• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAHAN"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAHAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT DIREKTORAT PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN MENULAR LANGSUNG

TAHUN 2020

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

1 BAB I

PENDAHULUAN A. VISI DAN MISI

Dalam Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung 2020 – 2024 tidak ada visi dan misi Direktorat PPPML. Rencana Aksi PPPML mendukung pelaksanaan Rencana Aksi Program Ditjen P2P dan Renstra Kemenkes yang melaksanakan visi dan misi Presiden Republik Indonesia yaitu “Terwujudnya Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-Royong”. Untuk melaksanakan visi Presiden 2020-2024 tersebut, Kementerian Kesehatan menjabarkan visi Presiden di bidang kesehatan yaitu menciptakan manusia yang sehat, produktif, mandiri, dan berkeadilan.

Dalam rangka mencapai terwujudnya Visi Presiden, maka telah ditetapkan 9 (sembilan) Misi Presiden 2020-2024, yakni:

1. Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia

2. Penguatan Struktur Ekonomi yang Produktif, Mandiri dan Berdaya Saing 3. Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan

4. Mencapai Lingkungan Hidup yang Berkelanjutan

5. Kemajuan Budaya yang Mencerminkan Kepribadian Bangsa

6. Penegakan Sistem Hukum yang Bebas Korupsi, Bermartabat, dan Terpercaya

7. Perlindungan bagi Segenap Bangsa dan Memberikan Rasa Aman pada Seluruh Warga

8. Pengelolaan Pemerintahan yang Bersih, Efektif, dan Terpercaya 9. Sinergi Pemerintah Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan

Guna mendukung peningkatan kualitas manusia Indonesia, termasuk penguatan struktur ekonomi yang produktif, mandiri dan berdaya saing (khususnya di bidang farmasi dan alat kesehatan), Kementerian Kesehatan telah menjabarkan Misi Presiden Tahun 2020-2024, sebagai berikut:

1. Menurunkan angka kematian ibu dan bayi

Angka kematian ibu (maternal mortality rate) dan angka kematian bayi (infant mortality rate) merupakan indikator sensitif untuk mengukur keberhasilan pencapaian pembangunan kesehatan, dan juga sekaligus mengukur pencapaian indeks modal manusia. Pemerintah telah menetapkan penurunan angka kematian ibu sebagai major project, yang harus digarap dengan langkah-langkah strategis, efektif dan efisien.

(8)

2 2. Menurunkan angka stunting pada balita

Proporsi balita stunting sangat penting sebagai parameter pembangunan modal manusia. Seperti halnya penurunan angka kematian ibu, pemerintah juga telah menetapkan percepatan penurunan stunting sebagai major project yang harus digarap dengan langkah-langkah strategis, efektif dan efisien.

3. Memperbaiki pengelolaan Jaminan Kesehatan Nasional

Sebagaimana diketahui bersama, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah mampu memperbaiki akses pelayanan kesehatan baik ke FKTP maupun FKRTL dan juga telah memperbaiki keadilan (ekualitas) pelayanan kesehatan antar kelompok masyarakat. Namun demikian, pembiayaan JKN selama lima tahun terakhir telah mengalami ketidakseimbangan antara pengeluaran dan pemasukan. Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi JKN, Kementerian Kesehatan memiliki peran sentral dalam kendali mutu dan kendali biaya (cost containment).

4. Meningkatkan kemandirian dan penggunaan produk farmasi dan alat kesehatan dalam negeri.

Sesuai dengan peta jalan kemandirian farmasi dan alat kesehatan, pemerintah telah bertekad untuk meningkatkan industri bahan baku obat dan juga peningkatan produksi alat kesehatan dalam negeri. Agar produksi dalam negeri ini dapat diserap oleh pasar, pemerintah harus melakukan langkah-langkah strategis untuk mendorong penggunaan obat dan alat kesehatan produksi dalam negeri.

Guna mewujudkan Misi Presiden dalam Bidang Kesehatan Tahun 2020-2024, Kementerian Kesehatan menetapkan 5 (lima) Tujuan Strategis, yakni:

1. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pendekatan siklus hidup 2. Penguatan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan

3. Peningkatan pencegahan dan pengendalian penyakit dan pengelolaan kedaruratan kesehatan masyarakat

4. Peningkatan sumber daya kesehatan

5. Peningkatan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan inovatif

B. LATAR BELAKANG

Secara filosofis, kondisi sehat-sakit adalah produk dari seluruh tindakan manusia, baik tindakan penentu kebijakan publik di setiap level pemerintahan maupun tindakan (perilaku) anggota masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak ada perilaku atau tindakan manusia yang tidak berpengaruh terhadap kesehatan. Seluruh komponen bangsa mempunyai tanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan, baik itu anggota

(9)

3 masyarakat, pemerintah, swasta, organisasi kemasyarakatan, maupun profesi. Seluruh pembangunan sektoral harus memertimbangkan kontribusi dan dampaknya terhadap kesehatan (health in all policies).

Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012, menetapkan Sistem Kesehatan Nasional sebagai paradigma pemikiran dasar pengelolaan administrasi pembangunan kesehatan, yang harus diperkuat oleh kepemimpinan pada setiap level pemerintahan yang mampu menciptakan berbagai terobosan dan inovasi menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, regional dan global. Prinsip dasar pembangunan kesehatan terdiri dari: Perikemanusiaan yang adil dan beradab berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa; Pemberdayaan dan kemandirian bagi setiap orang dan masyarakat; Adil dan merata bagi setiap orang yang mempunyai hak yang sama; serta Pengutamaan upaya dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pengutamaan manfaat yang merupakan bagian dari butir Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Periode tahun 2020-2024 merupakan tahapan terakhir dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, sehingga merupakan periode pembangunan jangka menengah yang sangat penting dan strategis. RPJMN 2020- 2024 akan memengaruhi pencapaian target pembangunan dalam RPJPN, di mana pendapatan perkapita Indonesia akan mencapai tingkat kesejahteraan setara dengan negara-negara berpenghasilan menengah atas (Upper-Middle Income Country) yang memiliki kondisi infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, pelayanan publik, serta kesejahteraan rakyat yang lebih baik. Sesuai dengan RPJPN 2005-2025, sasaran pembangunan jangka menengah 2020-2024 adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur melalui percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan menekankan terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai bidang yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Tatanan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur, khususnya dalam bidang kesehatan ditandai dengan: 1) Terjaminnya keamanan kesehatan negara melalui kemampuan dalam melakukan pencegahan, deteksi, dan respon terhadap ancaman kesehatan global; 2) Kesejahteraan masyarakat yang terus meningkat yang ditunjukkan dengan jangkauan bagi setiap warga negara terhadap lembaga jaminan sosial yang lebih menyeluruh; - 8 - 3) Status kesehatan dan gizi masyarakat yang semakin meningkat serta proses tumbuh kembang yang optimal, yang ditandai dengan meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH) dan Healthy Adjusted Life (HALE).

(10)

4 Sasaran Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dalam Rencana Aksi Kegiatan P2PML yang disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat P2PML adalah:

1. Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC (TBC Treatment Coverage) 90%.

2. Proporsi Kasus Kusta Baru tanpa Cacat >90%.

3. Persentase ODHA Baru ditemukan yang memulai pengobatan ARV 95%.

4. Persentase kabupaten/kota yang 50% Puskesmasnya melakukan Tatalaksana standar Pneumonia sebesar 60%.

5. Persentase kabupaten/kota 80% Puskesmasnya melaksanakan tatalaksana diare sesuai standar 80%

6. Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan atau C pada populasi berisiko 100%.

7. Jumlah kabupaten/kota dengan eradikasi frambusia 514 kab/kota.

Berdasarkan Instruksi Presiden dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi nomor 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah maka mulai dari pejabat Eselon II diwajibkan melaporkan Akuntabilitas kinerjanya sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya serta pengelolaan sumber daya kebijaksanaannya berdasarkan perencanaan strategi yang dirumuskan sebelumnya.

Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dibangun dalam rangka upaya mewujudkan good governance dan sekaligus result oriented government. SAKIP merupakan sebuah sistem dengan pendekatan manajemen berbasis kinerja (Performance- Base Management) untuk penyediaan informasi kinerja guna pengelolaan kinerja. Dalam rangka meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggungjawab, serta sebagai wujud pertanggungjawaban instansi pemerintahan yang baik, maka perlu disusun laporan akuntabilitas pada setiap akhir tahun.

C. TUGAS FUNGSI DAN POKOK

Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian penyakit menular langsung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(11)

5 Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung menyelenggarakan fungsi:

a. penyiapan perumusan kebijakan di bidang pencegahan dan pengendalian tuberkulosis sensitif dan resistensi obat, infeksi saluran pernapasan atas dan pneumonia, HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual, hepatitis dan penyakit infeksi saluran pencernaan, dan penyakit kusta dan frambusia;

b. pelaksanaan kebijakan di bidang pencegahan dan pengendalian tuberkulosis sensitif dan resistensi obat, infeksi saluran pernapasan atas dan pneumonia, HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual, hepatitis dan penyakit infeksi saluran pencernaan, dan penyakit kusta dan frambusia;

c. penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pencegahan dan pengendalian tuberkulosis sensitif dan resistensi obat, infeksi saluran pernapasan atas dan pneumonia, HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual, hepatitis dan penyakit infeksi saluran pencernaan, dan penyakit kusta dan frambusia;

d. fasilitasi pengelolaan di bidang pencegahan dan pengendalian tuberkulosis sensitif dan resistensi obat, infeksi saluran pernapasan atas dan pneumonia, HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual, hepatitis dan penyakit infeksi saluran pencernaan, dan penyakit kusta dan frambusia;

e. Pelaksanaan kegiatan teknis berskala nasional di bidang pencegahan dan pengendalian tuberkulosis sensitif dan resistensi obat, infeksi saluran pernapasan atas dan pneumonia, HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual, hepatitis dan penyakit infeksi saluran pencernaan, dan penyakit kusta dan frambusia;

f. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pencegahan dan pengendalian tuberkulosis sensitif dan resistensi obat, infeksi saluran pernapasan atas dan pneumonia, HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual, hepatitis dan penyakit infeksi saluran pencernaan, dan penyakit kusta dan frambusia;

g. pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang pencegahan dan pengendalian tuberkulosis sensitif dan resistensi obat, infeksi saluran pernapasan atas dan pneumonia, HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual, hepatitis dan penyakit infeksi saluran pencernaan, dan penyakit kusta dan frambusia;

h. pelaksanaan urusan administrasi Direktorat.

(12)

6 D. STRUKTUR ORGANISASI

Gambar 1

Struktur Organisasi Direktorat P2PML Tahun 2020

*)Data per 16 Desember 2020

Direktorat P2PML terdiri dari lima sub direktorat yaitu Subdit Tuberkulosis, Subdit HIV dan Penyakit IMS, Subdit ISPA, Subdit Hepatitis dan Penyakit ISP, dan Subdit Penyakit Tropis Menular Langsung, masing-masing subdit dipimpin oleh seorang kepala dan dibantu oleh dua kepala seksi. Serta bagaian Tata Usaha yang dipimpin oleh Kasubbag Tata Usaha.

E. SUMBER DAYA MANUSIA

Gambar 2

Jumlah Pegawai ASN Dit. P2PML

*) Data per tanggal 16 Desember 2020

(13)

7 Dari jumlah pegawai ASN di Direktorat P2PML sebanyak 85 orang. Subdit Tuberkulosis dengan 13 (15,3%), Subdit HIV/AIDS dan PIMS sebanyak 15 orang (17,6%), Subdit ISPA sebanyak 13 orang (15,3%), Subdit Hepatitis dan PISP sebanyak 14 pegawai (16,5%), Subdit Penyakit Tropis Menular Langsung sebanyak 11 orang (12,9%) dan Subbag Tata Usaha sebanyak 219 orang (22,4%) termasuk Direktur Dit. P2PML. Adapun tenaga honorer yang diperbantukan pada Direktorat P2PML sebanyak 8 orang yang ditugaskan di subdit dan subbag.

Gambar 3

Latar belakang pendidikan pegawai ASN Direktorat P2PML

*) Data per tanggal 16 Desember 2020

Pada Direktorat P2PML, dari 85 orang pegawai ASN, jumlah pegawai yang memiliki pendidikan terakhir S3 sebanyak 1 orang (1,2%), S2 sebanyak 39 orang (45,9%), S1 sebanyak 38 orang (44,7%), DIV sebanyak 1 orang (1,2%), DIII sebanyak 3 orang (3,5%), dan SMA sebanyak 2 orang (2,4%), SD sebanyak 1 orang (1,2%).

(14)

8 Gambar 4

Pegawai ASN berdasarkan golongan IV, III, II, I

*) Data per tanggal 16 Desember 2020

Pada Direktorat P2PML, pegawai dengan golongan terbanyak adalah pegawai golongan IV sebanyak 30 orang (35,3%), kemudian golongan III sebanyak 52 orang (61,2%), golongan II sebanyak 2 orang (2,4%) dan golongan I sebanyak 1 orang (1,2%).

F. SISTEMATIKA PENULISAN

Pada dasarnya laporan akuntabilitas kinerja Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung tahun 2020 ini menjelaskan pencapaian kinerja Direktorat P2PML selama Tahun 2020. Capaian kinerja tersebut dibandingkan dengan rencana kinerja (perjanjian kinerja) sebagai tolok ukur keberhasilan tahunan organisasi. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja memungkinkan diidentifikasinya sejumlah celah kinerja bagi perbaikan kinerja di masa yang akan datang. Dengan kerangka fikir seperti itu, sistimatika penyajian laporan akuntabilitas kinerja Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung sebagai berikut:

Kata Pengantar Ikhtisar Eksekutif Daftar Isi

(15)

9 Bab I (Pendahuluan), menjelaskan secara ringkas visi dan misi, latar belakang, tugas pokok dan fungsi, Struktur Organisasi, Sumber Daya Manusia Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML), serta sistematika penyajian laporan.

Bab II (Perencanaan Kinerja dan Perjanjian Kinerja), menjelaskan tentang Perencanaan Kinerja dan Perjanjian Kinerja tahun 2018 sesuai dengan Rencana Aksi Program P2PML.

Bab III (Akuntabilitas Kinerja), menjelaskan tentang pengukuran kinerja, capaian kinerja tahun 2020, analisis akuntabilitas kinerja dan realisasi anggaran serta sumberdaya manusia yang digunakan dalam rangka pencapaian kinerja Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) selama Tahun 2020.

Bab IV (Penutup), berisi kesimpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta tindak lanjut di masa mendatang yang akan dilakukan oleh Program untuk meningkatkan kinerjanya.

Lampiran-Lampiran

 Perjanjian Kinerja

 Laporan Evaluasi Kinerja Triwulanan

(16)

10 BAB II

PERENCANAAN KINERJA A. PERENCANAAN KINERJA

Perencanaan Kinerja merupakan suatu proses yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai selama kurun waktu satu sampai dengan lima tahun secara sistematis dan berkesinambungan dengan memperhitungkan potensi, peluang dan kendala yang ada atau yang mungkin timbul. Dalam sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (SAKIP) perencanaan kinerja instansi pemerintah terdiri atas tiga instrumen yaitu: Rencana Strategis (Renstra) yang merupakan perencanaan 5 tahunan, Rencana Kinerja Tahunan (RKT) dan Perjanjian Kinerja (PK). Perencanaan 5 tahunan Direktorat P2PML mengacu kepada dokumen Rencana Aksi Program Ditjen PP dan PL Tahun 2020-2024. Terkait dengan perubahan SOTK baru sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 25 tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan maka sedang dilakukan revisi terhadap Rencana Aksi Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Rencana Aksi Kegiatan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Tahun 2020 - 2024.

1. Rencana Aksi Kegiatan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Tahun 2020-2024

Menindaklanjuti Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2020 - 2024 dan Rencana Aksi Program (RAP) Tahun 2020 - 2024 sebagai bentuk perencanaan strategis yang lebih operasional maka Direktorat P2PML telah menyusun Rencana Aksi Kegiatan (RAK) Tahun 2020 - 2024 yang memuat Tujuan dan Sasaran Strategis serta arah kebijakan dan strategi yang menjadi pedoman Direktorat P2PML dalam menetapkan Rencana Kinerja Tahunan (RKT).

2. Arah Kebijakan Dan Strategi Nasional

Arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan nasional 2020-2024 merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang bidang Kesehatan (RPJPK) 2005- 2025, yang bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud, melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat,

(17)

11 memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik lndonesia.

Sasaran pembangunan kesehatan yang akan dicapai pada tahun 2025 adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat yang ditunjukkan oleh meningkatnya Angka Harapan Hidup, menurunnya Angka Kematian Bayi, menurunnya Angka Kematian Ibu, menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita.

Untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan, maka strategi pembangunan kesehatan 2005- 2025 adalah: 1) pembangunan nasional berwawasan kesehatan; 2) pemberdayaan masyarakat dan daerah; 3) pengembangan upaya dan pembiayaan kesehatan; 4) pengembangan dan dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan; dan 5) penanggulangan keadaan darurat kesehatan.

Dalam RPJMN 2020-2024, sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemeratan pelayanan kesehatan.

Indikator Program PPPML yang tercantum dalam sasaran pembangunan kesehatan pada RPJMN 2020-2024 sebagai berikut:

Tabel 1

Indikator RPJMN 2020-2024 Program PPPML

Indikator Status Awal Target 2024

Meningkatnya Pengendalian Penyakit Menular Langsung

a. Insiden HIV (per 1000 penduduk yang tidak terinfeksi HIV)

0,24

(2018) 0,18

b. Insiden Tuberkulosis (per 100.000

penduduk) 319

(Global Report 2017)

190

(18)

12 Kebijakan pembangunan kesehatan difokuskan pada penguatan upaya kesehatan dasar (Primary Health Care) yang berkualitas terutama melalui peningkatan jaminan kesehatan, peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang didukung dengan penguatan sistem kesehatan dan peningkatan pembiayaan kesehatan. Kartu Indonesia Sehat menjadi salah satu sarana utama dalam mendorong reformasi sektor kesehatan dalam mencapai pelayanan kesehatan yang optimal, termasuk penguatan upaya promotif dan preventif.

Sasaran Strategis Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dalam Rencana Aksi Kegiatan P2PML merupakan sasaran strategis dalam Renstra Kemenkes yang disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi Direktorat P2PML. Sasaran tersebut adalah meningkatnya pengendalian penyakit menular langsung pada akhir tahun 2024 yang ditandai dengan:

1. Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC (TBC Treatment Coverage) sebesar 90%.

2. Proporsi Kasus Kusta Baru tanpa Cacat sebesar >90%.

3. Persentase ODHA Baru ditemukan yang memulai pengobatan ARV sebesar 95%.

4. Persentase kabupaten/kota yang 50% Puskesmasnya melakukan Tatalaksana standar Pneumonia sebesar 60%.

5. Persentase kabupaten/kota 80% Puskesmasnya melaksanakan tatalaksana diare sesuai standar sebesar 80%

6. Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan atau C pada populasi berisiko sebesar 100%.

7. Jumlah kabupaten/kota dengan eradikasi frambusia sebesar 514 kab/kota.

(19)

13 Tabel 2

SASARAN PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR LANGSUNG

TAHUN 2020-2024

SASARAN INDIKATOR

TARGET

2020 2021 2022 2023 2024 Menurunnya angka

kesakitan dan kematian akibat penyakit menular langsung

1. Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC (TBC Treatment Coverage)

80 85 90 90 90

2. Proporsi Kasus Kusta Baru

tanpa Cacat 87 88 89 90 >90

3. Persentase ODHA Baru ditemukan yang memulaipengobatan ARV

77 80 85 90 95

4. Persentase kabupaten/kota yang 50% puskesmasnya melakukan tatalaksana Pneumonia

50 52 55 57 60

5. Persentase kabupaten/kota 80% Puskesmasnya melaksanakan tatalaksana

diare sesuai standar 51 58 66 73 80

6. Persentase

kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan atau C pada populasi berisiko

85 90 95 100 100

7. Jumlah kabupaten/kota dengan eradikasi frambusia

42 172 283 393 514

(20)

14 B. PERJANJIAN KINERJA

Perjanjian Kinerja atau Penetapan Kinerja Direktorat P2PML merupakan Dokumen Pernyataan kinerja/kesepakatan kinerja/perjanjian kinerja Direktorat P2PML kepada Ditjen P2P untuk mewujudkan target-target kinerja sasaran Direktorat P2PML pada tahun 2020.

Penetapan Kinerja Direktorat P2PML di susun berdasarkan dokumen Rencana Aksi Kegiatan Program PPML Tahun 2020 - 2024 yang setiap tahunnya di rumuskan menjadi Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan telah diangggarkan dalam DIPA dan RKA-KL Tahun 2020. Target-target kinerja sasaran program yang ingin dicapai Direktorat P2PML dalam dokumen Penetapan Kinerja Direktorat P2PML Tahun 2020 adalah sebagai berikut :

NO SASARAN

PROGRAM

INDIKATOR TARGET

1 Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular langsung

1 Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC

(TBC Treatment Coverage) 80

2 Proporsi Kasus Kusta Baru tanpa Cacat 87

3 Persentase ODHA Baru ditemukan yang

memulai pengobatan ARV 77

4

Persentase kabupaten/kota yang 50%

puskesmasnya melakukan tatalaksana Pneumonia

50

5

Persentase kabupaten/kota 80%

Puskesmasnya melaksanakan tatalaksana diare sesuai standar

51

6

Persentase kabupaten/kota yang

melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan atau C pada populasi berisiko

85

7 Jumlah kabupaten/kota dengan eradikasi frambusia

42

Jumlah anggaran Program P2PML TA 2020 sebagai berikut:

1. DIPA awal SP DIPA- 024.05.1.465833/2020 tanggal 12 November 2019 adalah sebesar Rp. 339.174.969.000.

(21)

15 2. Pada bulan Februari, berdasarkan revisi DIPA ke-1 Nomor: SP DIPA-

024.05.1.465833/2020 tanggal 13 Februari 2020 adanya revisi buka blokir pada Hal IV total anggaran tetap sebesar Rp. 339.174.969.000

3. Pada bulan Mei, berdasarkan DIPA Revisi ke-2 Nomor: SP DIPA- 024.05.1.465833/2020 tanggal 12 Mei 2020 terdapat pengurangan anggaran karena efiseinsi Pandemi Covid Rp. 113.246.017.000, sehingga total anggaran menjadi Rp. 225.928.952.000

4. Pada bulan Juni, berdasarkan DIPA Revisi ke-3 Nomor: SP DIPA- 024.05.1.465833/2020 tanggal 30 Juni 2020 adanya penambahan anggaran Covid bersumber BA BUN ke 1 sebesar Rp. 670.090.240.000 sehingga total anggaran menjadi Rp. 896.019.192.000

5. Pada bulan Agustus, berdasarkan DIPA revisi ke-4 Nomor: SP DIPA- 024.05.1.465833/2020 tanggal 31 Agustus 2020 adanya penambahan Realokasi dana untuk kegiatan Gerakan Masyarakat Program P2PML sebesar Rp. 1.298.953.000, sehingga total anggaran menjadi Rp. 897.318.145.000

6. Pada bulan September, berdasarkan DIPA revisi ke-5 Nomor: SP DIPA- 024.05.1.465833/2020 tanggal 03 September 2020, terdapat penambahan anggaran Covid bersumber BA BUN ke-2 sebesar Rp. 394.388.969.000 sehingga total anggaran menjadi Rp. 1.291.707.114.000

7. Pada bulan Oktober, berdasarkan dipa revisi ke-6 Nomor: SP DIPA- 024.05.1.465833/2020 tanggal 12 Oktober 2020 adanya pengurangan dana realokasi ke UPT sebesar Rp 14.982.979.000 sehingga total anggaran menjadi Rp 1.276.724.135.000 8. Pada bulan November, berdasarkan dipa revisi ke-7 Nomor: SP DIPA- 024.05.1.465833/2020 tanggal 02 November 2020 adanya penambahan Hibah Luar Negeri dari output prioritas dan penambahan dana Covid bersumber BA BUN ke-3 sebesar Rp. 459.078.457.000 sehingga total anggaran menjadi Rp. 1.735.802.592.000 9. Pada bulan November, berdasarkan dipa revisi ke-8 NOMOR: SP DIPA-

024.05.1.465833/2020 tanggal 27 November 2020 adanya penambahan dana Hibah Luar Negeri dari output prioritas bidang sebesar Rp. 179.533.566.000 sehingga total anggaran menjadi Rp. 1.915.336.158.000

10. Pada Bulan Desember, berdasarkan DIPA revisi ke 9 NOMOR: SP DIPA- 024.05.1.465833/2020 tanggal 16 Desember 2020 adanya revisi Petujuk Operasional Kegiatan (POK) ke-1 total anggaran tetap sebesar Rp. 1.915.336.158.000

11. Pada Bulan Desember, berdasarkan DIPA revisi ke 10 SP DIPA- 024.05.1.465833/202 tanggal 28 Desember 2020 adanya revisi Petujuk Operasional Kegiatan (POK) ke-2 total anggaran tetap sebesar Rp. 1.915.336.158.000

(22)

16 BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI

Dalam mengukur kinerja program pencegahan dan pengendalian penyakit menular langsung di tahun 2020 terdapat beberapa sasaran strategis yang tertuang dalam dokumen Rencana Aksi Kegiatan P2PML tahun 2020.

Berikut adalah target dan capaian indikator program pencegahan dan pengendalian penyakit menular langsung tahun 2020.

NO SASARAN PROGRAM

INDIKATOR

TARGET REALISASI PERSENTASE 1 Menurunnya

angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular

langsung

1

Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC (TBC Treatment Coverage)

80 37,44 46,8%

2

Proporsi Kasus Kusta Baru

tanpa Cacat 87 85,34 98,09%

3

Persentase ODHA Baru ditemukan yang memulai pengobatan ARV

77 78 101,83%

4

Persentase kab/kota yang 50% puskesmasnya melakukan tatalaksana standar pneumonia

50 60,70 121,40%

5

Persentase kabupaten/kota 80% Puskesmasnya

melaksanakan tatalaksana diare sesuai standar

51 41,1 80,58%

6

Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan deteksi dini Hepatitis B dan atau C pada populasi berisiko

85 89,11 104,83%

7

Jumlah kabupaten/kota

dengan eradikasi frambusia 42 0 0

(23)

17 Dilihat dari capaian masing-masing indikator, untuk tahun 2020 Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dapat melaksanakan tugas utama/TUPOKSI yang menjadi tanggung jawab unit organisasi. Uraian kinerja dari masing-masing indikator adalah sebagai berikut:

1. Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC (TBC Treatment Coverage) a. Penjelasan Indikator

Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC (TBC Treatment Coverage) adalah indikator yang sangat bermanfaat untuk memberikan gambaran layanan pengobatan pasien TB serta dalam rangka memutus mata rantai penularan dan mencegah terjadinya kebal obat. Angka ini menggambarkan jumlah kasus TB yang ditemukan dan mendapat layanan pengobatan yang dilaporkan ke program.

b. Definisi operasional

Angka penemuan dan pengobatan kasus / treatment coverage (TC) adalah indikator yang memberikan gambaran upaya dalam menemukan pasien TBC melalui serangkaian kegiatan penjaringan terduga TBC, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan, menentukan diagnosis, menentukan klasifikasi dan tipe pasien dan dilanjutkan pengobatan yang adequat sampai sembuh sehingga tidak menular penyakit TBC ke orang lain.

c. Rumus/ cara perhitungan

Jumlah semua kasus TBC yang ditemukan dan mendapat layanan pengobatan yang dilaporkan dibagi estimasi kasus TBC dikali 100%.

Jumlah semua kasus TBC yang ditemukan dan mendapat layanan pengobatan dan dilaporkan

TC = --- X 100 % Jumlah estimasi kasus TBC

d. Capaian indikator

Penanganan kasus dalam Penanggulangan TBC dilakukan melalui kegiatan Penemuan dan Pengobatan TBC untuk memutus mata rantai penularan dengan penemuan kasus melalui penegakan diagnosis, pengobatan dan pelaporan hasil pengobatan.

Indikator Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC merupakan indicator yang baru masuk pada perjanjian kinerja Direktorat P2PML pada periode 2020 – 2024 sehingga

(24)

18 belum dapat dibandingkan capaian tahun 2020 dengan capaian tahun – tahun sebelumnya. Namun untuk target, sudah ditentukan target tahun 2020 – 2024.

Grafik …

Persentase Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC, Target dan Capaian tahun 2020 –2024

Sumber data : Subdit Tuberkulosis Tahun 2020

Indikator insiden TBC dengan indikator cakupan penemuan dan pengobatan pasien TBC memiliki hubungan negatif, yang artinya jika angka angka penemuan dan pengobatan pasien TBC semakin tinggi maka diharapkan angka insiden TBC juga akan menurun. Peningkatan indikator penemuan dan pengobatan pasien TBC juga harus diimbangi dengan angka keberhasilan pengobatan yang tinggi sehingga semakin banyak pasien TBC yang ditemukan dan diobati serta hasil pengobatan sembuh juga tinggi maka proses penularan penyakit TBC di masyarakat akan berkurang dan kasus TBC juga akan berukurang sehingga angka insiden kasus TBC juga akan menurun.

Indikator kinerja cakupan penemuan dan pengobatan pasien TBC adalah indikator positif yang artinya jika semakin besar capaian semakin baik kinerjanya dan sebaliknya jika semakin kecil capaian maka semakin buruk kinerjanya. Dengan demikian berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa capaian tahun 2020 belum mencapai target, dari target 80% hanya didapat 37,44%. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja pada indikator ini belum baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

2020 2021 2022 2023 2024

80 85 90 90 90

37.44 Target

Capaian

(25)

19 perbaikan agar kinerja di masa yang akan datang dapat lebih baik lagi dan mencapai target yang telah ditentukan.

Grafik

Persentase Cakupan Penemuan dan Pengobatan TBC tahun 2020 Berdasarkan provinsi

Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa capaian cakupan penemuan dan pengobatan TBC pada tahun 2020 sebesar 37,44% dari target 80%. Seluruh provinsi tidak mencapai target indikator. Lima provinsi yang paling rendah capaiannya adalah Papua Barat (19,58%), Jambi (18,14%), Kalimantan Tengah (17,08%), Bengkulu (16,22%) dan Maluku (12,69%). (data per 18 Januari 2021).

e. Analisa Penyebab Kegagalan

Tidak tercapainya target tersebut dapat dijelaskan karena adanya pandemi covid 19 mempengaruhi pelaksanaan program TBC. Berkurangnya sumber daya program TBC karena dialihkan dalam penanggulangan pandemi covid 19. Penggunaan alat tes cepat molekuler (TCM) untuk diagnosa TBC dan TBC resisten obat, juga dipergunakan untuk diagnosa covid 19. Belum semua kasus TBC baru berhasil ditemukan dan dijangkau, investigasi kontak belum maksimal yang dikarenakan adanya kekhawatiran kader untuk aktif melakukan tracking dan tracing kasus TBC ke masyarakat.

30.129.3 22.7

29.4 34.2

18.1 26.325.7

16.2 35.7

56.6 48.6

53.5 43.6

29.1 40.2

32.6

17.120.124.1 29.4

45.5 49.6

34.632.5 41.9

28.8 21.5

28.4 23.8

12.7 30.6

39.5

19.6 37.4

0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0

ACEH SUMUT SUMBAR RIAU KEPRI JAMBI SUMSEL BABEL BENGKULU LAMPUNG BANTEN DKI JAKARTA JABAR JATENG DIY JATIM KALBAR KALTENG KALSEL KALTIM KALTARA SULUT GORONTALO SULTENG SULSEL SULBAR SULTRA BALI NTB NTT MALUKU MALUT PAPUA PAPUA BARAT INDONESIA

(26)

20 f. Upaya yang Dilaksanakan Mencapai Target Indikator

1. Peningkatan notifikasi kasus dengan pelaksanaan Mopping Up/ penyisiran kasus ke rumah sakit-rumah sakit baik rumah sakit pemerintah maupun swasta.

2. Perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan dengan melakukan link dengan SIMRS dan penyedia layanan mandiri (swasta)

3. Penerapan Mandatory Notification yang lebih tegas

4. Link dengan Sistem informasi BPJS untuk peningkatan Case Finding dan kualitas Pengobatan

5. Intensified TB Case Findings dari Faskes dan Komunitas

6. Menegaskan lagi kewajiban melakukan pemeriksaan konfirmasi bakteriologis untuk semua terduga TBC.

7. Regulasi yang lebih ketat mengenai pemberian pengobatan dan pengawasan.

8. Pelaksanaan investigasi kontak berdasarkan panduan yang telah didiseminasi ke seluruh provinsi.

9. Pelaksanaan penemuan kasus TBC pada populasi risiko tinggi seperti pada pasien diabetes di puskesmas dan faskes rujukan sesuai panduan yang telah didiseminasi ke seluruh provinsi.

10. Adanya sistem informasi TBC yang baru (TBC information system/ SITB) telah menyambungkan jejaring sistem rujukan internal dan eksternal yang sudah mengintegrasikan puskesmas, rumah sakit dan laboratorium rujukan.

11. Pengiriman umpan balik hasil entri SITT dan hasil penyisiran kasus ke rumah sakit yang ada di provinsi dan kabupaten/ kota.

12. Pelaksanaan dan monitoring SPM dan Stranas TBC

13. Pendekatan Multi-sectoral Accountability Framework (MAF) dengan disusunnya Perpres TBC

g. Kendala/ Masalah yang Dihadapi

Jika kita melihat capaian penemuan dan pengobatan kasus TBC (treatment coverage) dengan target pada tahun 2020 sebesar 80% hanya tercapai 37,44%, maka dapat dikatakan bahwa indikator ini belum mencapai target.

Adapun tidak tercapainya target tersebut dapat dijelaskan karena adanya pandemi covid 19 mempengaruhi pelaksanaan program TBC terutama dalam hal sebagai berikut:

 Pemberian terapi pencegahan TBC (TPT) belum terlaksana dengan maksimal karena adanya pembatasan mobilisasi masyarakat dan ketakutan warga untuk mendatangi fasilitas kesehatan

(27)

21

 Terganggunya keberlangsungan pengobatan karena pasien tidak datang mengambil obat

 Terganggunya monitoring pengobatan pasien karena pasien tidak mengumpulkan dahak dan ada kendala pengiriman spesimen.

 Beberapa laboratorium berhenti melakukan pemeriksaan terduga TBC

 Pengawasan minum obat terganggu

 Enabler tidak bisa diberikan secara rutin

 Beberapa fasyankes berhenti memberikan layanan TBCRO karena ruangannya dialihkan untuk perawatan Covid-19.

h. Pemecahan Masalah

Untuk mencapai target, Program TBC melaksanakan kegiatan yang berdasarkan 6 strategi yaitu:

1) Penguatan Kepemimpinan Program TBC di Kabupaten/Kota - Promosi: Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial - Regulasi dan peningkatan pembiayaan

- Koordinasi dan sinergi program

2) Peningkatan Akses Layanan “TOSS-TBC” yang Bermutu

- Peningkatan jejaring layanan TBC melalui PPM (public-private mix) - Penemuan aktif berbasis keluarga dan masyarakat

- Peningkatan kolaborasi layanan melalui TBC-HIV, TBC-DM, MTBS, PAL, dan lain sebagainya

- Inovasi diagnosis TBC sesuai dengan alat / saran diagnostik yang baru - Kepatuhan dan Kelangsungan pengobatan pasien atau Case holding

- Bekerjasama dengan asuransi kesehatan dalam rangka Cakupan Layanan Semesta (health universal coverage).

3) Pengendalian Faktor Risiko

- Promosi lingkungan dan hidup sehat.

- Penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TBC.

- Pengobatan pencegahan dan imunisasi TBC.

- Memaksimalkan penemuan TBC secara dini, mempertahankan cakupan dan keberhasilan pengobatan yang tinggi.

4) Peningkatan Kemitraan melalui Forum Koordinasi TBC

- Peningkatan kemitraan melalui forum koordinasi TBC di pusat - Peningkatan kemitraan melalui forum koordinasi TBC di daerah 5) Peningkatan Kemandirian Masyarakat dalam Penanggulangan TBC

- Peningkatan partisipasi pasien, mantan pasien, keluarga dan masyarakat.

(28)

22 - Pelibatan peran masyarakat dalam promosi, penemuan kasus, dan dukungan

pengobatan TBC.

- Pemberdayan masyarakat melalui integrasi TBC di upaya kesehatan berbasis keluarga dan masyarakat.

6) Penguatan Sistem kesehatan

- Sumber Daya Manusia yang memadai dan kompeten.

- Mengelola logistik secara efektif.

- Meningkatkan pembiayaan, advokasi dan regulasi.

- Memperkuat Sistem Informasi Strategis, surveilans proaktif termasuk kewajiban melaporkan (mandatory notification).

- Jaringan dalam penelitian dan pengembangan inovasi program.

i. Efisiensi Penggunaan Sumber Daya

Adanya pandemi Covid-19 menyebabkan terjadinya refocussing anggaran pusat untuk penanganan Covid-19 dan keterbatasan pelaksanaan kegiatan secara langsung tatap muka karena adanya pembatasan mobilisasi, baik di pusat maupun di daerah-daerah. Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya kegiatan pusat dalam pemantauan dan evaluasi program di provinsi dan kabupaten/ kota. Dana kegiatan yang bersumber dari WHO yang semula ada 3 kegiatan tidak bisa dilaksanakan karena membutuhkan konsultan dari luar negeri dan pertemuan langsung tatap muka, karena adanya pandemik 2 kegiatan terpaksa diundurkan ke tahun 2021. Satu kegiatan yang seyogyanya diselenggarakan pada bulan Desember terpaksa dibatalkan karena belum bisa menyelenggarakan pertemuan tatap muka. Capaian program dan realisasi anggaran kegiatan bersumber dana APBN dan Global Fund menjadi kurang optimal dikarenakan sebagian besar petugas kesehatan difokuskan untuk penanganan Covid-19.

Formula Efisiensi

Keterangan:

E : Efisiensi

PAKi : Pagu Anggaran Keluaran I RAKi : Realisasi Anggaran Keluaran i CKi : Capaian Keluaran i

(29)

23 𝐸 = (𝟖𝟑𝟓. 𝟒𝟒𝟔. 𝟕𝟐𝟏. 𝟎𝟎𝟎 x 1) − 𝟖𝟏𝟖. 𝟔𝟗𝟏. 𝟑𝟕𝟒. 𝟖𝟎𝟑

𝟖𝟑𝟓. 𝟒𝟒𝟔. 𝟕𝟐𝟏. 𝟎𝟎𝟎 x 1 𝑥100%

E = 2%

Kegiatan yang mendukung pencapaian indikator program antara lain:

1. Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030

Dalam rangka Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030, Presiden Jokowi mengadakan Kunjungan Kerja bidang kesehatan di Cimahi pada tanggal 29 Januari 2020 yang berlokasi di Cimahi Techno Park, Cimahi, Jawa Barat. Tujuan dari adanya Gerakan Bersama ini adalah mendorong penetapan TBC sebagai prioritas pembangunan kesehatan nasional dan harmonisasi kegiatan dengan seluruh Lembaga dan Kementerian yang ada serta sumber daya para pemangku kepentingan dalam mencapai Eliminasi TBC 2030. Selain itu, acara ini turut mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk proaktif dalam upaya untuk mengakhiri TBC di Indonesia.

Pada kesempatan tersebut Presiden secara tegas menyatakan dukungan atas dilaksanakannya kegiatan tersebut, mengingat pembangunan sumber daya manusia merupakan salah satu fokus kerja pemerintah dalam 5 tahun ke depan

Penyampaian dukungan pencanangan Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030 oleh Presiden RI

“Saya ingin mendukung keras kegiatan ini, kegiatan bersama menuju eliminasi TBC di 2030.

Karena percuma kalau masyarakat kita enggak sehat, merembetnya bisa ke mana -mana.

Bisa ke pendidikan, bisa ke keberlanjutan dalam nanti bekerja, ke mana-mana,” kata

(30)

24 Presiden dalam sambutannya. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan terdiri dari Skrining Tuberkulosis untuk 250 karyawan pabrik di Cimahi, Diorama digital dengan tema “Masa lalu, Masa kini dan Masa Depan Menuju Indonesia Eliminasi TBC 2030”, pidato strategis presiden, Deklarasi Gerakan Bersama Berantas TBC oleh perwakilan multi-sektor, dan Pameran dari berbagai mitra dan partner.

Presiden RI berfoto bersama kader TBC di Cimahi

2. Joint External Monitoring Mission 2020

Joint External TBC Monitoring Mission (JEMM) 2020 adalah kegiatan rutin yang telah dilaksanakan sejak tahun 2005 dan dilanjutkan setiap 3 (tiga) tahun sekali, dengan melibatkan para ahli dari internasional maupun nasional yang terdiri dari WHO, Global Fund, USAID dan organisasi lainnya.

TBC terus menjadi perhatian sebagai salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia maupun Global, oleh sebab itulah pelibatan pakar, konselor dan ahli juga dibutuhkan untuk masukan dalam perbaikan program penanggulangan TBC ke depannya di Indonesia.

Dilaksanakan pada tanggal 20-31 Januari 2020 dengan fokus melihat capaian Program Tuberkulosis Nasional dari tahun 2017 –2019 dan melakukan review rencana strategis 5 tahun untuk pengelolaan Program Tuberkolosistahun 2019-2024. Rangkaian kegiatan JEMM 2020 diawali dengan Kick Off Meeting JEMM 2020 di tanggal 20 Januari, lalu dilanjut dengan Kunjungan ke-4 provinsi yaitu Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Timur, serta desk review ke-6 provinsi yaitu DKI Jakarta, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Papua. Dilanjutkan dengan proses diskusi dan penyusunan laporan, pertemuan dengan LP/LS, dengan Program TBC untuk penyampaian hasil temuan dan rekomendasi, dan ditutup dengan Debriefing dan Konferensi Pers dengan Direktur Jenderal P2P.

(31)

25

Pelaksanaan JEMM 20-30 Januari 2020

3. Kampanye Hari Tuberkulosis Sedunia 2020

Pada tanggal 24 Maret 2020, diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia. Subdit Tuberkulosis bersama Mitra mengadakan kegiatan berupa pembuatan Microsite HTBS yang berisikan materi KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) berdasarkan strategi komunikasi TBC. Selain itujugadiadakan kegiatan temu media secara teleconference yangdihadiri oleh dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes (Direktur P2PML),Dr. Pandu Riono, MPH., Ph.D, dan Kader dari Dinkes DKIJakarta, sebagai narasumber. Teleconference ini membahas mengenai Protokol Pelayanan TBCsaat Pandemi Covid-19dan disiarkan secara nasional. Disamping itu, Program Penanggulangan TBCjuga berupaya untuk meningkatkan awareness publicterkait pencegahan dan pengendalian TBCdengan Talking Points yang diisi oleh Tokohdan Public Figure seperti Menteri Kesehatan RI, dr Reisa, Kaka Slank, dan lain sebagainyayang di sebar di media sosial.

(32)

26

Talking Points Menteri Kesehatan RI

4. Rapat Terbatas Presiden di Istana Negara, 21 Juli 2020

Dalam rapat terbatas mengenai Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Istana Merdeka, Jakarta Selasa 21 Juli 2020, Presiden menyampaikan bahwa model penanganan Covid-19 yang dilakukan pemerintah saat ini juga dapat diterapkan dalam upaya eliminasi tuberkulosis. Model pelacakan yang agresif untuk menemukan penderita dapat dilakukan untuk mencari penderita tuberkulosis yang belum terlaporkan. Presiden juga menegaskan bahwa upaya preventif dan promotif untuk mengatasi tuberkulosis bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab bersama berbagai pemangku kepentingan, Sebab penanganan hal tersebut harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan banyak sektor-sektor pendukung lainnya secara terpadu.

Termasuk dari sisi infrastruktur, semuanya harus dikerjakan terutama untuk tempat tinggal.

Rumah yang lembap, kurang cahaya, tanpa ventilasi terutama di tempat-tempat yang padat ini betul-betul sangat berpengaruh terhadap penularan antar individu sehingga ini bukan hanya di Kementerian Kesehatan dan Kementerian Sosial, tapi PUPR juga harus dilibatkan dalam pengurangan TBC ini, demikian penegasan yang disampaikan Presiden.

Meski tengah disibukkan dengan penanganan Covid-19, Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar layanan tuberkulosis maupun pengobatan terhadap pasien harus tetap berlangsung. “Itu berarti sampai sembuh. Kemudian stok obat-obatan juga dipastikan harus tersedia dan kalau perlu memang butuh Perpres atau Permen segera terbitkan sehingga prinsip kita sejak awal (yaitu) temukan, obati, dan sembuh itu betul-betul bisa kita

(33)

27 laksanakan,” tuturnya. Untuk Tindak lanjut arahan presiden terkait kebutuhan Perpres, saat ini Kementerian kesehatan sedang dalam proses penyusunan yang ditargetkan selesai akhir tahun 2020 ini.

Presiden RI saat memimpin rapat terbatas

5. Rembuk Desa Siaga Tuberkulosis di Kabupaten Garut, 18 Agustus 2020

Pada tanggal 18 Agustus 2020, Pemda Kabupaten Garut bersama Kementerian Kesehatan melakukan suatu Rembuk Desa Siaga Tuberkulosis. Kegitan ini diselenggarakan dalam rangka menindaklanjuti Ratas EliminasiTBC tanggal 20 Juli 2020 dan Pencanangan Gerakan Bersama menuju eliminasi TBC 2030 pada tanggal 29 Januari 2020 oleh Presiden Jokowi serta menyadari bahwa permasalahan TBC bukan hanya permasalahan Sektor Kesehatan saja. Rembuk Desa ini dipimpin oleh Menkes yang diwakili oleh Dirjen P2P, dr. Achmad Yurianto dan Bupati Garut -H. Rudy Gunawan, SH, MH, MP. Kegiatan dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatandi Kantor Bappeda Kab Garut, dihadiri oleh 70 orang undangan yang berasal dari Muspida, Jajaran Pemkab Garut, dan Komunitas Peduli Tuberkulosis di Garut. Kementerian Kesehatan hadir dengan formasi lengkap, Dirjen P2P didampingi oleh Staf Khusus Menkes, Direktur P2PML, Jajaran Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung, Tenaga Ahli Pusat Krisis Kesehatan dan Kasubdit Tuberkulosis Kemkes.Kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui online dihadiri oleh Kepala Puskesmas, pimpinan fasyankes dan undangan lain yang terbatas hadir secara offline.

(34)

28

Pelaksanaan Rembuk Desa Siaga Tuberkulosis

Dirjen P2P dalam sambutannya, menekankan pentingnya masyarakat menjadi subyek dalam upaya pembangunan kesehatan sehingga mereka melakukan pola hidup sehat sebagai bentuk upaya pemenuhan kebutuhan mereka agar bisa hidup produktif dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Upaya ini semakin penting dimasa Pandemi Covid-19 yang menekankan pentingnya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat agar bisa selamat dari Covid-19. Beliau juga menyampaikan bahwa Presiden Jokowi sudah memberikan komitmen tertingginya dengan memberikan 3 arahan penting pada saat Ratas tanggal 20 Juli 2020 yang lalu.

Foto Bersama di akhir Kegiatan

6. Pertemuan Binwil Sulawesi Barat Kamis, 11 Juni 2020

Arahan Direktur Jenderal P2P, Kemenkes RI, dr. Achmad Yurianto sebagai berikut:

- Harus berpikir out of box

- Perlu re-orientasi pada sisi demand, bukan apa yang bisa di provide

- Orang sehat lebih banyak dari orang sakit. Dengan demikian, kita harus membuat orang sehat tetap sehat.

- Pembangunan kesehatan diimbangi dengan pembenahan sisi sumber daya

(35)

29 - Edukasi merupakan kunci untuk menjaga orang yang sehat untuk tetap sehat

- “Sakit adalah pilihan dan sehat adalah kewajiban

- Basis dari PIS-PK adalah integrasi dari semua program untuk mendapatkan hasil yang baik

- Orientasi kita adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menjadi sehat.

- Semua insan kesehatan adalah seorang promotor kesehatan, seorang perawat bisa berbicara terkait imunisasi, cara penularan TBC, malaria dan cara pengobatannya, tidak lagi hanya profesi tertentu.

- Dampak dari masalah kesehatan itu sangat masif tidak hanya kesehatan saja tetapi juga politik, ekonomi dan sebagainya.

- Terkait APD, ditemukan banyak tenaga kesehatan yang meninggal, perlu dipertanyakan apakah penyebab kematiannya disebabkan oleh karena tugas profesinya?

- Diharapkan seluruh penyelenggara fungsi kesehatan, perlu menempatkan peran yang efektif dan efisien

- Virus corona sangat cepat bermutasi sehingga ada hambatan dalam pengembangan vaksin

- Produktif tetapi tetap aman

(36)

30

Arahan Dirjen P2P pada acara Binwil Sulawesi Barat melalui dalam jaringan.

7. Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Tuberkulosis di Masa Pandemi COVID-19

Hadirnya pandemi COVID-19 menjadi tantangan baru dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia tahun 2030. Sejak terkonfirmasinya kasus pertama COVID-19 di Indonesia pada tanggal 2 Maret, laju penularan COVID-19 melesat hingga pada 19 Mei 2020, jumlah total orang yang terkonfirmasi positif COVID-19 mencapai 18.496 kasus. Cepatnya penularan COVID-19 membuat respon terhadap COVID-19 menjadi fokus utama kegiatan pemerintah, baik pusat maupun daerah, sehingga penanggulangan penyakit menular lainnya, seperti TBC, seolah tidak lagi menjadi prioritas dalam masa pandemi COVID-19.

Sebagai upaya memastikan penanggulangan TBC tetap berjalan, pada tanggal 19 Mei 2020, Stop TB Partnership Indonesia (STPI) bersama Asosiasi Dinas Kesehatan (ADINKES) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Dalam Negeri untuk memberikan pemahaman kepada para pemangku kebijakan di daerah tentang urgensi penyelenggaraan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Tuberkulosis dalam masa pandemi. Upaya ini dilakukan melalui seminar daring yang bertajuk “Urgensi Pelaksanaan

(37)

31 Standar Pelayanan Minimal (SPM) Tuberkulosis di Masa Pandemi COVID-19”. Seminar tersebut dibuka oleh dr. M. Subuh, MPPM (Ketua Umum PP ADINKES) melalui beberapa patah kata sambutan, dipandu oleh dr. Eduard Sigalingging, M.Si. (Direktur SUPD III, Kemendagri) sebagai moderator, dan dihadiri oleh Pungkas Bahjuri Ali, STPI, MS, Ph.D (Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat, BAPPENAS), Ahmad Saehu, S.Kep (Perawat Poli TB DOTS, Puskesmas Kecamatan Ciracas), Puan Meirinda Sebayang (Chair, Sekretariat Jaringan Indonesia Positif/Affected Communities Delegation to the Stop TB Partnership Board), serta Heny Akhmad (Direktur Eksekutif, Stop TB Partnership Indonesia) sebagai pembahas.

Dirjen P2P juga menambahkan bahwa tanggungjawab pemerintah terhadap upaya eliminasi TBC yang diwujudkan melalui SPM tidak berubah, hanya saja diperlukan adaptasi mekanisme pelayanan dalam masa pandemi COVID-19. Bentuk-bentuk dari adaptasi ini tidak dapat digeneralisasi dan akan sangat spesifik pada masing-masing Kabupaten/Kota.

Komitmen pemerintah untuk tetap menjaga kesinambungan upaya eliminasi TBC dalam pandemi COVID-19, sebagaimana dijelaskan Dirjen P2P di atas, tidak terlepas dari komitmen Presiden. Teguh Supriyadi, S.H., LL.M. (Asisten Deputi Bidang Agama, Kesehatan, dan Olahraga, Sekretariat Kabinet) menjelaskan bahwa Presiden Joko Widodo mengemukakan bahwa pemenuhan layanan dasar di bidang kesehatan merupakan

(38)

32 prioritas utama pemerintah. Presiden juga berpesan bahwa fokus penanggulangan TBC bukanlah dalam pengobatan, melainkan dalam pencegahan.

Senada dengan pernyataan Dirjen P2P Kementerian Kesehatan dan Asisten Deputi Sekretariat Kabinet, Dr. Hari Nur Cahaya Murni, M.Si. (Plh. Dirjen Bina Pembangunan Daerah/Dirjen Bangda, Kementerian Dalam Negeri), juga menegaskan bahwa SPM Kesehatan tentang TBC harus dilaksanakan secara memadai dalam masa pandemi COVID-19 karena tanggung jawab Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan SPM sudah diatur dalam Proses SPM (PP No. 2/2018), Proses Perencanaan dan Proses Penganggaran (Permendagri No. 86/2017, Permendagri tentang Penyusunan RKPD, dan Permendagri tentang Pedoman Penyusunan APBD.

8. Advokasi Desa Siaga TBC Kabupaten Karawang dan Brebes

Menindaklanjuti Ratas Eliminasi Kabinet TBC tanggal 20 Juli 2020 dan Pencanangan Gerakan Bersama menuju eliminasi TBC 2030 pada tanggal 29 Januari 2020 oleh Presiden Joko Widodo serta menyadari bahwa permasalahan TB bukan hanya permasalahan Sektor Kesehatan saja maka Pemda Kabupaten Karawang bersama Kementerian Kesehatan melakukan suatu Advokasi Desa Siaga Tuberkulosis pada tanggal 1 dan 2 September 2020. Advokasi desa ini dipimpin oleh Dirjen P2P – dr. Achmad Yurianto. Kegiatan hari pertama, didampingi oleh Kadinkes Jabar dr. Berli Hamdani Geluh Sakti, MPPM, Bupati Karawang diwakili Asda 2 Drs. Haryanto, MM dan dihadiri undangan yang berasal dari muspida, jajaran Pemkab Karawang dan Komunitas Peduli Tuberkulosis di Karawang.

Kementerian Kesehatan hadir dengan formasi lengkap, Dirjen P2P, dr Achmad Yurianto, bersama dengan Kasubdit TB, dr Imran Pambudi MPH, beserta staf dan Staf Khusus Menkes (SKM), yaitu dr Mariya Mubarika dan Tenaga Ahli (TA) Bidang Krisis Kesehatan, Kol Kes dr. Iwan Trihapsoro, Sp.KK, Sp.KP, FINSDV, FAADV.

Pada Pidato sambutannya, Bupati Karawang diwakili Asda 2 Drs. Haryanto, MM mengatakan bahwa Karawang yang berpenduduk 2.353.915, terdiri atas 30 kecamatan, 12 kelurahan dan 297 desa, dengan visi “Karawang yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur”

sadar bahwa Tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah utama Kesehatan selain Stunting dan AKI serta AKB, data kasus TBC baru di kabupaten karawang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, yaitu 4.086 kasus pada tahun 2018 menjadi 5.088 kasus pada tahun 2019 (naik 1002 kasus atau meningkat 19%). Selain itu juga semakin bertambahnya kasus tbc resisten obat/TBC RO (TBC kebal obat lini-1). Dengan penemuan terbanyak pada tahun 2019 sebanyak 114 kasus dari total 209 kasus TBC RO (naik 45%).

Meningkatnya kasus TBC RO ini sejalan dengan keberadaan alat tes cepat molekular

(39)

33 (TCM) dan berdampak pada beban petugas, sarana prasarana dan pembiayaan pendampingan pengobatan pasien TBC RO.

Dirjen P2P, dr. Achmad Yurianto mengatakan, program ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut rapat terbatas eliminasi kabinet TB dan pencanangan Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TB. Dirjen menekankan pentingnya masyarakat menjadi subyek dalam upaya pembangunan kesehatan sehingga mereka melakukan pola hidup sehat sebagai bentuk upaya pemenuhan kebutuhan mereka agar bisa hidup produktif dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Setelah Covid-19 nanti selesai maka seluruh upaya Covid-19 diganti dengan TBC supaya eliminasi TBC cepat tercapai.

Sambutan dari Dirjen P2P dr. Achmad Yurianto

(40)

34

Advokasi Desa Siaga TBC Kabupaten Karawang

Pada Pidato sambutannya, Bupati Brebes Hj. Ny. Idza Priyanti, S.E., M.H, mengatakan bahwa Brebes yang memiliki luas wilayah 1.663 KM2, terdiri dari 17 Kecamatan, 297 Desa

& Kelurahan, serta berpenduduk 1,8 juta jiwa sadar bahwa Tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah utama Kesehatan selain Stunting dan AKI serta AKB. Pada tahun 2020, estimasi kasus TBC di Kab Brebes ada sekitar 4360, target penemuan kasusnya sebesar 3.924, yang tercatat dan dilaporkan ke SITB sd. Juli 2020 ada 1126 kasus dan sedang menjalani pengobatan. Oleh sebab itu ini adalah momen yang tepat untuk melakukan intervensi yang terintegrasi antara TBC – Stunting – Penurunan AKI/AKB.

9.

(41)

35

Advokasi Desa Siaga TBC Kabupaten Brebes

9. Pertemuan Harmonisasi Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) tentang penanggulangan tuberkulosis

Komitmen Pemerintah dalam mencapai eliminasi TBC 2030 terwujud dengan masuknya indikator TBC dalam RPJMN, Renstra Kementerian Kesehatan, serta Indikator Standar Pelayanan Minimal dan Indikator Keluarga Sehat. Akan tetapi menghadapi tantangan besar untuk mencapai eliminasi TBC sebagai salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030, Indonesia perlu merespon permasalahan TBC dengan pendekatan multi sektoral.

Kementerian Kesehatan telah mengupayakan pendekatan multisektoral dalam penanggulangan TBC sejak pertemuan High Level Meeting untuk Menteri tahun 2017 di Moscow dan telah menyatakan dukungan terhadap Deklarasi Politis pada Sidang Umum PBB tentang TBC pada tahun 2018. Namun, pendekatan multisektoral di Indonesia saat ini belum berjalan efektif karena diperlukan dasar hukum yang lebih kuat untuk memastikan peran aktif kementerian/lembaga lintas sektor, di tingkat pusat dan daerah, dalam mencapai eliminasi TBC 2030 dan bebas TBC tahun 2050.

Menindaklanjuti pencanangan Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030, persetujuan RPerpres TBC, dan arahan Presiden Republik Indonesia dalam Rapat Terbatas Percepatan Eliminasi TBC, Ditjen P2P telah melaksanakan beberapa rapat dengan wakil-wakil dari instansi terkait yaitu Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,

(42)

36 Sekretariat Kabinet, dan Kementerian Dalam Negeri serta satuan kerja terkait di lingkungan Kementerian Kesehatan.

Penerbitan Perpres tentang Penanggulangan TBC diharapkan akan mengakselerasi upaya multisektor dalam melaksanakan upaya-upaya untuk mencapai target eliminasi TBC.

Selanjutnya dalam proses persiapan RPerpres TBC, Kementerian Kesehatan melakukan rapat secara serial untuk membahas dan menyusun RPerpres dengan Kementerian/Lembaga serta pemangku kepentingan terkait.

Tujuan kegiatan ini adalah tersusunnya Rancangan Perpres tentang Penanggulangan Tuberkulosis. Kegiatan dilaksanakan dengan serangkaian pertemuan yang dilaksanakan secara virtual (dalam jaringan) dan tatap muka (luar jaringan) baik rapat-rapat internal di Kementerian Kesehatan, maupun harmonisasi dengan mitra, komunitas, dan Kementerian/Lembaga non-kementerian di luar sektor Kesehatan.

2. Proporsi Kasus Kusta Baru tanpa Cacat a. Penjelasan Indikator

Keterlambatan dalam penemuan kasus dan penanganan pasien kusta dapat mengakibatkan kecacatan tubuh permanen pada pasien kusta. Kecacatan tubuh akan dapat mengarah kepada stigmatisasi dan diskriminasi orang yang mengalami kusta dalam aspek sosial, ekonomi dan budaya.

Salah satu strategi nasional dalam program pengendalian penyakit kusta adalah menemukan kasus kusta baru sedini mungkin tanpa cacat, dan mengobati sampai sembuh sesuai obat yang terstandar secara global dengan prinsip Multidrug therapy.

Untuk dapat memonitoring dan mengevaluasi keberhasilan program tersebut, digunakan indikator proporsi kasus baru tanpa cacat yang dapat merefleksikan

(43)

37 perbaikan dalam kegiatan penemuan kasus yang dilakukan secara lebih dini, sehingga dapat menekan angka keterlambatan penemuan kasus dan angka cacat serendah mungkin.

b. Definisi Operasional

Proporsi kasus baru kusta tanpa cacat adalah jumlah kasus baru kusta tanpa cacat (cacat tingkat 0) di antara total kasus baru yang ditemukan di suatu wilayah dalam periode waktu 1 (satu) tahun.

c. Rumus Cara Perhitungan

Menghitung proporsi kasus baru kusta tanpa cacat adalah sebagai berikut:

Pembilang (nominator) bagi indikator tersebut adalah jumlah kasus baru kusta tanpa cacat (cacat tingkat 0) yang ditemukan di suatu wilayah, sedangkan penyebut (denominator) adalah jumlah kasus baru yang ditemukan di suatu wilayah dalam periode waktu 1 (satu) tahun.

d. Capaian indikator

Dalam Global Leprosy Strategy for Period 2021-2030 yang diterbitkan oleh WHO, tercantum target global yang harus dicapai oleh negara-negara di dunia, yaitu 120 negara dengan nol kasus impor kusta; 70% penurunan kasus baru yang ditemukan tiap tahunnya, 90% penurunan angka cacat tingkat 2, dan 90% penurunan kasus baru kusta anak.

Penetapan target penurunan angka cacat tingkat 2 selaras dengan target Program Nasional P2 Kusta di Indonesia yaitu peningkatan proporsi penemuan kasus baru kusta tanpa cacat tiap tahunnya. Kedua indkator tersebut sama-sama merefleksikan perubahan dalam deteksi kasus baru secara dini. Penemuan kasus secara dini mencegah keterlambatan penemuan kasus yang mengarah pada terjadinya kecacatan akibat kusta.

Proporsi cakupan penemuan kasus baru

kusta tanpa cacat =

Jumlah kasus baru kusta tanpa cacat yang ditemukan (cacat tingkat 0)

X 100%

Jumlah kasus baru yang ditemukan dalam periode 1 tahun

(44)

38 Data global tahun 2019 yang dilaporkan WHO dalam Weekly Epidemiological Record Tahun 2020 menyatakan bahwa pada tahun 2019 penemuan kasus baru mencapai 202.185 kasus baru dengan CDR mencapai 25,9 per 1.000.000 penduduk. Tiga negara termasuk Brazil, India dan Indonesia melaporkan >10.000 kasus baru. Dari total kasus baru tersebut, sebanyak 10.813 kasus ditemukan dengan cacat tingkat 2.

Penurunan kasus cacat tingkat 2 cukup signifikan terlihat di wilayah SEAR hingga 45% dari 87.92 di tahun 2015 menjadi 4.817 di tahun 2019. Total 370 kasus anak dengan cacat tingkat 2 terdeteksi secara global dimana 75% nya kasus tersebut ditemukan di 5 negara dengan beban tinggi kusta, termasuk Indonesia.

Proporsi kasus kusta baru tanpa cacat ditetapkan sebagai indikator nasional pada periode pertama yaitu 2015-2019, kemudian dilanjutkan pada periode selanjutnya yaitu 2020-2024. Evaluasi di akhir periode pertama, diketahui target tidak tercapai selama 5 tahun dalam periode tersebut, sehingga menjadi pertimbangan penetapan target pada periode selanjutnya. Pada periode 2020-2024, target indikator tersebut adalah 87%, 88%, 89%, 90%, dan >90% secara berturut-turut.

Meskipun indikator tersebut kecenderungan mengalami kenaikan dari tahun 2015- 2017, namun pencapaian target tersebut dari tahun 2018-2020 melandai dan tidak mengalami perubahan yang bermakna secara signifikan. Grafik pencapaian indikator proporsi kasus kusta baru tanpa cacat dapat dilihat dalam grafik di bawah ini:

Pencapaian proporsi kasus baru kusta tanpa cacat tahun 2020 adalah sebesar 87%.

Data Program P2 Kusta hingga tanggal 13 Januari 2021 menyatakan pencapaian indikator ini adalah sebesar 85,34% (pencapaian target 98,1%). Data tersebut akan mengalami perubahan setelah dilakukan finalisasi dan validasi data untuk tribulan IV.

(45)

39

Gambar

Target dan Capaian Indikator Proporsi Cakupan Penemuan Kasus Baru Tanpa Cacat Tahun 2014-2024

Data per 13 Januari 2021, belum dilakukan finalisasi data

Indikator proporsi kasus kusta baru tanpa cacat merupakan indikator proksi dari indikator RAP Kabupaten/Kota dengan Eliminasi Kusta. Proporsi kasus baru kusta tanpa cacat yang tinggi mengindikasikan kegiatan penemuan kasus cukup baik mendeteksi kasus secara dini. Dengan ditemukan secara dini, kasus dapat segera mendapatkan penanganan secara tepat, sehingga mata rantai penularan dapat diputus. Hal tersebut berdampak pada tercapainya status eliminasi di tingkat provinsi maupun kabupaten.

e. Upaya yang Dilaksanakan Mencapai Target Indikator

Anggaran program P2 Kusta sebagian besar diproporsikan untuk dana dekonsentrasi yang diperuntukkan bagi kabupaten/kota endemis tinggi kusta di 34 provinsi. Bentuk kegiatan berupa surveilans aktif seperti intensifikasi penemuan kasus kusta dan frambusia di kabupaten/kota endemis ataupun survei desa; pertemuan monitoring evaluasi dan validasi kohort tingkat provinsi; peningkatan kapasitas petugas, dokter puskesmas, dan petugas lab; serta kegiatan penunjang lain seperti pelaksanaan bimbingan teknis secara berjenjang.

80

82

85

88

91

95

87 88 89 90 91

79.5

78.1

82.3

84.4 85.19 85.49 85.34

75 80 85 90 95 100

2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2034

Target Capaian

(46)

40 Selama tahun 2020, kegiatan yang berhasil terlaksana di antaranya:

a) Intensifikasi Penemuan Kasus Kusta dan Frambusia (Intensified Case Finding/

ICF)

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh kabupaten/kota endemis atau beban tinggi kusta pada lokus kusta terpilih, dengan bersumber dana dekonsentrasi. Pada beberapa daerah direncanakan akan didampingi pelaksanaannya oleh pusat.

Namun adanya refocccusing anggaran di tingkat pusat, menyebabkan kegiatan pendampingan pusat tidak terlaksana. Pelaksanaan kegiatan di lapangan juga menjadi kurang maksimal karena adanya pembatasan kegiatan yang mengumpulkan masyarakat selama pandemi, sehingga di beberapa tempat dilaksanakan secara door to door.

b) Penyusunan kurikulum, pengembangan media Pelatihan Jarak Jauh (e-learning), dan penyelenggaraan Workshop e-Learning bersama dengan BPPSDMK Kemenkes RI dan Netherland Leprosy Relief (NLR).

c) Pelatihan Nasional Pemegang Program P2 Kusta dan Frambusia

Tahun 2020, direncanakan dilakukan orientasi program P2 Kusta terhadap dokter di fasyankes, namun terjadi refocusing anggaran pusat sehingga kegiatan orientasi dokter tidak jadi diselenggarakan. Di akhir tahun, dengan adanya bantuan pendanaan dari WHO, terlaksana Pelatihan Nasional bagi pemegang program sebanyak 2 batch, dengan metode online-offline. Pelaksanaannya 1 minggu pembelajaran materi secara daring, dilanjutkan 1 minggu secara offline untuk memperdalam praktek pemeriksaan dan pencarian kasus di lapangan.

(47)

41

Gambar

Pelaksanaan Praktek Pemeriksaan Suspek Kusta pada Pelatihan Nasional Pemegang Program P2 Kusta

d) Penyusunan draft petunjuk teknis Drugs Resistance Surveillance, Petunjuk Teknis Kemoprofilaksis, Petunjuk Teknis Surveilans Kusta, serta revisi Modul dan akreditasi pelatihan pengelola program P2 kusta tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

e) Pelaksanaan berbagai Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Program, di antaranya:

1. Pertemuan Evaluasi Program dan Validasi Data Kohort Nasional P2 Kusta dan Frambusia dalam rangka melakukan monitoring dan evaluasi program yang dilaksanakan oleh provinsi di Indonesia serta melakukan validasi dan finalisasi data tahun 2019.

2. Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Realisasi Anggaran Dekonsentrasi Tahun 2020 dalam rangka mengevaluasi realisasi kegiatan bersumber dana dekonsentrasi dan koordinasi penyusunan perencanaan kegiatan dekonsentrasi pada tahun selanjutnya.

3. Pertemuan Integrasi, Evaluasi, Validasi Data, dan Perencanaan Subdit PTML Regional Barat dan Timur dalam rangka melakukan monitoring dan evaluasi program berkala tahun 2020.

Gambar

Foto Bersama di akhir Kegiatan

Referensi

Dokumen terkait

Sumber: https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2379-penimbun-obat-penjahat-kemanusiaan Bagian struktur teks editorial yang tersaji dalam kutipan teks

demokrasi akademik dalam diskusi kelas analisis sumbangan Indonesia terhadap perkembangan fisika Ke-11 ♦ Mempresentasikan makalah sesuai topik diskusi ♦ Memahami

Hal ini bertolak belakang dengan apa yang menjadi esensi dari asas equality before the law yang tertuang dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945, bahwa semua orang sama di

Untuk mengetahui kualitas inderawi Roll Cake tepung ubi jalar ungu dan Roll Cake tepung terigu, tingkat kesukaan masyarakat terhadap Roll Cake tepung ubi jalar

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi holding time terhadap kekerasan dan kedalaman difusi baja St 41 setelah dilakukan proses pack

30 Potensi Penerimaan Retribusi Parkir Kawasan Perbelanjaan Kota Klaten oleh PEMDA yang Hilang Melalui Peraturan Baru. (Kenaikan Setoran dan Perubahan Persentase

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Dialog dan video apa sajakah dari situs www.youtube.com dan Hallo

Tidak tahu Jawaban No KOLOM D Ya Tidak 1 Apakah selama bekerja anda merasa nyaman