MUSTAFAWII CAWANG
Skripsi
DiajukanKepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Oleh :
A. AZHARI SURYAATMAJA
NIM: 109051000208
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Dengan ini saya mengatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar strata 1 (S1) di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN)Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Jakarta, 02 Juni 2014
Penulis
A. Azhari Suryaatmaja
i
A. Azhari Suryaatmaja
Metode Dakwah Ustadz Muhsin Pada Jama’ah Majelis Ta’lim Imdadil
Mustafawii
Metode dakwah merupakan suatu cara dakwah yang digunakan oleh seorang da’i untuk menyampaikan materi dakwah kepada mad’unya untuk mencapai kegiatan tertentu. Dengan metode dakwah ini, seorang juru dakwah dapat menyampaikan materi dakwah yang akan disampaikan. Ketertarikan peneliti adalah ingin mengetahui metode apa yang digunakan oleh ustadz Muhsin sehingga dakwah beliau dapat diterima. Dan juga yang di ketahui saat ini, sebuah
majelis ta’lim sangat jarang ada dan yang hadir pun tidak terlalu ramai, khususnya
di Cawang. Oleh karenanya, bagaimana seorang ustadz Muhsin dapat mengajak dan mengayomi agar orang-orang di lingkungan beliau mau menghadiri majelis
ta’lim dan belajar di dalamnya.
Untuk memperdalam penelitian ini, peneliti memberikan perumusan masalah sebagai berikut Bagaimana penerapan metode dakwah ustadz Muhsin pada jama’ah Majlis Ta’lim Imdadil Mustafawii? Metode dakwah apa yang digunakan ustadz Muhsin pada jama’ah Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii?
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dimana peneliti menggambarkan metode dakwah ustadz Muhsin di Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii Cawang dalam mengajarkan
ilmu-ilmu agama kepada jama’ahnya.
Ustadz Muhsin adalah seorang pendiri sekaligus sebagai pengajar di
Majlis Ta’lim Imdadil Mustafawii. Di dalam majelisnya, beliau mengajarkan
jama’ahnya memakai kitab fiqih, aqidah, dan hadits. Beliau sangat didukung oleh orangtua dan guru-gurunya dalam menjalankan pengajaran di Majlis Ta’lim Imdadil Mustafawii.
Metode dakwah yang digunakan ustadz Muhsin pada jama’ah Majlis
Ta’lim Imdadil Mustafawii yaitu dengan metode bil hikmah, mau’idzah hasanah dan mujaddalah. Metode bil hikmah digunakan saat sedang memberikan
ii
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat, iman
dan Islam serta memberikan saya kemampuan sehingga peneliti bisa
menyelesaikan tugas skripsi ini. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada
Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita menuju zaman yang
terang benderang dan menjadikan kita dapat mengenal Islam.
Atas rahmat, barokah, dan hidayah, serta ridha Allah SWT, peneliti dapat
menyelesaikan skripsi ini yang merupakan tugas akhir peneliti untuk
menyelesaikan studi di jenjang Strata Satu (S1) Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Peneliti sadar bahwa pengetahuan, pemahaman, pengalaman, kemampuan,
dan kekuatan yang peneliti miliki dalam menyelesaikan skripsi masih terbatas dan
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, peneliti selalu berusaha untuk
mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik moril maupun
materil, sehingga penyusunan skripsi ini berjalan baik.
Dalam hal ini peneliti mengangkat judul yaitu ”Metode Dakwah Ustadz
Muhsin Pada Jama’ah Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii Cawang”
Terima kasih dan syukur peneliti ucapkan atas segala dukungan dan
motivasi yang telah diberikan dari berbagai pihak sehingga peneliti mampu
menyelesaikan skripsi ini. Peneliti menyadari bahwa dukungan dan motivasi dari
iii
1. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Bapak Dr. H. Arief
Subhan, M.A, Wakil Dekan I Bidang Akademik, Bapak Dr. Suparto,
M.Ed, Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Bapak Drs. Jumroni,
M.Si, serta Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Bapak Dr. H.
Sunandar, M.A
2. Bapak Rachmat Baihaky, M.A selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam dan Ibu Fita F, M.Si selaku Sekretaris Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam.
3. Bapak Noor Bekti, SE, M. Si. selaku Penasehat Akademik yang telah
memberi saran mengenai judul skripsi.
4. Ibu Umi Musyarofah, M.A selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah
bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan memberikan
masukan dalam penulisan skripsi ini.
5. Para dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah
mewariskan ilmu kepada peneliti selama masa perkuliahan. Dan juga para
Karyawan perpustakaan utama dan fakultas yang telah mengizinkan
peneliti untuk meminjam buku-buku untuk penelitian ini.
6. Kepada yang terhormat, Ustadz Muhsin selaku pimpinan Majelis Ta’lim
Imdadil Mustafawii dan sekaligus sebagai subjek penelitian yang telah
iv
7. Kepada Aba tercinta Abdul Hamid, S.Ag dan Ummi tersayang Syahani
Suryaningsih atas segala kasih sayang, perhatian dan dorongannya. Tidak
pernah lelah dan bosan dalam memberikan dukungan moril dan materil,
serta selalu mendoakan yang terbaik untuk buah hatimu ini, sehingga
penulis dapat mengenyam pendidikan formal tingkat perguruan tinggi
hingga selesai. Untuk kakakku Siti Istianah, S.Pd.I dan juga adikku
Muhammad Husen yang senantiasa memberikan dukungan dan doa,
sehingga memberikan motivasi kepada peneliti untuk selalu bersemangat
demi kelancaran skripsi ini.
8. Teman-teman seperjuangan angkatan 2009 khususnya kelas KPI F, Anas,
Rizki, Apriza, Kamal, Ilham, Imam, Amir, Aryo, Edy Laras dan
sahabat-sahabat angkatan 2009 lainnya.
9. Kepada semua pihak baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung
yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Namun tidak mengurangi rasa
hormat, peneliti hanya bisa mengucapkan terima kasih atas segala bantuan
dan dukungannya. Semoga Allah SWT senantiasa membalas semua
kebaikan dan keikhlasan yang telah diberikan kepada peneliti, Amin...
v
ABSTRAK
...
iKATA PENGANTAR
...
iiDAFTAR ISI
...
vBAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
...
1B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
D. Tinjauan Pustaka ... 7
E. Metodologi Penelitian ... 8
F. Sistematika Penulisan ... 11
BAB II LANDASAN TEORITIS A. Metode Dakwah
...
131. Pengertian Metode
...
132. Pengertian Dakwah
...
143. Pengertian Metode Dakwah
...
16B. Macam-macam Metode Dakwah
...
181. Metode Al-Hikmah ... 19
2. Metode Al-Mau’idzah Al-Hasanah ... 20
3. Metode Mujaddalah ... 22
C. Ustadz dan Jama’ah
...
23 1. Pengertian Ustadz...
232. Pengertian Jama’ah
...
24D. Majlis Ta’lim
...
261. Pengertian Majlis Ta’lim ... 26
2. Fungsi Majlis Ta’lim ... 28
vi
A. Biografi Ustadz Muhsin
...
30B. Latar Belakang Pendidikan dan Karya-karya Ustadz Muhsin
...
351. Pendidikan Ustadz Muhsin ... 35
2. Karya-karya Ustadz Muhsin ... 37
C. Perjalanan Dakwah Ustadz Muhsin
...
37D. Tujuan Dakwah Ustadz Muhsin
...
39E. Profil Majlis Ta’lim Imdadil Mustafawii
...
401. Latar belakang Majlis Ta’lim Imdadil Mustafawii ... 40
2. Visi dan Misi Majlis Ta’lim Imdadil Mustafawii ... 41
3. Tujuan Majlis Ta’lim Imdadil Mustafawii ... 42
4. Kegiatan Pengajian Majlis Ta’lim Imdadil Mustafawii ... 43
BAB IV ANALISA A. Metode Dakwah Ustadz Muhsin
...
451. Al-Hikmah ... 46
2. Mau’idzah Hasanah ... 51
3. Mujaddalah Bil Lati Hiya Ahsan ... 54
B. Penerapan Metode Dakwah Ustadz Muhsin Pada Jama’ah Majlis Ta’lim Imdadil Mustafawii
...
561. Metode Halaqah
...
572. Metode Tanya Jawab
...
593. Metode Percakapan Antar Pribadi ... 61
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
...
64B. Saran
...
651
A. Latar Belakang Masalah
Dakwah tidak dapat dipisahkan dari Islam yang merupakan agama
Rahmatan Lil Alamin yang menanamkan kasih sayang terhadap sesama
mahluk hidup, tidak saling menyakiti tapi saling menjaga dan memelihara.
Dakwah Islam juga suatu cara bagaimana seseorang menyampaikan
ajaran-ajaran Islam kepada umat manusia dan mengajak atau menyeru mereka untuk
terus beriman kepada Allah SWT dan mencintai Rasulullah SAW serta
mengajarkan apa-apa diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi
larangan-Nya dengan penuh keikhlasan juga menjalankan sunah Rasulullah SAW
dalam kehidupannya sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kenyataan bahwa tata
cara memberikan sesuatu yang lebih penting dari sesuatu yang diberikan itu
sendiri. Semangkok teh pahit dan sepotong ubi goreng yang disajikan dengan
cara sopan, ramah dan tanpa sikap yang dibuat-buat, akan lebih terasa enak
disantap ketimbang seporsi makanan lezat, mewah dan mahal harganya, tetapi
disajikan dengan cara kurang ajar, tidak sopan dan menyakitkan hati orang
yang menerimanya.1
Gambaran di atas membersitkan ungkapan bahwa tata cara atau
metode lebih penting dari materi, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan
Al-Thariqah ahammu min al-Maddah. Ungkapan ini sangat relevan dengan
1
kegiatan dakwah. Betapa pun sempurnanya materi, lengkapnya bahan dan
aktualnya isu-isu yang disajikan, tetapi bila disampaikan dengan cara yang
sembrono, tidak sistematis dan serampangan, akan menimbulkan kesan yang
tidak menggembirakan. Tetapi sebaliknya, walaupun materi kurang sempurna,
bahan sederhana, dan isu-isu yang disampaikan kurang aktual, namun
disajikan dengan cara yang menarik dan menggugah, maka akan menimbulkan
kesan yang menggembirakan.2
Dilihat dari uraian di atas, dakwah sangatlah penting namun
keberhasilan dakwah itu tergantung dari cara (metode) penyampaian kepada
jama’ah atau mad’u. Itu sebabnya, para da’i haruslah memilih metode yang
tepat agar jama’ah atau mad’u dapat memahami apa yang disampaikan dan
dapat dipraktekkan dalam kehidupannya.
Usaha yang dilakukan da’i tidak sebatas pada penyampaian pesan
dakwah saja, akan tetapi seorang da’i harus juga memerhatikan metode dakwah yang digunakan. Banyak metode yang dapat dilakukan oleh para da’i
untuk melakukan kegiatan dakwahnya, metode yang dilakukan dapat berupa
metode ceramah, metode diskusi, metode halaqah, atau metode lain yang
dapat mengundang umat menjadi tertarik dalam mempelajari ilmu agama.
Namun, dewasa ini umat Islam semakin terlihat kecerdasannya,
sehingga apabila seorang da’i salah dalam menggunakan metode dakwahnya,
maka tidak menutup kemungkinan umat akan menghindar dari majelis ta’lim
tersebut. Apabila hal itu terjadi, maka akan timbul kemerosatan moral pada
umat, seperti yang kita ketahui, bahwa berhasil atau tidaknya sebuah dakwah
2
sangat bergantung pada da’i dalam memberikan pengaruh kepada mad’u.
Meski keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh da’i, akan tetapi da’i
yang paling memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan
dakwah.
Sejalan dengan pengertian diatas, metode yang dilakukan untuk
mengajak haruslah sesuai dengan materi dan tujuan kemana ajakannya
tersebut ditunjukkan. Pemakaian metode yang benar merupakan bagian dari
keberhasilan dakwah itu sendiri. Sebaliknya jika metode yang dipergunakan
dalam menyampaikan materi atau pesan dakwah tidak sesuai, maka akan
mengakibatkan hal yang tidak diharapkan, sebagaimana firman Allah SWT
dalam surat An-Nahl ayat 125 :
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Ayat ini menjelaskan sekurang-kurangnya ada tiga metode dakwah
yakni metode hikmah, mau’izatil hasanah, dan mujadalah. Ketiga metode ini
dapat dipergunakan sesuai dengan objek yang dihadapi seorang da’i di tempat
ia berdakwah. Metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan
dasar hikmah dan kasih sayang.3Metode ini juga merupakan cara dakwah
yang dilakukan da’i kepada mad’unya dalam menyampaikan materi atau
pengajian secara rutinitas baik di masjid-masjid, musholla-musholla,
pesantren-pesantren, majelis ta’lim maupun di majelis lainnya. Hal ini juga
dilakukan oleh ustadz Muhsin dalam menyampaikan materi dakwahnya di
Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii.
Ustadz Muhsin bin H. Muhammad Said adalah seorang pendiri
Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawi. Beliau dalam mendidik dan mengajarkan
para jama’ah (murid-muridnya) mengikuti tuntunan yang terdapat pada
Al-Qur’an dan Hadits demi semata-mata mencari ridho Allah SWT dan
Rasulullah SAW. Beliau juga seorang ustadz yang tidak pernah lelah dalam
menyampaikan syari’at Islam yang bertujuan mengajak masyarakat,
khususnya masyarakat Cawang agar lebih mengetahui masalah-masalah
dalam agama.
Di samping itu juga, beliau adalah seorang pengajar di Majelis Ta’lim
Imdadil Mustafawi yang mengajarkan dan menyampaikan permasalahan
agama khususnya dalam fiqih, aqidah, dan hadits yang diajarkannya dari
kitab-kitab karangan para ulama yang masyhur. Kitab-kitab yang beliau
ajarkan kepada jama’ahnya, diantaranya Fathul Ghorib (fiqih),
al-Aqoiquddiniyyah (aqidah), dan Jalaluddin Asyayati (hadits).
Dari sinilah ketertarikan peneliti pada sosok ustadz Muhsin yang
mempunyai cita-cita luhur mengajak masyarakat kembali ke jalan Allah SWT
melalui Majelis Ta’limnya. Karena di zaman sekarang ini, sudah sangat jarang
3
akan adanya majelis-majelis ilmu, yang kita duduk didalamnya mendengarkan
dan membahas tentang hal-hal yang kita lakukan sehari-hari, seperti sholat,
wudhu, adzan, puasa, haji. Dalam pengajiannya, beliau menggunakan metode
yaitu dengan para jama’ah mendengarkan dan memahami apa yang
disampaikan ustadz Muhsin dalam penyampaian beliau lewat membaca kitab
ilmu dan kitab hadist yang diselingi lantunan sholawat dengan menggunakan
alat musik hadroh.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin mengetahui dan
memahami lebih dalam sosok seorang ulama yang telah mengajak dan
memanggil umat Islam agar kembali ke jalan Allah SWT dan Rasulullah
SAW, dengan cara yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan
Hadits yang dituangkan ke dalam skripsi dengan judul “Metode Dakwah
Ustadz Muhsin Pada Jama’ah Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii
Cawang”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Pada uraian latar belakang di atas dapat dipahami bahwa pembatasan
masalah hanya pada Metode Dakwah Ustadz Muhsin pada Jama’ah Majelis
Ta’lim Imdadil Mustafawii Cawang. Penelitian ini dilakukan dari bulan April
sampai dengan bulan Juni.
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka perumusan masalah
tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Metode dakwah apa yang digunakan Ustadz Muhsin pada jama’ah Majelis
b. Bagaimana penerapan Metode Dakwah Ustadz Muhsin pada jama’ah
Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawi?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui metode dakwah apa yang digunakan oleh Ustadz
Muhsin pada jama’ah Majelis Ta’lim Imdadil Mustawafii.
b. Untuk mengetahui penerapan Metode Dakwah Ustadz Muhsin pada
Jamaah Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii.
2. Manfaat Penelitian
a. Segi Akademis
Kegunaan penelitian ini secara akademis yaitu sebagai bahan
informasi dan pengembangan konsep Islam, sekaligus untuk
menambah wawasan dan masukan bagi para pelaku dakwah
(khususnya pada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi) agar
dapat melakukan kegiatan dakwahnya dengan lebih baik lagi.
b. Segi Praktis
Untuk dapat menambah wawasan bagi para pemikir dakwah
maupun pihak masyarakat dalam mengemas pesan dakwah. Dan
diharapkan pula, dengan adanya penelitian ini dapat menjadi tolak
D. Tinjauan Pustaka
Sebelum melakukan penelitian ini, penulis melakukan observasi
terhadap penelitian terdahulu yang mempunyai kemiripan dengan penelitian
yang akan penulis lakukan.Skripsi tersebut antara lain adalah :
1. “Metode Dakwah Pada Rubrik Sentuhan Kalbu Dalam Majalah Al-Kisah
Edisi April-Juli 2008”. Penelitian ini dilakukan oleh Hery Romadhona,
mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam tahun 2011. Pada
penelitian ini ia membahas metode dakwah melalui majalah yang di
dalamnya mengandung pesan-pesan aqidah, syariah, dan akhlak.4
2. “Metode Dakwah Forum Arimatea Dalam Menyampaikan Dakwah Islam”.
Penelitian ini dilakukan oleh Sri Widiastutik, mahasiswi Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam tahun 2008. Pada penelitian ini ia
membahas metode dakwah melalui forum diskusi dan tanya jawab
mengenai dakwah Islam.5
3. “Metode Dakwah Yusuf Manyur”. Penelitian ini dilakukan oleh Agus
Salim Wahid, mahasiswa Jurusan Komunikasin dan Penyiaran Islam
Tahun 2007. Pada penelitian ini ia membahas mengenai metode dakwah
Yusuf Mansyur mengenai konsep sedekah, wisata hati, dan mengenai
penerapan metode dakwah Yusuf Mansyur.6
4
Hery Romadhona, Metode Dakwah Pada Rubrik Sentuhan Kalbu Dalam Majalah Al-Kisah Edisi April-Juli 2008. (Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011).
5
Sri Widiastutik, Metode Dakwah Forum Arimatea Dalam Menyampaikan Dakwah
Islam. (Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008).
6
Dari sekian judul skripsi yang tertera di atas, secara teori memang
mengangkat teori yang sama. Namun, yang membedakan dari penelitian ini
adalah objek dan subjek yang akan diteliti oleh penulis.
E. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.7
Pendekatan kualitatif ini digunakan karena bersifat luwes, sangat
rinci, tidak rumit dalam mendefinisikan suatu konsep, serta memberikan
kemungkinan bagi perubahan-perubahan manakala ditemukan fakta yang
lebih mendasar, menarik, dan unik yang terjadi di lapangan.8 Dengan
menggunakan pendekatan deskriptif ini, data yang telah diperoleh dari
penelitian (berbentuk tulisan atau lisan) dipaparkan atau digambarkan
dalam sebuah tulisan ilmiah.
2. Subjek dan Objek
Subjek penelitian adalah sumber-sumber tempat memperoleh
keterangan, sedangkan objek penelitian adalah sesuatu yang diteliti.9
Subjek penelitian ini adalah pimpinan majelis ta’lim, pengurus dan
jama’ah yang mengaji di Majlis Ta’lim Imdadil Mustafawii. Sedangkan
7
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), h. 138.
8
Burhan Bungin, Analisa Data Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT. Radja Grafindo
Persada, 2003), Cet. Ke-2 h. 39.
9
yang menjadi objek penelitiannya adalah metode dakwah yang dilakukan
ustadz Muhsin pada jama’ah Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii.
3. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama bulan April – Juni 2014 bertempat
di Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii yang beralamat di Jalan Dewi
Sartika Gang Masjid Bendungan RT. 003/RW. 010 No. 29 Cawang,
Jakarta Timur.
4. Tahapan Penelitian
a. Pengumpulan Data
1) Wawancara
Wawancancara yaitu pengumpulan dengan mengajukan
pertanyaan secara langsung oleh pewawancara (pengumpul data)
kepada responden dan jawaban-jawaban tersebut dicatat atau
direkam dengan alat perekam (tape recorder).10 Dalam penelitian
ini peneliti mewawancarai pimpinan Majelis Ta’lim Imdadil
Mustafawi, yaitu ustadz Muhsin.
2) Observasi
Observasi merupakan prosedur sistematis untuk mengetahui
gejala-gejala yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti
melalui pengamatan dari dekat dengan harapan akan memperoleh
suatu kelengkapan data.11 Observasi ini dilakukan untuk
mendapatkan kelengkapan data-data yang berkaitan dengan
10
Irwana Soehartono, Metodologi Penelitian Sosial Suatu Tehknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu-ilmu Sosial, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2004), h. 68.
11
Syamsir Alam, Pedoman Penulisan Skripsi Diktat Fakultas Dakwah dan Komunikasi
penelitian ini. Adapun dalam hal ini peneliti melakukan observasi
di Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii Cawang, Jakarta Timur.
3) Dokumentasi
Dokumentasi adalah studi dokumen berupa data tertulis yang
mengadung keterangan dan penjelasan serta pemikitan tentang
fenomena yang aktual.12 Dokumentasi dalam hal ini dikumpulkan
file-file dan dokumen yang berkaitan dengan penelitian ini, serta
data-data berupa arsip dari Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawi.
Guna untuk melengkapi data yang digunakan dalam penyusunan
skripsi ini.
b. Pengolahan Data
Dilakukan dengan cara mengklasifikasi atau mengkategorikan
data berdasarkan beberapa tema sesuai dengan fokus penelitian.
Pengolahan data tidak harus dilakukan setelah data terkumpul
bersamaan dengan analisis data setelah data terkumpul.
Adapun penulisan ini berpedoman pada buku “Pedoman
Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta” tahun 2007 yang diterbitkan oleh CeQDA
(Centre for Quality Development and Assurance).
c. Analisis Data
Dalam menganalisa data peneliti menggunakan analisis
deskriptif. Di mana peneliti mengungkapkan data dan fakta secara
12
ilmiah tanpa sedikit pun mempengaruhi subjek maupun objek
penelitian. Dalam pengolahan tersebut peneliti menggabungkan data
dengan pengolahan data hasil dari observasi, wawancara, dan
dokumentasi menjadi sebuah data yang bisa saling melengkapi
sehingga dapat dideskripsikan.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai skripsi ini maka
penulis akan menguraikan dalam lima bab. Adapun sistematika penulisannya
sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan: meliputi latar belakang masalah, pembatasan dan
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan
pustaka, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II Landasan teori: memuat tentang metode dakwah, meliputi
pengertian metode, dakwah dan metode dakwah, macam-macam
metode dakwah, pengertian ustadz dan jama’ah, serta pengertian
majelis ta’lim berikut fungsi dan karakteristiknya.
BAB III Gambaran Umum: membahas sekilas biografi Ustadz Muhsin,
mengenai perjalanan hidup, pendidikan, karya-karyanya, perjalanan
dakwah dan profil Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii.
BAB IV Analisis Data: meliputi hasil pembahasan penelitian tentang
Metode Dakwah Ustadz Muhsin dan penerapannya pada Jama’ah
BAB V Penutup:terdiri dari kesimpulan dan saran yang sudah diterangkan
13
A. Metode Dakwah
1. Pengertian Metode
Metode menurut bahasa berasal dari dua kata yaitu “meta”
(melalui) dan “hodos” (jalan, cara).1 Dengan demikian, kita dapat artikan
bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai
suatu tujuan.
Sumber yang lain menyebutkan bahwa metode berasal dari bahasa
Jerman methodicay artinya ajaran tentang metode. Dalam bahasa Yunani
metode berasal dari kata methodos artinya jalan yang dalam bahasa Arab
disebut thariq. Apabila kita artikan secara bebas metode adalah cara yang
telah diatur dan melalui proses pemikiran mencapai suatu maksud.2
Kata metode (minhaj) dalam bahasa berarti “jalan yang jelas”.
Sedangkan dalam istilah, kita dapat mengartikan manhaj atau minhaj
dengan “aturan dan pedoman untuk sesuatu”. Sudah alami bahwa minhaj
dan syari’at itu berbilang karena ia merupakan berbagai hukum, perintah, larangan, langkah-langkah, aturan, dan jalan di satu sisi dan di sisi lain karena berkaitan dengan aspek hamba (manusia) yang kondisi dan urusannya berbeda-beda, baik waktu maupun tempat.3
Abdul Kadir Munsyi dalam bukunya “Metode Diskusi dalam
Dakwah” mengartikan metode sebagai cara untuk menyampaikan sesuatu.4
1
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 61.
2
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 242. 3
Syekh Muhammad Abu Al-Falah Al-Bayanuniy, Ilmu Dakwah Prinsip dan Kode Etik
Berdakwah Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Terjemahan Dedi Junaedi, (Jakarta: Akademika Pressindo, 2010), h. 41-42.
4
Sedangkan dalam metodologi penelitian ilmu dakwah disebut bahwa
metode adalah suatu cara untuk mencapai suatu cita-cita.5
Melihat dari berbagai pengertian diatas maka dapat diambil sebuah
kesimpulan bahwa metode dalam arti yang umum adalah suatu cara atau
jalan untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Sehingga tujuan
tersebut dapat dicapai dengan semaksimal mungkin.
2. Pengertian Dakwah
Secara bahasa (etimologi) kata dakwah berasal dari bahasa Arab
(da’a, yadu’u, da’watan) yang berarti menyeru, memanggil, mengajak.
Adapun pengertian dakwah menurut istilah (terminologi) adalah mengajak
manusia dengan cara bijaksana ke jalan yang benar sesuai perintah Allah
SWT untuk kemaslahatan dan kebahagiaan dunia akhirat.6
Sedangkan menurut Kamus Istilah Fiqih, dakwah ialah ajakan atau
penyampaian ajaran Islam di lingkungan umat Islam yang lengah, lalai,
dan dangkal pengetahuannya tentang Islam, agar mereka sadar dari
kekeliruannya, dan mempertebal ketaqwaannya kepada Allah SWT.7
Dakwah ditinjau dari segi istilah mengandung beberapa arti yang
beraneka ragam. Dalam hal ini banyak ilmuwan dakwah yang memberikan
pengertian atau definisi terhadap istilah dakwah. Berikut ini penulis
mengutip beberapa definisi, antara lain :
Pandangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab tentang dakwah ialah
seruan atau ajakan kepada kesadaran atau keinsafan atau usaha mengubah
5
Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta: Logos, 1997), h. 59.
6
Toha Yahya Umar, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Wijaya, 1998), Cet. Ke-3, h. 1.
7 M. Abdul Mujieb, Mabruri Thalhah, dan Syafi’ah A.M, Kamus Istilah Fiqih, (Jakarta: PT.
situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi
maupun masyarakat.8
M. Arifin dalam buku “Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi”
menyatakan bahwa dakwah adalah suatu kajian dalam seruan, baik dengan
lisan, tulisan serta tingkah laku yang dilakukan secara sadar dan berencana
untuk mempengaruhi orang lain agar timbul suatu pengertian, kesadaran,
penghayatan serta pengamalan ajaran agama tanpa adanya unsur paksaan.9
Menurut Drs. Didin Hafifuddin, dakwah adalah proses yang
berkesinambungan yang ditangani para pengemban dakwah untuk
mengubah sasaran dakwah agar bersedia masuk ke jalan Allah SWT dan
secara bertahap menuju kehidupan yang Islami.10
DR. Wardi Bachtiar berpendapat dakwah adalah suatu proses
upaya mengubah sesuatu situasi kepada situasi yang lebih baik sesuai
ajaran Islam, atau proses mengajak manusia ke jalan Allah SWT yaitu
Al-Islam.11
Syeikh Ali Makhfuz mengemukakan bahwa dakwah adalah
mendorong manusia agar memperbuat kebaikan dan menurut petunjuk,
menyeru mereka berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan
mungkar, agar mereka mendapat kebahagiaan daunia dan akhirat.12
8
Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1999), Cet. Ke-19, h. 194.
9
M. Arifin, Psikologi Dakwah Suatu Pengantar Studi, (jakarta:Bumi Aksara, 1993), h. 6.
10
Didin Hafifuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), h. 77.
11
Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, h. 31.
12
Hamzah Yaqub dalam bukunya “Publisistik Islam” mengatakan
bahwa dakwah adalah mengajak manusia dengan hikmah kebijaksanaan
untuk mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.13
Menurut S.M. Nasaruddin Latif, dakwah adalah usaha atau
aktivitas dengan lisan atau tulisan dan lainnya yang bersifat menyeru,
mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan mentaati Allah
SWT sesuai dengan garis-garis aqidah syari’at dan akhlak Islamiyah.14
Syekh Muhammad Abu Al-Fatah Al-Bayanuniy mengemukakan
dakwah adalah penyampaian Islam kepada manusia, mengajarkannya
kepada mereka dan merealisasikannya dalam kehidupan nyata.15
Dari berbagai pengertian atau definisi diatas menunjukkan bahwa
dakwah adalah salah satu cara untuk menyeru atau mengajak kepada
kebaikan. Karena hal ini sudah dilakukan sejak lama oleh para sahabat,
tabi’in, tabi’in-tabi’in dan hingga sekarang dilanjutkan oleh para ulama,
bahkan cara-cara yang dipakai pun oleh para sahabat dan yang lainnya
sebelum kita tidak jauh berbeda. Sehingga dakwah mereka untuk
mengajak manusia ke jalan Allah SWT dan mengikuti sunah-sunah
Rasulullah saw sangatlah baik dan berhasil.
3. Pengertian Metode Dakwah
Didalam melaksanakan suatu kegiatan dakwah, metode dakwah
sangatlah penting. Metode dakwah ialah ilmu yang mempelajari
13
Hamzah Yaqub, Publisistik Islam, (Bandung: CV. Diponogoro, 1973), h. 49.
14
Nasaruddin Latif, Teori dan Praktek Dakwah Islamiyah, (Jakarta: Firma Dara, 1979), h. 11
15
Syekh Muhammad Abu Al-Falah Al-Bayanuniy, Ilmu Dakwah Prinsip dan Kode Etik
bagaimana cara berkomunikasi secara langsung dan mengatasi
kendala-kendalanya. Sumber-sumber pokok metode dakwah yang dijadikan
pegangan antara lain Al-Qur’an, Hadits, sirah (sejarah) dari salafus shalih
dari kalangan sahabat, tabi’in dan atbaat tabi’in, serta iman.16
Menurut Wahidin Saputra, metode dakwah (Thariqah al-Dakwah)
ialah cara atau strategi yang harus dimiliki seorang da’i, dalam
melaksanakan aktivitas dakwahnya.17
Toto Tasmara berpendapat bahwa metode dakwah adalah cara-cara
tertentu yang dilakukan seseorang da’i (komunikator) kepada mad’u untuk
mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.18
Syekh Muhammad Abu Al-Fatah Al-Bayanuniy mengatakan
metode dakwah adalah suatu objek yang meliputi langkah-langkah dakwah
dan aturannya yang telah digariskan.19
Pandangan Said bin Ali Al-Qahtani tentang metode dakwah ialah
ilmu yang mempelajari bagaimana cara berkomunikasi secara langsung
dan kendala-kendalanya.20
Dari definisi diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa metode dakwah
adalah cara penyampaian materi dakwah yang digunakan oleh da’i dalam
menyampaikan materi dan juga salah satu cara dalam menyampaikan
seruan. Metode dakwah juga merupakan salah satu unsur terpenting agar
16
Said bin Ali Al-Qahtani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, Terjemahan Masykur Hakim dan
Ubaidillah, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), h. 101.
17
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, h. 9.
18
Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gema Media Pratama, 1997), h. 7.
19
Syekh Muhammad Abu Al-Falah Al-Bayanuniy, Ilmu Dakwah Prinsip dan Kode Etik
Berdakwah Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, h. 31. 20
mencapai tujuan dakwah yang efektif dan efesien. Sehingga mad’u dapat
lebih mudah menerima pesan yang disampaikan oleh da’i.
Harus dipahami juga bahwa metode dakwah adalah cara bagaimana
seorang da’i bisa menempatkan posisi ketika menyampaikan pesan-pesan
dakwahnya sesuai dengan pendengar (mad’u) yang sedang dan akan
dihadapi. Oleh karena itu, seorang da’i diharapkan dapat mengetahui latar
belakang mad’u sebelum menyampaikan materinya.
B. Macam-macam Metode Dakwah
Pada prinsipnya metode dakwah berpijak pada dua aktivitas, yaitu
aktivitas bahasa lisan/tulisan dan aktivitas badan. Aktivitas lisan dalam
menyampaikan pesan dapat berupa metode ceramah, diskusi, dialog, nasehat,
ta’lim, peringatan, dan lain-lain. Aktivitas tulisan berupa penyampaian pesan
dakwah melalui berbagai media massa cetak, seperti buku, majalah, buletin,
koran, dan lainnya. Sedangkan aktivitas badan dalam menyampaikan pesan
dakwah dapat berupa berbagai aksi amal sholeh, diantaranya tolong-menolong
melalui materi, lingkungan, penataan organisasi, atau lembaga-lembaga
keislaman.
Dalam membahas metode dakwah ini, terdapat beberapa kerangka
dasar metode dakwah yang terkandung dalam firman Allah SWT di surat
An-Nahl ayat 125 :
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 125)
Berdasarkan kandungan ayat diatas maka dapat diambil sebuah
kesimpulan bahwa dalam dakwah terdapat tiga macam metode, yaitu :
1. Metode Al-Hikmah
Kata al-hikmah mempunyai banyak pengertian. Pengertian-pengertian yang dikemukakan para ahli bahasa maupun Al-Qur’an tidak hanya menyangkut pemaknaan eksistensinya. tetapi juga pemaknaan dalam konsepnya sehingga pemaknaan lebih luas dan bervariasi. Dalam kamus dan beberapa kitab tafsir kata al-hikmah diartikan: al-„adl
(keadilan), al hilm (kesabaran dan ketabahan), an-nubuwwah (kenabian),
al-„ilm (ilmu pengetahuan), al-Qur’an, falsafah, kebijakan, pemikiran atau pendapat yang baik, al-haq (kebenaran), meletakkan sesuatu pada tempatnya, kebenaran sesuatu dan mengetahui sesuatu yang paling utama dengan ilmu yang paling utama.21
Selain itu, kata hikmah sering kali diterjemahkan dalam pengertian
bijaksana, yaitu suatu pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak objek
dakwah mampu melaksanakan apa yang didakwahkan atas kemauannya
sendiri, sehingga tidak merasakan adanya paksaan, konflik, maupun rasa
tertekan. Adapun definisi dakwah secara umum adalah ketepatan dalam
perkataan, perbuatan, keyakinan serta melakukan sesuatu pada
tempatnya.22
Kata-kata hikmah diyakini dapat memberikan motivasi serta dampak psikologis yang mengarahkan seseorang kepada satu tujuan. Motivasi dapat membuat keadaan dalam diri individu muncul, terarah serta dapat membuat perilaku semakin berkualitas dan bermutu. Di dalam setiap perbuatan manusia, sudah pasti terdapat motivasi yang melatar
21
Asep Muhiddin, Dakwah Dalam Perspektif Al-Qur’an: Study Kritis atas Visi, Misi, dan
Wawasan, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002), h. 163.
22
belakanginya sebagai landasan kenapa perbuatan itu dilakukan. Dan motivasi yang positif akan mengarahkan seseorang menuju kesuksesan hidup di dunia dan di akhirat kelak.23
Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hikmah dalam dunia dakwah mempunyai posisi yang sangat penting, yaitu dapat menentukan sukses tidaknya dakwah. Dalam menghadapi mad’u yang beragam tingkat pendidikan, strata sosial, dan latar belakang budaya, para
da’i memerlukan hikmah, sehingga ajaran Islam mampu memasuki ruang hati para mad’u dengan tepat. Oleh karena itu, para da’i dituntut untuk mampu mengerti dan memahami sekaligus memanfaatkan latar belakangnya, sehingga ide-ide yang diterima dirasakan sebagai sesuatu yang menyentuh dan menyejukkan kalbunya.24
Atas dasar itu, seorang da’i harus pintar dan cermat sebelum
melakukan ceramah di suatu tempat. Maksudnya, ketika seorang da’i ingin
berceramah atau melakukan ceramahnya, da’i haruslah selalu
memerhatikan realitas yang terjadi pada mad’unya, baik dari tingkat
intelektual, strata, sosial, psikologis dan sebagainya. Semua itu menjadi
acuan yang harus dipertimbangkan.
2. Metode Al-Mau’idzah Al-Hasanah
Secara bahasa, mau’idzah hasanah terdiri dari dua kata, yaitu
mau’idzah dan hasanah. Kata mau’idzah berasal dari kata wa’adza
-ya’idzu-wa’dzan-„idzatan yang berarti; nasihat, bimbingan, pendidikan
dan peringatan, sementara hasanah merupakan kebalikkan fansayyi’ah
yang artinya kebaikan lawannya kejahatan.25
Kata hasanah (baik) adalah lawan sayiah (buruk), maka mauizhah
terkadang bersifat baik dan terkadang buruk sesuai dengan apa yang
23
Abdul Qadir Umar Mauladdawilah, Secangkir Hikmah, (Malang: Pustaka Basma, 2010),
Cet. Ke-2, h. ix.
24
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, h. 247.
25
dinasihatkan manusia dan diperintahkannya serta sesuai dengan cara (gaya
bahasa) si pemberi nasihat.26
Adapun pengertian secara istilah, ada beberapa pendapat antara
lain:
Ali Mustafa Yaqub menyatakan bahwa mau’idzah hasanah adalah
ucapan yang berisi nasehat-nasehat yang baik dimana ia dapat bermanfaat
bagi orang yang mendengarkannya, atau argumen-argumen yang
memuaskan sehingga pihak audiens dapat membenarkan apa yang
disampaikan oleh subjek dakwah.27
Menurut Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi yang dikutip oleh
Drs. Wahidin Saputra adalah sebagai berikut:
“Al-Mau’izhah al-Hasanah” adalah (perkataan-perkataan) yang
tidak tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberika nasihat dan
menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan Al-Qur’an.28
Mau’idzah hasanah dalam penyampaiannya dapat melalui beberapa
bentuk, antara lain dalam bentuk kisah-kisah umat terdahulu, dalam bentuk
peringatan atau dalam bentuk berita gembira, dalam bentuk pelukisan
surga dan penghuninya, serta neraka dan penghuninya dalam bentuk
ungkapan perumpamaan dalam mencari kesamaan.29 Adapun dakwah yang
26
Syekh Muhammad Abu Al-Falah Al-Bayanuniy, Ilmu Dakwah Prinsip dan Kode Etik
Berdakwah Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, Terjemahan Dedi Junaedi, (Jakarta: Akademika Pressindo, 2010), h. 327-328.
27
Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan Metode Dakwah Nabi, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997),
h. 121.
28
Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, h. 251.
29
H.M. Masyhur Amin, Dakwah Islam dan Pesan Moral, (Yogyakarta: Al Amin Press,
dapat dikategorikan ke dalam metode mau’idzah hasanah antara lain
silaturrahim (kunjungan keluarga), pengajian berkala di masjid, majlis
ta’lim, ceramah umum, tabligh, dan sebagainya.
Jadi bisa kita simpulkan mau’idzah hasanah ialah ungkapan yang
mengandung banyak unsur, antara lain unsur pendidikan, pengajaran,
bimbingan, peringatan, kisah-kisah, berita gembira, wasiat dan sebagainya.
yang bisa kita jadikan sebagai pegangan hidup atau pedoman dalam
kehidupan agar mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak.
3. Metode Mujaddalah
Dari segi etimologi (bahasa) lafazh mujadalah terambil dari kata
“jadala” yang bermakna memintal, melilit. Apabila ditambahkan Alif pada
huruf jim yang mengikuti wazan faa ala, “jaa dala” dapat bermakna
berdebat, dan “mujaadalah” perdebatan.30
Kata “jadala” dapat bermakna menarik tali dan mengikatnya guna
menguatkan sesuatu. Orang yang berdebat bagaikan menarik dengan
ucapan untuk meyakinkan lawannya dengan menguatkan pendapatnya
melalui argumentasi yang disampaikan.31
Dari segi istilah (terminologi) mujaddalah berarti upaya tukar
pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, tanpa adanya
suasana yang mengharuskan lahirnya perumusan diantara keduanya.32
30
KH. Adib Bisri dan KH. Munawwir AF, Kamus al-Bisri, (Jakarta: Pustaka Progresif,
2000), h. 67.
31
Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta:
Lentera Hati, 2000), h. 553.
32
Apabila ada suatu perbantahan antara da’i dan mad’u, yang disebut
dengan polemik, maka dapat diluruskan bantahan yang bersumber dari
Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan penyampaian yang baik, sehingga mad’u
tersebut dapat menerimanya. Tujuan berdebat bukan untuk bertengkar dan
menyakiti hati lawan, melainkan untuk meluruskan akidah yang
melenceng dari aturan-aturan agama.
Dari pengertian diatas maka dapat diambil sebuah kesimpulan
bahwa Al-Mujaddalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan dua
pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan diantara
keduanya, sehingga apa-apa yang menjadi suatu permasalahan dapat
ditangani dengan baik dan sesuai dari ajaran Al-Qu’ran dan hadits.
C. Ustadz dan Jama’ah
1. Pengertian Ustadz
Kata Ustadz berasal dari bahasa Arab yaitu “Ustadzun” artinya
seorang guru laki-laki atau “Ustadzatun” yang mengandung arti seorang
guru perempuan.33
Realita yang ada sekarang di Indonesia, kata “ustadz” digunakan
sebagai julukan seorang laki-laki yang terlihat alim, rajin ke masjid atau
musholla baik untuk mengikuti shalat berjama’ah maupun mengikuti
pengajian rutin.
Julukan ustadz terkadang juga digunakan kepada seseorang yang
dapat membaca Al-Qur’an dengan fasih dan merdu, memimpin do’a baik
33
berdo’a setelah shalat maupun selepas kegiatan keagamaan seperti
tahlillan, syukuran, selamatan dan lain sebagainya.
Ada juga Julukan Ustadz diberikan kepada guru, baik guru TPA, guru
Privat, maupun guru-guru agama di SD, SLTP, SMA, dan Perguruan
Tinggi (jika dilihat dari segi arti).
Secara sosiologi siapa saja dapat menjadi seorang ustadz. Namun
dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, yaitu mempunyai pengetahuan
yang lebih terhadap agama Islam dengan mengamalkan serta dapat
memberikan pemahaman kepada orang lain. Akan tetapi yang dimaksud
dalam hal ini, julukan ustadz lebih tepat jika diberikan kepada seorang
guru yang ahli atau memahami ilmu agama baik secara dasar maupun
mendalam sampai ke akar-akarnya, serta mengamalkan di dalam
kehidupannya dan mengajarkannya kepada orang lain tanpa kenal lelah.
2. Pengertian Jama’ah
Jama’ah secara bahasa diambil dari kata dasar “jama’a” yang
artinya mengumpulkan sesuatu, dengan mendekatkan sebagian dengan
sebagian yang lain. Dan kata tersebut berasal dari kata ijtima’
(perkumpulan), yang merupakan lawan kata dari tafarruq (perceraian) dan
juga lawan kata dari furqah (perpecahan).34
Pengertian jama’ah secara istilah (terminologi) yaitu kelompok
kaum muslimin, dan mereka adalah pendahulu ummat dari kalangan para
sahabat, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti jejak kebaikan mereka
34
sampai hari kiamat, dimana mereka berkumpul berdasarkan Al-Qur’an dan
As-Sunnah dan mereka berjalan sesuai dengan yang telah ditempuh oleh
Rasulullah SAW baik secara lahir maupun batin.35
Istilah jama’ah mempunyai arti yang berbeda-beda sesuai dengan
konteks kalimat dan kaitannya. Pertama, dikaitkan dengan kata “ahlu
sunnah” sehingga menjadi ahlu sunnah wal jama’ah, yang berarti golongan
yang mengikuti sunah dan tradisi Nabi Muhammad SAW serta berada
dalam kumpulan kaum muslim. Kedua, istilah jama’ah dikaitkan dengan
ijma’ sebagai sumber hukum. Ijma’ merupakan hasil kesepakatan jama’ah
dalam suatu masalah yang di dalamnya terdapat silang pendapat. Ketiga,
istilah jama’ah dengan imam atau pemimpin, yang berarti komunitas kaum
muslimin (jama’ah) yang dipimpin seorang imam.
Istilah jama’ah juga berkaitan dengan masalah shalat, terutama
dalam pelaksanaan shalat jum’at yang harus mencukupi jumlah 40 orang.
Sehingga jika jumlah ini tidak terpenuhi, maka shalatnya tidak sah.
Mazhab-mazhab lain berpendapat bahwa jika pengertian jama’ah telah
terpenuhi – ditinjau dari segi jumlahnya, tiga orang atau lebih, termasuk
imam –maka sholat jum’at sah. Hal ini disebutkan arti dari istilah jama’ah
itu sendiri, yaitu jamak, banyak, atau lebih dari tiga orang.36
Namun yang dimaksud jama’ah di sini yaitu suatu kumpulan atau
sekelompok orang yang berkumpul untuk menyaksikan atau
mendengarkan tentang ilmu-ilmu agama yang diberikan oleh seorang
ustadz atau ustadzah.
35
Al-Atsari, “Pengertian Jama’ah”. 36
D. Majelis Ta’lim
1. Pengertian Majelis Ta’lim
Majelis ta’lim menurut bahasa terdiri dari dua kata yaitu “majlis”
dan “ta’lim” yang keduanya berasal dari bahasa Arab. Kata majlis dalam
bahasa Arab berasal dari kata “jalasa, yajlisu, majlisan” yang artinya
duduk.37
Sedangkan kata ta’lim dalam bahasa Arab berasal dari akar kata
“a’lama, ya’lamu, ta’liman” yang berarti mengajar.38
Ada beberapa pendapat dari segi istilah definisi majelis ta’lim
diantaranya adalah sebagai berikut :
Dr. Hj. Tutty Alawiyah As, dalam karangan yang berjudul “Strategi
Dakwah di Lingkungan Majelis Ta’lim” mendefinisikan majelis ta’lim
sebagai berikut majelis dipelihara, dikembangkan, dan didukung oleh
anggotanya. Oleh karena itu, majelis ta’lim merupakan wadah masyarakat
untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.39
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian majelis ta’lim
yaitu pertemuan dan perkumpulan orang banyak atau bangunan tempat
orang berkumpul.40
Di dalam musyawarah majelis ta’lim se-DKI Jakarta telah
diberikan tentang pengertian majelis ta’lim, yaitu lembaga pendidikan non
37
Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Hila Karya Agung, 2000), h. 98.
38
Asad M. Kalali, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1987), Cet. Ke-2, h. 8.
39
Tutty Alawiyah, Strategi Dakwah di Lingkungan Majlis Ta’lim, (Bandung: Mizan, 1997),
h. 75.
40
formal Islam yang memiliki kurikulum tersendiri, diselenggarakan secara
berkala dan teratur, diikuti oleh jama’ah yang relatif banyak dan bertujuan
untuk membina dan mengembangkan hubungan yang santun dan serasi
antara manusia dengan Allah SWT, antara manusia dengan seseorang dan
antara manusia dengan lingkungan, dalam rangka membina masyarakat
yang bertakwa kepada Allah SWT.41
Dalam prakteknya, majelis ta’lim merupakan tempat pangajaran
atau pendidikan agama Islam yang paling fleksibel dan tidak terikat oleh
waktu. Majelis ta’lim bersifat terbuka terhadap segala usia, lapisan atau
strata sosial, dan jenis kelamin. Waktu penyelenggaraannya pun tidak
terikat, bisa pagi, siang, sore, atau malam. Tempat pengajarannya pun bisa
dilakukan dirumah, masjid, mushlla, gedung, aula, halaman, dan
sebagainya. Selain itu majelis ta’lim memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu
sebagai lembaga dakwah dan lembaga pendidikan non-formal.
Fleksibilitas majelis ta’lim inilah yang menjadi kekuatan sehingga mampu
bertahan dan merupakan lembaga pendidikan Islam yang paling dekat
dengan umat (masyarakat). Majelis ta’lim juga merupakan wahana
interaksi dan komunikasi yang kuat antara masyarakat awam dengan para
mualim, dan antara sesama anggota jamaah majelis ta’lim tanpa dibatasi
oleh tempat dan waktu.
Dengan berpedoman beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan
bahwa majelis ta’lim adalah sebuah lembaga yang dijadikan sebagai
41
wadah pendidikan Islam non-formal yang dapat berdiri sendiri dan
memiliki tujuan untuk merealisasikan ajaran Islam dalam kehidupan sosial
masyarakat dan mempunyai program pengajaran tersendiri, dalam rangka
membina dan mengembangkan kualitas kehidupan seorang muslim dengan
berpedoman pada ajaran Islam demi terciptanya kehidupan yang lebih baik
dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
2. Fungsi Majlis Ta’lim
Adapun fungsi majelis ta’lim itu sendiri sebagai lembaga
pendidikan non-formal adalah sebagai berikut :
a. Membina dan mengembangkan ajaran Islam dalam rangka membentuk
masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT.
b. Sebagai taman rekreasi rohaniah, karena penyelenggaraannya yang
santai.
c. Sebagai ajang berlangsungnya silaturahmi massal yang dapat
menghidup suburkan dakwah dan ukhuwah Islamiyah.
d. Sebagai sarana dialog berkesinambungan antara ulama dan umat.
e. Sebagai media penyampaian gagasan yang bermanfaat bagi
pembangunan umat dan bangsa pada umumnya.42
3. Karakteristik Majelis Ta’lim
Adapun karakterisitk majelis ta’lim adalah sebagai berikut :
a. Badan yang mengurusi kegiatan pendidikan secara berkesinambungan.
b. Seorang atau lebih guru/ustadz/kyai yang memberikan pelajaran secara
rutin dan berkesinambungan.
42
c. Peserta atau jamaah dalam relatif banyak yang secara terus menerus
mengikuti pelajaran.
d. Kurikulum baik dalam bentuk buku atau kitab, pedoman atau rencana
pelajaran yang terarah.
e. Kegiatan pendidikan secara teratur dan berkala.
f. Tempat tertentu yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan, baik
secara tradisional atau sederhana maupun secara modern, maka
lembaga tersebut dapat disebut majelis ta’lim.43
43
Ismet Firdaus, Lisma Dyawati Fuaida, Nurkhayati, Ahmad Zaky, Pengalaman Al-Qur’an
30
MUSTAFAWII
A. Biografi Ustadz Muhsin
Muhammad Ihsan atau biasa dipanggil dengan Muhsin dalam
kesehariannya adalah seorang ustadz/da’i atau pengajar asli Jakarta. Beliau
dilahirkan di Jakarta tepatnya pada tanggal 23 Desember 1966. Ayahanda
beliau bernama H. Muhammad Said (Almarhum). Sedangkan Ibundanya
bernama Siti Suryani.1
Beliau adalah putra pertama dari 11 bersaudara, diantaranya A. Fauzi,
Latifah, Abdul Majid, Chodijah, Faridah, Abdur Rohim, Ali, Taufiq, Hidayah,
dan Mahmud. Tetapi tiga dari sepuluh saudara kandung beliau sudah
meninggal dunia saat masih belia. Mereka adalah Taufiq, Hidayah, dan
Mahmud.2
Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, ustadz Muhsin didampingi
oleh istri beliau yang selalu setia, yaitu Aminah binti Asmawi. Umi Aminah
adalah kelahiran Jakarta pada tanggal 20 Juli 1966. Ustadz Muhsin menikah
pada umur yang sama dengan isterinya, yaitu saat umur 22 tahun dan menikah
pada tanggal 30 September 1990. Dalam pernikahannya, beliau dikaruniai 4
buah hati tercinta, yaitu Fatimah, Muhammad, Ruqoyyah, dan Husin.3
1
Wawancara Pribadi dengan Ustadz Muhsin, Jakarta, 18 April 2014.
2
Wawancara Pribadi dengan Ustadz Muhsin, Jakarta, 18 April 2014.
3
Anak sulung beliau adalah Fatimah. Ia lahir di Jakarta pada tanggal 24
Juni 1992. Di usia 6 tahun, ia mengenyam pendidikan di SDN 04 Pagi
Cawang. Setelah tamat, ia langsung melanjutkan ke Pondok Pesantren Darul
Lughah wa Da’wah. Tidak puas disitu saja, ia lalu melanjutkan lagi ke Pondok
Pesantren Darul Maliki pimpinan Ustz. Amiroh bin Jindan di Perbantukan dan
setelah tamat ia langsung mengabdi disana hingga sekarang. Muhammad, anak
kedua ustadz Muhsin, kelahiran 31 Maret 1996, tidak berbeda jauh dengan
kakaknya. Ia juga belajar di SDN 04 Pagi Cawang. Setamatnya di SDN 04, ia
langsung melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Al-Khairat Bekasi
hingga sekarang.
Rogayah adalah anak ketiga ustadz Muhsin yang lahir pada tanggal 18
April 1999. Ia mengikuti kedua kakaknya yang mengenyam pendidikan di
SDN 04 Pagi Cawang juga. Setelah tamat, ia dimasukkan oleh ustadz Muhsin
ke Pondok Pesantren Darul Maliki yang mana disitu ada anak pertama beliau
yang sudah mengabdi. Dan beliau menitipkan Rogayah kepada kakaknya
disana. Dan anak beliau yang terakhir ialah Husin. Ia lahir pada tanggal 8
April 2003. Berbeda dari kakak-kakaknya, ia tidak sempat sekolah di Sekolah
Umum namun ia langsung dimasukkan ke Pondok Pesantren Dar’inat di
Galuk untuk menuntut ilmu disana.
Pada saat ini beliau tinggal di Jalan Dewi Sartika Gang Masjid
Bendungan RT. 003/RW. 010 No. 29 Cawang, Jakarta Timur. Namun sebelum
tinggal di Jalan Dewi Sartika, beliau tinggal di Cawang Kapling atau yang
dikenal saat ini dengan Cawang Baru.4
4
Ustadz Muhsin lahir dari keluarga yang bisa dibilang cukup agamis
karena kedua orangtua beliau merupakan asli dari Jakarta yang sangat kental
dengan adat ketimuran. Bagi mereka pendidikan agama adalah pendidikan
utama dalam mendidik anak-anaknya. Dengan menanamkan ilmu agama dari
sejak kecil, beliau dapat paham dan berusaha agar tidak melakukan hal-hal
yang bertentangan dengan agama. Oleh karenanya, beliau selalu ditempatkan
di dalam pendidikan yang bersyariat Islamiyah, seperti di MHI (Madrasah
Hayatul Islamiyah) dan Pondok Pesantren.
Hal ini juga beliau terapkan dalam keluarganya sendiri, beliau sangat
konsisten dan disiplin dalam mendidik anak-anaknya. Beliau juga selalu
menekankan kepada putra-putrinya untuk menguasai berbagai disiplin ilmu,
dan menuntut ilmu kepada banyak guru khususnya ilmu agama. Sebab ilmu
yang dimilikinya tidak dapat diwariskan.
Pada masa kecilnya, ustadz Muhsin tidak jauh berbeda dengan
kebanyakan anak-anak pada umumnya. Beliau juga bermain dengan
teman-temannya, seperti bermain bola, bermain tebak-tebakan dan lain sebagainya.
Namun di umur yang masih relatif muda, beliau mempunyai kesenangan yang
berbeda dari kebanyakan anak-anak lainnya, yaitu beliau sudah senang dalam
membaca Al-Qur’anul Karim, menghafal hadits-hadits, membaca buku-buku
Islami, mempelajari buku-buku salaf dan lain sebagainya.
Kesenangan-kesenangan inilah yang membuat beliau akhirnya menjadi seorang da’i seperti
sekarang ini.5
5
Sampai remaja pun, ustadz Muhsin juga banyak menghabiskan
waktunya untuk menuntut ilmu dan mengaji, baik di Pondok Pesantren
maupun di majelis-majelis ta’lim yang ada di Jakarta. Beliau sering mengaji di
Majelis Ta’lim Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang, Majelis
Ta’lim Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Atthas di Harmoni, dan Majelis
Ta’lim Habib AbdulQodir bin Muhammad Al-Haddad di Condet. Berbeda
dengan anak-anak remaja pada umumnya, yang kebanyakan mereka masih
memikirkan akan kesenangan dunia saja tanpa memikirkan amal apa yang
akan mereka bawa di akhirat kelak.
Kegiatan ustadz Muhsin dalam menuntut ilmu dan mengaji masih terus
berlanjut hingga sekarang walaupun sudah berumah tangga. Hal inilah yang
membuktikan konsistensi beliau dalam menuntut ilmu patut semua kita tiru.
Beliau adalah orang yang sangat tekun dan berdisiplin tinggi dalam
mempelajari ilmu-ilmu agama, sehingga beliau sangat ingin mengembangkan
dan memajukan ajaran agama Islam di masyarakat luas, khususnya di
masyarakat sekitar beliau tinggal. Ilmu agama yang beliau kuasai juga
sangatlah luas, sebagaimana Al-Allamah Assayidil Walid Al-Habib
Abdurrahman bin Ahmad Assegaf yang juga salah satu guru beliau
mengatakan, “Ilmu itu laksana lautan dan tak akan ada yang mengenalnya
kecuali orang-orang yang masuk didalamnya”.6
Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat tawadhu’ (rendah hati),
ramah terhadap semua orang, tidak senang dengan ketenaran ( popularitas )
serta adab dan akhlak beliau yang sangat tinggi dan luhur.7
6
Abdul Qadir Umar Mauladdawilah, Secangkir Hikmah, (Malang: Pustaka Basma, 2010), Cet. Ke-2, h. 162.
7
Akhlak, ilmu dan amal beliau merupakan cerminan Ulama Salaf
(orang terdahulu yang berpegang kuat kepada ajaran Rasulullah SAW) yang
terdapat dalam dirinya dan menghasilkan suri tauladan yang baik untuk para
jama’ahnya yang ingin mengikuti jejak Rasulullah SAW. Jadi, itu semua
terlukis dengan perilakunya dalam melaksanakan yang fardhu dan sunnah.
Beliau sangat berpegang kepada Thoriqoh Salaf Alawiyin seperti yang
dipegang teguh oleh kedua orangtua dan guru-guru beliau. Orang yang
mengikuti salaf tidak akan salah dan tidak akan lelah karena jalan salaf mudah
dan lurus.
Thariqah mereka adalah mengisi dan membagi waktu serta
mengaturnya dengan berbagai ibadah, Majelis-majelis ilmu dan pendidikan
akhlak, pembacaan wirid-wirid dan hizib-hizib. 8
Para salaf dari kaum Alawiyyin maupun lainnya mendidik penuntut
ilmu untuk memiliki hati yang selamat (salimah), berprasangka baik kepada
Allah SWT dan mahluk-Nya, zuhud terhadap dunia, cinta kepada akhirat,
peduli pada hak-hak manusia, serta menghargai ilmu, ulama, wali, dan kaum
muslimin. Mereka melindungi hati dan pendengaran para penuntut ilmu dari
segala sesuatu yang akan mengganggu dan menjauhkan mereka dari amal,
juga dari segala sesuatu yang akan memalingkan hati mereka dari akhlak yang
luhur dan mulia. Mereka menjaga para penuntut ilmu dari pergaulan dengan
orang-orang yang berbeda paham dan dari mempelajari buku-buku yang berisi
keterangan yang dapat merusak apa yang telah mereka pelajari, agar hati
8
Idrus Alwi Almasyhur, Manaqib Sepuluh Wali Quthub Keturunan Nabi Muhammad
mereka tetap bersih dan suci, jiwa mereka tenang, dan semangat mereka
tertuju pada kebaikan dan semua hal yang menyebabkan kebaikan.9
Inilah yang dilakukan oleh ustadz Muhsin dalam kegiatan sehari-hari
beliau yang tidak lepas dari kegiatan ibadah dan menuntut ilmu ke
majelis-majelis ta’lim. Beliau selalu mengajarkan kepada para jama’ahnya seperti apa
yang telah diajarkan oleh guru-gurunya, yang kesemuanya itu adalah hal-hal
kebaikan demi mencari ridho Allah SWT.
B. Latar Belakang Pendidikan dan Karya-karya Ustadz Muhsin
1. Pendidikan Ustadz Muhsin
Bagi ustadz Muhsin pendidikan agama itu sangatlah penting. Itu
dapat dilihat dari tempat dimana saja beliau menuntut ilmu. Selain di
sekolah umum, beliau juga menuntut ilmu di beberapa Pondok Pesantren
demi keinginannya untuk memperdalam ilmu agama. Setelah mengenyam
pendidikan di MHI (Madrasah Hayatul Islamiyah) atau yang sekarang
dikenal sebagai SDI (Sekolah Dasar Islam) di Cawang Baru selama 6
tahun.10
Beliau langsung melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren
Astaqofah Islamiyyah di Tebet, Jakarta Selatan, pimpinan Al-Allamah
Assayidil Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad bin AbdulQodir
Assegaf selama 10 tahun, dari tahun 1983 sampai dengan tahun 1993. Di
Atsaqofah Islamiyah beliau banyak belajar ilmu agama yang diantaranya
9
Novel Muhammad Alaydrus, Sekilas Tentang Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas,
(Solo: Putera Riyadi, 2003), Cet. Ke-2, h. 55-56.
10
belajar kitab fiqih, aqidah, tauhid, nahwu, sharaf. Setelah di Atsaqofah
Islamiyyah, beliau juga melanjutkan ke Pondok Pesantren Al-Hawi di
Condet, Jakarta Timur, pimpinan Al-Allamah Al-Habib AbdulQadir bin
Muhammad bin Ahmad Al-Haddad selama 10 tahun, dari tahun 1988
sampai dengan tahun 1998.11
Pelajaran yang ustadz Muhsin pelajari di Pondok Pesantren
Al-Hawi tidak jauh berbeda dengan yang beliau pelajari di Pondok Pesantren
Atsaqofah Islamiyyah. Namun bedanya, setelah tamat dari Al-Hawi beliau
melanjutkan untuk mengabdi sebagai pengajar disana sedangkan di
Atsaqofah Islamiyyah beliau tidak mengabdi.
Tamatnya ustadz Muhsin dari Pondok Pesantren Al-Hawi di
Jakarta, beliau mempunyai keinginan untuk berziarah ke makam para wali
Allah SWT di Hadramaut, Yaman Selatan dan akhirnya keinginan beliau
pun tercapai. Seperti peribahasa yang mengatakan, “Sambil Menyelam
Minum Air”, hal itu juga yang didapatkannya disana. Beliau disana tidak
hanya mendapatkan kesempatan untuk berziarah, namun juga dapat
memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Rubat Tarim, walau hanya
selama 6 bulan saja dibawah bimbingan guru besar disana, yaitu
Al-Allamah Al-Arifbillah Al-Habib Hasan bin Abdullah Asyatiri.12
Tarim juga disebut sebagai pusat pendidikan Islam. Di kota ini
banyak terdapat ma’had, halaqah ta’limiyyah, dan zawiyah. Tarim
11
Wawancara Pribadi dengan Ustadz Muhsin, Jakarta, 2 Mei 2014.
12
menyimpan sejarah peradaban Islam sejak abad ke-4 H. Banyaknya ulama
menjadikan kota Tarim sebagai kota idola bagi para penuntut ilmu serta
membuktikan bahwa kota ini sangat diperhitungkan kala itu.13Disanalah
ustadz Muhsin juga menimba ilmu agama di salah satu pondok pesantren
tertua di Hadramaut, yaitu Rubath Tarim.
2. Karya-karya Ustadz Muhsin
Karya-karya yang telah dibuat dan dicapai oleh beliau adalah bukti
kecintaan beliau kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.
Karya-karya ini semuanya berisi tentang keutamaan bershalawat kepada Nabi
Muhammad SAW. Adapun karya-karya tersebut sebagai berikut :
a. Addanul Fa’iq
b. Kunuzul Asror
c. Natijatul Zahro
d. Tuhfatul Ahyar14
C. Perjalanan Dakwah Ustadz Muhsin
Perjalanan dakwah ustadz Muhsin adalah berawal dari semangat yang
sangat kuat serta keinginan menggapai ridho Allah SWT. Dengan bekal
pendidikan dan dukungan yang diberikan keluarga dan para gurunya, akhirnya
beliau menjadi seorang da’i yang sangat dipandang oleh masyarakat luas,
khususnya masyarakat Cawang dan dari semangat inilah awal mula beliau
mulai menjalankan dakwah. Beliau membuka sebuah Majelis Ta’lim yang
13
Abdul Qadir Umar Mauladdawilah, TARIM Kota Pusat Peradaban Islam, (Malang:
Pustaka Basma, 2012), h. xii.
14
bernama Majelis Ta’lim Imdadil Mustafawii, bertempat dikediaman beliau di
Cawang. Dari sanalah perjalanan dakwah beliau hingga sampai sekarang terus
berlanjut.
Pada tahun 2000, saat Ustadz Muhsin memulai berdakwah, beliau
memulainya dengan berpindah-pindah tempat, baik dari pintu ke pintu, masjid
ke masjid dan dari mushollah ke mushollah agar ilmu itu syi’ar (menyebar
luas). Dari situlah banyak yang melihat dakwah beliau dan berminat untuk
masuk dan belajar di dalam majelis ta’lim yang beliau pimpin. Hingga
sekarang ada beberapa tempat yang telah beliau hadiri