TARGET REALISASI PERSENTASE 1 Menurunnya
2. Bimtek / Pendampingan/ Pelatihan terkait Program HIV AIDSdan PIMS - Supervisi ke Kabupaten/Kota
Untuk Peningkatan kualitas kinerja dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung untuk mengidentifikasi masalah yang ada dari segi deteksi dini, penanganan kasus, pencatatan dan pelaporan serta ketersediaan logistik apabila ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan untuk mengatasinya.
50 - Lokakarya Implementasi Notifikasi Pasangan dalam Layanan HIV
Salah satu terobosan yang akan kita perkuat penerapan di lapangan untuk mencapai 90 yang pertama yaitu mempercepat temuan kasus HIV melalui penerapan ‘Notifikasi Pasangan dan Anak’.
Notifikasi Pasangan dan Anak adalah salah satu dari berbagai upaya yang ada.
Melakukan skrining pada pasangan ODHA diharapkan dapat mendiagnosis pasangan ODHA tersebut secara dini dan dapat meningkatkan pencapaian ODHA mengetahui status. ODHA yang terdiagnosis positif segera diobati sehingga tetap dapat mempertahankan kualitas hidup yang prima. Hasil pemeriksaan ditemukan negatif, maka pasangan ODHA diberikan informasi bagaimana mempertahankan untuk tetap negatif, melakukan tindakan pencegahan, dan menghindari perilaku yang berisiko. Pengetahuan adalah kekuatan terbesar dalam upaya pencegahan dan pengendalian laju epidemi HIV AIDS di Indonesia.
Penerapan pelaksanaan Notifikasi Pasangan dan Anak tentunya memerlukan prosedur standar yang dapat dipakai oleh tenaga kesehatan/masyarakat yang peduli terhadap pengendalian HIV dalam memberikan layanan HIV/AIDS.
Prosedur ini dapat menjadi acuan sehingga langkah penanggulangan dapat berjalan optimal dan memberikan daya ungkit maksimal dalam mencapai eliminasi HIV AIDS di Indonesia.
Dilaksanakan melalui zoom meeting, adapun provinsi yang terlibat adalah DKI Jakarta, Sumatera Utara, DI Yogyakarta, Jawa Barat dan Kalimantan Timur
51 3. Penguatan Jejaring Kerja dan Partisipasi Masyarakat dalam Program
Pengendalian
- Gerakan Masyarakat Sehat dalam rangka HAS 2020
Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Pelaksanaan GERMAS harus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk kepribadian.
GERMAS merupakan gerakan nasional yang diprakarsai oleh Presiden RI yang mengedepankan upaya promotif dan preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif-rehabilitatif dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dalam memasyarakatkan paradigma sehat. Untuk menyukseskan GERMAS perlu ditunjang peranserta seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari individu, keluarga, dan masyarakat dalam mempraktekkan pola hidup sehat, dan berperilaku sehat;
serta perlu Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menyiapkan sarana dan prasarana pendukung, memantau dan mengevaluasi pelaksanaannya. Gerakan Masyarakat Sehat ini dilaksanakan di kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan
a. Sosialisasi Adaptasi Kebiasaan Baru Program HIV AIDS dan PIMS Pada Masa Pandemi COVID-19 di Prov Papua
Germas diperlukan pada program HIV AIDS dan IMS karena dengan melakukan GERMAS ini diharapkan bisa menjadi salah satu solusi mencegah terjangkitnya virus HIV. Pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS & IMS sungguh harus menjadi perhatian dan dilakukan bersama-sama oleh pemerintah bersama dengan seluruh lapisan masyarakat untuk mencapai hasil yang sesuai dengan harapan.
Untuk menunjang dan menjamin terlaksananya upaya penanggulangan HIV-AIDS & IMS yang selaras dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat ini, maka diperlukan adanya kebijakan dan strategi nasional yang disepakati oleh semua pihak baik sector pemerintah maupun swasta. Selain itu diperlukan juga partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat untuk bersama sama bergerak dalam satu tujuan pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS & IMS.
Untuk itu dicetuskan perlunya suatu peringatan untuk bisa mengerakan masyarakat supaya bersatu dalam menanggulangi semua permasalahan yang terkait HIV-AIDS & IMS
Kampanye Program HIV AIDS & PIMS yang dilakukan saat ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang HIV AIDS & PIMS, menggerakkan peran serta aktif masyarakat secara luas dalam upaya pencegahan penularan HIV, menumbuhkan kesadaran tentang perlunya tes HIV
52 untuk semua orang, serta menghilangkan stigma untuk HIV. Dilaksanakan di Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua
b. Sosialisasi Adaptasi Kebiasaan Baru Program HIV AIDS dan PIMS Pada Masa Pandemi COVID-19 di Prov Jawa Barat
Germas diperlukan pada program HIV AIDS dan IMS karena dengan melakukan GERMAS ini diharapkan bisa menjadi salah satu solusi mencegah terjangkitnya virus HIV. Pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS & IMS sungguh harus menjadi perhatian dan dilakukan bersama-sama oleh pemerintah bersama dengan seluruh lapisan masyarakat untuk mencapai hasil yang sesuai dengan harapan.
Untuk menunjang dan menjamin terlaksananya upaya penanggulangan HIV-AIDS & IMS yang selaras dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat ini, maka diperlukan adanya kebijakan dan strategi nasional yang disepakati oleh semua pihak baik sector pemerintah maupun swasta. Selain itu diperlukan juga partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat untuk bersama sama bergerak dalam satu tujuan pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS & IMS.
Untuk itu dicetuskan perlunya suatu peringatan untuk bisa mengerakan masyarakat supaya bersatu dalam menanggulangi semua permasalahan yang terkait HIV-AIDS & IMS
Kampanye Program HIV AIDS & PIMS yang dilakukan saat ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang HIV AIDS & PIMS, menggerakkan peran serta aktif masyarakat secara luas dalam upaya pencegahan penularan HIV, menumbuhkan kesadaran tentang perlunya tes HIV untuk semua orang, serta menghilangkan stigma untuk HIV. Dilaksanakan di kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat
53 4. Surveilans Epidemiologi dan Sistem Informasi Program Pengendalian
- Koordinasi dan Validasi Data di Tingkat Kabupaten
Sampai dengan Juli 2020, jumlah kumulatif ODHA yang memulai pengobatan ARV di Indonesia mencapai sebanyak 252.731 orang, sedangkan jumlah kumulatif ODHA yang masih dalam pengobatan ARV adalah 137.164 orang.
Kesenjangan jumlah ODHA yang memulai pengobatan ARV dan yang masih berada dalam pengobatan antara lain karena sebagian besar ODHA tersebut berhenti berobat dengan berbagai alasan atau Lost to Follow Up/LTFU.
Guna menekan angka ODHA LTFU tersebut telah dilakukan berbagai upaya untuk menemukan ODHA tersebut dan melanjutkan pengobatannya. Memasuki kuartal terakhir tahun 2020, perlu dilakukan pemantauan bersama atas perkembangan penemuan ODHA tersebut dengan melakukan validasi data ODHA dalam pengobatan dan LTFU hingga di tingkat layanan, untuk meningkatkan capaian pengobatan dan menekan LFTU. Selain itu pertemuan validasi ODHA LTFU diharapkan dapat menggali informasi mengenai keadaan ODHA LTFU (meninggal dan sebab lainnya).
Dilaksanakan melalui virtual meeting dengan mengundang 34 provinsi
5. Sumber Daya Manusia (SDM) Program HIV AIDS dan PIMS