• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Bio-ekologi Cikukua timor

   

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Bio-ekologi Cikukua timor

2.1.1. Jenis-jenis Cikukua dan gambaran ringkas morfologinya

Terdapat enam jenis burung Cikukua yang tergolong dalam genus Philemon di daerah Walacea (Coates et al. 2000), yaitu: (1) Cikukua kecil (P. citreogularis), yang merupakan burung penetap (ada sepanjang tahun dan berbiak) di Nusa Tenggara (Kisar-Moa). Burung ini memiliki ukuran tubuh 25 cm, dan bagian pipi yang gundul berwarna abu-abu kebiruan. Burung-burung remaja memiliki tenggorokan bernuansa kuning; (2) Cikukua timor, yang merupakan burung endemik kawasan Wallacea dan memiliki sebaran di Timor (Nusa Tenggara Timur). Burung ini memiliki ukuran tubuh 24 cm, memiliki mata polos, kulit di sekeliling mata agak gundul, dan sekilas nampak hampir mirip dengan Cikukua tanduk (P. buceroides); (3) P. buceroides, merupakan penetap di Nusa Tenggara. Hal yang dapat membedakan dengan P. inornatus adalah ukuran tubuh yang lebih besar (29-33 cm), berwarna kecoklatan kusam, bagian bawah lebih pucat, muka dan sisi kepala gelap dan gundul, paruh hitam besar dengan kenop pada paruh khas, pada Cikukua tanduk remaja memiliki punggung bersisik putih, tenggorokan dan dada agak kuning, kenop pada paruh samar-samar dan P.b. buceroides terdapat di NTT; (4) Cikukua hitam (P. fuscicapillus) terdapat di Maluku bagian Utara, memiliki ciri berukuran tubuh 30 cm, bercak-mata gundul merah-jambu, paruhnya kokoh, kenop pada paruh tidak jelas, sekilas nampak mirip dengan kepudang halmahera (Oriolus phaeochromus), (5) Cikukua seram (P. subcorniculatus) di Maluku sebarannya terbatas sampai di Seram, memiliki ukuran tubuh 35 cm, berwarna coklat zaitun, bagian bawah lebih pucat, muka gundul gelap bercak-mata bervariasi coklat kekuningan hingga kemerahan, leher belakang abu-abu, dada kekuningan, kenop pada paruh tidak jelas, sekilas nampak seperti kepudang seram (Oriolus bouroensis); (6) Cikukua maluku (P. moluccensis) di Nusa Tenggara (Tanimbar) dan Maluku (Buru dan Kei) memiliki ciri ukuran tubuh 31-37 cm, berwarna coklat, bagian bawah dan leher belakang lebih pucat, bercak-muka gundul kehitaman, burung remaja memiliki ciri sisi

8  

tenggorokan bagian bawah agak kuning, P. m. moluccensis (Buru), tidak ada kenop pada paruh, tenggorokan keputih-putihan, alis pucat, sekilas nampak seperti kepudang muka hitam (Oriolus bouroensis).

a. Cikukua timor b. Cikukua tanduk Gambar 2 Perbedaan Cikukua timor dengan Cikukua tanduk. 2.1.2. Klasifikasi Cikukua timor

Sistematika Cikukua timor sebagai berikut; Kingdom : Animalia

Filum : Chordata Sub Filum : Vertebrata Kelas : Aves

Ordo : Passeriformes Famili : Meliphagidae Genus : Philemon

Spesies : Philemon inornatus (G.R Gray, 1846)

Nama Daerah : Cikukua timor (Indonesia); koakiko (Kupang-Timor), Lorikeet (Timor Leste).

Nama Inggris : Timor Friarbird/Plain friarbird (Sukmantoro et al. 2007) 2.1.3. Daerah penyebaran Cikukua timor

Burung ini merupakan jenis endemik Timor. Burung Cikukua timor hidup pada ketinggian 0-2400 dari permukaan laut (Coates et al. 2000). Status Cikukua timor dalam kategori Endemic Bird Areas (EBAs) adalah RR (Restricted-range) ditemukan di tipe hutan tropis kering (tropical dry forest)

(Trainor 2002). International Union for the Conservation of Nature and Nature Resources (IUCN) memasukkan status keterancaman spesies Cikukua timor yang terkategori Least Concern (LC) Ver 3.1. (BirdLife International, 2009). Status LC menunjukkan bahwa keberadaan populasi burung Cikukua timor di alam masih umum ditemukan dan tidak terancam kepunahan maupun kategori mendekati kepunahan atau Near Treatened (NT). Laporan IUCN ini berdasarkan data Coates dan Bishop (1997), bahwa ukuran populasi secara global tidak dihitung, tapi keberadaan spesies ini tersebar luas dan umum ditemukan di Timur Leste (http: //www. iucnredlist. org/apps/redlist/details, 2011 [19 Februari 2011]).

Habitat Cikukua timor dan Cikukua tanduk sama-sama di hutan tropis (Tropical Forest), daerah berhutan (Woodland), dan perkebunan (Plantation), dan dikategorikan sebagai common resident (cr) (Trainor et al. 2008). Trainor (2002) juga menyatakan Cikukua timor hidup di habitat hutan muson (monsoon forest). Cikukua tanduk atau Helmeted Friarbird P. buceroides merupakan burung yang umum di savana dataran rendah, memiliki distribusi di bagian Barat atau Utara Wallacea (yang terhubung dengan pulau dan yang bertautan dengan benua Asia Selatan-Timur (Trainor et al. 2008).

Gambar 3 Peta Pulau Timor, wilayah garis perbatasan dan penyebaran burung di Timor Leste dan Timor Barat, Indonesia (Sumber: Trainor et al. 2008). 2.2. Karakterisitik Burung Pemakan Nektar

Suku Meliphagidae (isap madu) termasuk ke dalam burung Australo-Papua yang besar. Terwakili dengan baik di Indonesia bagian Timur, tetapi jarang mencapai kawasan Sunda. Suku burung ini beragam, mulai dari jenis berukuran

10  

besar seperti burung Cikukua yang mengisi relung rangkong sampai berukuran kecil mengisi relung yang sama dengan Pijantung dan Burung madu (MacKinnon et al. 2010)

Penampakan umumnya tidak mencolok. Paruhnya ramping, tajam dan melengkung ke bawah. Memakan nektar, buah-buahan dan serangga. Sarangnya dibuat berbentuk mangkuk. Satu-satunya wakil dari suku ini adalah isap-madu Indonesia (Lichmera limbata), khas untuk anggota yang berukuran kecil dalam suku ini (MacKinnon et al. 2010). Komunitas burung merupakan salah satu komponen biotik ekosistem yang berperan dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.Peran tersebut tercermin dari posisi tropik yang ditempatinya. Sebagai contoh, burung pemakan nektar dan buah berperan dalam proses penyerbukan buah dan penyebaran biji (Partasasmita 2009).

Deliso (2008) menjelaskan bahwa perubahan iklim telah mempengaruhi populasi burung kolibri (hummingbird) di Monteverde, Pegunungan Tilaran, Costa Rica. Perubahan iklim telah mempengaruhi tanaman penghasil nektar. Kolibri telah mengalami efek kompleks pada komunitas tumbuhan melalui penyerbukan. Selanjutnya, nektar dan produksi bunga mempengaruhi perilaku, ukuran populasi, dan siklus kehidupan burung. Variabel iklim yang mencakup curah hujan, temperatur dan penutupan awan mempengaruhi produksi nektar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan yang menurun, terjadinya peningkatan suhu dan penutupan awan telah berdampak langsung kepada populasi kolibri dan tanaman yang mendukung kehidupannya. Famili kolibri lebih memilih jenis tumbuhan yang menghasilkan bunga dengan tempat daun bunga (petal) dan bukaan diameter korola yang lebih besar. Kolibri mengunjungi bunga di hari pertama bunga tersebut mekar dengan jumlah kunjungan sebanyak tiga kali secara bertahap. Selain itu, tanaman yang berukuran besar dengan bunga lebih banyak, dan jumlah nektar lebih besar, menerima kunjungan lebih banyak per tanaman dan per bunga dibandingkan tanaman kecil dengan beberapa bunga saja.

Honeyeaters dapat memakan serangga kecil atau serbuk sari ketika mereka mengunjungi bunga yang berukuran kecil. Honeyeaters cenderung makan di daerah hutan yang memilliki ciri-ciri tersendiri (discrete) karena mereka memiliki kepentingan makanan yang sama (Castro & Robertson 1997). Honeyeaters

ataupun hummingbirds (Fam.Trochilidae) mendapatkan lebih banyak airnya dari nektar yang mereka konsumsi dan kadang-kadang asupan air yang berlebihan diperoleh melalui nektar (Nicolson 2006).

Rata-rata, bunga untuk burung pemakan nektar mengandung 75-80% air (Nicolson 2006). Tumbuhan yang terbanyak menyediakan sumber nektar untuk honeyeaters di Australia berasal dari famili Myrtaceae (10 genus; pohon dan semak belukar), Proteaceae (7 genus: pohon dan semak), Loranthaceae (6 genus: hemisparasites); Rutaceae (6 genus; pohon dan semak), Epacridaceae (5 genus; semak), dan famili penting lainnya yaitu Myoporacea, Haemodoracea, dan Fabacea di Australia Selatan-Timur (Ford et al. 1979).

Dokumen terkait