• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III BIOGRAFI DAN KLASIFIKASI AYAT

A. Biografi Singkat Beberapa Mufasir dan Tafsirnya

1. Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī (225 H-310 H/839 M-923 M)

Nama lengkap ia adalah Abū Ja’far Muḥammad bin Jarīr bin Yazīd bin Kaṡīr bin Khālid al-Ṭabarī, ada pula yang mengatakan Abū Ja’far Muḥammad bin Jarīr bin Yazīd bin Kaṡīr bin Ghalīb al-Ṭabarī.1 Ia dilahirkan di Amil, Ibu kota Tabaristan 224 H.2 Ia merupakan salah seorang ilmuwan yang sangat mengagumkan dalam kemampuannya mencapai tingkat tertinggi dalam berbagai disiplin ilmu, antara lain fiqh (hukum Islam) sehingga pendapat-pendapatnya yang terhimpun dinamai Mażhab al-Jarīriyah.3 Hidup di lingkungan yang mendukung penuh karir intelektual al-Ṭabarī, tidak heran jika di waktu usia 7 tahun sudah hafal al-Qur’an. Hal tersebut pernah diungkapkan oleh Ṭabarī ‘Aku telah menghafal al-Qur’an ketika berusia tujuh tahun dan menjadi imm shalat ketika aku berusia delapan tahun serta mulai menulis hadis-hadis nabi pada usia sembilan tahun’.4

Abū Ja’far al-Ṭabarī (Sebutan Abū Ja’far) adalah panggilan kehormatan bagi al-Ṭabarī karena kebesaran dan kemuliaannya. Kota Baghdad, menjadi persinggahan terakhir al-Ṭabarī, sejumlah karya telah berhasil ia salurkan dan akhirnya wafat pada Senin, 27 Syawwal 310 H bertepatan dengan 17

1 Abū Ja’far Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī, Jamī’ al-Bayān ‘An Ta’wil ay al- Qurān (Kairo: Dār as-Salām, 2007), 4.

2 M. Husain az-Dhahabi, al-Tafsir Wa al-Mufassirun (Bayrūt: Dar al-Kutub al- Hadisah, 1976), V. 1, 180.

3 Az-Dhahabi, al-Tafsir Wa al-Mufassirun, 181.

Februari 923M.5 Ia wafat pada usia 86 tahun.6 Kitab tafsir karya al-Ṭabarī adalah Jamī’ al-Bayān fī Tafsīr al-Qurān adalah nama yang lebih masyhur, sedangkan nama yang diberikan oleh al-Ṭabarī adalah Jamī’ al-Bayān ‘an-Ta’wīl ay al-Qurān, ditulis pada akhir kurun yang ketiga dan mulai mengajarkan kitab karangannya ini kepada para muridnya dari tahun 283 H-290 H.7 Kitab Tafsir ini tidak ada tandingannya, seperti yang telah dikatakan oleh al-Nawāwī dalam Tahżībnya.8

Tafsir ini terdiri dari 30 juz yang masing-masing berjilid tebal dan besar, Kitab karya al-Ṭabarī ini kemudian dicetak untuk pertama kalinya ketika ia berusia 60 tahun (284 H/899 M).9 Dengan terbitnya tafsir al-Ṭabarī ini terbukalah khazanah ilmu tafsir.10 Syekh al-Islām Taqiy al-Dīn Ahmad bin Taimiyah pernah ditanya tentang tafsir yang manakah yang lebih dekat dengan al-Qur’an dan Sunnah? Ia menjawab bahwa di antara semua tafsir yang ada pada kita, tafsir yang paling otentik adalah Jamī’ al-Bayān fī Tafsīr al-Qurān karya Muḥammad bin Jarīr al-Ṭabarī.11

Tafsir al-Ṭabarī dikenal sebagai tafsir bil ma’tsur, yang mendasarkan penafsirannya pada riwayat-riwayat yang bersumber dari Nabi saw, para sahabatnya, tabi’in, dan tabi’ al-tabi’in. Ia juga mengemukakan berbagai

5 Mannā’ khalīl al-Qaṭṭān, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, terj: Mudzakir AS. (Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 1996), cet. III, 526.

6 M. Hasbi ash-Shiddieqy, Ilmu-ilmu al-Qur'an (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), 222.

7 Al-Ṭabarī, Jamī’ al-Bayān An Ta’wil ay al- Qurān, 4.

8 M. Hasbi ash Shiddieqy, ilmu-ilmu al Qur’an, Media-media Pokok dalam Menafsirkan Al Qur’an (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1988), cet. II, h. 222. Moh. Ali Ash-Shabunie, Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, terj: Saiful Islam Jamaluddien (Surabaya: Al Ikhlas), 233.

9 Salimuddin, Tafsir al-Jami’ah, (Bandung: Pustaka, 1990), 135.

10 Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Dr. Muhammad Husain al-Żahabī bahwasanya kitab tafsir ibn jarīr al-Ṭabarī merupakan kitab tafsir pertama (masa dan ilmunya) dari sekian banyak kitab-kitab tafsir awal. Lihat: Mahmud Basuni Fawdah, Tafsir-tafsir al-Qur’an; Perkenalan dengan Metodelogi Tafsir, terj: M. Mochtar Zoerni dan Abdul Qadir Hamid (Bandung: Penerbit Pustaka, 1987), cet. I, 54.

pendapat dan mentarjihkan sebagian atas yang lain.12 Adapun metode yang dipakai oleh al-Ṭabarī untuk menyusun tafsirnya adalah dengan metode tahlili.13 Al-Ṭabarī tidak menunjukkan sikap fanatisme mazhab atau alirannya.14 Dari sisi linguistik (lugah), Ibn Jarīr al-Ṭabarī sangat memperhatikan penggunaan bahasa Arab sebagai pegangan dengan bertumpu pada syair-syair Arab kuno dalam menjelaskan makna kosa kata, acuh terhadap aliran-aliran ilmu gramatika bahasa nahwu, dan penggunaan Bahasa Arab yang telah dikenal secara luas di kalangan masyarakat.15

2. Ismā‘īl Ibn Kaṡīr (700 H-774 H/1300 M-1373 M)

Nama lengkap Ibn Kaṡīr adalah al-Dīn Abū al-Fida Ismā‘īl Ibn Amar Ibn Kaṡīr Ibn Zara’ al-Buṣrā al-Dimasqī.16 Ia lahir di Desa Mijdal dalam wilayah Bushra (Basrah) pada tahun 700 H/1301 M. Oleh karena itu, ia mendapat predikat al-Buṣrawi (orang Basrah).17 Ibn Kaṡīr adalah anak dari Shihāb al-Dīn Abū Hafṣ Amar Ibn Kaṡīr Ibn Dhaw Ibn Zara’ al-Quraisyī, yang merupakan seorang ulama terkemuka pada masanya. Ayahnya

12 Al-Qaṭṭān, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, terj: Mudzakir AS., 527.

13 Secara runtut yang pertama-tama al-Thabari lakukan adalah menjabarkan makna- makna kata dalam terminologi bahasa Arab disertai struktur linguistiknya, dan (I‘rab) kalau diperlukan. Pada saat tidak menemukan rujukan riwayat dari hadis, ia akan melakukan pemaknaan terhadap kalimat, dania kuatkan dengan untaian bait syair dan prosa kuno yang berfungsi sebagai syawahid dan alat penyelidik bagi ketepatan pemahamannya. Dengan langkah- langkah ini, proses tafsir (takwil) pun terjadi. Berhadapan dengan ayat-ayat yang saling berhubungan (munasabah), harus menggunakan logika (mantiq). Metode semacam ini temasuk dalam kategori Tafsir Tahlili dengan orientasi penafsiran bi al-ma’sur dan bi ar-ra‘yi yang merupakan sebuah terobosan baru di bidang tafsir atas tradisi penafsiran yang berjalan sebelumnya, Lihat: Thamem Ushama, Metodologi Tafsir al-Qur'an (Jakarta: Rineka, 2000), 148.

14 Thamem Ushama, Metodologi Tafsir al-Qur'an, 149.

15 Muhammad Yusuf, dkk, Studi Kitab Tafsir: Menyuarakan teks yang bisu (Yogyakarta: Teras, 2004), 29.

16 Muhammad Husein adz-Dzahabi, at-Tafsir wa al-Mufassirin (Mesir: Maktabah Wahbah, 1985), Jilid II, 242.

17 Menurut Mannā’ khalīl al-Qaṭṭān, Ibn al-katsīr lahir pada tahun 705 H. Lihat: Mannā’ khalīl al-Qaṭṭān, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, terj: Mudzakir AS., (Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 1996), cet. 3, 527.

bermazhab Syafi’i dan pernah mendalami mazhab Hanafi.18 Menginjak masa kanak- kanak, ayahnya sudah meninggal dunia. Kemudian Ibn Kaṡīr tinggal bersama kakaknya (Kamal al-Dīn Abd Wahhāb) dari desanya ke Damaskus. Di kota inilah Ibn Kaṡīr tinggal hingga akhir hayatnya.19

Mannā’ khalīl al-Qaṭṭān dalam Mabāhiṡ fī ‘Ulūm al-Qurān, berpendapat tentang Ibn Kaṡīr sebagai berikut: “Ibn Kaṡīr merupakan pakar fiqh yang dapat dipercaya, pakar hadis yang cerdas, sejarawan ulung, dan pakar tafsir yang paripurna”.20 Setelah menjalani kehidupan yang panjang, Ibn Hajar al-Aṡqalānī berkata: “Ia kehilangan penglihatan di akhir hayatnya dan wafat di Damaskus Suriah pada tanggal 26 Sya’ban 774 H bertepatan dengan bulan Februari 1373 M pada hari Kamis.21

Kitab ia dalam bidang Tafsir yaitu Tafsīr al-Qurān al-‘Aẓīm menjadi kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini. Dalam tafsir Ibn Kaṡīr terdapat beberapa corak tafsir. Hal ini dipengaruhi dari beberapa bidang kedisiplinan ilmu yang dimilikinya. Adapun corak-corak tafsir yang ditemukan dalam tafsir Ibn Kaṡīr yaitu (1) corak fiqh, (2) corak ra’y, (3) corak qira’at.22

Tafsir al-Qurān al-Aẓīm, atau yang lebih dikenal dengan nama Tafsir Ibn Kaṡīr. Diterbitkan pertama kali dalam 10 Jilid, pada tahun 1342 H/1923 M di Kairo.23 Tafsir ini di tulis dalam gaya yang sama dengan tafsir Ibn Jarīr al-Ṭabarī. Tafsir Ibn Kaṡīr ini termasuk tafsir bil ma’tsur, dan juga merupakan sebaik- baiknya tafsir bil ma’tsur yang menghimpun al-Qur’an

18 Ibn al-katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah (Bayrūt: Dar al-Fikr, t.t) Jilid XIV, 32.

19 Ibn al-katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, 46.

20 Al-Qaṭṭān, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, terj: Mudzakir AS., 527.

21 Ibn al-Katsir, Samudera Jantung al-Qur’an, 204, lihat juga: Muhammad Husain al- Dzahabi, Tafsir wa al-Mufassirun (Bayrūt: Dar al-Fikr, 1976), Jilid 1, 242.

22 Ali Hasan Ridha, Sejarah dan Metodologi Tafsir, Terj: Ahmad Akrom (Jakarta: Rajawali Press, 1994), 59.

23 Nur Faizin Maswan, Kajian Deskriptif Tafsir Ibnu Katsir (Jakarta: Menara Kudus, 2002), 43.

dengan al-Qur’an, hadis dengan hadis yang ada kodifikasi beserta sanadnya.24

Sistematika yang ditempuh Ibn Kaṡīr dalam tafsirnya menafsirkan seluruh ayat-ayat al-Qur’an sesuai susunannya dalam mushaf al-Qur’an, ayat demi ayat dan surah demi surah, dimulai dengan surah al-Fātiḥah diakhiri dengan surah al- Nās, maka secara sistematika tafsir ini menempuh tartib mushaf.25 Ibn Kaṡīr menggunakan metode tahlili. Dalam tafsir Ibn Kaṡīr aspek kosakata dan penjelasan arti global, tidak selalu dijelaskan. Tetapi, kedua aspek tersebut dijelaskan dianggap perlu. kadang pada suatu ayat, suatu lafal dijelaskan arti kosakata, serta lafal yang lain dijelaskan secara terperinci dengan memperlihatkan penggunaan istilah itu pada ayat-ayat lainnya.26

3. Jamaluddin al-Qasimi

Nama lengkap beliau adalah Jamal ad-Din bin asy-Syaikh Muhammad Sa’id ad-Dimasyqi bin asy-Syaikh Muhammad Qasim al-Hallaq asy-Syafi’i al- Atsari1. Ada juga menyebutnya dengan Jamal ad-Din bin Muhammad Sa’id bin Qasimi al-Hallaq al-Qasimi.2 Jamaluddin al-Qasimi lahir pada waktu dhuha, hari senin 8 jumadal ula tahun 1283H /1866 M disebuah desa kecil, Qasimi, Syam(Suriah).3 Beliau meninggal pada sore hari sabtu 23

24 Nur Faizin Maswan, Kajian Deskriptif Tafsir Ibnu Katsir, 5.

25 Penafsiran kelompok ayat ini membawa pemahaman pada adanya munasabah ayat dalam setiap kelompok ayat itu dalam tartib mushafi. Dengan begini akan adanya keintegralan pembahasan al-Qur’an dalam satu tema kecil yang dihasilkan kelompok ayat yang mengandung munasabah antara ayat-ayat al-Qur’an serta yang paling penting adalah terhindar dari penafsiran secara parsial yang bisa keluar dari maksud nash. Dari cara tersebut, menunjukan adanya pemahaman lebih utuh yang dimiliki Imam Ibn Katsir dalam memahami adanya munasbah antara ayat (tafsir al-Qur’an bi al-Qur’an) yang telah banyak diakui kelebihanya oleh para peniliti. Lihat: Nur Faiz Maswan, Kajian Deskriptif Tafsir

Ibnu Katsir (Jakarta: Menara Kudus, 2002), 61.

jumadil ula tahun 1332 H/18 april 1914 M dalam usia 48 tahun. Al-Qasimi dilahirkan dan wafat di Damaskus.27

4. Muhammad Abduh

Lahir dengan nama lengkap Muhammad Ibnu Abduh Ibn Hasan Khairullah, yang lebih dikenal dengan sapaan Muhammad Abduh. Lahir di desa Mahallah Nash provinsi al-Buhairoh, Mesir tahun 1849.28 Terlahir dengan situasi dan kondisi sosial, politik, dan budaya yang sangat memprihatinkan , tidak hanya di Mesir tapi hampir seluruh negara Arab. Kemajuan ilmu dan pengetahuan dan teknologi di Barat mendorong mereka menjajah dan menduduki negara-negara Arab, sehingga pada akhir abad 19 sampai awal abad ke 20 atau setelah perang Dunia ke II, Kamal al-Tatruk menghapus ke khalifahan Usmani dan hampir semua Negara Arab berstatus sebagai negara jajahan.29 Di sisi lain muncul berbagai aliran yang nasionalisme, sosialisme kapitalisme dan sebagainya yang menjauhkan kaum muslimin dari ajaran agama mereka.

Sementara di lain pihak, politik pemerintahan dalam sector pertanian memberlakukan sistem iqtha’ yaitu sistem kepemilikan tanah yang dikuasai kerajaan memeluk Usmani, para penguasa menjadi tuan tanah, sedangkan rakyat hanya menjadi penggarap semata. Hal ini tentu menyebabkan penderitaan rakyat, sedang kekayaan menumpuk di tangan para penguasa dan pejabat-pejabat istana. Situasi membuat para cendekiawan di negara-negara mayoritas muslim menghimbau umat Islam kembali kepada ajaran

27 ‘Aadil Nawayhadl, Mu’jam al-Mufassiriin,Jilid I, t.tp: Muassah Nawayhald ats- Tsaqaafiyyah, 1986.

28 Faizah Ali Syibromalisi, Membahas Kitab Tafsir, (Ciputat: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2012), 87.

29 Faizah Ali Syibromalisi, Membahas Kitab Tafsir, (Ciputat: Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2012), 89. Lihat Shalah Abdul Fatah, Ta’rif Darisin bi Manhaji

Injil Allah Nabi Bani Israil Taurat Ahlul Kitab Kitab Orang-orang Bertakwa Mushaddiq Jejak-Jejak Kerasulan Tuntu nan Menetap kan Hukum Aja ran

agamanya dan mengamalkanya sebagai sumber inspirasi dalam perjuangan mereka menghadapi penjajahan penindasan.30

Bagan 3.1 Klasifikasi Ayat

Dokumen terkait