BAB II TINJAUAN UMUMNOVEL THE DRAGON SCROLL DAN
2.5 Biografi Inggrid J Parker
Inggrid. J. Parker lahir di Munich, jerman pada tanggal 21 Maret 1962. Ia lahir dan besar disana. Ia adalah seorang penulis novel detektif atau misteri dan kisahnya yang paling terkenal adalah seri petualangan Akitada Sugawara, seorang detektif Jepang DI zaman Heian.
Inggrid. J. Parker adalah pemenang penghargaan “Private Eye Writers” dari America Shamus Award untuk Best P. I. Short Story pada tahun 2000 untuk
bukunya “Akitada’s First Case”, yang diterbitkan pada tahun 1999. Sampai saat ini, Inggrid. J. Parker tinggal di Virginia sebagai Professor Bahasa Inggris dan Asing di Norflok State University.
Inggrid. J. Parker memulai risetnya tentang Jepang di abad kesebelas dikarenakan ketertarikan profesionalnya pada literatur budaya Jepang pada masa tersebut. Hal ini yang membawanya untuk menulis cerita pertamanya tentang Akitada, “Instrument Of Murder”, yang diterbitkan di Majalah Alfred Hitchcock’s Mystery pada Oktober 1997.
Inggrid adalah seseorang yang multi-lingual, ketertarikannya terhadap Jepang terus dipelajari dan dijadikan sebagai riset untuk terus dikaryakan. Hingga saat ini dia masih menulis untuk Alfred Hitchcock’s Mystery Magazine.Dalam menyelesaikan bagian-bagian yang bersangkutan dengan tradisi Jepang, selain pengetahuannya sendiri, ia juga dibantu oleh Yumiko Enyo, seorang Profesor lulusan Hawaii of University, Manoa yang merupakan temannya.
BAB III
ANALISIS PARA TOKOH WANITA ZAMAN HEIAN DALAM NOVEL THE DRAGON SCROLL
KARYA INGGRID J PARKER
3.1 Kehidupan Lady Tachibana Sebagai Masyarakat Golongan Atas 3.1.1 Dalam lingkungan keluarga
Berikut cuplikan kehidupan lady Tachibana sebagai masyarakat golongan atas dalam lingkungan keluarga yang dapat dilihat melalui cuplikan berikut.
Cuplikan 1 Hal 120
Akitada teringat sesuatu dalam perkataan Junjiro tadi dan memutuskan untuk bertanya lebih jauh. “Lady Tacibana yang sekarang adanya baru-baru ini?”
Sato mengambil satu tarikan napas dan menyeka air mata. “Benar, tuan. Dia puteri dari teman lama majikan hamba. Majikan hamba membawanya ke sini sebagai isteri kedua karena janji beliau pada ayahnya yang meninggal. Ketika isteri pertama meninggal, isteri kedua lalu mengambil alih rumah tangga.” Sato menekan bibir dan melemparkan tatapan marah ke arah rumah itu. Jelas sekali dia tak menyukai nyonya muda Tachibana.
Analisis
Dalam cuplikan diatas merupakan percakapan antara Akitada dan Sato. Dalam percakapan tersebut Sato menyatakan bahwa Lady Tachibana merupakan istri kedua Tachibana. Pada masa ini laki-laki boleh memiliki lebih dari satu istri yang tergambar dalam kata “istri kedua”.Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan
laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Tidak jarang juga banyak laki-laki yang memiliki selingkuhan di luar rumah. Seperti kisah Genji Monogatari karya Murasaki Shikibu, dalam ceritanya banyak menceritakan tentang perselingkuhan para tokohnya.
Cuplikan 2 Hal 159
Kini akitada dapat melihat para rahib dan pelayat secara lebih baik. Para pelayan, yang tinggal lima orang, berkumpul di sekitar Sato tua dan kelihatan kurang sedih maupun ketakutan. Para pelayat, yang seluruhnya laki-laki dan tampak asing bagi Akitada, yang memasang wajah alim ini sepertinya adalah orang-orang yang lebih suka berada di tempat lain. Di mana teman-teman Tachibana? Apakah mereka sudah mendahuluinya? Di mana teman-teman janda itu?
Perempuan yang malang! Akitada tahu, gadis itu tak punya sanak-keluarga, dan terlalu muda serta terlalu pemalu untuk menjalin hubungan pertemanan dengan perempuan bangsawan dari keluarga tetangga. Akitada menjadi iba dan melirik sekilas ke arah partisi itu. Rasanya dia mendengar isakan pelan, namun sura itu tenggelam oleh lonceng kuningan yang baru.
Analisis
Cuplikan diatas merupakan keadaan Lady Tachibana yang mengikuti proses upacara kematian suaminya. Dalam cuplikan tersebut tampak Akitada yang menyaksikan kesedihan Lady Tachibana yang ditinggal suaminya diusia mudanya tanpa ditemani sanak keluarga. Dalam cuplikan Di mana teman-teman
Tachibana? Apakah mereka sudah mendahuluinya? Di mana teman-teman janda itu?
Dalam cuplikan tersebut kesendirian Lady Tachibana tampak bahwa seorang istri golongan atas pada masa ini menghabiskan sebagian besar hidup mereka dalam rumah suami mereka. Sehingga Lady Tachibana ditambah usia mudanya tidak memiliki teman segolongan dengannya.
Cuplikan 3 Hal 167-168
“kalau begitu, maukah kau mengizinkan aku membantumu menangani urusan praktis? Aku menyandang pendidikan hukum dan pasti ada banyak sekali berkas dan urusan kekayaan yang harus dihadapi tak lama lagi. Apakah Lord Tachibana sudah menunjuk wali?”
Tangan janda itu bergerak-gerak dan mengepal. “Aku tak mengerti urusan itu,” katanya. “Aku tidak tahu apa-apa tentang hal seperti itu. Tak seorang pun yang datang menemuiku.”
Analisis
Dalam cuplikan di atas merupakan percakapan Akitada dan Lady Tachibana dimana akitada sebagai seorang detektif menawarkan untuk menjadi wali untuk menangani urusan kekayaan yang ditinggalkan oleh Tachibana. Tergambar pada cuplikan “Tak seorang pun yang datang menemuiku.”Dalam percakapan tersebut tampak bahwa Lady Tachibana merasa kesepian karena tidak ada sanak keluarga yang datang mengunjunginya. Hal ini terjadi karena ada batasan pergaulan yng dilakukan oleh suaminya, sehingga si istri tidak memiliki
teman yang mengunjunginya, hal ini terkait dalam cuplikan sebelumnya dimana suami mengusir teman Lady Tachibana ketika sedang berkunjung kerumahnya.
Cuplikan 4 Hal 171
“ya, dia masih sangat muda.” Akitada mendesah. Pengasuh ini pantas dipuji atas kasih sayang pada majikan kecilnya, walaupun celaannya terhadap majikan laki-lakinya bukanlah hal yang pantas.
“Usianya baru tujuh belas tahun. Musim panas kemarin, kapten muda itu datang berkunjung. Oh, betapa nyonya mudaku suka tertawa mendengar lelucon dan ceritanya. Dia gadis yang berbeda saat itu. Tapi tuan tidak suka. Beliau justru mengusirnya.”
Analisis
Cuplikan di atas merupakan percakapan Akitada dan pelayan Lady Tachibana yang membicarakan Lady Tachibana yang masih sangat muda membutuhkan perhatian dari seseorang yang membuatnya bahagia, tetapi karena dia menjadi seorang istri Mantan gubernur, yang merupakan golongan atas, kebahagiannya sirna karena usianya dengan suaminya terpaut jauh, terlepas dari itu, dari cuplikan diatas pada kalimat “tapi tuan tidak suka. Beliau justru mengusirnya”tampak bahwa seorang wanita yang sudah menikah bergantung pada suaminya, si suami yang membatasi pergaulan istrinya dengan laki-laki lain. Jadi pada masa Heian seorang wanita yang sudah menikah bergantung pada suaminya dalam arti si suami kerap membatasi pergaulan si istri, meskipun dalam pergaulannya dengan teman si suami yang segolongan dengannya.
Cuplikan 5 Hal 273-274
“apa maksud anda?”
“Ibunya seorang pelacur di ibukota. Ayahnya kasmaran pada perempuan ini sangat berkunjung ke sana, mengeluarkan dia dari sana lalu menjadikannya sebagai gundik. Setelah ibunya melahirkan, ayahnya kehilangan minat. Perempuan itu kembali ke dunia lamanya, membawa serta anak itu dan sejumlah besar emas. Ketika perempuan itu meninggal, si anak dikirim kembali ke ayah kandungnya yang, setelah awalnya syok, kemudian memanjakannya secara berlebihan. Konon katanya, anak itulah yang menghancurkan ayahnya, dan dia pun menghancurkan Tachibana dengan seleranya yang mahal.” Motosuke tampak jijik. “Aku belum pernah bertemu dengannya. Apakah dia cantik sekali?”
Analisis
Cuplikan di atas merupakan percakapan mengenai latar belakang Lady Tachibana yang diungkapkan oleh oleh Motosuke, seorang gubernur baru. Dalam cuplikan tersebut menyatakan mengenai ibu Lady Tachibana adalah seorang gundik ayahnya yang awalnya ibunya seorang pelacur. Hal ini berarti bahwa pada masa Heian, sangat lazim bagi seorang laki-laki yang sudah menikah memiliki beberapa istri dan menyimpan seorang gundik. Hal tersebut tampak dalam kalimat “Ayahnya kasmaran pada perempuan ini sangat berkunjung ke sana, mengeluarkan dia dari sana lalu menjadikannya sebagai gundik”.
3.1.2 Dalam lingkungan sosial
Berikut cuplikan kehidupan lady Tachibana sebagai masyarakat golongan atas dalam lingkungan sosial yang dapat dilihat melalui cuplikan berikut.
Cuplikan 1 Hal 110-111
Sejenak perempuan itu terpaku, seperti pelayan tua tadi, menatap ke mayat suaminya. Kemudian dia mulai terhuyung-huyung. Akitada sempat menangkap sebelum janda jatuh menimpa mayat itu, lalu menggendongnya.
Badan perempuan ini sangat lemas, bobot badannya sangat ringan dan lembut. Akitada mencium wewangian, tapi tak tahu apakah dari jubah atau rambut suteranya yang panjang. Menggendong perempuan yang segolongan dengannya adalah suatu pengalaman baru karena hal ini tak terbayangkan dalam kelompok masyarakat mereka yang kaku. Dia merasakan dirinya memerah malu. Apa yang dia lakukan pada perempuan ini ?. Dia tidak bisa membawanya melewati kebun. Jika salah seorang pelayan lihat, beraneka gosip bisa bermunculan. Lebih buruk lagi karena sang residen, Ikeda, yang berpikiran kotor, bisa datang sewaktu-waktu dengan petugas koroner dan polisi.
Analisis
Dalam cuplikan diatas menunjukkan bahwa menyentuh wanita yang segolongan merupakan hal yang dianggap tidak seharusnya. Tergambar dalam cuplikan “Akitada sempat menangkap sebelum janda jatuh menimpa mayat itu, lalu menggendongnya. Badan perempuan ini sangat lemas, bobot badannya sangat ringan dan lembut. Akitada mencium wewangian, tapi tak tahu apakah dari jubah atau rambut suteranya yang panjang”.Menggendong perempuan yang segolongan dengannya termasuk hal yang tidak diperbolehkan dalam aturan masyarakat pada masa itu.
Cuplikan 2 Hal 112
Akitada maju selangkah lalu membuka mulut untuk membalas, tapi perempuan itu pergi disertai bunyi desiran halus, meninggalkan jejak harum kehadirannya.
Akitada berdiri di ambang pintu, terpaku dan anehnya merasa kehilangan, mengawasi Lady Tachibana berjalan kembali ke rumahnya, kimononya yang warna-warni serta gerakan yang anggun mengingatkan Akitada akan seekor kupu-kupu indah yang tak semestinya berada di dunia penuh salju di musim yang dingin.
Analisis
Dalam cuplikan diatas merupakan kekaguman Akitada terhadap kecantikan Lady Tachibana. Dalam cuplikan tersebut tampak bahwa seorang wanita golongan atas mengenakan kimono berwarna-warni. Pada zaman Heian seorang wanita golongan atas mengenakan Kostum dipilih berdasarkan jabatan dan musim. Kimono perempuan menggunakan sistem kombinasi warna yang melambangkan bunga dan tanaman yang spesifik yang ada di suatu musim atau bulan, contohnya irome dan kasane no irome. Pada umumnya, perempuan yang belum menikah mengenakan hakama warna gelap. Sementara, perempuan yang sudah menikah mengenakan hakama dengan warna-warna cerah, umumnya merah.
Cuplikan 3 Hal 133
“Mungkin tidak, setidaknya tidak seperti yang kau maksud,” Akitada berkata dan membayangkan kecantikan yang rapuh di rumah mewah Tachibana.
Dia berdiri, mengibas-ngibaskan jubah suteranya, dan berkata buru-buru, “Rasanya aku harus melakukan kunjungan belasungkawa yang sepantasnya kepada Lady Tachibana. Dia masih sangat muda dan belum berpengalaman. Mungkin dia butuh bantuan untuk menangani tanah mendiang suaminya. Seimei, rancanglah surat pembebasan untuk gubernur. Dan kau, Tora, sebaiknya mulai melakukan pekerjaan yang berguna, seperti bercakap-cakap dengan penduduk kota ini.”
Analisis
Dalam cuplikan diatas menunjukkn bahwa seorang wanita golongan atas menggunakan baju sutera panjang yang tidak boleh dikenakan oleh wanita golongan bawah.
Cuplikan 4 Hal 166-167
“Oh pekik janda itu. “Maaf. Kau pasti menganggapku buruk. Kau orang penting dari ibukota, kan? Tak sepantasnya aku meminta hal seperti itu.”
“Tidak, tidak. Tidak sama sekali.” Akitada mengambil resiko. “aku akan senang sekali mengunjungimu setiap hari bila kau izinkan. Aku merasa terhormat dengan kepercayaan nyonya.”
Perempuan itu mengeluarkan helaan napas lega yang lembut dan kemudian tangan kecilnya merayap keluar dari bawah tirai. Akitada menatap ke arah itu. Menyentuh perempuan ningrat yang bukan anggota keluarga adalah hal yang terlarang, tapi tangan itu begitu mungil dan tak berdaya, tangan anak kecil. Dia boleh saja janda Tachibana, tetapi usianya masih muda, tak beda dari adiknya. Hanya saja, tak seperti adiknya, perempuan belia ini hanya sendirian dan perlu
jaminan, perlu seseorang yang, betapa pun singkatnya, bisa menjadi kakak atau ayah yang tak di milikinya. Akitada mencondongkan badan ke depan dan meraih tangan itu dan menggenggamnya. Tangan itu terasa dingin mengibakan dan bergelung antusias di jari-jari hangat akitada.
Analisis
Cuplikan diatas kembali menunjukkan bahwa menyentuh wanita golongan atas yang bukan anggota keluarga merupakan hal yang terlarang dalam aturan pada zaman ini. tergambar pada cuplikan “Perempuan itu mengeluarkan helaan napas lega yang lembut dan kemudian tangan kecilnya merayap keluar dari bawah tirai. Akitada menatap ke arah itu. Menyentuh perempuan ningrat yang bukan anggota keluarga adalah hal yang terlarang, tapi tangan itu begitu mungil dan tak berdaya, tangan anak kecil”.
Cuplikan 5 Hal 169
Pengasuh itu menggerutu dan berjalan melewatinya untuk meletakkan kembali penopang tirai. Terdengar suara berbisik di antara kedua perempuan, kemudian pengasuh itu berkata kasar, “Beliau perlu istirahat. Datanglah besok.”
Akitada berbalik untuk pergi. “Jangan, tunggu,” teriak janda itu.
Akitada menunggu. Takut melihat janda di balik pembatas yang tak selayaknya, Akitada menatap ke seberang ruangan, ke lukisan bangau menari-nari yang digantung di antara sepasang meja ukiran tinggi, salah satu meja itu memamerkan jambangan hijau giok berleher tipis dari Cina.
Dalam cuplikan diatas merupakan diaog antara pelayan Lady Tachibana dengan Akitada yang sedang datang mengunjungi Lady Tachibana yang sudah berada dalam ruangan Lady Tachibana. Karena seorang wanita bangsawan tidak boleh berhubungan dengan laki-laki yang bukan kerabatnya, maka dalam ruangan seorang wanita bangsawan memiliki tirai pembatas yang membatasi antara wanita dengan tamu yang bukan kerabat. Hal tersebut tergambar dalam cuplikan
“Akitada menunggu. Takut melihat janda di balik pembatas yang tak selayaknya”.
3.2 Kehidupan Ayako, Otomi sebagai Masyarakat Golongan Bawah 3.2.1 Dalam lingkungan keluarga
Berikut adalah kehidupan Ayako, Otomi sebagai masyarakat golongan bawah dalam lingkungan keluarga yang dapat dilihat melalui cuplikan berikut.
Cuplikan 1 Hal 72
Hikeguro berkata dengan rendah hati, “Putriku terlalu melebih-lebihkan, tapi dia benar. Izinkan kami mengungkapkan rasa terima kasih. Waktu otot-otot tungkai kakiku lumpuh, aku berkonsentrasi melatih lengan dan badan bagian atas. Membengkokkan busur panah dan memanah ke sasaran adalah latihan yang bagus. Begitu mulai mahir, aku lalu mengambil murid.”Dia menunjuk ke lembaran kertas bertuliskan huruf yang menempel di dinding. “Kami hidup berdasarkan kata-kata itu.”
“Tidak Kerja-Tidak Makan,” baca Hikeguro. “kami semua bekerja dengan cara kami sendiri, termasuk puteri bungsuku. Dia melukis dan sangat baik dalam bidang itu. Setelah bekerja seharian, puteri-puteriku berbagai pekerjaan rumah tangga sementara aku membuat sandal jerami. Kau pasti mengira kami tuan rumah yang sangat miskin. Bagaimana kalau tamu kita dijamu makanan, anak-anak?”
Analisis
Dalam cuplikan diatas merupakan percakapan antara Hikeguro dan Tora. Hikeguro mengungkapkan mengenai keadaan bagaimana dia hidup dengan kedua anaknya Ayako dan Otomi. Dalam cuplikan ini kembali menunjukkan bagaimana sebagai keluarga miskin untuk bertahan hidup dengan cara berkerja dengan keras dengan kaum laki-laki. Hal ini terdapat dalam cuplikan “Tidak Kerja-Tidak Makan,” baca Hikeguro. “kami semua bekerja dengan cara kami sendiri, termasuk puteri bungsuku. Dia melukis dan sangat baik dalam bidang itu. Setelah bekerja seharian, puteri-puteriku berbagai pekerjaan rumah tangga sementara aku membuat sandal jerami.
Cuplikan 2 Hal 133
“Oh aku janji akan berusaha mempelajari apapun yang kau ajarkan, Seimei,” kata Tora, “tapi kau salah tentang Otomi. Dia bisa membaca dan menulis.”
“Bagaimana dengan puteri yang lain?”tanya Akitada.
Tora meringis. “Ayako? Dia jenis gadis yang maskulin. Membantu ayahnya melatih murid-muridnya seni bela diri. Kau takkan menyukainya, tuan.”
Analisis
Dalam cuplikan diatas merupakan dialog antara Tora dan Akitada. Mereka sedang membicarakan Otomi dan Ayako. Dalam cuplikan “Membantu ayahnya melatih murid-muridnya seni bela diri”,menunjukkan bahwa seorang wanita golongan bawah bekerja bahu-membahu dengan kaum laki-laki pada masa Heian. Tergambar pada cuplikan tersebut, Ayako seorang wanita yang berkerja keras membantu ayahnya, sekalipun pekerjaan tersebut hany pantas dilakukan oleh laki-laki.
Cuplikan 3 Hal 191
Selama bercerita kisah tragis ini, senyum tak hilang dari wajahnya, dan Akitada sangat tersentuh oleh ketabahan luar biasa itu. “Kau mengalami kehidupan yang sangat sulit,” katanya dengan kikuk.
“Sama sekali tidak. Aku orang yang beruntung. Ayako membantuku mengelola sekolah, dan Otomi menghasilkan banyak uang dengan lukisannya.”Dia tersenyum dengan penuh kasih sayang dan kebanggaan luar biasa pada kedua puterinya.
Analisis
Dalam cuplikan diatas kembali menunjukkan bahwa seorang wanita yang belum menikah tergantung pada orangtuanya. Dan juga bekerja bahu-membahu dengan kaum laki-laki. Hal ini tergambar pada cuplikan “Sama sekali tidak. Aku orang yang beruntung. Ayako membantuku mengelola sekolah, dan Otomi menghasilkan banyak uang dengan lukisannya.”Dia tersenyum dengan penuh kasih sayang dan kebanggaan luar biasa pada kedua puterinya.
3.2.2 Dalam lingkungan sosial
Berikut adalah kehidupan Ayako, Otomi sebagai masyarakat golongan bawah dalam lingkungan sosial yang dapat dilihat melalui cuplikan berikut.
Cuplikan 1 Hal 44
Tora tiba-tiba bersiul.
“Ada apa?” tanya Seimei, mengangkat pandangannya dari cangkir sake yang kosong.
Tora menunjuk. “lihat gadis itu! Cantiknya. Lehernya luar biasa! Belum lagi pinggul dan pahanya!”
Di seberang penginapan, seorang penjual sayuran sedang mengatur keranjang berisi lobak, kacang, tumbuhan jamu, kentang manis, dan kastanye. Seorang gadis cantik, yang rambutnya diikat sesuai gaya wanita kelas rendahan dan badan rampingnya dibungkus ketat gaun katun bergaris polos, sedang menawar sebongkah lobak besar dengan tangan yang terus digerakkan.
Analisis
Dalam cuplikan diatas menunjukkan bahwa wanita golongan bawah pada umumnya menggunakan pakaian dari bahan katun polosdengan gaya rambut yang diikat biasa. Berbeda dengan wanita golongan atas yang memakai kimono sutera berlapis dengan warna cerah atau gelap. Hal ini tergambar pada cuplikan
Seorang gadis cantik, yang rambutnya diikat sesuai gaya wanita kelas rendahan dan badan rampingnya dibungkus ketat gaun katun bergaris polos,
bawah yang menggunakan pakaian katun tanpa berlapis dengan rambut yang hanya diikat.
Cuplikan 2 Hal 60
Di persimpangan ketiga, Tora beruntung sekilas dia melihat jubah sefron membelok menghilang di ujung jauh sana lalu dipercepatlah larinya. Ketika berbelok di tikungan itu, dia melihat mereka. Gadis langsing itu melawan sambil meronta-ronta di antara dua orang penangkapnya yang berotot. Salah seorang rahib menampar keras gadis itu.
Tora meraung dan melompat. Menarik kerah kedua orang itu, dia lalu menyentaknya ke belakang. Diserang secara mengejutkan, mereka pun terjungkal. Tora menendang ke bagian iga salah satu rahib, kemudian menarik jubah sang rahib lalu meninjunya. Rahib itu jatuh tanpa bersuara. Tapi ketika berbalik untuk menghadapi temannya, Tora melihat rahib itu sudah mengambil langkah seribu, jubah kuningnya diangkat sampai lutut dan sandalnya menggelepak-gelepak di ujung kakinya yang panjang.
Gadis itu meringkuk di dinding sebuah pondokan, ujung lengan bajunya menekan bibirnya yang berdarah.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Tora menghampiri.
Gadis itu mengangguk pelan, menatapnya dengan mata lebar berurai tangis.
Analisis
Dalam cuplikan diatas menunjukkan bahwa meskipun kaum wanita golongan bawah terbilang hidup dengan bebas, tetapi mereka juga tidak jarang menjadi
sasaran empuk para laki-laki jahat. Hal ini tergambar dalam cuplikan Gadis langsing itu melawan sambil meronta-ronta di antara dua orang penangkapnya yang berotot. Salah seorang rahib menampar keras gadis itu.Cuplikan tersebut menunjukkan bahwa Otomi yang sedang santai berbelanja diganggu oleh sekumpulan rahib-rahib jahat.
Cuplikan 3 Hal 71
Tora terguncang. Dia tak menatap bagian bawah badan laki-laki itu, alih-alih menatap berang ke Ayako. Petarung perempuan! Memang ada beberapa kisah tentang perempuan seperti itu, tapi Tora sangat tersinggung karena merasa tak sepatutnya begitu. Kaum perempuan diharapkan untuk lemah, lembut, menyenangkan dan melayani pria mereka. Mungkin ada pengecualian dalam kasus ini. sang ayah lumpuh dan tak memiliki putera sebagai penerusnya, tapi dalam pandangan Tora, Ayako bukan lagi perempuan idaman.
Analisis
Dalam cuplikan diatas menunjukkan bahwa seorang wanita pada zaman Heian tidak lebih berharga dengan laki-laki. Kedudukan Laki-laki lebih utama dibanding dengan kedudukan wanita. Hal tersebut tergambar dalam cuplikan Kaum perempuan diharapkan untuk lemah, lembut, menyenangkan dan melayani pria mereka.Pada cuplikan tersebut Tora menganggap wanita hanya diharapkan untuk melayani laki-lakinya. Tora merupakan gambaran yang mewakili laki-laki lainnya pada zaman ini. karena dia tidak menyukai gaya wanita seperti Ayako yang tidak seperti wanita pada zamannya. Dia merupakan seorang petarung
lagi-lagi penulis menganggap pengarang menngunakan karakter Ayako untuk bisa menghidupkan atau menguatkan cerita novel The Dragon Scroll.