BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Teritori Famili Meliphagidae
Maher dan Lott (1995) menyatakan bahwa definisi teritori secara konseptual kebanyakan berbeda antara satu dengan yang lainnya dari tiga tipe yaitu; (1) daerah pertahanan, (2) daerah eksklusif, (3) dominan lokasi spesifik. Teritori pada burung paling umum didefinisikan secara konseptual sebagai areal pertahanan. Penelitian burung kebanyakan terkait dengan penandaan teritori dengan nyanyian. Nyanyian merupakan cara relatif lebih mudah untuk mengukur dan mengidentifikasi teritori; pada habitat yang visibilitas yang rendah, mengukur jumlah nyanyian lebih mudah daripada menghitung jumlah pergerakan penyusupan melalui vegetasi.
Graf (2008) menyatakan bahwa teritori berkaitan erat dengan seleksi habitat, karena burung teritorial harus mencari patch yang belum digunakan oleh pesaing sejenis atau lain atau harus merebut suatu wilayah yang sudah digunakan oleh individu atau pasangan lainnya. Teritorialitas biasanya ditunjukkan dengan respon agresifitas terhadap individu lain yang melibatkan penggusuran (displacing), berburu (chasing) atau membentur (striking) dan beberapa respon yang lebih lemah seperti nyanyian dan atraksi lainnya. Menetapkan dan mempertahankan wilayah merupakan pendekatan untuk mengamankan ketersediaan sumberdaya yang terbatas seperti makanan, lokasi bersarang dan kawin.
12
2.4. Perilaku
Penelitian di wilayah Armidale, New South Wales (NSW), selama lebih dari 8 tahun dengan melakukan pencincinan burung (banded birds) oleh Ford tahun 1999 diketahui bahwa aktivitas organisasi sosial burung P. corniculatus, seringkali kelihatan dilakukan oleh seekor, berpasangan atau bersama-sama (flocks) (Clements 2000). Menurut Sukarsono (2009), perilaku sosial menyediakan banyak manfaat. Banyak binatang lebih sukses dalam menemukan makanan jika mereka mencarinya secara berkelompok, terutama jika sumber-sumber daya makanan hanya terdapat di tempat tertentu. Jika lebih banyak individu bekerja sama, maka akan ada satu atau lebih kesempatan mereka menemukan makanan. Tracey et al. (2007) Noisy friarbirs dapat bermigrasi dan kebanyakan populasi Noisy friarbirs terlihat bergerak mengembara (nomadic) mengikuti kualitas nektar terbaik dari pohon dan belukar yang sedang berbunga. Noysi friarbird tercatat melakukan berpindah terjauh 510 km dari selatan Mudgee ke Mita-Mita di timur laut Victoria.
Noisy friarbirs makan bersama kelompok lorikeets, red wattlebirds (Anthochaeracarunculata) dan honeyeaters (Melipagidae) lain sampai berkompetisi secara intensif pada saat kekurangan pakan. Secara umum friarbird makan dalam kelompok kecil yang ribut, tidak lebih dari 20 induvidu, tapi berkelompok lebih besar dapat terjadi sekitar sumber pakan (Tracey et al. 2007)
Satwaliar mempunyai berbagai perilaku dan proses fisiologis untuk menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungannya. Untuk mempertahankan kehidupannya, mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang agresif, melakukan persaingan dan bekerjasama untuk mendapatkan pakan, pelindung, pasangan untuk kawin, reproduksi dan sebagainya (Alikodra 2002). Bailey (1984) menyatakan bahwa satwaliar yang hidup secara berkelompok dapat meningkatkan kesempatan untuk menemukan sumberdaya habitat, pendeteksian adanya bahaya, dan untuk menghindarkan atau mempertahankan diri dari predator. Kehidupan secara sosial ini timbul karena adanya proses pembelajaran tentang kemampuan adaptif seperti mencari sumber pakan, wilayah jelajah dan rute-rute migrasi. Banyak hewan tinggal dalam kelompok sosial yang dilakukan juga untuk perlindungan. Beberapa binatang membentuk kelompok sosial untuk membuat
perjalanan mereka lebih mudah, seperti Angga kenada dan spesies burung lain secara tipikal terbang dengan formasi V (Sukarsono 2009). Populasi satwaliar mempertahankan nilai-nilai adaptif baik perilaku kompetitif dan kooperatif melalui sistem evolusi sosial, yakni sistem hirarki dan teritorial. Sistem hirarki dan teritorialisme ini selanjutnya mengendalikan perilaku agresivitas intraspesifik secara terbatas yang memungkinkan terbentuknya dan berfungsinya kelompok sosial (Bailey 1984).
2.5.Habitat
Morrison (2005) menyatakan bahwa istilah habitat terkait pada konfigurasi spesifik dari komponen lingkungan (misalnya, vegetasi, permukaan batuan, air) yang digunakan satwa pada setiap titik waktu. Habitat merupakan konsep spesifik suatu spesies, dimana setiap spesies hewan menggunakan suatu kombinasi dari komponen lingkungan yang berbeda. Oleh karena itu, tidak ada daerah spesifik habitat yang baik atau buruk, kecuali jika dinilai dalam hubungannya dengan spesies tertentu. Jadi apa yang “baik” untuk satu spesies mungkin “ tidak baik” bagi spesies lain.
Kawasan yang terdiri dari beberapa kawasan, baik fisik maupun biotik, yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembangbiaknya satwaliar disebut habitat (Alikodra 2002). Menurut Krebs (1978); Leksono (2007), habitat merupakan lingkungan dimana spesies berada atau habitat adalah bagian biosfer dimana organisme dapat hidup, baik secara permanen maupun temporer.
Menurut Bailey (1984), habitat suatu organisme pada umumnya mengandung faktor ekologi yang sesuai dengan persyaratan hidup organisme yang menghuninya. Kebutuhan habitat dari suatu spesies satwaliar adalah faktor yang menentukan kesejahteraan bagi suatu jenis satwa. Tersedianya kebutuhan habitat suatu jenis satwa selanjutnya akan mempengaruhi tingkat produktivitas dan kesehatan dari satwa. Persyaratan hidup setiap organisme merupakan kisaran faktor-faktor ekologi yang ada dalam habitat dan diperlukan oleh setiap organisme untuk mempertahankan hidupnya. Persyaratan habitat terdiri dari pakan, penutupan tajuk dan faktor lain yang dibutuhkan oleh satwaliar untuk bertahan
14
hidup serta untuk keberhasilan proses reproduksi. Habitat mempunyai fungsi dalam penyediaan makanan, air dan pelindung (Alikodra 2002). Berdasarkan segi komponennya, habitat terdiri dari komponen fisik dan komponen biotik. Komponen fisik dan biotik ini membentuk sistem yang dapat mengendalikan kehidupan satwaliar.
Faktor-faktor dari komponen fisik yang berperan dalam pertumbuhan populasi satwaliar antara lain; (a) air dimana ketersediaan air pada suatu habitat secara langsung dipengaruhi oleh iklim lokal, dan iklim tidak hanya menentukan kuantitas total air yang tersedia per tahun, tetapi juga keadaan hujan yang merata sepanjang tahun atau hanya beberapa bulan saja, (b) radiasi surya diubah dengan cara kimia setelah sampai di permukaan bumi untuk dipergunakan oleh berbagai organisme, (c) temperatur dimana berpengaruh terhadap reproduksi, pertumbuhan dan kematian suatu organisme, dan secara umum temperatur berpengaruh terhadap perilaku satwaliar, ukuran tubuh ataupun bagian-bagiannya, (d) panjang hari dimana aktivitas satwaliar banyak tergantung pada panjang hari, terutama jenis satwa yang aktif pada siang hari (diurnal) dan berlindung pada malam hari, jenis satwaliar yang aktif pada malam hari (nocturnal), dan beberapa jenis aktif pada waktu senja ataupun fajar (crepuscular), (e) aliran dan tekanan udara berperan sangat penting bagi beberapa jenis satwaliar seperti jenis elang, mempengaruhi tingkat kandungan air dan kelembaban relatif tanah, mempunyai kekuatan sebagai perusak, perbedaan tekanan udara berdasarkan perbedaan ketinggian dapat menyebabkan perbedaan bentuk kehidupan, dimana semakin tinggi suatu tempat akan semakin rendah tekanan udaranya, sehingga mempersulit proses respirasi satwaliar, (f) tanah yang terbentuk sebagai hasil interaksi proses geologis, iklim, dan biologis, secara umum tipe tanah berpengaruh terhadap tipe vegetasi, sehingga dapat menentukan struktur kehidupan satwaliar yang menempatinya (Alikodra 2002).
Faktor-faktor dari komponen biotik terdiri dari kuantitas dan kualitas makanan, pemangsaan (predasi) dan penyakit (Bailey 1984). Satwaliar memerlukan kuantitas dan kualitas makanan yang berbeda menurut jenis, perbedaan jenis kelamin, kelas umur, fungsi fisiologis, musim, cuaca dan kondisi geografis. Alikodra (2002) menyatakan bahwa adanya asosiasi antara mangsa
(prey) dan pemangsa (predator) menunjukkan bahwa populasi mangsa akan ditentukan oleh ukuran populasi predator, dan populasi predator akan ditentukan oleh ketersediaan mangsa.