BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7. Uji Biodegradabilitas
Biodegradasi adalah hilangnya suatu bahan oleh mikroorganisme dengan proses hidrolisis disertai dengan oksidasi. Kemampuan biodegradasi tergantung dari suhu 50 – 70º C, kelembapan, serta jenis dan jumlah dari mikroorganisme.
Mikroorganisme yang telah ditemukan mampu merombak polimer plastik adalah Paecilomyces sp. dan Aspergillus fischeri. Mikroorganisme yang mampu menggunakan pemlastis sebagai sumber karbon adalah Aspergillus niger, Zygosaccharomyces drosophilae, Saccharomyces cerevisiae, Pseudomonas aeruginosa, Brevibacterium sp., dan Streptomyces rubruretticuli (Yunar, 2011).
Proses degradasi dapat dilakukan secara aerobik atau anaerobik di alam. (Rahman et al., 2019).
Uji biodegradabilitas adalah kemampuan degradasi plastik dari aktivitas mikroorganisme yang berakibat perubahan struktur senyawa. Pengujian sifat biodegradabilitas terdapat tiga cara, yaitu menggunakan enzim, mikroorganisme, dan penguburan. Metode uji standar dan protokol diperlukan untuk menetapkan atau menguantifikasi degradabilitas dan biodegradasi polimer serta konfirmasi dengan alam dari breakdown produk. Penguburan atau soil burial test dilakukan dengan mengubur bioplastik di dalam tanah dalam waktu tertentu. Pengujian biodegradabilitas bertujuan untuk mengetahui waktu terdegradasinya bioplastik di lingkungan atau tanah yang terdapat berbagai mikroorganisme (Nurdini et al., 2018). Plastik sintesis berbahan dasar minyak bumi sulit terurai di dalam tanah sehingga uji biodegradabilitas diperlukan untuk mengurangi penumpukan limbah sampah plastik yang sulit terurai.
12
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan pada Januari 2020 – Februari 2021. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisiologi Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Uji Kuat Tarik dilakukan di Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK), Pasar Rebo, Jakarta Timur.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah universal testing machine, kaca 15 x 20 cm, timbangan analitik, timbangan presisi, pemanas, gelas piala, gelas ukur, labu ukur, pipet serologi, botol jar, pinset, batang pengaduk, dan spatula.
Bahan yang digunakan adalah Padina sp. diperoleh dari Kepulauan Seribu, tanah, gliserol, larutan kalsium klorida (CaCl2) 1%, dan 4%, larutan asam klorida (HCl) 5%, larutan natrium karbonat (Na2CO3) 3%, akuades, dan etanol 96%.
3.3. Rancangan Penelitian
Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, konsentrasi alginat dan konsentrasi gliserol. Konsentrasi alginat yang digunakan adalah 1% dan 2%, sedangkan konsentrasi gliserol yang digunakan adalah 15% dan 25% sehingga diperoleh 4 formulasi bioplastik alginat:gliserol yaitu (1:15; 1:25; 2:15; 2:25). Setiap formulasi bioplastik dibuat sebanyak 4 lembar (3 lembar untuk uji kuat tarik dan 1 lembar untuk uji ketahanan air serta uji biodegradabilitas).
12
3.4. Cara Kerja
3.4.1. Ekstraksi Alginat dari Padina sp. (Modifikasi Chee et al., 2011)
Padina sp. sebanyak 20 g dipotong dan direndam dalam 300 mL larutan CaCl2 1% selama 18 jam, lalu dibilas dengan akuades. Padina sp. direndam kembali dalam 300 mL larutan HCl 5% selama 1 jam, lalu dibilas dengan akuades. Direndam kembali dalam 300 mL larutan Na2CO3 3% selama 1 jam pada suhu 60 – 70º C hingga berbentuk pasta. Larutan disaring dan dipisahkan filtratnya. Filtrat yang diperoleh ditambahkan etanol 96% dengan perbandingan 1:1. Larutan didiamkan 24 jam hingga terbentuk gumpalan natrium alginat.
Natrium alginat yang diperoleh disaring dan dikeringkan untuk mengurangi kadar airnya. Proses cara kerja terdapat pada (Lampiran 1).
3.4.2. Pembuatan Bioplastik (Modifikasi Anward et al., 2013)
Bioplastik dibuat dengan melarutkan alginat dengan konsentrasi 1% dan 2% dalam 100 mL akuades lalu diaduk hingga homogen. Gliserol ditambahkan tiap masing- masing konsentrasi alginat sebesar 15% dan 25% lalu diaduk hingga homogen. Larutan campuran dituang ke dalam cetakan kaca berukuran 15 x 20 cm dan dikeringkan selama 4 – 5 hari. Bioplastik yang telah kering direndam dalam larutan CaCl2 4% selama 3 jam. Bioplastik dilepas dari cetakan dan dikeringkan.
Proses cara kerja terdapat pada (Lampiran 2).
3.5. Parameter Pengamatan
3.5.1. Uji Kuat Tarik (Universal Testing Machine) (Ame rican Sociaty for Testing and Materials [ASTM] D882, 2005)
Sampel bioplastik dipotong sesuai standar. Kedua ujung sampel dijepit pada mesin penguji tensile. Selanjutnya, panjang awal dicatat dan ujung tinta pencatat diletakkan pada posisi 0 dalam grafik. Tombol start ditekan dan alat akan menarik sampel sampai putus dan dicatat gaya kuat tarik (Fmax). Rumus penghitungan kuat tarik adalah:
= 0,098
14 direndam 10 mL akuades selama 1 menit. Setelah 1 menit bioplastik diangkat dan dikeringkan, lalu ditimbang berat akhirnya (W). Perendaman diulang kembali hingga didapatkan berat akhir konstan. Proses cara kerja terdapat pada (Lampiran 3). Hasil pengukuran berat tersebut dilakukan perhitungan sebagai berikut:
Air yang diserap (%) = x 100%
Kemudian, persentase air yang diserap dikalkulasi lagi dalam perhitungan berikut untuk mendapatkan persen ketahanan air.
Ketahanan air (%) = 100% - air yang diserap
3.5.3. Uji Biodegradabilitas (Wahyuningtiyas & Suryanto, 2017)
Uji biodegradabilitas menggunakan metode soil burial test atau metode penguburan. Bioplastik yang dikubur adalah bioplastik alginat Padina sp. dengan gliserol serta bioplastik komersial berupa bioplastik pembungkus sosis. Sampel bioplastik dipotong dengan ukuran 10 x 10 mm. Sampel ditimbang berat awalnya sebelum penguburan (W1). Sampel dikubur selama 12 hari di dalam tanah yang mengandung kompos dan kotoran sapi sebagai sumber mikroorganisme untuk mendegradasi bioplastik. Sampel diamati tiap 3 hari dengan cara mengambil sampel dan dibersihkan tanahnya dengan tisu, lalu ditimbang berat akhirnya (W2).
Sampel bioplastik tiap pengamatan merupakan lembaran bioplastik yang berbeda dan dibuat 2 kali pengulangan (duplo). Proses cara kerja terdapat pada (Lampiran 4). Selanjutnya dihitung persen penurunan berat dan laju biodegradabilitas dengan perhitungan sebagai berikut:
Persentase penurunan berat = x 100%
Laju biodegradabilitas =
3.6. Analisis data
Analisis data yang digunakan adalah ANOVA (Analysis of Variance) dua arah dan korelasi Pearson. ANOVA dua arah dilakukan untuk melihat pengaruh konsentrasi alginat dan gliserol terhadap ketahanan air dengan taraf kepercayaan 95% ( = 0,05). Jika berpengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) dengan taraf kepercayaan 95% ( = 0,05).. Korelasi Pearson dilakukan untuk melihat hubungan antara persentase penurunan berat dengan laju biodegradabilitas.
16
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kuat Tarik Bioplastik
Pengujian kuat tarik dilakukan dengan menarik suatu bahan untuk mengetahui bagaimana bahan tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana material itu bertambah panjang. Bioplastik alginat Padina sp. dengan pemlastik gliserol (Lampiran 2) perlu dilakukan pengujian kuat tarik untuk mengetahui seberapa kuat bioplastik tersebut. Hasil kuat tarik dari bioplastik alginat Padina sp. dan pemlastis gliserol dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil kuat tarik bioplastik alginat Padina sp. dan pemlastis gliserol Formulasi (%)
Berdasarkan hasil kuat tarik bioplastik menghasilkan nilai kuat tarik tertinggi pada formulasi alginat:gliserol (2:25) sebesar 7,33 MPa dan nilai kuat tarik terendah pada formulasi alginat:gliserol (2:15) sebesar 3,24 MPa. Hal ini disebabkan alginat memiliki lebih banyak ikatan hidrogen dibandingkan dengan gliserol sehingga akan meningkatkan nilai kuat tarik (Langit et al., 2019).
Bioplastik alginat dari Padina sp. dengan pemlastis gliserol memiliki nilai kuat tarik lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian Langit et al. (2019) menggunakan alginat Sargassum sp. dengan gliserol. Bioplastik dengan konsentrasi alginat 1% dengan 3 mL gliserol menghasilkan nilai kuat tarik sebesar 0,25 MPa. Perbedaan nilai kuat tarik yang diperoleh juga terdapat pada penelitian Marismandani & Husni (2020) dengan bioplastik alginat dan gliserol. Nilai kuat tarik tertinggi sebesar 3,756 MPa pada konsentrasi alginat 2% dan gliserol 10%.
Nilai kuat tarik tersebut lebih rendah dibandingkan bioplastik formulasi alginat:gliserol (2:25).
16
Bioplastik alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol menghasilkan formulasi gliserol 25% memiliki nilai kuat tarik lebih besar dibandingkan dengan formulasi gliserol 15%. Hal ini sesuai dengan pendapat Nurfajrin et al. (2015) bahwa penambahan gliserol mengatasi sifat rapuh film yang disebabkan oleh kekuatan intermolekuler ekstensif. Namun, apabila telah melewati titik jenuhnya akan menyebabkan film menjadi mudah sobek dan akan menurunkan nilai kuat tariknya.
Penggunaan pemlastis gliserol pada bioplastik terdapat pada penelitian Yudistriani et al. (2019) menggunakan kulit ari kacang kedelai dan gliserol.
Konsentrasi gliserol 20% menghasilkan nilai kuat tarik sebesar 6,5 MPa. Kuat tarik yang diperoleh lebih rendah dibandingkan formulasi alginat:gliserol (2:25).
Penelitian lainnya Nurfajrin et al. (2015) menggunakan pati kulit pisang dengan gliserol. Penggunaan 5 mL gliserol menghasilkan nilai kuat tarik sebesar 43,40 kgf/cm2 atau 4,26 MPa. Hal tersebut menunjukkan bahwa k uat tarik bioplastik alginat dari Padina sp. dengan pemlastis gliserol lebih baik dibandingkan dengan kuat tarik bioplastik pati kulit pisang dengan gliserol karena memiliki nilai kuat tarik yang lebih besar.
4.2. Ketahanan Air Bioplastik
Uji Ketahanan air dilakukan untuk mengetahui persentase kemampuan bioplastik dalam menahan penyerapan air. Ketahanan air dihitung dengan cara menimbang berat bioplastik saat terjadinya penggembungan akibat terdifusinya air ke dalam bioplastik. Ketahanan air diperlukan dalam pembuatan bioplastik untuk dapat diaplikasikan secara industri dan komersial sebagai alternatif plastik sintetis. Hasil rata-rata ketahanan air bioplastik dari alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol dapat dilihat pada Tabel 2.
18
Tabel 2. Nilai rata-rata ketahanan air bioplastik alginat Padina sp. dan pemlastis gliserol statistik bahwa terdapat interaksi yang berpengaruh nyata antara alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol terhadap ketahanan air juga dilakukan analisis statistik ANOVA dua arah (Lampiran 7) dengan nilai Fhitung lebih besar dibandingkan nilai Ftabel 4,54 (51,345 > 4,54) dan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Berdasarkan uji Beda Nyata Terkecil diperoleh hasil bahwa interaksi alginat dan gliserol berbeda nyata satu dengan yang lainnya terhadap ketahanan air. Interaksi antara alginat dan gliserol dapat menghasilkan ketahanan air mencapai 48,21% pada bioplastik formulasi alginat:gliserol (2:15). Interaksi alginat dan gliserol pada bioplastik formulasi alginat:gliserol (2:15) menyebabkan mengecilkan ukuran pori bioplastik dan menurunkan kelarutan air pada bioplastik (Anandito et al., 2012; Anward et al., 2013) sehingga nilai ketahanan airnya lebih besar dibandingkan bioplastik formulasi alginat:gliserol lainnya pada penelitian ini.
Interaksi alginat dan gliserol terhadap ketahanan air bioplastik terdapat pada penelitian Anward et al. (2013) menghasilkan persentase penyerapan air sebesar 80% dengan alginat 2% dan gliserol 10%. Penelitian lainnya Solak &
Dyankova (2014) menghasilkan persentase penyerapan air sebesar 47,88% dengan alginat 2,5% dan gliserol 2,5g. Hasil ini menunjukkan bahwa bioplastik Padina sp. dengan gliserol memiliki ketahanan air yang lebih besar atau hampir sama dibanding dengan penelitian lainnya.
4.3. Biodegradabilitas Bioplastik
Uji Biodegradabilitas dilakukan untuk memperkirakan waktu terurainya bioplastik di lingkungan. Pengujian bioplastik dilakukan dengan mengubur sampel di tanah dalam waktu tertentu. Pengujian dilakukan selama waktu 12 hari dan tiap 3 hari diamati perubahan berat dari bioplastik tersebut. Sampel tiap perlakuan dibuat pengulangan sebanyak 2 kali (duplo).
Pengujian biodegradabilitas dilakukan dengan menghitung persentase penurunan berat bioplastik dan laju biodegradabilitas. Penurunan berat bioplastik merupakan representasi degradasi yang terjadi, dan laju biodegradabilitas merupakan seberapa penurunan berat bioplastik dalam tiap harinya. Biodegradasi pada bioplastik ditandai dengan semakin meningkatnya persentase penurunan berat, dan semakin meningkatnya laju biodegradabilitas maka semakin cepat bioplastik akan terdegradasi. Persentase penurunan berat dari bioplastik alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol selama 12 hari dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil persentase rata-rata penurunan berat
Formulasi (%) Persentase Penurunan Berat (%)
Berdasarkan hasil penghitungan persentase penurunan berat bioplastik formulasi alginat:gliserol (Lampiran 8) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persentase penurunan berat tiap formulasi alginat:gliserol. Bioplastik formulasi alginat:gliserol (1:25) menghasilkan persentase penurunan berat tertinggi pada hari ke-12 sebesar 28,26% dan mengalami perubahan fisik bioplastik (Lampiran 5) berupa penyusutan lebih besar dibandingkan dengan formulasi lainnya maupun bioplastik komersial. Hal ini terdapat pula pada penelitian Wahyuningtiyas &
20
Suryanto (2017) mengenai biodegradasi pada bioplastik pati singkong dengan gliserol. Bioplastik dengan konsentrasi gliserol 3% mengalami penyusutan yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan bioplastik tersebut memiliki persentase penurunan berat yang dipe roleh tinggi sebesar 43,75%.
Persentase penurunan berat terendah adalah bioplastik formulasi alginat:gliserol (2:15) pada hari ke-12 sebesar 8,16%. Bioplastik formulasi alginat:gliserol (1:15) pada hari ke-3 diperoleh hasil negatif yang menunjukkan terdapatnya penambahan berat. Penambahan berat pada bioplastik alginat:gliserol (1:15) kemungkinan lembabnya tanah penguburan dibandingkan dengan tanah pada bioplastik alginat:gliserol (1:25) yang menyebabkan terjadinya penyerapan air pada bioplastik. Hal ini dapat disebabkan adanya penyerapan air dari tanah sehingga berat bioplastik bertambah. Menurut Debora (2020) mengatakan bahwa penambahan berat bioplastik dapat disebabkan oleh bioplastik yang menyerap molekul air.
Bioplastik formulasi alginat 2% memiliki penurunan berat yang lebih lambat dibandingkan dengan formulasi alginat 1%. Hal ini dapat disebabkan viskositas larutan pada alginat 2% lebih tinggi dibandingkan alginat 1%. Menurut Langit et al. (2019) bahwa semakin tinggi konsentrasi alginat akan menurunkan waktu biodegradasinya akibat terhambatnya penyerapan air akibat viskositas dari larutan. Adapun menurut Utomo et al. (2013) bahwa bioplastik yang homogen dan strukturnya rapat akibat perbedaan fisikokimia menyebabkan partikel-partikel yang terdapat pada bioplastik sulit diuraikan oleh mikroorganisme.
Bioplastik formulasi gliserol 25% memiliki persentase penurunan lebih cepat dibandingkan dengan gliserol 15%. Menurut Sofia et al. (2017) bahwa peningkatan jumlah gliserol yang ditambahkan akan berbanding lurus dengan persen degrabilitasnya. Biodegradabilitas juga dipengaruhi oleh komposisi dan sifat polimer, semakin hidrofilik suatu polimer akan mempercepat proses degradasinya (Safitri et al., 2019).
Bioplastik dengan bahan dasar alginat telah dilakukan oleh Solak &
Dyankova (2014) dengan menggunakan bioplastik alginat, metoksil pektin, dan gliserol. Persentase penurunan berat pada pada bioplastik alginat 2,5% dihasilkan
sebesar 40 – 60% pada hari ke-12 dan pada hari ke-84 dihasilkan sebesar 77,17 – 90,09%. Adapun penelitian oleh Dewi et al. (2017) menggunakan bioplastik dari alginat Ulva lactuca dan gliserol. Bioplastik yang dihasilkan dapat terdegradasi sebesar 37 – 64% dalam waktu 10 hari. Bioplastik dengan pemlastis gliserol terdapat pada penelitian Wahyuningtiyas & Suryanto (2017) dengan bioplastik pati singkong dan gliserol. Bioplastik dengan konsentrasi gliserol 3% pada hari ke-6 telah terdegradasi sebanyak 43,75%. Penelitian-penelitian tersebut memiliki persentase penurunan berat lebih besar dibandingkan dengan bioplastik alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol dan bioplastik komersial. Menurut Sisnayati et al. (2019) bahwa degradasi yang terlalu besar akan menurunkan daya tahan plastik sehingga bioplastik alginat dari Padina sp dengan pemlastis gliserol memiliki daya tahan yang lebih baik dibandingkan dengan bioplastik dari penelitian lainnya.
Persentase penurunan berat berkaitan dengan laju biodegradabilitas. Laju biodegradabilitas dihitung dari persentase penurunan berat dibagi dengan berapa lama waktu degradasinya. Laju biodegradabilitas dapat digunakan sebagai estimasi degradasi bioplastik hingga terdegradasi sempurna. Hubungan antara persentase penurunan berat dengan laju biodegradabilitas dibuktikan dengan uji statistik korelasi Pearson (Lampiran 9). Berdasarkan hasil signifikansi yang diperoleh adalah 0,003 (p<0,05) dan koefisien korelasi sebesar 0,634.
Kesimpulannya adalah bahwa terdapatnya korelasi yang kuat antara persentase penurunan berat dan laju biodegradabilitas.
Pengujian biodegradabilitas dilakukan dengan menghitung persentase penurunan berat bioplastik dan laju biodegradabilitas. Penghitungan laju biodegradabilitas untuk mengetahui penurunan berat tiap 3 harinya. Laju biodegradabilitas pada bioplastik alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol dapat dilihat pada Gambar 3.
22
Gambar 3. Laju biodegradabilitas bioplastik alginat dari Padina sp. dengan pemlastis gliserol
Berdasarkan hasil laju biodegradabilitas bioplastik alginat Padina sp. dan pemlastis gliserol didapatkan hasil semakin menurunnya laju biodegradabilitas seiring waktu degradasi. Laju biodegradabilitas tertinggi terdapat pada hari ke-3 dan laju biodegradabilitas terendah terdapat pada hari ke-12. Hal ini dapat disebabkan oleh tanah yang semakin hari semakin kering yang akan mengurangi aktivitas mikroorganisme dan menurunkan laju biodegrabilitasnya. Menurut Rohaeti et al. (2016) mengatakan bahwa tingginya laju biodegradabilitas dapat terjadi karena masih terkandungnya gugus fungsi pada bioplastik yang digunakan oleh mikroorganisme di dalam tanah sebagai sumber nutrisinya.
Berdasarkan laju biodegradabilitas bioplastik formulasi alginat:gliserol bahwa dalam 12 hari penguburan dihasilkan laju biodegrabilitas sebesar 0,03 – 0,11 mg/hari. Laju biodegrabilitas yang diperoleh lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Nurlita et al. (2017) menggunakan bioplastik onggok, kitosan, dan gliserol. Laju biodegradabilitas tertinggi pada fromulasi onggok:kitosan (7:3) dan 4 mL gliserol sebesar 5,85 mg/hari. Hal ini dapat disebabkan oleh penggunaan gliserol yang lebih banyak dibandingkan dengan bioplastik alginat dari Padina sp. dengan formulasi gliserol 15% dan 25% dari berat alginat sehingga bioplastik onggok, kitosan, dan gliserol lebih hidrofilik.
Biodegradabilitas dipengaruhi oleh komposisi dan sifat polimer, semakin
0.00
hidrofilik suatu polimer akan mempercepat proses degradasinya (Safitri et al., 2019).
Laju biodegrabilitas bioplastik komersial dalam 12 hari menghasilkan sebesar 0,06 mg/hari. Laju biodegradabilitas tersebut lebih besar dibandingkan dengan bioplastik formulasi alginat:gliserol (2:15) sebesar 0,03 mg/hari, tetapi lebih rendah dibandingkan dengan bioplastik formulasi alginat:gliserol (1:15);
(1:25); dan (2:25) yang masing- masing sebesar 0,07 mg/hari; 0,11 mg/hari; dan 0,07 mg/hari. Hasil laju biodegrabilitas ini menunjukkan bahwa bioplastik formulasi alginat:gliserol akan lebih cepat terdegradasi sempurna dibandingkan dengan bioplastik komersial.
24
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kuat tarik bioplastik formulasi alginat:gliserol (1:15); (1:25); (2:15); dan (2:25) berturut-turut sebesar 3,65 MPa, 4,60 MPa, 3,24 MPa, dan 7,33 MPa.
Ketahanan air bioplastik formulasi alginat:gliserol ((1:15); (1:25); (2:15); dan (2:25) berturut-turut sebesar 3,65 MPa, 4,60 MPa, 3,24 MPa, dan 7,33 MPa berturut-turut sebesar 35,71±1,94%; 34,81±1,36%; 48,21±0,42%; dan 36,55±1,79%.
2. Bioplastik alginat Padina sp. dengan pemlastis gliserol pada hari ke-12 memiliki persentase penurunan berat sebesar 8,15 – 28,26% dengan laju biodegradabilitas sebesar 0,03 – 0,11 mg/hari. Bioplastik alginat Padina sp.
dengan pemlastis gliserol memiliki persentase penurunan berat yang hampir sama dengan bioplastik komersial dengan persentase penurunan berat sebesar 14,58%.
5.2. Saran
Perlu dilakukan penelitian selanjutnya mengenai pengaplikasian bioplastik untuk masyarakat agar dapat menjadi solusi dari sampah plastik.
24
DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, S. (2019). Alginates: applications in the biomedical and food industries.
New Jersey: John Wiley & Sons.
American Sociaty for Testing and Materials D882. (2005). Standard test methods for tensile properties of thin plastic sheeting, D638. Phiadelphia (US):
ASTM.
Anandito, R. B. K., Nurhartadi, E., & Bukhori, A. (2012). Pengaruh gliserol terhadap karakteristik edible film berbahan dasar tepung jali (Coix lacryma-jobi L.). Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 5(2), 17–23.
Anggarini, F. (2013). Aplikasi plasticizer gliserol pada pembuatan plastik biodegradable dari biji nangka (Skripsi). Universitas Negeri Semarang.
Anward, G., Hidayat, Y., & Rokhati, N. (2013). Pengaruh konsentrasi serta penambahan gliserol terhadap karakteristik film alginat dan kitosan. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, 2(3), 51–56.
Basmal, J., Utomo, B. S. B., Tazwir, Murdinah, Wikanta, T., Marraskuranto, E.,
& Kusumawati, R. (2014). Membuat alginat dari rumput laut Sargassum.
Jakarta: Penebar Swadaya Grup.
Bijang, C., Tehubijuluw, H., & Kaihatu, T. G. (2018). Biosorpsi ion logam (Cd) pada biosorben rumput laut coklat (Padina australis) asal Pantai Liti Pulau Kisar. Indonesia Journal Chemistry, 6(1), 51–58.
Chee, S. Y., Wong, P. K., & Wong, C. L. (2011). Extraction and characterisation of alginate from brown seaweeds (Fucales, Phaeophyeae) collected from Port Dickson, Peninsular Malaysia. Journal of Applied Phycology, 23(2), 191–196. https://doi.org/10.1007/s10811-010-9533-7
Coniawati, P., Laila, L., & Alfira, M. R. (2014). Pembuatan film plastik biodegradable dari pati jagung dengan penambahan kitosan dan pemlastis gliserol. Jurnal Teknik Kimia, 4(20), 22–30.
Debora, C. (2020). Biodegradabilitas bioplastik berbahan dasar limbah cair tahu dengan penguat kitosan dan plasticizer gliserol (Skripsi). Universitas Brawijaya.
Dewi, N. L. G. S., Ahmadi, B., & Hartiati, A. (2017). Karakteristik bioplastik alginat dari rumput laut Ulva lactuca. Jurnal Rekayasa Dan Manajemen Agroindustri, 5(3), 66–73.
Fibriyani, D., Arinta, F., & Kusumaningtyas, R. D. (2017). Pengolahan onggok singkong sebagai plastik biodegradable menggunakan plasticizer gliserin dari
25
26
minyak jelantah. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 6(2), 74–77.
http://dx.doi.org/10.17728/jatp.195
Huri, D., & Nisa, F. C. (2014). Pengaruh konsentrasi gliserol dan ekstrak ampas kulit apel terhadap karakteristik fisik dan kimia edible film. Jurnal Pangan dan Agroindustri, 2(4), 29–40.
Kamsiati, E., Herawati, H., & Purwani, E. (2017). Potensi pengembangan plastik biodegradable berbasis pati sagu dan ubi kayu di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian, 36 (2), 67 – 76.
Kautsari, N. (2013). Potensi dan karakteristik natrium alginat Padina australis pada kondisi lingkungan perairan yang berbeda di Kabupaten Sumbawa (Skripsi). Institut Pertanian Bogor.
Kemenangan, F., Manu, G., & Manginsela, F. (2017). Pertumbuhan alga coklat Padina australis di Perairan Pesisir Desa Serei, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Ilmiah Platax, 5(2), 243–253.
Khalil, H. P. S. A., Tye, Y. Y., Saurabh, C. K., Leh, C. P., Lai, T. K., Chong, E.
W. N., … Syakir, M. I. (2017). Biodegradable polymer films from seaweed polysaccharides : A review on cellulose as a reinforcement material.
eXPRESS Polymer Letters, 11(4), 244–265. https://doi.org/10.3144/
expresspolymlett.2017.26
Langit, N. T. P., Ridlo, A., & Subagiyo. (2019). Pengaruh konsentrasi alginat dengan gliserol sebagai plasticizer terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik. Journal of Marine Research, 8(3), 314–321.
Lim, J. Y., Hii, S. L., Chee, S. Y., & Wong, C. L. (2019). Sargassum siliquosum J. Agardh extract as potential material for synthesis of bioplastic film.
Journal of Applied Phycology, 30(6), 3285–3297. https://doi.org/
10.1007/s10811-018-1603-2
Maharani, A. A., Husni, A., & Ekantari, N. (2018). Karakteristik natrium alginat rumput laut coklat Sargassum fluitans dengan metode ekstraksi yang berbeda. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 20(3), 478–487.
https://doi.org/10.17844/jphpi.v20i3.19768
Marismandani, A. D., & Husni, A. (2020). Development and characterization of biobased alginate/glycerol/virgin coconut oil as biodegradable packaging.
E3S Web of Confrences, 147, 1–7. https://doi.org/10.1051/e3sconf/202014 703016
Nafiyanto, I. (2019). Pembuatan plastik biodegradable dari limbah bonggol pisang kepok dengan plasticizer gliserol dari minyak jelantah dan komposit kitosan dari limbah cangkang bekicot (Achatina fullica). Integrated Lab Journal, 7(1), 75–89. https://doi.org/http://10.5281/zenodo.2656812
Nurdini, L., Hendriyana, Fansyuri, H., & Wibowo, T. (2018). Pengaruh penambahan pati ubi kayu dalam pembuatan bioplastik dari pati sukun.
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia, Jurusan Teknik Kimia, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.
Nurfajrin, Z. D., Mahendrajaya, G. S., Sukadarti, S., & Sulistyowati, E. (2015).
Karakterisasi dan sifat biodegradasi edible film dari pati kulit pisang nangka (Musa paradisiaca L.) dengan penambahan kitosan dan plasticizer gliserol.
Prosiding Seminar Teknik Kimia Kejuangan, Program Studi Teknik Kimia, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.
Nurlita, D., Hersoelistyorini, W., Yusuf, M. (2017). Karakteristik plastik biodegradable berbasis onggok dan kitosan dengan plasticizer glisero l.
Jurnal Pangan dan Gizi, 7(2), 131–139. https://doi.org/10.26714/
jpg.7.2.2017.131-139.
Özdamar, E. G., & Ateş, M. (2018). Rethinking sustainability: a research on starch based bioplastic. Journal of Sustainable Construction Materials and Technologies, 3(3), 249–260. https://doi.org/10.29187/jscmt.2018.28
Parreidt, T. S., Müller, K., & Schmid, M. (2018). Alginate-based edible films and coatings for food packaging applications. Journal Foods, 7(170), 1–38.
https://doi.org/10.3390/foods7100170
Poetri, T. A. E. (2019). Pengaruh penambahan alginat dan polietilen glikol terhadap karakteristik edible film kappa karagenan (Skripsi). Universitas Sahid Jakarta.
Prasetyo, A. E., Widhi, A., & Widayat. (2012). Potensi gliserol dalam pembuatan
Prasetyo, A. E., Widhi, A., & Widayat. (2012). Potensi gliserol dalam pembuatan