mendapatkan biji akasia bersih) di jalan raya untuk pos Karang Tekok (dari arah batangan). Kadang-kadang bekas dari penyelipan dibakar dipinggir jalan tersebut

Pada umumnya, pengambil biji akasia yaitu kaum perempuan. Sebagian diantaranya membawa sepeda untuk mencari biji akasia ke dalam kawasan TN Baluran. Tetapi tak sedikit juga yang jalan kaki baik sendiri maupun bersama temannya. Mereka biasanya berangkat mencari biji tersebut pagi-pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Dalam sekali mencari biji akasia diperoleh 3-20 kg. Setelah terkumpul ±1 kuintal baru biji tersebut diselip di jalan ataupun di pekarangan rumahnya. Penyelipan yang dilakukan di jalan raya biasanya dimulai dari pukul 06.00-13.00 WIB. Penyelipan tersebut untuk mempermudah pemanfaatan karena selain kondisinya yang panas di atas aspal juga dibantu dengan kendaraan yang menggilasnya sehingga biji-biji akasia cepat mengelupas dari kulitnya. Setelah itu, baru disapu dan ditampi. Hasil tampiannya dipisah antara kulit yang terbuang dengan biji yang sudah lepas dari kulitnya. Kemudian dianginkan supaya bersih dari kulitnya dan terakhir ditampi kembali. Setelah itu barulah biji akasia siap

untuk dijual. Harga biji akasia bersih mencapai Rp. 1.500,00 sampai Rp. 3.000,00 per kg.

Dampak pemanfaatan akasia diduga dapat membantu pengelolaan TN Baluran. Hal ini dikaitkan dengan Akasia nelotica sebagai tumbuhan exotic yang merupakan permasalahan dalam pengelolaan TN Baluran. Dalam pengelolaannya justru dilakukan pemberantasan terhadap tanaman tersebut. Sehingga dengan adanya pemanfaatan akasia oleh masyarakat baik itu pengambilan kayunya maupun bijinya diduga akan mengurangi penyebaran akasia. Tetapi jika dalam teknik pemanfaatannya dilakukan penyelipan yang salah misalnya di jalan raya mendekati pos Karang Tekok maka hal ini memicu tumbuhnya akasia dari biji-biji sisa yang tertinggal setelah penyelipan, karena pemanfaat menyapunya ke pinggir jalan dan menampinya. Selain itu, sisa-sisa dari penyelipan tersebut dibakar sehingga menimbulkan polusi udara, musnahnya lapisan humus dan jasad renik serta mengurangi tingkat kesuburan tanah. Dampak negatif lain dari pemanfaatan akasia, semakin banyak orang yang masuk ke dalam kawasan semakin sulit pengawasannya karena memungkinkan pula mengambil sumberdaya hutan lainnya.

Berdasarkan dampak pemanfaatan akasia yang telah dikemukakan di atas, maka pengambilan biji akasia ini diperbolehkan tetapi terbatas pada lokasi- lokasi tertentu dengan teknik-teknik pemanfaaatannya lebih memperhatikan konservasi, tidak seperti kasus penyelipan yang telah dibahas.

Gambar 9. Kegiatan dalam Penyelipan Biji Akasia (Ditampi dan Dianginkan)

Gambar 10. Dampak Penyelipan (Pembakaran)

4. Asam (Tamarindus indica)

Penyebaran pohon asam tidak merata dalam kawasan TN Baluran. Wilayah penyebarannya antara lain sepanjang jalan Batangan-Bekol, Bekol, Curah Ulin, Glingseran, Gunung Montor, Alas Malang, Jeding, Bilik, Gatel, dan daerah pondok jaran lainnya.

Dengan penyebaran tersebut, maka mengundang masyarakat sekitar kawasan TN Baluran untuk memanfaatkan buah asam sebagai keperluan rumah tangga atau dijual untuk mencukupi kebutuhan hidupnya atau sebagai pekerjaan sampingan. Pemanfaatan ini berlangsung selama Bulan Juni- Agustus. Pada musimnya tersebut, pemanfaatan asam dapat dilakukan 2-7 kali/minggu. Dalam satu kali pengambilan biasanya diperoleh 1-2 sak asam (1 sak = 5-10 kg). Hasilnya dikumpulkan untuk dijemur kemudian dikupas sehingga didapatkan buah asam bersih yang siap dijual dengan harga Rp. 2.000,00 sampai Rp. 3.000,00/kg. Biasanya mereka mulai mengumpulkan buah asam sekitar pukul 04.00-17.00 WIB selepas pekerjaaan yang lain.

Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat pemanfaat asam, saat ini produksi asam di dalam kawasan TN Baluran lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sehingga pemanfaat asam di desa penyangga TN Baluran pun berkurang dan harga asam saat ini menjadi naik dari ± Rp. 1300,00/kg pada tahun 2004 menjadi Rp. 2.000,00 sampai Rp. 3.000,00/kg.. Menurut pengalaman para pemanfaat asam, ketika musim asam berbuah di dalam kawasan TN Baluran biasanya mereka dikenakan karcis untuk satu kali musim asam berbuah oleh pihak TN Baluran, dengan satu karcis senilai Rp. 10.000,00 dan dibayar kolektif kepada kepala dusun. Walaupun retribusi pungutan tersebut sudah tidak berjalan lagi tapi

dapat dikatakan bahwa hal tersebut merupakan cara yang pernah dilegalkan oleh pihak TN Baluran terhadap pemanfaatan asam.

Pengambilan asam dapat dilakukan dengan berbagai cara memungut dari buah asam yang jatuh di sekitar tegakannya, memanjat pohonnya atau menggunakan galah. Pengambilan dengan memotong cabang atau ranting mengakibatkan menurunnya hasil yang diperoleh pada musim berikutnya karena tajuk menjadi rusak dan pertumbuhan dahan yang dipotong akan mengalami hambatan. Lain halnya apabila pengambilan dilakukan dengan cara menggunakan galah yang ujungnya diberi benda tajam bahkan dengan cara memungut di bawah tegakannya. Hal ini tidak menimbulkan kerusakan yang berarti pada dahan tersebut. Adanya pemanfaat buah asam dapat juga menimbulkan gangguan terhadap ketenangan satwa. Pola penyebaran satwa sering terganggu dan terhalau oleh pemanfaat buah asam pada waktu satwa beristirahat.

Dalam rangka menjaga kelestarian pohon asam, sebaiknya pihak pengelola TN Baluran melakukan atau menetapkan pengaturan dalam pola pemanfaatan asam dengan cara dan mekanisme yang aman tanpa merusak kelestarian pohon tersebut. Selain itu, untuk meminimalisir gangguan terhadap ketenangan satwa dilakukan pengaturan lokasi atau zonasi pengambilan buah asam tersebut.

Dokumen terkait