BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Biodegradabilitas Bioplastik
Uji Biodegradabilitas dilakukan untuk memperkirakan waktu terurainya bioplastik di lingkungan. Pengujian bioplastik dilakukan dengan mengubur sampel di tanah dalam waktu tertentu. Pengujian dilakukan selama waktu 12 hari dan tiap 3 hari diamati perubahan berat dari bioplastik tersebut. Sampel tiap perlakuan dibuat pengulangan sebanyak 2 kali (duplo).
Pengujian biodegradabilitas dilakukan dengan menghitung persentase penurunan berat bioplastik dan laju biodegradabilitas. Penurunan berat bioplastik merupakan representasi degradasi yang terjadi, dan laju biodegradabilitas merupakan seberapa penurunan berat bioplastik dalam tiap harinya. Biodegradasi pada bioplastik ditandai dengan semakin meningkatnya persentase penurunan berat, dan semakin meningkatnya laju biodegradabilitas maka semakin cepat bioplastik akan terdegradasi. Persentase penurunan berat dari bioplastik alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol selama 12 hari dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil persentase rata-rata penurunan berat
Formulasi (%) Persentase Penurunan Berat (%)
Berdasarkan hasil penghitungan persentase penurunan berat bioplastik formulasi alginat:gliserol (Lampiran 8) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persentase penurunan berat tiap formulasi alginat:gliserol. Bioplastik formulasi alginat:gliserol (1:25) menghasilkan persentase penurunan berat tertinggi pada hari ke-12 sebesar 28,26% dan mengalami perubahan fisik bioplastik (Lampiran 5) berupa penyusutan lebih besar dibandingkan dengan formulasi lainnya maupun bioplastik komersial. Hal ini terdapat pula pada penelitian Wahyuningtiyas &
20
Suryanto (2017) mengenai biodegradasi pada bioplastik pati singkong dengan gliserol. Bioplastik dengan konsentrasi gliserol 3% mengalami penyusutan yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan bioplastik tersebut memiliki persentase penurunan berat yang dipe roleh tinggi sebesar 43,75%.
Persentase penurunan berat terendah adalah bioplastik formulasi alginat:gliserol (2:15) pada hari ke-12 sebesar 8,16%. Bioplastik formulasi alginat:gliserol (1:15) pada hari ke-3 diperoleh hasil negatif yang menunjukkan terdapatnya penambahan berat. Penambahan berat pada bioplastik alginat:gliserol (1:15) kemungkinan lembabnya tanah penguburan dibandingkan dengan tanah pada bioplastik alginat:gliserol (1:25) yang menyebabkan terjadinya penyerapan air pada bioplastik. Hal ini dapat disebabkan adanya penyerapan air dari tanah sehingga berat bioplastik bertambah. Menurut Debora (2020) mengatakan bahwa penambahan berat bioplastik dapat disebabkan oleh bioplastik yang menyerap molekul air.
Bioplastik formulasi alginat 2% memiliki penurunan berat yang lebih lambat dibandingkan dengan formulasi alginat 1%. Hal ini dapat disebabkan viskositas larutan pada alginat 2% lebih tinggi dibandingkan alginat 1%. Menurut Langit et al. (2019) bahwa semakin tinggi konsentrasi alginat akan menurunkan waktu biodegradasinya akibat terhambatnya penyerapan air akibat viskositas dari larutan. Adapun menurut Utomo et al. (2013) bahwa bioplastik yang homogen dan strukturnya rapat akibat perbedaan fisikokimia menyebabkan partikel-partikel yang terdapat pada bioplastik sulit diuraikan oleh mikroorganisme.
Bioplastik formulasi gliserol 25% memiliki persentase penurunan lebih cepat dibandingkan dengan gliserol 15%. Menurut Sofia et al. (2017) bahwa peningkatan jumlah gliserol yang ditambahkan akan berbanding lurus dengan persen degrabilitasnya. Biodegradabilitas juga dipengaruhi oleh komposisi dan sifat polimer, semakin hidrofilik suatu polimer akan mempercepat proses degradasinya (Safitri et al., 2019).
Bioplastik dengan bahan dasar alginat telah dilakukan oleh Solak &
Dyankova (2014) dengan menggunakan bioplastik alginat, metoksil pektin, dan gliserol. Persentase penurunan berat pada pada bioplastik alginat 2,5% dihasilkan
sebesar 40 – 60% pada hari ke-12 dan pada hari ke-84 dihasilkan sebesar 77,17 – 90,09%. Adapun penelitian oleh Dewi et al. (2017) menggunakan bioplastik dari alginat Ulva lactuca dan gliserol. Bioplastik yang dihasilkan dapat terdegradasi sebesar 37 – 64% dalam waktu 10 hari. Bioplastik dengan pemlastis gliserol terdapat pada penelitian Wahyuningtiyas & Suryanto (2017) dengan bioplastik pati singkong dan gliserol. Bioplastik dengan konsentrasi gliserol 3% pada hari ke-6 telah terdegradasi sebanyak 43,75%. Penelitian-penelitian tersebut memiliki persentase penurunan berat lebih besar dibandingkan dengan bioplastik alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol dan bioplastik komersial. Menurut Sisnayati et al. (2019) bahwa degradasi yang terlalu besar akan menurunkan daya tahan plastik sehingga bioplastik alginat dari Padina sp dengan pemlastis gliserol memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan dengan bioplastik dari penelitian lainnya.
Persentase penurunan berat berkaitan dengan laju biodegradabilitas. Laju biodegradabilitas dihitung dari persentase penurunan berat dibagi dengan berapa lama waktu degradasinya. Laju biodegradabilitas dapat digunakan sebagai estimasi degradasi bioplastik hingga terdegradasi sempurna. Hubungan antara persentase penurunan berat dengan laju biodegradabilitas dibuktikan dengan uji statistik korelasi Pearson (Lampiran 9). Berdasarkan hasil signifikansi yang diperoleh adalah 0,003 (p<0,05) dan koefisien korelasi sebesar 0,634.
Kesimpulannya adalah bahwa terdapatnya korelasi yang kuat antara persentase penurunan berat dan laju biodegradabilitas.
Pengujian biodegradabilitas dilakukan dengan menghitung persentase penurunan berat bioplastik dan laju biodegradabilitas. Penghitungan laju biodegradabilitas untuk mengetahui penurunan berat tiap 3 harinya. Laju biodegradabilitas pada bioplastik alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol dapat dilihat pada Gambar 3.
22
Gambar 3. Laju biodegradabilitas bioplastik alginat dari Padina sp. dengan pemlastis gliserol
Berdasarkan hasil laju biodegradabilitas bioplastik alginat Padina sp. dan pemlastis gliserol didapatkan hasil semakin menurunnya laju biodegradabilitas seiring waktu degradasi. Laju biodegradabilitas tertinggi terdapat pada hari ke-3 dan laju biodegradabilitas terendah terdapat pada hari ke-12. Hal ini dapat disebabkan oleh tanah yang semakin hari semakin kering yang akan mengurangi aktivitas mikroorganisme dan menurunkan laju biodegrabilitasnya. Menurut Rohaeti et al. (2016) mengatakan bahwa tingginya laju biodegradabilitas dapat terjadi karena masih terkandungnya gugus fungsi pada bioplastik yang digunakan oleh mikroorganisme di dalam tanah sebagai sumber nutrisinya.
Berdasarkan laju biodegradabilitas bioplastik formulasi alginat:gliserol bahwa dalam 12 hari penguburan dihasilkan laju biodegrabilitas sebesar 0,03 – 0,11 mg/hari. Laju biodegrabilitas yang diperoleh lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Nurlita et al. (2017) menggunakan bioplastik onggok, kitosan, dan gliserol. Laju biodegradabilitas tertinggi pada fromulasi onggok:kitosan (7:3) dan 4 mL gliserol sebesar 5,85 mg/hari. Hal ini dapat disebabkan oleh penggunaan gliserol yang lebih banyak dibandingkan dengan bioplastik alginat dari Padina sp. dengan formulasi gliserol 15% dan 25% dari berat alginat sehingga bioplastik onggok, kitosan, dan gliserol lebih hidrofilik.
Biodegradabilitas dipengaruhi oleh komposisi dan sifat polimer, semakin
0.00
hidrofilik suatu polimer akan mempercepat proses degradasinya (Safitri et al., 2019).
Laju biodegrabilitas bioplastik komersial dalam 12 hari menghasilkan sebesar 0,06 mg/hari. Laju biodegradabilitas tersebut lebih besar dibandingkan dengan bioplastik formulasi alginat:gliserol (2:15) sebesar 0,03 mg/hari, tetapi lebih rendah dibandingkan dengan bioplastik formulasi alginat:gliserol (1:15);
(1:25); dan (2:25) yang masing- masing sebesar 0,07 mg/hari; 0,11 mg/hari; dan 0,07 mg/hari. Hasil laju biodegrabilitas ini menunjukkan bahwa bioplastik formulasi alginat:gliserol akan lebih cepat terdegradasi sempurna dibandingkan dengan bioplastik komersial.
24
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kuat tarik bioplastik formulasi alginat:gliserol (1:15); (1:25); (2:15); dan (2:25) berturut-turut sebesar 3,65 MPa, 4,60 MPa, 3,24 MPa, dan 7,33 MPa.
Ketahanan air bioplastik formulasi alginat:gliserol ((1:15); (1:25); (2:15); dan (2:25) berturut-turut sebesar 3,65 MPa, 4,60 MPa, 3,24 MPa, dan 7,33 MPa berturut-turut sebesar 35,71±1,94%; 34,81±1,36%; 48,21±0,42%; dan 36,55±1,79%.
2. Bioplastik alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol pada hari ke-12 memiliki persentase penurunan berat sebesar 8,15 – 28,26% dengan laju biodegradabilitas sebesar 0,03 – 0,11 mg/hari. Bioplastik alginat Padina sp.
dengan pemlastis gliserol memiliki persentase penurunan berat yang hampir sama dengan bioplastik komersial dengan persentase penurunan berat sebesar 14,58%.
5.2. Saran
Perlu dilakukan penelitian selanjutnya mengenai pengaplikasian bioplastik untuk masyarakat agar dapat menjadi solusi dari sampah plastik.
24
DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, S. (2019). Alginates: applications in the biomedical and food industries.
New Jersey: John Wiley & Sons.
American Sociaty for Testing and Materials D882. (2005). Standard test methods for tensile properties of thin plastic sheeting, D638. Phiadelphia (US):
ASTM.
Anandito, R. B. K., Nurhartadi, E., & Bukhori, A. (2012). Pengaruh gliserol terhadap karakteristik edible film berbahan dasar tepung jali (Coix lacryma-jobi L.). Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 5(2), 17–23.
Anggarini, F. (2013). Aplikasi plasticizer gliserol pada pembuatan plastik biodegradable dari biji nangka (Skripsi). Universitas Negeri Semarang.
Anward, G., Hidayat, Y., & Rokhati, N. (2013). Pengaruh konsentrasi serta penambahan gliserol terhadap karakteristik film alginat dan kitosan. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2(3), 51–56.
Basmal, J., Utomo, B. S. B., Tazwir, Murdinah, Wikanta, T., Marraskuranto, E.,
& Kusumawati, R. (2014). Membuat alginat dari rumput laut Sargassum.
Jakarta: Penebar Swadaya Grup.
Bijang, C., Tehubijuluw, H., & Kaihatu, T. G. (2018). Biosorpsi ion logam (Cd) pada biosorben rumput laut coklat (Padina australis) asal Pantai Liti Pulau Kisar. Indonesia Journal Chemistry, 6(1), 51–58.
Chee, S. Y., Wong, P. K., & Wong, C. L. (2011). Extraction and characterisation of alginate from brown seaweeds (Fucales, Phaeophyeae) collected from Port Dickson, Peninsular Malaysia. Journal of Applied Phycology, 23(2), 191–196. https://doi.org/10.1007/s10811-010-9533-7
Coniawati, P., Laila, L., & Alfira, M. R. (2014). Pembuatan film plastik biodegradable dari pati jagung dengan penambahan kitosan dan pemlastis gliserol. Jurnal Teknik Kimia, 4(20), 22–30.
Debora, C. (2020). Biodegradabilitas bioplastik berbahan dasar limbah cair tahu dengan penguat kitosan dan plasticizer gliserol (Skripsi). Universitas Brawijaya.
Dewi, N. L. G. S., Ahmadi, B., & Hartiati, A. (2017). Karakteristik bioplastik alginat dari rumput laut Ulva lactuca. Jurnal Rekayasa Dan Manajemen Agroindustri, 5(3), 66–73.
Fibriyani, D., Arinta, F., & Kusumaningtyas, R. D. (2017). Pengolahan onggok singkong sebagai plastik biodegradable menggunakan plasticizer gliserin dari
25
26
minyak jelantah. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 6(2), 74–77.
http://dx.doi.org/10.17728/jatp.195
Huri, D., & Nisa, F. C. (2014). Pengaruh konsentrasi gliserol dan ekstrak ampas kulit apel terhadap karakteristik fisik dan kimia edible film. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 2(4), 29–40.
Kamsiati, E., Herawati, H., & Purwani, E. (2017). Potensi pengembangan plastik biodegradable berbasis pati sagu dan ubi kayu di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian, 36 (2), 67 – 76.
Kautsari, N. (2013). Potensi dan karakteristik natrium alginat Padina australis pada kondisi lingkungan perairan yang berbeda di Kabupaten Sumbawa (Skripsi). Institut Pertanian Bogor.
Kemenangan, F., Manu, G., & Manginsela, F. (2017). Pertumbuhan alga coklat Padina australis di Perairan Pesisir Desa Serei, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Ilmiah Platax, 5(2), 243–253.
Khalil, H. P. S. A., Tye, Y. Y., Saurabh, C. K., Leh, C. P., Lai, T. K., Chong, E.
W. N., … Syakir, M. I. (2017). Biodegradable polymer films from seaweed polysaccharides : A review on cellulose as a reinforcement material.
eXPRESS Polymer Letters, 11(4), 244–265. https://doi.org/10.3144/
expresspolymlett.2017.26
Langit, N. T. P., Ridlo, A., & Subagiyo. (2019). Pengaruh konsentrasi alginat dengan gliserol sebagai plasticizer terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik. Journal of Marine Research, 8(3), 314–321.
Lim, J. Y., Hii, S. L., Chee, S. Y., & Wong, C. L. (2019). Sargassum siliquosum J. Agardh extract as potential material for synthesis of bioplastic film.
Journal of Applied Phycology, 30(6), 3285–3297. https://doi.org/
10.1007/s10811-018-1603-2
Maharani, A. A., Husni, A., & Ekantari, N. (2018). Karakteristik natrium alginat rumput laut coklat Sargassum fluitans dengan metode ekstraksi yang berbeda. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 20(3), 478–487.
https://doi.org/10.17844/jphpi.v20i3.19768
Marismandani, A. D., & Husni, A. (2020). Development and characterization of biobased alginate/glycerol/virgin coconut oil as biodegradable packaging.
E3S Web of Confrences, 147, 1–7. https://doi.org/10.1051/e3sconf/202014 703016
Nafiyanto, I. (2019). Pembuatan plastik biodegradable dari limbah bonggol pisang kepok dengan plasticizer gliserol dari minyak jelantah dan komposit kitosan dari limbah cangkang bekicot (Achatina fullica). Integrated Lab Journal, 7(1), 75–89. https://doi.org/http://10.5281/zenodo.2656812
Nurdini, L., Hendriyana, Fansyuri, H., & Wibowo, T. (2018). Pengaruh penambahan pati ubi kayu dalam pembuatan bioplastik dari pati sukun.
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.
Nurfajrin, Z. D., Mahendrajaya, G. S., Sukadarti, S., & Sulistyowati, E. (2015).
Karakterisasi dan sifat biodegradasi edible film dari pati kulit pisang nangka (Musa paradisiaca L.) dengan penambahan kitosan dan plasticizer gliserol.
Prosiding Seminar Teknik Kimia Kejuangan, Program Studi Teknik Kimia, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.
Nurlita, D., Hersoelistyorini, W., Yusuf, M. (2017). Karakteristik plastik biodegradable berbasis onggok dan kitosan dengan plasticizer glisero l.
Jurnal Pangan dan Gizi, 7(2), 131–139. https://doi.org/10.26714/
jpg.7.2.2017.131-139.
Özdamar, E. G., & Ateş, M. (2018). Rethinking sustainability: a research on starch based bioplastic. Journal of Sustainable Construction Materials and Technologies, 3(3), 249–260. https://doi.org/10.29187/jscmt.2018.28
Parreidt, T. S., Müller, K., & Schmid, M. (2018). Alginate-based edible films and coatings for food packaging applications. Journal Foods, 7(170), 1–38.
https://doi.org/10.3390/foods7100170
Poetri, T. A. E. (2019). Pengaruh penambahan alginat dan polietilen glikol terhadap karakteristik edible film kappa karagenan (Skripsi). Universitas Sahid Jakarta.
Prasetyo, A. E., Widhi, A., & Widayat. (2012). Potensi gliserol dalam pembuatan turunan gliserol melalui proses esterifikasi. Jurnal Ilmu Lingkungan, 10(1), 26–31.
Purnavita, S., Subandriyo, D. Y., & Anggraeni, A. (2020). Penambahan gliserol terhadap karakteristik bioplastik dari komposit pati aren dan glukoman.
Metana: Komunikasi Rekayasa Proses dan Teknologi Tepat Guna, 16(1), 19–25.doi : 10.14710/metana.v16i1.29977
Rahman, R., Sood, M., Gupta, N., Bandral, J. D., Hameed, F., & Ashraf, S.
(2019). Bioplastics for Food Packaging : A Review. International Journal of Current Microbiology and Applied Sciences, 8(3), 2311–2321.
https://doi.org/10.20546/ijcmas.2019.803.274
Rositasari, R., Puspitasari, R., Nurhati, I. S., Purbonegoro, T., & Yogaswara, D.
(2017). 5 Dekade LIPI di Teluk Jakarta. Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Safitri, I., Riza, M., & Syaubari. (2019). Uji mekanik plastik biodegradable dari pati sagu dan grafting poly(nipam)-kitosan dengan penambahan minyak kayu
28
manis (Cinnamomum burmannii) sebagai antioksidan. Jurnal Litbang Industri, 6(2), 107–116.
Salosso, Y., & Jasmanindar, Y. (2018). Diversity of brown macroalgae in Kupang Bay waters and alginate content potential and its phytochemistry. Bioflux, 11(3), 598–605.
Santana, A. A., & Kieckbusch, T. G. (2013). Physical evaluation of biodegradable films of calcium alginate plasticized with polyols. Brazilian Journal of Chemical Engineering, 30(4), 835–845.
Sanyang, M. L., Sapuan, S. M., Jawaid, M., Ishak, M. R., & Sahari, J. (2015).
Effect of plasticizer type and concentration on tensile, thermal and barrier properties of biodegradable films based on sugar palm (Arenga pinnata) starch. Journal Polymers, 7, 1106–1124. https://doi.org/10.3390/polym 7061106
Selvamurungan, M., & Sivakumar, P. (2019). Bioplastics - an eco-friendly alternative to petrochemical plastics. Current World Environment, 4(1), 49–
59.doi: http://dx.doi.org/10.12944/CWE.14.1.07
Sinaga, R. F., Ginting, G. M., Ginting, M. H., & Hasibuan, R. (2014). Pengaruh penambahan gliserol terhadap sifat kekuatan tarik dan pemanjangan saat putus bioplastik dari umbi talas. Jurnal Teknik Kimia, 3(2), 19–24.
Sisnayati, Hatina, S., Rahmi, A. (2019). Pengaruh aditif bawang putih terhadap karakteristik dan biodegradasi bioplastik dari biji durian. Jurnal Teknika, 6(1), 56–67.
Srimariana, E. S., Kawaroe, M., Lestari, D. F., & Nugraha, A. H. (2020).
Keanekaragaman dan potensi pemanfaatan makroalga di pesisir Pulau Tunda.
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 25(1), 138–144.
Sofia, A., Prasetya, A. T., & Kusumastuti. (2017). Komparasi bioplastik kulit labu kuning-kitosan dengan plasticizer dari berbagai variasi sumber gliserol.
Indonesian Journal of Chemical Science, 6(2), 110–116.
Solak, A. O., & Dyankova, S. M. (2014). Composite films from sodium alginate and high methoxyl pectin - physicochemical properties and biodegradation in soil. Ecologia Balkanica, 6(2), 25–34.
Subagan, K. N. G. D., Suhendra, L., & Wartini, N. M. (2020). Karakteristik bubuk alginat dari alga coklat Sargassum sp. pada perlakuan waktu dan suhu maserasi. Jurnal Rekayasa dan Manajemen Agroindustri, 8(1), 105–113.
Utomo, A. W., Argo, B. D., & Hermanto, M. B. (2013). Pengaruh suhu dan lama pengeringan terhadap karakteristik fisikokimiawi plastik biodegradable dari komposit pati lidah buaya (Aloe vera)-kitosan. Jurnal Bioproses Komoditas
Tropis, 1(1), 73–79.
Wahyuni, S. (2017). Sifat fisiko-kimia produk esterifikasi berbahan gliserol hasil samping biodiesel pada berbagai tingkat kemurnian. Jurnal Agroindustri Halal, 3(2), 160–169.
Wahyuni, S., Hambali, E., & Marbun, B. T. H. (2016). Esterifikasi gliserol dan asam lemak jenuh sawit dengan katalis mesa. Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 26(3), 333–342.
Wahyuningtiyas, N. E., & Suryanto, H. (2017). Analysis of biodegradation of bioplastics made of cassava starch. Journal of Mechanical Engineering Science and Technology, 1(1), 24–31. https://doi.org/10.17977/um016v1 i12017p024
Yudistriani, S. A., Susanty, Deddy, R., & Hamany. (2019). Pengaruh variasi konsentrasi gliserol dari minyak jelantah terhadap nilai uji bioplastik dari pemanfaatan limbah kulit ari kacang kedelai. Jurnal Konversi, 8(1), 55–60.
Yunar, V. (2011). Evaluasi biodegradabilitas plastik berbahan dasar c ampuran pati dan polietilen menggunakan ASTM G21-09, uji mikroorganisme dan uji lapangan (Skripsi). Universitas Indonesia.
30
LAMPIRAN Lampiran 1. Ekstraksi Alginat dari Padina sp.
Pengeringan Padina sp. Perendaman dengan CaCl2
Ekstraksi alginat dengan Na2CO3 Pemurnian dengan etanol 96%
Natrium alginat sebelum pengeringan Natrium alginat kering
Lampiran 2. Pembuatan Bioplastik Alginat Padina sp. dengan Gliserol
Pencetakan bioplastik
Bioplastik formulasi alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol A) alginat:gliserol (1:15) B) alginat:gliserol (1:25)
D) alginat:gliserol (2:15) D) alginat:gliseol (2:25)
32
Lampiran 3. Uji Ketahanan Air
Penimbangan berat awal Perendaman bioplastik
Penimbangan berat akhir
Lampiran 4. Uji Biodegradabilitas
Penimbangan berat awal Penguburan bioplastik
Penimbangan berat akhir
34
Lampiran 5. Perubahan Fisik Bioplastik Alginat dari Padina sp. dengan Pemlastis Gliserol Setelah Uji Biodegrabilitas
Lampiran 6.Data dan Penghitungan Uji Ketahanan Air
Contoh perhitungan air yang diserap bioplastik alginat:gliserol (1:15):
Air yang diserap (%) =
x 100%
Air yang diserap (%) =
x 100 % = 61,90%
Contoh perhitungan ketahanan air bioplastik alginat:gliserol (1:15):
Ketahanan air (%) = 100% - air yang diserap Ketahanan air (%) = 100% - 61,90% = 38,10%
36
Lampiran 7. Analysis of Varians (ANOVA) Konsentrasi Alginat dan Gliserol Terhadap Ketahanan Air
Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Ketahanan_Air
Source
Type III Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Corrected Model 476.327a 3 158.776 70.480 .000
Intercept 24111.878 1 24111.878 10703.170 .000
Alginat 202.778 1 202.778 90.012 .000
Gliserol 157.879 1 157.879 70.082 .000
Alginat * Gliserol 115.670 1 115.670 51.345 .000
Error 27.033 12 2.253
Total 24615.239 16
Corrected Total 503.360 15
a. R Squared = .946 (Adjusted R Squared = .933)
Uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT)
BNT = √
= √
= 2,840834405
Perlakuan alginat terhadap ketahanan air
Perlakuan Rata-rata Simbol Keterangan
A1 70.5228982 a Berbeda nyata
satu dengan yang lainnya
A2 84.7569214 b
Perlakuan gliserol terhadap ketahanan air
Perlakuan Rata-rata Simbol Keterangan
G2 71.3562315 c Berbeda nyata
satu dengan yang lainnya
G1 83.923588 d
Lampiran 8. Data dan Penghitungan Uji Biodegradabilitas Persentase penurunan berat bioplastik hari ke-3
Contoh perhitungan persentase penurunan berat bioplastik alginat:gliserol (1:25):
Persentase penurunan berat (%) =
x 100%
Persentase penurunan berat =
x 100% = 23,64%
Laju biodegradabilitas =
Laju biodegradabilitas =
= 0,43 mg
/
hari1%-15% 1%-25% 2%-15% 2%-25% Bioplastik
Komersial Berat awal (g) 0,0053 0,0053 0,0055 0,0044 0,0053 0,0057 0,0037 0,0037 0,0043 0,0048 Berat akhir (g) 0,0054 0,0054 0,0042 0,0033 0,0050 0,0056 0,0033 0,0033 0,0038 0,0042 Penurunan berat
(%) -1,89 -1,89 23,64 25 5,66 1,75 11,11 11,11 11,63 12,50
Rata-rata -1,89 24,32 3,71 11,11 12,06
Laju biodegradabilitas
(mg/hari)
-0,03 -0,03 0,43 0,37 0,10 0,03 0,13 0,13 0,17 0,20
Rata-rata -0,03 0,04 0,07 0,13 0,18
38
Persentase penurunan berat bioplastik hari ke-6
1%-15% 1%-25% 2%-15% 2%-25% Bioplastik
Komersial Berat awal (g) 0,0051 0,0045 0,0046 0,0051 0,0053 0,0053 0,0036 0,0036 0,0043 0,0043 Berat akhir (g) 0,0043 0,0038 0,0036 0,0037 0,0050 0,0050 0,0031 0,0031 0,0037 0,0037 Penurunan berat
(%) 15,69 15,56 21,74 27,45 5,66 5,66 13,89 13,89 13,95 13,95
Rata-rata 15,62 24,60 5,66 13,89 13,95
Laju biodegradabilitas
(mg/hari)
0,13 0,12 0,17 0,23 0,05 0,05 0,08 0,08 0,10 0,10
Rata-rata 0,13 0,20 0,05 0,08 0,10
Contoh perhitungan persentase penurunan berat bioplastik alginat:gliserol (1:15):
Persentase penurunan berat (%) =
x 100%
Persentase penurunan berat =
x 100% = 15,69%
Laju biodegradabilitas =
Laju biodegradabilitas =
= 0,13 mg
/
hariPersentase penurunan berat bioplastik hari ke-9
Contoh perhitungan persentase penurunan berat bioplastik alginat:gliserol (2:15):
Persentase penurunan berat (%) =
x 100%
Persentase penurunan berat =
x 100% = 7,55%
Laju biodegradabilitas =
Laju biodegradabilitas =
= 0,04 mg
/
hari1%-15% 1%-25% 2%-15% 2%-25% Bioplastik
Komersial Berat awal (g) 0,0049 0,0049 0,0046 0,0051 0,0053 0,0053 0,0041 0,0041 0,0048 0,0048 Berat akhir (g) 0,0041 0,0041 0,0036 0,0037 0,0049 0,0049 0,0035 0,0035 0,0041 0,0041 Penurunan berat
(%) 16,33 16,33 21,74 27,45 7,55 7,55 14,63 14,63 14,58 14,58
Rata-rata 16,33 24,60 7,55 14,63 14,58
Laju biodegradabilitas
(mg/hari)
0,09 0,09 0,17 0,23 0,04 0,04 0,07 0,07 0,04 0,04
Rata-rata 0,09 0,20 0,04 0,07 0,04
40
Persentase penurunan berat bioplastik hari ke-12
1%-15% 1%-25% 2%-15% 2%-25% Bioplastik
Komersial Berat awal (g) 0,0048 0,0049 0,0046 0,0046 0,0049 0,0049 0,0038 0,0038 0,0048 0,0048 Berat akhir (g) 0,0041 0,0040 0,0033 0,0033 0,0045 0,0045 0,0030 0,0030 0,0041 0,0041 Penurunan berat
(%) 14,58 18,37 28,26 28,26 8,16 8,16 21,05 21,05 14,58 14,58
Rata-rata 16,48 28,26 8,16 21,05 14,58
Laju biodegradabilitas
(mg/hari)
0,06 0,08 0,11 0,11 0,03 0,03 0,07 0,07 0,04 0,04
Rata-rata 0,07 0,11 0,03 0,07 0,06
Contoh perhitungan persentase penurunan berat bioplastik alginat:gliserol (2:25):
Persentase penurunan berat (%) =
x 100%
Persentase penurunan berat =
x 100% = 21,05%
Laju biodegradabilitas =
Laju biodegradabilitas =
= 0,07 mg
/
hariLampiran 9. Korelasi Pearson antara Persentase Penurunan Berat dengan Laju Biodegradabilitas
Correlations
LAJU PERSEN
LAJU Pearson Correlation 1 .634**
Sig. (2-tailed) .003
N 20 20
PERSEN Pearson Correlation .634** 1
Sig. (2-tailed) .003
N 20 20
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).