BAB IV PAPARAN DATA DAN ANALISIS
B. Bimbingan Agama Islam di Panti Asuhan Islahul Muna
Panti asuhan Islahul Muna memiliki beberapa kyai, uztadz dan uztadzah (pengajar), yang masing–masing mengampu mata pelajaran sesuai dengan bidangnya. Adapun keadaan uztadz dan uztadzah (pengajar) di Islahul Muna antara lain :
1. Keadaan Uztadz dan Ustadzah (Pengajar)
Adapun tenaga pendidik (uztadz) panti asuhan Islahul Muna yang memberikan materi keagamaan seperti ngaji Al-Qur‟an dan kitab,
memberikan kuliah setiap minggunya dan memberikan contoh terhadap anak asuh di panti asuhan Islahul Muna ini.
Adapun nama-nama pengajar Islahul Muna dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.4
Daftar Nama Ustadz Panti Asuhan Islahul Muna
No Nama Mengajar
1 K. Rohmat 1. Safinatun Najah
2. Arba‟in Nawawi
3. Qowa‟idul I‟rob
4. Al Imrithi 2 Uztadz Slamet Anwar 1. Fatkhul Qorib I
2. Al Fiyah I 3. Fatkhul Qorib II 4. Fatkhul Mu‟in
43
5. Al Fiyah II 3 Uztadzah Malikhatun S.Ag 1. Fasholatan
2. Tarikh Islam
3. Targhib wa Targhib
4 Uztadz Irham 1. Aswaja
5 Uztadzah Ari 1. Sifaul Jinan 2. Al Qur‟an
6 Uztadz K. H Athok Athari 1. Ta‟limul Muta‟alim
2. Shorof
3. Matnul Ghoyah 4. Aqidatul awam 5. Al Jurumiyah 6. Riyadhu Solihin 7 Uztadz Suroto 1. Al –Qur‟an
2. Sistem Pendidikan Panti Asuhan Islahul Muna
Adapun sistem yang digunakan untuk mendalami kitab–kitab kuning adalah :
a. Sistem Sorogan b. Sistem Weton
Berikut ini akan di bahasa mengenai cara mendalami kitab kuning dengan sistem sorogan dan sistem weton di panti asuhan Islahul Muna
44 a. Sistem Sorogan
Adapun sistem sorogan adalah berasal dari kata sorog (jawa) yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri bergilir menyodorkan kitabnya di hadapan kyai atau badal (pembantunya).
Dalam bentuknya yang asli, cara belajar ini persis seperti yang dilukiskan oleh aboebakar aceh :
Guru atau kyai bisanya duduk di atas sepotong sajadah atau sepotong kulit kambing atau kulit biri-biri, dengan sebuah atau dua buah bantal dan beberapa kitab di sampingnya yang dibawanya, sedang murid–muridnya duduk mengelilinginya, ada yang bersimpuh, ada yang bertopang dagu, bahkan ada yang sambil bertelungkup setengah berbaring, sesuka–sukanya mendengar sambil melihat lembaran kitab, pada halaman yang dibaca gurunya dan dengan sepotong pensil murid–muridnya itu menuliskan catatan-catatan dalam kitabnya mengenai arti atau keterangan lainya.
Setelah guru membaca kitab–kitab arab yang gundul tidak berbaris itu, menerjemahkan dan memberikan keterangan yang perlu. Maka dipersilahkan salah seorang muridnya membaca kembali matan lafadz yang sudah diterangkan itu. Dengan demikian murid-murid terlatih dalam pimpinan gurunya tidak saja dalam mengartikan naskah–naskah arab itu, tetapi juga dalam membaca bahasa arab itu dengan menggunakan pengetahuan ilmu bacanya atau nahwunya.
45
Demikian itu dilakukan bergilir–gilir dari pagi sampai petang yang diikuti oleh murid–murid yang berkepentingan sampai kitab-kitab itu tamat bacanya.
Sistem ini tetap dipertahankan oleh pondok–pondok pesantren, termasuk diadopsi oleh panti ini, dikarenakan banyak manfaat dan faedah yang mendorong santri untuk lebih giat dalam mengkaji dan memahami kitab–kitab kuning yang mempunyai nilai tinggi dalam kehidupan manusia. Sistem ini membutuhkan ketekunan, kesabaran, kerajinan, ketaatan dan kedisiplinan yang tinggi dari santri.
Sistem sorogan amat intensif karena dengan sistem ini seorang santri dapat menerima pelajaran dan pelimpahan nilai–nilai sebagai proses pembiasaan kebudayaandi pesantren.
Metode ini dalam dunia modern dapat dipersamakan dengan istilah tutorship atau menthorship. Metode pengajaran semacam ini diakui paling intensif karena dilakukan seorang demi seorang dan ada kesempatan untuk tanya jawab secara langsung.
Tutor adalah guru yang mengajar di rumah, guru privat atau guru yang mengajar sekelompok murid di perguruan tinggi atau universitas. Sedangkan tutorship adalah jabatan atau tugas guru pembimbing atau wali.
46 b. Sistem Weton
Sistem weton atau biasa disebut juga bandungan atau halaqoh, yaitu dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai atau dalam ruangan (kelas) dan kyai yang menerangkan penjelasan secara kuliah. Para santri menyimak kitab masing–masing dan membuat catatan atau mengesahi (jawa, mengesahkan) dengan memberi catatan pada kitabnya untuk mengesahkan bahwa ilmu itu telah diberikan oleh kyai atau uztadz.
Sistem weton adalah sistem yang tertua di pondok pesantren menyertai sorogan dan tentunya merupakan inti dari pengajaran di suatu pesantren.
Materi (kitab) yang pernah diajarkan kepada santri dari dahulu sampai sekarang sama, yaitu meliputi : nahwu/shorof, tauhid, taswuf, dan hadis.
Tetapi dari satu periode ke periode berikutnya materi di atas tidak selalu diikuti oleh para santri yaitu kitab-kitab yang berkaitan dengan ilmu alat.
Sistem weton merupakan sistem yang banyak dipakai di pondok pesantren. Hal tersebut secara nyata bila kita lihat dari tingkat perbandingan kyai atau uztadz memiliki sejumlah santri dan kebanyakan pula para santri memiliki sistem weton.
47
Sistem weton membutuhkan sarana yang tetap berupa ruangan kelas sebagaimana sistem madrasah. Karena jumlah pengikutnya lebih besar dari sistem sorogan.
3. Materi dan Kurikulum Madrasah Diniyah Islahul Muna
Digunakanya materi dan kurikulum ini adalah dengan harapan agar tujuan yang hendak dicapai terarah dan dapat direalisasikan. Demikian halnya materi dan kurikulum yang diberikan di panti asuhan (Madrasah Diniyah) Islahul Muna adalah sebagai berikut :
a. Tingkat Dasar ( Kelas I Ula)
Diberikan kepada santri awal sebagai dasar dalam mempelajari agama di panti asuhan Islahul Muna (Madrasah Diniyah). Pada tahap awal materi yang diajarkan antara lain :
1) Sifaul Jinan 2) Risalatul Quro‟ 3) Aqidatul Awam 4) Fasholatan 5) Al-Qur‟an 6) Alala b. Kelas II Ula
Setelah menamatkan tingkat dasar, maka para santri melanjutkan ke tingkat II, yakni kelas II Ula.
1) Ta‟limul Muta‟alim
48 3) Safinatun Najah
4) Risalatul Makhid 5) Al-Qur‟an
c. Kelas III Ula
Setelah menamatkan tingkat II, maka santri melanjutkan ke tingkat setelahnya, yaitu kelas III Ula. Adapun materi yang diajarkan kelas III Ula tersebut adalah :
1) Al Jurumiyah 2) Taghrib Wa Taghrib 3) Shorof 4) Sulam Taufiq 5) Arba‟in Nawawi d. Kelas I Wustho
Setelah menamatkan kelas III Ula, maka santri melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu kelas I wustho. Adapun pelajaran yang diterima santri di kelas I wustho adalah sebagai berikut :
1) Al Imrithi 2) Matnul Ghoyah 3) Fatkhul Qorib I 4) Qowa‟idul I‟rob
49 e. Kelas II wustho
Kelas lanjutan setelah kelas I wustho adalah kelas II wustho. Adapun pelajaran yang diajarkan di kelas ini antara lain :
1) Al Fiyah I 2) Fatkhul Qorib II f. Kelas III Wustho
Tingkat kelas III wustho ini merupakan kelas yang paling tinggi di madrasah diniyah Islahul Muna ini. Adapun materi yang diajarkan di kelas ini yaitu :
1) Al Fiyah I 2) Fatkhul Mu‟in I
g. Kelas Umum
Kelas umum yaitu berkumpulnya semua santri dalam suatu ruangan (aula) yang diberikan materi dari kitab Riyadhus Solihin oleh kyai/uztadz diikuti dari tingkat kelas I Ula sampai kelas III wustho. Kelas tersebut dilaksanakan pada waktu yang bersamaan yaitu :
1) Ba‟da ashar, mulai pukul 16.30 WIB – 17.00 WIB 2) Ba‟da isya‟, mulai pukul 20.00 WIB – 21.30 WIB 3) Ba‟da subuh, mulai pukul 04.30 WIB – 05.00 WIB
50