BAB II LANDASAN TEORITIS
A. Biografi Ustadz Muhsin
Muhammad Ihsan atau biasa dipanggil dengan Muhsin dalam kesehariannya adalah seorang ustadz/da’i atau pengajar asli Jakarta. Beliau dilahirkan di Jakarta tepatnya pada tanggal 23 Desember 1966. Ayahanda beliau bernama H. Muhammad Said (Almarhum). Sedangkan Ibundanya bernama Siti Suryani.1
Beliau adalah putra pertama dari 11 bersaudara, diantaranya A. Fauzi, Latifah, Abdul Majid, Chodijah, Faridah, Abdur Rohim, Ali, Taufiq, Hidayah, dan Mahmud. Tetapi tiga dari sepuluh saudara kandung beliau sudah meninggal dunia saat masih belia. Mereka adalah Taufiq, Hidayah, dan Mahmud.2
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, ustadz Muhsin didampingi oleh istri beliau yang selalu setia, yaitu Aminah binti Asmawi. Umi Aminah adalah kelahiran Jakarta pada tanggal 20 Juli 1966. Ustadz Muhsin menikah pada umur yang sama dengan isterinya, yaitu saat umur 22 tahun dan menikah pada tanggal 30 September 1990. Dalam pernikahannya, beliau dikaruniai 4 buah hati tercinta, yaitu Fatimah, Muhammad, Ruqoyyah, dan Husin.3
1
Wawancara Pribadi dengan Ustadz Muhsin, Jakarta, 18 April 2014.
2
Wawancara Pribadi dengan Ustadz Muhsin, Jakarta, 18 April 2014.
3
Anak sulung beliau adalah Fatimah. Ia lahir di Jakarta pada tanggal 24 Juni 1992. Di usia 6 tahun, ia mengenyam pendidikan di SDN 04 Pagi Cawang. Setelah tamat, ia langsung melanjutkan ke Pondok Pesantren Darul
Lughah wa Da’wah. Tidak puas disitu saja, ia lalu melanjutkan lagi ke Pondok
Pesantren Darul Maliki pimpinan Ustz. Amiroh bin Jindan di Perbantukan dan setelah tamat ia langsung mengabdi disana hingga sekarang. Muhammad, anak kedua ustadz Muhsin, kelahiran 31 Maret 1996, tidak berbeda jauh dengan kakaknya. Ia juga belajar di SDN 04 Pagi Cawang. Setamatnya di SDN 04, ia langsung melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Al-Khairat Bekasi hingga sekarang.
Rogayah adalah anak ketiga ustadz Muhsin yang lahir pada tanggal 18 April 1999. Ia mengikuti kedua kakaknya yang mengenyam pendidikan di SDN 04 Pagi Cawang juga. Setelah tamat, ia dimasukkan oleh ustadz Muhsin ke Pondok Pesantren Darul Maliki yang mana disitu ada anak pertama beliau yang sudah mengabdi. Dan beliau menitipkan Rogayah kepada kakaknya disana. Dan anak beliau yang terakhir ialah Husin. Ia lahir pada tanggal 8 April 2003. Berbeda dari kakak-kakaknya, ia tidak sempat sekolah di Sekolah Umum namun ia langsung dimasukkan ke Pondok Pesantren Dar’inat di
Galuk untuk menuntut ilmu disana.
Pada saat ini beliau tinggal di Jalan Dewi Sartika Gang Masjid Bendungan RT. 003/RW. 010 No. 29 Cawang, Jakarta Timur. Namun sebelum tinggal di Jalan Dewi Sartika, beliau tinggal di Cawang Kapling atau yang dikenal saat ini dengan Cawang Baru.4
4
Ustadz Muhsin lahir dari keluarga yang bisa dibilang cukup agamis karena kedua orangtua beliau merupakan asli dari Jakarta yang sangat kental dengan adat ketimuran. Bagi mereka pendidikan agama adalah pendidikan utama dalam mendidik anak-anaknya. Dengan menanamkan ilmu agama dari sejak kecil, beliau dapat paham dan berusaha agar tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama. Oleh karenanya, beliau selalu ditempatkan di dalam pendidikan yang bersyariat Islamiyah, seperti di MHI (Madrasah Hayatul Islamiyah) dan Pondok Pesantren.
Hal ini juga beliau terapkan dalam keluarganya sendiri, beliau sangat konsisten dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Beliau juga selalu menekankan kepada putra-putrinya untuk menguasai berbagai disiplin ilmu, dan menuntut ilmu kepada banyak guru khususnya ilmu agama. Sebab ilmu yang dimilikinya tidak dapat diwariskan.
Pada masa kecilnya, ustadz Muhsin tidak jauh berbeda dengan kebanyakan anak-anak pada umumnya. Beliau juga bermain dengan teman-temannya, seperti bermain bola, bermain tebak-tebakan dan lain sebagainya. Namun di umur yang masih relatif muda, beliau mempunyai kesenangan yang berbeda dari kebanyakan anak-anak lainnya, yaitu beliau sudah senang dalam membaca Al-Qur’anul Karim, menghafal hadits-hadits, membaca buku-buku Islami, mempelajari buku-buku salaf dan lain sebagainya. Kesenangan-kesenangan inilah yang membuat beliau akhirnya menjadi seorang da’i seperti sekarang ini.5
5
Sampai remaja pun, ustadz Muhsin juga banyak menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan mengaji, baik di Pondok Pesantren maupun di majelis-majelis ta’lim yang ada di Jakarta. Beliau sering mengaji di Majelis Ta’lim Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang, Majelis
Ta’lim Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Atthas di Harmoni, dan Majelis
Ta’lim Habib AbdulQodir bin Muhammad Al-Haddad di Condet. Berbeda
dengan anak-anak remaja pada umumnya, yang kebanyakan mereka masih memikirkan akan kesenangan dunia saja tanpa memikirkan amal apa yang akan mereka bawa di akhirat kelak.
Kegiatan ustadz Muhsin dalam menuntut ilmu dan mengaji masih terus berlanjut hingga sekarang walaupun sudah berumah tangga. Hal inilah yang membuktikan konsistensi beliau dalam menuntut ilmu patut semua kita tiru.
Beliau adalah orang yang sangat tekun dan berdisiplin tinggi dalam mempelajari ilmu-ilmu agama, sehingga beliau sangat ingin mengembangkan dan memajukan ajaran agama Islam di masyarakat luas, khususnya di masyarakat sekitar beliau tinggal. Ilmu agama yang beliau kuasai juga sangatlah luas, sebagaimana Al-Allamah Assayidil Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf yang juga salah satu guru beliau mengatakan, “Ilmu itu laksana lautan dan tak akan ada yang mengenalnya kecuali orang-orang yang masuk didalamnya”.6
Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat tawadhu’ (rendah hati), ramah terhadap semua orang, tidak senang dengan ketenaran ( popularitas ) serta adab dan akhlak beliau yang sangat tinggi dan luhur.7
6
Abdul Qadir Umar Mauladdawilah, Secangkir Hikmah, (Malang: Pustaka Basma, 2010), Cet. Ke-2, h. 162.
7
Wawancara dengan Muhammad Tajuddin selaku tetangga juga jama’ah, Jakarta, 18 April 2014.
Akhlak, ilmu dan amal beliau merupakan cerminan Ulama Salaf (orang terdahulu yang berpegang kuat kepada ajaran Rasulullah SAW) yang terdapat dalam dirinya dan menghasilkan suri tauladan yang baik untuk para
jama’ahnya yang ingin mengikuti jejak Rasulullah SAW. Jadi, itu semua terlukis dengan perilakunya dalam melaksanakan yang fardhu dan sunnah.
Beliau sangat berpegang kepada Thoriqoh Salaf Alawiyin seperti yang dipegang teguh oleh kedua orangtua dan guru-guru beliau. Orang yang mengikuti salaf tidak akan salah dan tidak akan lelah karena jalan salaf mudah dan lurus.
Thariqah mereka adalah mengisi dan membagi waktu serta
mengaturnya dengan berbagai ibadah, Majelis-majelis ilmu dan pendidikan akhlak, pembacaan wirid-wirid dan hizib-hizib. 8
Para salaf dari kaum Alawiyyin maupun lainnya mendidik penuntut ilmu untuk memiliki hati yang selamat (salimah), berprasangka baik kepada Allah SWT dan mahluk-Nya, zuhud terhadap dunia, cinta kepada akhirat, peduli pada hak-hak manusia, serta menghargai ilmu, ulama, wali, dan kaum muslimin. Mereka melindungi hati dan pendengaran para penuntut ilmu dari segala sesuatu yang akan mengganggu dan menjauhkan mereka dari amal, juga dari segala sesuatu yang akan memalingkan hati mereka dari akhlak yang luhur dan mulia. Mereka menjaga para penuntut ilmu dari pergaulan dengan orang-orang yang berbeda paham dan dari mempelajari buku-buku yang berisi keterangan yang dapat merusak apa yang telah mereka pelajari, agar hati
8
Idrus Alwi Almasyhur, Manaqib Sepuluh Wali Quthub Keturunan Nabi Muhammad
mereka tetap bersih dan suci, jiwa mereka tenang, dan semangat mereka tertuju pada kebaikan dan semua hal yang menyebabkan kebaikan.9
Inilah yang dilakukan oleh ustadz Muhsin dalam kegiatan sehari-hari beliau yang tidak lepas dari kegiatan ibadah dan menuntut ilmu ke majelis-majelis ta’lim. Beliau selalu mengajarkan kepada para jama’ahnya seperti apa yang telah diajarkan oleh guru-gurunya, yang kesemuanya itu adalah hal-hal kebaikan demi mencari ridho Allah SWT.