Abstrak
Pengendalian patogen penyebab sakit harus didasarkan pada pengetahuan tentang bioekologinya. Diharapkan dengan pengetahuan bioekologi bisa dijadikan dasar untuk bisa menghambat perkembangan atau menurunkan populasi inokulum di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pH dan suhu in vitro, laju penurunan viabilitas akibat penyimpanan, menentukan kemungkinan adanya asosiasi hawar beludru dengan serangga. mengkaji mikroba tanah sebagai agens biokontrol. Kisaran pengaruh pH media meliputi 3, 4, 5, dan 6 dan pengaruh suhu meliputi 15, 20, 30, dan 350C. Penyimpanan tubuh buah dilakukan dalam wadah tanpa diberi tanah, diberi tanah steril dan tanah tidak steril. Pemeriksaan kehadiran serangga dilakukan dengan menguliti tubuh buah dari berbagai katagori serangan di lapangan. Isolasi mikroba tanah untuk mencari kemungkinan bisa digunakan sebagai antagonis menggunakan metoda pengenceran. Semakin rendah pH menyebabkan pertumbuhan miselia terhambat. Demikian juga pengaruh suhu, jika suhu diturunkan atau ditingkatkan dari 300C menyebabkan pertumbuhan miselia terganggu. Penurunan daya viabilitas tubuh buah tercepat jika disimpan dalam tanah yang tidak steril sebagai akibat pembusukan jaringan dan diserang oleh cendawan antagonis. Trichoderma sp. dan Penicellium sp. berpotensi menjadi antagonis. Jenis kutu sisik, Unaspis sp mendiami tubuh buah. Semakin tua umur tubuh buah akan semakin sering Unaspis ditemukan. Belum diketahui peranan serangga ini pada kasus penyakit hawar beludru.
Kata kunci: antagonis, pH, penyimpanan, suhu, tubuh buah, Unaspis sp. Pendahuluan
Lada yang dikembangkan oleh masyarakat Kalimantan Barat, terutama di daerah Sambas, Bengkayang, Pontianak dan Sanggau dihadapkan penyakit yang tergolong baru. Penyakit hawar beludru yang banyak terdapat di bagian batang, cabang/ranting dan tandan buah sebenarnya sudah lama diketahui tetapi tidak dilakukan pengendalian. Oleh masyarakat setempat penyakit hawar beludru dikenal sebagai ganggang pirang, mengingat gejala yang terbentuk seperti ganggang yang melekat pada batang atau cabang pohon. Rata-rata petani tidak mengetahui patogen yang menyerang dan cara pengendaliannya. Kemugkinan besar karena faktor ini juga yang menyebabkan penyakit terus berkembang.
Sejalan dengan bertambahnya waktu penyakit ini terus menyebar, dan serangannya sudah mencapai 19,1% dari luas tanam yang ada (BPTP 2014). Dikhawatirkan penyakit kian menyebar dan menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi, mengingat iklim di Kalimantan Barat tergolong basah. Belum ada pedoman pengendalian yang dapat menghambat perkembangan penyakit.
Kerugian akibat penyakit bisa cukup berarti bagi kesejahteraan masyarakat petani. Jumlah masyarakat yang terlibat dalam perkebunan lada mencapai 19.133 KK, dan tingkat produksi lada putih mencapai 3.513 ton (BPS Kalbar 2012). Dampak akibat serangan patogen penyakit tidak saja terhadap petani tetapi juga
23 negara. Sebagian besar lada yang dihasilkan petani, sebanyak 85% (Manohara et al. 2006) diantaranya diperuntukan sebagai komoditas ekspor. Melihat kenyataan ini maka cukup besar devisa negara yang dapat hilang. Menurut Sarma et al. 2011 kerugian akibat penyakit hawar beludru bisa mencapai 20%. Melihat pada posisi harga lada putih yang saat ini dapat mencapai Rp 120.000 maka kerugian yang dapat ditimbulkan akan besar. Namun demikian status penyakit hawar beludru pada lada masih digolongkan ke dalam penyakit minor.
Tingkat kerugian yang besar ini antara lain karena pengaruh langsung dan tidak langsung sebagai akibat gangguan pertumbuhan tanaman. Hawar beludru pada lada menyebabkan cabang dan ranting patah karena biasanya serangan patogen diikuti oleh penggerek ranting. Selain itu serangan patogen hawar beludru, S. pseudopedicellatum menyebabkan buah keriput sebagai akibat tangkai buah dan buah yang terserang, atau ranting tempat tangkai buah yang mengalami kematian.
Perkembangan penyakit erat kaitannya dengan faktor lingkungan fisik. Suhu, pH dan kandungan amonium-nitrogen dapat mempengaruhi perkecambahan basidiospora Coprinopsis spp. Pengaruh yang terjadi berbeda di antara spesies yang diambil dari beberapa lokasi (Raut et al. 2011). Selain itu pH dan suhu juga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kerapatan aservuli yang dibentuk oleh Colletotrichum coccodes (Nizan and Tsror 2003). Tanggap terhadap faktor fisik lingkungan penting dalam rangka usaha kita untuk mengendalikan serangan patogen. Berdasarkan hal itu maka kajian pengaruh lingkungan fisik terhadap perkembangan patogen hawar beludru penting dikaji.
Pada banyak spesies Septobasidium berasosiasi dengan serangga dari kelompok kutu (Couch 1929; 1935). Tubuh buah dari Septobasidium menyediakan tempat berlindung kutu. Pada kondisi tertentu serangga yang ada di dalam jalinan tubuh buah akan diparasiti dan menyebabkan kematian. Serangga yang terinfeksi bisa juga berperan dalam membantu menginfeksi dan menyebarkan S. pseudopedicellatum.
Tujuan dan Manfaat
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pH dan suhu terhadap pertumbuhan in vitro patogen hawar beludru, laju penurunan viabilitas patogen akibat penyimpanan, menentukan kemungkinan adanya asosiasi hawar beludru dengan serangga, mengkaji mikroba tanah sebagai agens biokontrol. Hasil penelitian diharapkan dapat di jadikan pertimbangan dalam menentukan pengendalian
Masalah penelitian
Patogen hawar beludru pada lada, S. pseudopedicellatum Burt. Menunjukkan perkembangan serangan yang cukup cepat. Pada tahun tahun 2010 prevalensi serangan baru mencapai 8,5%, tetapi pada awal 2014 sudah mencapai 19,1%. Perkembangan serangan patogen dapat dilihat pada Lampiran 8. Belum ada upaya nyata yang dapat menekan perkembangan serangan. Upaya pengendalian bersifat mencoba karena memang belum ada pedoman pengendalian yang dapat dianjurkan kepada petani lada. Untuk sementara petani hanya melakukan pengendalian dengan penyemprotan pestisida, dan apa yang dilakukan tersebut belum dapat menghambat perkembangan penyakit.
24
Informasi mengenai patogen hawar beludru yang menyerang lada di Kalimantan Barat, bahkan Indonesia belum ada. Menjadi penting untuk melakukan penelitian ekobiologi dari S. pseudepedicellatum, dan ini dapat dijadikan landasan dalam upaya pengendaliannya.
Metode
Penelitian ini dibagi menjadi pengujian perlakuan pH dan suhu terhadap pertumbuhan miselia S. pseudopedicellatum in vitro, kemampuan bertahan tubuh buah pada jaringan tanaman akibat penyimpanan, potensi mikroba tanah sebagai agens pengendali S. pseudopedicellatum, dan keberadaan kutu pada tubuh buah.
Pengujian Perlakuan pH dan Suhu terhadap Pertubuhan
S. pesudopedicellatumin vitro
Isolat S. pseudopedicellatum yang digunakan, Plh, Glg dan Sdr merupakan hasil isolasi yang dilakukan saat melakukan identifikasi patogen hawar beludru. Pengujian dilakukan pada media PDA yang dituang dalam cawan Petri ukuran diameter 9 cm. Untuk perlakuan digunakan isolat biakan yang berumur 4 hari setelah inokulasi (hsi). Khusus pada perlakuan pH jumlah agar yang digunakan ditambah untuk membuat media dapat membeku jika dalam kondisi dingin. Penambahan agar pada media semakin banyak jika pH semakin rendah. Untuk membuat media PDA pada pH 3 maka diperlukan tambahan agar 15 g per liter media.
Pengaturan pH media PDA sesuai dengan perlakuan, dilakukan dengan penambahan larutan HCl 2%. Penambahan HCl dilakukan sebelum sterilisaasi media. Perlakuan pH terdiri dari pH 3, 4, 5 dan 6. Setiap perlakuan diulang 10 kali. Nilai pH media ditentukan menggunakan pH meter.
Perlakuan suhu menggunakan media PDA siap pakai, pH 6,8. Pada setiap media dalam cawan Petri diletakan potongan biakan miselia berbentuk cakram ukuran diameter ± 1 cm di bagian tengah. Perlakuan suhu dilakukan dengan menempatkan cawan Petri yang sudah diinokulasi dengan biakan miselia S. pseudopedicellatum dalam inkubator. Tingkat suhu perlakuan terdiri dari 100C, 150C, 200C, 300C , 350C dan 400C.
Pengamatan yang dilakukan berupa pengukuran diameter koloni yang tumbuh. Pengukuran dilakukan mulai satu hsi (hari setelah inokulasi) sampai koloni salah satu taraf perlakuan mencapai tepi cawan. Pengukuran diameter koloni dilakukan terhadap masing-masing perlakuan (pengaruh pH dan suhu).
Pengolahan data diameter koloni dari masing-masing perlakuan (pengaruh pH dan suhu) menggunakan ANOVA program Minitab 16. Untuk melihat kemungkinan adanya perbedaan antar isolat pada taraf masing-masing perlakuan dilakukan uji beda Tukey α = 0,05. Untuk melihat pH dan suhu optimum dilakukan uji regresi kuadratik yang dilakukan terhadap pertumbuhan koloni S. pseudopedicellatum pada 2 hsi.
Viabilitas Tubuh Buah Akibat Penyimpanan
Untuk menentukan kemampuan bertahan tubuh buah diperlukan potongan cabang lada yang bergejala hawar beludru. Ukuran bercak tubuh buah yang
25 digunakan berkisar antara 15 – 20 cm, sehingga potongan cabang yang digunakan berukuran 20-25 cm. Sampel diambil dari dua tempat, Desa Sei Duri dan Sei Raya yang terletak di Kabupaten Bengkayang.
Penyimpanan potongan cabang lada bergejala hawar dilakukan dalam wadah plastik ukuran 45 x 25 x 20 cm (p x l x t). Perlakuan penyimpanan terdiri dari tanpa diberi tanah, diberi tanah steril dan tanah tidak steril. Sterilisasi tanah dilakukan menggunakan otoklav sebanyak 2 kali. Tanah yang diambil berasal dari daerah perakaran lada di Desa Sei Duri. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali yang masing-masing terdiri dari 10 potong. Setiap potong cabang lada diberi label.
Penyimpanan semua perlakuan dilakukan dalam ruangan/kamar. Selama masa penyimpanan, khususnya perlakuan yang menggunakan tanah kelembabannya dipertahankan antara 60-70%. Untuk mempertahankan kelembaban dilakukan dengan cara menyemprotkan aquades steril menggunakan penyemprot tangan (hand sprayer). Penyemprotan dilakukan jika kelembaban tanah di bawah 60%. Pengukuran kelembaban tanah setelah penyemprotan aquades menggunakan soil tester.
Pengamatan variabel viabilitas tubuh buah pada potongan cabang lada dilakukan dengan menumbuhkan himenium dan pilar (potongan tubuh buah ukuran 0,5 cm) di media PDA. Untuk itu terlebih dahulu potongan cabang yang disimpan dalam tanah dibongkar dan dibersihkan dari partikel tanah yang melekat. Potongan cabang yang disimpan tanpa tanah tidak dilakukan pembongkaran.
Potongan tubuh buah dicuci dengan merendam dalam larutan kloramfenicol 200 ppm selama 2 menit sambil dikocok, dan kemudian direndam dalam alkohol 70% selama 2 menit dengan cara yang sama. Terakhir potongan tubuh buah tersebut dibilas dengan menggunakan aquades steril dengan cara merendam sambil dikocok selama 3 menit. Sebelum diinokulasi pada media PDA potongan tubuh buah dikeringkan menggunakan kertas isap. Penentuan viabilitas dilakukan pada 30, 60, 90 dan 107 hari masa penyimpanan.
Eksplorasi Mikroba Tanah dan Uji Antagonis terhadap Patogen Hawar Beludru
Eksplorasi dan uji antagonis mikroba tanah (bakteri dan cendawan) dilakukan untuk melihat potensinya dalam menekan keberadaan patogen hawar beludru.