• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Jenis-jenis Sumberdaya Hutan yang Dimanfaatkan

B.1. Jenis-jenis Sumbe rdaya Hutan yang Dimanfaatkan dan Persentase Pemanfaat

5. Kayu Bakar

Kayu bakar yang berasal dari dalam kawasan TN Baluran diambil dari daerah Bunutan, Licin, Paleran, Pengarengan, Tlogo, Gatel, Tekok Abu, Alas Malang, Watu Numpuk, dan Lemabang untuk masyarakat pemanfaat kayu bakar

dari Desa Sumberwaru dan Desa Sumberanyar. Sedangkan untuk Desa Wonorejo, Bajulmati dan Watukebo, mereka mengambil kayu bakar dari daerah Kedung Bunder, Siroko, Kali Kepuh, Pal Boto, Puyangan, Curah Ulin, Perengan. Lokasi-lokasi tersebut sebagian besar termasuk ke dalam daerah penyangga TN Baluran (Lihat Lampiran 5).

Pemanfaatan kayu bakar sebagai bahan bakar masih banyak dilakukan oleh masyarakat desa penyangga TN Baluran. Sebagian masyarakat tersebut mengumpulkan kayu bakar dari dalam kawasan TN Baluran untuk digunakan sendiri dan sebagian besar lainnya untuk dijual sebagai penghasilan utama maupun sebagai penghasilan tambahan.

Kegiatan pemanfaatan kayu bakar dimulai pukul 06.00-17.00 WIB dengan lama pemanfaatan 2-4 jam/individu dalam 2-7 kali/minggu. Jenis kayu yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat TN Baluran antara lain akasia (Acacia nelotica), walikukun (Schoutenia ovata), talok (Grewia acuminata), jati (Tectona grandis), kesambi (Scleicheira oleosa), dan asam (Tamarindus indica).

Sebagian besar dari pemanfaat kayu bakar menggunakan sepeda dan motor sebagai alat transportasi dan pengangkutan kayu bakar. Selain itu, sebagian lagi berjalan kaki dengan memikul atau menyunggi kayu tersebut, ada juga yang menggunakan truk untuk pengambilan di zona penyangga yang dikelola Perhutani. Pemanfaatan kayu bakar yang menggunakan sepeda dan motor bisa mengambil kayu dalam satu kali ke hutan ± 2-5 ikat sedangkan pemanfaat yang memikul atau menyunggi hanya mengambil ± 1-2 ikat. Pengambilan dengan menggunakan kendaraan truk di zona penyangga dilakukan secara berkelompok sekitar 4-10 orang dan dalam volume pemanfaatan 120-200 ikat/truk.

Kayu bakar yang diperoleh oleh pemanfaat baik yang memikul, menyunggi maupun menggunakan sepeda dan motor biasanya dijual ke Pasar Galean, Pasar Asem Bagus maupun ke restoran-restoran yang membutuhkannya. Harga per ikat kayu bakar mencapai Rp. 1.500,00 sampai Rp.3.000,00. Sedangkan kayu bakar yang diangkut dengan truk biasanya langsung dijual ke Pabrik Kapur, Pabrik Batu Merah atau Pabrik Genting dengan harga Rp. 160.000,00 sampai Rp.200.000,00/truk. Sedangkan harga beli dari para pengambil kayu di hutan mencapai Rp.40.000,00 sampai Rp.85.000,00/truk.

Pengambilan kayu bakar yang selama ini dilakukan tidak hanya dalam bentuk mengambil ranting-ranting atau cabang-cabang pohon yang sudah kering, tetapi juga dalam bentuk menebang pohon. Pemanfaatan kayu bakar bila dilakukan dengan cara mengambil ranting-ranting tidak menimbulkan dampak yang berarti terhadap vegetasi di lokasi pemanfaatan. Namun bila pengambilan dilakukan dengan cara menebang pohon akan menimbulkan perubahan terhadap vegetasi di lokasi pemanfaatan tersebut. Pengambilan dengan cara tersebut biasanya memerlukan waktu yang lama karena kayu tersebut disimpan terlebih dahulu agar na mpak seperti kayu kering pada saat pengangkutannya dari kawasan TN Baluran. Selain itu juga, dengan menebang pohon dapat menimbulkan kelangkaan jenis tegakan dan mengurangi atau menghilangkan habitat satwa.

Dalam mengendalikan pengambilan kayu bakar tersebut diantaranya dengan memberikan penyuluhan dan pemahaman secara intensif kepada masyarakat akan dampak dari perusakan tersebut. Disamping itu, perlu juga patroli lapangan secara rutin/terpadu. Upaya lainnya yaitu adanya koordinasi dengan Perum Perhutani terutama dalam hal pengembangan hutan untuk kayu bakar dan adanya pengaturan dari pihak TN Baluran mengenai lokasi dan mekanisme pengambilan yang memperhatikan konservasi.

6. Rumput

Seperti halnya kayu rencek, lokasi pemanfaatan rumput juga antara lain di Bunutan, Licin, Alas Malang, Lemabang, Watu Numpuk, Air Tawar, Paleran, Pengarengan, Tlogo, Gatel, Tekok Abu, Puyangan, Perengan, Sumiang dan sepanjang Batangan-Bekol (Lihat Lampiran 5).

Pengembalaan liar di dalam kawasan TN Baluran telah memicu masyarakat di sekitarnya untuk memanfaatkan rumput sebagai pakan ternaknya. Walaupun telah menggembalakan ternaknya tiap hari ke hutan tetapi tetap saja mereka juga mengambil rumput untuk mencukupi pakannya selama di kandang. Pemanfaatan rumput umumnya dilakukan oleh masyarakat Desa Sumberwaru, Desa Wonorejo dan Desa Bajulmati. Pemanfaatan tersebut berlangsung sepanjang musim dengan intensitas pemanfaatan hampir terjadi setiap hari.

Jenis rumput yang biasa dimanfaatkan seperti lamuran (Arundellia setosa), merakan (Apluda mutica), lamuran putih (Dichantium caricosum), kolonjono (Brachiaria sp), gajah- gajahan (Scleractine punctata), jarong (Shchytarheta jamaincensis), alang-alang (Imperata cylindrica) dan padi-padian (Shorgum nitidus).

Selain dipikul, pemanfaat rumput biasanya mengambil rumput dengan menggunakan sepeda. Dalam satu sepeda, rumput yang diambil bisa mencapai 1-3 ikat. Rumput tersebut jarang sekali untuk diperjualbelikan tetapi bila rumput tersebut ditukar dengan barang lain ataupun dijual maka bisa mencapai harga ± Rp. 2.500,00 sampai Rp 5.000,00/ikat.

Rumput termasuk kelompok flora yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pemanfaatan tradisional pada kawasan pelestarian alam (Sriyanto 2005). Tetapi walaupun demikian pengambilan rumput dalam kawasan TN Baluran menyebabkan turunnya potensi persediaan pakan satwa liar herbivor. Selain itu pengambilan rumput juga memicu pemanfaat untuk mengambil sumberdaya hutan lainnya dari dalam kawasan TN Baluran. Seperti pada jenis sumberdaya hutan yang telah dikemukakan terdahulu, dalam mengendalikan dampak tersebut

diperlukan pembatasan lokasi dan pengaturan cara dan mekanisme yang aman sehingga potensi sumberdaya hutan tetap lestari.

7. Rambanan

Seperti halnya dengan rumput, pemanfaatan rambanan dilakukan hampir setiap hari di daerah Tekok Abu, Lemabang, Licin, Watu Numpuk, Alas Malang, Paleran, Pengarengan, Tlogo, Gatel, Puyangan, Perengan, Sumiang dan sepanjang Batangan-Bekol. Rambanan atau daun-daun muda dimanfaatkan juga oleh masyarakat desa penyangga TN Baluran sebagai pakan ternak kambing.

Adapun jenis-jenis yang dimanfaatkan antara lain lamtoro (Leucaena leucocephala), walikukun (Schoutenia ovata), kesambi (Scleicheira oleosa), asam (Tamarindus indica), talok (Grewia acuminata), kayu pahit (Diospyros montana), janti (Sesbania sericea).

Pemanfaatan rambanan umumnya dilakukan oleh masyarakat Desa Wonorejo dan Desa Sumberwaru. Biasanya pengambilan rambanan dilakukan sembari mengambil rumput juga khususnya dilakukan oleh masyarakat yang memiliki ternak sapi dan kamb ing. Sama halnya dengan pengambilan rumput, selain dipikul pengambil rambanan juga lebih banyak menggunakan sepeda. Sehingga dalam satu sepeda memuat 1-2 ikat rumput dan 1 ikat rambanan. Rambanan biasanya mereka gunakan untuk keperluan ternaknya sebagai pakan ternak sehingga sangat jarang ditemui masyarakat yang menjual rambanan karena TN Baluran menyediakan cukup banyak pakan ternak tersebut. Berdasarkan wawancara, seandainya rambanan tersebut mereka jual maka harga 1 ikat rambanan yaitu Rp.1.500,00 sampai Rp. 3.000,00.

Sama halnya dengan rumput, pengambilan rambanan juga dalam kawasan TN Baluran menyebabkan turunnya potensi persediaan pakan satwa liar herbivor.

Selain itu pengambilan rumput juga memicu pemanfaat untuk mengambil sumberdaya hutan la innya dari dalam kawasan TN Baluran. Oleh karena itu, dalam pengambilan rambanan juga perlu pengaturan yang sesuai dengan konservasi.

8. Madu

Madu merupakan salah satu sumberdaya hutan yang juga dimanfaatkan oleh masyarakat desa penyangga TN Baluran. Umumnya pemanfaatan ini dilakukan oleh masyarakat Desa Wonorejo yang berbatasan langsung dengan TN Baluran. Lokasi pemanfaatan madu di dalam kawasan TN Baluran antara lain di timurnya Rawo Jambe, Kali Kepuh, Palokan, Curah Ulin, Glingseran, Gunung Lengker, Bekol.

Pemanfaatan madu biasanya dilakukan pada musim tumbuhan berbunga antara Bulan Juni sampai Bulan Agustus. Berdasarkan wawancara, pada musimnya hampir tiap hari sebagian masyarakat mencari madu ke dalam kawasan TN Baluran. Berdasarkan wawancara, dalam sehari pencari madu bisa mendapatkan madu 2-3 botol. Tetapi adakalanya juga dalam sehari tersebut mereka tidak mendapatkan madu sama sekali. Pengambilan madu menggunakan asap untuk mengusir lebahnya. Setelah didapat madu tersebut kemudian diperas, disaring untuk diambil airnya dan dimasukkan ke botol. Satu botol madu dijual dengan harga Rp 20.000,00 sampai Rp 25.000,00.

Pengambilan madu juga memicu pemanfaat untuk mengambil sumberdaya hutan lainnya yang dikhawatirkan merusak kelestarian potensi sumberdaya hutan. Selain itu, karena dalam pengambilannya menggunakan asap sebagai pengusir lebah maka tidak menutup kemungkinan juga terjadinya kebakaran hutan. Sehingga untuk menghindari hal yang demikian, pembinaan daerah penyangga

sangatlah penting. Salah satu cara pembinaan pemanfaat madu yaitu adanya budidaya lebah madu di luar kawasan TN Baluran khusunya di desa penyangga dimana bibitnya berasal dari kawasan TN Baluran. Sehingga dengan cara ini dapat mengurangi atau mungkin menghentikan frekuensi masuknya pengambil madu ke dalam kawasan TN Baluran karena mereka telah memiliki pekerjaan budidaya lebah madu sebagai kegiatan pembinaan desa penyangga yang dikembangkan di luar kawasan TN Baluran.

Dokumen terkait